Title : memories on a rainy days

Author : Lee HaeRa

Length : oneshoot

Main Cast : – Cho Kyuhyun
– Lee JinAh

Genre : Romance

Rating : G

 

Note : fanfic ini pernah di publish di : http://ffindo.wordpress.com/2012/05/03/memories-on-a-rainy-days/ dan http://faninfiction.wordpress.com/2012/05/04/memories-on-a-rainy-days/

 

=

Hujan, aku menyukai hujan, karena hujan telah mempertemukanku dengannya.

Tapi aku juga membenci hujan, karena bersama dengan hujan jugalah, ia pergi meninggalkanku.

 

Aku membuka mataku perlahanan bangkit dari tidurku. Aku melihat kearah jendela kamarku. Hujan, kenapa kau datang begitu sering hari ini? Apa kau ingin membuatku terus mengenang hari kepergiannya ini? Apa kau begitu ingin menyiksaku dengan mengingatkanku dengan kenangan – kenangan itu? Apa belum cukup bagimu dengan merenggutnya dariku? Sehingga kau  terus membuatku merasa tersiksa seperti ini?

Flashback

 

Aku berlari kearah bangku taman yang berda di hadapanku dan duduk di bangku yang di tutupi oleh pohon yang terlihat rimbun, untuk melindungi diriku dari hujan. Aku menengadahkan tanganku, dan menampung air hujan. Aku begitu menyukai hujan, karena bersama dengan hujan aku dapat menemui banyak hal.

“Maaf, boleh aku duduk di sini?”

Aku menatap seorang pria yang berdiri di hadapanku, ia terlihat begitu kedinginan dan pucat.

“Tentu saja, silahkan.”

“Terimakasih” Ucapnya sambil duduk di sampingku. “Apa kau menyukai hujan?”

“Ya, sangat. Bagaimana denganmu?”

“Aku membenci mereka.”

“Kenapa?”

“Mereka menyusahkanku”

“Kau tahu jika kau mau memperhatikan mereka lebih baik, sebenarnya mereka begitu indah. Dan pelangi juga hanya akan datang setelah hujan.”

“Mungkin kau benar, tapi aku jauh lebih senang jika mereka tidak ada.”

Aku menatap wajahnya, begitu mendengar perkataannya itu, dan ia juga ikut menatap wajahku.

“Kurasa, pikiran kita sangat jauh berbeda. Karena aku selalu berharap datangnya hujan. Jika aku boleh tahu, siapa namamu?”

“Cho Kyuhyun. Namamu?”

“Jinah, Lee jinah.”

Jawabku sambil tersenyum manis, dan di balas tersenyum padaku. Dan kami kembali saling berbicara, hingga hujan mulai reda. Aku berdiri dari tempatku dan permisi untuk pulang duluan padanya. Dan mulai berjalan menjauhi bangku tempat kami duduk tadi.

“Jinah.”

Aku berbalik ke arahnya saat dia berteriak memanggil namaku.

“Mulai besok, saat hari hujan, kita bertemu lagi di sini.”

“Ya, kalau begitu sampai jumpa, hingga hujan selanjutnya.”

Balasku sambil melambai padanya, dan mulai berjalan lagi. Tanpa terasa senyum mengembang di wajahku, dan pipiku teras panas, ah apa aku menyukainya? Tapi akukan baru kali ini bertemu dengannya.

=

Sudah beberapa bulan, sejak hari itu, dan kami terus bertemu saat hujan tiba, di tempat ini. Dan jujur saja, aku sangat menyukainya. Hari ini juga sedang hujan, dan aku sedang menunggunya di sini seperti biasanya. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya dia datang, dan berlari ke arahku, aku tersenyum senang, melihatnya datang. Dia duduk di sampingku, tapi kali ini dia tidak terlihat seperti biasanya, karena dia begitu diam, padahal biasanya selalu saja, ada hal yang ia bicarakan atau dia akan mulai menggangguku.

“Kyu- ah, ada apa? Kenapa kau sangat tengang hari ini? Apa ada yang sedang kau rencakan untuk mulai menggangguku?”

Ucapku bercanda, tapi dia justru membalas perkataanku dengan menatap serius, aku mengangkat alisku, karena bingung dengan tatapannya itu.

“Ada apa?”

Dia menarik tanganku, dan menaruhnya di pangkuannya. Membuatku semakin bingung.

“Jinah.”

“Ya?”

“Bagimana jika aku mengakatan bahwa aku menyukaimu?”

Aku terdiam sesaat, lalu mulai tertawa kecil mendengarnnya, sehingga dia merasa sedikit tersinggung.

“Kenapa kau tertawa?”

“Kau pasti sedang bercanda,kan? Ayolah, kau sudah pernah bercanda seperti ini denganku sebelumnya, aku tidak akan terjebak, sama seperti saat itu.”

Dia menaruh tangaku di dadanya, dan menatapku serius.

“Aku serius, sama seperti saat itu, aku juga serius. Tapi, aku hanya tidak siap saat itu. Berbada dengan saat ini.”

Aku terdiam. Detak jantungnya yang begitu cepat, terasa di tanganku. Membuatku tidak dapat berkata apapun.

“Apa kau…… juga menyukaiku?”

Aku tersenyum kecil, dan pipiku terasa sangat panas, bahkan jauh lebihy panas dari saat pertama aku bertemu dengannya.

“Ya, aku juga menyukaimu.”

Dia melepaskan tangannya dari tanganku, untuk memeluk tubuhku, dan aku membalas pelukannya.

“Kurasa, walaupun hanya sebentar, aku sangat bersyukur atas adanya hujan.”

“Ya, aku juga.”

Dia melepas pelukannya dariku, begitu hujan mulai reda.

“Kurasa sudah waktunya kita untuk pulang.”

“Ya.”

“Apa besok kita juga akan tetap bertemu saat hari hujan?”

Wajahnya yang tadi di hiasi senyuman kecil, berubah mejadi serius, sehingga aku mengerutkan keningku.

“Kenapa?”

“Jinah, jika besok juga hujan, mungkin aku tidak bisa datang ke tempat ini. Tapi itu hanya kemungkinan. Aku harap, besok kau juga akan menungguku hingga hujan reda.”

Aku tersenyum.

“Bukankah itu adalah hal yang biasa aku lakukan? Tenang saja, aku akan tetap menunggu hingga hujan reda.”

“Kalau begitu, pulanglah lebih dulu, kau akan sakit, jika tidak langsung pulang, dan membersihkan dirimu.”

“Ya, tapi kalau begitu kau juga harus segera pulang.”

”Tenanglah, aku akan segera pulang saat kau sudah tidak terlihat lagi.”

Aku sedikit bingung dengan jawabannya itu, tapi aku memutuskan untuk diam saja, dan mulai berjalan menjauhi taman itu.

=

Next day

Hari ini kembali hujan seperti kemarin, hanya saja hujan kali ini datang sedikit malam. Sebenarnya aku sedikit malas untuk keluar, tapi aku sudah berjanji padanya kemarin. Aku melihat jam tanganku, jam 8 malam. Kenapa dia belum datang? Walau dia sudah mengatakan apdaku bahwa mungkin dia tidak akan datang hari ini, rasanya aku tetap takut terjadi sesuatu padanya.

Aku mengambil handphoneku yang terasa bergetar, dari dalam tasku dan membaca nama yang ada di layarnya.

Cho KyuHyun

Ah, akhirnya dia menelfon juga, apa dia akan menyuruhku pulang tanpa menemuiku dulu?

“Halo? KYu – ah? Kenapa kau masih belum datang? Apa ada masalah? Aku sudah menunggu selama 1 jam. Dan hujan masih belum reda.”

Aku diam, menunggu jawaban darinya, tapi yang ku dengar justru suara wanita dengan umur sekitar 40-an. Yang terdengar geram atau mungkin membenciku. Aku terdiam memdengar jawabannya, bibirku memucat, kepalaku pusing~.

Kyu – ah.

=

Aku berlari kearah ruang ICU tempat Kyuhyun berada, begitu tiba di rumah sakit. Aku melihat orang – orang yang ku yakini ssebagai keluarganya berada di depan ruangan itu dengan wajah pucat. Wajah mereka langsung berubah menjadi murka begitu melihatku, terutama seorang wanita, yang sepertinya adalah ibunya. Wanita itu mendekatiku dengan wajah yang penuh amarah. dan memegang kerah bajuku.

“Kau………….. kau Lee JinAh,kan?”

Aku menganggukkan kepalaku mendengar perkataan wanita itu.

“Ini semua karena dirimu, anakku berada diruangan itu, dengan keadaan seperti ini, padahal tubuhnya tidak sekuat orang – orang pada umumnya, dan dia tidak seharusnya terkena hujan. Padahal dia sudah tahu itu semua, tapi dia tetap melakukan ini semua hanya untuk menemuimu. Kau pasti memaksanya agar mendatangi di tengah hujan,kan?”

“Apa kau menyukai hujan?”

 

“Ya, sangat. Bagaimana denganmu?”

 

“Aku membenci mereka.”

 

“Kenapa?.”

 

Mereka menyusahkanku

“Padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal seperti itu, sebelum dia mengenalmu. Dan mencoba untuk tidak akan pernah menyukai hujan, agar tidak membahayakan dirinya sendiri.”

“Kurasa, walau hanya sebentar, aku sangat bersyukur atas adanya hujan.”

“Kau pikir siapa kau? Sehingga kau bisa merenggut nyawa anakku? Kau bukan apa – apa selain penghancur kehidupannya.”

Beberapa keluarganya, mencoba untuk menahan ibunya itu, agar tidak terus menyalahkanku. Tapi aku tidak mengatakan apapun, untuk membalas perkataannya, karena bagaimanapun kurasa itu semua benar. Setelah beberapa saat, seorang dokter keluar dari ruang itu, dengan wajah kusut.

“Maaf, tapi saya sudah melakukan segala hal yang saya bisa.”

Lalu beberapa orang suster keluar dengan mendorong tempat tidur, dengan seorang pria yang seluruh tubuhnya telah di tutupi kain. Aku menggelengkan kepalaku, tidak percaya dengan apa yang ku lihat dan berlari keluar dari rumah sakit itu.

Aku menangis di bawah hujan, yang semakin deras, dan berteriak.

Hujan………… kenapa kau melakukan ini padaku? Padahal aku begitu menyukaimu, tapi menghancurkanku dengan merenggut orang yang ku cintai. Kenapa? Apa kau begitu membenciku sehingga merebutnya dariku dan menyalahkan segalanya padaku? Jika iya, kenapa bukan aku saja yang kau ambil?

Flashback end

 

Aku menangis dan isikan keluar dari mulutku, dadaku sakit mengingat hari itu. Bahakan, hingga hari ini kurasa hujan masih sangat membenciku, karena dia terus mengingatkanku, pada sosok kyuhyun. Hujan, kenapa kau begitu membenciku, di saat aku begitu menyukaimu?

=

Tepat pada 1 tahun hari meninggal KyuHyun hari ini, keluarganya bersiap – siap untuk pindah, untuk mencoba melupakan kenangan akan kehilangan salah satu anggota keluarga mereka di sini. Mereka mengepak barang, dan mulai memasukkannya dalam mobil, tanpa mengacuhkan hujan yang turun dengan deras. Dan tanpa mereka sadari, secarik kertas jatuh dari mobil itu, dan terbawa oleh arus hujan. Hingga masuk ke sebuah halam rumah, di dekat jendela kamar seorang perempuan yang menangis meratapi nasibnya dengan hujan yang menangis bersama dengannya. Tanpa tahu apa isi kertas yang mencoba mendekatinya bersama dengan hujan itu.

“Hujan, aku suka hujan, walau aku tahu hujan akan merenggut nyawaku, cepat atau lambat.

Aku tetap menyukainya, karena bersama dengan hujanlah, aku dapat bertemu dengan perempuan yang sangat aku cintai.”

= The end =

 

ok, ini aneh. -___-

sejujurnya aku buat ini dadakan pas lagi hujan” pagi.

aku gak tahu kenapa, kata” tentang hujan, meluncur gitu aja.

dan waktu ngetik itu rasanya galau banget. -__-
tapi walau gimanapun akhirnya tetap tinggalin comment kalian, ya. ^^