The Dark and The Light Wings (Chapter 6)

Author     :  Thirteencatyas

Length     :  Sequel

Genre       :  Fantasy, Sad, Mystery

Cast(s)     :  B2ST member

Shin Hyunyoung story…

“Hyunyoungie…. Tanganmu terasa hangat sekali, gomawo.”
“Ah anii… ini bukan apa-apa kok, aku takut oppa jatuh ke sungai saat tertidur.” Jawabku asal.
“Ahahahaha…. Aku tahu arti dari genggaman tanganmu, kau menyukaiku kan?”
Aku terdiam dalam bisu, lalu Hyunseung oppa mendekati wajahku.. semakin dekat….. semakin dekat….

“Yak, yak, yak~~!! Ireona, jangan senyum senyum begitu.” Suara Doojoon oppa terdengar lantang sekali di telingaku, pipiku terasa ditepuk tepuk dengan sesuatu yang besar, membuatku sontak bangun dan tidak sengaja menubruk dahi oppa hingga ia tersungkur.
“Omo omo… oppa, gwechana?” tanyaku khawatir. “Mian, tadi aku sedang mimpi indah hehehehehe.”
Doojoon oppa bangkit dari tempatnya terjatuh lalu mengelus dahinya berkali kali, “Astaga, mimpi indahmu membuat dahiku benjol, dahimu itu terbuat dari apa sih? Kenapa saat terbentur rasanya seperti mau robek?”
“Aish kau berlebihan oppa.” Jawabku sambil bangkit dari kasurku, “Oppa lapar? Mau kumasakkan sesuatu?”
“Anii, aku tadi sudah makan kimchi fried rice, kau mau coba? Masih ada sisa di ruang makan, aku menyisakannya untukmu.” Jawab Doojoon oppa sambil mengikutiku ke ruang makan. “Cobalah sedikit. Biarpun begini aku pintar masak loh, hehehehe.”
Aku mengangguk sambil membuka tudung saji, nasi goreng kimchi yang dimasak oppa masih agak mengepul, pasti enak. “Aku makan ya, selamat makan.” Jawabku seraya mengambil sendok dan menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutku. Astaga, enak sekali~~
“Yak, bagaimana? Enak tidak?” tanya oppa yang duduk di sampingku dengan wajah antusias.
Aku mengangguk senang, “Nee. Gamsahabnida~~ aku lapar sekali, dari kemarin malam belum makan.” Jawabku sambil sibuk menyendok nasi.
“Hooh syukurlah kalau kau suka, Hyunri yang mengajarkanku.” Jawabnya bangga, “Eh, HPmu sepertinya berbunyi. Kuambilkan ya.”
Aku mengangguk sembari melahap nasi goreng kimchi buatan oppa yang benar-benar enak. Maklumlah, setelah kemarin malam menaiki kapal bebek dengan Hyunseung oppa di tengah tengah hawa yang dingin, aku jadi lapar. Hehehehehe
“Nih, ada satu pesan.” jawab Doojoon oppa. Aku segera membersihkan isi piring, menaruhnya di bak cuci dan segera membaca pesan.

From: Hyun oppa

Annyeong Hyunyoungie🙂 hari ini kita jadi kan jalan-jalan keliling kota?

Aku tak bisa berhenti mengulum senyum, rasanya tidak percaya kalau aku bisa sedekat ini dengan Hyunseung oppa. Kini kami bisa saling mengirim pesan atau menelpon satu sama lain. Benar-benar menyenangkan~~

To: Hyun oppa

Annyeonghaseo oppa. Tentu saja jadi, aku siap2 dulu ya🙂

“Tampaknya kau gembira sekali saat membaca pesan itu.” Celetuk Doojoon oppa sambil mencuri pandang ke arah layar HPku, “Pesan dari siapa sih?”
“Dari Hyunseung oppa.” Jawabku antusias. “Kami akan jalan-jalan keliling kota hari ini. Tidak apa-apa kan aku meninggalkan oppa sendirian lagi di rumah?”
Doojoon oppa tersenyum sambil berkata, “Gwechana, nanti siang aku bisa menelepon Junhyung untuk menemaniku sehabis ia pulang kerja. Atau mungkin aku akan pergi keluar menghabiskan malam. Kalau kau pulang larut, kirimi aku pesan ya.”
Aku mengangguk seraya bangkit untuk pergi ke kamar mandi, namun tiba-tiba Doojoon oppa menarik lenganku sehingga aku jatuh terduduk. “Aish, apaeyo~~!!” keluhku. “Ada apa lagi?”
Doojoon oppa menatapku lekat lekat dengan mata hitam kelamnya, membuat aku merasa seperti terhisap kedalamnya. Lalu kemudian ia berkata.. “Hyunyoungie, kamu tahu dan mengerti kan…. Kalau orang-orang yang ada disekitarmu ini…. Menyayangimu?”

2 jam kemudian..

Tiiin tiiiiin~~!!! Terdengar bunyi klakson dan Hyunseung oppa yang keluar dari mobil sambil menyapaku.
“Oh, annyeonghaseo~” Aku balas menyapanya sambil membungkuk hormat. “Hari ini kita mau kemana?”
“Terserah kamu, yang penting kamu menikmatinya.” Jawab oppa sambil mengangkut tasku dan membuka pintu untukku. “Kaja, nanti bisa dibicarakan selama perjalanan.”
Aku mengangguk dan masuk ke mobil yang sudah dinyalakan mesin penghangatnya. Oppa segera masuk dan memulai perjalanan.
“Nah…. Jadi kita mau kemana?” tanya oppa lagi. Aku melihat-lihat keadaan sekitar mobilnya, aku tidak menyangka oppa yang kerja di amusement park ternyata mempunyai mobil *terpukau*
“Terserah oppa saja. Kita bisa keliling kota sepuas kita.” Jawabku netral.
“Oke.” Jawabnya puas. “Bagaimana keadaan Doojoon hyung?”
“Keadaannya sudah membaik sejak kemarin.” Jawabku. “Bahkan ia membuatkanku nasi goreng Kimchi tadi pagi. Katanya ia mempelajari resep dari unnieku.”
“Jinjjaeyo? Lain kali aku harus kerumahmu untuk mencobanya.” Ujar Hyunseung oppa. “Sudah satu tahun aku tidak mencoba masakan Hyunri-sshi, rindu sekali. Kuharap masakan hyung benar-benar mirip dengan masakan Hyunri-sshi.”
“Kalau menurutku sih mirip. Eh?” tiba-tiba aku melihat 2 orang yang kukenal di pinggir jalan, “Oppa, bisa berhenti sebentar? Aku melihat Yoseob dan Miyoung unnie.”
Mobil direm pelan-pelan sehingga jarak mobil dengan kedua orang itu cukup jauh, “Yoseob bersama seorang yeoja?” gumam Hyunseung oppa.
“Nee, dia bersama Miyoung unnie. Beliau adalah rekan baruku di midimarket.” Jawabku sambil mengintip lewat kaca spion. “Aku curiga dengan mereka berdua. Oppa mau tidak mengikuti mereka?”
“Boleh-boleh saja.” Jawab Hyunseung oppa ringan. “Kalau ternyata mereka kencan, aku bisa meledek Yoseob habis-habisan.”

Eh? Dasar Hyunseung oppa jahil~~~

~~~~~

Sun Miyoung story..

Kemarin..

“Yeoboseo Yoseobie….” Aku menelpon Yoseob sesudah ia mengantarku pulang ke rumah. “Gomawo, sudah mengantar pulang… aku senang sekali.”
Yoseob tertawa dan menjawab, “Ohohoho gwechana. Sekalian aku ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanmu menjadi karyawan terbaik bulan ini, noona. Chukkahabnida..”
Suara Yoseob yang agak serak karena flu tidak menggambarkan kalau ia antusias dengan keberhasilanku menjadi karyawan di midimarket bulan ini. Aku tahu ia hanya berpura-pura, mungkin sebenarnya ia kesal atau sedih karena biasanya dia yang memegang gelar itu.
“Noona?” tanya Yoseob yang membuyarkan lamunanku.
“Nee, mianhae tadi aku sedang mengerjakan sesuatu.” Jawabku berspekulasi. “Yoseobie… untuk merayakan keberhasilanku, aku akan mentraktirmu jalan-jalan besok. Mau kan?”
Yoseob cukup terkejut dengan pengakuanku lalu berkata, “Tidak apa-apakah? Lalu kita mau kemana?”
“Bisa kita rencanakan. Jadi…. Kamu mau kan?” tanyaku ragu-ragu. Aku takut ia sedih karena prestasinya kurebut bulan ini, jadi aku berniat membuatnya senang besok.
“Oke,” jawabnya. “Jam 8 ya di depan midimarket.”

…..

Itaewon, keesokan harinya….

Yoseob berhenti di tengah jalan, wajahnya pucat dan alisnya mencuat naik. Aku yang belum pernah jalan dengannya langsung menghampiri dia yang masih terdiam beberapa meter dari lokasi.
“Yoseobie, gwechana?” tanyaku takut-takut. “Apa kau sakit perut atau lapar? Enaknya makan dimana ya?”
Ia menormalkan wajahnya seperti biasa dan berkata, “Anii, aku merasa seperti ada seseorang yang mengikuti kita. Tapi sepertinya tidak ada.”
“Jinnja?” jawabku sambil menengok ke kanan dan ke kiri, “Apa yang mengikuti kita itu yeoja chingumu? Jadi kita harus jaga jarak dong, ottokke?”
Tanpa kusadari, Yoseob menarik lenganku, “Aniiyo, aku tidak punya yeoja chingu.” Jawabnya sambil tertawa. “Kupikir yang mengikutiku adalah Hyunseung hyung.”
“Mwo? Siapa dia?” tanyaku sambil melanjutkan langkah kami.
“Dia adalah sunbae ku. Mungkin seumuran dengan noona, terus… kita mau kemana? Apa kita mau membeli……”
Saat Yoseob bercerita panjang lebar, tak sengaja pandanganku tertuju pada tengkuknya. Kulihat garis besar seperti tato berwarna merah pekat terukir disitu. Sepertinya garis tersebut membentuk sebuah gambar di punggungnya.
“Noona…. Kau tidak mendengar ucapanku?” tanya Yoseob yang lagi-lagi membuyarkan pikiranku. “Apa ada yang aneh di punggungku?”
“Anii anii…. Mianhae, akhir-akhir ini aku sering melamun.” Ucapku sambil melihat ke sekeliling. Bagaimana kalau makan di Mok Schwei Don Na? ada dukbokki yang enak disana.”
Yoseob mengangguk sambil merapatkan jalannya denganku. Rasanya senang sekali melihatnya didekatku saat ini. Kenapa ya?

…..

“Gamsahabnida, aku akan memakannya~~” ucap Yoseob sambil tersenyum. Aku mengangguk dan kami berdua mulai makan dukbokki dengan tusuk sate. Rasanya pedas dan panas, cocok untuk dimakan saat musim dingin.
“Enak tidak? Kata temanku dukbokki disini paling enak.” Ujarku sambil meniup rice cake yang mengepul ngepul di tusuk sate yang aku pegang.
Yoseob mengangguk dengan mulut yang penuh, “Um~!! Memang enak noona. Untung kau mengajakku kesini.”
Kami sibuk makan berdua sambil mencari cari tempat duduk. Aku masih memperhatikan garis merah yang mengintip di ujung leher Yoseob, rasa penasaranku semakin besar. Aku harap aku bisa melihatnya secara keseluruhan kalau seadainya itu memang tato.
“Yak, kenapa melihat leherku terus sih??” aku terkejut saat Yoseob menyadari lehernya yang kuperhatikan. “Jangan dong… aku malu kalau diperhatikan. Memang ada yang salah ya?”
aku menggeleng kuat karena takut ketahuan dan takut Yoseob marah, “Aniiyo, tadi ada lalat yang menempel di lehermu.”
“Jinjjaeyo? Kok aku tidak merasakannya?” Yoseob mengangkat tudung jaketnya lebih tinggi. Aku tidak suka penasaran terus seperti ini, aku akan menanyakan garis merah yang ada di tengkuknya… itu juga kalau aku berani.
“Yoseobie… aku ingin menanyakan sesuatu.” Ucapku terang-terangan. Mata Yoseob melebar seakan ada rahasia yang ia sembunyikan.
“A… apa itu?” jawabnya sambil berusaha tenang. “Mungkin aku bisa menjawabnya, hehe.”
Aku menelan ludah dan segera meluncurkan kata-kataku, “Sebenarnya…. Itu…. kau marah kan karena aku berhasil mengalahkanmu menjadi karyawan bulan ini?! Benar kan?” ah, kenapa aku malah menanyakan hal bodoh ini?! ><
Suasana ramai berubah menjadi sepi. Rasanya hanya aku dan Yoseob, tidak ada yang lain… hanya kami yang saling bertatapan dan wajahku yang memerah karena terus-terusan melihat wajah kekanakan namja ini.
Yoseob tersenyum dan menunduk sebentar, lalu menatapku lagi sambil memegangi tanganku. “Buat apa aku marah akan hal itu? Jadi ini yang kau sembunyikan dari tadi, rasa penasaran ini? Tanya Yoseob. Tangannya yang hangat terasa sangat……. Ah~ niatku kan bukan menanyakan hal itu~!!
“Yah, salah satunya sih… tapi kenapa kau bisa menebaknya?” tanyaku sambil masih berdiri dan berniat untuk duduk lagi. “Sebenarnya yang paling utama adalah….. masalah garis merah yang ada di ….”
Saat aku hendak duduk, tiba-tiba kakiku tersangkut kaki Yoseob yang panjang dan alhasil aku jatuh terjerembap dan tanganku tergores aspal, rasanya perih sekali.
“Noona~~!!! Gwechana?! Jesonghabnida, kakiku memang babo.” Yoseob segera membantuku bangun. Lagi-lagi kami melakukan skinship yang membuat jantungku berdebar, apa yang kau pikirkan sih Miyoung???
Yoseob mengangkat pergelangan tanganku yang tergores, ia membersihkannya dari kerikil yang masih menempel dan mengeluarkan plester dari tasnya.
“Kenapa kau yang minta maaf? Kan aku yang tidak sengaja tersangkut kakimu, berarti aku yang babo dong.” Jawabku sambil terkikik geli. “Emmm…. Mulai sekarang kau panggil aku tanpa pakai noona ya? Aku merasa tua kalau dipanggil seperti itu, kita hanya berbeda 1 tahun”
“Baiklah kalau itu maumu. Oh iya, ini dukbokkinya untukmu saja. Kan punyamu sudah ja…..” Yoseob tiba-tiba menghentikan ucapannya, lalu berteriak. “Yak Hyunseung hyung, Hyunyoung-sshi~~!!! Kau mengikuti kami ya??”
Aku menengok ke belakang dan mendapati mereka berdua yang mengintip dibalik rerumputan.

tbc~