TODAY FOR FOREVER

Cast                 :  Chen(Kim Jong-Dae)—Yeoja—Suho

Length             :  OneShot

Genre              :  Friendship/angst/au

Author             :  @harukaze03

 

 

Dia tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi. Sekarang hanya ada dia yang setia di rumah pohon yang mereka bangun 8tahun yang lalu.

 

 

— Kim Jong-Dae POV—

 

Sejak kapan ? mungkin sejak pertama kali aku menangis di dunia ini, mungkin sejak pertama kali aku membuka mata di dunia ini dan mungkin juga sejak pertama kali aku bisa mengucap kata. Mungkin saat itulah aku mulai menyukainya. Aku Kim Jong-Dae jatuh cinta padanya. Gadis manis yang lahir di hari yang sama denganku. Gadis manis yang tinggal di sebelah rumahku. Gadis manis yang selalu menggenggam tanganku saat berangkat maupun pulang sekolah. Dan gadis manis yang mengusulkan agar kami membuat sebuah markas di atas pohon tua di depan rumah kami.

 

Mungkin dia tidak menyadari perasaanku. Itu wajar, umur kami baru menginjak 16tahun. Dia masih begitu polos. Yang dia tahu hanyalah bagaimana caranya mendapat nilai tinggi saat ujian, bagaimana caranya agar mendapat boneka baru atau bagaimana caranya agar dia bisa bermain seharian di rumah pohon kami.

 

“Jong-Dae !!” dia terengah-engah setelah sampai ke dalam rumah pohon kami. Peluh mengaliri wajahnya dengan teratur. Meski begitu dia tetap terlihat manis dengan senyum merekah di bibirnya.

“Ada apa?”

“Eomma bilang kita berdua lulus test SMA !!” dan dia berteriak di ujung kalimatnya seraya melompat-lompat di hadapanku.

“Benarkah ? itu bagus !”

Kami berpelukan—hal yang biasa kami lakukan saat sedih maupun senang. Aku bisa mendengar suara tawanya yang renyah yang begitu memanjakan rongga telingaku. Dan senyumnya sungguh menjadi candu bagiku. Aku sadar aku semakin mencintai gadis ini.

 

—Kim Jong-Dae POV End—

 

#Y-1

 

Hari pertama mereka mengenakan seragam SMA.

Jong-Dae menunggu gadis itu di anak tangga di depan rumahnya. Cukup dua menit, dan gadis itu muncul dengan penampilannya yang rapi dan dua kotak susu serta dua bungkus roti di tangannya.

“Terima kasih,” ujar Jong-Dae setelah gadis itu menyodorkan sekotak susu dan sebungkus roti padanya. Mereka menjauh dari rumah masing-masing. Menyusuri jalanan aspal untuk menuju ke sekolah baru mereka.

Mereka bisa saja menggunakkan bis agar lebih cepat sampai ke sekolah. Tapi mereka tidak mau. Mereka lebih menikmati berjalan kaki sambil menggenggam tangan satu sama lain.

“Jong-Dae, ini tahun pertamaku tidak sekelas denganmu. Aku gugup.”

Jong-Dae tertawa dikala mendengar suara gadis itu sedikit serak, bergetar dan…ragu

“Jangan menertawakanku,” dia mendengus kesal seraya meniup poninya ke atas.

“Kau bukan anak kecil lagi. Lagipula tidak akan ada yang berani mengganggumu jika aku tidak ada. Ini bukan SMP yang kau bilang menjijikkan.”

Mereka terbahak bersama di kala secuil kenangan mereka saat di bangku SMP terlintas di pikiran masing-masing. Seorang gadis manis yang jenius tapi penakut yang selalu di ganggu oleh anak-anak nakal dan yang selalu takut saat Jong-Dae datang membelanya.

“Ah kau ! jangan mengingatkanku lagi. Aku benci mengingatnya,” ujarnya seraya menyembunyikan wajah malunya yang memerah.

 

Tahun pertama mereka di bangku SMA dan semua berjalan begitu indah.

 

 

#Y-2

 

Jong-Dae masih sama. Setiap pagi berdiri di anak tangga rumah gadis itu, mengajaknya ke sekolah bersama dan dia mendapat sekotak susu beserta sebungkus roti yang bisa mereka makan bersama saat jam istirahat.

Tapi sepertinya ada sedikit perubahan…

“Apa kau membenciku?” Jong-Dae spontan bertanya di saat mereka baru melangkahkan kaki beberapa meter dari gerbang sekolah saat jam pulang sekolah.

“Apa maksudmu?” dan gadis itu sedikit tidak mengerti kenapa Jong-Dae mempertanyakan hal yang begitu tabu dalam persahabatan mereka.

“Kau mengacuhkanku beberapa hari ini. Dan jika aku berbicara padamu kau tidak pernah mendengarku dengan baik.” Jong-Dae mengungkapkannya. Perilaku aneh gadis itu akhir-akhir ini.

“Benarkah aku begitu?” dia tidak yakin, dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan pada Jong-Dae juga.

“Lupakanlah.” Ujar Jong-Dae kemudian.

Dan keduanya sepi, hanya terdengar suara sepatu mereka yang beradu dengan aspal. Jong-Dae menggerakan tangannya, berusaha meraih jari-jari gadis itu—seperti yang biasa dilakukannya. Tapi gadis itu menghindar dan membuat Jong-Dae bertanya-tanya dalam hati.

“Aku…hanya tidak nyaman.” Ujar gadis itu dengan memaksakan senyumannya.

“Apa?”

“Teman-teman membicarakan kita. Aku tidak suka.”

“Apa yang tidak kau suka, bukankah…” Jong Dae menghentikan ucapannya secara sadar, dikala matanya menangkap sosok gadis itu mendudukan tubuhnya di bangku halte bis yang sama-sekali belum pernah mereka naiki untuk kesekolah maupun pulang sekolah.

 

Tahun kedua mereka di SMA. Rasanya ada beberapa hal yang berubah. Dan Jong-Dae sungguh tidak menyukainya.

 

 

#Y-3

 

“Jangan menungguku lagi, aku bisa kesekolah sendiri.”

“Jangan menungguku lagi, aku bisa pulang kerumah sendiri.”

 

Gadis itu semakin terasa asing baginya. Mereka sudah jarang melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan bersama seperti berangkat ke sekolah, pulang kerumah, belajar bersama dan bermain di rumah pohon mereka.

Jong-Dae tidak menyukai semuanya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini permintaan gadis itu, jadi dia hanya bisa menurutinya. Jong-Dae mengerti kenapa gadis itu berubah. Jong-Dae tahu dengan jelas kenapa gadis itu tidak menganggapnya lagi.

 

“Aku sudah katakan padamu berulang-ulang, jangan menungguku lagi. Aku bisa pulang sendiri. Aku bukanlah anak kecil, Jong-Dae ah !” gadis itu merasa putus asa dan marah sekaligus. Jong-Dae masih menunggunya seperti dulu.

“Apa kau tidak menyukaiku lagi. Apa kau tidak ingin berteman denganku lagi?” dua pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir pucat Jong-Dae. Dan gadis itu merasa sedikit takut.

“Jong-Dae bukan begitu maksudku..aku hanya…hanya…”

“Hanya tidak ingin aku merusak kencanmu dengan Suho ?” Jong-Dae melhat sosok Suho mendekati mereka. “Aku mengerti. Bersenang-senanglah.” Dia menyerah. Dia sadar dia tidak bisa marah sedikitpun pada gadis itu. Dia tidak bisa menjadi egois walau hanya untuk sedetik, dan dia akan lebih memilih menyakiti hatinya sendiri demi melihat gadis itu bahagia.

 

Tahun ketiga mereka di SMA. Tidak ada yang manis, dan semua yang pernah mereka lalui selama ini bagaikan debu ketika gadis itu jatuh cinta pada pria terkeren di sekolah—Suho.

 

 

—Kim Jong-Dae POV—

 

Aku sudah berpikir dengan sangat baik. Mengenai perasaanku, mengenai persahabatan kami dan mengenai masa depanku.

Aku berdiri sambil mendongakkan kepala memandangi rumah pohon kami. Aku merindukan tempat ini. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama di rumah pohon ini. Bukan aku, tapi dia yang tidak pernah lagi datang.

Suho…aku tidak pernah berpikir bahwa gadis itu akan jatuh cinta padanya. Dan aku juga tidak pernah berpikir bahwa hatiku akan sehancur ini setelah mengetahuinya.

Keadaan rumah pohon masih sama, karena aku tidak pernah seharipun lupa untuk membersihkan tempat bersejarah ini. Sudah pukul empat sore, tapi dia belum datang. Aku memintanya untuk datang dengan alasan ada yang ingin kusampaikan padanya. Mungkin aku hanya perlu menunggu beberapa menit lagi.

Kupandang pintu rumahnya yang tertutup. Entah dia pergi berkencan kemana lagi hari ini. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti aku masih berharap dia akan datang kerumah pohon ini.

Aku menunggumu…

Aku menunggumu…

Aku menunggumu…

Dan aku melihatnya turun dari motor seorang pria yang sangat kukenal. Mereka saling melempar senyum. Mereka saling menggenggam tangan satu sama lain, dan terakhir yang kulihat Suho mengecup keningnya yang menyebabkan jantungku berderu.

Aku ingin berteriak. Tapi tidak bisa. Aku ingin memanggil namanya. Tapi tidak bisa. Hingga hujan mendahului niatku dan aku tetap duduk di rumah pohon ini dengan perasaan yang menyiksaku hingga fajar datang.

 

—Jong-Dae POV End—

 

Jong-Dae berdiri di depan pohon tua itu. Hanya kali ini, dia berjanji hanya kali ini akan melihat rumah pohon mereka. Waktu berjalan lambat, selambat air matanya yang mengaliri pipi pucatnya. Dia tersenyum, sekaligus menertawai dirinya yang cengeng.

Dia menghapus air matanya dan hanya menyisakan kelembaban di pipi pucatnya. Dia tersenyum sekali lagi sebelum mengeret kopernya secara perlahan.

 

 

Gadis dengan mini dress berwarna pastel itu berdiri dengan gelisah. Matanya tidak pernah berhenti menilik ke seluruh celah aula sekolah. Dia mencari sahabatnya yang tak kunjung datang. Dia bertanya-tanya kenapa sahabatnya tidak datang di pesta perpisahan SMA mereka, hingga sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya; “Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan study-ku di Taiwan. Kuharap kita bisa bertemu lagi. Terima kasih sudah menjadi sahabatku selama 18tahun ini.”

Mendadak penglihatan gadis itu menjadi buram dan tenggorokannya tercekat. Dengan cepat dia menekan tombol hijau di ponselnya…

“Jong-Dae !! Kim Jong-Dae…kau akan kembali kan ? kita akan bertemu lagi kan ?”

“Mmm..mungkin.”

Hanya itu. sambungan telepon terputus.

Jong-Dae mengeret kopernya lagi, kali ini dengan sangat lambat.

Dia memejamkan matanya sesaat, membiarkan hatinya menangis untuk beberapa saat. Dia membiarkan kenangan indahnya tertinggal di sini untuk selamanya. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah kembali ke tempat ini…ke kota ini…ke negara ini…lagi.

 

 

“Jong-Dae !! kau harus melindungiku sampai kapanpun !”

“Jong-Dae !! aku menyayangimu. Kita akan tetap bersama untuk selamanya kan ?”

“Jong-Dae…Jong-Dae…Jong-Dae !!”

 

Pria itu tersenyum. Dia baru saja mengingat kata-kata yang sering di lontarkan gadis itu saat mereka masih berada di sekolah dasar. Dan dia masih ingat dengan jelas suara cempreng gadis itu.

Ini sudah empat tahun berlalu. Dia sudah menjalani harinya tanpa suara-suara dari gadis itu lagi. Dan dia sudah mulai terbiasa.

“Chen !! sudah saatnya, ayooo !!” teman-temannya menyerukan nama barunya. CHEN, sebuah nama yang begitu berbeda dengan namanya dulu. Ya..dia bertekad ingin merubah segalanya, termasuk hatinya.

“O..aku mengerti.” Dia melangkah dengan ringan, menuju tempat di mana orang-orang menginginkannya, di mana orang-orang akan setia mencintainya…

Drrtt…drttt….

Getara poselnya membuatnya menghentikan langkahnya.

Sebuah nomor yang tidak dikenalnya. Dia ragu namun dia memutuskan untuk menjawabnya.

“Halo.”

“Halo, apa kabar?” suara gadis itu menyeruak masuk ke dalam rongga telinganya dan itu membuat hatinya sedikit goyah.

“Aku baik-baik saja.”

“Syukurlah. Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu.”

“Katakanlah,” ucapnya lirih—hampir tak terdengar.

“Aku ingin kau datang ke pernikahanku dengan Suho minggu depan.”

“Mmm…”

Dan mereka memutuskan sambungan.

Empat tahun. Sekian lama dia tidak mendengar suara itu dan sekian lama pula dia tidak mendengar nama pria itu. Dia hampir melupakan segalanya, tapi hari ini dia seakan mendapatkan luka lamanya.

Air mata yang sama seperti empat tahun yang lalu mengaliri pipi pucatnya.

“CHEN !! kenapa kau lama sekali !!”

Dia mengukir senyum tipis dengan hatinya yang hancur.

Dia berjalan secara perlahan.

Dan dia mendengar suara histeris dari orang-orang yang mencintainya.

Dia…Kim Jong-Dae benar-benar sudah memutuskan untuk melupakan segalanya. Cintanya pada gadis itu…. dia benar-benar sudah memutuskan untuk merelakan….cinta pertamanya hancur untuk selamanya.

 

#THE END#

 

Ini ff ke-2 yang kukirim ke sini setelah Between Us *reader inget gak ya?* lagi-lagi ini ff galau (?) hehe. Oh ya yang mau kenal aku lebih dekat bisa follow twitterku @harukaze03

Sekian dariku. Semoga kita bisa berjumpa di ff-ku yang lain yaa *hug*