Itsudatte Kimi Ni

Author             : Minnie (@aubrey_DGS)

Length             : Ficlet, songfic

Genre              : romance

Cast                 : Kim Junsu

Rating                         : PG-13

Disclamer        :

  • Minnie storyline only! No plagiat !

******

Riuh penonton menumbangkan seorang wanita yang mengakhiri konser tunggalnya. Untuk pertama kalinya, ia menangis  di depan seluruh fans yang mengaguminya. Ribuan fans memberikan sorakannya  dan perlahan  ikut meneteskan butiran lembut ketulusan dari bola mata mereka. Ia memandang mereka semua dan tersenyum haru  sambil membungkukkan badan.

“GAMSAHAMNIDA!”

Ini bukan hal yang menyedihkan, tapi mengapa air mata itu terus mengalir. Ia merasa harinya telah berjalan dengan baik. Konser ini menandakan di mana ia mulai berani menopang dirinya dalam panggung seni. Berdiri sendiri sebagai penyanyi solo bukanlah hal gampang baginya. Ini sebuah perjuangan panjang dengan ukiran kepedihan yang harus dilaluinya. Inilah Kim Tata.

“Gomawo ! Kalian sudah melakukan dengan baik!”

Ia menepuk lembut anggota staff yang menjadi dorongan dalam konsernya. Tanpa mereka mungkin konser ini tak akan berjalan seindah dan sesukses ini. Ini sungguh pengalaman yang mengagumkan baginya. Bagi seorang penyanyi, berdiri di panggung dengan ribuan fans di depannya adalah hal yang sangat indah. Panggung dapat dikatakan sebagai nafas mereka .Dan fans , mereka adalah segalanya bagi seorang penyanyi. Energi, jiwa, semangat, suka dan duka ada dalam diri fans. Karena mereka yang membuat mereka terus berdiri kokoh di panggung ini.  Ya, selalu dan hanya fans yang bisa melakukannya.

“Dia sudah menunggu.”  Bisik Manager Han.

“Siapa?”

“Di ruang tunggu. Dia melihat konsermu. Dari awal.”

“Eii… maldo andwe(tidak mungkin)! Dia sedang melakukan konser di Jepang.”

Kim Tata berlari kencang  ke ruang tunggu di ujung ruangan. Ia tersenyum . Antara rasa keraguan, harapan dan kepercayaan bercampur aduk menjadi satu tanpa menjelaskan suatu kepastian. Jelas ia tahu siapa yang dimaksud manager Han.

Dia . Dia adalah seorang yang sudah menemani hidupnya dalam tujuh tahun ini. Dia yang sudah memberikan berjuta kenangan manis, sedih dan pahit pada Kim Tata. Dia yang sudah mampu menopang Kim Tata dari belakang. Dia yang selalu menjadi orang pertama yang mampu membuat Kim Tata mengembangkan bibirnya. Dia adalah dia yang membuat  setiap persen kehidupan Kim Tata menjadi seratus persen lebih berarti dan penuh daya pesona keindahan.

BRAKK~

“Op….paa…. ? ”

Ia melihat pria itu duduk di bangku riasnya. Ini tak mungkin . Pria dengan balutan jas hitam sederhana dengan kaos singlet tipis di dalamnya , menatapnya dengan mata yang selalu dirindukan olehnya. Dan juga senyuman itu. Senyuman pria itu  yang selalu memberi kehangatan pada Kim Tata. Ini tak akan salah. Dia sungguh datang. Kim Junsu.

“Yaaa…. KIM TATA! DAEBAK ! KIM TATA, JJANG!” Seru Kim Junsu sambil menepukan kedua belah tangannya.

Kim Tata berjalan pelan menuju Junsu. Ia menggenggam tangannya keras dan kuat. Ia menatap Junsu dengan mata lekatnya. Air matanya menetes rendah pada kedua belah pipinya. Perlahan Tata memukul pelan pundak Junsu berkali-kali.

“Aaa!Aaa! Mwe(kenapa)?” Erang Junsu pelan.

Entah apa yang akan disampaikan Tata. Ia sungguh tak menyangka pria ini akan datang dengan jadwalnya yang padat di Jepang. Ia ingin marah , tapi bukankah ini yang dia inginkan?

“Kenapa  kau terus memukul? Appo(sakit)! Kau tak ingin memelukku?”

Perlahan Junsu meraih tubuh mungil itu dan menghirup sedikit energinya di situ. Merasakan betapa beratnya beberapa bulan ini akibat jarak yang terentang di antara mereka .  Sangat jauh untuk merasakan kehangatan dan kelembutan cinta mereka yang sangat memikat. Lebih mengerikan lagi bila mereka terlalu merindukan akan hal ini. Mereka hanya terengkuk dalam kesepian yang mendalam dan penuh kepedihan. Tepatnya Bukan suara yang mereka inginkan, tapi pribadi masing-masing yang membawa sosok kelembutan dan kenyamanan mereka berdua yang selalu ingin mereka rengkuh.

“Pabo-ya(bodoh)!Kenapa oppa datang? Bagaimana konser oppa?”, Kata Kim Tata pelan.Perlahan tangan gadis ini memeluk punggung Junsu.

“Menurutmu?”

“Jangan katakan oppa….”

“Mwe(kenapa)? Sepertinya konserku tak kalah suksesnya dengan konsermu, Tata-ya.  Aku tak melewatkan satu pun bukan? Aku sungguh datang tepat waktu. Harusnya kau Berterima ka…”

Tata mengangkat kembali pita suaranya hingga suara tangisannya menjadi lebih nyaring. Junsu menepuk lembut pundak Tata dan tersenyum pelan. Waktu ini yang sangat dirindukannya. Memelukknya dengan sangat kuat dan berusaha tak melepaskannya. Begitu kuat dan penuh kehangatan.

“Gomawo , oppa! Go..ma..wo…. karena selalu melakukan hal ini untukku. Meluangkan waktu untuk mendukungku dan semuanya. Terima kasih.” Bisik Tata pelan

Junsu melepas pelukannya dan melihat bagaimana gadis itu menatapnya dengan tatap penuh haru dan kesenangan. Junsu membelai lembut uraian rambut yang menutupi wajahnya. Ia menyentuh lembut wajah gadis itu dan membersihkan lembut keringat yang tersisa di dahinya.Tata mengembangkan senyumannya. Ia memegang lembut telapak tangan Junsu.

“Neomu…. Bogoshippo….. (aku sangat rindu padamu).” Ucap Tata pelan dengan nada yang hampir tak terdengar.

Junsu mendekatkan wajahnya dengan gadis itu. Ia menariknya pelan dan menyatukan sentuhan lembut dalam bibir mereka sesaat. Hanya memberikan kecup kerindukan kepada gadis itu. Junsu kembali merasakan perasaan itu. Rasa candu yang selalu ia rasakan selama tujuh tahun ini. Dan selalu ia rasakan.

“Salah satu alasan mengapa aku berada di sini adalah karena hari ini …”  Ucap Junsu pelan.

“Tanggal 13 Juni. Aku tak akan melupakannya.”

Tiga belas Juni merupakan angka berharga bagi mereka. Tanggal itu adalah tanggal di mana hati mereka bertemu dan mengembangkan perasaan satu sama lain hingga saat ini menjadi luapan perasaan yang luas dan tak terbendung yang tak akan pernah diperkirakan.

 

******

#Tata’s apartement

Kreek~

Junsu menyapu rambutnya yang basah dengan sebuah handuk putih. Ia berdiri sejenak dan menghembuskan nafasnya. Inilah tempat yang ia rindukan. Di mana aroma masakan kesukaannya akan selalu terhirup segar di tempat ini. Di mana suasana kebahagian akan selalu terkuak di tempat ini. Dan tepatnya di mana ia dapat memperhatikan setiap tingkah Tata di tempat ini. Sangat menyenangkan dan mengagumkan. Ia bahkan tak menyangka bahwa rasa ini akan selalu melekat pada dirinya. Baginya, tujuh tahun hanya waktu yang singkat buatnya. Terlalu singkat sehingga ia ingin selalu memperpanjang waktu ini lebih panjang lagi. Lagi dan lagi.

“Oppa! Kau sudah selesai mandi?”

Junsu hanya terdiam. Ia melirik sudut dapur yang sudah penuh aroma makanan yang menyegarkan. Gadis itu masih berada di ujung kesenangannya dengan panci berisi kimchi jjigae. Junsu melipat lengannya dan bersandar pada ambang pintu. Gadis itu sangat terlihat cantik saat meletakan jemarinya di alat-alat dapur ini. Dengan rambutnya yang terikat tinggi ke atas dan sebuah kain yang melekat pada bagian depan tubuhnya.

“Mwe(kenapa)? Oppa, terpesona lagi denganku? ”

“Ehm.” Junsu menggangguk pelan dan memberikan senyuman lembutnya pada Tata.

“Eo?”

Tata berusaha tidak tersipu. Kepalanya tertunduk ke bawah dan terkonsentrasi pada masakannya. Tapi terlalu sulit. Hingga akhirnya bibirnya mengembang menjadi sebuah senyuman.

“Ah, tubuhku terlalu payah untuk menolak rayuan. Sebaiknya oppa menjauh dariku sekarang. Kalau tidak, makanan ini tak akan matang. ”

Junsu tersenyum jahil. Ia berjalan mendekati gadis itu. Tangannya  perlahan meraih pinggang ramping gadis itu dan menariknya mendekat. Lebih mendekatkan dadanya dengan punggung gadis itu dan mempererat pelukannya. Kepalanya perlahan melekat pada pundak Tata dan memejamkan matanya singkat. Ia menarik nafas dan menghembuskannya singkat. Gadis itu tersenyum ringan dan memegang genggaman tangan Junsu yang berada di pinggangnya.Pria ini, benar-benar Kim Junsu. Benar –benar seorang yang dapat mengerti bagaimana dunianya akan berotasi dengan sempurna dengan segala tingkah lembutnya. Terlalu manis.

“Hari ini…. Maukah kau berjalan keluar? Sudah jam 1 malam . Tak akan ada orang yang tahu.” Bisik Junsu pelan.

“ Aku tak yakin ini akan aman.” Jawab Tata ragu.

“Aku akan melindungimu, Tata-ya. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku hanya ingin merasakan udara segar di malam yang cerah ini. Bukankah kau suka bintang? Otthe(bagaimana)?”

Junsu menegakkan tubuhnya dan memandang gadis itu. Ia harus memastikan bahwa gadis itu menyatakan kepercayaannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tak akan memaksa bila gadis itu benar-benar tak menginginkannya. Mengingat kejadian 2 tahun lalu yang membuatnya merasa trauma dengan istilah “Date” akibat banyak fans yang mengelilingi Junsu. Bukan karena hubungan mereka tapi karena Junsu sungguh terkenal dan popular. Sehingga banyak fans yang ingin selalu berfoto dan meminta tanda tangannya. Namun, hal ini menyadarkan Junsu bahwa saat itu Tata yang belum melakukan debutnya begitu merasakan keasingan. Ia bahkan menghilang setelah kejadian itu. Junsu tak ingin terulang dan menyakiti Tata.

“Baiklah.”  Jawab Tata.

“Jincha(benarkah)?”

“Ehm.” Tata mengangguk dan melihat wajah Junsu yang berada di sampingnya. “ Kim Junsu, Aku sungguh percaya padamu. ” Ucap Tata sambil menoreh senyumannya.

Kata-kataku membuat Junsu membulatkan sebuah janji bahwa ia akan melindungi gadis ini. Tak akan pernah membiarkan gadis ini jatuh dan bahkan terluka. Tak akan pernah.

***********

#Namgu, Daegu, 2 AM

Kedua kaki Tata melangkah riang menyusuri pinggiran kota Namgu yang terlihat sedikit kosong akan kendaraan. Tangannya menggenggam erat telapak tangan Junsu. Mulutnya tertutup oleh masker dan rambutnya terangkat dalam topi. Junsu melakukan hal yang sama dengannya. Penyamaran yang cukup sempurna. Dan sungguh kota ini terlihat sangat sepi pada dini hari. Suara kendaraan hampir tak terdengar di daun telinga mereka.

“Ta-ya, kau tak meminta hadiah?”

“Hadiah?Untuk apa?” Tata berpikir sejenak. “ Aaa… aku sudah cukup dengan melihat oppa bersamaku di tanggal ini. Cukup dengan ini.”

“Keure?” Junsu menghentikan langkahnya. “ Kau sungguh tak ingin?” Tanya Junsu.

“Kau….. membawanya…?”

Junsu tersenyum dan menarik ranselnya ke depan . Ia membuka pengaitnya pelan dan mengeluar sebuah kado dengan balutan hati.

“Ige mwoya(ini apa)?” Tata membuka kotak kado tersebut. Tata membulatkan matanya. Sebuah kotak transparan berisikan dua buah tangkai bunga putih yang sangat tampak segar. Terlihat sangat cantik.

“Itu  bunga Edelweiss.Bunga itu memang tak memiliki aroma tapi bunga itu mampu tumbuh dalam keadaan yang gersang sekalipun. Seperti yang kau lihat, bunga itu tetap memiliki bentuk dan warna yang indah, walaupun aku memetiknya kemarin. Akan terlihat sama seperti itu. ”

“Neomu Yepppo(sangat cantik).”

Bunga itu terlihat sangat indah. Ia baru melihat bunga itu pertama kali. Lekukannya bunga itu sangat sederhana namun penuh makna.

 “Ketulusan, pengorbanan dan keabadian.Itulah arti bunga ini. Untukmu.” Jelas Junsu.

Tata membeku di tempat. Ia bahkan tak tahu apa yang akan ia katakan. Arti bunga itu sungguh tampak luar biasa. Melebihi apapun yang sudah diberikan Junsu selama ini. “Gomawo, oppa.” Ucapnya.

Tata menghirup udara pagi yang cukup menyegarkan. Ia merasakan betapa berharganya masa-masa ini. Setelah hari ini mungkin masa ini sungguh akan lama untuk terulang kembali. Hingga saat itu dunianya kembali berhenti untuk sesaat seperti waktu lalu saat Junsu di Jepang.

“Ah, dingin!” Tata merengkuh tubuhnya sendiri.

“Kemarikan.”

Junsu meraih kedua tangan Tata dalam genggamannya dan mengusapkannya pada kedua belah tangangannya. Perlahan ia meniup tangan gadis itu sehingga gadis itu merasakan sedikit kehangatan.

“Gomawo oppa.”

“Kau ingin kembali? Sepertinya udara di sini terlalu dingin.”

“Andwe(jangan)! Aku masih ingin melihat bintang itu.”

Junsu menggangguk. Kini ia merangkul gadis itu dengan tangan kirinya dan berusaha agar gadis itu terhindar dari udara dingin pagi kota Namgu.

“Aku sungguh ingin melihat bintang yang selalu terang di sisimu.Cassiopea. Aku sungguh ingin melihatnya.” Tata melihat langit yang penuh dengan bintang yang cemerlang.

“Suatu saat kau akan bisa melihatnya. Saat di mana kami kembali cerah dan berbinar maka bintang itu akan segera bersinar kembali.Lebih terang dari saat ini”

“oppa pasti sangat merindukan mereka.”

“Terlihat …sedikit luar biasa ketika berbicara tentang bintang itu. Aku bahkan tak akan pernah bisa mendeskripsikan seberapa hebatnya mereka untuk selalu bersinar terang dalam kelabu ini.”

Tata menggangguk mengerti. Apa yang dirasakan Junsu sekarang sungguh begitu berat. Berpisah dari keluarga, teman , dan bahkan sahabatnya di agensi terdahulu bukanlah hal yang bisa disebut gampang. Bahkan ini terlalu berat baginya.

“Hingga ini semua berakhir, aku akan terus berada di sisimu.” Ucap Tata.

Junsu melihat Tata sekilas dan tersenyum.

“Aku sangat senang ketika mengetahui bahwa sebuah matahari selalu menyinari hari-hariku dan menguatkanku. Matahari itu akan selalu bersinar dan terus bersinar. ”

“Matahari ? Nugu(siapa)?”

“Kim Tata ? Naui Yoeja(wanitaku). Kau tak tau? ”

“Eo? Gomawo.”

“Kau tersipu lagi?” Junsu menyentuh lembut pipi Tata. “ Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Selalu berterima kasih.”

Tata menghela nafasnya singkat. “ Tujuh tahun sungguh menyenangkan. Bukan hal yang gampang, tapi aku selalu menikmatinya setiap batu loncatan yang ada di hadapan kita. ”

Junsu mengacak rambut gadis itu singkat dan meletakan tangannya  kembali di pundak gadis itu. Mereka kembali menyusuri jalan. Junsu bersenandung lirih. Suara yang selalu membuat Tata nyaman. Suara yang selalu membuat Tata tertidur. Suara yang selalu membuat Tata menjadi lebih semangat. Suara yang menandakan bahwa dalam diri Tata ada sebuah kehidupan , hanyalah suara Kim Junsu. Ia terlalu sering membuat Junsu bersuara , apapun jenisnya. Ia hanya senang melihat pria yang ada di sampingnya terus mengeluarkan suara lembutnya untuknya.

“Kau ingin duduk?” Tanya Junsu sambil menunjuk bangku yang berada di samping minimarket.

Tata mengangguk.”Ne.”

Junsu meraih sapu tangan dari kantong jaketnya dan membukanya lalu perlahan ia letakan di bangku kursi itu.

“Duduklah.”

“Gomawo, oppa.” Ucap Tata dengan nadanya aegyo nya.

Junsu tertawa geli dan tangannya reflek meraih pipi Tata lalu mencubitnya pelan. Tata mengerang kesakitan dan tersenyum. Junsu terduduk di samping Tata dan kembali bersenandung. Sungguh merdu dan indah. Tata menatap kagum seorang Kim Junsu. Walaupun ia  seorang penyanyi namun gadis ini mengakui bahwa suara Junsu lebih baik darinya. Dia hanya berharap suatu saat ia bisa bersama dengan Junsu dan bernyanyi bersama layaknya pasangan duet lainnya. Ia sangat menginginkan itu sejak lama. Tapi entah kapan semua akan terwujud. Melihat keadaan yang begitu keras memukul Junsu, membuat ia menutup kemungkinan hal itu. Dan seperti memang tak akan pernah.

Every day and night with you
Chiisana kimino tewo nigirishimerukara
Every day every night everywhere
Tsunagaru kanshokuwo zutto tashikameyou
Ima monogatariwa…

“Noe….. ara(kau tau)?”

“Ne?”

“Lagu yang barusan kunyanyikan, kau tau judulnya?”

“Begin. Aku sangat merindukan lagu itu. “

Tata mengaitkan tangannya pada lengan Junsu dan meletakkan kepalanya di pundak Junsu. Lagu yang indah. Tapi lebih sempurna bila terdapat harmoni di dalamnya.  Akan terlihat sangat luar biasa dengan paduan lima suara.

“Tata-ya.”

“Ehm?”

“Aku selalu ingin melihatmu. Hanya kau, Kim Tata. Aku ingin kau terus tersenyum seperti ini. Untukku.Walaupun kau kesepian. Kau harus menahannya dan tetaplah tersenyum. Karena aku juga akan melakukan itu. Aku yakin kita dapat meraih mimpi kita bersama. Suatu saat. Kau harus percaya padaku. Dan kita akan memiliki perasaan ini selamanya dan tak akan pernah berubah. Perasaan ini. Perasaan  saling memiliki satu sama lain. ”

“Op…pa..” Tata mengusap air mata yang telah membasahi pipinya.

“Untuk selalu berada di sampingku, mendukung, menopangku dan untuk semua yang telah kau lakukan selama ini. Terima kasih. Aku selalu ingin mngucapkan ini padamu. Setiap saat. Tapi semuanya begitu terlalu tercekat di lidahku.”

Tata menegakkan kepalanya. Ia melihat pria itu telah mengalirkan butir air mata kepedihan itu kembali. Wajah pria itu bahkan tak mau melihatnya. Terlihat terlalu lemah untuk seorang pria yang menangis. Namun ini hanya ungkapan emosinya dan Tata sangat senang Junsu telah kembali bangkit serta mampu memegang harapan itu kembali. Harapan untuk sebuah mimpi yang akan mereka capai.

Tata menarik badan Junsu dan memeluknya. Menepuk pundaknya dan memberikan sentuhan ketenangan pada pria itu.

“Oppa, noe.. Ara (kau tahu)?”

“Mwo(apa)?”

Tata melepas pelukannya. Ia memandang mata yang begitu memancar sebuah mimpi akan kehidupan baru. Ia memandang sebuah kemenangan di masa mendatang. Dan ia memandang sebuah ketulusan cinta di masa abadi.

“Saranghae.”

Tata mengecup singkat bibir Junsu dan tersenyum. Tata mengusap lembut pipi Junsu yang masih menyisakan air mata. “ Uljima, oppa. Uljima(jangan menangis)”

Junsu tersenyum dan memegang lembut sentuhan tangan Tata. Junsu mengangguk pelan. Ia memperhatikan gadis yang sungguh luar biasa mampu berdiri tegak bersamanya kali ini. Gadis yang benar-benar mampu menjadi jaminan dalam hidupnya. Ia begitu beruntung telah menemukan gadis ini.

“Nado, saranghae.”

Perlahan bibir mereka menyatu dalam sebuah kedinginan.Sedikit merekat dan mengaitkan satu sama lain. Begitu berpadu dalam kesatuan cinta yang utuh dan tak akan teruraian. Selamanya.

 

END

 

RCL please….