*Catatan Editor FFL :
Maaf, karena ada kesalahan pengeposan, FF ini telah lebih dulu mengepost Prolog dan Part 2
Untuk kesalahan kami, kami minta maaf yang sebesar-besarnya. ()(_ _)()

 

Title : A Little Thing I Wonder
Author : Angelinblack
Length : Continue
Genre : Romance
Cast : Kim Jaejoong JYJ, Jeon Boram T-ara, Park Yoochun JYJ

*10 tahun kemudian, hari ini*

Boram’s POV

Tokyo, musim panas. Keputusanku sangat salah untuk berlibur ke kota ini pada cuaca seperti ini. Ini sama saja dengan menghabiskan sisa libur kerjaku di kota Seoul. Lingkungan disini sama saja dengan disana, hanya saja bahasa dan orang-orangnya berbeda. Seharusnya aku menuruti kata-kata Bibiku untuk berlibur di pulau Jeju saja, suasananya berbeda jadi terasa liburannya.

Aku menghela nafas dan menegak habis botol air mineralku. Kuikat kebelakang rambut panjangku yang sudah susah payah kupanjangkan selama 5 tahun dan merapihkan short dress ungu pucatku. Ya, duduk lama di pesawat pasti membuatnya sedikit berantahkan. Setelah ini aku akan mencari taksi dan pergi ke hotel yang sudah ku booking kamar president suitenya seminggu yang lalu. Mizumi Hotel. Yah, bukan hotel yang sangat populer di Tokyo, tapi tetap berkelas. Dengan gajiku sebagai penulis naskah drama, tak kusangka dapat membiayaiku liburan tanpa memikirkan berapa besar uang yang harus ku keluarkan seperti ini. Hitung-hitung liburan ini dapat me-refresh otakku sehingga aku bisa mendapatkan ilham untuk menulis skrip lain yang sudah dipesan untuk drama romance baru. Kudengar, artis dari Jepang yang akan memainkannya. Tapi, aku tidak peduli.

Sedikit melirik ke kanan, aku melihat sebuah snack bar bandara berdiri beberapa blok dariku. Masih merasa kehausan, aku memutuskan untuk membeli sebotol air mineral lagi. Sekedar info, aku sudah menghabiskan 5 botol air mineral setelah turun dari pesawat.

“Konichiwa…”aku membungkuk ramah pada perempuan yang menjaga snack bar tersebut. Ia juga menyambutku dengan ramah. Aku berjalan melewati deretan minuman. Melihat begitu banyak botol pocari, aku mengganti tujuanku dari membeli sebotol air mineral menjadi membeli 2 botol pocari. “Berapa semua??”tanyaku kemudian.

“Semuanya, 3 yen…”perempuan itu mengambil kedua botol pocari yang ku beli dan membungkusnya dengan kantong kertas kecil.

Aku membuka tas jinjingku dan mencari dompetku yang terselip dibawah alat-alat make up basic yang kutaruh sembarang dalam tas. Kubuka dompetku, mencari uang yen yang ada. Tapi sial!!, aku lupa menukarnya saat masih di korea. Bagaimana ini? Apa bisa aku menggunakan kartu kredit??

“Maaf, apa bisa aku menggunakan kartu kredit??”tanyaku sangat hati-hati.

“Maafkan saya, tapi minimal pembelian menggunakan kartu adalah 10 Yen…”perempuan itu membungkukkan badannya hormat.

“Tapi, aku tidak mempunyai Yen sama sekali di dompet… Aku mohon…”pintaku setengah berbisik, takut pria yang mengantri dibelakangku mendengarnya.

“Maafkan saya…”perempuan itu membungkukkan badannya lagi. “Kalau anda tidak jadi membeli, tidak apa-apa…”

“Ah… Bukan begitu, tapi…”aku menggaruk kepalaku bingung. Aku sangat haus dan menginginkan pocari itu.

“Biar aku yang bayar…”pria dibelakangku berjalan ke sebelahku dan menaruh belanjaannya di meja kasir. “Jadikan satu, ya…”ucapnya pada si pelayan toko.

Aku menatap pria itu kaget. Wajahnya sedikit tak terlihat karena di tutupi topi mexican hat yang dipakainya miring.

“Ang… itu…”

“Gwenchana (Tidak apa-apa)…”, ia menggunakan bahasa korea, “Boram…”

“Eh??”aku semakin heran. Bagaimana pria itu tau namaku? Apa dia membaca sticker di koperku? Tapi tidak mungkin, koperku kan tertutup kakiku. Dia juga berbicara padaku dengan bahasa korea, apa dia kenalanku dari Korea?? Aku sangat kaget dan bingung sekali.

“Ayo…”pria itu menenteng belanjaannya dan kantong pocariku sambil memberikan isyarat padaku untuk mengikutinya dengan gerakan kepala.

“Eung…”aku mengikuti pria itu buru-buru. Kakinya yang panjang membuat langkahnya sangat cepat dan membuatku kewalatan mengikutinya. Sampai, akhirnya, ia berhenti di depan sebuah mobil sport mewah di tempat parkir bandara.

“Masuklah…”pria itu membukakan pintu untukku dan bergegas masuk setelahnya.

“Tapi…”aku melongok ke dalam mobil melalui pintu mobil. Tidak mungkin aku ikut pria itu, sedangkan aku tidak mengenalnya.

“Kau tidak mengenaliku??”aku melihat bibir pria itu tersenyum, sedangkan bagian wajahnya yang lain masih tertutup topinya. “Yah, tadinya aku juga tidak mengenalimu…”

“Maaf?”aku semakin bingung.

“Ini aku, Boram….”pria itu membuka topinya sedikit.

“O!!”aku benar-benar kaget! Wajah itu… Pria itu… Sudah sepuluh tahun aku tidak melihatnya. Entah, rasanya kepalaku menjadi berat dan jantungku berdebar kencang. Perasaanku campur aduk tak menentu. “Yoochun-oppa??”bisikku pelan. Dia, teman dekat Jaejoong.

“Cepatlah masuk!! Kalau tidak, kita bisa tertangkap paparazi!!”serunya, masih sambil tersenyum.

“Oh, i.. iya…”aku mengangguk syok. Kuseret koperku naik ke dalam mobil dan kutaruh dikakiku. Entah sebodoh apa aku mau naik, tapi kepalaku sibuk mencerna keadaan yang ku alami sekarang ini. Bagaimana bisa aku bertemu dengannya disini?!

“Kau semakin cantik, Boram…”ia menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya pelan. “Sedang apa kau di Jepang??”

“Aku? Eung, menulis skrip dan liburan…”aku memainkan sabuk pengaman yang baru kupasang dengan salah tingkah. Percayalah, aku benar-benar kaget! “O… Oppa sendiri??”aku memberanikan diriku menoleh padanya.

“Aku sudah 8 tahun disini… Aku seorang model…”ia terkekeh pelan. “Takdir bukan, kita bertemu disini?? Kau sudah memanggilku oppa lagi, apa kau sudah memaafkanku??”

“Itu…”. Aiishh! Kenapa ia mengungkit masa lalu?! “Oppa, kan, tidak berbuat macam-macam padaku… Kenapa aku harus marah padamu?!”

“Benarkah?! Dulu, kau marah sekali padaku…”ia tersenyum lagi. Ah, orang ini memang tidak pernah berubah! Selalu saja tersenyum…

“Itu…”aku menggaruk kepalaku pelan. “Seiring berjalannya waktu, kemarahannku mereda…”kelitku. Ya, sebenarnya alasannya juga tidak tepat begitu.

“Lalu Jaejoong?? Kau memaafkannya??”ia melirikku sekilas.

“Jangan membahas itu…”ku palingkan wajahku ke jendela. Aku, tidak mau mengingatnya. “Yang lebih penting sekarang ini, kita mau kemana??”

“Apartemenku…”, Yoochun menoleh padaku, “Kau akan menginap disana…”

“Hah?!”

***

Aku berdiri di depan apartemen Yoochun dan menatapnya bersalah. Aku tadi langsung memukulnya saat mendengar ia akan membawaku ke apartemennya, tapi ternyata aku salah sangka. Ia bermaksud baik membiarkanku menggunakan apartemennya yang tidak terpakai dan saat ini ia sedang membatalkan reservasiku di hotel. Yah, dipinjamkan 1 apartemen gratis jauh lebih baik daripada membayar president suite room dengan uang sendiri.

“Sudah beres, ayo masuk…”Yoochun memasukkan kembali ponselnya dan menggesek kunci apartemen yang berbentuk kartu untuk membuka pintu.

Aku berjalan masuk mengikuti Yoochun dan sekali lagi pria itu berhasil membuatku terkejut. Ia meminjamkan padaku apartemen yang sangat mewah dan ini hanya salah satu dari apartemen-apartemen yang dimilikinya. Wow! Sebenarnya, berapa banyak uang yang dia hasilkan di Jepang?! Jadi, dia benar-benar artis disini??

“Terkejut?!”Yoochun tersenyum kecil dan menghidupkan ACnya. Ia duduk di sofa besar di depan TV flat 50’ dan mempersilahkanku duduk di sebelahnya. “Sudah kubilang aku ini artis terkenal… Nama panggungku Yamashita Junji, kau akan sering bertemu fansku di jalanan nanti…”pamernya. “Aku tinggal di flat lantai atas… Nomor 101… Kalau ada yang kau butuhkan, datang saja… Kalau aku tidak ada, datanglah ke flat nomor 102…”ia mengedipkan sebelah matanya.

“Kenapa oppa mau membantuku??”tanyaku curiga. Ya, semua kebaikannya ini mencurigakan! Yah, walaupun dulu kami sempat dekat, tapi kami berpisah saat hubungan kami sudah retak. Ya, saat aku sangat membencinya dan temannya dulu.

“Tanda terimakasih, karena kau telah memaafkanku…”jawabnya singkat.

“Benarkah??”aku mengangguk pelan. “Lalu flat nomor 102 juga punya Oppa??”tanyaku lagi.

“Bukan..”, ia menghela nafas panjang dan menoleh padaku, “Itu, milik Jaejoong…”

“A…”

“Menurutku, sudah waktunya kalian berbaikkan… Ku mohon, dia sudah lama frustasi…”Yoochun memutar badannya menghadapku dan memegang kedua tanganku. Wajahnya benar-benar memohon.

“Frustasi??”apa hubungannya frustasi Jaejoong denganku?

“Dia masih merasa bersalah denganmu… Dan… Dia masih mencintaimu…”

“Oppa..”aku melepas genggaman Yoochun dan memalingkan badan, tapi ia langsung memegang kedua pundakku dan memutar tubuhku kembali. Aku menunduk, enggan melihat wajahnya. Selalu seperti ini, setiap mendengar nama Jaejoong di sebut, rasanya aku ingin meledak!

“Aku mohon… Aku bersungguh-sungguh… Bukankah kau bilang amarahmu sudah mereda seiring berjalannya waktu? Sudah 10 tahun, Boram… Itu waktu yang lama… 10 tahun ia frustasi dan masih mencintaimu, tidak bisakah kau…”,ia menghela nafas,”berbaik hati..”suara memberat.

“Kau sudah besar, kau sudah dewasa… Aku mengerti sekali kenapa kau begitu marah dulu, saat itu kau masih anak-anak… Tapi, sekarang… Kau sudah 20 tahun, sudah bekerja… Kau pasti sudah paham bagaimana pergaluan itu menyeretnya… Anak SMA saja sudah banyak yang melakukannya… Bukankah itu wajar??”

“Bagaimana kau bisa bilang itu wajar??!”, bentakku, “Apanya yang wajar berbuat itu diluar nikah?! Ya, walaupun orang-orang beranggapan itu wajar, aku TIDAK!!”. Ya, aku mempunyai prinsip yang berbeda dari trend pergaulan yang ada.

“Tapi kau bisa sedikit memahami perasaan Jaejoong, kan? Bagaimana ia sedang mabuk sambil menahan perasaan yang begitu besar?! Dia sudah lama mencintaimu, Boram… Dia menCINTAImu!!”sekarang Yoochun sudah mulai terlihat frustasi. Hatiku jadi sedikit luluh. Apa begitu besar orang itu mencintaiku? Ya, aku tau benar rasanya mecintai seseorang… Dulu, aku juga pernah memiliki seorang kekasih…

“Dia jadi semakin buruk! Dia lebih buruk dariku… Aku mohon, temui dia… Hanya temui dan katakan kau memaafkannya… Aku mohon…”Yoochun berlutut di depanku.

“Aku… Tidak tau…”