Sonreír

All character here belong to themselves

Sonreír © blackfreesia

Fluff

Ficlet

Thunder (MBLAQ) & IU

Aku sama sekali tidak pernah mengira bahwa senyuman itu kini dapat kumonopoli seutuhnya. Senyuman yang memabukkan itu. Senyuman yang menghiasi dan mewarnai hidupku. Senyuman itu adalah pelangi di hidupku. Senyuman itu kini dapat kumiliki seutuhnya. Hanya untukku.

Juga pemilik senyuman itu

Milikku seutuhnya.

“Sanghyun sunbae, aku menyukaimu. Maukah sunbae menjadi pacarku?”

Kalimat itu adalah kalimat yang selalu tersumbat di tenggorokanku. Tak pernah bisa aku ucapkan. Lidahku selalu mati saat aku mencoba mengucapkannya. Selalu tiba-tiba kalimatku tersesat.

Butuh waktu setahun bagi untuk berani mengatakannya —mengungkapkannya.  Dan di sinilah aku, di gedung belakang sekola mencoba menarik paksa kalimat itu untuk keluar. Tanganku gemetaran, jantungku berdegup tak karuan, aku menolak menatap mata Sanghyun sunbae dan aku berkutit dengan lidah yang mendadak kelu sembari menemukan kalimatku yang tersesat.

Dan aku berhasil mengatakannya —mengungkapkannya.

Dan tanpa kuduga, aku mendapatkan jawaban yang memuaskan, yang sesuai dengan yang aku harapkan, dan yang selama ini selalu aku impi-impikan.

“Aku mau, karena aku juga menyukai Jieun.”

Tuhan! Ini nyata! Bukan mimpi yang selalu hadir di tidurku! Sekali ini nyata!

Aku ingin bersorak. Aku ingin melompat. Aku ingin memeluknya. Tapi aku berusaha keras supaya tetap berdiri tenang.

Aku mengangkat kepalaku, mencoba menatap matanya, memastikan apakah dia berbohong hanya untuk mengejekku.

Tidak ya Tuhan! Sorot mata itu, sama seperti caraku menatapnya. Dia menatapku seolah aku adalah sesuatu yang amat berharga.

Tuhan, aku merasa tubuhku lumer.

Dia tersenyum. Senyuman yang selalu aku sukai. Selalu aku rekam dalam otakku. Yang setiap malam selalu aku bayangkan dan membuatku tersipu sendiri. Senyuman itu, laki-laki yang ada di hadapanku mulai sekarang adalah milikku.

“Sebenarnya sudah lama menyukai Jieun, semenjak Jieun menjadi manager di klub sepakbola —“

Dia menyukaiku semenjak aku menjadi manager? Tidakkah ini sesuatu yang menakjubkan karena aku juga mulai menyukai semenjak aku pertama kali melihatnya di klub sepakbola —cinta pada pandangan pertama mungkin, dan itu saat aku menjadi manager.

“—dan yang paling aku sukai dari Jieun adalah senyumanmu, begitu manis dan polos. Jieun dan senyumannya adalah penyemangatku, selalu membuatku saat latihan maupun saat ingin bertanding.”

Aku ingin menjerit sejadi-jadinya! Dia mengatakan, dia menyukai senyumanku! Senyumanku memberikannya semangat!

Oh, aku menyadari sesuatu dan aku tersenyum geli. Sepertinya Sanghyun sunbae juga menyadarinya dan dia juga ikut tersenyum geli.

“Ternyata kita saling menyukai senyuman satu sama lain ya?” ucapnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa mengangguk.

Walaupun langit tidak menaburkan bunga mawar merah dari atas dan walaupun di gedung belakang sekolah ini tidak ada satu pun bunga tumbuh hanya rumput yang meninggi tapi mendadak aku merasa keadaan di sekitarku terasa begitu indah, terasa begitu romantis.  Mungki karena kami saling melempar senyuman. Mungkin karena kami memandang satu sama lain dengan penuh kasih sayang. Atau mungkin karena di sini kami, dua pasang manusia saling menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta.

Sanghyun sunbae tersenyum sambil mengulurkan tangan.

“Ayo kita pulang.”

Kusambut uluran tangannya dan kugenggam erat. Dan kami berpegangan tangan di sepanjang jalan pulang sembari membayangkan hal-hal manis yang akan menjuntai di masa depan.

FIN

Iklan