The Dark and The Light Wings (Chapter 6)

Author     :  Thirteencatyas

Length     :  Sequel https://fflovers.wordpress.com/wp-admin/post-new.php

Genre       :  Fantasy, Sad, Mystery

Cast(s)     :  B2ST member

 

Son Dongwoon story…

“Jagiya….” noona melingkarkan lengan kurusnya di leherku. “Sudah jam berapa ini? Kok kamu sudah bangun?”
Aku menarik tangannya dan menciumnya sekilas. “Ini sudah jam 6 pagi. Kamu tidak berangkat kerja? Ini sudah hari Senin loh.”
“Nee, sebentar lagi. Aku mau mandi dulu.” Noona mengangkut selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjangnya, “Aku tidak bisa berkata apa-apa sejak kamu berubah menjadi sayap putih. Kamu membuatku takluk dan tak berdaya, sikapmu lebih cocok sebagai sayap hitam.”
Aku menghampirinya dan menciumi leher belakangnya sebelum ia keluar dari kamar, “Mmm…. Entah kenapa aku sangat senang bermain dengan noona. Alhasil kita selalu menghabiskan malam bersama, gwenchana… kita memang ditakdirkan bersama seperti ini.”
Noona mengangguk sambil menikmati ciuman yang kuberikan di lehernya. “Kamu sudah mandi ya? wangi sekali, kulitmu juga dingin.”
“Nee, aku harus berangkat pagi ini.” Ucapku sambil membalikkan tubuhnya hingga noona menghadapku, “Pasti akan banyak cerita di midimarket. Aku tidak ingin melewatkannya noona.”


“Arraseo, tinggalkan saja kunci apartemennya. Nanti aku taruh di pos depan.”
Aku mengangguk sembari menelusur bibirnya dan mengecupnya lembut. Kurasakan tangannya menjelajah punggungku, menjelajah garis-garis pada symbol baruku…

…..

“Yoseobie… berhenti menatapiku seperti itu terus, aku malu~~” keluh Miyoung noona ketika aku hendak menyapa mereka. Hyung tertawa jahil di balik meja kasir, lalu memandangi Miyoung noona lagi.
“Yak~~!! Andawae Yang Yoseob!!” pekik Miyoung noona panik, “Aku bilang kan jangan….. ah Dongwoon-ah, annyeonghaseo~~ selamat pagi.”
Aku tersenyum melihat tingkah laku dua orang ini. Padahal jarak mereka cukup jauh, tapi mereka saling meledek disaat jam kerja seperti ini? Hem, pasti ada sesuatu~
“Selamat pagi, Arabian namja. Ppali, ganti baju dan segera urus rak-rak mu disana.” Perintah hyung. “Jangan lupa hitung stock barang yang masih banyak dan yang tinggal sedikit, jadi aku bisa telpon agennya untuk menambah barang lagi.”
“Aish hyungnim, aku baru sampai dan kau sudah memerintahkan banyak tugas untukku.” Aku melirik rak yang biasa dikerjakan oleh Hyunyoung noona namun tak menemukan yeoja itu disana. “Oh, apa Hyunyoung noona belum datang?”
Kling kling~~ bel midimarket berdenting saat pintu masuk dibuka. Terdengar suara Hyunyoung noona yang menyapa pekerja lain, lalu ia berjalan ke ruang ganti. Sepertinya ada sesuatu yang aneh dengannya..

“A… annyeong Dongwoon-ah.” Sapa Hyunyoung noona dengan mata yang bengkak, hidung merah, dan suara serak. Ada apa dengannya?
“Ada apa?” tanpa basa basi, aku segera menanyakan keadaan noona yang sepertinya tidak baik hari ini.
Tapi ia hanya menggeleng dan menundukkan wajah, “Aniimnida. Aku pakai duluan ya ruang gantinya.” Jawabnya pendek.
Astaga, ada apa dengan noona?

~~~~~

Yong Junhyung story…

“Oppa, selamat tahun baru~~~!!!!”
Sunghyo melempar confetti di depan wajahku sehingga membuatku terkejut dan hampir teriak saking kagetnya. Tapi aku senang dan berharap semoga di tahun yang baru ini semua kegiatanku lancar.
“Selamat tahun baru.” Jawabku datar, kuambil celemek dan memakainya. Tidak lupa kunyalakan kompor untuk memanaskan minyak, “Bagaimana Kikwang, dia sudah sehat?”
“Sudah, hari ini dia sudah kerja lagi.” Jawab Sunghyo sambil mengepalkan beberapa nasi untuk para konsumen kalau-kalau nanti ia tidak sempat. “Bagaimana dengan Hyunyoung?”
“Aish… saat malam tahun baru, aku keduluan Hyunseung.” Jawabku agak depresi. “Tapi aku yakin suatu saat nanti pasti aku punya kesempatan untuk mengajaknya pergi.”
“Baguslah, positif thinking itu perlu.” Jawab Sunghyo masih sibuk dengan nasinya yang mengepul ngepul hangat. “Aku jadi kangen pantai, semoga saja musim dingin cepat berlalu dan musim semi segera datang. Aku ingin memasak seafood dan melihat Junhyung atau Doojoon oppa berkeliling dengan pelampung. Pasti akan terlihat bagus, haha.”
“Aish, aku harap pihak pantai menyediakan mobil untuk para penjaga. Capek sekali harus jalan-jalan sepanjang pantai kalau sedang evakuasi.” Keluhku sambil menceburkan kentang beku ke dalam minyak panas. “Lihat saja nanti, aku akan mengajak Hyunyoung ke pantai untuk menemaniku setiap Sabtu atau Minggu. Dan semoga saja ia mau menerima ajakanku.”
“Tentu saja, tapi jangan terlalu memaksa. Nanti dia tidak senang.” Jawab Sunghyo. “Eh, ada apa dengan pelipismu? Banyak sekali urat yang menonjol keluar, apa kau sedang menahan emosi?”
Aku meraba kedua pelipisku yang memang penuh dengan urat-urat yang bertonjolan. Rasa sakitnya mulai terasa lagi, “Aniiyo, urat-urat ini sudah ada sejak kemarin malam, rasanya sakit sekali. Untung aku masih kuat berjalan, kalau tidak mungkin aku bolos kerja.”
“Apa kau merasa pusing?” Sunghyo menghampiriku dan memberikan kursi untuk duduk. “Kalau tidak bisa bekerja, tidak usah dipaksakan.”
Aku menggeleng dan menghapus keringat yang bercucuran setelah rasa sakit dan pusingnya menghilang, “Sakitnya datang dan pergi, semoga aku kuat menahannya.”
Sunghyo meraba pelipisku dengan wajah khawatir, “Kau sering sekali mengalami sakit kepala seperti ini, apa kau punya penyakit khusus?”
Aku menggeleng, “Di kasusku, aku merasakan sakit kepala kalau ada seseorang yang kuanggap penting sedang terluka perasaannya, atau karena ia sedang dalam bahaya.”
“Jinjjaeyo? Apa hanya sayap hitam saja yang bisa merasakannya?” tanya Sunghyo ketakutan. “Semoga saja Kikwang tidak mengalami hal yang sama. Jadi.. ada apa dengan Hyunyoung?”
“Sayap hitam yang tidak bersalah, tidak punya masalah kesakitan seperti ini. Cukup beruntung.” Aku tersenyum kecut mendengar perkataan Sunghyo, “Masalah Hyunyoung.. aku tidak tahu. Tapi kurasa ia sedang sedih dan kecewa karena sesuatu.”
Sunghyo menunjukkan wajah terkejutnya setelah mendengar perkataanku, “Jeongmal? Apa mungkin itu karena perbuatan Hyunseung oppa?”
“Harrrrrgh, sudahlah jangan sebut namanya lagi.” Jawabku ketus sambil mencoba bangkit dari kursi “Si polos itu tidak mungkin membuat Hyunyoung sedih. Ia terlalu polos, karena itu ia menjadi sayap putih.”
“Kureyo…. Mungkin karena ulah orang lain.” Ucap Sunghyo. “Ayo kita kerja dulu, karyawan lain sudah datang. Kita tidak mungkin bisa membicarakan ini secara bebas kan?”

~~~~~

Yoon Doojoon story..

Kemarin..

“Hyunyoungie.. buka pintunya. Jebal, aku mau bicara.” ucapku meminta dengan frustasi. Kudengar Hyunyoung menangis terisak di dalam kamarnya,  kuketuk pintu kamarnya berkali-kali agar aku bisa menjelaskan semuanya.
“Hhhh….. baiklah, aku akan menjelaskan semua kalau nanti kamu membuka pintu.” Ucapku dengan mata berkaca-kaca. Aku frustasi karena baru pertama kali kulihat Hyunyoung sedih dan menangis karena sikapku.
“Hyunyoungie~~!!!” aku tidak bisa menahan emosi dan kesedihanku, sehingga aku tak sengaja berteriak. “Jebal, jangan lakukan hal seperti ini. Tolong buka pintunya.”
Tubuhku lemas sekali menunggu Hyunyoung yang tak kunjung membuka pintu, aku memutuskan untuk duduk di sebelah pintu kamarnya. Mungkin sampai besok pagi, sampai ia mau mendengarkan dan memaafkanku.
Beberapa menit kemudian, sebuah kertas kecil melayang dari bawah pintu kamar Hyunyoung. Kuambil dan kubaca isinya.

Mian… untuk saat ini aku tidak ingin bicara dengan oppa. Tidurlah dan jangan pikirkan apapun untuk membuatku mendengarkan alasanmu, karena aku tidak akan mau mendengarnya…

…..

Keesokan paginya..

Kulihat Hyunyoung sedang memasak sesuatu di dapur. Aku sudah memasakkan makanan kesukaannya, tapi ia tak menyentuhnya. Mungkin ia masih marah padaku.
Saat ia sudah selesai memasak dan hendak pergi ke ruang makan, aku menghalaunya. Terlihat jelas di matanya kalau ia masih kesal.
“Yak…. Aku sudah masak untukmu, kenapa malah masak sendiri?” tanyaku. Ia tak menjawabnya, lalu memaksa keluar dan duduk di ruang TV.  Saat ia sedang makan, aku mulai bicara tentang semua yang terjadi kemarin malam, “Kure…. Kemarin malam itu, murni ketidak sengajaanku. Aku tidak menyangka kalau ahjumma itu bukan hanya mengajakku makan malam, yah… kami berbincang sebentar… lalu menonton TV bersama, lalu tiba-tiba ia memelukku… lalu menciumku, dan… dia mengajakku ke kamarnya, dan…..”
Tiba-tiba Hyunyoung membanting piring plastik yang ia gunakan. Reaksinya membuatku terkejut luar biasa, namun tak ada yang bisa kulakukan selain menatapinya yang menunduk dan pundaknya gemetar. Aku tahu ia marah, tapi aku tidak tahu kalau ia akan memperlakukanku seperti ini. Dan ini membuatku frustasi.
“Oppa sudah baca kan catatanku kemarin malam?” tangannya mengepal. “Aku tidak minta alasan oppa dan tidak mau mendengarnya. Aku berangkat.”
Ia bangkit mengambil tas dengan wajah menunduk, lalu menutup pintu depan. Kulihat piring bekas makannya yang masih tersisa banyak sekali, mungkin ia hanya makan 4 atau 5 suap saja.
Aku membereskannya sambil menghela napas berat. Apa yang kau lakukan Doojoon? Sampai-sampai kau membuat dongsaengmu seperti ini. Ah… mianhanda Hyunyoung.

~~~~~

Shin Hyunyoung story…

Aku tidak percaya… begitu cepat oppa melupakan unnie, sehingga ia melakukan hal itu..
Aku tahu hidup harus terus berjalan, tapi aku tidak cukup siap untuk saat ini…
Sangat menyedihkan, apalagi saat kulihat oppa menggenggam uang dari wanita itu…
Benar-benar belum bisa kuterima keadaan oppa yang sekarang…

“Doojoon oppa jadi gigolo? Kenapa kamu bilang seperti itu?” tanya Sunghyo yang tadi ke midimarket bersama Junhyung oppa. Aku merasa aneh, mereka selalu ada disaat aku sedang sedih tapi tidak sebaliknya. Seharusnya aku bersyukur, tapi semua ini terasa ganjil.
“Beliau menerima uang yang diberikan ahjumma tetangga sebelah di depan pintu rumah beliau.” Aku menjelaskannya dengan hati berat dan mata yang yang bengkak sehabis menangis. “Ahjumma itu hanya memakai pakaian dalam, dan baju oppa berantakan. Sungguh aku tidak terima.”
Sunghyo mengelus pundakku seraya berkata. “Baiklah, kalau mau kau bisa menginap di rumahku untuk menenangkan pikiran. Oh, Junhyung oppa sudah datang. Yak katanya tadi kau ingin bertemu Hyunyoung, kenapa kau meninggalkannya??”
“Aku pulang kerumahnya dan membawakan beberapa pakaian. Aku sudah izin pada hyung supaya tidak membuatnya khawatir.” Ujar Junhyung oppa yang menaruh tas besar penuh baju di dekatku, dan tiba-tiba menarik tanganku untuk mengikutinya.
“Kaja… ikut aku sebentar.”

…..

Junhyung oppa membawaku ke danau dekat rumahnya. Pemandangannya pucat karena hawa dingin yang berhembus disekitar lokasi, tapi aku menyukainya.
“Apa…. Kau tidak akan memaafkannya?” tanya Junhyung oppa memulai pembicaraan. Aku memandangi mata kecilnya yang menyipit dan bibirnya yang terlihat manyun.
“Molla… mungkin tidak sekarang.” Jawabku singkat. “Aku tidak suka…. Kalau ia melakukannya hanya karena upah, bayaran, atau uang.”
Junhyung oppa menatapiku dengan pandangan memicingnya, “Hajiman…. Sebenarnya kau marah karena masalah hati kan? Kau takut kan dia melupakan perasaannya terhadap Hyunri-sshi?”
Aku tertegun mendengar ucapan oppa barusan. Darimana ia tahu kalau aku memikirkan hal itu? Tapi yang bisa kulakukan hanya mengangguk pelan sambil memandang lurus ke arah danau.
“Hyunyoung-sshi…. Doojoon memang tidak sengaja melakukannya, ia akan melakukan hal itu kalau situasi memang sedang terhambat. Misalnya masalah keuangan.” Junhyung oppa merapatkan jarak berdirinya mendekatiku dan bicara lagi. “Tapi dihatinya hanya ada Hyunri-sshi dan kamu karena dia sudah menganggapmu dongsaeng kandungnya. Ia tinggal sendirian disini dan ia diusir dari apartemennya. Ia tidak mungkin tidak peduli padamu, buktinya ia sengaja tinggal dirumahmu supaya kamu tidak kesepian lagi.”
“Aku tahu pekerjaan itu memang kotor, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan kalau pantai sedang libur. Ia tidak ingin berdiam diri saja sementara kamu bekerja, dia juga ingin melakukan sesuatu untukmu. Dia ingin bertanggung jawab tentangmu.”
Airmataku terjatuh, benar-benar rumit perasaanku saat ini, “Apa aku egois karena tidak mau mendengarkannya saat ini? Sungguh, aku tidak ingin mendengar alasan oppa karena aku tidak sanggup.”
“Kenapa tidak sanggup?” tanya Junhyung oppa lagi.
Aku terdiam lagi memandangi danau dengan air yang tenang meskipun angin menghembus begitu parah. “Mollaeyo…. Aku, hanya belum bisa terima saja.” Jawabku. “Oppa bilang dia tidak mencari pekerjaan di musim dingin karena dia banyak acara dengan teman-temannya, tapi ternyata dia tidur dengan banyak ahjumma. Menurutku ia mengkhianatiku, membohongiku”
“Yak, jangan bilang begitu… ia tidak melakukannya sesering yang kau pikir.  Setahuku ia baru menghabiskan waktu dengan 3 ahjumma, jadi bukan masalah besar kan?” ujar oppa. “Kalau perlu kau nasehati saja dia. Ah.. tak usah, mungkin dia akan segera mencari pekerjaan baru atau berhenti melakukannya karena aksi mogok bicaramu ini, Hehehehe.”
Tawa Junhyung oppa menulariku sehingga aku terkikik tanpa sengaja. Hari ini Junhyung oppa benar-benar seperti malaikat buatku, ia mendengarkan cerita dan menasehatiku untuk melakukan yang sebaiknya kulakukan.
“Jeongmal gomawo oppa… mungkin aku akan pulang tapi tidak sekarang, aku masih marah dengannya.” Jawabku bersemangat. “Mungkin aku kembali saat musim semi, tolong jaga beliau ya.”
“Musim semi? Itu kan lama sekali.” Ucap oppa terkejut… “Hajiman… gwechana, kamu bisa pulang kapan saja kok. Pasti hyung akan selalu menerimamu.”
“Em, benarka…..” Ucapanku terhenti saat kurasakan tangan Junhyung oppa memeluk pundakku dari belakang. Ia memutar tubuh dan memperhatikan wajahku.
“Sudah kuduga…. Kantung matamu membengkak dan hitam. Kamu terlalu banyak menangis hari ini, berhentilah jadi yeoja yang cengeng.”
“Aniiyo… aku tidak cengeng, hanya kali ini aku merasa terpukul,” Aku memeletkan lidah kepada oppa, ia tersenyum sambil memencet mencet kantung mataku yang menebal. Dan…. sesuatu yang dingin menyentuh hidungku…
“Owaaaah, salju…” jawab Junhyung oppa sambil menghapus serpihan di hidungku dengan pandangan terpukau. “ppali ppali, pakai syalku saja sini. Nanti kau  bisa kena flu.”
Junhyung oppa melingkarkan syal tebalnya di leher hingga hidungku, sehingga jarak kami jadi lebih dekat dari yang awal. Ia tak berhenti menatapiku sehingga aku jadi gugup dan salah tingkah.
“Op.. oppa…” ucapku gugup. “Sebaiknya kita segera pulang ke rumah Sunghyo, daripada kita disini terus nanti kita bisa masuk angin.”
Tapi yang Junhyung oppa lakukan malah memegangi pundakku seraya berkata. “Aku ingin menikmati moment ini sebentar.” Lalu ia menarikku ke dalam pelukannya dan memegangi puncak kepalaku lembut. Pelukannya begitu hangat dan terasa berbeda dengan pelukan yang pernah kurasakan sebelumnya, perasaan apa ini?
“Hhhhh Hyunyoungie… kau selalu membuatku sakit kepala setiap kau sedih.” Ujar Junhyung oppa. “Kau tahu kan semua orang yang ada di sekitarmu itu sangat menyayangimu? Makanya jangan terlalu banyak bersedih.”
Aku tak menjawab, tanganku perlahan merangkul pinggangnya; membalas pelukannya..