Memories 3

Author                                                  : Dewii Aprilya

Cast                                                       :

  • Marcus – Cho Kyuhyun
  • Andrew – Choi Siwon
  • Bryan – Kim Kibum
  • Angelina Kim

 

—————————————————————————————————————————-

South Korea, 2012….

Suasana bandara Incheon sangat padat, selain karena para penumpang dan turis yang berlalu-lalang, juga karena beberapa pengawal kerajaan sedang sangat sibuk mengawal Puter Mahkota Andrew yang datang untuk menjemput sang Adik. Hari ini Pangeran Marcus akan kembali ke Seoul setelah hampir 3 tahun kabur dari istana. Masyarakat juga tidak kalah antusiasnya menyambut Pangeran mereka, sebagian besar diantara mereka yang datang adalah remaja puteri yang mengidolakan trio anak raja tampan itu.

Putera mahkota Andrew, seorang namja tampan berusian 26 tahun yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan, Lulusan Harvard University jurusan Politik Internasional, terkenal dengan kebijaksanaan dan sangat menyayangi kedua adiknya. Yang kedua adalah Pangeran Bryan, berusia 25 tahun, menjadi lulusan terbaik Columbia Universty dan terkenal dengan kepintarannya, menguasai berbagai bahasa dan terkenal dengan sifat pendiamnya, sangat dekat dengan Pangeran Marcus. Pangeran ketiga adalah Marcus, lelaki pemberontak dan selalu lari dari istana, lulusan Sorbonne University dan selalu membuat masalah dalam istana, rakyat sangat menyayanginya karena dia pernah mengalami beberapa insiden yang hampir merenggut nyawanya.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya yang ditunggupun tiba. Marcus berjalan beriringan dengan Pangeran Bryan yang tampak gagah dengan kacamata hitamnya. Dibelakangnya Dennis tidak kalah tampan dengan kedua pangeran tersebut, dengan kemeja putih dan terlihat sibuk berbicara dengan seseorang di telepon.

“Hyung..”

“Hmm..” jawab Bryan.

“ kau lihat wajah para gadis itu, mereka menatapku dengan tatapan memuja. Oh Tuhan, kenapa kau melahirkanku dengan begitu sempurna… Kaya, pintar, tampan, jago bermusik, dan yang paling utama… Aku seorang Pangeran.” Kata Marcus dengan bangga seraya membusungkan dadanya. Dennis langsung terkikik geli mendengar penuturan pangerannya, sementara didepannya Bryan langsung menghentikan langkahnya, Dennis hampir saja menabrak punggung Bryan seandainya saja dia tidak gesit mengerem langkah kaki panjangnya. Bryan mendelik dan langsung menatap tajam Marcus yang masih sibuk memperbaiki pakaiannya, Dia langsung menoleh kearah marcus dan menarik turun topi rajutan yang dipakai Marc.

“Yak!! Hyung!!”

“Ya.. Marc, kukira tinggal di luar istana akan mengurangi kenarsisanmu, Aku tidak menyangka kadarnya malah semakin bertambah..” kata Bryan dengan nada datar. Marcus mendengus kesal.

“Hyung…. Jangan menganiayaku disini… kau lihat, mereka menertawaiku sekarang, teganya kau mengacaukan penampilan perfecku ini..” kata Marcus dengan nada dibuat-buat. Lelaki itu dengan senyum licik menyelipkan tangannya di saku coat Bryan dan mengambil dompet Hyungnya. Marcus langsung berlari menghampiri Andrew.

“Marc!!!” teriak Bryan saat menyadari dompetnya menghilang. Meskipun tidak punya bukti, tapi Bryan tahu bahwa pelaku pencopetan itu pasti Marc. Coba pikirkan, siapa yang berani mencopet dompet seorang Pangeran kalau bukan si iblis itu.

Marc  berlari menghampiri Andrew tampa mempedulikan jepretan kamera serta tatapan semua orang, dia sudah biasa diperlakukan seperti itu. “HYUNG!!”. Dia langsung memeluk Andrew dengan senyum lebar, Andrew mendesah pelan dan membalas pelukan erat itu.

“Apa lagi yang kau lakukan sekarang??” Tanya Andrew. Dia tahu pola tingkah laku si Bungsu, jika Marcus sudah memeluknya sedemikian erat maka dia pasti telah melakukan ‘sesuatu’ lagi. Marcus melepas pelukannya kemudian tersenyum aneh, dia mengeluarkan dompet Bryan dan mengibaskannya di depan wajah Andrew.

“Kau lihat di dompet ini?? Sejak di pesawat Bryan selalu memandangi foto di dompet ini.. kita lihat siapa gadis yang bisa menembus sikap dinginnya..” katanya mantap, belum sempat dia membuka benda tersebut Bryan sudah datang kemudian merebut benda itu dari tangannya.

“Dasar kau!! Kau lihat Hyungnim, dia bahkan belum sampai di istana, tapi sudah mulai menampakkan gejala kegilaaannya…” kata Bryan. Andrew tersenyum simpul, dia sungguh merindukan moment kebersamaan dengan kedua adiknya yang sudah lama terenggut.

Marc baru ingin membalas perkataan Bryan tapi Andrew menyelanya. “Jangan kekanak-kanakan. Kalian tidak malu pada masyarakat yang melihat ulah kalian?? Kau lihat diluar sana..” Andrew menunjuk pada ratusan orang yang menunggu di luar air port, pihak keamanan tampaknya sudah kewalahan menghadapi massa yang ingin melihat pangeran-pangeran mereka.

“Mereka menungguku Hyung!!” kata Marc bangga sambil membusungkan dadanya.

“Aniyo.. Mereka menungguku.” Sela Bryan. Adu cekcok itu akhirnya berlanjut dan baru berhenti ketika ketiganya sudah keluar dari Air Port. Baik Andrew, Bryan, maupun Marc memberikan lambaian dan senyuman terbaik mereka pada massa yang menunggu di luar sebelum akhirnya keluar lewat pintu khusus.

-o0o-

“Hyung…” gumam Bryan. Dia melirik Marcus yang tertidur lelap dalam limosin yang mengangkut mereka bertiga. Marc terlihat begitu lelah, dia terlelap di bahu Dennis yang menunjukkan raut wajah khawatir.

“Waeyo..” Tanya Andrew.

“Marc bertemu Angelina di Paris..” katanya pelan. Andrew tersentak, wajahnya tampannya seketika memucat.

“Bagaimana bisa?? Lalu bagaimana dengan Marc?” tanyanya khawatir.

Bryan menatap Dennis seolah meminta pertolongan agar lelaki itu menjelaskan semuanya kepada Hyungnya. Dennis mendesah pelan kemudian menjelaskan detailnya. “Entahlah… Kalau saja Pangeran Bryan tidak datang, mungkin Pangeran Marcus sudah menghampiri gadis malang itu. Yang Mulia, keduanya sangat menderita, apa yang harus kita lakukan..??”

“Aku sudah memikirkannya, Dennis Hyung. Aku  punya rencana jika kemungkinan terburuk terjadi..” gumam Andrew dengan raut wajah serius.

“maksud Hyung??” Tanya Bryan.

“Aku perlu dukungan kalian, ini rencana besar…”

-o0o-

 Marcus berdiri di sebuah padang savanna yang sangat luas, langit berwarna biru dan cahaya matahari terasa hangat di kulitnya. Angin bertiup kencang, menerbangkan rambut cokelat namja berkulit putih itu. Marcus melihat di sekelilingnya dan tidak menemukan siapapun, dia mulai berlari mencari manusia lain yang mungkin bisa membuatnya keluar dari tempat asing ini. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok yeoja yang terbaring lemah diantara rumput dan ilalang yang cukup tinggi. Marcus berjalan mengahmpiri wanita itu, namun tiba-tiba saja seorang lelaki berjas hitam menangkapnya dan mencoba menjauhkannya dari tubuh sang gadis. Marcus berteriak mencoba memberontak, namun kekuatannya tidak cukup kuat untuk melawannya.

“Lepaskan!!” bentak Marc. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia harus memberontak, tapi entah mengapa sesuatu dalam dirinya seolah mendorongnya untuk segera berlari dan memeluk gadis lemah itu.

“Marc… Marc…” rintih gadis itu ditelinganya. Ribuan duri serasa menusuk jantungnya saat mendengar rintihan gadis itu.

Marc semakin memberontak, saat dia berhasil melepaskan dirinya tiba-tiba saja tubuh gadis itu semakin lama semakin tipis hingga akhirnya menghilang. Lelaki yang menahannya juga sudah menghilang dan yang tersisa hanya tubuh tinggi Marc di padang savanna itu.

Deg

Marcus membuka matanya dan mendapati wajah khawatir Andrew, Bryan, dan Dennis. Keringat mengucur di dahinya, Marcus memegang dadanya dan merasakan jantungnya berdetak cepat, entah mengapa mimpinya terasa begitu nyata.

“Marc, gwencanayo.??” Tanya Bryan dengan nada khawatir.

Marcus terdiam, masih mencoba mengingat kembali wajah gadis dalam mimpinya, tapi entah mengapa wajahnya semakin lama semaki blur hingga dia sendiri tidak bisa mengenali wajah sedih itu.

“Yang Mulia..” panggil Dennis khawatir.

“Marcus.. marcus!!”

Marcus masih bergeming, keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhnya. Tampa mempedulikan panggilan ketiga lelaki itu, Marcus menyentuh dada kirinya yang entah mengapa terasa perih jika mengingat betapa mirisnya suara yang didengarnya tadi.

“Marcus!!” teriak Andrew dengan nada khawatir.

“Ne Hyung…” jawab Marcus setelah tersadar dari lamunannya.

“Ada apa??” Tanya Andrew.

Marcus menggeleng. “Aniyo.. gwencana..” jawabnya.

“Jangan berbohong. Katakan yang sebenarnya…” ujar Bryan dengan nada tinggi. Si Bungsu Marcus menghela nafas panjang, dia sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari ketiga namja di depannya itu, tapi untuk kali ini dia ingin menyimpan misteri tentang mimpi itu untuk dirirnya sendiri.

“Sudah kubilang tidak terjadi apapun Hyung. Berhentilah mencercaku dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak bisa menjawabnya” Katanya dengan nada sedingin es. Baik Andrewa maupun Bryan tahu bahwa Marc berada di dalam mood yang tidak baik, dan memaksa seorang Marcus bukanlah ide yang bagus.

-o0o-

Paris, Perancis, 2009…

“MARC!!”

Marcus tersentak dari lamunannya saat mendengar suara melengking seorang gadis. dia menoleh dan mendapati Angel berlari kearahnya dengan kecepatan tinggi hingga gadis itu harus ekstra berusaha saat harus mengerem kaki pendeknya.

“Apa lagi yang kau lakukan??” bentak Marcus.

Angel berusaha mengatur nafasnya yang hampir habis karena berlari. Setelah beberapa saat akhirnya dia mulai berbicara. “Sembunyikan Aku!!”

Kening Marc berkerut menatap gadis di depannya, belum sempat dia menjawabnya Angel sudah bersembunyi di pohon besar di belakangnya, beberapa saat kemudian seorang lelaki tinggi dengan jas hitam datang menghampirinya.

“Excuse me sir… Apakah kau lihat seorang gadis berlari di sekitar sini??” Tanya namja besar itu. Marc mengangguk kemudian menunjukkan arah perpustakaan pada lelaki itu.

“Dia berlari menuju perpustakaan…” katanya berbohong. Namja besar itu menunduk member hormat kemudian berlari menuju arah yang dituju Marcus.

Angel keluar dari tempat persembunyianya setelah merasa dirinya aman dari kejaran lelaki itu. Angelina mengatur napasnya sambil duduk di bangku dekat Marcus.  Marcus menatap gadis itu, lalu dia menawarkan minuman miliknya pada angel. Angel menerimanya dengan senyum lebar da langsung meneguknya.

“Thanks, Marc…” gumamnya. Marcus mengangguk kemudian duduk di dekat Angel.

“Namja yang mengejarmu…. Siapa??” tanyanya pelan.

Angel menerawang ke langit musim gugur yang begitu indah untuknya. “Pengawal pribadiku… Aku kabur lagi” katanya santai. Marcus menoleh kesamping dan menatap wajah lugu gadis di sampinyanya. Angel memejamkan matanya menikmati angin senja musin gugur di wajahnya, betapa dia menikmati setiap detik hidupnya, seolah hari esok tidak ada lagi untuknya.

Marcus terkesima menatap ketenangan di wajah itu, pandangannya menyusuri mata yang terpejam, melewati hidung dan menyusuri wajah bersih itu, dan berakhir di bibir tipis milik Angel. Marcus sadar, dia sudah jatuh ke dalam pesona gadis cantik ini, entah sejak kapan perasaan hangat menjalar di hatinya tipa kali menatap seulas senyum di bibir tipis itu. Bodoh memang, mereka baru beberapa hari minggu saling kenal, namun rasanya setiap peristiwa yang dialaminya bersama gadis itu seolah menjelaskan setiap detail watak dan karakter makhluk indah di sampingnya itu, dan Marus tahu, dia tidak akan pernah bisa lepas dari pesona Angelina.

“Marc…” gumam Angel.

“Hmm..” Marcus berpura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Kenapa kau tidak bertanya padaku, kenapa orang itu mengejarku..??” Tanya Angel.

Marcus memasukkan benda mungil itu ke dalam saku celananya, kemudian duduk menyilangkan kakinya dan menatap langsung wajah Angel. “Apakah itu penting sekarang??”

Angel mengangguk, meskipun sedikit ragu. “Jika kau tahu siapa Aku, Aku ragu kau masih mau berteman denganku…” kata Angel dengan senyum miris.

“Wae?? Apakah kau Penjahat?? Mafia??” Tanya Marcus dengan wajah mengejek.

Angel tersenyum menatap ekspresi lucu itu, kemudian kedua tangannya meyentuh kedua pipi Marc dan mencubitnya gemas. “kau Lucu, Pangeran Marcus!!”

Marcus tersentak kaget dan menatap Angel penuh tanda Tanya, bagaimana gadis itu bisa tahu bahwa dia seorang pangeran??.

“kau tahu darimana??” Tanya Marcus penuh selidik.

“Semua orang tahu kau pangeran Marcus dari South. Bukankah foto keluargamu terpampang jelas di internet… Lagipula, kenakalanmu sering muncul di media elektronik…” kata Angel.

“Jadi kau mau berteman denganku karena aku seorang pangeran, begitu?”

“Aniya… Aku juga punya kenalan seorang pangeran, dan Aku benci gaya sok mereka…” kata Angel sesekali melirik kearah namja di dekatnya. Marcus tersenyum simpul, tidak berniat menanggapi godaan gadis itu. Melihat godaannya tidak mempan, Angel kembali melancarkan aksinya dengan merecoki Marcus dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar diluar batas kenormalan.

Begitulah hubungan yang mereka jalani, tertawa bersama tampa tahu bahwa kenyataan pahit menunggu keduanya. Takdir membuat sekat yang begitu tebal dan tingii untuk mereka hilangkan, tapi apakah itu bisa menghalangi sebuah perasaan hangat yang sudah terlanjur tumbuh subur di hati keduanya?? Waktu yang akan menjawabnya.

Semburat cahaya jingga sudah muncul di langit kota Paris. Marcus menawarkan lengannya pada Angel setelah gadis itu berdiri, Angel tersenyum kemudian menerima uluran tanga Marcdan menyelipkan tangannya di lengan kiri Marcus kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Marcus.

-o0o-

Marcus berjalan menyusuri koridor kampus bersejarah itu didampingi oleh Angelina yang sesekali bernyanyi di sampingnya. Suasana lengang, tampaknya sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumahnya kecuali beberapa orang yang sepertinya mendapat jadwal kuliah malam. Marcus menoleh dan mendapati tatapan kosong di mata gadis di dampingnya, Marcus menelan ludah dengan susah payah, dia benci ketika pandangan mata penuh obsesi dan semangat di mata cokelat milik gadis itu menghilang, dan didagantikan dengan tatapan kosong yang penuh dengan kesedihan.

Suara langkah kaki mereka terdengar jelas di tempat itu, beberapa orang memandang keduanya dengan tatapan menyelidik, tapi entah mengapa Marcus tidak pernha mengambil pusing pemikiran orang lain, bukankah selama ini dia hidup dalam kenaifan dan sikap palsu para bangsawan di negaranya??. Keduanya tiba di tempat parkir luas di halaman kampus, marcus menghampiri mobil Audy merahnya.

“Kau mau kemana.?? Biar aku antar” Tanya Marcus ketika mereka berdua sudah berdiri di depan pintu mobilnya.

Angel tersentak seolah tersadar dari lamunannya, jelas sekali di berusaha menepis bisikan putus asa dari hatinya, Marcus bisa merasakan semuanya, namun tampaknya dia tidak mempunyai terlalu banyak keberanian untuk menanyakannya langsung pada Angelina.

“Kau pulang saja, Aku akan pergi naik Metro…” ujar Angel.

“Aniya… aku akan menemanimu..” Marcus mendorong tubuh Angel masuk ke dalam mobilnya. Saat ini Marcus tidak menerima penolakan, melihat tatapan mata sedih gadis yang terlanjur menempati ruang khusus di hatinya membuatnya bisa melakukan apapun agar Angel bisa kembali tersenyum.

-o0o-

 

Marcus memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung besar. Mereka berdua turun dari mobil dan Angel langsung berlari masuk ke dalam bangunan itu.

RUMAH SAKIT  ANAK PENDERITA KANKER

Marcus menoleh dan mendapati Angel tersenyum menatap bangunan itu, senyum tulus pertama yang diperlihatkannya hari ini. Marcus senang melihatnya gembira seperti itu, Marcus tahu ada yang membuatnya bersedih. Hari ini dia selalu mencoba tersenyum pada Marcus, tapi yang bisa diasakan oleh lelaki itu hanyalah sebuah senyum hambar dengan pandangan mata menusuk yang sarat akan kesedihan, seolah gadis ini sedang berusaha mati-matian menahan air matanya.

“hhmm… Apa yang kita lakukan disini?? Kau punya keluarga yang dirawat disini??” Tanya Marcus pada Angel.

“Lebih dekat dari sekedar keluarga Marc… aku relawan disini, tempat ini adalah rumah keduaku. Kajja, kita masuk…” ujarnya mantap. Angel berjalan mendahului Marcus dan tangannya menggemgam tangan Marcus  seolah menuntunnya masuk. Marcus merasakan aliran listrik mengalir dari sentuhan tangn lembut itu, entah mengapa, Marcus merasa begitu nyaman berada di dekatnya.

Marcus mengikuti langkahnya memasuki bangunan artistik itu. Koridor rumah sakit ini cukup panjang, pemandaangannya asri dan cukup besih, halamannya dirancang sedemikian rupa sehingga tampak seperti taman bermain anak.

Angel masuk ke dalam sebuah bangsal rumah sakit, Marcus mengikutinya dengan sedikit ragu. Ketika Marcus menginjakkan kakinya di lantai ruangan itu, senyum telah terukir dari sudut bibirny, dia melihat Angel sedang bermain dengan seorang anak lelaki kurus, kepalanya botak, dan wajahnya sedikit pucat. Marcus melihat anak-anak lain yang juga berada di ruangan yang sama, mereka semua tampak bahagian bertemu Angelina.

“Marcus, kemarilah…” Angel memanggil namja tampan itu, sekarang dia sedang mengobrol dengan anak perempuan yang terlihat begitu lemah, namun ekspresi senangnya tak bisa disembunyikan olehnya.

Marcus berjalan menghampirinya kemudian berdiri di samping Angel.

“Anna… ini temanku, Marcus…” kata Angel. Marcus tersenyum seraya sedikit menunduk pada anak perempuan itu, dia balas tersenyum pada Marcus.

“Halo Kak Marcus…” katanya. Marcus tersenyum kemudian membelai kepalanya.

“Anak-anak…” Angel mengalihkan perhatian setiap penghuni bangsal ini. “Perkenalkan ini teman Kak Angel, Namanya Marcus….” Katanya penuh semangat. “Marc. Itu anak yang disudut itu Diana, lalu John, kemudian itu Alex…” Setiap anak yang ditunjuk Angel tersenyum hangat padanya, senyum yang entah mengapa terlihat begitu tulus diantara wajah pucat mereka.

Suasana menjadi hangat saat Marc dengan mudahnya bisa berbaur denga snak-anak malang itu, bersama Angel dia terkadang tertawa tatkala anak yang bernama Alex memberikan lelucon kepada keduanya, dan disaat bersamaan, Marcus akan menggaruk kepalanya saat Diana mengatakan bahwa mereka berdua-Angel dan Marc- terlihat seperti sepasang kekasih.

Mereka bergembira bersama, hingga tidak menyadari saat seorang lelaki muda dibalut jas putih panjang memasuki ruangan. Lelaki tinggi itu tampak kaget saat bertemu Marc, namun dengan sigap langsung bisa menguasai suasana. “Hai Angel..” sapa namja itu.

Angel berbalik kemudian tersenyum melihat lelaki itu. “Hai Dokter…” sapa Angel. Marc tersenyum kikuk, Angel terlihat sangat akrab dengan dokter itu, jujur terbersit rasa tidak rela di hatinya menyadari fakta bahwa Angel punya teman seorang dokter dan setampan lelaki itu.

“Dokter.. Ini Marc…  Marc, ini Dokter Sebastian… Dia yang merawat anak-anak ini…” kata Angel memperkenalkan lelaki itu. Marcus tersenyum kemudian mereka berdua berjabat tangan dalam suasana yang sedikit canggung.

“Baiklah Angel, aku keluar dulu…. Aku kesini untuk mengecek keadaan anak-anak ini,tapi kelihatannya mereka cukup senang… Kalau begitu, aku keluar dulu..”kata DOkter Sebastian. Angel mengguk kemudian menghampiri John yang meminta bantuannya. Marcus tahu, Dokter bernama Sebastian itu menaruh perhatian lebih pada Angel, tatapan matanya pada Angel sudah cukup meyakinka dugaannya. Dan entah mengapa Marcus tidak menyukai kenyataan itu.

Dokter Sebastian keluar dari bangsal Rumah Sakit tampa berkata apapun, kekesalan yang dirasakan Marc langsung menguap, fakta bahwa Angel kelihatannya tidak terlalu menaruh perhatian lebih pada Dokter muda itu membuat hatinya sedikit lega.

“Kak Marcus….” Anna memanggilnya. Marcus langsung berjalan menghampiri gadis kecil itu. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah gitar yang berada di salah satu tempat tidur kosong. Marcus langsung mengambilnya kemudian duduk di kursi dekat Anna.

“Anna cantik… Kau mau aku bernyanyi??” Tanya Marcus. Anna mengangguk lemah, namun ekspresi antusias tergambar jelas diwajahnya.

“Ehem,ehem..” Marcus mengecek suaranya. Lalu tangannya mulai memetik senar gitar itu, nada nada riang langsung terdengar memenuhi bangsal Rumah Sakit. Angel dan anak-anak lain menghentikan kegiatan mereka kemudian perhatiannya beralih pada sumber melodi indah itu.

You know I Can’t smile without you
I cant’t smile without you
I can’t laugh and can’t sing
I’m finding it hard to do anything

                You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew what i’m going through
I just can’t smile without

You came along just lie a song
And brightened my day
Who’da believed that you were the part of a dream?
Now it all seems light years away

                And now you know I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything

You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
if you only knew what I’am going through
I just can’t smile without you

 

                                                                                Barry Manilow-Can’t Smile Without You

Tepuk tangan riuh langsung membahana di dalam ruangan itu, entah darimana datangnya para perawat yang sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh kekaguman, semua orang yang mendengarnya berdecak kagum mendengar nyanyian merdu Marcus. Marcus tampak malu-malu seraya menggaruk kepalanya yang samasekali tidak gatal. Anna dan anak-anak lain yang berada di ruangan itu terlihat begitu senang mendengarkan nyanyian Marcus.

“Waow…!! Aku tidak tahu kau hebat dalam bernyanyi Marc..” ujar Angel di depannya dengan wajah penuh kekaguman. Oh Tuhan, seandainya saja marc tahu bahwa dia bisa melihat senyum hangat di bibir mungil itu Angel jika mendengarnya bernyanyi, mungkin Marc akan dengan senang hati bernyanyi setiap saat.

“Kak Marcus… ayo bernyanyi lagi…!!” pinta seorang gadis kecil di sudut kamar. Diana terlihat begitu antusias mendegarkan suara Marcus. Marcus  melirik kearah Angel yang mengangguk mantap, memintaya mengabulkan permintaan anak-anak itu. suasana menjadi hangat dan nyaman bagi siapapun yang ada di ruangan beraroma obat itu, bukan hanya karena nyanyian merdu Marc, tetapi juga gelak tawa karena beberapa diatara mereka-terutama John dan Alex- berjoget dengan gaya yag aneh.

-o0o-

Angel dan Marcus berjalan menyusuri koridor dengan langkah pelan, keheningan meliputi keduanya yang sibuk dengan pikiran masing-masing dan berusaha untuk meredam gejolak aneh di dada keduanya. Marcus menatap Angel, dia mendesah pelan saat matanya menangkap tatapan menyedihkan itu lagi, matanya seolah menggambarkan kehidupan yang begitu menderita.

Marcus mengajak Angel duduk di dalah satu bangku di bawah pohon beech yang daunnya sudah mulai berguguran, angin malam entah mengapa tidak membuat mereka berdua merasakan kedinginan.

“Angelina…”

“iya….” Ujar Angel tampa menoleh pada Marcus.

“Kenapa…. Kau menyembunyikan air matamu di senyummu yang aneh itu?? wajahmu benar-benar menyedihkan…” kata marc pelan, matanya berpusat pada sepatu yang dikenakannya dan tidak berani menatap wajah gadis di sampingnya, meskipun telinganya bisa mendengar nada kaget dari Angel.

Angel mendesah berat, menoleh ke sampingnya dan mendapati Marc menatapnya tajam. “Karena memang aku tidak pernah merasa benar-benar bahagia… kecuali ketika bersamamu dan anak-anak, rasanya menyedihkan ketika aku merasa waktu berlalu begitu cepat ketika aku bersamamu, dan aku benci ketika aku harus menyadari satu hal, aku tidak pernah bisa berada di sampingmu untuk waktu yang lama….”

Marcus mengernyitka keningnya, tidak pernah menduga akan mendapat jawaban kontras seperti itu. “Kalau begitu, jangan pergi dariku…. Tetaplah disini dan aku akan mendekapmu untuk waktu yang lama jika kau memang menginginkannya..” Marc menyandarkan kepala Angel di bahunya, mencoba membagi sedikit kehangatan yang dirasakannya.

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti keduanya, hingga Angel kembali memulaipembicaraan. “Marc… Kau dan aku…. Tidak akan pernah bisa disatukan, bagaikan langit dan bumi…..” lirihnya, Angel menyadari bahwa dia sudah terjatuh begitu dalam dalam pesona lelaki ini, dia tahu, bahwa dia sudah menempatkan Marc dalam ruang khusus di hatinya, tapi kenyataaan bahwa dia adalah Seorang Puteri yang terasing membuatnya merasa seakan ribuan duri sudah bersarang di dalam jantungnya.

“Apa karena aku seorang Pangeran??” Tanya Marc

Angel menggelengkan kepalanya pelan. “Lebih dari itu Marc, karena aku….” Angel memberikan jeda, “Karena aku seorang Puteri dari…… North”

Marcus membelalakkan matanya kaget. “Mwo?? Puteri dari North?? Tapi Raja Kim hanya punya satu anak, dan dia adalah Puter Mahkota Danny…”kata Marcus dengan nada bergetar.

Angel tersenyum miris, tatapannya beralih pada pot bungan yang ada di dekat koridor rumah sakit. “itu menurut perkiraanmu kan?? Dan memang sebagian besar orang hanya tahu tentang Danny… Kau pikir kenapa aku menetap di Paris bersama dengan pengasuhku?? Jauh dari tanah kelahirnaku….” Angel menarik nafas panjang, sebelum melanjutkan perkataannya. “Itu karena keberadaanku tidak dikehendaki…”

Marcus menatap Angel seolah meminta lebih banyak penjelasan lagi, tampaknya gadis itu mengerti dan mulai melanjutkan ceritanya. “Seandainya aku terlahir sebagai seorang Namja, mungkin aku tidak perlu mengalami masa sulit ini… Ayahku punya penyakit serius dengan jantungnya, bisa meninggal kapan saja dan Danny masih berusian 10 tahu, terlalu muda untuk menjadi seorang Raja… dan kau tahu, North tidak pernah menginginkan seorang Raja perempuan, karena itu Ayah dan Ibuku dengan persetujuan Perdana Menteri, menyembunyikanku di Paris 6 tahun lalu… Agar aku tidak menjadi bagian dari permainan politik yang licik. Kau tahu Marc, bagaimana rasanya hidup jika kau tahu, bahwa kedua orang tuamu tidak menginginkan keberadaanmu?? Rasanya sakit sekali, setiap saat kau akan menangis jika terlintas di benakmu sesuatu tentang keluarga….” Air mata sudah mengalir dari mata cokelat itu.

Marcus diam, pikirannya sesak oleh kenyataan yang menimpanya. Dia bingung, bagaiamana mungkin ada orang tua yang memperlakuka puterinya seperti itu Hanya karena kekuasaan… Marcus menoleh dan hatinya pedih saat melihat air mata Angel, tangannya reflex menghapus cairan menyakitkan itu.

“uljima…. Terlambat untuk itu Angel, karena aku sudah terlanjur menempatkanmu di dalam hatiku… dan aku tidak berniat menghapus perasaan itu, aku menyayangimu…” Marcus mendekap gadis itu dalam pelukannya, memeluknya seerat mungkin, dan tidak akan membiarkan apapun memisahkan mereka berdua. Ini menyakitkan jika mengingat rintangan yang berada di depan mereka berdua, tapi semaunya sudah terlambat, jiwa kedua anak manusia itu sudah tertaut begitu eratnya.

“Marc…”

“Dengarkan aku, Angelina Kim. Aku bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukan aku denganmu, kau dengar… aku tidak akan melepaskanmu…”

“Saranghae…” bisik Angel disela-sela isakannya.

-o0o-

North Korea, Sekarang…

Dokter Song duduk berdiri dengan gusar didepan sang Ratu. Wanita bersahaja itu kehilangan kendalinya karena kondisi puterinya yang tidak jelas. Sudah lebih  dari 2 minggu Angel ‘tertidur’, Dokter Song sendiri bingung dengan keadaan Puteri Angelina, karena setahunya tidak ada yang salah dengan organ tubuh gadis itu, tapi kenapa gadis itu belum juga siuman.

“Dokter Song!! Ini sudah  2 minggu, kenapa Angel belum sadar juga…!!” bentak sang Ratu geram. Tangan lelaki tua itu gemetar, dia tidak pernah melihat wanita yang dikenal lemah lembut itu begitu murka.

“Ampuni saya Yang Mulia, tapi saya juga tidak tahu. Ini diluar dugaan saya, kami sudah memeriksa semua organnya, tapi tidak ada yang salah dengan tubuh Tuan Puteri… Ini mungki ada hubungannya dengan kondisi kejiwaan  Puteri Angelina…” jelas Dokter Song pelan.

Ratu membelalakkan matanya menahan amarah saat mendengar penuturannya. BRAK!! Wanita itu berdiri  dengan tangan memukul meja kayu di depannya. “Lancang Kau!! Jadi maksudmu puteriku gila?? Begitu?? Lalu keasalahan siapa dia jadi begini??”

“Sekali lagi ampuni saya yang Mulia Ratu, tapi bukan itu maksud saya… Sejauh ini, menurut perkiraan saya Tuan Puteri mengalami trauma berat, kelihatannya dia tidak bisa menerima aliran kenangan yang masuk ke kepalanya. Sampai saat ini Dia tidak bangun dari tidurnya kemungkinan karena alam bawa sadarnya tidak ingin hidup lagi…” katanya dengan suara berat. Penjelasan Dokter Song seakan menjadi duri dalam hati Ratu, dia jatuh terduduk dan menatap kosong wajah seorang gadis yang terlelap di depannya.

“Apakah sebegitu besar penderitaan puteriku, Dokter??”katanya dengan nada miris. Ratu Kim merasa gagal menjadi seorang ibu, dadanya sesak jika membayangkan bagaimana hidup yang harus dijalani oleh puterinya.

Dokter Song hanya diam, membiarkan Ratu Negara North itu larut dalam pikirannya.

“Ini sadalah kesalahanku Dokter… Sejak kecil Angelina selalu diperlakukan tidak adil.. hanya karena dia lebih tua 10 tahun dari Puter Mahkota Danny…”

-o0o-

Malam semakin larut, bulan telah membulat sempurna menerangi bumi yang seolah telah larut dalam mimpi buruk malam itu. Suasana kamar Puteri Angelina hening, tidak ada satupun orang yang menemani sang Puteri, terlalu sibuk dengan acara perayaa ulang tahun Putera Mahkota Danny Kim yang ke 13.

Di kamar yang luas itu, sesosok tubuh kurus meringkuk di sudut kamar memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Tidak ada yang tahu, bahwa sejak seminggu yang lalu gadis malang itu telah sadar dari ‘tidurnya’, kenangan tentang lelaki itu berputar di kepalanya seperti rol film. Dia telah sadar, Angelina Kim telah mengingat setiap memorinya yang hilang, termasuk peristiwa saat kepalany di bedah.

Angel mengingat semuanya!! Kenangan tentang lelaki itu telah kembali, kenangan yang telah lama dicuri darinya. Hatinya hancur, sekejam itukah kedua orang tuanya, hingga dengan teganya menghilangkan sekelabat memori yang paling indah dalam hidupnya. Kenangan tentang lelaki itu begitu penting untuknya, setiap detik kebersamaannya denga Marcus rela ditukarnya dengan puluhan tahun usianya.

“Marc…. Boghosippeo..” lirihnya, isakan tangis kembali keluar dari bibir mungil gadis itu. suaranya parau, rasaya matanya sudah perih karena terus-terusan menangis menyesali bagaimana takdir mempermainkan hidupnya.

Tidak ada yang bisa dilakukan Angel, kerinduan di dadanya menuntutu untuk segera terpuaskan walaupun hanya sekedar melihat wajah lelaki yang begitu dicintainya, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Semua kejadian ini rasanya menyudutkannya, fakta bahwa Ayahnya dengan kejam mencuci otaknya, pertunangan denga anak Perdana Menteri yang sudah tersiar di seluruh negeri, dan yang paling menyakitkan-kenyataaan bahwa mungkin Marcus tidak mengingat secuilpun kenangan tentangnya.

Angel kembali terisak, kali ini tidak menimbulkan suara papaun, tapi tubuhnya sudah gemetar menahan perih di hatinya, semua organ tubuhnya rasanya lumpuh total, terlalu sakit jika harus menahan air mata yang sudah begitu banyak ditumpahkannya selama ini.

“Marcus…. Marc… Tolong aku..” kali ini rintihan pedih itu kembali terdengar di ruangan gelap itu, suara yang bisa meremukkan hati siapapun….

 

Pada saat itu juga, beribu kilometer jauhnya, di sebuah kamar mewah di kota Seoul yang penuh dengan gemerlap lampu yang seoalh tidak pernah padam… seorang lelaki muda terbangun dari tidurnya yang lelap dengan keringat yang sukses meluncur di dahinya disertai sebuah rasa perih di dadanya, mimpi tentang gadis asing kembali mengusik malam-malamnya di kota ini, tapi kali ini mimpi ituterasa nyata dan lebih menyakitkan hatinya.

—————————————————-TBC——————————————————-

 

Bagaimana Readers?? Saya merasa ini sudah sedikit lebih panjang….
Gomawo udah mau baca, and komentarnya benar-benar amatt saaangat ditunggu…..!!

Kamsahmnida#Bow