already published: http://wp.me/p2ozZl-3C

Cast:  IU / Ji Eun, Thunder’s MBLAQ/ Park Cheondoong, Sandara Park, a girl, Wooyoung’s 2PM  (just mentioned)

Rating: G

Genre: Romance (maybe?)

1745 words

 

 

-That woman-

“Biar ku tebak, kau sedang jatuh cinta ‘kan, dongsaeng~a?”

“Hah? Apa? Ah… tidak, tidak noona~”

“Aku tidak perlu menjadi cenayang hanya untuk mengetahuinya, sayang”  Kakakku ini masih menggodaku meski tangannya masih sibuk dengan spatula, sesekali ia menatapku dengan tatapan jahilnya. “Semua tertulis di dahimu yang lebar itu. Kau itu buku terbuka, setidakknya untuk kakakmu yang cantik ini” Ujarnya sambil meletakkan dua jarinya di dagu, mungkin maskudnya untuk berpose, tapi itu malah membuatku mual.

Well, kakaku memang cantik, tapi tidak usah berpose seperti itu juga.

“Astaga noona, sadar umur!”

Dia menghentikan aktifitas tangannya di spatulanya, dan aku baru tahu kalo aku baru saja cari mati.

Dan aku mengambil langkah seribu sebelum spatula cantik itu mencium kepalaku.

“YAK! PARK CHEONDOONG! Tidak ada makan malam untukmu hari ini! Kau dengar!”

Sekarang malah perutku yang jadi korban. Ck, nasib.

****

                Seperti pria tolol yang ada di drama-drama, aku hanya melihatnya di sudut kelas. Memang masih ada yeoja yang lebih cantik darinya, tapi entah karena apa, dia berhasil menarik perhatianku. Ada sesuatu yang berbeda. Bahkan otak jeniusku pun tidak cukup pintar untuk mendeskripsikannya.

Dia … ehm, cukup imut. Itu saja.

Tapi ada satu hal lagi yang membuatku tertarik padanya. Entah ini cuma analisis abalku atau bagaimana, tapi dia terlihat misterius. Setahuku, dia jarang bicara. Aku tidak pernah melihatnya bergosip dengan teman sekelasnya mesikpun faktanya yeoja di kelas kami adalah sumber gossip ter-up date. Dia hanya duduk diam diantara mereka yang bergosip, hanya menjadi pendengar dengan buku novel fantasi yang selalu ada di tangannya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara untuk mendekatinya?

Kenapa aku jadi bodoh begini?

****

-It’s hurt here-

“Hei, kau menyukai Wooyoung ‘kan?”

Ck, orang yang mengaku sebagai temanku ini berdiri di depanku dengan rambut ikal barunya. Sebenarnya aku ragu apa dia masih temanku atau bukan setelah tingkah kurang ajarnya yang keterlaluan.

“Bagaimana ya … aku baru saja berpacaran dengannya”

Jelas, dia bukan temanku.

“Kau itu autis atau apa sih? Aku berbicara padamu tau!”

Kuletakkan novelku, lalu menatap matanya. Sungguh, aku ingin sekali menghabiskan sedikit energiku untuk memberi sebuah memar pada hidung palsunya. Tapi aku terlalu malas melakukannya.

Energiku jauh lebih berharga daripada seonggok daging dihadapanku ini.

Aku menghela nafas dalam-dalam, berusaha mengontrol emosiku. “Lalu kau mau aku seperti apa? Memberimu selamat? Selamat, cepatlah menikah, agar aku tidak usah melihat wajah palsumu lagi di kelas ini. Boneka plastik”

Aku meninggalkannya. Sekilas aku melihat wajahnya merah menahan marah.

Bukannya yang harus marah disini adalah aku? Gadis tolol.

Aku merasakan telapak tangan di bahuku, “Tunggu!”

Dengan malas, aku berbalik. “Apa?”

“Kemarin aku baru saja bermalam dengannya. Kau tahu? Dia cukup… hebat. “ Ujarnya sambil menyeringai setan. Apa maksudnya? Pamer? Satu kali lagi. Tolol.

“Cih, bitch

`               “MWO? Beraninya kau! YAK! Lee Ji Eun!”

Dia melayangkan tangannya, hampir menamparku. Tapi aku duluan yang menendang tulang keringnya.

“Rasakan”

 

Apakah mawar lebih layak hidup daripada rumput? Apa memang takdirnya untuk terus diinjak? Apakah itu yang dinamakan adil, Tuhan?

 

****

-Don’t try to fix me, I’m not broken-

 

Setidaknya atap sekolah jauh lebih tenang daripada kelas. Bolos itu asyik, kau tahu?

Sepulang dari kantin, aku melihat gadis itu –Ji Eun- keluar kelas, dan seorang gadis lain menggebrakkan meja karena amarahnya. Para gadis lain langsung mengererumuninya. Teman sebangku-ku bilang bahwa tadi gadis itu baru bertengkar dengan Ji Eun. Wow,  aku bahkan belum pernah melihatnya marah. Emosinya datar sekali.

Aku melihat Ji Eun sedang duduk memeluk kedua lututnya sambil mengadah ke langit. Ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum. Perlahan ia memejamkan matanya, lalu menyanyi sebuah lagu, yang aku hafal benar liriknya.

Don’t try to fix me, I’m not broken, hello~

Mungkin ia sadar aku melihatnya, dia melihatku dan berhenti bernyanyi.

Astaga! Dia melihatku!

Dia menatapku aneh, bingung.

“Er… hai” Ujarku ragu. Aku bergerak mendekatinya, dan akhirnya aku duduk dua keramik disebelahnya.

“Eh? Hai” Balasnya masih bingung.

“Bolos juga?” Tanyaku. Masih dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku tidak terbiasa melihatnya dari jarak sedekat ini. Dia sangat cantik ….

“Yap, bolos lebih baik daripada aku diam di kelas dan membuat hidung palsunya bengkak” Jawabnya sambil tersenyum.

Ralat, bukan sangat cantik,  tapi senyumnya membuat dia sangat sangat sangat cantik. Tuhan dalam mood yang sangat baik saat menciptakannya.

“Kalau menghajarnya membuatmu merasa lebih baik, kenapa tidak?” Dukungku secara implisit. Meskipun aku tidak tahu permasalahannya apa, tapi aku tahu ia tidak salah. Gadis yang tadi bertengkar dengannya memang terkenal arogan.

Ji Eun tersenyum lagi, tidak menyahut perkataanku tadi. Untuk beberapa detik kami berdua diam, ada kecanggungan yang menengahi kami.

“Lihat, langitnya sedang cerah.” Gumamku, sedikit basa-basi busuk, berusaha mengenyahkan kecanggungan ini. Lagipula, ada perasaan tidak enak saat senyumnya mulai pudar. Dia mengadah lagi keatas, mengedipkan kedua matanya, lalu tersenyum.

Aku tidak tahu bahwa dia sering tersenyum. Aku merasa dia  yang diatap sekolah berbeda dengan dia yang di dalam kelas. Disini auranya lebih hangat, kalau di kelas, auranya selalu dingin.

Pelahan aku mendekatinya lagi, dan sekarang hanya satu petak keramik yag memisahkan kami.

“Langit itu seperti gambaran kebahagiaan, lihat birunya.” Gumamnya dengan tatapan masih menerawang ke langit. “Dia terlihat bahagia meski manusia dibawahnya tidak mendapatkan akhir yang bahagia” Mata kelincinya menatapku. Aku belum terbiasa melihatnya dari jarak sedekat ini. Aku … gugup, dan jujur saja, aku  sedang menahan diri untuk tidak memeluknya.  “Kau harus hidup di dunia dongeng jika kau menginginkanHappy  ever after” lanjutnya.

Satu hal lagi yang aku ketahui tentangnya. Dia tidak percaya akhir yang indah.

****

-Something ‘bout you-

Sejak pertemuan di atap sekolah, kami jadi lebih sering mengobrol. Tak dipungkiri kalo dia cukup menarik. Dia suka music sama denganku. Namun dia lebih ahli dalam menari.

Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku selalu ingin melihatnya setiap hari, berbicara dengannya membuatku nyaman. Dan aku mendadak lupa dengan patah hatiku yang kemarin-kemarin. Bukankah itu bagus?

“Kau mau mampir?” Ujarnya saat sampai di depan rumahnya. Kami searah, jadi kami pulang bersama.

“Apa tidak apa-apa?” Aku ragu. Kami baru akrab beberapa hari, dan aku sudah diajak main ke rumahnya. Aku bukan tipe orang yang senang bersosialisasi, sebenarnya.

“Sudahlah, tak perlu sungkan. Lagipula disana hanya ada noona-ku. Dia pasti sudah memasak makanan enak sekarang! Ayo!”

Dengan ragu aku masuk ke rumahnya, dan dia langsung mengajakku ke pantry.  Disana aku melihat kakaknya yang sedang memasak.

“Eh, Doongie, kau sudah pulang!” Katanya, sambutan cerianya membuatku mau tidak mau tersenyum. “ Eh? Kau temannya? Aigoo~ neomu yeppuda~ ayo duduk sini!”

Aku tersenyum padanya, sambil menggaruk kepala padahal tidak gatal, “Eung … annyeong eonni, Lee Ji Eun imnida” Ujarku sambil menunduk.

“Aku Sandara, Park Sandara. Panggil saja aku Dara eonni, arraseo?”

“Ne, Dara eonni”

“Kau harusnya memanggilnya ahjumma” Sahut Cheondoong sambil memberiku segelas jus jeruk dari kulkas.

“Yak! Cheondong! Kau mau kelaparan siang ini, hah?”

“Hahaha, peace noona!” Ujarnya sambil membuat tanda peace dengan dua jari tangannya.

“Kau tahu tidak, noona-ku ini sudah 29 tahun, tapi teman-temanku masih salah saat pertama melihatnya. Mereka kira noona ini adikku” Dongengnya. Aku mengangguk sambil ber- Oh- ria. Lalu menatap ke arah Dara eonni.

“Aku juga baru tahu eonni 29 tahun, padahal aku kira eonni baru 20 tahun” Ujarku jujur. Sedangkan Dara eonni malah tertawa sambil menyiapkan makannya ke atas piring.

“Aku ‘kan awet muda, tapi cheondoong memiliki muka yang boros,hahaha~ kau tahu ‘kan maksudku?” Ujarnya riang, tapi cheondoong malah berlagak seperti ingin muntah. Aku terkikik melihat tingkah mereka.

“Ji Eun~a, jangan-jangan kau yeoja yang dia sukai ya?” Ujar Dara eonni sambil mengedikkan dagunya pada Cheondoong.

“A … Apa?”

“Beberapa hari yang lalu aku melihatnya melamun, lalu akhir-akhir ini dia jauh lebih ceria dari biasanya. Agak aneh, jadi aku pikir dia sedang jatuh cinta”

Aku melihat ke arah Cheondoong. Wajahnya merah, lalu meminum air es nya one shoot. Dia terlihat gugup. Jangan bilang kalo dia benar-benar menyukaiku?

“Tuh, ‘kan! Dia gugup! Liat saja wajahnya, sudah seperti gurita rebus!” Goda Dara eonni sambil cekikkan. Sedangkan Cheondoong malah makin salah tingkah.

“Kau, menyukaiku?”

****

-The reason is ….-

“Kau menyukaiku?”

DEG! Tepat sasaran. Apa yang harus aku katakan? Astaga ,noona!

“Kau menyukaiku, Cheondoong~a? apa itu benar?”

Aku pergi ke kulkas, membawa box jus jeruk lalu menegaknya tanpa menuangkannya ke gelas lebih dulu. Menghela nafas dalam-dalam, dan hal itu tidak berhasil. Yang ada, jantungku malah berdegup semakin kencang seakan mau lepas dari tempatnya.

“Iya, aku menyukaimu. Kita berteman saja, bagaimana?” Tanyaku. Kalau mau jujur, sebenarnya aku tidak mau kita hanya sekedar teman.

“Kau bukan temanku” Ujarnya datar.

Apa? Apa aku tidak salah dengar?

“Teman itu … status yang ambigu, tidak jelas. Ada teman yang ternyata musuh, ada teman yang menusukmu dari belakang, bahkan ada teman yang berusaha memisahkanmu dari temanmu yang lainnya. “ Ujarnya sambil menegak jus jeruk miliknya. “Kau ini orang baik, dan kau bukan temanku”

“What am I to you?” Tanyaku to the point setelah shock mendengar ucapannya. Jelas sekali kalo dia memiliki teman-teman yang brengsek sebelumnya.

“Hei, aku juga menyukaimu, tapi aku tidak mau menjadikanmu namja chingu-ku. Kau tahu ‘kan, aku benci kata chingu

Aku menyentuh telingaku, memastikan indra pendengaranku masih berfungsi dengan baik. Barusan dia bilang kalo dia menyukaiku juga, apa ini mimpi?

“Kau menyukaiku juga? Benarkah?”

“Yap!” Ujarnya mantap. Aku masih heran, kenapa dia masih setenang ini? Maksudku, biasanya wanita akan ikut-ikutan gugup, atau bersemu merah saat menerima pernyataan dari seorang namja. Tapi ini? Malah aku sendiri yang kelewat gugup.

“Kalo begitu, kau bukan temanku atau yeoja chingu-ku. Kau partnerku seumur hidup, bagaimana?

“Ide bagus!”

Kami tersenyum, dan lama-lama kami tertawa. Menertawakan kekonyolan masing-masing.

“Pernyataan paling konyol” Ujarku mengakuinya.

“Iya, aneh” Katanya setuju. “Eh, ngomong-ngomong, apa alasanmu menyukaiku?”

“Hm? Alasannya sama seperti kau menyukaiku.”

“Tidak ada”

“Ya, kau benar. Tidak ada”

Tidak ada alasan untuk mencintai seseorang, kau hanya  terjatuh didalamnya. Kau tidak bisa menyalahkan siapapun, atau bahkan waktu sekalipun.

                “Pasangan baru ini membuatku iri! Sungguh!” Ujar Dara eonni menengahi. Kami menatapnya dan tertawa. Jujur saja, untuk beberapa saat aku melupakan kehadirannya disini.

“Kau tidak perlu iri noona, bukankah Ji Young hyung akan mengajakmu kencan malam ini?”

“Hah?”

“Ah, iya aku lupa, tadi pagi sebelum berangkat aku bertemu dengannya. Dia bilang ia akan menjemputmu jam tujuh malam” Gumamku tenang.

Dara noona melotot padaku, lalu melihat jam dinding yang menunjukkan waktu jam 5 sore.

“Bukannya dari tadi bilangnya! Dasar bodoh!” Dia mengamuk dan langsung melejit ke kamarnya. Aku berani bertaruh, dia pasti akan mengeluh pakaian mana yang harus ia pakai.

“Aku harus pulang, sudah sore, annyeong!” Partnerku yang baru –Ji Eun- pamitan pulang padaku. Rasanya tidak rela membiarkannya pergi, bahkan hanya pulang ke rumahnya yang jaraknya bahkan tidak sampai satu kilometer dari sini.

“Mau ku antar?” Tawarku.

“Tidak, tidak usah” Tolaknya halus. “Sampai ketemu besok, partner”

Aku tersenyum. Kata ‘partner’ terdengar menyenangkan untukku.

“Yeah, partner, annyeong.”