anyeooong~ finally internship period time ended!! after all, akhirnya bisa posting lagi dan hengkang dari masa hiatus

this is the chapter four for you dearest readers, sorry for make you waiting so long :)) wish you enjoy

The main casts :

Han Hyeorin

Kim Eunmi

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

You make a plan even when you dont have any clue

Author’s

Donghae tidak bisa melepaskan pandangannya dari Eunmi yang sore itu menggunakan gaun casual namun terlihat begitu elegan di tubuh gadis itu. eunmi terlihat begitu…. cantik!

Rambutnya yang biasa dikucir kuda, kali ini dibiarkan tergerai sedikit menutupi bahunya yang terbuka karena gaun yang diberikan oleh Hae bertali spageti. Pandangan mata Hae membuat Eunmi agak jengah, ia jadi salah tingkah sendiri.

“Ehm.” Eunmi berdehem, yang akhirnya membuat Hae berkedip.

“You’re totally….. beauty nona kim.” Puji Donghae sambil tersenyum.

Eunmi tersenyum, “terima kasih.”

“Kajja.” Donghae menyodorkan lengannya.

Eunmi kemudian menggandeng lengan Hae dan berjalan menuju mobil Donghae.

Beach party yang dimaksud Hae ternyata lebih elegan dan mewah dari apa yang sebelumnya Eunmi bayangkan. Ia minder sendiri melihat tamu-tamu yang datang.

“Wae?” tanya Hae ketika Eunmi menghentikkan langkahnya.

“Donghae-ssi, apa kau yakin?” tanya Eunmi ragu.

Donghae mengangkat kedua alisnya, “kenapa?”

“Aku—”

“I dont care who you are Eunmi-ya. Aku menyukaimu, dan itu cukup menjadi alasan agar kau bersanding di sebelahku sekarang. Arra?”

Tatapan mata Hae, kata-katanya barusan menghipnotis Eunmi lebih dari apapun. Untuk sesaat, kata-kata Hae memang begitu membuatnya melayang. Menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk melangkah. Terlepas dari apapun motif Hae nantinya, saat ini Eunmi ingin menikmati bersanding di sebelah Hae. Sebagai seorang wanita yang memang pantas berada di sebelah pria itu. maka kemudian yang harus dihadapi Eunmi adalah tatapan sinis-menuduh dari para gadis yang melihat tautan tangan keduanya.

Hyeorin’s

Aku ingin berhenti mengeluh dan menyumpah, tapi saat ini benar-benar tidak bisa. Aku benar-benar membutuhkan Eunmi sekarang! Entah sejak kapan gadis itu seperti sebuah kebutuhan jika aku butuh tempat bersandar. Dia adalah sandaran terkokoh bagiku. Aku bisa bebas menceritakan apapun padanya, tanpa harus memikirkan imejku. Tapi justru dari tadi pagi, dia tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati. Di tempat ia bekerja pun, aku tidak bisa menemukannya. Kemana sebenarnya gadis itu?

Aku mengehempaskan diriku ke sofa depan TV. Mengingat kembali apa yang ingin aku katakan padanya. Soal kemarin. Ketika tiba-tiba Kyuhyun menciumku, ciuman biasa. Hanya beberapa detik, tapi mampu melumpuhkan persendianku. Aku benar-benar merasa seperti gadis bodoh. Aku juga heran, semenjak lepas dari hilir-mudik kehidupan kaum klabbing-ku, aku benar-benar menjadi gadis melankolis. Gampang tersentuh, termakan gosip kemudian yang terakhir sering melakukan hal bodoh. Aku yang dulu? Cih! Daripada memikirkan sebuah ciuman, aku lebih baik mengerjakan sesuatu yang bisa membuktikan eksistensiku. Tapi ciuman dari presedir pemangku biaya hidupku itu benar-benar menganggu pikiranku. Dan itu membuatku membutuhkan sebuah tempat untuk berbagi soal kebodohanku.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Dengan kadar excited yang cukup besar aku memandang layarnya, tapi justru kecewa karena itu panggilan dari Gae In.

“Yeoboseyo?”

“Yaa Hyeorin-ah, where are you? Kau sudah seperti anak sekolah sekarang! Sepulang kantor menghilang dan tidak ditemukan di klab manapun.” Ujarnya setengah mengeluh.

Aku menghembuskan nafas, “ada apa Gae In?”

“Ada apa? Kau ini kenapa? Ayolah, ini malam minggu. Kau dimana?”

“Apartemen?”

“What the hell happened?! Sejak kapan kau menghabiskan malam minggu di apartemen? Aku jemput setengah jam lagi kita—”

“Shireo. Aku sedang malas.” Aku sudah bisa membacanya, Gae In akan mengajakku ke klab, aku akan berdansa seperti orang gila kemudian mabuk dan meracau seperti orang bodoh lagi. No thanks.

“Waaaaaaeeeeeee????” kini nadanya menuntut.

“Oh please, im tired. Clear? Have a nice hang-over night girl.” Ujarku kemudian memutus sambungan telfon kemudian mematikannya.

Aku memandang langit-langit apartemenku dengan pikiran berjubel. Terakhir aku ke klab malam ada hari pertama bertemu dengan Eunmi. Hampir dua bulan lalu. Dua bulan aku tidak ke klab, menghabiskan malam lebih sering dengan berkas pekerjaanku, kadang dengan Eunmi dan kadang dengan Kyuhyun. Oh hell! Berhenti di satu nama, lebih baik aku tidur! Aku tidak mau berspekulasi bahwa aku memang sudah jatuh cinta dengannya.

**

Eunmi’s

Aku mengerjapkan mataku yang terasa berat. Hampir pagi aku baru pulang dan sekarang aku membuka mata dengan suasana hati luar biasa kacau. Aku berjalan gontai menuju meja rias dan memandang wajahku. Semalam, aku bisa melihat tatapan penuh ejekan ke arahku, menjudge tanpa berkata satu apapun kalau aku memang tidak pantas bersanding dengan Donghae. Seerat apapun genggaman tangan Donghae semalam dan semanis apapun kata-katanya. Lalu siapa yang harus aku percaya? Kata-kata Hae yang seperti mimpi atau tatapan gadis-gadis klan atas yang menuduh itu? nafasku sesak. Ini pertama kalinya, dalam hidupku kalau aku yakin, aku punya sesuatu yang benar-benar aku inginkan. Dan lebih dari apapun, aku menginginkan Donghae. Tapi kenapa baru satu langkah sudah terasa begitu berat? Aku memijit keningku kemudian melirik ke atas meja. Ponselku yang tergeletak pasrah. Semalam ketinggalan dan dalam posisi mati. Aku membuka flapnya dan menghidupkannya, kemudiaan….

5 missed calls from Hyeorin

5 missed calls from Kyu

One message from Hyeorin :

Eunmi, where are yoooooooooooooooooooooouuuu???

One message from Kyu :

Apa kau baik-baik saja? Kenapa ponselmu tidak aktif??

Aku menghembuskan nafas, baru saja hendak mengabaikan ponselku tiba-tiba saja benda itu bergetar.

Kyu.

“Yeoboseyoo…” jawabku dengan suara malas-malasan.

“Mi-Chan wae? Kenapa ponselmu baru aktif?”

“Oh, aku lupa menghidupkannya kemarin.”

“Jinjja? Seperti ada yang kau tutup-tutupin.”

“Ani. Sejak kapan kau menjadi mind-reader?”

“Sejak suaramu seperti wanita ingin bunuh diri. Apa sesuatu terjadi?”

Aku menggeleng, “tidak, aku baik-baik saja. Hanya agak lelah.”

“Kemana kau semalam?”

“Ada acara dengan temanku.”

“Nugu?”

Aku menghela nafas, “kita bertemu ditempat biasa jam 1.”

“Shireo. Aku ke tempatmu sekarang..”

“Kyu—” telfon terputus.

 

Author’s

“Pesta dan kau tidak memberitahuku?! Who’s that guy?” tanya Kyu kemudian.

Eunmi menelan ludah memandang Kyu yang sedang berapi-api, seperti orang polisi yang berhasil menangkap seorang buronan. Dan dia seperti disidang di meja makan. Eunmi sendiri agak dilema, apakah dia harus menceritakan semuanya pada Kyu atau…..

“Katakan yang sebenarnya, apapun yang terjadi samalam Mi-chan.”

Eunmi menghela nafas. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi.

Kemudian yang terdengar, setelah Eunmi menyelesaikan ceritanya adalah omelan panjang dari Kyuhyun.

“Kalau sekali lagi kau pergi dengannya, dan mata setiap gadis yang memandangmu masih seperti itu kau wajib mendorong mereka ke jurang. Arraseo?” putus Kyu akhirnya.

“Kau gila.”

“Kau yang gila.” Balas Kyu, “kau salah jatuh cinta. Tidak masalah jika dia hanya kaya, tapi dia juga playboy!”

“How do you know Mr.Cho?”

“Karena aku lelaki Miss. Kim.” Balas Kyu.

Eunmi membrenggut kesal.

Kyuhyun menghela nafas, “apa kau sudah makan?”

Eunmi menggeleng pelan, masih dengan wajah membrenggut.

“Wajahmu pucat. Kau juga pasti kurang tidur. Pabo.” Omel Kyu.

“Aku mana tau kalau ceritanya akan seperti ini.” Keluh Eunmi.

“Maka lebih selektiflah dalam memilih pria!”

“Kau sendiri juga masih bermain-main dengan wanita itu.” balas Eunmi.

“Yaa!” dia tampak tidak terima

Eunmi menjulurkan lidah.

Tok… Tok… Tok…

“Pizzaaa….” suara dari luar.

Eunmi langsung memandang Kyu dengan sepasang mata berbinar.

Kyu menghela nafas.

Kyuhyun tau, semarah apapun dia dengan sahabatnya itu ia tidak akan tega melihat Eunmi bersedih. Apalagi karena masalah laki-laki. Eunmi tau kalau dibalik wajah malaikat Kyuhyun, pria itu bisa saja melakukan apapun diluar dugaan Eunmi. Tapi lebih dari itu, Kyuhyun bisa lebih nekat melakukan apapun demi melindungi orang yang ia cintai.

**

Author’s

Hyeorin dan Eunmi malam itu akhirnya bertemu. Keduanya tidur di sebuah dipan di roof-top apartemen Eunmi sambil memandang langit Seoul yang malam itu cerah, banyak dihiasi bintang.

“Hyeorin-ssi….” panggil Eunmi, kini matanya terpejam.

“Hm…” jawab Hyeorin, menoleh pada Eunmi yang ada di sebelahnya.

“Apakah tidak pantas jika aku jatuh cinta dengan orang kaya?”

Hyeorin memandang Eunmi yang matanya terpejam.

“Mungkin benar tidak seharusnya aku jatuh cinta dengannya. Dia terlalu tinggi untuk ku gapai, tapi seandainya aku bisa memilih… sekarang…. aku benar-benar sulit melepaskan diri darinya.” Jelas Eunmi, kini matanya mulai terbuka. Memandang ke langit luas.

Hyeorin tidak menjawab, ia bahkan tidak tau bagaimana perasaan Eunmi sekarang. Sakit, ia tau itu. tapi tidak lebih dalam. Masalahnya dia sendiri belum pernah merasakan ‘tidak pantas’ untuk seseorang.

Eunmi menarik nafas, mencoba menetralkan sesak yang mendera dadanya, “baru kali ini rasanya aku benar-benar menginginkan sesuatu. Dan itu sangat sulit rasanya.”

“Maka kau harus tetap mengejarnya.” Ujar Hyeorin kemudian.

Eunmi menoleh ke arah Hyeorin.

“Apa sulitnya? Kau hanya perlu fokus pada tujuanmu.”

“Sulit sekali ketika semua orang memandangku dengan tatapan meremehkan. Rasanya aku benar-benar tidak pantas untuknya.”

“Forget them!” ujar Hyeorin tegas, “anggap saja mereka batu. You have to keep on your way. Jangan sampai karena tatapan tidak berguna orang-orang itu kau jadi kehilangan apa yang kau inginkan.”

“Begitukah?”

Hyeorin mengangguk mantap, “jangan buang waktumu Eunmi-ya. Aku yakin pria itu juga pasti mencintaimu.”

“Bagaimana kau tau?”

“Oh ayolah gadis bodoh, kalau dia tidak mencintaimu tidak mungkin dia membiarkanmu bersanding di sebelahnya.”

Eunmi tersenyum kemudian menarik nafas panjang.

Hyeorin ikut tersenyum. Baru kali ini ia merasa berguna untuk orang lain karena kata-katanya. Biasanya, orang di sekitarnya akan lebih sering mendengarnya bersumpah-serapah karena mengeluh. Tapi Eunmi membuatnya menjadi pribadi yang berbeda, lebih baik ia rasa. Dan ia menyukai menjadi pribadi yang berbeda akhir-akhir ini.

“Lalu kau sendiri? Kemarin menelfon, ada apa?” tanya Eunmi kemudian.

Kini giliran Hyeorin yang memandang lurus ke langit luas, “aku pikir aku mulai jatuh dalam kebodohanku sendiri.”

“Maksudmu?”

“Aku mencintai bosku, mungkin. Kau tau hanya karena dia menciumku, aku jadi lupa bernafas. Stupid Hyeorin.” Ujar Hyeorin setengah mengeluh setengah merutuki dirinya sendiri.

Eunmi tersenyum, “bukannya itu bagus? Berarti kau sudah bisa melupakan pria yang sudah menyakiti dirimu waktu itukan?”

Kini Hyeorin tersenyum getir, seperti baru menyadari sesuatu, “belum. Aku rasa belum. Walaupun kami tidak pernah bertemu, tapi aku seperti stalker sekarang. Benar-benar menggelikan.”

“Kenapa begitu sulit melepaskannya?”

“Dia begitu…. spesial untukku. Entahlah, yang aku tau itu saja. Aku bertaruh sekali saja jika aku bertemu dengannya, aku akan luluh padanya lagi.” Jawab Hyeorin.

“Jadi sekarang kau bingung? Antara belum bisa melepaskan masa lalumu dan ragu apakah kau mencintai new comer dalam hidupmu?”

Hyeorin menghela nafas, “sepertinyaaa….”

“Kenapa tidak kau lepaskan saja bosmu? Bisa jadi dia hanya pelarianmu saja.”

Hyeorin menoleh ke arah Eunmi, “begitukah?”

Eunmi mengangguk mantap, “seperti yang kau katakan padaku tadi. Kau harus fokus dengan tujuanmu. Jika kau masih mencintai pria itu, maka kau harus berusaha.”

Hyeorin tersenyum, “ne. Kau benar. Kita harus sama-sama berusaha.”

Eunmi balas tersenyum.

Apapun yang akan mereka hadapi nantinya, setega apapun takdir mempermainkan mereka. Keduanya sudah memutuskan untuk tetap bertahan. Eunmi akan tetap bertahan dengan keputusannya mengejar orang yang ia cintai dan bergelut dengan segala resikonya. Dan Hyeorin, ia sudah memutuskan. Ia harus segera menyelesaikan permainan bodohnya dengan bosnya, fokus ke tujuan awal. Ia akan mengejar cintanya. Sekalipun itu akan mengobrak-abrik gengsinya, ia tidak peduli lagi. Ia cukup yakin untuk berubah, menjadi lebih fleksibel terhadap hidup.

**

Hyeorin’s

Aku harus memutuskan hubungan konyol ini dengan Kyuhyun! Harus! Tanpa pengecualian. Aku akan berbicara dengannya kalau aku dan dirinya sudah harus berhenti bermain-main, dan semoga dia tidak serta merta memecatku. For god’s sake, aku masih mau tinggal di apartemenku.

“Yeoboseyo…”

Aku menelan ludah, mendengar suaranya saja aku merasa sulit bernafas. What is this Hyeorin!! “Kyuhyun-ssi, eodiga?”

“Aku di jalan, ada apa?”

“Bisakah kita bertemu sekarang?”

Dia diam sejenak, “tepat. Aku juga ingin bertemu denganmu, ada seseorang yang ingin aku kenalkan.”

Aku terdiam sejenak, “nugu?”

“Yang waktu itu aku ceritakan. Baiklah, aku ke apartemenmu sekarang.” Jawab Kyu.

“Eoh, baiklah.”

Aku memegang ponselku. Seseorang yang ingin Kyu kenalkan? Beberapa hari lalu memang dia sempat bercerita soal sahabatnya. Tidak masalah jika itu sahabatnya, tapi… ini berarti aku harus menunda berbicara empat mata dengannya. Mana mungkin aku bisa memutuskan hubungan ini di depan sahabatnya sendiri. Sekejam apapun aku, aku masih punya hati.

Aku mematung di ambang pintu melihat siapa yang dibawa Kyuhyun malam ini ke apartemenku. Mata kami saling memandang satu sama lain dengan tatapan kaget. Jadi… jadi Eunmi sahabat Kyu? Sahabat baiknya yang ia kenal sangat dekat dan sepertinya ia sayangi? Kenapa dunia ini terlalu sempit?!

“Kalian saling mengenal?” tanya Kyuhyun kemudian, memecah keheningan diantara kami.

“Aku tidak menyangka kalau kau….. sahabatnya.” Ujarku kemudian.

Eunmi tertawa, “aku juga. astaga, kenapa dunia ini terlalu sempit?”

“Kajja.” Aku menarik tangan Eunmi masuk ke dalam, meninggalkan Kyu yang kemudian aku dengar protes karena begitu saja diabaikan.

Dan aku benar-benar melupakan soal pembicaraan empat mata antara aku dan Kyuhyun. Kami bertiga asik mengobrol, banyak sekali hal yang kami bicarakan. Kyuhyun benar-benar berbeda. Entah ini karena bukan di kantor atau ada Eunmi. Tapi aku bisa melihat dia menjadi dirinya sendiri. Jadi inikah presedir yang sebenarnya? Begitu kekanak-kanakan dan manja? Dia dan Eunmi memang terlihat sangat dekat. Aku baru melihat satu orang yang begitu berani memukul kepala Kyu dengan bantal kemudian tertawa ceria sementara Kyuhyun memandangnya dengan sorot mata sinis. Mereka terlihat sangat dekat. Aku bahkan tidak yakin kalau Kyuhyun tidak mencintai gadis di depannya ini dan aku lebih yakin kalau Eunmi tidak menyadarinya. Dua orang ini benar-benar super bodoh. Berapa usia mereka sebenarnya?

“Apa kalian tidak mencintai satu sama lain?” aku akhirnya bertanya.

Eunmi dan Kyuhyun berpandangan satu sama lain kemudian tertawa.

“Jangan bercanda Hyeorin-ya, mana mungkin aku mencintai si kepala batu ini.” jawab Kyuhyun yang kemudian dijawab sebuah timpukan bantal sofa oleh Eunmi.

“Jangan konyol. Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu?” tanya Eunmi kemudian.

“Kalian terlihat sangat dekat.” Jawabku.

“Kyuhyun sudah punya kau.” Jawab Eunmi kemudian dengan kedua alis terangkat.

Aku pikir dia sudah bisa membaca suasananya. Aku sudah menceritakan semuanya pada Eunmi beberapa hari lalu soal hubungan bodoh ini walau tanpa menyebutkan namapun aku yakin Eunmi tau siapa laki-laki ‘bosku’ yang aku maksud.

Eunmi’s

Entah bagaimana sekarang aku harus menempatkan diri. Kenapa dunia ini terlalu sempit? Jadi gadis yang dimaksud Kyuhyun adalah Hyeorin dan bos yang dimaksud Hyeorin ada Kyuhyun? Dan yang dimaksud keduanya dengan hubungan-bodoh adalah hubungan mereka. Jadi biar aku pertegas, aku adalah sahabat Kyuhyun sejak bertahun-tahun lalu sekaligus teman baik Hyeorin. Aku merasa begitu ‘klik’ dengannya. Lantas sekarang aku harus memposisikan diri sebagai apa? Pihak yang pura-pura bodoh tidak tau apa-apa soal kebodohan mereka? Aaaah jangan bercanda, itu sangat susah!

“Hampir jam sebelas malam, besok kau harus bekerja pagi. Kajja.” Kyu akhirnya mengajakku pulang. Aku mengangguk kemudian bangkit dari sofa. Terlepas dari segala dilematis posisiku di antara hubungan mereka, aku benar-benar menikmati malam ini dengan mereka.

“Hyeorin-ya, kami pamit pulang.” Ujar Kyu.

“Hati-hati di jalan.”

“Anyeong Hyeorin-ssi…” ujarku

“Anyeoong.”

“Aku tidak tau kalau kau mengenalnya.” Ujar Kyu ketika kami berdua sudah di jalan menuju apartemenku.

“Aku juga tidak tau kalau gadis yang kau maksud adalah dia.” Jawabku kemudian.

“Bagaimana kalian saling mengenal dan menjadi begitu dekat?”

“Aku menolongnya. Begitu saja.” Jawabku.

“Jinjjayo?”

Aku mengangguk.

Kyuhyun melirikku dengan tatapan curiga. Aku melengos, “seriously Kyu.”

“Lalu apa dia bercerita banyak padamu soal aku? Aku lihat kalian sangat dekat.”

Aku menghela nafas. Haruskah aku katakan kalau kau hampir ditendang olehnya karena akhirnya aku malah meyakinkan dia untuk kembali ke mantan kekasihnya? Kau bodoh, kalau saja kau menyebutkan nama Hyeorin dari awal mungkin kemarin aku akan meyakinkan Hyeorin agar bertahan denganmu, Kyuhyun bodoh!

“Ani. Dia tidak banyak bercerita soal kau.” Jawabku. Aku tau, kalau Kyuhyun tau yang sebenarnya, dia pasti kecewa. Aku bisa melihat kalau Kyuhyun begitu berusaha menaklukan Hyeorin, artinya dia sangat mencintainya.

“Lalu apa dia pernah menyinggung soal aku?” tanyanya kemudian.

Sekali lagi aku menggeleng, “ani Kyu. Jangan terlalu percaya diri.”

Dia mendengus, “aku tau kau berbohong Mi-chan. Tapi baiklah, kali ini aku membiarkan kau berbohong.”

Aku memberenggut. Mustahil memang menyembunyikan sesuatu dari Kyuhyun sementara kami sudah bersahabat sangat lama.

 

*CONTINUE*