The main casts :

Han Hyeorin

Kim Eunmi

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

 

 

Destiny, it’s the thing that makes your life never flat

Author’s

Eunmi memandang hujan di luar yang begitu deras turun dari balik kaca coffee shop tempat ia bekerja yang hampir tutup. Pikirannya sedang dipenuhi berbagai hal, paling utama adalah soal Hyeorin dan Kyuhyun. Ia masih begitu tidak percaya kalau dua orang bodoh yang sedang bermain-main atas nama cinta adalah kedua sahabatnya sendiri. Hubungannya dengan Hyeorin dan Kyuhyun masih baik-baik saja, masih seperti biasa. Hanya Eunmi agak merasa memang kalau Hyeorin agak hati-hati soal kisah cintanya. Jarang sekali ia menyinggung soal hubungannya dengan Kyuhyun, mungkin ia tau dilematis yang dirasakan Eunmi. Tapi lebih dari sekedar dilema, Eunmi memang sedang mengkhawatirkan Kyuhyun. Rasanya tidak tega melihat Kyu patah hati.

“Ada yang sedang menganggu pikiranmu nona Kim?” sebuah suara membuat Eunmi mengalihkan pandangannya dari jendela dan mendongak. Menemukan wajah Hae yang tersenyum teduh ke arahnya dan membuat jantungnya langsung berdegup tidak karuan.

“Oh, Donghae-ssi.” Ujar Eunmi, gagap.

Donghae tersenyum kemudian duduk di depan Eunmi, “kenapa kau belum pulang?”

“Sebentar lagi. Coffee shop belum benar-benar tutup.” Dalihnya.

“Benarkah? Lalu kalau tempat ini sudah benar-benar tutup apa kau mau menemaniku?” tanya Hae.

“Eodi?” tanya Eunmi dengan dua alis terangkat

Donghae hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman.

Hujan sudah reda walau dingin masih menyergap ketika Hae membawa Eunmi ke pinggir sungai Han. Berjalan-jalan disana walau suasana sudah sangat sepi. Tapi Eunmi justru merasa aman dan nyaman, bersama Donghae. Inilah yang kemudian dia yakini bahwa Hae adalah tujuannya.

“Eunmi-ya…” panggil Hae sambil menghentikkan langkahnya.

Eunmi ikut menghentikkan langkahnya dan menatap Hae, “hm?”

“Jwesomnidaa..” ujarnya kemudian membalik badan menghadap Eunmi.

Eunmi mengangkat kedua alisnya, bingung dengan permintaan maaf Hae.

“Aku tau beberapa hari lalu kau sangat tidak nyaman, di pesta itu. aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengontrol tatapan dan perkataan mereka.” Jelasnya.

Eunmi menahan nafas, rasanya seperti luka yang belum kering. Masih terasa perih bila mengingatnya.

“Maafkan aku karena hanya bisa menggenggam tanganmu saat itu.”

Kali ini Eunmi sangat terharu. Entahlah, tatapan mata Hae yang memancarkan keteduhan itu seolah berkata kejujuran yang sangat dalam.

“Aku hanya merasa kau begitu menyenangkan, karena itulah aku mengajakmu ke pesta itu untuk menemaniku. Aku merasa begitu nyaman berada di sebelahmu.”

Tuhan, jika ini mimpi aku mohon jangan bangunkan aku! Aku ingin tinggal dalam mimpi saja…  gumam Eunmi dalam hati.

“Eunmi-ya, apa kau mau memaafkan aku?” tanya Hae kemudian.

Eunmi tersenyum kemudian mengangguk, “itu bukan kesalahanmu.”

Senyum lebar kemudian terkembang di bibir Hae, “jadi, kau masih mau aku ajak ke pesta-pesta lain?”

Ada ragu yang menyergap Eunmi, rasanya ia belum siap menghadapi tatapan mata sinis dari gadis-gadis yang begitu sarkartis lewat tatapannya. Tapi akhirnya ia mengangguk, ia tau ia tidak akan pernah menolak apapun permintaan dari Hae.

 

Sementara itu Hyeorin tampak galau di sudut ruangan sebuah sky bar. Paska hujan deras yang tadi sempat mengguyur, bar itu tidak begitu ramai. Ia sendiri memang sedang butuh suasana yang agak sepi. Seharian ia bersama Kyuhyun justru membuatnya yakin pada satu hal : laki-laki itu mencintai Eunmi!

Rasanya ternyata begitu dilematis. Sebagian hatinya justru merasa kalah dan tidak terima atas kesimpulan yang ia buat sendiri. Devil side-nya seolah tidak bisa menerima kalau masalah cinta ia harus kalah dari seorang Eunmi? Tapi ada sebagian sisi hatinya yang berkata itu lebih baik karena berarti memutuskan hubungan dengan Kyuhyun tidak akan sesulit yang ia bayangkan.

“Eunmi… you’re extremely stupid.” Gumam Hyeorin dalam hati, getir kemudian menegak habis isi gelas wine-nya. Ia memandang lurus ke depan, beberapa hari lalu ia sudah menetapkan tujuannya. Ia pikir sudah saatnya ia berhenti bermain-main dengan hidupnya, terutama masalah cinta. Mengingat Donghae ia seperti melihat sebuah komitmen yang mungkin ia bayangkan. Biasanya ia akan berkata konyol pada sebuah komitmen, hidupnya saat ini terlalu berharga untuk ditukar dengan penjara rumah tangga. Tapi kemudian membayangkan hidup bersama orang yang bisa membuatnya luluh, ia pikir lebih baik. Hyeorin meraih ponselnya, mencari nama Donghae disana. Sudah ketemu tapi ia tidak melakukan apa-apa. Selalu seperti ini jika hati dihantui dengan gengsi. Hampir dua bulan sejak ia terakhir melihat Donghae dengan wanita lain yang membuat hatinya hancur waktu itu. tidak pernah ada komunikasi apapun antara keduanya sejak saat itu. lebih tepatnya beberapa sebelum hari itu sampai hari ini. dan kalau Hyeorin diminta menghubungi pria itu, ia sendiri bingung apa yang mau ia katakan?

Hyeorin menghela nafas. Baru ia sadari dia benar-benar bisa jadi diri sendiri hanya kepada Donghae dan Eunmi. Di depan Donghae ia tidak bisa menyembunyikan sisi kekanak-kanakannya yang kadang sarkartis. Hey, mana ada anak-anak kasar?

Di depan Eunmi, ia justru seperti mengenali dirinya lebih baik. Ia tau kalau dia ternyata punya sisi baik, setidaknya ia tau bagaimana menghargai cerita oranglain dan belajar berbagi. Pun kalau saat ini hubungannya dengan Donghae belum ada progress berarti sementara dia sudah menyiapkan hatinya untuk terbuka lagi, setidaknya hubungannya dengan Eunmi baik-baik saja walau ada bumbu dilematis sedikit.

Drrrttt…. drrrttt……

Gae In.

Hyeorin menghela nafas.

“Yeoboseyoo..”

“Neo eodiga? For god’s sake Hyeorin, kau makin seperti anak rumahan.” Omel Gae In.

“Bagaimana kau tau aku di rumah?” tanya Hyeorin, dingin.

“Lantas dimana? Di rumah pacarmu? Atau Lee Donghae?”

Hyeorin menghembuskan nafas keras, “aku di sky bar.”

“Dan kau sangat salah tujuan. Bukannya ini habis hujan?”

“Tidak ada larangan ke sky bar setelah hujan reda. Ada apa memangnya?”

“Aku mencarimu tadi sore selepas pulang kantor, and you’ve got the birthday invitation.”

“Dari siapa?” Hyeorin tanpa minat.

“Oh ayolah Hyeorin, kau pikir ini bulan apa?! Your lovely fish birthday party!”

Kalimat Gae In berhasil membuat Hyeorin menegakkan punggungnya. Oktober. Ini awal oktober dan ia lupa tengah bulan ini ulangtahun Hae.

“Kau tau tidak hanya dia yang ulangtahun di bulan ini, Gae In.” Jawab Hyeorin, masih mencoba mengontrol suaranya agara tetap datar.

“Aku dapat kesimpulan, jadi kau dan Hae sudah benar-benar tidak ada apa-apa?”

“Apa pekerjaanmu sudah berubah menjadi reporter infotaimen?” Hyeorin, dingin.

“Okee… okee… baiklah. Sebaiknya kau mengajak seseorang ke pesta itu, kau tau Hae seperti apakan.”

“I know him more than you know.”

“Great. Baiklah, aku sedang di bar biasa kalau kau berminat menyusul.”

“Next time.” Jawab Hyeorin kemudian memutuskan sambungan telfon.

Hae ulangtahun, bukankah ini moment yang tepat untuk mengembalikan hubungan mereka. Hyeorin menggigit bibir bawahnya, tapi Gae In benar. Hae tidak mungkin sendirian berdiri di depan birthday cake-nya. Pasti ada seorang gadis. Berarti dirinya juga tidak boleh sendiri kesana. Meskipun ia sudah memutuskan mengejar Hae, ia harus tetap mempelajari situasi terlebih dahulu. Kyuhyun!

**

Eunmi’s

“Apa ini??” tanyaku dengan tatapan mata bingung melihat dua kotak besar. Satu berwarna hijau pastel dan satu lagi berwarna pink muda. Dua kotak itu dihiasi pita dan di depannya Donghae duduk dengan senyum yang selalu bisa membuat debaran jantungku jadi berpacu cepat.

“Lusa aku berulangtahun.” Jawabnya.

Aku mengkenyitkan keningku. Dia yang ulangtahun kenapa dia yang memberiku hadiah?

“Lantas?” tanyaku masih tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Kau mau datangkan ke pesta ulangtahunku?” tanyanya.

Aku menelan ludah. Pesta lagi dengannya? Apa aku sudah siap kembali melihat tatapan sinis dari para gadis? Apalagi ini pesta Hae, pasti banyak sekali gadis, atau mungkin mantan pacarnya yang jumlahnya mungkin tidak bisa dihitung dengan jari datang ke pesta itu. aku tidak yakin bisa pulang ke rumahku dengan selamat.

“Wae Eunmi-ya? Aku berjanji akan melindungimu.” Dia seperti bisa membaca keraguanku.

Dia mungkin bisa melindungiku, tapi dia tidak mungkin mencegah tatapan gadis-gadis itukan? Ayolah Hae, kecuali kau memakaikan mereka kacamata.

Aku hanya tersenyum tipis, “ani. Aku akan datang.”

“Great! Aku sudah mengatur semuanya. Lusa akan ada yang menjemputmu, arachi?”

Aku mengangguk ragu.

Hae tersenyum lebar kemudian bangkit dan mengusap kepalaku lembut. Membuat tubuhku membeku seketika. Aku yakin sekarang wajahku sudah semerah kepiting rebus.

“Kau harus percaya padaku, Eunmi-ya.” Ujar Hae, meyakinkan.

Demi apapun, aku tidak mungkin bisa menolak apapun permintaanmu Tuan Lee!!

 

Hyeorin’s

Ini adalah sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan ketika aku mengajak Eunmi mencari hadiah untuk Hae dan ternyata ia juga ingin mencari hadiah untuk seseorang. Kami bertemu di sebuah distrik Gangnam sore itu. sepertinya dia ijin kerja. Baguslah, yang aku dengar dari Kyuhyun, Eunmi adalah pekerja sangat keras. Ia hampir tidak pernah ijin dari coffee shop-nya. Jadi, siapapun yang berulangtahun pasti orang itu sangat spesial untuk Eunmi.

Aku melambaikan tanganku ketika melihat Eunmi berjalan turun dari bus. Ia tersenyum lebar dan berjalan mendekatiku. Gadis itu terlalu keras kepala untuk mau aku jemput di tempatnya bekerja.

“Kau mau mencari apa?” tanyaku.

Dia mengangkat bahunya, “entahlah, aku belum tau.”

“Kajja.” Aku kemudian menarik tangannya. Memasuki sebuah man boutique, sebuah butik khusus pria yang aku tau dengan sangat baik bahwa Hae menggilai merk baju disini.

Aku menunjukkan beberapa hadiah yang akan aku berikan kepada Hae. Tuxedo, jam tangan, dasi, sepatu, penjempit dasi, kemeja dan beberapa t-shirt. Aku benar-benar bingung. Sejujurnya, aku yakin Hae sudah memiliki semua ini. tapi aku tidak tau apa yang benar-benar dia inginkan saat ini.

“Aku pikir jam itu bagus.” Eunmi memberikan masukan.

Aku memperhatikan jam tangan metal dengan dominasi warna biru tua. Elegan dan aku yakin Hae menyukainya.

“Ini?” tanyaku dengan dua alis terangkat, memandang jam tangan itu dan Eunmi bergantian.

Eunmi mengangguk mantap. Akhirnya aku ikut mengangguk, baiklah ini saja dan ditambah sebuah kemeja yang tadi sempat aku pilih.

Aku kemudian menyerahkan dua benda itu kepada pelayan toko.

“Kau mau mencari apa untuk temanmu?” tanyaku pada Eunmi.

“Hm? Aku? Entahlah, aku belum ada ide.” Aku bisa membaca binar ragu dimatanya.

Baiklah, aku tidak mungkin merekomendasikan salah satu barang disini padanya. Aku tau harga disini terlalu mahal untuk Eunmi. Bukan, samasekali aku tidak bermaksud merendahkannya. Tapi aku bisa membaca wajahnya, kalau dia mungkin punya cukup uang untuk membeli barang disini pasti wajahnya tidak muram seperti itu.

“Wae? Kenapa tidak kau pilih saja satu barang disini?” tanyaku, berbasa-basi bodoh.

“Apa kau sedang meledekku?” tanyanya.

“Ani. Kau bisa pakai uangku jika kau mau.”

Eunmi menggeleng, “kalau aku pakai uangmu, itu sama saja hadiah darimu.”

Aku menghela nafas, “baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantarmu kemana saja untuk mencari kado buat temanmu yang sangat spesial itu.” aku dengan kerling menggoda.

Dia melotot, “how do you know???”

Aku tersenyum penuh arti, “karena aku wanita.”

 

Author’s

Menjelang malam akhirnya Eunmi mendapatkan barang yang ia rasa cocok untuk Hae. Sebuah parfum dan sapu tangan yang harganya tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dibeli oleh Hyeorin sore tadi. Kini, keduanya sudah diperjalanan menuju pulang.

“Siapa yang berulangtahun?” tanya Eunmi.

Hyeorin diam sejenak, “mantan pacarku— kau tau, yang aku ceritakan.”

“Jinjja?” tanya Eunmi, dengan dua alis terangkat.

Sejujurnya Hyeorin agak ragu mengatakan itu. ia takut Eunmi marah, karena kau tau.. ini pasti menyangkut Kyuhyun juga.

Hyeorin mengangguk, ragu. “Eunmi-ya, soal Kyu—”

“Aku tidak akan mencampuri hubunganmu dengan Kyuhyun. Kalian sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan.” Sela Eunmi sambil tersenyum, tulus.

Hyeorin balas tersenyum, hatinya agak sedikit tenang.

“Hanya saja, jika kau tidak mencintai Kyuhyun… lebih baik kau putuskan dia.” Lanjut Eunmi, masih dengan senyum terkembang.

Hyeorin tampak berfikir sejenak, “aku merasa begitu nyaman dengannya. Tapi sebagian hatiku masih berada di tempat lain.”

“Aku tau. Kau butuh waktu untuk meyakinkan dirimu, tapi aku mohon jangan terlalu lama. Agar tidak ada yang terluka terlalu dalam nantinya.” Jelas Eunmi.

Hyeorin mengangguk, “aku tau.”

Suasana jadi hening sejenak. Eunmi sibuk dengan pikirannya sendiri. Jujur saja, ia tidak se-cover-both-side itu. sebenarnya ia ingin membela Kyuhyun, atas nama persahabatan. Tapi sekali lagi, ia harus memposisikan diri sebagai pihak yang berada di tengah. Ia tidak mau mencampuri urusan keduanya terlalu dalam.

“Kau sendiri, siapa yang berulangtahun?” Hyeorin memecah keheningan.

Eunmi tersenyum, “temanku.”

“Teman?” Hyeorin mengangkat kedua alisnya, setengah tidak percaya.

Eunmi mengalah, “seseorang yang waktu itu ku ceritakan padamu. Entahlah, apa hadiah ini pantas untuknya.”

“Jinjja? Aigooo… Eunmi-ya, kau harus yakin kalau dia juga mencintaimu. Aku akan selalu mendukungmu. Hwaiting!” ujar Hyeorin memberikan semangat.

Eunmi tersenyum lebar kemudian mengangguk-angguk, “gomawoo…”

“Yaaa, gadis bodoh, kau tidak perlu merasa rendah diri. Kau sangat pantas dicintai, arra?”

Eunmi memandang Hyeorin, “tadinya aku pikir kau adalah gadis sinis dan dingin.”

Hyeorin tertawa sejenak, “tadinya memang aku seperti itu. tapi semenjak banyak yang berubah dari hidupku, aku juga berubah.”

“Jinjja? Karena aku?”

Hyeorin mengangkat satu alisnya, “aku tidak bilang itu karena kau, bodoh.”

“Tapi wajahmu mengatakan seperti itu.”

“Yaaa!”

Eunmi tertawa.

Dan atmoshpere mobil terasa begitu hangat karena keduanya akhirnya tertawa. Hyeorin dalam hati mengakui, bahwa perubahan dalam dirinya itu juga karena Eunmi. Melihat gadis itu yang begitu kuat, sederhana tapi bijaksana, membuatnya tersadar. Ia cukup usia untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Sesuai umurnya.

**

Author’s

Eunmi bahkan tidak sempat menyelesaikan ritual menguapnya di pagi hari ketika dua orang laki-laki mendatangi dirinya di apartemen dan memintanya masuk ke dalam mobil. Sebelumnya, Donghae sudah mengiriminya pesan kalau akan ada anak buahnya yang akan menjemputnya untuk persiapan acara ulangtahun Hae malam ini. sebenarnya Eunmi masih bingung setengah mati, ini acara Hae, hari spesial untuk Donghae tapi kenapa kemudian dirinya yang seolah akan diberi kejutan?

Mobil itu membawa Eunmi ke sebuah hotel bintang lima, kemudian ke sebuah kamar di lantai 10. Setelah membuka pintu, Eunmi menemukan dua orang wanita cantik tersenyum ke arahnya. Dua orang perempuan cantik itu mempersilahkan Eunmi duduk di depan meja rias kemudian salah seorang dari mereka mengambil dua kotak dari dua orang laki-laki tadi, yang beberapa hari lalu diberikan Hae kepada Eunmi. Setelah itu, Eunmi merasakan berjenis-jenis alat make up disapukan ke wajahnya.

Sementara itu, perasaan Kyuhyun agak tidak enak ketika telfonnya tidak kunjung diangkat oleh Eunmi. Semalam Eunmi sempat mengatakan kalau ia akan hadir ke pesta ulang tahun pria yang waktu itu pernah ia ceritakan. Malaikatnya yang sepertinya mati-matian Eunmi cintai. Perasaan Kyuhyun begitu saja tidak enak, ia seperti tidak rela membiarkan Eunmi pergi. Entah karena ia takut Eunmi terluka lagi karena disudutkan dengan gadis-gadis pemuja pria yang bahkan belum pernah Kyuhyun temui atau karena ada alasan lain yang lebih signifikan menyangkut hati tapi Kyuhyun belum mau mengakui. Akhirnya Kyuhyun menyera, ia berhenti menghubungi Eunmi.

“Gadis bodoh. Sudah tau akan terluka, masih saja mau masuk ke lubang yang sama.” Gumam Kyuhyun dalam hati.

Mendadak ia kehilangan moodnya sendiri. Ia jadi penasaran seperti apa pria yang sudah mampu membuat Eunmi begitu tergila-gila. Sayangnya, Eunmi tidak mengatakan secara detail dimana acara itu akan digelar. Semalam, ia hanya bilang kalau acara itu akan diadakan disebuah hotel bintang 7. Sekaya apakah pria itu?

Drrttt….. drrrttttt…. ponselnya bergetar. Ada satu panggilan masuk.

Hyeorin.

Dan baru kali ini sepertinya Kyuhyun tidak sama sekali bersemangat melihat layar ponselnya dihiasi nama Hyeorin.

“Ne?”

“Kyuhyun-ssi, eodiga?”

“Aku diruanganku. Wae?”

“Ada yang mau aku bicarakan. Nanti malam kau bisa menemanikukan?”

Kyuhyun mengangguk, “tentu. Nanti malam aku jemput.”

“Ne, gomawoo..”

Kyuhyun kemudian memutuskan sambungan telfon. Ia memandang keluar jendela ruangannya. Mi-chan pabo, eodigaa??

Seolah-olah Eunmi diculik..

**

Author’s

Malam itu, Hyeorin dan Kyuhyun sudah di jalan menuju pesta ulang tahun Donghae. Kyuhyun tidak ambil pusing tentang masa lalu hubungan Hyeorin dan Donghae, pikirannya justru masih tertuju pada Eunmi seharian ini.

“Kyuhyun-ssi, apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Hyeorin. Ia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk lebih serius membahas hubungan mereka.

“Hm?” tanya Kyuhyun, tetap memandang lurus ke arah jalanan Seoul yang ramai.

Hyeorin berdehem, agak ragu untuk mengatakannya.

“Hyeorin-ssi.. apa seharian ini Eunmi menghubungimu?” tanya Kyuhyun kemudian, mendahului Hyeorin.

“Hm? Oh, ani. Wae?”

“Entahlah, dia bilang kalau hari ini ia akan ke pesta ulang tahun temannya. Ponselnya malah tidak bisa dihubungi.” Hyeorin bisa membaca ekspresi kesal campur khawatir di wajah Kyuhyun. Membuat ia makin yakin, ada perasaan yang lebih dalam dari sekedar persahabatan antara Kyuhyun dan Eunmi.

“Jinjja? Tidak, dia tidak menghubungiku. Beberapa hari lalu kami memang sempat mencari hadiah bersama.” Jawab Hyeorin.

Kyuhyun langsung menoleh ke arah Hyeorin sejenak, “Jinjja? Hadiah apa? Apa dia menyebutkan akan memberikan kepada siapa?”

Hyeorin menggeleng, “ani. Dia hanya bilang untuk temannya. Atau mungkin yang agak spesial dari teman.”

Kyuhyun menghela nafas, “pabo.”

Hyeorin akhirnya mengalah, ia menelan lagi kalimat yang sudah ia rangkai untuk memutuskan permainan dengan Kyuhyun. Mood Kyuhyun sepertinya sedang kacau.

“Tadi sepertinya ada yang ingin kau katakan?” tanya Kyuhyun kemudian.

Hyeorin menggeleng cepat, “ani. Tidak jadi.”

Kyuhyun hanya mengangguk, tanpa merespon. Membuat Hyeorin semakin yakin.

Eunmi’s

Aku merasa agak risih sebenarnya dengan gaun dan dandanan ini. baiklah, semua yang melihatku menatapku kagum. Aku cantik, dua pelayan itu sudah mengatakan itu ratusan kali. Tapi entahlah, aku merasa ini agak asing bagiku. Ditambah lagi, sekarang Donghae ada di depanku dan menatapku dengan tatapan…. mungkin kagum. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sebenarnya, demi meredam rasa gugupku. Gaun peach ini memang membuatku terlihat berbeda, tapi sekali lagi rasanya ini aneh.

“You’re beautiful, totally.” Puji Donghae, sambil tersenyum.

Aku balas tersenyum gugup, “kamsahamnidaa..”

“Aku tau kau akan cantik dengan gaun itu, tapi tidak menyangka kalau akan luar bisa seperti ini.” pujinya sekali lagi. Makin membuat wajahku panas.

“Kajja. Tamu undangan sudah menunggu.” Donghae mengulurkan lengannya.

Aku menelan ludah. Inilah yang harus aku hadapi, tatapan sarkartis dari mantan-mantan Hae. Kemudian aku meraih lengan Hae ragu.

“Tetaplah menggandeng tanganku, apapun yang terjadi Eunmi.” Ujar Donghae.

Sekali lagi, setelah puluhan kali. Dia berhasil membuatku yakin.

Semoga tidak ada yang iseng menjambakku nanti.

 

Hyeorin’s

Hampir pukul 7, aku sudah berada di ballroom tapi belum samasekali melihat Hae muncul. Entah dia bersembunyi dimana. Beberapa dari orang yang aku kenal sudah bertemu dengan Hae sebentar, tapi kemudian pria itu menghilang. Aku berharap dia tidak sedang menjemput wanita manapun di belahan dunia manapun. Mendadak aku jadi tegang. Kemudian dari kejauhan, aku lihat beberapa orang tampak melihat pada satu arah. Aku mengkenyitkan keningku, ikut penasaran dengan yang orang-orang itu lihat. Hae! Akhirnya, itu Donghae!

Tapi… wait, he’s not alone!

Aku mencondongkan tubuhku demi melihat siapa yang bersanding disebelahnya. Entah seperti mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan patah hati. Tapi kemudian tubuhku seperti membeku, kaku melihat siapa wanita yang menggandeng lengan Hae sambil tersenyum. Wanita itu begitu cantik dengan balutan gaun peach, high heels dan rambut digulung ke atas. Aku mengenali gadis itu, sangat baik!

Tatapan kami bertemu, aku semakin yakin siapa wanita itu………..

EUNMI, HOW DARE YOU!!!!!

 

Author’s

Senyum dibibir Eunmi mendadak hilang, pupus seketika ketika melihat salah satu tamu undangan adalah Hyeorin dan Kyuhyun di sebelahnya. Bukan hanya senyumnya saja yang hilang, tapi juga kekuatannya runtuh seketika. Ia bahkan sempat menghentikkan langkahnya beberapa detik sampai Hae menoleh ke arahnya dan ia tersadar. Kekagetan luar biasa juga dialami Hyeorin. Sumpah demi apapun ia tidak menyangka pria yang setengah mati dicintai Eunmi adalah pria yang juga setengah mati sulit ia lepaskan dari hidupnya, Lee Donghae!

Kedua pasang mata itu saling menatap masih dengan binar tegang-kaget yang begitu jelas. Sayangnya, bukan hanya mata milik Hyeorin dan Eunmi yang memancarkan binar kaget, tapi juga Kyuhyun. Pria itu terpana luar biasa karena dua hal. Kecantikan luar biasa Eunmi malam itu tapi yang utama adalah melihat Eunmi bersanding dengan Lee Donghae— mantan pacar Hyeorin. Walau Kyuhyun tidak kenal-kenal amat dengan pria itu, dan baru sekali bertemu ia tau kalau pria itu bukan pria baik-baik. Dan menyadari kenyataan kalau ternyata Donghae-lah pria yang setengah mati Eunmi cintai, hatinya benar-benar……….. patah!

Donghae dan Eunmi sudah ada di depan birthday cake milik Donghae. Senyum bahagia tak lekang dari bibirnya, kontras dengan ekspresi Eunmi yang gusar.

“Terima kasih untuk semua undangan yang datang. Untuk semua doa dan hadiah. Untuk malam ini, this night is yours guys.” Ujar Donghae yang kemudian disambut riuh undangan.

“Dan sebelum pesta malam ini dimulai, aku ingin memperkenalkan seseorang, yang begitu spesial.” Donghae merangkul pundak Eunmi, sambil melirik ke arah Eunmi dan tersenyum. Membuat Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Dia adalah Kim Eunmi, perempuan spesial untukku.”

Kemudian undangan kembali riuh. Donghae tersenyum. Kini giliran Hyeorin yang mengeratkan genggamannya pada clutch yang ia bawa.

“Daaaan…. pesta ini resmi dimulai.” Ujar Donghae setengah berteriak.

Dj kemudian mulai memainkan musiknya. Seketika lampu di ballroom berganti agak remang dan dipendar dengan lampu disko. Segera Hae menggandeng tangan Eunmi, membawanya untuk memperkenalkannya dengan para tamu. Tapi belum sempat Hae memperkenalkan Eunmi dengan tamu manapun, langkahnya sudah diburu dihadang oleh Kyuhyun. Ia menatap Hae dengan tatapan begitu dingin.

“Kau—” Hae mencoba mengingat, sementara Eunmi sudah takut-takut memandang Kyu.

“Cho Kyuhyun, Lee Donghae-ssi. Saengil chukkahanda.” Ujar Kyu, dingin.

Dasar Donghae bodoh, ia bahkan tidak bisa membaca kalau nyawanya sedang terancam. Ia malah tersenyum innocent.

“Kamsahamnidaa… kita pernah bertemu diklab… ah ya, aku ingat kau atasannya Hyeorin.” Ujar Hae yang malah senang, akhirnya dapat mengingat siapa namja di depannya.

“Ne. Tapi lebih dari itu, aku sahabat Eunmi.” Jawab Kyuhyun.

“Jinjja?? Good news.” Donghae tersenyum lebar sambil menoleh ke arah Eunmi sejenak.

Kyuhyun tersenyum sinis, “aku ingin bicara dengannya sebentar.”

“Sayangnya tidak bisa, malam ini Eunmi akan mendampingiku.” Jawab Hae.

Sekali lagi Kyuhyun menyeringai, “who do you think you are, hu?”

Kemudian dengan cepat ia meraih tangan Eunmi dan membawanya menjauh. Donghae hendak mengejar pria itu tapi Hyeorin muncul dan menahannya.

“Nanti saja. Sebaiknya jangan kau kejar.” Ujar Hyeorin sambil meraih lengan Hae.

 

Eunmi’s

Aku berusaha meronta genggaman tangan Kyuhyun yang begitu kuat mencengkram pergelangan tanganku. Selain sakit, aku juga harus mengimbangi langkahnya yang lebar sementara aku menggunakan heels setinggi 7cm. Sial!

“Kyu!!” gertakku kesal.

Ia tidak menyahut. Tetap memandang lurus ke depan. Dia seperti sangat marah dan mengerikan malam ini.

Akhirnya langkahnya berhenti, kami sudah ada di rooftop tanpa siapapun disini. Aku agak bergidik kedinginan tapi lebih fokus pada pergelangan tanganku yang akhirnya dilepaskan oleh Kyu.

“Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu?!” tanyanya dengan nada ketus.

Aku mengkernyitkan keningku, tidak mengerti.

“Kau tau, siapa lelaki yang kau gandeng lengannya tadi??!” kini nada Kyuhyun lebih tinggi, “dia adalah pria brengsek mantan pacar Hyeorin!!”

“Dan dia adalah pria yang masih sangat dicintai Hyeorin.” Tambahku, dingin masih sambil mengusap lenganku yang masih nyeri. Aku kelepasan dan tidak peduli. Aku tersulut emosi melihat Kyuhyun memperlakukan aku seperti ini.

Nafasnya memburu, ia diam sejenak. Entah karena kecewa mendengar kenyataan yang baru saja aku katakan atau kaget aku tau lebih darinya.

“Jadi dia pria yang kau anggap malaikat?!”

Aku membuang wajahku.

Kyuhyun mendengus, “kau bilang tadi Hyeorin masih mencintainya?”

Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arahnya, “ne. Lebih dari yang kau tau.”

“Dan kau juga mencintainya lebih dari yang ku tau?”

Tepat!

Aku langsung membuang wajahku. Pelan-pelan aku menyadari, siapa sainganku sesungguhnya. Bukan sama sekali gadis di pesta, mantan Hae. Tapi Hyeorin! Sahabatku, teman baik yang aku kenal dalam kurun waktu singkat namun aku merasa begitu cocok dengannya. Aku menyakitinya, aku pasti menyakitinya.

“Eunmi-ya, katakan padaku kalau kau tidak sungguh-sungguh…” ujar Kyu.

Aku menoleh ke arahnya, memandangnya dengan tatapan sinis, “kalau aku sungguh-sungguh?”

“You even dont know who is he! Dan yang paling utama, kau tidak tau siapa yang kau hadapi.” Jawab Kyuhyun, tajam.

“Then i wanna know him, better. Dan aku tidak peduli siapapun yang akan aku hadapi.” Jawabku, dingin. Aku bisa melihat kebencian dimatanya, itu membuatku tidak senang. Kenapa dia jadi membenci Hae? Apa salah Hae padanya?

Aku melihatnya menghembuskan nafas kemudian melepas jasnya. Ia maju satu langkah, menyampirkan jasnya ke tubuhku kemudian merapatkannya. Aku membuang muka.

“Kita bicara lagi besok, setelah kepala kita benar-benar dingin.” Ujarnya, dengan intonasi berubah drastis.

Aku memandangnya. Dia tidak tersenyum samasekali, aku bahkan masih bisa melihat gurat-gurat emosi di wajahnya.

Kyu kemudian meraih pergelangan tanganku, “kajja.”

“Eodi?”

“Pulang. Kau mau apa?”

Aku menepis tangannya, “shireo.”

“Yaa!”

Aku sudah siap meronta tapi dengan gerakan cepat dia mengangkat tubuhku dan menaruhnya dibahu kanannya.

“Yaaa!!! Kyuhyun pabo, turunkan aku!!” rutukku.

 

Author’s

“Dia pikir dia siapa?!!” ujar Hae penuh emosi sambil menggebrak meja bar yang ada di ballroom hotel itu. sementara tamu lain masih berhelat dengan musik hip-hop yang menggema, mpunya acara justru terlihat begitu emosi dengan Hyeorin duduk di sebelahnya.

Hyeorin menghela nafas, demi apapun di muka bumi ia benar-benar tidak menyangka malam ini berubah seperti bencana. Bagaimana bisa Eunmi adalah gadis yang sudah mencuri hati Donghae?

“Aku akan membuat perhitungan dengannya.” Hae sudah beranjak berdiri ketika tangan Hyeorin menahan lengannya. Mati-matian tadi Hyeorin menahan Donghae agar pria itu tidak menerobos pintu manapun untuk mengejar Kyuhyun.

“Hae, please…” ujar Hyeorin frustasi. Sesungguhnya, memanage perasaannya saat ini jauh lebih sulit. Hatinya patah, jatuh kemudian berserakan. Menyadari kalau ternyata bukan hanya Donghae yang mencintai Eunmi, tapi juga Kyuhyun. Pesonanya benar-benar seperti tidak berharga bila dihadapkan dengan Eunmi yang nyatanya begitu sederhana.

“Wae? Jangan membela pria itu karena dia atasanmu Hyeorin.” Jawab Hae.

Hyeorin menghembuskan nafas kemudian memandang Hae, “apa kau pikir kau bisa menemukan Eunmi?”

“It’s a must!” jawab Hae berapi-api.

Hyeorin memejamkan matanya sejenak. Beginilah Hae ketika sudah menginginkan sesuatu, ia harus mendapatkan apa yang ia mau.

“Kau tidak akan menemukannya Hae, lebih baik kau selesaikan besok. Ini malammu.” Ujar Hyeorin lagi.

Hae membuang wajahnya sejenak, “kalau begitu aku harus menghubungi Eunmi.”

“Apa kau begitu mencintainya?” tanya Hyeorin, dengan tatapan mata tajam.

Donghae diam sejenak, “sepertinya.”

Dan sepenuhnya Hyeorin menyadari kalau ada desakan yang membuatnya begitu sesak. Yang membuat air mata menggenang di pelupuk matanya. Pertama kali dalam hidupnya, ia dipermainkan perasaannya sendiri. Ini benar-benar bukan dirinya. Biasanya ia lebih bisa mengontrol apapun emosinya, tapi….. saat ini…. rasanya begitu sulit membohongi dirinya sendiri kalau dia benar-benar menginginkan pria di depannya saat ini.

“Aku harus pergi sekarang.” Hae menepis tangan Hyeorin.

Dengan cepat Hyeorin meraih keras jas pria itu, membuat wajah mereka begitu dekat kemudian Hyeorin mencium bibir Donghae, dalam. Ia memejamkan matanya, menikmati setiap sengatan yang menyakitkan dihatinya. Sebulir air mata perlahan meleleh dari pipinya. Ini ciuman paling menyakitkan yang pernah ia lakukan.

**

Officially, we’re in a war. Play innocent then…

Author’s

“Aku ingin bicara denganmu.” Suara itu malah membuat Eunmi menunduk dan memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Suara yang sudah begitu ia kenal. Ia kemudian membuka matanya perlahan, kemudian menegakkan kepalanya dan memandang Donghae dengan senyum terbaik yang ia bisa. Padahal kenyataannya, hatinya sedang tidak rela melakukan itu. ia lebih ingin bersembunyi di loker tasnya daripada menemui Donghae. Ini terlalu cepat, ia tidak tau bagaimana ia harus berakting karena kejadian semalam. Ia tau Donghae pasti akan menanyakan kemana ia semalam dan siapa Kyuhyun.

“Aku… masih bekerja tuan Lee.” Jawab Eunmi.

“Aku tau, aku tunggu kau sampai jam istirahat.” Jawab Donghae.

“Tapi aku—”

“Kau tidak perlu menghindariku Eunmi-ya. Aku hanya ingin kita berbicara, bukan mengintrogasimu. Arraseo?”

Akhirnya Eunmi mengangguk. Donghae tersenyum kemudian meninggalkannya.

Eotokke…. gumamnya putus asa dalam hati.

“Jadi kemana kau semalam? Kenapa tidak kembali?” tanya Donghae, keduanya duduk di teras coffee shop tempat Eunmi bekerja ketika jam makan siang Eunmi sudah tiba.

Eunmi menelan ludah, ia tidak tau harus menjawab apa. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Kyuhyun menggendongnya sampai ke mobil lalu membawanya pulang.

“Apa pertanyaanku sulit sekali untuk dijawab? Baiklah, aku ganti pertanyaanku. Apa kau pulang dengan pria itu semalam?”

Eunmi mengangguk, tidak berani memandang sepasang mata milik Donghae.

Donghae menghela nafas, “apa kalian begitu dekat?”

Sekali lagi Eunmi mengangguk, “kami bersahabat, sudah sangat lama.”

“Apa kau mencintainya?”

Pertanyaan Donghae langsung membuat Eunmi menegakkan kepalanya dan memandang pria itu. dengan cepat Eunmi menggeleng, “aku dan dia bersahabat sangat baik. Itu saja.”

Ada gurat kelegaan yang terpancar di wajah Hae.

“Donghae-ssi, saengilchukkae…” ujar Eunmi pelan sambil mengangsurkan sebuah kotak berwarna biru. Hadiah yang belum sempat ia berikan kepada Donghae.

“Bahkan aku belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun padamu, mianaa..” ujar Eunmi kemudian.

Donghae meraih kotak itu, “gomawo. Apa boleh aku buka?”

Eunmi mengangguk pelan, “tapi mungkin itu tidak seperti yang kau harapkan.”

“Ani. Apapun darimu, aku pasti senang menerimanya.” Jawab Hae seraya membuka kotak biru itu, kemudian ia tertawa lebar.

“Parfume?” tanyanya antusias. Ia kemudian membuka kotak parfum itu dan menyemprotkannya sedikitke pergelangan tangannya kemudian kembali tersenyum lebar.

“Apa kau menyukainya?” tanya Eunmi ragu.

Donghae mengangguk cepat, “sudah aku katakan, aku menyukai apapun benda darimu.”

Eunmi ikut tersenyum, hari ini, saat ini ia memutuskan tidak akan menyerah apapun halangannya. Ia mencintai Donghae, dan sepertinya Donghae juga seperti itu. ia akan bersujud meminta maaf pada Hyeorin, jika itu memang perlu.

 

Hyeorin’s

I still cant believe, no.. no cant  but wont believe.. why Eunmi?! Aku menyesap sekali lagi rokokku sambil memandang jauh keluar jendela ruanganku. Aku mungkin bisa saja menghantam gadis lain, siapapun tapi tidak dengan Eunmi. Eunmi how dare you! Kenapa disaat justru aku sudah memutuskan untuk mengejar Donghae, berekspetasi ke depan tentang hubungan yang lebih serius, justru aku dihadapkan pada hal semacam ini. ridiculous!

Drrttt…. drrrttt… ponselku bergetar, ada satu pesan masuk. Aku meraihnya. Dan dari Kyuhyun.

 

Bisakah nanti malam kita bertemu?

Ada yang ingin aku bicarakan

 

Aku mendengus. Sepertinya aku bisa menebak kemana arah pembicaraan yang dimaksud presedir terhormat ini. tidak jauh-jauh dari Eunmi dan Donghae. Dasar kyuhyun bodoh, otaknya terlalu sering dipakai untuk pekerjaan hingga tidak bisa menganalisis perasaannya sendiri dengan baik. Aku bisa melihat semalam bagaimana dia begitu emosional ketika Eunmi menggandeng lengan Donghae. Begitu dia masih mau menyangkal kalau dirinya dan Eunmi hanya bersahabat baik? Namja bodoh!

Tiba-tiba saja satu ide terlintas di kepalaku. Aku pikir bukan ide yang buruk menjodohkan keduanya. Aku tersenyum puas, mematikkan rokok kemudian membalas pesannya. Aku tidak perlu membunuh Eunmi, dia terlalu baik untuk dibunuh. Ada cara lain yang lebih indah. Aku bisa bersama Donghae, dan Eunmi aku yakin akan lebih bahagia jika bersama Kyuhyun. Ini tidak licik. Tidak sama sekali, toh aku hanya menyadarkan keduanya kalau memang ada cinta diantara mereka. You’re great Hyeorin, as usual!

**

Author’s

Hyeorin seperti diposisikan sebagai saksi dalam sebuah peristiwa pembunuhan. Pertanyaannya Kyuhyun malam itu benar-benar bernada introgatif dan sangat detail. Bagaimana sebenarnya Donghae itu? seberapa playboykah dia? Apa dia sedang dalam hubungan dengan wanita sekarang? Apa hobinya? Dan itu benar-benar membuat Hyeorin dilematis sendiri. Antara ingin menjelek-jelekkan imej Hae agar Kyuhyun bisa dengan agresif menjauhkan Eunmi darinya tapi di sisi lain ia tidak enak menjelek-jelekkan orang yang ia cintai. Dan akhirnya ia mengalah, ia justru menjawab semua pertanyaan Kyuhyun dengan jujur. Dari jawabannya sendiri ia baru sadari, pun tanpa dijelek-jelekkan, imej Hae yang playboy itu memang sudah parah.

Kyuhyun menghembuskan nafas keras sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, “bagaimana bisa Eunmi jatuh cinta dengan pria macam itu.” ujarnya pelan, setengah merutuk

Hyeorin sendiri malah komat-kamit kesal, pertanyaan itu seolah memojokkannya juga.

“Apa kau mencintai Eunmi?” tanya Hyeorin kemudian.

Kyuhyun memandang Hyeorin sejenak, “aku sahabatnya, hanya ingin melindunginya.”

“Oh hell. Berhentilah berkata kau itu sahabatnya kalau ternyata kau punya hati dengannya!” hyeorin mulai kelihatan tidak sabaran.

“Kami hanya terlalu dekat, makanya semua orang berfikir seperti itu.” Kyu masih berkilah

“Kalau kau memposisikan dirimu sebagai sahabat, kau tidak akan repot-repot menarik Eunmi di pesta Hae kemudian menculiknya entah kemana.” Jawab Hyeorin.

“Kau tidak ingin dia kembali ke pesta dan bersanding dengan Hae kan?” kini gentian Hyeorin bertanya dengan intogatif pada Kyu.

“He’s not good enough for her.” Jawab Kyuhyun, dingin.

“Then tell me, who’s the good enough for her?”

“Eunmi butuh seseorang yang ia kenal dengan baik dan bertanggungjawab.”

“That’s absolutely you, right?”

Kyuhyun memandang Hyeorin, kini dengan tatapan tajam, “apa maksudmu sebenarnya?”

Hyeorin tersenyum penuh kemenangan sambil menyenderkan tubuhnya di sofa dan melipat kedua tangannya, “aku tidak pernah percaya dengan persahabatan dua orang lawan jenis. Dan itu terjadi pada kalian.”

Alis Kyuhyun terangkat satu.

“Aku bisa melihatnya presedir, tatapanmu padanya lebih protektif dari sekedar sahabat. Kalau kau tidak mau Eunmi jatuh ke tangan yang salah, maka kaulah yang bisa menyelamtkannya. Don’t you?”

Kyuhyun menyeringai, “apa kau masih mencintai Hae?”

Hyeorin diam, senyumnya lenyap tatkala Kyuhyun berhasil mengendus rencananya.

“Lets make it clear Hyeorin-ssi. Kau berusaha menjauhkan Hae dan Eunmi dengan perantara aku, don’t you?”

Senyum Kyuhyun makin lebar ketika mendapati Hyeorin hanya bisa diam tanpa ada pembelaan atau penyangkalan apapun.

Kyuhyun kemudian memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan tangan kanan dan menatap Hyeorin intens, “Then, another game Hyeorin-ssi?”

Hyeorin kemudian tersenyum sinis dengan satu alis terangkat, “if you don’t mind Mr. Cho.”

“Lets see later.” Kyuhyun kemudian pergi meninggalkan Hyeorin.

Hyeorin menautkan dua alisnya menahan emosi, “what the heck! Yaa!!”

**

tadaaaaa….. gimana? syudah pada emosi baca part ini? ato lagi membuat harapan siapa dengan siapa? hihihi, honestly cerita ini masih ontheway diselesaikan jadi belum tau siapa bakalan sama siapa atau Hyeorin sama Eunmi bakal bunuh-bunuhan ngerebutin Donghae atau justru Donghae yang gebuk-gebukan ngerebutin salah satu dari mereka. ato malah Donghae sama Kyuhyun yang deket terus…. *oke ini salah fokus* jadi readers maunya siapa sama siapa terus endingnya gimana? mau dibuat drama beneran apa happy ending? *happy ending lah thor, ngana pikir?!* X)

Smoga ff ini bisa menemani readers sekalian yang menikmati malam minggu dengan pacar elektronik kesayangan yaitu leptop karena author juga gitu. enjoy and thank you for read *kisseu*