Title : Alive

Author : @violetkecil
Rating : PG 17
Genre : Romance, Fantasy
Length : Chaptered
Cast : Lee Taemin (SHINee), Kwon Ahra (OC), Park Jungsoo (Eeteuk Super Junior)
Note : Already posted on http://fanfictionschools.wordpress.com

–oooOooo–

Previous Chapter

–oooOooo–

Chapter 5. Meet You

Taemin memandang setiap detail kecil gerakan Ahra. Gadis itu sudah terlalu jauh menariknya. Dia bisa dengan jelas mendengar percakapan antara Ahra dan Jungsoo. Setelah mobil yang ditumpangi Ahra berlalau, Taemin melesat ke basement villa dan mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana. Tangan kirinya membuka pintu mobil sedangkan tangan yang lain sibuk memcari kontak telepon seseorang.

“Kita perlu bicara lusa,” ucap Taemin langsung pada orang yang baru saja menerima teleponnya. Taemin memandangi telepon dan senyum tanpa ekspresi tergambar di wajahnya. Ada jutaan pikiran melintas di otaknya.

Suasana malam selalu gelap tapi tidak pernah menghalangi pandangan Taemin. Angin malam berpadu, kali ini dengan kecepatan mobilnya. Tentu akan lebih cepat jika Taemin memilih hanya berlari tapi lebih manuaswi jika dia menggunakan Porsche merahnya. Taemin mengetukan jari pada kemudi mobil dan pikirannya terus berkelana tanpa arah.

“Apakah aku harus menghentikan semua ini sebelum semuanya terlalu jauh?” gumam Taemin.

“Oppa, kamu harus kembali padaku. Aku akan menunggumu…”

“… Saranghaeyo Oppa.”

“Aish!!! Kenapa suaramu masih bertahan dalam ingatanku sementara aku bahkan tidak pernah berhasil menemukanmu?!” gerutu Taemin. Giginya beradu dan desisan kasar terdengar. Matanya tiba-tiba berubah nyalang dan tenggorokannya terbakar. Laur biasa—ketika emosi dan rasa haus menguasainya. Taemin menyerah. Dihentikannya laju mobil dan dengan kasar membanting setir untuk menepi ke pinggir jalan.

“Hmm… Ada yang akan menghilang malam ini,” gumamnya sadis.

Itulah Taemin. Ketika rasa haus mengusainya, dia tidak pernah mampu menahan untuk mengeluarkan sisi dari dirinya yang mengerikan. Hanya ketika di sisi Ahra dan untuk Ahra di berusaha untuk menahan diri. Dan anehnya Ahra-lah yang selalu bisa menghentikan Taemin.

Mata nyalang Taemin menerobos gelapnya hutan. Suara-suara binatang malam bersahutan. Dia masih berdiam diri di mobinya yang sudah menepi. Sebuah visi memasuki pikirannya—kilasan wajah laki-laki yang mencoba bunuh diri di tengah hutan gelap. Taemin menarik sudut bibirnya sinis. Dia melihat laki-laki yang muncul dalam visinya sedang berjalan memasuki hutan.

“Sama sekali tidak menghargai hidup. Ketika aku bahkan rela melakukan apapun untuk bisa hidup—dalam artian benar-benar hidup, orang bodoh itu justru memilih menghentikan hidupnya. Takdir yang lucu,” ucap Taemin sarkastis.

Sebuah bayangan memasuki pikirannya dan Taemin pun keluar dari mobil. Angin malam yang dingin menamparnya pertama kali. Tidak terlalu berpengaruh pada tubuhnya yang memang sudah dingin. Lagi—malam yang gelap menyembunyikan hal-hal yang tidak terlihat mata polos manusia. Hal-hal yang tidak sesuai dengan logika tersembunyi dengan manis. Untuk seorang Taemin, dia adalah bagian paling nyata dari apa yang disembunyikan malam.

–ooOooo–

“Keluarlah dari kamarmu Ra-ya. Dari kemarin kau tidak memakan apa pun. Malam ini aku akan mengenalkanmu langsung dengannya. Tolonglah jangan bersikap kekanak-kanakan,” pinta Jungsoo dari depan pintu kamar Ahra.

Ahra meringis mendengarnya. Di sudah makan dari semalam. Jungsoo saja yang tidak tahu bahwa Ahra mengedep-edap saat malam dan membawa cukup makanan ke kamarnya. dua hari mengurung diri dikamar yang lengkap tidak masalah buat Ahra. Lemari es di kamarnya masih terisi makanan yang cukup sampai besok. Koleksi drama dan film juga cukup untuk membuang rasa bosan Ahra.

Ahra menutup telinganya dengan bantal dan menyelimuti dirinya dengan selimut ketika didengarnya Jungsoo tidak menyerah mengetuk pintu.

“Keras kepala!” gerutu Ahra.

Ahra memejamkan mata dan entah karena alasan apa, tiba-tiba saja bayangan wajah Taemin berkelabat dalam pikirannya. Ahra menggelengkan kepala tapi justru membuatnya teringat Taemin. Senyum pria itu, pelukan dan punggunganya yang hangat menurut Ahra.

“Hya!!! Taemin Oppa!!! Kenapa kau muncul?” teriak Ahra dari balik selimutnya yang tebal.

“Taemin Oppa? Muncul?”

Deg. Ahra otomatis menyampirkan selimut dan langsung duduk. Jungsoo berdiri di depan tempat tidurnya dengan membawakan nampan berisi makanan untuk sarapan pagi.

“Eng… eem… Oppa?” Ahra tidak tahu harus berkata apa—menjelaskan apa.

Jungsoo meletakan nampan di meja dekat tempat tidur Ahra. Ahra memperhatikan Jungsoo dari ekor matanya. Pria itu masih diam dan Ahra tahu artinya itu. Jungsoo meminta penjelasan.

“Oppa. Maaf aku tadi berbicara dalam tidur ya?” ucap Ahra. Kata-kata yang ambigu, pertanyaan atau pernyataan.

“Aku tahu. Bersihkan dirimu dan makanlah. Aku tidak ingin kau sakit.”

“Oppa, kau marah padaku?” tanya Ahra ketika dilihatnya wajah Jungsoo yang tanpa ekspresi.

“Tidak.”

“Lalu?”

Jungsoo yang ingin melangkahkan kaki ke luar kamar Ahra justru berbalik dan duduk di tepi tempat tidur. “Siapa dia?”

“Mwo?” Ahra memandang Jungsoo heran. Siapa? batinnya.

“Pria yang kau sebut namanya dalam tidur. Siapa dia?”

“Oh, dia Taemin Oppa. Lee Taemin Oppa,” sahut Ahra ketika mengerti arah pertanyaan Jungsoo.

“Maksudku siapa dan apa hubungannya denganmu?” tuntut Jungsoo. Ada sedikit perasaan cemburu yang anehnya menyelinap masuk ke perasaannya. Itu egois. Jungsoo masih tidak rela Ahra mulai dekat dengan pria lain.

“Tetangga. Villanya tepat di sebelah villaku dan kami hanya mengobrol singkat beberapa kali. Dia menolongku ketika aku hampir terjatuh di hutan waktu itu,” jawab Ahra.

“Kau menyukainya?” tanya Jungsoo langsung.

“Mwo?!” Ahra kaget. Dia ingin berkata tidak tapi lidahnya menolak bekerja sama. Hanya tatapan matanya yang berbicara jujur.

“Baiklah. Aku tidak menyukai fakta ini tapi aku akan belajar menerimanya,” ucap Jungsoo dingin.

“Maksud Oppa?” tanya Ahra. Pertanyaan yang menggantung karena Jungsoo sudah berjalan ke luar dan menutup pintu kamar Ahra.

“Hya!!! Park Jungsoo!! Kau egois, jahat. Aku mulai bisa menerima bahwa kau lebih memilih wanita itu. Tapi apa hakmu berkata seperti itu hah? Aku bahkan tidak tahu tahu apakah aku menyukainya atau tidak. Park Jungsoo menyebalkan!!!!” teriak Ahra dan melemparkan bantal ke pintu kamar yang sudah tertutup.

Ahra mengatur nafasnya yang tersendat-sendat. Lagi—dia berhasil menumpahkan kekesalannya pada Jungsoo. Berkurung diri di kamar cukup membuatnya untuk mendinginkan emosi dan berpikir lebih jernih. Ahra mulai belajar untuk menerima kenyataan bahwa Jungsoo sekarang lebih memilihnya sebagai seorang adik bukan kekasih. Ahra mulai belajar untuk menerima bahwa Jungsoo akan lebih bahagia jika bersama wanita itu.

Ya, cinta bukanlah untuk memiliki sepenuhnya tapi untuk membuat orang yang dicintai bahagia.

Ahra belajar sebaris kata itu dari rasa sakit hati dan terlukanya.

–ooOoo–

Taemin memasuki sebuah café. Matanya memandangi sekeliling café—mencari sosok yang akan dia temui. Senyumnya mengembang ketika menemukan orang itu.

“Anakku. Lama tidak bertemu,” ucap pria paruh baya yang ditemui Taemin. Taemin membalas sekilas pelukan orang itu.

“Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Ada hal yang ingin aku tanyakan,” ucap Taemin. Pandangannya tajam menatap pria yang duduk di depannya. Pria yang dia anggap ayah—yang mengetahui dengan jelas jati dirinya. Pria yang tahu apa alasan Taemin bertahan hidup.

“Pesanlah dulu makanan. Jangan terburu-buru. Bukankan puluhan tahun kita tidak bertemu?”

Taemin menarik ujung bibirnya, “Aku sudah kenyang,” tolak Taemin halus.

“Terlihat jelas di matamu.”

“Kau masih ingat dengan pisau tua yang pernah kau berikan padaku?” tanya Taemin menyelidik.

“Tentu. Kau membawanya?”

“Aku tidak sebodoh itu membawa senjata tajam yang aku tidak tahu jelas fungsinya.”

“Kau tahu fungsinya. Dan itu masih berlaku sama untukmu hingga sekarang.”

“Menusuknya tepat di jantung.”

“Tepat dan kau akan menghilang.”

Taemin terhenyak, tepat di jantung dan dia tidak akan bertahan ‘hidup’. Taemin mengalihkan pandangan dan matanya menangkap sosok gadis yang sangat dia kenal. Taemin terus menatap gadis itu.

“Jawaban yang sudah jelas. Jangan mengambil tindakan bodoh. Hiduplah untuk gadis itu. Dia sangat mirip dengan Mina-mu,” ucap pria paruh baya yang menangkap arah dan arti pandangan Taemin.

Taemin mengalihkan padangannnya, “Aku harus pergi.”

–ooOoo–

“Oppa, aku ingin pulang,” bisik Ahra pada Jungsoo yang duduk di sampingnya. Ahra berkata seperti itu karena dia sudah tidak sanggup melihat pemandangan di depannya. Bagaimana Jungsoo memperlakukan wanita itu cukup membuat Ahra terluka. Dia sudah meyakinkan dirinya untuk menerima kenyataan ini tapi tetap saja dia tidak bisa membohongi dirinya.

Jungsoo menatap Ahra, tatapan matanya berkata tidak. Ahra menundukan wajahnya. Satu menit saja lagi lebih lama, pertahahan air matanya akan runtuh.

“Ahra-ya, kau mau pulang denganku?”

Ahra mendongakan wajahnya dan menemukan sosok seorang Lee Taemin sedang berdiri di dekatnya. Ahra tersenyum senang, “Ne Oppa. Jungsoo Oppa, boleh kan?” tanya Ahra dengan tatapan memohon pada Jungsoo.

“Kau?” kata-kata yang ingin Jungsoo ucapkan tersangkut di ujung lidahnya.

“Chosonghamnida. Saya belum memperkenalkan diri dengan formal. Lee Taemin imnida,” ucap Taemin dan membungkukan badannya.

Ahra berdiri dari kursi dan mengambil clutch bag-nya dari meja, sebelah tangannya menggandeng tangan Taemin. Taemin terkejut tapi kemudian hanya tersenyum pada Ahra.

“Oppa?” Ahra menatap Jungsoo—menunggu jawaban.

“Ah, Ne. Hati-hati. Aku akan menelepon untuk memastikan apakah kau telah sampai di rumah dengan selamat,” ucap Jungsoo.

“Gamsahamnida Oppa.Oppa, Eonnie, Ahra pamit dulu ya.” Ahra berusaha tersenyum dan kemudian menarik Taemin untuk segera keluar dari café itu.

Jungsoo menatap punggung Ahra yang perlahan menjauh dengan tatapan khawatir dan tidak rela. Jungsoo tidak tahu bahwa saat itu pundak Ahra bergetar karena tangis dan Taemin memeluk pundak Ahra—berusaha menenangkannya, lagi.

–to be continued–

NO SILENT READER. NO PLAGIATOR.

Please, leave your comments after read my fanfiction. It’s not easy to wrote this story dear^^ and your comments really give me strength. Okay? And, don’t forget to visit my personal blog http://evilkyugirl.wordpress.com