Seungwon Entertainment

Present

Angel From Heaven

Author : Seungwonation *Author Namja!! Jadi jangan panggil Eonnie atau noona!!!*

Judul : Angel From Heaven Part 1

Cast : Bigbang Member and 2NE1 Member

Genre : Fantasy Romance kali *kali yaaaaaa :P

Rated : G

Length : Twoshot

Disclaimer : Cast adalah tokoh asli milik YG ENTERTAINMENT namun ceritanya asli hasil mikir Seungwon ENT😄

Cuap-cuap author :

Uwoooiiii ,  udah lama nih gak ngepost. Sekarang ngepost FF tu sebulan sekali hha. Rasanya tiap mau ngetik FF tuh bnyak godaannya :P Tapi meski lagi sibuk dan kadang-kadang kena virus writter blocks, Gw usahain buat ngetik meskipun cuman satu dua paragraf. Ini ih masih mending, tapi draft FF di PC Gw tuh udah bejibun,  tiap bikin FF A ehh ujug-ujug males terus bikin FF B aja dan terus aja gitu makanya ampe sekarang gak ada FF yang beres-beres semuanya baru setengah jadi hha.

Untuk FF ini, Gw juga gak tahu mau bikin apa. Gak kepikiran ceritanya bakal kaya gimana yang pengting ngetik aja hha #plak

Pokonya ni FF aneh banget deh, Gw aja bingung mau nyeritain cerita kaya gimana disini. Tapi tenang, pasti tamat kok.  Meskipun belum jelas =_________=

Yahhhhh pokonya gitu lah, selamat membaca hha :D

———————————————————————————-

Malam ini rembulan tampak bersinar dengan terang, memamerkan sebuah pesona yang tidak biasa seperti malam-malam sebelumnya. Sang bulan tampak tidak malu-malu untuk memperlihatkan dirinya, tanpa ada awan yang menghalanginya sama sekali. Sinarnya yang terang seolah-olah mengukuhkannya sebagai penguasa malam. Parasnya yang cantik memang memanjakan setiap mata yang memandangnya. Namun, tak sedikit juga yang merasakan tekanan atmosphere yang cukup berat malam ini.

Sinar rembulan tampak tenang menyinari kota Airen. Sebuah kota kecil di ujung barat negeri ini. Tak banyak orang tahu tentang kota ini. Kendati kota kecil, kota yang berpenghuni 2000 jiwa ini sudah cukup modern. Beberapa gedung perkantoran menghiasi kota ini. Sementara di sisi lain, pohon-pohon dan taman dengan bunga-bunga yang indah masih terjaga keasriannya.

Waktu sudah menunjukan pukul 11.30 malam. Suasana kota sudah mulai sepi, hanya beberapa orang yang masih aktif di luaran sana. Sebagian lain mungkin sudah berada di rumahnya masing-masing, beristirahat dari kepenatan aktifitas yang mereka jalani seharian ini.

Namun tidak dengan seorang gadis yang tampak berjalan dengan tergesa-gesa di tengah deretan lampu-lampu jalan yang menyala terang. Sesekali gadis berambut pendek itu menoleh ke arah belakang.

Tidak ada apa-apa disana.

Hanya angin malam yang berhembus di tengah keheningan malam.

Merasa cukup aman, Gadis itu pun melanjutkan perjalanannya. Tidak salah jika gadis itu merasa cemas, mengingat hari sudah semakin larut dan tentu saja tidak baik untuk seorang gadis sepertinya berjalan menyusuri kesunyian malam seorang diri.

Langkah Gadis itu semakin lama semakin cepat seolah-olah ingin cepat sampai ke tempat tujuannya. Deru nafasnya mulai tidak beraturan, lebih berat dari biasanya. “Hoshh,,, Hoshhh,,, “

Ketika melewati sebuah pertigaan, langkahnya terhenti. Mulutnya tercekat dan Matanya membulat ketika melihat sebuah cahaya putih melintas di angkasa. Awalnya Dia mengira itu adalah sebuah bintang jatuh. Namun, dugaannya salah.

Semakin lama cahaya itu semakin mendekat. Silaunya cahaya membuatnya harus menyipitkan mata. Deru angin yang tadi tenang tiba-tiba berubah. Hembusan demi hembusan Angin menerpa sekujur tubuhnya. Minzy memundurkan langkahnya ketika merasa bahwa cahaya itu akan jatuh ke arahnya, bahkan Dia sampai jatuh terduduk ke belakang.

“Brukkk, “

Suara keras terdengar nyaring di indera pendengarannya ketika cahaya itu jatuh terhempas ke atas tanah yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Karena penasaran, gadis itu pun berlari ke arah jatuhnya bola cahaya itu.

“Uhukk,,, Uhukkk,, ” Kepulan asap membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas benda yang terjatuh dari langit itu . Dia bertanya-tanya, sebenarnya benda apa itu. Mungkinkah itu bagian pesawat yang lepas dan kemudian jatuh? Pikirnya.

Setelah kepulan asap itu memudar. Gadis itu pun menyipitkan matanya, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Eoh?!” Gadis itu tercekat. Matanya membulat saking terkejutnya.

Seorang Namja tengah terkapar di hadapannya. Namja berpakaian serba putih itu tampak menggeliat lemah. Sekujur tubuhnya tampak lusuh, bagai seseorang yang habis terlibat sebuah perkelahian hebat.

Gadis itu mendekati Namja yang terkapar itu dengan hati-hati. “Seorang namja? Tapi bagaimana mungkin Dia terjatuh dari langit?!” Pikir Gadis itu tak percaya. Memang tidak masuk akal jika seorang pemuda tiba-tiba jatuh dari langit, Apa lagi Minzy tidak menemukan sebuah parasut atau apa pun. Yang ada hanya seorang pemuda yang tergolek lemah di hadapannya.

Dengan hati-hati, Gadis itu mendekati sosok namja yang tergeletak itu. “Apakah Dia masih hidup?“, Pikir Gadis itu.

Dia mengulurkan jarinya ke depan hidung pemuda itu. Berharap masih ada tanda kehidupan pada pemuda berbaju serba putih itu.

Masih bernafas,

“Omo, Dia masih hidup. Apa yang harus ku lakukan?” Gumam Gadis itu kebingungan.

Jika Dia melapor polisi, mungkin Dia akan di anggap gila. Bagaimana tidak, mana ada orang yang akan percaya, jika Dia menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada orang lain. Pria jatuh dari langit? Ahhh, tentu saja semua orang yang mendengarnya akan menganggap Gadis itu gila.

“Ahhh, Ottokhae? Apa yang harus kulakukan sekarang?” Gadis itu bingung.

Diliriknya pemuda itu. Sungguh sangat lemah dan tak berdaya. Haruskah Dia menolongnya? Dia bahkan tidak mengenal Pria itu. Bagaimana jika pemuda itu bukan orang baik-baik?  Gadis itu ragu, di satu sisi Ia ingin menolongnya namun di sisi lain Dia tidak ingin terlibat masalah di kemudian hari. Di liriknya pemuda itu, Ia pikir tidak benar juga kalau Dia harus meninggalkan seseorang yang tengah terluka seperti ini. Akhirnya Dia pun memutuskan untuk menolong pemuda itu. Gadis itu tak tahu jika mulai saat ini, kehidupannya akan berubah.

***

“Teng nong,,,, Teng nong,,,, ” Suara bel berbunyi.

Seorang perempuan berambut panjang yang tadinya tengah menonton TV bergeming mendengar suara bel rumahnya berbunyi.

Dia mengkerutkan dahinya. Bingung, siapa yang datang ke rumahnya malam-malam seperti ini. Adiknya? Jelas tidak mungkin. Tadi sore Dia sudah meminta ijin untuk menginap di rumah temannya.

Meski bingun, Perempuan itu tetap berjalan menuju ke arah pintu masuk.

“Ctrek!” Suara kunci pintu yang terbuka. Dengan hati-hati Dia memutar knop pintu kemudian membukanya secara perlahan.

“Ohh ternyata Kau, Minzy.” Ujarnya Lega.

“Omo, Apa yang terjadi, Minzy-ah? Siapa Dia?” Wanita itu tiba-tiba terkejut ketika mendapati adiknya, Park Minzy. Tengah menggendong seorang pria yangsedang tidak sadarkan diri.

“Nanti Aku ceritakan, Unnie. Sekarang bantu Aku dulu!” Ujar gadis bernama Minzy itu.

Wanita yang di panggil Unnie itu pun tidak banyak bertanya dulu. Dengan sigap Dia langsung membantu Minzy membawa pemuda itu masuk ke dalam rumah.

“Brakkk, “

Minzy dan Kakaknya yang kewalahan menghempaskan tubuh pemuda itu ke atas ranjang berdenyit. Deru nafas mereka terdengar berat. Minzy dan Kakaknya, Park Bom beradu pandang. “Bisa Kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Park Minzy?” Tanya Bom dengan nada marah.

Sebelum menjawab, Minzy menyeka keringat yang membasahi keningnya. Kemudian menatap lekat-lekat Kakaknya, “Unnie, Apakah Kau akan percaya dengan apa yang akan Ku ucapkan nanti?” Tanyanya ragu.

“Apa Kau melakukan sesuatu yang melanggar hukum, Park Minzy?!” Tebaknya.

“Aniyo, Unnie!” Protes Minzy dengan cepat.

Bom mengambil kursi dan meletakkannya tak jauh dari hadapan Minzy. Dia duduk dengan tangan menyilang di dadanya, seolah-olah menanti alasan yang akan di berikan Minzy. “Kalau bukan melanggar hukum, Lalu apa? Tengah malam seperti Kau membawa seorang pria yang tak sadarkan diri! Ada apa sebenarnya ini?!”

Minzy menggigit pelan bibir bawahnya. Dia ragu untuk mengatakan hal kejadian yang sebenarnya pada Kakaknya. Ia takut Kakanya akan menganggap Ia gila seperti yang di bayangkannya.

Bom meraih tangan Minzy kemudian menggenggamnya dengan erat. “Minzy-ah, Unnie percaya Kamu gak melakukan kesalahan. Jadi tolong jelasin semuanya pada Unnie! Jangan simpan masalahmu sendiri!”

Merasa lebih nyaman, Minzy pun kemudian menceritakan semuanya kepada Bom. Mulai dari dirinya yang tidak jadi menginap di rumah temannya hingga akhirnya ketika dalam perjalanan pulang, Dia melihat sebuah cahaya putih yang menyilaukan jatuh dari langit dan tiba-tiba muncullah pemuda yang sekrang sedang tertidur di atas ranjang.

Ekspresi wajah Bom berubah seketika setelah mendengar alasan yang di berikan Minzy. Dahinya mengkerut seolah-olah tengah mencerna apa yang dikatakan adiknya itu. Jelas saja ini terlalu sulit untuk dipercaya oleh Bom.

“Ohh, Ayolah, Minzy-ah. Unnie percaya Kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Tapi please, katakan yang sejujurnya. Setidaknya berikan alasan yang lebih masuk akal!” Ucapnya dengan nada mencemooh.

Minzy hanya bisa mendengus kesal. Dia menyesal mengatakan kejadian sebenernya pada Unnienya itu. Toh pada akhirnya ceritanya hanya di anggap sebuah lelucon oleh Bom.

“Eoh? Ini beneran? ” Ujar Bom setelah melihat wajah adiknya tampak kesal.

“Apa Aku terlihat seperti sedang berbohong?” Sindir Minzy.

“Mungkin,” Gumam Bom curiga.

“Aish, terserahlah kalau Unnie tidak percaya. Setidaknya Aku sudah mengatakan yang sebenarnya!” Kesal Minzy.

Minzy mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang terlelap di tempat tidurnya itu. Bom memutuskan untuk tidak membahas masalah ini dulu sehingga membuat keheningan tercipta di ruangan itu. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan sebuah jendela kecil. Kendati Kamar ini cukup besar, namun barang-barangnya membuat ruangan ini menjadi agak sumpek. Dinding kamar itu berlapiskan wallpaper putih berhiaskan motif-motif bunga lily berwarna pink, membuat kesan feminim terasa kental sekali. Di sudut ruangan, sebuah lemari berukuran besar dengan sebuah kaca di ke dua pintunya tampak kokoh berdiri, pantulan dari kaca membuat ruangan itu menjadi terasa lebih besar.

Di sebelah lemari terdapat meja belajar lengkap dengan sebuah PC beserta seperangkat alat belajar. Sebuah foto Minzy beserta kakaknya, Bom, tampak terpatri di dalam sebuah bingkai yang di letakkan di atas meja belajar. Di sudut lain, sebuah rak sepatu tampak tak ingin kalah untuk meramaikan suasana ‘sumpek’ di kamar itu. Berbagai sepatu dengan berbagai warna dan model tampak berderet rapi di dalam rak sesuai dengan jenisnya. Wajar saja jika koleksi sepatu Minzy itu banyak, secara Bom merupakan manager dari sebuah departement store terbesar di kota itu. Jadi tidak heran jika ada model sepatu terbaru apalagi yang limited edition, Bom selalu menyempatkan membelinya untuk Minzy. Meskipun Ia tahu Minzy tidak pernah memakainya. Sifat Minzy yang tomboy membuatnya enggan untuk mengenakan sepatu-sepatu mahal pemberian Kakaknya itu. Dia lebih memilih untuk mengenakan sepatu-sepatu kets yang harganya tidak seberapa dibanding dengan sepatu mahal yang sekarang berderet rapi di dalam rak sepatunya.

Bom tahu kalau Minzy itu agak tomboy. Meskipun begitu, Ia tetap membelikan barang-barang yang ‘wanita banget’ untuknya. Seperti Gaun indah yang membuat lemarinya menjadi sesak serta berbagai boneka yang masih tersimpan rapih di dalam rak yang khusus di beli untuk menyimpan boneka-boneka yang tak pernah di sentuh Minzy itu. Itu di lakukan Bom karena Ia yakin suatu saat Minzy akan bersikap layaknya seperti seorang gadis.

Mereka hanya bisa diam membisu. Berkutat dengan pikirannya masing-masing. Tak ada sepatah katapun yang terlontar dari ke duanya.

“Jadi, apa yang akan Kau lakukan sekarang?”

“Entahlah, kita tunggu saja sampai Dia sadar,”

“Apa Dia tidak punya keluarga? Atau setidaknya kartu identias?!”

“Entahlah, “

Bom menghela nafas, Dia tak habis pikir adiknya mau menolong orang yang tidak di kenalnya. Memang tidak ada yang salah dengan membantu orang lain. Tapi bagaimana kalau pemuda yang di tolong Minzy itu bukan orang baik-baik? Dia hanya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada minzy.

“Baiklah, lebih baik Kau tidur di kamar Unnie malam ini. Biar Unnie yang mengobati luka-luka orang ini!” Perintah Bom yang disambut dengan sebuah gumamman tidak jelas oleh Minzy.

Setelah mengambil piyamanya, Minzy pun beranjak keluar dari kamarnya. sementara Bom hanya bisa menatap pemuda yang terlelap di atas ranjang adiknya dengan tatapan curiga.

“Ya Tuhan, lindungilah keluarga ku. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk!” Pikir Bom seraya menutup pintu kamar Minzy.

***

Ke esokkannya.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 11.30 siang. Minzy masih terlelap dalam mimpi indahnya, mungkin. Sinar matahari yang mulai terik menerobos sela-sela jendela kamar, membuat Minzy agak menggeliat karena wajahnya terpapar sinar matahari.

“Ukmmhhhh,” Gumam Minzy tanpa membuka matanya.

Dia mengerjap-ngerjapkan­ matanya karena terkena sinar matahari. Ia menutup mulutnya yang menguap dengan telapak tangannya. Di liriknya jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11.03 itu. Kemudian di tatapnya langit-lagit kamar seolah-olah tengah mengumpulkan ‘nyawa’.

Dengan rambut berantakan Minzy bangkit dari tempat tidurnya. Dengan langkah gontai Ia berjalan ke luar ruangan. Matanya yang masih setengah sadar menerawang seluruh sudut ruangan. “Sepi sekali,” Pikir Minzy.

Dia berjalan menuju dapur untuk sekedar mengambil minuman segar seperti fanta susu soda yang dingin dan menyegarkan dahaga. Di bukanya tutup botol fanta merah dingin itu. Dan dalam beberapa teguk Minzy sudah menghabiskannya.

“Ahhhhhhhhhh,,,,, “

Minzy melempar bekas botol fantanya ke tempat sampah. Namun sudut matanya menangkap secarikh kertas kecil di atas meja makan, Sebuah Note.

“Makanan sudah Unnie siapkan. Jangan lupa sarapan! Oh ya, Unnie juga udah bikinin bubur buat pemuda itu! Kalau terjadi apa-apa telepon Unnie atau kalau pemuda itu macam-macam lapor polisi sekalian! – Unnie”

Minzy melongok panci yang ada di atas kompor. “Mungkin itu buburnya!” Pikir Minzy.

Tanpa ke kamar mandi dulu, Minzy langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya. Kemudian Dia duduk di meja makan, ya iyalah masa duduk di atas kompor #plak.

Sambil makan, Ia juga memikirkan tentang kejadian tadi malam. Tadinya Dia berharap itu adalah sebuah mimpi namun sayangnya itu kenyataan. Dan parahnya, Ia sudah ikut terjerumus dengan masalah ini.

Pikirannya masih bertanya-tanya siapa pemuda itu? Dari mana asalnya? Dan masih ada berjuta pertanyaan lagi yang Minzy pikirkan.

Dan yang Dia tak habis pikir, kenapa juga Dia harus membawa pemuda itu ke rumahnya. Benar apa yang di katakan Unnienya, bagaimana kalau pemuda itu bukan orang baik-baik? “Ahh,,, Ottokhae?” Gumam Minzy Frustasi.

Setelah menghabiskan sarapannya, Minzy kemudian membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur hangat dan sebuah teh manis. Dia berjalan dengan hati-hati agar bubur dan tehnya tidak berantakan, terlebih lagi Dia harus menaiki tangga. Maklum saja, Minzy memang agak risih jika harus bersikap hati-hati seperti itu, bukan gayanya. Biasanya Dia sembrono dan asal bersikap saja. Itulah satu lagi sifat yang ingin Bom rubah.

Minzy berjalan menuju kamarnya yang sementara ini di pakai oleh pemuda itu. Saat Dia hendak masuk, Ia bingung kenapa pintunya tidak tertutup rapat. Apakah tadi malam Unnienya lupa menutup pintu?

Ahh, tidak mungkin! Minzy tahu Unnienya itu terlalu perpeksionis. Dia tak mungkin melupakan hal sekecil ini. Mungkin itu yang di pikirkan Minzy sekarang. Tapi kenapa pintunya terbuka?

Jangan-jangan Dia sudah bangun? Astaga, apa mungkin Dia perampok?” Pikir Minzy cemas.

Dia mulai was-was. Berbagai pertanyaan baru mengenai segala kemungkinan yang terjadi berputar-putar di pikirannya. Dengan hati-hati, Ia memegang knop pintu kemudian mendorongnya masuk secara perlahan.

“Kriettt, “

Hal yang pertama Minzy lihat adalah kamarnya yang rapih tiba-tiba berubah seperti kapal pecah. Lembaran kertas berhamburan di mana-mana. Cermin yang menempel di lemarinya tampak retak seolah-olah terkena sebuah pukulan. Pecahan kaca berserakan dimana-mana, koleksi sepatu dan bonekanya pun kini sudah tak beraturan lagi posisinya.

Ranjangnya yang rapi kini sudah tak jelas, sebagian spreinya jatuh ke lantai. Bantal gulingnya juga sudah hancur tak berbentuk, busa-busanya sudah menyembul keluar.

“Damn! Apa yang terjadi disini?!” Pekik Minzy tak percaya.

Nampan yang sedari tadi di bawanya sudah sedari terjatuh, menumpahkan seisinya ke lantai. Dia berjalan memasuki kamarnya dengan perasaan yang masih terkejut. Semua sudut ruangan tak luput dari pandangan matanya. “Ini semua pasti ulah pemuda itu, hah!” Geram Minzy yang tak bisa menyembunyikan perasaan marahnya.

“Kemana pemuda itu?!” Pikir Minzy ketika mendapati tidak ada satu orang pun disini selain dirinya.

“Aigoo, Aku tak habis pikir. Setelah membuat kekacauan seperti ini, Dia malah kabur? Cih, Aku menyesal sudah menolong dan membawanya ke sini!” Sesal Minzy.

Minzy menggelengkan kepalanya. Ternyata benar apa yang di katakan Unnienya. Sekarang Ia menyesal sudah menolong pemuda itu bahkan sampai membawanya ke rumah. Minzy pun tidak berniat untuk mencarinya, toh Dia yang pergi sendiri, pikirnya.

Sekarang yang harus pertama di lakukannya adalah membersihkan kamarnya yang berantakan sebelum Unnienya pulang. Dia tak mau kena omel Unnienya itu. Bom memang agak rewel kalau sudah berurusan dengan namanya kebersihan. Dan entah apa yang akan terjadi kalau Unnienya tahu bahwa ini semua ulah pemuda itu. Wah Minzy bisa kena omel Bom semaleman nih.

Minzy meraih tempat sampah yang ada di pojok ruangan. Kemudian Dia mulai membersihkan kertas-kertas dan pecahan kaca ke dalam tempat sampah. Namun saat tengah membersihkan sampah, matanya tertuju pada sebuah noda yang ada di atas karpet.

Ketika Minzy menyentuh noda itu dengan telunjuknya, Dia sadar itu bukan noda biasa. Noda berwarna merah dan kental itu masih terlihat baru. “Darah,” Gumam Minzy pelan.

“Darah siapa ini? Apa mungkin darah pemuda itu?” Minzy bertanya-tanya.

Dia pun menggelengkan kepalanya kemudian berkata, “Ahh, Aku tidak peduli darah siapa ini. Kalau pun terjadi sesuatu pada pemuda itu, ini bukan urusanku!” Ungkapnya sambil melanjutkan kembali membersihkan sampahnya. Kali ini Dia terlihat buru-buru dan tidak fokus.

Sesekali Dia melirik noda darah itu, lagi dan lagi. Minzy bertanya-tanya apakah pemuda itu sedang terluka? Seberapa parahkah lukanya? Apa ia baik-baik saja? Entah kenapa, Meskipun Minzy berusaha untuk acuh, namun ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya.

Miny juga tak tahu. Dia bahkan tidak mengenal pemuda itu, namanya saja Miny tak tahu. Tapi kenapa Minzy harus merasa khawatir, pemuda itu bahkan sudah membuat kamarnya berantakan seperti ini.

“Ahhhhhhhhh,”

“Menyusahkan saja!” Rutuk Minzy kesal yang kemudian langsung meraih jaketnya yang tergantung di belakang pintu. Tanpa memperdulikan lagi keadaan kamarnya. Dia pergi keluar rumah, hanya untuk sekedar mencari pemuda itu.

Bersambung

——————————————————————————————-

Selesai juga deh part ini. Pengennya sih ni cerita jadi oneshoot. Tapi gak tahu kenapa kalau niat bikin ff oneshoot pasti malah jadinya bersambung hha. Sorry kalau ceritanya masih ngegantung, berhubung ini cerita fantasy kemungkinan bakal agak panjang ceritanya. Untuk para cast sendiri, bakal muncul satu persatu di next chapt hhe.

Yang mau komen silakan yang enggak juga gak apa-apa, peduli amat deh hha :P

Kritik dan saran :

Twitter @SeungwonFanfict atau @Hopucusuan

fecebook Seungwon

Fanpage Seungwon entertainment

Baca ff seungwon lainya disini Daftar fanfiction Seungwon

Author Seungwonation ^^