Author: Rahina Dyah Adani a.k.a Rahina lollidela

Casts:

– Jung Hye Soo (OC/You)

– Wu Fan a.k.a Kris

– Byun Baekhyun

– Kim Jongin a.k.a Kai

 

Aku masih terkapar lemah beberapa saat setelah mereka membuangku ke pinggir jalan dan meninggalkan kenangan berupa luka-luka fisik maupun batin. Kutatap samar-samar langit gelap yang menutupi indahnya surga di atas sana. Aku masih teringat saat itu, sangat jelas. Aku mengingatnya dan kini hatiku hanya bisa menangis sementara rasa benci mengusir rasa cinta untuknya. Lelaki itu. Cinta itu memang pernah ada dan bagai bunga yang menghiasi semak belukar, namun bunga itu layu dan berubah menjadi duri yang menusuk. Membuat cinta itu berubah menjadi rasa benci melebihi cinta yang pernah ada.

 

***

 

“Minumlah teh ini, setidaknya menghangatkan,” Baekhyun menyodorkan secangkir teh kepada Hye Soo yang terbalut perban pada beberapa bagian tubuhnya. Tampak garis panjang namun tipis di keningnya dan beberapa luka lebam di wajah. Baekhyun memperhatikan satu persatu luka Hye Soo.

“Apa kau menjadi takut padaku?” tanya Hye Soo setelah menyeruput teh buatan Baekhyun. Baekhyun menatap Hye Soo sejenak, lalu tersenyum.

“Tidak, sama sekali tidak. Sebenarnya, tanpa luka-luka itu, kau pasti sangat cantik,” jawab Baekhyun. Hye Soo agak cemberut, lalu meletakkan tehnya ke meja.

“Tapi luka-luka ini ada pada diriku, aku memang tak ditakdirkan untuk menjadi cantik,” ucap Hye Soo. Baekhyun cemberut.

“Aku heran, siapa laki-laki kurang ajar yang melukiskan luka-luka itu pada sekujur tubuhmu? Apa matanya buta?” Hye Soo tampak sedih mendengar kata-kata itu. Tapi buru-buru ia menepis ingatan yang nyaris mendekati otaknya, lalu menjalar menyakiti hatinya.

“Dia memang buta. Maksudku, hatinya buta,” ucap Hye Soo sembari menatap dalam mata Baekhyun yang prihatin. “Tapi, sudahlah. Jangan dibahas lagi. Terimakasih karena menolongku, Baekhyun-ssi,” lanjutnya.

“Untung saja ada aku. Kalau tidak, mungkin kau sudah mati,” tepat ketika Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, pintu terbuka dan muncul Kris dengan tatapan tajamnya seperti biasa. Kris menatap Hye Soo sejenak, begitu pula Hye Soo.

“Hyung, biar Hye Soo tinggal di rumahku saja,” ucap Baekhyun. Kris meletakkan kantong plastik yang ia bawa, lalu duduk di sofa dekat Hye Soo.

“Tidak. Biar aku yang merawatnya. Kau pulanglah, ini sudah larut malam,” ucap Kris. Baekhyun tampak cemberut, membuat Hye SOo semakin gemas melihatnya.

“Baiklah, aku pergi. Jaga dia baik-baik, Hyung.”

 

Baekhyun sudah pergi, meninggalkan Hye Soo dan Kris hanya berdua di apartment itu. Hye Soo mengambil tehnya lalu meneguknya hingga habis, sementara Kris memperhatikan gerak-geriknya dengan detail.

“Kenapa? Kau merasa kasihan?” ucap Hye Soo sambil terus menatap cangkir kosongnya. “Ya, aku memang bodoh. Menurutmu aku ini apa? Wanita murahan? Ya, sepantasnya kau berkata begitu,” lanjutnya. Kris tetap diam. Beberapa saat keheningan menguasai mereka.

“Bodoh, kau memang bodoh,” akhirnya Kris angkat bicara. Hye Soo menatapnya dalam, lalu beralih lagi ke cangkir kosongnya. “Menyusahkanku dengan luka-luka itu, sementara ada lelaki kurang ajar yang sekarang sedang bercinta dengan wanita murahan.”

“Ya, tapi tidak. AKu tidak akan minta maaf karena telah menyusahkanmu. Jangan salahkan aku,” ucap Hye Soo sembari meletakkan cangkirnya. Kris menatap Hye Soo dalam.

“Pasti sakit.”

“Ya, sangat. Seharusnya aku berada di sampingnya, meniup lilin ulangtahunnya bersamanya. Tapi yang kulihat adalah lelaki kurang ajar yang bercinta dengan wanita murahan ketika kekasihnya datang. Dan yang kudapatkan? Kenangan kecil dari anak buahnya,” ucap Hye Soo dengan senyum pahitnya.

“Kau akan pergi atau tinggal?”

“Pergi? Kuharap bisa begitu, tapi ke mana?”

“Berarti kau tinggal. Tidurlah di kamarku, aku akan tidur di sofa,” ucap Kris sambil beranjak ke dapur.

“Tentu saja harus begitu.”

 

***

 

Sayang, luka ini masih sangat terasa. Sakit sekali rasanya. Tapi apa daya? Tak ada cinta yang dapat mengobatinya, kembalinya dirimu hanya akan mengacaukan segalanya, sayang. Jadi, pergilah.