Author: Rahina Dyah Adani a.k.a rahinalollidela

Casts:

– Jung Hye Soo (OC/You)

– Wu Fan a.k.a Kris

– Byun Baekhyun

– Kim Jongin a.k.a Kai

100% KARYA RAHINA LOLLIDELA DAN HANYA DIPOST DI FFLOVERS.WORDPRESS.COM. PLAGIAT? 100% BANNED!

 

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, dua puluh, dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga…

“Ka….i!”

“Jangan, ku….mohon!”

“Argh! Tolong, hentikan!”

“KAI!”

 

“Go home to Mama!” mereka semua tertawa terbahak-bahak di depan Hye Soo yang tersungkur di rerumputan pinggiran jalan. Sebuah mantel hitam tampak terbang, lalu mendarat menutupi sebagian kaki Hye Soo yang terbalut jeans bermerk. Setidaknya jeans itu layak jual bila mereka tidak membuat bahannya robek-robek karena berkali-kali terpukul, tersungkur, terdorong, yang pasti tersiksa.

“Eungh…,” lenguh Hye Soo yang terkapar, beberapa saat setelah orang-orang berbadan tegap itu pergi dengan mobil meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi. Tangannya berusaha meraih mantel yang ada di kakinya. Sebisa mungkin ia merangkak menuju tiang listrik terdekat untuk bersandar. Angin malam membantu menghilangkan rasa sakit pada lukanya daripada memberinya rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Mata Hye Soo mulai terpejam hingga dunia mimpi pun ikut membantu dalam membuatnya melupakan rasa sakit yang begitu mendalam.

***

 

Hye Soo membuka matanya. Cahaya lampu ruangan menyerang matanya, membuatnya menutup lagi kedua matanya. Punggungnya terasa lebih nyaman, tak seperti ketika ia dibuang. Suasana ini mimpi atau apa? Hye Soo hanya bisa terdiam penasaran karena lukanya tak mengizinkan tubuhnya bergerak. Terdengar suara dorongan pintu geser terbuka. Hye Soo menunggu-nunggu siapa yang akan muncul di hadapannya. Setengah dari hatinya berharap bahwa Kai lah yang akan datang dan mencintainya kembali. Bukan. Dia bukan Kai. Bukan juga laki-laki lain yang Hye Soo kenal. Wajah laki-laki itu menghalangi wajah Hye Soo dari cahaya lampu. Laki-laki itu tersenyum sejenak, lalu tampak duduk di samping tempat tidur di mana Hye Soo terbaring. Laki-laki itu tampak meletakkan sebuah gelas kosong di atas meja kecil, lalu mengeluarkan sebungkus susu bubuk dari laci. Memasukkan tiga sendok bubuk susu ke gelas, mencampurnya dengan air, lalu mengaduknya. Ia melakukannya dengan sangat fokus tanpa mempedulikan Hye Soo yang hanya memperhatikan gerak-geriknya tanpa tahu identitasnya.

“Diam,” laki-laki itu berhenti bergerak ketika Hye Soo menahan tangannya yang tadi mengaduk susu. Ia menoleh ke arah Hye Soo.

“Siapa namamu?” tanya Hye Soo. Laki-laki itu melepaskan sendoknya, lalu melepaskan pegangan Hye Soo pada tangannya.

“Minumlah dulu,” ucapnya sembari menyodorkan segelas susu coklat. Hye Soo menerimanya, lalu meminumnya hingga habis. Faktanya, ia memang kehausan.

“Siapa kau?” tanya Hye SOo lagi sambil meletakkan gelas kosong bekas susunya. Laki-laki itu terdiam sejenak, lalu menatap Hye Soo tajam. Tatapannya sedari tadi memang sangat tajam, namun kali ini lebih tajam.

“Kris,” ucapnya. Hye Soo terdiam, lalu tersenyum.

“Nama yang cukup bagus. Lalu, bagaimana aku bisa ada di sini?”

“Yang jelas aku menemukanmu di pinggir jalan,” jawab Kris, lalu bangkir dan duduk lebih dekat dengan Hye Soo di tepi tempat tidur. Wajahnya menepis jarak dengan wajah Hye Soo. Begitu dekat hingga Hye Soo bisa merasakan hembusan nafasnya dan kini salah tingkah. Mata Kris menelusuri wajah Hye Soo. Hye Soo hanya bisa diam dan menatap ke arah lain karena tak berani bertemu pandang. Kris menarik jauh wajahnya, membuat Hye Soo langsung menghembuskan nafas lega.

“Apa yang mereka lakukan sampai wajahmu seperti itu?” tanya Kris. Hye Soo masih menenangkan dirinya, tapi langsung berfokus.

“Menurutmu?” Kris terdiam. Berpikir untuk mengalihkan pembicaraan.

“Kau tidak mau bertanya soal pakaianmu?” Hye Soo agak bingung mendengar pertanyaan itu. Hye Soo menatap pakaiannya. Ia tersadar. Pakaiannya bukan lagi pakaian yang tadi ia gunakan.

“A…. apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya dengan ketakutan. Kris menyeringai sejenak.

“Kau mau tahu apa yang kulakukan?” godanya. Hye Soo hanya menatap Kris penuh kekhawatiran.

“Yang kulakukan adalah…,” Kris menyorot tubuh Hye Soo dari atas sampai bawah. Hye Soo semakin takut.

“Aku tidak melakukan apa-apa, tenang saja,” Hye Soo menghela nafas lega.

“Tapi aku memang mengganti bajumu.”

“APA?!” Pletakk! Jitakkan keras mendarat di kepala Kris. Kris hanya meringis kesakitan.

“Apa salahku?! Kenapa kau memukulku? Bukannya berterimakasih malah memukul!” omelnya. Hye Soo masih menatap Kris dengan kesal.

“Kenapa kau ganti bajuku?!” protesnya.

“Lalu mau bagaimana lagi? Bajumu penuh dengan bercak darah! Kau mau mati karena bakteri yang ada di bajumu? Seharusnya kau berterimakasih,” tanggap Kris. Hye Soo tersenyum.

“Maaf. Oh, iya. Kau tinggal sendirian?” tanya Hye Soo sembari berusaha bangkit dari tempat tidur. Kris membantunya, namun Hye Soo menolak. Ia ingin tetap berusaha berdiri sendiri meski ia tahu pergelangan kakinya terluka.

“Ya. Aku tidak memiliki keluarga di Korea,” ucap Kris. Hye Soo terdiam sejenak sembari menatapnya. Konsentrasinya buyar, kakinya tidak kuat lagi menahan tubuhnya. Ia mungkin akan tersungkur bila Kris tak menahannya. Hye Soo duduk kembali di tempat tidur.

“Begitu pula denganku,” ucapnya. Matanya menatap kosong ke bawah.

“I used to live with my boyfriend. No, I mean, my ex-boyfriend,” lanjutnya. Tapi perasaan duka itu buru-buru ia tangkis. Hye Soo menoleh ke arah Kris yang juga sedang menatapnya.

“Bolehkah aku tinggal denganmu?” tanya Hye Soo. Kris agak tersentak, namun ia berusaha tetap tenang.

“Aku akan tidur di sofa,” lanjutnya. Kris terdiam.

“Tidak. Kau tidur saja di kamarku,” tolaknya. Hye Soo menatap Kris dalam-dalam.

“Dan kau?”

“Aku juga akan tidur di kamar yang sama,” PLETAKK! Satu lagi jitakkan Hye Soo mendarat keras di kepala Kris.

“Laki-laki mesum! Kau pikir aku wanita seperti apa?!” omel Hye Soo. Kris hanya diam sambil meringis kesakitan.

“Aku bukannya mau melakukan yang tidak-tidak denganmu! Memangnya tidur di kamar yang sama berarti melakukan hal-hal itu? Aku akan tetap tidur di kamar ini, tapi aku akan pakai sofa. Aku ini berbeda dengan laki-laki lainnya!” jelas Kris. Hye Soo terdiam, matanya melirik ke arah sofa. Sofa itu cukup kecil, entah Kris yang tinggi bisa tidur di sana atau tidak.

“Kau janji tidak akan melakukan yang tidak-tidak?!”

“AKu janji!”

***

 

Jam menunjukkan pukul sebelas pagi. Kris sibuk berkutat dengan masakannya di dapur, sementara Hye Soo hanya bisa memandanginya dari belakang.

“Kau masak apa?” tanya Hye Soo. Kris menoleh sebentar, lalu kembali mengurus masakannya.

“Yang pasti kau akan terpesona denganku setelah makan masakanku,” ucap Kris. Hye Soo hanya mencibir. Tak lama kemudian, Kris menghapirinya sembari membawa dua piring nasi goreng kimchi dan meletakkannya di meja makan untuk mereka berdua.

“Kau coba duluan,” Kris mempersilakan. Hye Soo memakan sesendok. Senyumnya terurai lebar.

“Delicious, Kris. Aku bahkan tak bisa membuat makanan biasa menjadi selezat ini,” puji Hye Soo. Kris menyeringai.

“Apa kubilang? Sekarang kau terpesona padaku?” goda Kris. Hye Soo menahan suapan berikutnya.

“Jangan berharap.”

 

“Sebentar lagi temanku akan datang. Tidak apa-apa, kan?” tanya Kris. Hye Soo mengerutkan keningnya.

“Kenapa harus izin padaku?”

“Entahlah. Tapi aku merasa harus. Berarti dia boleh datang, kan? Dia sudah kuanggap adikku sendiri,” ucap Kris. Hye Soo mengangguk pelan. Kris tersenyum. Senyumnya terlihat sangat hangat bagi Hye Soo.

“Tunggu sebentar,” Kris bangkit dari duduknya, lalu mengembalikan piring bekas makannya dengan Hye Soo. Dia pasti sangat kesepian, pikir Hye Soo.

“Kau mau ke mana? Biar kubantu,” tawar Kris sembari membantu Hye Soo berdiri. Kakinya masih belum mampu menopang tubuhnya.

 

To be continued~