20121219_035741_19epweather morning_500

The main casts :

Han Hyeorin

Kim Eunmi

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

 

It’s not sleeping beauty happy ending story with a kiss

Author’s

Seminggu lewat dari pesta yang disumpah baik oleh Eunmi, Hyeorin, Hae apalagi Kyuhyun. Dan hari itu, Hyeorin dan Eunmi bertemu. Eunmi yang mengambil inisiatif lebih dahulu untuk melakukan pertemuan itu. melihat wataknya, Hyeorin memang tidak berniat berbaik-baik ria dengan Eunmi padahal hatinya setengah mati menyumpah gadis itu karena kenekatannya tetap berhubungan dengan Donghae. Ia tau, tanpa harus repot-repot menanyakannya pada Donghae dan Eunmi.

Eunmi sendiri merasa ada yang berbeda dengan Hyeorin, sebenarnya ia sudah memprediksikan perubahan Hyeorin padanya. Tidak mungkin Hyeorin masih akan bermanis ria sementara ia bersama orang yang setengah mati Hyeorin cintai.

“Aku ingin minta maaf padamu, aku tidak tau kalau akan seperti ini.” ujar Eunmi.

“I dont need your apologize.” Jawab Hyeorin, dingin.

“Aku bahkan tidak tau kalau Donghae adalah mantan kekasihmu.”

“Tapi kau masih tetap saja bersama dengannya kan?” hyeorin menaikkan satu alisnya.

“Aku mencintainya.”

“Me Too.” Jawabnya dingin.

“Jadi bisakah kita bersaing secara sehat?”

Hyeorin menyeringai, she will show the real her to Eunmi this day. “Absolutely, no!”

Eunmi menahan nafasnya, “kenapa?”

Hyeorin mendengus kesal, “aku pikir kau lebih tau jawabannya dari aku.”

Eunmi diam, mendengarkan. Mencoba mencari jawaban dari Hyeorin.

“Kau tau bagaimana aku mengorbankan harga diriku demi pria itu dan sekarang kau memintaku untuk bersaing sehat denganmu? Are you kidding me?”

“Im not. Aku hanya ingin Hae membuat keputusan yang adil.”

“Adil? For whom?” tanya Hyeorin dengan nada sinis

Eunmi menelan ludah.

“Jadi kau pikir, jika akhirnya sekarang Hae memilihmu kau pikir keputusannya adil? Adilkah ketika aku sudah berkorban perasaan lalu dia pergi bersamamu?”

“aku juga menahan perasaan, tiap melihat tatapan para wanita itu padaku.”

“Maka mundurlah Eunmi.”

Kedua pasang mata itu menatap satu sama lain. Ada kilat persaingan diantaranya tapi jauh di dalam retina yang memancarkan aura persaingan itu, ada secercah binar penyesalan. Menyesali mengapa harus mereka yang bersaing. Mengapa tidak yang lain saja. Hyeorin berharap Eunmi mundur, akan lebih baik jika ia menyadari kalau Kyuhyun mencintainya dan ia bersanding dengan Kyuhyun. Keduanya saling melengkapi. Bersama Hae, gadis itu akan lebih sering terluka, dia tidak tau bagaimana Donghae. Sedangkan Eunmi berharap Hyeorin memaafkan dan memaklumi keinginannya. Ia tidak pernah menginginkan sesuatu lebih dari Hae. Ia bisa merelakan semua perasaan terluka, tapi tidak dengan Donghae. Ia jatuh cinta dengan pria itu, sejak pertama. Bahkan sebelum ia mengetahui nama pria itu.

“Shireo.” Putus Eunmi, dengan suara pelan namun tegas membuat Hyeorin langsung membuka lebar matanya.

“Pardon me?”

Eunmi tersenyum, tulus, “aku akan berjuang demi dia. Apapun hasilnya. Jika kau tidak mau bersaing secara sehat, then go your way Hyeorin-ssi. Aku sudah cukup berdosa padamu, dan tidak punya hak memaksamu lagi.”

“How dare you! Who do you think you are?!”

Sekali lagi Eunmi tersenyum, “Kim Eunmi. Apa kita akan mulai tidak saling mengenal satu sama lain sekarang?”

Hyeorin mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Eunmi berdiri dari tempatnya duduk, kemudian membungkuk sejenak, “Hyeorin-ssi, jwesonghamnida. Andai ini bukan Hae, dan ini bukan cinta aku rela menyerahkannya padamu. Aku ingin tetap kita berteman, tapi seandainya kau terlalu membenciku, anggaplah aku sesukamu. Sekali lagi maafkan aku, anyeeoong.”

Eunmi kemudian membalik tubuhnya, beranjak pergi dengan air mata tergenang di pelupuk matanya. Demi apapun di dunia ia tau ia sudah mengkhianati orang yang ia anggap sebagai sahabat. Jauh dialam sadarnya ia merasa begitu berdosa, tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya.

Sepeninggalan Eunmi, Hyeorin memukul meja dengan kepalan tangannya. Air matanya meleleh tanpa bisa dibendung. Entahlah, jika mungkin ini bukan antara dirinya, Eunmi dan Hae mungkin rasanya tidak akan setertekan ini. ia menyayangi Eunmi seperti seorang orang asing yang begitu menyenangkan, kemudian menganggapnya seperti adik. Dan sekarang, ia harus bersaing dengan orang yang ia sayangi demi orang yang ia cintai?

Tidak. ia tidak akan kalah.

“How dare you Kim Eunmi, how dare you!!” Hyeorin menggertak putus asa.

Eunmi’s

Aku menarik tasku dari locker kemudian menyampirkannya di bahu kanan. Aku menyenderkan tubuhku di loker dan menghembuskan nafas. Saat inipun, rasanya bernafas berat sekali. Aku tidak pernah menyangka kalau Donghae adalah mantan kekasih Hyeorin dan itu membuatku frustasi. Sejauh ini hubunganku dan Donghae baik-baik saja. Tidak ada komitmen terlisan tentang bagaimana hubungan kami, tapi apapun itu tidak penting. Yang penting dia selalu ada disisiku. Tapi justru berada disisinya membuatku makin berdosa. Aku tidak pernah melihat tatapan Hyeorin sesinis tadi siang. Dan jujur saja, itu membuatku kaget. Aku bisa melihat kilat penuh amarah dan benci padaku, tapi aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Sekali lagi aku menghembuskan nafas keras kemudian berjalan keluar, coffee shop sudah tutup dan ini waktunya pulang. Langkahku terhenti ketika melihat siapa yang bersandar di skutterku. Aku membuang wajahku sejenak, bukan hanya hubunganku dan Hyeorin yang kacau, tapi hubungan dengannya pun juga. Kyuhyun…

Ia langsung menegakkan punggungnya saat melihatku.

Aku berjalan dengan langkah pelan ke arahnya, apa dia juga mau memaksaku lagi untuk meninggalkan Donghae?

“Kenapa wajahmu sinis sekali?” tanyanya, dengan intonasi biasa.

“Wae?” tanyaku.

“Ani. Aku hanya merindukanmu. Sudah lama aku tidak menjemputmu sepulang kerja.” Jawab Kyuhyun, dengan senyuman.

Aku memicingkan mataku, curiga dengan isi kepalanya.

Dia mengacak rambutku masih sambil tersenyum, bahkan senyumnya makin lebar.

“Jangan menatapku seperti itu. Yaa, Mi-chan aku tidak akan menculikmu.”

Mau tidak mau aku tersenyum.

“Kajja.” Dia menarik pergelangan tanganku, hendak membawaku ke mobilnya. Tapi aku menahan tangannya.

“Bagaimana kalau kita naik skutterku saja?”

“Hm?” Kyuhyun mengangkat kedua alisnya.

Aku memegang erat-erat pinggang Kyuhyun karena entah malam ini ia kerasukan pembalap dari Negara mana hingga membawa skutter-ku dengan kecepatan penuh. Aku hanya bisa memejamkan mataku kuat-kuat karena terpaan angin sangat kencang. Akhirnya Kyuhyun menghentikkan skutterku dipinggir jalan, di sebuah halte. Aku agak bingung sebenarnya, kenapa harus di halte? Tidakkah di negara ini banyak sekali taman yang indah?

Aku pasrah, mengikutinya duduk di kursi halte yang kosong.

“Kenapa kemari?” tanyaku kemudian.

Kyuhyun tersenyum, “ingat pertama kali kau mengajakku naik bus. Di halte ini.”

Aku mengangguk, aku pernah sekali mengajaknya naik bus. Memang di halte ini, aku bahkan hampir lupa pernah menyengsarakannya. Kau tau, Kyuhyun anak orang kaya mana mungkin pernah menyentuh fasilitas publik macam bus.

“Kau marah-marah waktu itu karena busnya sempit dan penuh sesak. Jadi panas.” Jawabku.

“Tapi setelah itu kau mentraktirku minuman kaleng.” Jawab Kyu.

Aku tersenyum, “itu uang jajan terakhirku.”

“Salah sendiri kenapa kau menyengsarakanku.” Jawabnya dengan senyum evil menyebalkan

“Yaaa kau harus belajar hidup sederhana! Mana bisa hidup enak terus.”

Kyuhyun tertawa kecil, “Mi-chan kapan terakhir kita melihat bintang dan membicarakan kebodohan kita? Ah tidak, kebodohanmu.”

“Yaa!!” aku memukul lengannya, dia malah tertawa.

“Been long time, right?”

Aku mengangguk.

“Kajja.” Dia menarik tanganku lagi.

“Eodi?”

Dan Kyuhyun hanya memberikan senyum evil mengerikannya. Tuhan, lindungi aku!

 

Author’s

Kedua pasang mata itu terpejam, menikmati atmosper yang mengelilingi mereka. Udara malam yang tidak terlalu dingin, lembab rebah di atas rumput, hening ditemani sayup-sayup suara jangkrik dan tenang. Sepasang mata milik Kyuhyun yang lebih dahulu terbuka kemudian melirik ke Eunmi yang masih memejamkan matanya. Sejak awal mengenal Eunmi, ia selalu ingin melindungi gadis ini. dari apapun, ia tidak akan membiarkan Eunmi terluka. Kyuhyun tidak punya alasan signifikan kenapa ia begitu protektif pada gadis ini. ia sahabatnya, dan itu kewajibannya melindungi Eunmi. Apalagi Eunmi tinggal sebatangkara.

“Yaa Mi-Chan, jangan bilang kau tertidur.” Ujar Kyu pelan.

“Anii.” Jawab Eunmim, masih tetap memejamkan matanya.

“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Kyuhyun kemudian.

Eunmi diam sejenak, “sesuatu? Ani. Aku sedang memikirkan banyak hal.”

“Mwoya?”

Eunmi tersenyum, lebih tepat menyunggingkan sebuah senyum getir yang bisa terbaca dengan jelas oleh Kyuhyun. Ia tau salah satu yang sedang dipikirkan oleh Eunmi adalah Donghae. Ia tau itu, tapi gadis itu enggan berbicara karena takut ia akan marah.

“Kalau begitu sulit bersamanya, kenapa harus bertahan?” tanya Kyu kemudian dengan suara lembut.

“Karena…. aku tidak pernah menginginkan sesuatu seperti ini, Kyu…” jawabnya lirih.

Entah kenapa seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk jantung Kyu, yang seketika membuat tatapan mata itu berubah menjadi dingin.

“Kau yakin menginginkannya?”

“Yakin.”

Kyu menelan ludah, “jadi kau akan memutuskan untuk bertahan?”

Eunmi membuka matanya dan menoleh ke arah Kyu, dua pasang mata itu kini saling menatap dengan dua cahaya yang berbeda. Sepasang mata Kyuhyun yang begitu dingin seperti badai salju dan sepasang mata milik Eunmi yang redup, penuh keraguan.

“Apa aku akan mampu?” tanya Eunmi, berbalik mengajukan pertanyaan.

Kyuhyun menarik nafas, “bertahanlah, berlarilah mengejarnya. Jika jatuh, bahkan tertimpa tangga sekalipun kau tidak perlu menangis. Aku… aku akan berdiri di belakangmu dan membantumu berdiri.”

“Kyuuu……” kini sepasang mata Eunmi sudah tergenang air mata

Kyu sendiri tidak rela sebenarnya, membiarkan Eunmi bersama Hae sama saja membiarkan gadis itu terluka. Masalahnya tidak sesederhana hanya mantan Hae yang terdahulu, tapi Hyeorin. Gadis itu akan menghalalkan cara apapun. Tapi sekali lagi, ia belum pernah melihat Eunmi menginginkan sesuatu lebih dari ini. Ia cukup jadi malaikat pelindungnya.

Kyuhyun menarik Eunmi ke pelukannya.

Eunmi menempelkan kepalanya di dada Kyuhyun. Setidaknya, ia masih punya Kyuhyun di dunia ini. walau ia sempat merasa memiliki seorang kakak bernama Hyeorin. Tapi, ia sendiri sanksi, Hyeorin masih menganggapnya ada.

You’re still my everlast stupid girl, Mi-Chan.” Ujar Kyu

Eunmi tersenyum sambil menghapus air matanya, “and you’re still my everlast guardian devil.

**

Author’s

Hyeorin dan Kyuhyun berpapasan di koridor kantor malam itu, suasana sudah begitu sepi. Keduanya sama-sama berhenti dan saling menoleh.

“Jadi, apa kau belum memberi keputusan apapun presedir?” tanya Hyeorin.

Kyuhyun menyeringai, “soal siapa? Kita?”

Hyeorin melipat kedua tangannya di depan dada, “Kita?” ia ikut menyeringai,

“We’re officially break up, karena aku pikir kita punya jalan masing-masing kan?”

Kyuhyun mengangguk setuju, “go to your own.”

Kyuhyun berbalik mendekati Hyeorin, mendekatkan wajahnya pada telinga gadis itu, “aku sedang memperingatkanmu Hyeorin-ssi, jangan sentuh Eunmi.” Suaranya pelan, namun tajam.

Bukannya takut, Hyeorin justru tersenyum, “Jadi kau memutuskan untuk tetap menjadi sahabatnya?” satu alis Hyeorin terangkat. Membayangkan betapa konyolnya keputusan Kyuhyun, membiarkan orang yang ia cintai mengejar pria lain.

Kyuhyun menjauhkan wajahnya dan berganti menatap wajah Hyeorin sambil tersenyum, “Im on the right track. Aku bukan manusia ambisius yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku cinta.”

Kemudian Kyuhyun berbalik dan berjalan menjauh. Meninggalkan Hyeorin yang kini merasa disudutkan dengan kalimat ‘menghalalkan segala cara’. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum sinis.

So what if im that type. I dont care what are you think about Mr. Cho batinnya dingin.

**

Author’s

“Klab malam? Sekarang?” tanya Eunmi tidak percaya ketika menemukan Hae sudah berdiri di depan pintu apartemen mungilnya.

Hae dengan senyum simpul mengangguk, “ada masalah?”

“Hanya saja……”

“Ayolah Eunmi, aku ingin mengenalkanmu pada teman-temanku.” Kini wajah Hae mulai tampak memohon, sebuah ekspresi yang tidak mungkin untuk Eunmi tolak.

Eunmi mengangguk pelan, walau hatinya ragu ia akhirnya menyetujui ajakan Hae malam itu.

Sepanjang perjalanan menuju klab malam, Hae tampak banyak bercerita soal teman-teman yang akan mereka temui. Sedangkan Eunmi merespon sekedarnya saja. Ia tidak begitu suka klab malam dan Kyuhyun selalu melarang gadis itu untuk pergi kesana kecuali ada Kyuhyun disampingnya. Pikirannya saat ini justru malah berkutat di Kyuhyun.

“Eunmi-ya, gwenchana?”

Pertanyaan Hae menyadarkan Eunmi, gadis itu kemudian mengangguk sambil tersenyum. Mencoba membuang pikirannya yang tidak-tidak.

“Oh yaa, sejak kapan kau mengenal Hyeorin?”

Pertanyaan itu membuat dada Eunmi seketika sesak, ia menelan ludah, “ah? Eum.. sejak beberapa bulan lalu.”

Donghae mengangguk-angguk mengerti, “apa kalian cukup dekat? Sepertinya hubungan kalian sangat baik?”

“Ne, kami cukup dekat.” Jawab Eunmi dulu, sebelum akhirnya jadi seperti ini batinnya.

Teman-teman yang dimaksud Donghae ternyata sangat diluar dugaan positif Eunmi. Bukan hanya sekumpulan pria kaya-raya yang mabuk dan suka berkata yang tidak-tidak, tapi juga beberapa wanita yang tampak bergelayut manja sesekali di lengan Donghae. Lebih membuat Eunmi gerah, Hae tampak nyaman-nyaman saja dengan gelayutan manja itu. seorang teman Hae menyodorkan segelas wine pada Eunmi. Eunmi menahan nafas, sembari tersenyum ia menggeleng.

“Hwaa… Eunmi-ssi, ini hanya sedikit. Ayolah.” Ia sedikit memaksa.

Eunmi memandang Donghae sekilas, pria itu hanya tersenyum saja. Eunmi menghela nafas kemudian menerimanya, membuat segurat senyuman di bibir teman Hae. Ternyata, sodoran gelas wiski tidak berhenti sampai disitu. Semakin lama, Eunmi semakin sulit menolak dan akhirnya ia mulai merasa setengah mabuk. Kepalanya terasa agak pusing, ditambah dentuman musik yang memekakkan telinga. Eunmi mengerjapkan matanya berkali-kali. Dengan agak terhuyung ia ijin ke kamar mandi pada Hae.

“Apa kau mau ditemani?” tanya Hae.

Eunmi menggeleng kemudian berjalan menuju ke kamar mandi.

Eunmi membasuh wajahnya beberapa kali dengan air di westafel berharap kepalanya agak ringan. Tapi sekali lagi itu bukan obat sakit kepala, sakit kepalanya tidak berkurang sedikitpun. Ponselnya tiba-tiba berdering.

Kyuhyun.

Kedua bola mata Eunmi langsung membesar. Sejenak melupakan sakit kepalanya, ia memandang layar ponselnya. Tidak, ia tidak mungkin mengangkat telfon itu dan mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mau melihat Donghae diterjang oleh Kyuhyun. Akhirnya Eunmi memutuskan untuk memasukkan kembali ponselnya, berjalan keluar kamar mandi.

“Apa sesuatu terjadi?” tanya Donghae ketika melihat wajah Eunmi yang tampak gusar.

Eunmi menggeleng sambil tersenyum ragu yang hanya dibalas dengan senyuman dan kecupan di keningnya. Yang kali ini sama sekali tidak bisa menenangkan hati Eunmi. Kemarin, ketika mendengar Kyuhyun akhirnya mendukungnya, hatinya cukup lega. Tapi kemudian ia dihadapkan pada teman-teman Donghae yang seperti alien yang entah datang darimana, ia merasa lingkungan ini sangat berbeda. Atau mungkin Eunmi-lah yang alien?

Sepanjang malam dihabiskan Eunmi dengan pikiran melayang-layang ke arah Kyuhyun. Ia tau, saat ini pria itu pasti sedang mengkhawatirkan dirinya.

 

Dan benar saja, di rumahnya Kyuhyun tampak tidak tenang. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Eunmi tapi tidak ada jawaban baik ditelfon maupun pesan.

“Kyuhyun-ah gwenchana? Kau terlihat khawatir?” tanya Ny. Cho, yang dari tadi melihat anak laki-lakinya mondar-mandir memandang layar ponselnya dengan tatapan gusar.

“Eoh? Mmm.. Eunmi, tidak bisa dihubungi.” Jawab Kyuhyun.

“Jinjaro? Apa sesuatu terjadi? Atau mungkin dia sedang bekerja? Ani, ini sudah larut malam. Kemana dia?” tanya Ny. Cho beruntun dengan nada khawatir.

“Molla.” Jawab Kyu pendek sambil menggenggam ponselnya dan memandang khawatir lurus ke depan.

“Atau mungkin dia sudah tidur? Besok saja coba kau hubungi dia lagi.”

Kyuhyun menoleh ke arah ibunya dan mengangguk beberapa kali, “nee. Eomma, aku ke kamar dulu.”

“Ne, sudah malam. Kau tidurlah.”

Di dalam kamarnya, Kyuhyun masih tidak bisa tidur. Dengan gelisah ia membolak-balik tubuhnya. Entah mengapa meyakini Eunmi malam ini, jam begini terlelap di tidurnya tidak membuatnya yakin. Padahal dia yang membuat hipotesa seperti itu atau lebih tepatnya mensugesti bahwa Eunmi baik-baik saja. Tapi tetap saja sekarang dia tidak bisa tenang.

“Lima belas menit lagi kau tidak meresponku, aku akan melompat ke tempatmu.” Gumam Kyu pelan sambil memandang layar ponselnya.

Sayangnya, 10 menit kemudian Eunmi membalas pesannya.

 

Ada apa Kyu? Aku hampir tertidur tadi. Aku lelah sekali.

Jika kau ingin memastikan keadaanku, aku baik-baik saja

Atau kau merindukanku?😀

 

Kyuhyun menghela nafas kemudian hanya membalas pesan itu, mengingat Eunmi menuliskan kata lelah. Mungkin ia banyak pekerjaan seharian. Atau mungkin baru saja melewatkan waktu dengan Donghae?

 

Eomma mengadakan pesta pernikahan lusa

Kau harus datang..

 

Kyuhyun kemudian menghela nafas, tadinya ia berharap Eunmi tidak membalas pesannya sehingga ia bisa menemui gadis itu dan punya alasan untuk mengkhawatirkannya.

**

Hyeorin’s

Sekali lagi aku mengecek proposal program yang akan aku ajukan ke Executive produserku, akhir-akhir ini pekerjaanku sedang sangat menumpuk. Begitu aku yakin tidak ada yang salah dan semua kalimat sempurna, aku menutup proposal itu dan berjalan keluar ruangan. Baru akan menekan handle pintu, tiba-tiba saja pintu ruanganku terbuka dan Gae In menerobos masuk begitu saja seperti biasa tanpa permisi. Aku menghembuskan nafas keras, kesal dengannya karena menganggetkan.

“Serously Gae In, kau seperti tidak pernah belajar tata krama!” Rutukku kesal

Gae In menatapku justru dengan tatapan kesal, jadi kenapa seolah aku yang berbuat salah kepadanya?

“Now what?” tanyaku kemudian dengan satu alis terangkat.

“How could you let Donghae go with those ridiculous girl?” tanya Gae In, tajam dan seketika membuat tenggorokanku tercekat.

“What do you mean?” aku memilih pura-pura tidak tahu.

“Stop pretend that you dont know everything Hyeorin! I bet you know more than anyone know.” Jawab Gae In.

Aku menghela nafas, “I knew, then what should i do?”

“HWHAAAT?!! Are sure? Kau menyerahkan Lee Donghae-mu itu pada gadis biasa-biasa saja yang bahkan tidak…..”

“Tidak apa?” kini tatapanku tajam memandang Gae In. Entahlah, aku tidak ingin dia melanjutkan kalimat penghinaannya untuk Eunmi karena memang kenyataan aku lebih baik dari Eunmi dan lebih pantas bersanding dengan Donghae, atau karena tidak rela karena bagaimanapun Eunmi dan aku pernah berteman baik.

Gae In gentian yang menghela nafas, “stop play girl. Aku tau kau setengah mati mencintai Donghae, i just want to know your reason.”

Aku menghembuskan nafas sambil melipat kedua tanganku di depan dada, “im too busy to do casual conversation, Gae In-ssi. So, gimme a way.”

Akhirnya Gae In menyingkir dan memberikan jalan padaku, ia tau betul kalau aku benar-benar malas membahas hal absurd semacam ini. aku sempat meliriknya sedikit dan paham betul kalau sebenarnya dia masih ingin membahasnya. Tapi dengan dagu yang agak diangkat aku berjalan menuju ruangan atasanku. Aku belum mau merecoki moodku yang sedang high-temperature untuk bekerja dengan masalah percintaan. Aku akan menyelesaikannya dan bersumpah akan mendapatkan Lee Donghae lagi.

**

You turn my whole life so blue, drowning me so deep

I just cant reach my self again…

 

Eunmi’s

Aku baru saja hendak keluar dari tempat kerjaku dan menghampiri skutter-ku ketika tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku kasar dan membuatku membalik badan. Di depanku, seorang wanita dengan paras cantik tanpa cela klan Hyeorin menatapku dengan garang. Hei, siapa dia? Aku merasa tidak pernah mengenalnya

“Who do you think you are?” tanyanya tajam. Pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan padanya karena sudah berani berlaku tidak sopan padaku.

“Eunmi, and you?” tanyaku dingin.

Dia tersenyum sinis, “kau terlalu sederhana dan tidak pantas disandingkan dengan Hae. Sebaiknya kau tinggalkan dia atau hidup sederhanamu akan berubah menjadi rumit, Eunmi.” Nada suaranya mengancam.

Jadi dia mantan Hae? Mantan pacar? Atau mantan sekedar teman kencan yang begitu memuja Hae?

“Kenapa?” tanyaku, masih dengan nada datar walau sebenarnya gejolak di dadaku sudah tidak bisa aku tahan.

“Karena kau akan berurusan denganku. Jadi sebelum kau tau bagaimana aku akan membuat kerumitan pada hidupmu, sebaiknya kau tinggalkan Hae.”

“Apa kau sangat mencintainya?”

“More than you know.”

Aku kemudian menepis tangannya dari lenganku, “kita di posisi yang sama. Jadi, mari bersaing dengan sehat. Aku tidak akan meninggalkannya begitu saja.”

Aku tersenyum simpul kemudian membalik badanku hendak pergi meninggalkannya. Tapi kemudian aku merasakan tangan gadis itu menarik rambutku dengan brutal membuatku mundur beberapa langkah dan kembali menghadap wajahnya, kali ini dengan jarak lebih dekat.

“Aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku. Jadi, jangan berharap Hae adalah permainan. See?” dia melepaskan rambutku kemudian pergi begitu saja.

Meninggalkan aku yang membeku, antara panik-takut-sakit hati dan sesak nafas. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, tapi sebulir air mata mengalir kemudian. Jadi, inikah fase nyata yang harus aku hadapi setelah berkomitmen dengan Donghae. Hyeorin, lingkungan Hae dan sekarang mantan kekasihnya? Lalu siapa lagi yang akan masuk? Bisakah aku bertahan?

 

Hyeorin’s

Aku memperhatikan langkah Nayoung yang masuk ke mobilnya setelah melabrak Eunmi yang menurutku dengan cara yang cukup masuk dalam kategori bar-bar. Nayoung adalah mantan Hae, yang merupakan salah satu sainganku dulu. Tidak hanya secara fisik, tapi juga karier. Kariernya di dunia catwalk begitu cemerlang di Milan. Aku dengar dia kembali ke Seoul kemarin, dan menurutku ini adalah sebuah kesempatan. Memberi taunya siapa pacar Hae saat ini dengan nada dingin berhasil membawanya dengan cepat menemui Eunmi. Aku tidak dengar setiap kalimat yang tadi dilontarkan oleh Nayoung, gadis cantik dengan emosi kacau itu, tapi yang jelas dia mengintimidasi Eunmi lebih dari yang aku harapkan. Aku bisa bayangkan bagaimana kacaunya hati Eunmi sekarang, aku pernah merasakan dilabrak seorang Nayoung. Tapi waktu itu, dia tidak menyentuhku. Kami saling melempar serapah dalam suasana yang dingin, tapi akhirnya dia mengalah mengejar karirnya. Mendapat kenyataan bahwa aku tidak lebih rendah darinya, mungkin salah satu alasan ia menitipkan Hae-nya itu sejenak padaku. Tapi Eunmi, dia tidak melawan. Dia hanya mematung sekarang, masih di tempatnya berdiri. Ada sejumput luka yang mencubit hatiku ketika melihat Eunmi. Bagaimanapun, dia pernah menjadi sahabatku. Tapi Hae, membuatku menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Dan Eunmi, kau sudah pernah aku peringatkan untuk mundur tapi kau begitu keras kepala. Aku menghela nafas     , semoga dengan cara ini Eunmi akan meninggalkan Hae. Maafkan aku Eunmi-ya…

**

i know it’s been long-long-long time since the last time i posted this ff. mianhaeee~~ tugas kampus beberapa bulan terakhir ini benar-benar menyita casual-time ku dan akhirnya baru bisa ngepost ini *bow*. wish you enjoy read this one readers. love ya :*