Image

Jieun semakin pusing dalam mengatur waktu. Bukannya dia malas, tapi dia terlalu lelah dengan aktivitas sederhananya yang padat.

Padahal ia cuma butuh waktu untuk sekolah dan bekerja part time, tetapi rasanya letih sekali. Yang menjadi masalah adalah, waktunya terlalu padat dan menyita waktu istirahatnya.

Jieun terkantuk kantuk mendengar penjelasan guru sejarah yang baginya selalu tidak menarik untuk dipelajari. Jieun benci sejarah. Segala tentang masa lalu ia benci. Itu alasan mengapa ia membenci sejarah.

Sudah beberapa kali dia menguap menunggu bel pulang tiba. Ia mengetuk-ngetuk pensil ke meja, lalu mencoret-coret asal dibelakang buku tulis sejarah. Aktivitas yang sering ia lakukan jika pelajaran yang tidak asyik hadir.

“Jieun, kau tidak mencatat?” tanya Eunji, teman sebangkunya.

Dengan muka malas Jieun berkata,“Aku malas. Kau tahu kan betapa bencinya aku pada sejarah?” jelas Jieun dengan nada halus.

“Huh dasar kau! Tapi bentar lagi akhir ujian tiba lho!” Eunji memperingatkan.

“Ah~ kau kan teman yang baik…” ucap Jieun dengan cengiran lebarnya

Eunji hanya mengernyit bingung.

“Ah kau pasti mengertikan maksudku? Jangan pura-pura bodoh deh~ Hehehe…” goda Jieun dengan muka merayu. Eunji hanya mendengus tawa.

“Nanti aku pinjam catatan kamu aja ya Eunji, boleh kan?” tanya Jieun memohon.

Eunji hanya mengangguk.

Eunji memang bertolak belakang dengan Jieun. Eunji rajin, Jieun kurang rajin (kadang rajin juga). Eunji pendiam, Jieun sangat bawel. Eunji selalu datang sebelum bel, Jieun sering datang telat (mungkin faktor kurang waktu istirahat). Tetapi dari perbedaan kontras tersebut, mereka malah dapat berteman dengan baik, saling menguntungkan dan mengisi satu sama lain.

“Baiklah tugas paper kalian saya tunggu minggu depan. Tidak ada yang mengumpul kan lewat deadline. Ini tugas sebagai nilai tambahan kalian. Sampai jumpa minggu depan.”

“Yeaaaaaay akhirnya bel juga!” sorak Jieun. Eunji hanya menghela melihat tingkah Jieun. “Kau langsung pulang Eunji?” tanya Jieun sembari membereskan mejanya.

“Huh tidak. Aku ada les biola. Kau langsung ke toko? Bareng aku saja. Aku dijemput kok.”

“Yeaaaaaay, mau mau!!! Lumayan irit ongkos hehehe.” Jieun mengiyakan tawaran Eunji. Jieun memang selalu senang jika medapat tawaran tumpangan.

“Oke. Yuk keluar.” Eunji berjalan keluar kelas yang dibuntuti Jieun dengan muka ceria.

Ceria setiap saat. Pasti, bagi Jieun yang periang.

***

Jieun melangkah memasuki toko dan melihat seorang lelaki dengan kaus hitam polos dan jeans yang terlihat sudah mengusam duduk di pojok toko. Dengan kacamata berframe hitam tebal ia membaca koran dengan mimik serius.

“Kau terlambat lima menit Jieun. Ayo ganti bajumu, nanti keburu nyonya besar lihat dan marah!” peringat Minji.

“Heh? Oh iya iya, aduh jadi bengong gini hehehe…” Jieun segera tersadar dan langsung bergegas ke ruang ganti.

“Lelaki itu terlihat kaku sekali.” Bisik Jieun dihati.

Tak mau berpikir panjang tentang lelaki yang terlihat kaku itu, ia segera menuju lokernya dan berganti pakaian.

***

Jieun sudah satu jam duduk dibelakang kasir dan sudah satu jam pula ia terkatuk-katuk bosan menunggu pembeli. Dari tadi, ia hanya memindah-mindah saluran TV yang ada di sudut atas toko dengan muka bosan. Acara hari ini sama bosannya dengan aktivitasnya.

Ia berdiri menuju pantry, berniat membuat kopi agar tidak ngantuk. Tetapi niatnya harus jeda sejenak setelah ia melangkah dua kali. Lelaki dengan baju hitam itu memanggilnya dari pojok toko.

“Noona, saya pesan secangkir expresso dengan dua cupcake specialnya hari ini ya.”

Jieun menanggapinya singkat, “Baik, silahkan tunggu.”

Lalu Jieun meneruskan langkahnya ke pantry.

***

“Minji, ada yang pesan expresso sama dua cupcake special hari ini.” Teriak Jieun ketika memasuki pantry.

“Baiklah~”

Oh iya, lelaki dipojok toko itu dari tadi di sini ya?” tanya Jieun meraih gelas serta mengambil sebungkus kopi di laci dapur.

“Iya, sebelum kamu datang dia sudah ada. Kenapa memang?”

“Oh tidak apa-apa. Dia sudah  pesan makanan berapa kali?” Jieun kembali bertanya sembari menyeduh kopi.

“Baru sekali. Kenapa pertanyaanmu tidak penting sekali Jieun? Nih lebih baik kamu antarkan pesanannya.” Minji menyodorkan nampannya pada Jieun

Jieun menyeruput kopinya perlahan lalu meletakannya di meja bundar mungil dekat sofa, “Baiklah, berarti ini pesanan kedua dan dia sudah terlalu lama di sini. Dasar!”

“Apa hubungannya?”

“Tidak ada sih, hehehe…” kekeh Eunji yang segera keluar dari pantry.

***

“Ini satu cangkir expressonya dan dua black cupcake special hari ini, selamat menikmati.” Jieun meletakan nampan di meja lelaki itu lalu kembali ke tempatnya. Sebelum ia sampai ke tempatnya, lelaki itu berkata lagi, “Saya pesan cupcake rainbow ya untuk besok.”

“Apa?”  Jieun berbalik tak mendengar ucapan lelaki itu

“Saya pesan cupcake rainbow untuk besok.”

“Oh maaf tuan, setiap hari jadwal tema cupcake telah ditentukan. Jadi kalau tuan mau pesan untuk besok, seharusnya dari jauh hari. Maaf tuan, kalau lusa pasti cupcake yang tuan pesan ada. Bagaimana? Setuju?”

“Kenapa harus seperti itu peraturannya?”

“Ya karena itu perintah nyonya besar. Kami kan hanya pelayan, usul kami paling hanya ditampung semata. Keputus berjualan ada ditangan nyonya besar.”

“Tidak bagus sekali.”

“Apanya yang tidak bagus?” tanya Jieun bingung.

“Peraturannya. Jadi hari ini tema cupcakenya hitam? Iya?”

“Iya, anda bisa liat kan di rak kue dihiasai cupcake warna hitam. Biarpun berwarna hitam tetapi rasanya manis.” Jelas Jieun dengan senyum selebar mungkin.

“Kenapa harus hitam? Hitam itukan lambang berkabung. Cupcake itu kan harus ceria.” Lelaki itu mengeluarkan omongannya bertubi-tubi membuat Jieun ingin melempar kursi kayu disebelahnya   ke arah lelaki kacamata hitam itu.

“Ya karena  ada saatnya dibalik kesenangan ada kesedihan.” Jieun menjelaskan arti cupcake hitam tersebut. Jieun seketika bangga dengan alasannya yang terlihat logis.

“Itu alasan kamu apa memang dari awal begitu?”

“Lelaki ini bawel sekali ya!!!” bisik Jieun dalam hati. Jieun mengatur napasnya sabar lalu berkata, “Itu dari pemikiran saya sendiri. Logis kan? Hehehe…”

Lelaki hanya meresponnya mengangguk. Pertanyaan yang dilontarkan daritadi sama sekali tidak ada pentingnya.

Setelah beberapa detik hening, lelaki itu mengangkat korannya kembali. Jieun mendengus melihat tingkah lelaki itu, lalu ia kembali berniat ke pantry.

“Aku pikir aku butuh istirahat.” pikir Jieun.

***

“Minji, kau gantian denganku, ya? Kau jaga toko. Aku lelah sekali. Daritadi kau istirahat terus. Makan gaji buta itu namanya!” cerocos Jieun.

“Hehehe maaf ya, tadi aku habis praktik jahit di sekolah. Melelahkan sekali. Mataku sampai pegal melihat. Hahaha baiklah aku ke depan.”

“Dan kalau lelaki itu bertanya padamu, kau harus bersabar. Karena tadi ia bertanya padaku dengan pertanyaan yang tidak penting sekali. Lelaki tidak jelas memang menjengkelkan.” Jieun menasihati Minji.

“Hahaha kau marah-marah saja, namanya juga pembeli kadang memang tidak jelas. Istirahat sana, biar marah-marahnya hilang hahaha….” ledek Minji lalu ia segera keluar pantry.

Jieun hanya mendengus.

***

“Hari ini sepi pelanggan ya? Cuma lima orang sudah termasuk Donghae tadi.” Kata Minji sambil membereskan lokernya. Sekarang waktunya mereka untuk kembali ke rumah. Waktu yang paling ditunggu-tunggu Jieun untuk merenggangkan ototnya yang sangat pegal.

Jieun mengernyitkan dahinya, “Hah? Siapa? Donghae? Siapa dia?” tanya Jieun bingung.

“Itu lelaki yang kamu bilang nggak jelas.”

Jieun berpikir sejenak, “Oh lelaki yang berbaju hitam terus berkaca mata bukan?” tebaknya.

“Iya. Kamu kenal dia kan?”

“Hah kenal? Nggak! Aku baru liat dia tadi doang. Kok kamu bisa bilang begitu?”

“Lho serius? Tadi lelaki itu bilang kamu sombong sekali, sudah lama tak bertemu jadi banyak berubah. Makin bawel dan makin manis katanya. Terus dia suruh bilang sampaikan salamnya padamu. Katanya namanya Donghae. Pasti kamu kenal, tapi kamu lupa, coba ingat-ingat lagi!” cerocos Minji.

“Ah serius aku belum pernah ketemu sebelumnya. Ih dia memang lelaki yang aneh ya. Jangan-jangan dia punya penyakit jiwa, ih mengerikan sekali!  Awas saja kalau besok datang lagi!” kesal Jieun.

“Hahahaha jangan begitu, dia itu pembeli. Tetap harus diharapkan buat datang.” Nasihat Minji. Jieun hanya menghela sabar.

Siapa sih lelaki itu? Aneh sekali. Sepertinya ia menyebalkan. Huh!” keki Jieun dalam hati.

BERSAMBUNG.

Created by: Fince♥

Note:  Don’t be silent reader guys 😀 If you’ve to read this, please leave a comment for this story. I need your comment to fix the trouble in my story. Thank you :]