The-Party-Wallpaper

Tittle: The Party || Genre: Romance, Friendship || Length: OneShot || Rating: PG-13 || Main Casts: Lee Chaerin (2NE1), Kwon Ji Yong (BIGBANG)

Disclaimer: Plot murni dari author sendiri. Casts milik diri mereka sendiri dan Tuhan YME.

We didn’t think about it. Just have fun and get drunk, but it’s getting more serious when those lips… those lips…

.

The Party

by rahinalollidela

Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika dentuman musik itu masih terus memenuhi penjuru ruangan. Gelak tawa tak henti-hentinya terdengar diiringi suara benturan gelas sesekali. Satu dari beberapa apartemen di Distrik Gangnam tampak masih terang dengan sejuta kebahagiaan terpancar di sana.

“Aku sangat merindukan kalian,” terdengar seorang gadis berseru di antara kerasnya dentuman musik di apartemen kedap suara itu. Gadis berambut strawberry blonde itu bernama Chaerin, tengah menyunggingkan senyum bahagianya yang karismatik seperti biasa.

“Aku hampir tidak bisa bersenang-senang selama di Paris tanpa kalian,” sahut seorang pemuda berambut platinum blonde. Ji Yong.

“Ayolah! Lupakan masa lalu dan kita bersenang-senang hari ini!”

Ditambah Dara, Yongbae, dan Seunghyun, remaja-remaja itu berpesta-pora tanpa ampun. Di atas awang-awang, melampaui jauh kesadaran mereka, membiarkan gelak tawa tak terhenti sedetik pun hingga suara mereka tercekat. Dentingan gelas berkali-kali terdengar, bahkan Ji Yong tak lagi membutuhkan gelas karena ia putuskan untuk menenggak langsung wine atau beer dari botolnya.

Jam menunjukkan jam dua pagi. Hanya tersisa dua insan di sana, Ji Yong dan Chaerin. Keadaan mulai tenang ketika dentuman musik tak lagi terdengar.

“Kepalaku pusing,” keluh Chaerin sembari mengernyitkan dahinya dan menuang kembali segelas wine, sebelum Ji Yong menahannya.

“Jangan lagi! Kepalamu akan semakin pusing, Chae-roo,” ucap laki-laki itu sembari dengan gontai menyingkirkan botol wine dari tangan Chaerin.

“Bagaimana bisa beberapa botol wine bisa memabukkan? Itu kan hanya wine,” gumam Chaerin sembari menghempaskan tubuh lemasnya ke sofa. Ji Yong hanya tersenyum. “Oppa, apa kau tahu seberapa berat hidupku?”

Ji Yong mendongakkan kepalanya, menatap dalam mata kucing Chaerin yang mulai tak terfokuskan. “Seberapa berat? Seberapa berat, Sayang?”

“Apa? Kau memanggilku ‘sayang’? Itu cukup membuatku terbebas dari hidup berat,” ucap Chaerin. Tentu saja mereka berdua dalam keadaan mabuk. “Selama kau di Paris, selama kau tak ada, aku keberatan.”

Ji Yong melangkah, mendekati Chaerin dan duduk di sampingnya. Tangan laki-laki itu merangkul pundak Chaerin, terasa sangat hangat dan menenangkan. “Apa? Kenapa?”

“Aku! Aku… aku membutuhkanmu!” seru Chaerin.

Ji Yong menatap sendu wajah Chaerin. Tanpa sadar wajah mereka semakin berdekatan, benar-benar dekat. Chu~

***

Next morning…

Chaerin masih berjalan hilir-mudik di dekat jendela apartemennya. Kedua tangannya memegang secangkir teh hangat. Dahinya terus berkerut sementara ia sendiri terus menggigit-gigit bibir bawahnya. Gadis itu masih belum bisa mengingat apa-apa sejak setengah jam yang lalu ia sadar bahwa ia terbangun dari tidur dengan kepala yang benar-benar pusing. Gadis itu tahu bahwa semalam ia mabuk berat, tapi ia tak ingat mengapa, dengan siapa, bahkan di mana.

“Dara Eonnie?” gadis itu memutuskan untuk menghubungi Dara.

“Ada apa? Kepalamu masih sakit, Chae? Kepalaku sangat berat,” tanggap Dara dengan suara nyaring keibu-ibuannya.

Chaerin mengernyitkan dahinya. “Jadi semalam aku minum denganmu?”

“Chaerin, kau tidak ingat? Berapa banyak yang kau minum dengan Ji Yong setelah aku dan yang lainnya pergi, ha?”

Chaerin lebih mengernyitkan dahinya. Ji Yong? Gadis itu tersentak oleh pikirannya sendiri. Ia mengingat semuanya. Bahkan ia mengingat bibir itu…

“Eonnie, aku sudah ingat. Terimakasih dan sampai jumpa!” Chaerin menutup dan membanting ponselnya ke sofa. Gadis itu segera mengacak-acak rambutnya.

Apa yang telah kulakukan? Lee Chaerin, kau bodoh! Tak peduli seberapa pun kau mencintainya, kau tidak boleh melakukan apa pun sesukamu! Lee Chaerin, bagaimana kalau ia menjauh?! Kau mau menanggungnya?! Lagipula apa setelah ini kau berani bertemu dengannya? Ini bisa menjadi pertemuan terakhir kalian, Lee Chaerin!

“Ya, Tuhan, apa yang telah kulakukan?” lenguh Chaerin. Gadis itu menatap kasar ke arah ponselnya ketika ponsel itu berdering nyaring. Ji Yong. Chaerin menggigit bibir bawahnya, ragu tentang apa pun yang akan ia lakukan dan akibatnya. Bagaimana pun juga tangan gadis itu tetap bergerak dan secepatnya menekan tombol hijau di ponselnya.

“Ji… Ji Yong Oppa?” tanggap Chaerin. Ya, Tuhan, bahkan gadis itu nyaris kehilangan karismanya.

“Chaerin, tentang… eungh… tentang tadi malam itu…-“

“Oh, tidak. Maafkan aku. Aku sungguh tak bermaksud menciummu. Aku sedang mabuk. Tidak ada unsur apa-apa dalam ciuman itu, jangan dipikirkan! Maafkan tindakan bodohku!” ucap Chaerin secepat mungkin yang ia bisa.

Ji Yong tak bersuara, hanya terdengar desahan kecil di sana. “Oh, begitu? Baguslah.”

Chaerin terdiam. Baguslah? Ha! Tentu saja, Chaerin. Dia tidak memiliki perasaan padamu.

“Sebenarnya ada hal lain,” Ji Yong terdiam sejenak. “Aku… Lima belas menit lagi pesawatku akan lepas landas ke Perancis. Aku… aku akan tinggal di sana untuk beberapa tahun.”

Chaerin tersentak. Kenapa tiba-tiba? “Perancis?”

“Ya. Aku akan bekerja sebagai editor majalah fashion di sana. Eungh… me-menyenangkan, ya? Cita-citaku tercapai,” Ji Yong memperjelas.

Di sini, Chaerin tersenyum, pahit. “Benarkah?” Chaerin berhenti sejenak. “Selemat!” gadis itu berhenti lagi. “Sampai… kapan?”

“Sepertinya… aku tidak akan kembali.”

Chaerin terpaku. Tidak akan kembali. “Begitu, ya? Oh… Bagaimana pun juga aku turut senang. Kita… akan bertemu lagi, kan?”

“Tentu saja. Oh, aku harus pergi. Sampai jumpa kapan-kapan!”

Chaerin masih menempelkan ponsel ke telinganya meski bunyi sebagai tanda sambungan terputus sudah terdengar. Senyum gadis itu memudar, digantikan oleh sebulir air mata suci yang mungkin akan menjadi penutup kisah cinta mereka yang bahkan tak semanis setitik gula.

***

Five years later…

“Lee Chaerin!!!”

Chaerin menolehkan kepalanya ke belakang, lalu tersenyum lebar. Biji mata gadis itu menangkap dua insan tengah berjalan ke arahnya dengan senyum bangga mengembang. Dara dan Yong Bae, dan anak mereka.

“Kau cantik sekali!” puji Dara ketika kedua lengannya memeluk erat pundak Chaerin.

“Terimakasih, Eonnie.”

“Tak kusangka hari ini kau akan menikah,” ucap Dara sembari memandangi Chaerin yang berbalut gaun putih panjang. Gadis itu akan menikah. Lee Chaerin akan menikah.

“Selamat, Lee Chaerin!” ucap Yong Bae. Chaerin hanya tersenyum kecil. Chaerin masih memikirkannya. Oh, tidak. Gadis itu belum bisa melupakannya.

“Permisi sebentar,” Chaerin menjauhkan dirinya ketika menyadari ponselnya berdering lama. Ia tak mengenali nomor itu. “Halo?”

“Lee… Chaerin?”

Dalam sekejap Chaerin membelalakkan matanya. Suara itu… Chaerin merindukannya. Hatinya luluh seketika. Bagaimana bisa hanya sepenggal suara menyebut namanya bisa membuatnya terlena. Tidak, Chaerin, kau akan menikah. Lupakan!

“Ji… Ji Yong Oppa?” gadis itu masih gemetaran.

“Apa kau sibuk? Aku sedang di Korea. Bisa bertemu sebentar?”

Chaerin mengedarkan pandangannya. Tidak ada siapa pun. Bolehkah ia? Tapi gadis ini akan menikah.

“Di… mana?”

“Di kafe tempat kita pertama kali bertemu.”

Chaerin segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Gadis itu berlari kencang dengan balutan gaun pengantin mahal dan riasan yang sempurna. Sungguh orang-orang memandangnya sebagai wanita yang berbahagia. Tapi tidak. Gadis itu sebenarnya tidak bahagia. Bukan dengan Seungri ia ingin menikah. Ia mencintai seseorang lain. Seseorang lain yang sedang ditujunya.

“Ji Yong Oppa!” seru Chaerin sembari berlari kecil menghampiri sosok idamannya yang tengah berdiri menyambutnya di halaman depan sebuah kafe. Memang kafe itu tak terlalu jauh dari gereja.

“Chaerin, kau…?”

“Aku… aku akan menikah,” ucap Chaerin sembari tersenyum pahit. Kenapa ia masih tak bahagia?

“Benarkah? Selamat. Aku mencarimu untuk memberikan ini,” Ji Yong mengajukan sebuah kotak kecil. Chaerin hanya menerimanya, tak sedikit pun ia mengapresiasi hadiah yang Ji Yong berikan.

Chaerin terdiam. “Apa hanya ini?” tanya gadis itu.

“A… apa?”

“Apa hanya ini alasan kau mencariku?” Chaerin memperjelas pertanyaannya.

Ji Yong tertegun, terdiam, berpikir. “Bagaimana denganmu? Apa alasanmu menciumku waktu itu?”

Chaerin tersentak. Ia benar-benar tak sanggup untuk mengelak. “Itu… itu… eum… Hmmph!”

Waktu, kumohon berhentilah. Jantungku tak sanggup lagi berdetak. Apa yang harus kulakukan? Laki-laki ini… menciumku. Apa kami akan bersama? Atau… ciuman ini pun akan menjadi pertemuan kami yang terakhir kali pula? Waktu, kumohon berhentilah! Biarkan begini saja. Aku ingin tetap bersamanya.

-END-