Bittersweet

Tittle: Bittesweet || Genre: Romance, Family, Friendship || Length: Ficlet || Rating: PG-13 || Main Casts: Park Sandara (2NE1), Dong Yong-Bae (Taeyang of BIGBANG). Kwon Ji Yong (GD of BIGBANG)

Disclaimer: Plot murni dari author sendiri. Casts milik diri mereka sendiri dan Tuhan YME. Apa bila terjadi plagiarisme, harap segera laporkan kepada author via twitter @ScarecrowRahina atau melalui komentar pada FF ini. Credit pic: in pic

Notes: Apa bila terjadi plagiarisme, harap segera laporkan kepada author via twitter @ScarecrowRahina atau melalui komentar pada FF ini. Read, Like, Comment! Selamat membaca!

Karena bermain peran selalu beresiko besar

Maka begini kita berakhir

Untuk saat ini,

Aku mencitaimu,

Hanya itu yang kupikirkan dan kupedulikan

.

Bittersweet

by rahinalollidela

Dara melangkah santai menuruni tangga menuju meja makan. Gadis itu tersenyum simpul, merespon wajah ceria dari orang tua dan adik laki-lakinya yang tengah menunggu.

“Selamat pagi! Maaf, aku terlambat bangun,” ucapnya dengan lembut sembari mengambil posisi duduk di sebelah Cheondung, adik laki-laki.

“Tidak apa-apa, lagipula ini Hari Minggu.”

Sarapan pagi itu begitu menyenangkan bagi Dara, entah mengapa. Gelak tawa di ruang makan yang biaanya dilarang di kalangan keluarga terhormat seperti mereka kini dibiarkan terdengar keras. Bahkan Cheondung berani memamerkan lelucon nakalnya yang dulu hanya diketahui Dara.

“Apa semua sudah selesai makan? Karena kita harus bicara,” Nyonya Park meletakkan sepasang sumpitnya. Dara dan Cheondung mengangkat sebelah alis sementara Tuan Park hanya tersenyum.

“Apa kita akan mengikuti acara amal seperti minggu lalu?” tanya Cheondung.

Nyonya Park menggeleng. Wanita dengan rambut disanggul ringan itu tersenyum. “Tidak kah kita pikir sudah saatnya Dara menikah?”

Cheondung membulatkan matanya dan menoleh ke arah Dara. Dara yang tahu maksud adiknya itu hanya mengernyitkan dahi.

“Ya, tentu saja,” ucap Dara, ragu.

Nyonya Park semakin antusias. “Ibu senang kau menganggapnya serius, Dara. Mungkin… ada laki-laki yang kau rasa cukup pantas menikahi putri cantikku ini? Ibu tak akan keberatan bila ia memang pantas.”

Dara baru akan membuka mulutnya ketika di bawah meja tangan Cheondung meremas erat tangannya, mengingatkan Dara akan suatu hal. “Sebenarnya ada,” Dara berucap pelan. “Tapi aku akan bilang pada ibu kalau aku sudah cukup mengenalnya. Aku belum dekat dekat dengan laki-laki itu. Jadi, ibu tak perlu mencarikan orang lain,” lanjutnya, berbohong.

“Benarkah?” Nyonya Park tersenyum senang. Kini ia menghadapkan wajah ke anak keduanya. “Kau mengenalnya, Cheondung?”

Cheondung tersenyum kecil masih ragu-ragu. Ia melirik sejenak ke arah Dara, lalu berkata, “Iya. Dia sangat baik.  Latar belakang keluarganya juga mendekati sempurna. Aku sangat dekat dengannya karena ia sering mengajariku mengolah vokal. Hyung itu punya suara emas.”

Dara menoleh ke arah Cheondung dan membulatkan matanya.

“Benarkah begitu, Dara?” Dara kembali menolehkan wajahnya ke Nyonya Park dan tersenyum.

“Ah, iya.”

.

Will I be able to be with him?

Like my heart asked me to?

.

“Aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Cheondung. Apa yang salah di matamu tentang Ji Yong?”

Dara terus hilir-mudik di ruangan pribadinya.

“Aku tidak pernah berpikir bahwa Ji Yong hyung tidak pantas untuk nuna. Aku pikir kalian cocok. Tapi pandangan ibu berbeda,” ucap Cheondung. Laki-laki itu tak juga berhenti mengernyitkan dahi.

“Ada apa dengan pandangan ibu? Apa dia punya level tersendiri, ha?” Dara kini memutuskan untuk duduk di dekat jendela. Menghembus kesal.

“Nuna ini sebenarnya anak siapa? Apa nuna lupa bagaimana ibu menolak mentah-mentah pacar modelku dulu? Ia bahkan diusir oleh security,” Cheondung sedikit memaksakan ucapannya. Sungguh, adik laki-laki ini tidak ingin melihat kakak perempuan satu-satunya mengalami kisah tidak menyenangkan yang dulu dialaminya.

“Pantas saja kalau ibu menolaknya. Dia seorang model dan dunia modelling sangat mendekati pelacuran, Cheondung. Tapi Ji Yong tidak seperti itu,” Dara membantah.

“Nuna pikir ibu akan menerima Ji Yong hyung? Laki-laki itu? Nuna tahu bagaimana hidupnya. Musik hip-hop, kelab malam, pesta pora, wine, beer, kau pikir ibu menyukai hal itu?” Cheondung memutar bola matanya. “Dan jangan samakan Ji Eun dengan pelacur!”

“Aku tidak pernah bilang kalau Ji Eun sama dengan pelacur, kan?” Dara terdia sejenak, menerawang jauh ke belakang saat ia dan gadis manis yang seharusnya menjadi adik iparnya sedang bercanda. Mereka sangat dekat hingga Dara benar-benar ingin Cheondung menikah dengan gadis itu. “Ji Eun adalah gadis yang baik.”

“Cukup! Masalahnya adalah kau dan Ji Yong, Nuna. Jangan bahas masalahku dengan Ji Eun!”

“Aku…,” Dara berpikir sejenak. “Tadi yang kau ceritakan ke ibu itu… siapa?”

Cheondung tersenyum simpul. “Yong Bae Hyung. Teman nuna dan juga teman Ji Yong Hyung,” jawabnya.

“Mungkinkah… aku membuat kontrak dengannya?”

.

Is it the best way, Baby?

.

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Dara sedang berdiri di depan cermin lebar yang memantulkan bayangan dirinya bak Aphrodite. Gadis itu melirik sejenak ke jam dinding, lalu tersenyum kecil.

“Seharusnya Yong Bae sudah datang,” gumamnya bersamaan dengan terdengarnya ketukan dari pintu kamar. “Pintunya tidak dikunci.”

“Kau cantik sekali, Dara,” Dara hanya tersenyum simpul mendengar pujian dari Nyonya Park yang sedang berdiri di ambang pintu, memandangi dengan bangga anak perempuan satu-satunya. “Yong Bae sudah menunggu di bawah. Jangan buat dia menunggu!”

“Baiklah. Sebentar lagi aku selesai,” tanggap Dara sembari memakai selingkar cincin di jarinya.

Sudah satu minggu sejak dua insan itu setuju untuk bermain peran. Sampai saat ini Dara belum juga memberitahu Ji Yong dan membiarkan laki-laki itu kebingungan karena tak sekali pun Dara menghubunginya selama itu. Tak ada alasan khusus, hanya saja… gadis itu lupa. Ya, lupa. Dara lupa menghubungi orang yang seharusnya berada di pikirannya saat ia bermain peran dengan Yong Bae. Ada apa dengannya?

“Sampai kapan kita akan berpura-pura?”

Dara menghentikan tawa lepasnya tiba-tiba ketika pertanyaan serius itu meluncur dari mulut Yong Bae, ‘kekasih’nya. Dara menghembuskan nafas. Kembali ke kenyataan, bahwa mereka bukanlah sepasang kekasih yang benar-benar kekasih. Hanya peran, dan entah kenapa mereka sama-sama tak menyukai kata ‘peran’ di antara hubungan mereka.

“Apa menikah pun kita akan berpura-pura?” Yong Bae kembali bertanya.

“Aku… tidak tahu. Maaf,” tanggap Dara dengan lirih. Gadis itu kembali menyesap latte macchiato pesanannya.

“Perlukah kita membuat semuanya jadi nyata?”

Dara tak lagi menyesap minumannya, namun tetap di posisi yang sama. Perlukah? Perlukah?

“Yong Bae, aku rasa…”

“Dara?!”

Dara memejamkan matanya sejenak, menyadari bahwa suara itulah yang memanggil namanya. Ji Yong.

.

Because I’m afraid about this love

My heart might go further from you

.

“Jadi…,” Ji Yong tersenyum parau. Jari telunjuknya terus diketuk-ketukkan di meja kafe. “Kalian akan menikah?” lanjutnya. Laki-laki itu menyesap kembali secangkir caramel macchiato lalu mengecap nikmat lidahnya.

“Tidak, Ji Yong. Kami hanya berpura-pura,” bantah Dara. Gadis itu menjulurkan tangannya menyeberangi permukaan meja dan menggenggam erat tangan kekasihnya yang sebenarnya. “Kau pasti tahu alasannya, kan?”

Ji Yong menyeringai, meremehkan dirinya sendiri. “Ya, ya, ya. Aku tahu,” pandangannya beralih ke arah Yong Bae yang sedang duduk di sudut lain memperhatikan mereka dengan khawatir. Yong Bae yang di mata Nyonya Park adalah kekasih Dara, Yong Bae sahabatnya sejak kecil. “Aku memang berlimpah harta, tapi bukan itu yang Nyonya Park inginkan. Aku… ah, sungguh memalukan. Kelab malam, musik hip hop, beer, pesta… errr… aku memang tak pantas.”

“Ji Yong! Kumohon jangan begini. Aku mencintaimu,” Dara kembali berucap. Dahinya semakin mengerut ketika sadar bahwa Ji Yong menarik tangannya sendiri agar menjauh dari genggaman Dara.

“Kau… mencintaiku?” Ji Yong menatap dalam mata gadis di depannya. “Jangan membohongi dirimu sendiri. Aku tahu beberapa hari ini cinta itu telah berpaling.”

“Ji Yong…”

“Menikahlah dengannya. Maksudku, orang yang kau cintai. Aku tidak apa-apa. Lebih baik kita berpisah.”

“Ji Yong, bisakah kau sekali saja mengerti?!” kini Dara agak memekik, memberontak.

Ji Yong menyesap lagi caramel macchiatonya. “Aku sangat mengerti, Dara. Karena aku mengerti maka aku menyuruhmu untuk mencintai orang yang sebenarnya kau cintai,” Ji Yong kembali menoleh ke arah Yong Bae. “Lagipula, kau tahu bagaimana diriku, kan? Seburuk apa pun diriku, aku tetap menghargai seorang ibu. Aku tak mau membuatmu membohongi ibumu, Dara. Pergilah!”

Untuk terakhir kali Ji Yong menyesap caramel macchiatonya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan kafe itu.

.

Baby, I’m sorry

Seems like my heart doesn’t say your name anymore

.

Sudah sebulan berlalu. Dara berdiri di depan cermin ruangan mempelai wanita den tersenyum senang. Gadis itu akan menikah, dengan Yong Bae. Ji Yong tak lagi bisa dihubungi sejak saat itu. Yang bisa dilakukan hanyalah meletakkan kertas ivory berwarna ungu yang dikemas cantik dengan pita di kotak surat laki-laki itu.

“Dara.”

Dara terpaku ketika suara itu terdengar bersamaan dengan bayangan sosok laki-laki berambut pirang di cermin. Dara membalikkan tubuhnya dan tersenyum.

“Kau datang?” ucapnya.

Laki-laki itu, Ji Yong, melangkah mendekati Dara dengan senyum ramah. Senyum yang dilontarkan oleh seseorang yang belum terlalu dekat. “Kau cantik sekali.”

“Terimakasih. Aku senang kau datang.”

Terlalu canggung. Ji Yong menghembus pelan lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak. “Hadiah untukmu, sekaligus kenang-kenangan.”

Dara menatap wajah Ji Yong. Merasa bersalah? Mungkin. “Kenang-kenangan?”

“Aku akan pindah ke Paris. Kau tahu kalau aku suka dunia fashion, kan?” Ji Yong terdiam sejenak, menunggu respon Dara yang ternyata hanya tersenyum simpul. “Kau mau berjanji padaku?”

“Apa?”

“Berbahagialah, kumohon. Untukku.”

Dara mengangguk mantap. Matanya berkaca-kaca, entah kenapa. Ia tak bisa melakukan apa-apa ketika dilihatnya laki-laki itu menggigit bibir bawah yang bergetar.

“Kau tahu? Mengenalmu mungkin jadi hal terbaik untukku.”

“Aku tahu. Aku akan sangat merindukanmu, Ji Yong.”

Ji Yong melirik jam di tangannya dan menghembus keras. “Aku harus pergi. Sampai jumpa!”

“Sampai jumpa!”
Punggung itu menjauh. Dara tak bisa menahannya, ia pun yakin bahwa bukan pemilik punggung itulah yang dicintainya. Tapi Yong Bae.

.

Sorry…

It might be a bittersweet story,

but it’s an happy ending

.

-END-

SELESAI!!! kkk~ Oh, iya. Rencananya author mau bikin sequel buat kelanjutan nasib Ji Yong, tapi tunggu sampe komentarnya lebih dari empat, ya? Jadi jangan lupa RCL, chingu!!! Siders buruan tobat!! ^^