akwl-poster

Title : A Kiss Without Love || Story part : first part || Author : Catherine Crystal || Main cast : Kim Ryeowook (Super Junior), Kwon Chanrin (OC), Song Yoon Mi (OC), Choi Minho (SHINee) || Support cast : Park Jisoon, Lee Hyukjae (Eunhyuk Super Junior), Shin Haseul, Cho Kyuhyun (Super Junior), Shin Hyeri (OC), Lee Sungmin (Super Junior) || Genre : romance, comedy, drama, this would be increasing part-by-part || Length : continue || Rating : General (G) || Disclaim : this plot is 100% mine, don’t copy-paste or claim that this is yours please, respect myself too^o^

Also posted on <a href=”http://lovelyfanfictionhouse.wordpress.com/&#8221; target=”_blank”>LFH</a> (please visit if you fon’t mind^^)

 A KISS WITHOUT LOVE®2013

***

 

Chanrin’s POV

 

Angin lembut berdesir perlahan. Menerbangkan dedaunan hijau yang kini berserakan di rumput. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan diriku sedang berada di tengah sebuah padang yang berumput tinggi. Langit cerah menaungiku, seakan tidak ingin aku tertimpa sesuatu. Kupu-kupu beterbangan kesana-kemari dengan ceria.

 

Senyumku terkembang bahagia. Tempat ini begitu indah. Ini seperti kampung halamanku dulu.

 

Ya, persis. Bunga-bunga bermekaran warna-warni. Danau pun menampakkan airnya yang jernih dan berkilauan. Pohon-pohon tinggi nampak di seberang danau. Dan aku berada di sini sendirian.

 

Ajaibnya, aku merasa tidak sendirian. Seseorang tengah mengawasiku. Aku berbalik ke belakang dan menemukan sesosok pria dengan baju kuning sedang tersenyum memandangku. Aku tidak mengenal pria itu, tapi mulutku mengembang tersenyum. Sepatah kata meluncur dengan lancar dari mulutku.

 

“Oppa”

 

Senyumnya terkembang semakin lebar. Didekatinya diriku dan direngkuhnya aku dalam pelukannya.

 

Hangat dan nyaman. Itulah yang kurasakan saat kedua lengannya merengkuh tubuhku. Ia melapas pelukannya setelah beberapa saat dan menggandengku ke bawah sebuah pohon rindang, tepatnya di depan danau.

 

Kami berdua duduk bersebelahan sambil bersenandung kecil. Kami sama-sama memandang kilau air danau yang sangat indah, menerawang pepohonan rindang yang jauh di seberang sana.

 

Tiba-tiba tangannya meraih tanganku, seakan memintaku untuk menatapnya. Aku pun menatapnya dan tampak wajahnya memerah, entah karena angin yang berembus kencang atau hal lainnya.

<!–more–>

Wajahku memanas karena dia terus menatapku.

 

“Wae, oppa?” lagi-lagi dua patah kata meluncur tanpa komando dari mulutku.

 

Dia tidak menjawab perkataanku. Didekatkannya wajahnya pada wajahku dan sedetik kemudian aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Kututup mataku dan merasakan nafasnya mulai membelai tengkukku perlahan. Dia membawaku ke dunianya yang penuh kedamaian dan ketenangan.

 

Perlahan tapi pasti, bibirnya mendarat di bibirku dengan halus. Aku membalas ciumannya dan menikmatinya. Hmm… rasa ciuman ini terasa samar, namun aku tetap bisa merasakannya.

 

Ia merengkuhku semakin dalam di antara ciumannya yang seakan menjebakku dalam kenyamanan.

 

Hingga aku merasakan tangannya merambati punggungku. Tunggu dulu… apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan menceburkanku ke danau?

 

AAAAAAAA….

 

BYUR!

 

Aku membuka mataku dan terkejut melihat sekujur tubuhku telah basah oleh air. Tapi aku

tidaklah merasakan diriku tenggelam ataupun sedang berada di dalam air.

 

Tapi tunggu dulu, aku tidak sedang berada di sebuah padang rumput yang luas saat musim semi. Ini… sebuah ruangan dengan tirai putih tinggi dan cat biru muda, serta langit-langit yang dihiasi sticker bintang kuning… aku tahu aku di mana. Ini seperti kamarku.

 

Aku menoleh dengan panik. Dan, bingo! Aku menemukan gadis bernama Park Jisoon berdiri sambil berkacak pinggang. Di sebelah tangannya terdapat ember basah yang sudah kosong. Kembali kuperhatikan sekujur tubuhku yang basah. Biar kutebak, monster satu ini habis menyiramku dengan air yang tadinya mengisi penuh ember di tangannya itu.

 

“Akhirnya kau bangun juga” katanya dengan nada membunuh.

 

“Aish… Ya, neo, Park Jisoon, kenapa menyiramku hah? Aku benci disiram dengan air!” teriakku padanya.

 

“Oh, baiklah, lain kali aku akan menyirammu dengan semen. Sekarang cepat kau mandi, hari ini kita sekolah dan kita tidak mau dibuat terlambat lagi olehmu” katanya. Yang dimaksudnya dengan ‘kita’ adalah aku, dia, Hyeni, Haseul, dan Hyeri. Sudah sejak hampir setahun yang lalu kami berlima berbagi rumah sewaan karena rumah kami yang sama-sama jauh dari sekolah. Dan selama itu pula aku seringkali membuat mereka terlambat karena kebiasaanku bangun kesiangan.

 

“Arasseo, aku sedang tidak dalam mood bertengkar denganmu”

 

Akupun turun dari kasur dan menjatuhkan selimutku di lantai agar kasurku tidak semakin basah. Kusambar sikat gigi, handuk, dan seragamku yang semuanya ada di dalam lemariku. Sebelum masuk ke kamar mandi, aku berteriak pada Jisoon.

 

“Oh iya, karena kau yang membasahi kasur dan terutama selimutku, maka kau yang harus mengeringkannya”

 

“MWO?! Yak, Kwon Chanrin!”

 

BLAM!

 

Pintu kamar mandi sudah keburu kututup untuk menghindari amukannya. Seisi rumah tahu kalau amukan Jisoon adalah yang paling menyeramkan. Tapi yang jelas, jika Hyeri marah—walaupun sangat jarang—jauh lebih menyeramkan.

 

Aku menghela nafas panjang. Ternyata kejadian tadi lagi-lagi hanya mimpi. Aku tidak pernah mengalaminya secara nyata seumur hidupku. Hampir semua teman-temanku tahu rasanya berpacaran dan ciuman pertama. Sementara aku belum pernah merasakannya. Sampai saat ini hal itu masih menjadi mimpi belaka bagiku.. Dan baru saja, dia—Park Jisoon menghancurkan mimpi indahku, yang artinya ia juga menghancurkan moodku pagi ini.

 

***

 

Author’s POV

 

Lima gadis berlarian turun dari mobil yang telah diparkir di lahan parkir Kyeongju High School. Mereka berlari terburu-buru mengingat waktu yang semakin menipis. Teriakan mereka terdengar nyaring memenuhi lapangan parkir sekolah, memohon agar pintu gerbang tidak ditutup.

 

Satpam yang sedari tadi berdiri di balik gerbang menoleh pada mereka sesaat, namun saat berikutnya satpam itu tidak lagi mempedulikan mereka. Diliriknya jam tangan yang dipasang di tangan kirinya dan setelah memastikan waktu yang tepat, ditutupnya pintu gerbang sekolah perlahan-lahan.

 

Lima gadis itu membelalakkan mata mereka melihat pintu gerbang sedang ditutup.

 

“Andwe, ahjussi!” teriak salah seorang di antara mereka, yang lainnya pun menyahut tidak karuan. Hingga akhirnya pintu gerbang benar-benar tertutup dan mereka hanya bisa menghela nafas dengan kecewa sesampainya di depan pintu gerbang.

 

“Ini semua gara-gara kau Chanrin” kata Hyeri.

 

“Ya, kalau saja hari ini kau tidak terlambat bangun lagi, pasti saat ini kita sudah berada di dalam kelas” sambung Haseul.

 

“Mianhae, tadi aku bermimpi indah” jawab Chanrin singkat. Ia tidak mau menceritakan panjang lebar tentang mimpi yang dialaminya tadi pagi, karena itu sudah pasti akan mengundang godaan teman-temannya.

 

“Pokoknya kalau besok kau terlambat bangun lagi, aku pasti sudah mencincangmu” ancam Jisoon.

 

“Hati-hati… kau sudah mengundang amukan seorang Park Jisoon” kata Hyeni mengingatkan, “Aku mendukung Jisoon kali ini”

 

“Ah, sudah kalian diam saja. Aku benci disalah-salahkan. Sekarang terpaksa kita menunggu di sini saja” Chanrin pun memutar kedua bola matanya dengan kesal, tidak ingin meladeni keempat temannya.

 

***

 

“Ne eomma, arasseo”

 

Pria itu pun memutus sambungan telepon. Dihelanya nafas berat dan diputarnya kedua bola matanya lagi.

 

“Masalah perjodohan lagi Ryeowook-ah?” tanya Yesung yang berdiri di sebelah pria itu—yang ternyata bernama Ryeowook.

 

“Kali ini eomma memberiku kesempatan” jawab Ryeowook, “Ia memberiku pilihan. Bila dalam dua minggu aku sudah dapat memperkenalkan calon istriku maka eomma tidak jadi menjodohkanku. Tapi jika tidak, ia akan menjodohkanku dengan putri Nasan group, Im Yoona. Setelah menikah dan lulus SMA, aku diminta untuk meneruskan perusahaan”

 

“Sepertinya menjadi putra pewaris perusahaan tidak semudah yang kubayangkan. Tapi, bukankah itu bagus bila kau diberi kesempatan untuk mencari calon istri sendiri?” tanya Yesung.

 

“Aku justru semakin bingung. Selama ini yang aku pikirkan hanyalah bagaimana cara mendapat beasiswa ke Jepang, aku tidak pernah memikirkan wanita. Tapi aku tidak menyangka penyakit seberat ini akan menimpa appa sampai aku harus menggantikannya. Aku bingung Yesung-ah, aku tidak mungkin mencari pacar dalam waktu dua minggu” jawab Ryeowook seakan meminta saran. Yesung menatapnya iba.

 

“Kau harus pikirkan jalan keluar Wookie, kau memiliki banyak penggemar yang selalu mengikutimu. Pikirkanlah, apa mungkin mereka bisa menolongmu”

 

“Itu tidak akan terjadi. Aku tidak mungkin menyuruh mereka pura-pura menjadi pacarku kemudian menikahi mereka. Aku tidak ingin menikah dengan cara itu” jawab Ryeowook.

 

“Kau harus pikirkan lagi Wookie-ah, cara itu adalah satu-satunya cara yang bisa menolongmu”

 

Ryeowook menunduk dalam mendengar perkataan sahabat lamanya, Yesung. Perkataannya ada benarnya juga, tidak sepenuhnya salah. Tapi Ryeowook sungguh tidak ingin menikah secara pura-pura atau palsu. Rencana hidupnya yang telah dirancangnya sejak kecil seakan buyar bila ia menikah dengan cara seperti itu.

 

“Aku akan pikirkan” katanya pada akhirnya. Ditinggalkannya Yesung dan pergi menuju kelas untuk kembali merenungkan saran Yesung.

 

Ya, mungkin hanya itu yang bisa membantunya saat ini.

 

***

 

Jisoon menghampiri Chanrin yang sedang duduk sambil membaca buku di tangannya dengan serius.

 

Jisoon pun duduk di atas sofa kecil di samping sofa utama yang diduduki Chanrin.

 

“Apa yang kau baca?” tanya Jisoon sambil mencoba membaca judul buku di tangan Chanrin dengan memiringkan kepalanya.

 

“Buku make-up” jawab Chanrin singkat.

 

“Wohoho… Hebat sekali status jomblo dapat mengubahmu menjadi wanita sungguhan. Biasanya kau paling malas memakai make-up” sindir Jisoon.

 

Chanrin berhenti membaca dan melempar buku make-up di tangannya ke meja.

 

“Bukan, ini untuk persiapan hari lusa Jisoon. Kau lupa?”

 

Jisoon menaikkan satu alisnya, bingung.

 

“Memangnya lusa ada apa? Kau diajak kencan seorang pria ya?” tanya Jisoon asal.

 

“Aniyo, apa kau lupa kalau besok lusa kakak kelas kita akan mengadakan perpisahan? Dan semua murid akan berkumpul malam itu. Aku harus tampil cantik” jawab Chanrin.

 

“Oh~~ itu, aku lupa. Lagipula untuk apa kau tampil cantik kalau kenyataannya semuanya juga tampil cantik? Kecantikanmu toh juga tak akan nampak”

 

“Kalau aku tampil jelek, maka aku akan tampak mencolok, dan aku tidak mau hal itu terjadi”

 

“Terserah kau, kalau aku akan tampil biasa saja. Toh penampilanku malah adalah daya tarikku”

 

“Itu kan kau, aku sama sekali tidak punya daya tarik”

 

Chanrin menghembuskan nafasnya asal. Diraihnya kembali buku make-up yang tergeletak di meja dan dibukanya dari awal.

 

“Tapi aku bingung bagaimana cara bermake-up”

 

“Mungkin aku bisa membantu” tiba-tiba Haseul muncul dari dapur.

 

Chanrin tampak senang dengan kehadiran Haseul.

 

“Tumben kau baik padaku, jadi kau mau mengajariku cara memakai make-up?” tanya Chanrin antusias.

 

“Sekali kau bicara seperti itu lagi padaku, aku tidak jadi membantumu nona muda” ancam Haseul.

 

“Yah, ternyata sifat baikmu tak bertahan lama. Jadi… Bisakah kau menjelaskan isi buku ini?”

 

“Tentu”

 

Jisoon memutar kedua bola matanya.

 

“Pembicaraan wanita memang selalu membosankan” gumamnya tak jelas kemudian bangkit dari kursi dan berjalan masuk ke kamar. Ia sempat mendengar teriakan Chanrin sebelum masuk ke kamar.

 

“Hey, memangnya kau bukan wanita?!”

 

***

 

Jalanan itu sudah dipenuhi mobil walaupun hari masih pagi. Ryeowook memandang ke luar jendela mobil sambil termenung.

 

Sudah benarkah keputusannya untuk memilih salah satu fansnya di sekolah untuk menikah kontrak dengannya?

 

Apa resiko yang harus dihadapinya?

 

Apakah eommanya akan menyadarinya suatu saat nanti?

 

Bagaimana kalau eommanya bertanya mengapa istrinya tidak kunjung hamil?

 

Dan bagaimana kalau…

 

Ia jatuh cinta dengan gadis yang dipilihnya?

 

Bukankah ini akan menjadi semakin rumit?

 

“Tuan”

 

Panggilan supir Ryeowook menyadarkannya dari lamunan panjangnya. Dalam hati ia bersyukur karena dapat terlepas dari pikirannya sejenak.

 

“Ne?”

 

“Kita sudah sampai”

 

“Oh? Ne, gomawo ahjussi”

 

Ryeowook pun segera turun dan menutup pintu mobil dengan keras–hal yang tidak biasa dilakukannya.

 

Ryeowook menghela nafas panjang dan berjalan memasuki sekolah.

 

“Ryeowook-ah!”

 

Teriakan Yesung membuat Ryeowook berpaling.

 

“Yesung-ah, kita datang di saat yang bersamaan” kata Ryeowook begitu Yesung sampai di sampingnya.

 

“Ne, dan kenapa kau terlihat sedikit pucat hari ini?” tanya Yesung.

 

“Ani, aku hanya kepikiran sesuatu”

 

“Masalah pernikahan?”

 

“Bingo”

 

“Kau masih ragu dengan saranku kemarin?” tanya Yesung.

 

“Molla” jawab Ryeowook singkat kemudian berjalan meninggalkan Yesung di belakangnya. Membicarakan masalah pernikahan pasti membuatnya pusing.

 

Yesung memperhatikan punggung Ryeowook yang semakin menjauh. Dalam hati ia tahu kalau saran yang diberikannya kemarin mengandung banyak resiko yang tidak mungkin ditanggung sahabatnya itu sendiri.

 

‘Apa ada cara lain ya?’ batin Yesung.

 

Sebenarnya sejak semalam Yesung sudah memikirkan sebuah cara yang agak… err… gila. Sampai saat ini dia masih bingung apakah cara yang berkecamuk di otaknya itu akan dijalankannya.

 

Dihelanya nafas panjang. Akhirnya ia berteriak memanggil orang di depannya.

 

“Sungmin-ah!”

 

***

 

Chanrin mendengus melihat Haseul sibuk di depan kaca petang itu.

 

“Ya, Haseul-ah, apa kau tidak puas dengan make-up yang telah kau poleskan di wajahmu sejak satu jam yang lalu?” sindir Chanrin.

 

“Ani, aku sudah puas, aku sedang berpikir, apakah aku terlihat terlalu feminin mengenakan pakaian ini. Sejujurnya, ini bukan benar-benar gayaku” jawab Haseul.

 

“Bagaimana denganku?” tanya Chanrin lagi.

 

“Sudah bagus, kau tampak natural”

 

“Jinjja? Gomawo”

 

“Cheonmaneyo”

 

Brak!

 

Pintu menjeblak terbuka dan menampakkan sesosok gadis yang sudah dapat ditebak, itu Hyeni.

 

“Ya, kalian sudah siap? Donghae oppa meneleponku kalau acara sebentar lagi dimulai” katanya. Donghae adalah kakak tiri Hyeni yang juga merupakan kakak kelasnya yang kini duduk di kelas akhir–artinya ia angkatan kakak kelas yang mengadakan perpisahan malam ini.

 

“Ah, chamkamman”

 

Chanrin segera berlari menuju kaca untuk merapikan rambutnya lagi. Setelah menyisir rambutnya dengan jari, ia pun berlari keluar diikuti Haseul di belakangnya, menyusul Hyeni.

 

“Mana Jisoon dan Hyeri?” tanya Haseul.

 

“Jisoon dijemput Eunhyuk oppa, dan Hyeri dijemput supir pribadinya” jawab Hyeni.

 

“Oh…” Haseul hanya ber-oh-ria sambil memakai sepatu.

 

“Apa sepatu ini terlihat matching dengan pakaianku?” tanya Chanrin.

 

“Aish… Kau berlagak seperti akan menghadiri pesta pernikahan Chanrin-ah… Santai saja, memangnya ada yang akan memperhatikanmu?” sindir Hyeni. Chanrin mengerucutkan bibirnya dengan kesal sambil menyampirkan tas di pundaknya.

 

“Kajja” ajaknya sambil berjalan keluar rumah.

 

***

 

Yesung menghela nafas panjang sambil memperhatikan waktu yang terus berjalan. Ryeowook belum datang. Apa dia memutuskan untuk tidak datang? Yesung memang telah mendengar bahwa ayah Ryeowook dilarikan ke ICU siang tadi, tapi ia juga telah mendengar bahwa keadaan ayahnya telah stabil kembali satu jam yang lalu. Lagipula kalau Ryeowook tidak datang, rencananya dengan Sungmin tidak bisa dijalankan.

 

“Aish… Ke mana lagi anak itu?” gumam Yesung sambil terus memperhatikan jam tangannya seakan benda itu akan hilang jika ia meninggalkannya barang hanya sedetik saja.

 

“Yesung-ah” panggil Sungmin kemudian menghampiri Yesung dan duduk di sebelahnya, “Ryeowook belum datang juga?”

 

Yesung menggeleng.

 

“Aku belum mendapat kabar darinya sejak tadi” imbuhnya.

 

“Eottokhae? Hyeri juga belum datang” kata Sungmin.

 

“Ya, Sungmin-ah, dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan yeoja yang kau sukai itu? Cih~ bersyukurlah karena dia tidak menyukaimu”

 

Sungmin melotot pada Yesung.

 

“Aku yakin kok dia akan menyukaiku suatu saat nanti”

 

***

 

Ryeowook melajukan mobilnya dengan kecepatan bagai angin. Eommanya sempat menahannya untuk pergi ke pesta perpisahan kakak-kakak kelasnya, namun mengingat Yesung sudah menyuruhnya untuk datang, ia harus berdebat melawan kehendak eommanya selama satu jam penuh.

 

Ryeowook berbelok menuju lokasi pesta dan dilihatnya telah banyak mobil-mobil berderet di lapangan parkir. Buru-buru diparkirkannya mobilnya di salah satu tempat kosong dan turun dari dalamnya. Dengan tergesa-gesa, Ryeowook berlari terpontang-panting menuju bagian dalam gedung.

 

Sesampainya di dalam, ia langsung mencari Yesung. Dalam sekali kedipan mata, ia langsung menemukan sahabatnya itu sedang duduk di kursi deretan depan, bersama Sungmin dan Kyuhyun. Mereka bertiga tengah berbincang-bincang dengan asyik. Ryeowook berlari ke arah mereka dan menjatuhkan diri pada kursi di sebelah Kyuhyun–satu-satunya kursi yang tersisa.

 

“Aku terlambat” ujarnya dengan nafas terengah-engah.

 

“Ya, Wookie-ah! Kau membuat kami khawatir” seru Sungmin.

 

“Ne, sejak tadi kami mencarimu” timpal Yesung.

 

“Mianhae, tadi aku ada sedikit masalah dengan eommaku” jawab Ryeowook kemudian menutup matanya dan menghela nafasnya.

 

“Bagaimana keadaan appamu?” tanya Kyuhyun.

 

“Dia baik, keadaannya sudah stabil”

 

“Syukurlah”

 

Tiba-tiba perhatian semua orang tertuju pada panggung karena suara desingan mikrofon yang sangat nyaring. Rupanya Lee songsaengnim akan segera memulai pidatonya.

 

“Selamat malam, anak-anak” Lee songsaengnim mengawali.

 

“Malam songsaengnim” balas seluruh siswa dalam gedung.

 

Setelah itu Lee songsaengnim berpidato panjang lebar. Tentunya tidak semua murid mendengarkannya, beberapa malah sibuk berbincang-bincang atau bermain ponsel. Lee songsaengnim terus berpidato tanpa memperhatikan muridnya yang tidak memperhatikannya.

 

***

 

Chanrin memutar-mutar gantungan ponselnya. Bosan. Sedari tadi tidak ada kegiatan menarik yang bisa dilakukannya dalam gedung ini. Bertengkar dengan Jisoon sepertinya akan menyenangkan, tapi Jisoon sekarang sedang bersama dengan Eunhyuk, dan hal itu membuat Chanrin merasa sangat bosan. Hyeri duduk terpisah dari mereka. Hyeni dan Haseul sibuk memperhatikan panggung, menonton acara-acara yang bermunculan.

 

“Ya, Hyeni-ah, menurutmu nanti akan ada apa saat free time?” bisik Haseul pada Hyeni.

 

“Molla, biasanya sih quiz, tapi aku dengar malam ini berbeda” jawab Hyeni sambil mengedikkan bahu. Haseul mendengus karena rasa penasarannya belum juga terjawab. Kyeongju high school terkenal dengan keunikannya saat pesta perpisahan, biasanya mereka akan mengundang bintang tamu–artis-artis papan atas–dan mengadakan free time yang biasanya diisi permainan seperti quiz seputar selebriti dan berhadiah barang yang bernilai mahal. Tentu saja Haseul sangat tertarik.

 

Chanrin menguping pembicaraan mereka. Dalam hati ia juga merasa penasaran. Lee Sungmin, teman kecilnya yang menjadi panitialah yang akan membuat permainan malam ini. Kira-kira permainan apa yang telah direncanakannya?

 

‘Hmm… Aku jadi tidak sabar’ batin Chanrin sambil menjejalkan ponsel ke dalam tasnya.

 

***

 

Acara berjalan meriah dengan dipenuhi musik dan atraksi-atraksi murid Kyeongju high school. Mereka tampak menakjubkan, begitulah komentar beberapa siswa.

 

Akhirnya sampailah mereka di penghujung acara. Seperti biasa, acara free time yang mereka tunggu akan segera berlangsung. Sungmin maju ke atas panggung dan mulai berbicara di depan mikrofon.

 

“Annyeong yeorobun… Naneun Lee Sungmin imnida, siswa kelas dua, dan sekaligus panitia persiapan acara. Kali ini kami telah merencanakan sebuah permainan”

 

Semua murid langsung bersorak, tidak sabar akan permainan yang telah disiapkan panitia.

 

“Ah, tenang, tenang” Sungmin berusaha meredam teriakan murid-murid dan menunggu hingga mereka diam, “Hadiah untuk permainan kali ini cukup menggiurkan, yaitu liburan selama tiga hari ke pulau Jeju”

 

Lagi-lagi semua murid bersorak keras-keras. Pulau Jeju? Siapa yang tidak mau liburan gratis ke sana?

 

“Tapi pemainannya juga menantang” Sungmin tersenyum misterius, semua murid langsung memusatkan perhatian padanya dengan tidak sabar. Sungmin mengeluarkan smirknya, “Pria dan wanita pertama yang berani maju dan berciuman di atas panggung akan memenangkannya”

 

Siing…

 

Sekejap seisi ruangan menjadi hening. Murid-murid melebarkan matanya sambil menatap Sungmin tidak percaya.

 

‘Mwo?!’ batin Chanrin, ‘Sudah kuduga ini permainan yang gila’

 

“Kami mencari seorang pria dan wanita yang mau sukarela berciuman di sini. Ada yang berminat?”

 

“Ya, kau gila?” teriak salah seorang siswa wanita.

 

“Ani, sekali lagi permainan ini just for fun” jawab Sungmin sambil lagi-lagi mengeluarkan smirknya.

Ryeowook memutar kedua bola matanya. Ada-ada saja ulah temannya yang satu ini.

“Ya, Ryeowook-ah, majulah” bisik Yesung.

 

“Ne, cepat maju” desak Kyuhyun.

 

“Ya, kenapa aku harus maju? Aku tidak punya pasangan!” bantah Ryeowook.

 

“Tidak diberitahukan bahwa kau harus memiliki pasangan Wookie-ah, cepat maju”

 

Yesung pun menarik Ryeowook maju ke atas panggung diikuti Kyuhyun. Ryeowook mati-matian menolak.

 

“Ya, kalian! Lepaskan aku!” teriak Ryeowook ketika menyadari tubuhnya terseret ke depan. Ia berusaha melepaskan pegangan tangan Yesung dan Kyuhyun yang mencengkeramnya kuat-kuat. Ia tidak berani berteriak karena tidak ingin menjadi pusat perhatian mengingat ruangan sangat sepi saat ini.

 

“Cepat!”

 

Bruk!

 

Yesung dan Kyuhyun menghempaskan tubuh Ryeowook begitu sudah dekat dengan panggung. Ryeowook terjatuh tepat bersandar di panggung acara.

 

“Aish… Punggungku” gumam Ryeowook kesakitan.

 

“Baik, sepertinya kita sudah mendapatkan kandidat prianya–”

 

“MWO?! Yak, Sungmin-ah, kau gila? Aku hanya terjatuh di depan panggung, bukannya mencalonkan diri!” teriak Ryeowook tidak terima.

 

“Tapi kau menyentuh panggung, Ryeowook-ah. Baik, sekarang siapa wanita yang berminat?” teriak Sungmin, ia tahu kalau pasti banyak wanita yang berminat dengan bintang sekolah ini.

 

“Ya, Sungmin-ah! Aku lebih baik kembali saja” pinta Ryeowook. Sungmin menggeleng. Ryeowook terus memohon hingga ia merasa terjadi keributan di belakangnya.

 

“Oh tidak… Mereka penggemarku…” batin Ryeowook. Sudah pasti penggemar Ryeowook berbondong-bondong ingin maju ke panggung.

 

“Sungmin-ah… Tidakkah kau kasihan padaku?” mohon Ryeowook lagi. Sungmin menggeleng.

 

“Sungmin-ah, bebaskan aku kali ini saja. Aku janji akan membelikanmu iPod berwarna pink!” ujar Ryeowook, “Atau aku akan lari?” Sungmin menggeleng tegas.

 

“Jebal Sungmin-ah… Jeballyeo” Sungmin masih menggeleng.

 

“Keputusan tidak bisa dirubah. Baik, siapa yang maju duluan akan mendapat kesempatan untuk mencium Ryeowook!” teriak Sungmin. Teriakan histeris para wanita langsung memenuhi seluruh gedung. Mereka saling dorong untuk maju ke depan panggung, sementara Ryeowook sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari pergi.

 

Tiba-tiba…

 

“Ya, kalian! Lepaskan!”

 

Bruk!

 

Seorang gadis berbaju kuning jatuh tersungkur di depan panggung. Sungmin tersenyum simpul. Kembali mengeluarkan smirk kecil.

 

“Tampaknya kandidat wanita juga sudah ditemukan”

 

***

 

Chanrin’s POV

 

“Baik, sepertinya kita sudah mendapatkan kandidat prianya–”

 

“MWO?! Yak, Sungmin-ah, kau gila? Aku hanya terjatuh di depan panggung, bukannya mencalonkan diri!”

 

“Tapi kau menyentuh panggung, Ryeowook-ah. Baik, sekarang siapa wanita yang berminat?”

 

“AAAAA…….!!!” teriakan para wanita langsung terdengar di mana-mana. Aku memutar bola mataku kesal. Semua wanita berebutan untuk mencium seorang namja populer bernama Kim Ryeowook, memalukan sekali. Kalau aku? Aku tidak akan sudi.

 

“Ya, Chanrin-ah, majulah. Kau bilang kau ingin merasakan ciuman pertama?” goda Haseul.

 

“Tapi tidak begini caranya” balasku sambil memperhatikan Kim Ryeowook dan Sungmin oppa berdebat di atas panggung–lebih tepatnya Sungmin oppa di atas panggung, dan Kim Ryeowook di bawah panggung. Sungmin oppa tampaknya bersikeras untuk menarik Kim Ryeowook naik.

 

“Oh ayolah, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?” timpal Hyeni.

 

“Andwe!” teriakku.

 

“Ayolah~” rengek mereka.

 

“A-N-D-W-E! Andwe! Titik”

 

“Ayolah” Hyeni menarikku secara paksa menuju ke depan.

 

“Ya, ya, ya, apa yang akan kau lakukan? Aku sudah bilang, aku-tidak-mau!” bentakku. Bentakanku tidak terdengar karena kalah oleh teriakan para gadis yang histeris berebutan untuk maju.

 

Hyeni dan Haseul sudah gila. Aku bilang AKU TIDAK MAU!!! Mau ditaruh di mana mukaku ini?

 

Haseul menarik tangan kiriku sementara aku masih mencoba melawan dengan menghempaskan diriku ke belakang. Namun nampaknya itu tidak mempan, tenaga mereka jauh lebih besar. Aigoo… Eottokhae?!

 

Aku kini tengah berdesakan di antara kerumunan gadis-gadis. Masih mencoba melepaskan diri dan berteriak-teriak, tidak peduli banyak orang yang melihatku atau menganggapku gila. Yang jelas aku ingin segera pulang!!!

 

“Ya, lepaskan aku! Jisoon-ah, Hyeri-ah, TOLONG AKU!!!” teriakku keras-keras.

 

“Cepat!”

 

“Ya, kalian, lepaskan!”

 

Bruk!

 

Aku jatuh di depan panggung dengan sukses. Bahkan mendahului gadis-gadis di belakangku. Suasana menjadi hening sesaat. Rasanya aku ingin menangis dan pulang saat ini juga. Aku sangat malu. Aku melotot lebar-lebar pada Hyeni dan Haseul dengan wajahku yang mulai memerah menahan tangis.

 

“Tampaknya kandidat wanita juga sudah ditemukan”

 

Perkataan Sungmin oppa membuatku melotot selebar-lebarnya.

 

“Oppa, aku tidak mau” rengekku padanya.

 

“Aigoo… Sayangnya kau harus” Sungmin oppa tersenyum simpul kepadaku, membuatku bergidik ngeri. Sedetik kemudian ia menarikku dan Kim Ryeowook naik ke atas panggung. Aku tidak bisa melawan, aku tahu tidak ada gunanya melawan, toh aku tidak tega untuk melawan Sungmin oppa.

 

Air mataku mengalir pelahan. Segera kuseka air mata itu. Memakan rasa maluku sendiri.

 

Kim Ryeowook menatapku sambil menelan ludahnya. Wajahnya memerah karena malu–itu sudah jelas.

 

“Dipersilakan untuk mulai” kata Sungmin oppa. Aku semakin gugup. Suasana di ruangan ini semakin memanas. Bukan. Bukan ini ciuman pertama yang selama ini aku harapkan. Seisi ruangan kini memperhatikan kita berdua. Aku hampir meneteskan air mata lagi kalau Hyeni dan Haseul tidak berteriak keras-keras.

 

“Ayo cepat cium!”

 

Teriak mereka. Disusul teriakan para pria yang tidak sabaran.

 

“B-bolehkah aku menciummu?” bisik Kim Ryeowook pelan. Nada suaranya bergetar. Aku mengangguk perlahan dan menutup mataku dengan gugup.

 

Perlahan aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku. Dan… Inilah ciuman pertamaku. Aku tidak benar-benar merasakannya. Yang bisa aku rasakan hanyalah rasa asin air mataku. Oh tidak, pasti benda itu mengalir lagi. Aku benci ketika aku harus mengatakannya. Tapi… ciuman ini berlangsung cukup lama. Hingga aku tak bisa lagi menerka apa yang akan terjadi padaku setelah ini.

 

Apa aku… akan segera pingsan di sini?

 

-ToBeContinued-

Iklan