skool-looks-kikwang04

 

Annyeong para epepis (?).. Selamat datang di wahana author yang satu ini. Masih tergolong baru sih, tapi mudah-mudahan dengan membaca ff yang menurut author sendiri lumayan kocak ini, para readerdeul sekalian bisa merasa terhibur. Tapi author saranin para epepis ada baiknya kalo nyiapin kantong muntah dulu deh😀 Soalnya ceritanya agak sedikit ngawur gitu. Eh gak sedikit dink, tapi banyak ngawur, bahkan bisa dikatakan sangat-sangat ngawur😀 Tapi beneran kok semua ini author lakukan demi menyenangkan hati kawan-kawan semua terutama yang beraliran epepisme😀. Tapi sebelum itu, author minta tolong ya, kalo selesai baca dimohon komentarnya di bawah biarpun cuman O, A, I atau U gak papa deh. Tapi ya jangan kayak gitu juga sih kalo bisa, kekeke. *nawarluthor!

Terus terus kalo misalnya dirasa ada yang kurang pas gitu, boleh kok masukannya. Asal jangan bashing yah?🙂

Oke epepis? Inilah dia ff karya Endor Yochi *di ff sebelumnya pake nama El Yeobo Yosbie. *gananya#PLAK! asli tanpa membajak🙂

Happy reading ^^

 

Title                 : The Adventure of The Three Buddies PART 1

Writer              : Endor Yochi

Main Casts      : Yang Yoseob (B2ST) sebagai siswa SMP

Lee Gikwang (B2ST) sebagai siswa SMP, sobat Yoseob

Park Jiyeon (T-ARA)  sebagai siswi SMP, sobat Yoseob and Gikwang

Other Casts     : Wang Feifei (Miss A) sebagai Ummanya Jiyeon

Jang Hyunseung (B2ST) sebagai tukang service hp keliling

Yoon Dujun (B2ST) sebagai Pangeran Keterangan

Yong Junhyung (B2ST) sebagai si Buta dari Toko Mpok Nori

Son Dongwoon (B2ST) sebagai siswa SMP

Genre              : Comedy, Fantasy, Ngawur ( pokoknya gak kebayang deh betapa ancurnya nih epep :D)

Length                         : 2 PARTS

Rating             : Jangan kuatir. Menurut MUI, epep ini halal kok dikonsumsi semua umur. Bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek boleh juga kalo mau baca, kekeke #PLUK!! Lempar jemuran ke readers.

THE ADVENTURE  OF THE THREE BUDDIES®2013

 

Kadang hidup itu memang tidak harus selalu diisi dengan keseriusan. Ada kalanya kehidupan juga perlu diwarnai dengan berbagai macam kesenangan dan ‘permainan’. Karena hidup itu bagaikan sebuah neraca. Yang mana harus seimbang antara keseriusan dan ketidakseriusan, ( H.R. own mind )😀

 

_Author POV_ *dan maap aje ye, nih epep ampe akhir juga tetep author POV😀

 

“JiyeooOONn!!”

Jiyeon tersentak ketika didengarnya suara melengking bak petir menggelegar itu. Segera ia tutup novel misteri yang baru dipinjamnya dari author perpustakaan sekolahnya kemarin. Setelah itu secepat kilat sampai-sampai hampir nyungsep di bawah rok readers kolong tempat tidurnya yang parkir sembarangan itu, ia berlari menghampiri sang empunya suara halilintar tadi. Begitu sampai di tempat sang monster *dalam tanda kutip, seketika Jiyeon melongo karena mendapati “sang monster” itu tengah mengenakan pakaian baja lengkap dengan pedang samurai di tangan bak siap turun ke medan perang.

“Ada apa, Umma?” tanya Jiyeon rada-rada takut karena pedang di depannya itu sungguh mengkilat dan hampir mengenai hidung mancungnya.

“Sedang apa kamu?” tanya “sang monster” yang ternyata adalah Feifei, Ummanya Jiyeon.

“Itu.. Sedang baca..”

“APA?? APA KAMU TIDAK LIHAT PEKERJAAN RUMAH MASIH BERANTAKAN BEGITU? HAH?? MAU JADI APA KAMU NANTI KALO SAMA PEKERJAAN RUMAH SAJA GAK PERNAH NGERTI BEGITU?? HAH?? AYO JAWWAAAAB!!”

GLEGARR!! DHUARR!! PLETAKK!! PLETAKK!! PRAANG!! BYUUR!!

Peralatan dapur mendadak melayang ke arah Jiyeon. Tapi Jiyeon segera berkelit ala Jackie Chan sehingga semua peralatan itu tak mengenainya sama sekali.

“Ampun Umma.. Iya, nanti Jiyeon kerjain semuanya kok. Tapi Umma copot dulu ya pakaiannya itu. Gak pantes soalnya. Mirip orgil, Umma..”

“APA KAMU BILANG?? KATAKAN SEKALI LAGI DAN KAMU AKAN DAPAT UANG 100 RIBU!!”

“UMMA KAYAK ORGIL!! Nah, udah. Mana duitnya Umma?”

“JIYEOOOONN!!”

“KYAAAAAAAAA..!!!”

Jiyeon segera berlari terbirit-birit menghindar sebelum kursi dan meja dapur melayang kearahnya.

“CEPAT BERSIHKAN SELURUH RUMAH!!” suara sang monster Umma masih terdengar.

“IYA UMMA.. IYAA!!!”

Dengan menggerutu Jiyeon pun mengambil alat pel dan mulai mengepel lantai rumah. Namun baru sampai lima menit ia mengepel, tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan.

“BRUKK!! HUADOOHH!!”

“Eh, suara apaan tuh?” tanya Jiyeon penasaran. Lalu ia pun segera keluar untuk melihat. Begitu ia sampai di luar, tahu-tahu seorang manusia berjenis kelamin namja yang berparas imut nan lucu seperti tak pernah punya dosa tampak jatuh berguling-guling di teras rumahnya.

“Nyiahahaha woii Ucup!! Ngapain kamu berguling-guling di situ?” tegur Jiyeon ngakak.

Si empunya watados itu pun berdiri dengan susah payah, lalu mendekati Jiyeon dengan mulut manyun dua senti.

“Kamu kalo habis ngepel bilang-bilang donk! Pasang banner gede-gede gitu kek kalo lantai licin. Jatuh deh jadinya aku.” Katanya sambil membersihkan bajunya yang kotor.

“Hahaha ya salah sendiri kenapa kamu gak bilang-bilang kalo mau kesini?”

“Kan mau ngasih curpris.”

“JIYEOOONN!! BICARA SAMA SIAPA KAMU?? HAH??” suara sang monster tiba-tiba terdengar lagi dari dalam rumah.

“INI SAMA SI UCUP, EH SI YOSEOB UMMAA..!!”

“SURUH DIA PULANG! KAMU GAK AKAN UMMA KASIH IJIN BUAT PERGI MAIN!!”

“Mwo?? Jadi aku diusir nih Tante??” seru Yoseob terkejut.

PRANG!! GRADAK!! JEBRUAKK!! DHUAR!!

Kali ini giliran lemari pakaian Fei yang melayang ke arah Yoseob. Namja itu segera memejamkan mata dan berkonsentrasi ala Naruto yang mengeluarkan cakranya untuk menghindari serangan itu. Alhasil, lemari itu hanya numpang lewat saja. Benda besar itu memang berhasil ditanganinya, namun sayang, baru saja Yoseob mengakhiri cakranya, sebuah pakaian dalam milik Fei telah mampir ke mukanya.

“HYAAA APA INI??” teriaknya histeris, karena melihat benda itu menempel di wajahnya. Lalu dengan ketakutan ia melemparkan benda itu dan bersembunyi di bawah meja ruang tamu.

“Eh, kenapa kamu sembunyi?” tanya Jiyeon heran.

“Aku paling anti sama benda aneh itu.”

“Itu namanya pakaian dalam, bukan benda aneh. Miliknya Umma.”

“Iya tapi aku paling trauma sama benda itu. Dulu aku pernah kalah lomba marathon gara-gara benda itu.”

“Hah? Kok bisa?”

“Iya. Jadi kan waktu itu aku udah mau menang tuh! Tiba-tiba ada seorang yeoja melambai-lambaikan benda anehnya padaku sambil berteriak “Yoseob! Menanglah, maka ini akan jadi milikmu!” tentu saja aku takut dan kehilangan konsentrasi hingga tersandung. Jadinya aku kalah lomba deh..” Kata Yoseob sambil menunduk sedih, teringat kejadian na’as itu.

Jiyeon merasa iba dan menepuk-nepuk punggungnya keras-keras sampai-sampai Yoseob muntah-muntah.

“Jangan nangis dong.. Tissuku habis. Cuman ada tissue basah di kamar mandi. Kamu mau?” tawarnya kemudian.

“Enggak usah, terima kasih.”

“Terus kamu kesini mau ngapain?”

“Aku cuman mau ngasih kue ini. Ini dari Ummaku buat Umma kamu. Tapi karena diusir, ya udah gak jadi aja. Aku bawa pulang lagi aja…”

“EHH JANGAAANN! MANA KUENYA? SINI!!” tahu-tahu Fei sudah nongol dan segera merebut bungkusan kue dari tangan Yoseob. Yoseob dan Jiyeon melongo melihat reaksi Fei yang secepat itu.

“Jadi aku gak jadi diusir nih Tante?”

“HEHH SIAPA BILANG??”

“Tapi kan kuenya diambil..”

“HMMM ya.. Ya.. Karena kamu bawa kue, Tante ijinkan kamu membantu Jiyeon membersihkan rumah. Itu bak kamar mandi juga perlu di isi. Timba dan ember sudah ada di sana. Terus lemari yang Tante lempar tadi bawa masuk kembali juga ke tempat semula sekalian isinya ditata lagi yang rapi.”

“MWOOO??”

“MAU ATAU TIDAK??! LEMPAR LAGI NIH!” ancam Fei sambil bersiap melemparkan pakaian dalamnya lagi ke arah Yoseob.

“Weeeehh i.. iya.. iya.. Mau, kok. Mau banget.. Tapi tolong singkirkan itu jauh-jauh..”

“BAGUS!! CEPAT KERJAKAN SEKARANG!”

Yoseob terpaksa mengangguk. Fei pun melangkah kembali masuk ke dalam rumah dengan menggoyang-goyangkan tangannya ala Miss Universe.

“Sabar ya Yos! Aku bantu kamu kok.” Kata Jiyeon.

“Aku juga siap bantu kamu kok.” Tiba-tiba terdengar suara lain menyahut. Yoseob dan Jiyeon menoleh serempak.

“GIKWANG??”

Namja lain berlabel Gikwang itu tampak nyengir badut.

“Darimana kamu datang?” tanya Jiyeon heran.

“Ssst.. Jangan keras-keras ngomongnya. Sebenernya aku tadi ada di dalam lemari pakean Umma kamu. Pas dia lempar tadi, aku keluar deh! Hehehe..”

“Hehh?? Ngapain kamu di dalam lemarinya Tante Fei?” tanya Yoseob penasaran.

“Aku lagi nyariin pakaian dalam aku yang hilang sebulan yang lalu. Aku pikir Tante Fei yang ngambil. Soalnya aku tau kalo dia tuh ngefans banget sama pakaian dalamku.”

“Wuahh jangan-jangan pakean dalam yang ada di bawah tempat tidur Umma Fei itu punya kamu, Kwang!” kata Jiyeon.

“Masa? Apa warnanya?”

“Pink kan?”

“Ssst.. Jangan keras-keras ngomong ‘pink’ nya. Terus ada di mana sekarang?”

“Udah aku bakar. Abis jelek sih! Masa ada gambar nenek-nenek naik becak gitu..”

“MWO?? Dibakar?? Ommo.. Itu kan CD paporit aku, Jiy.. Kenapa dibakar? Tau gak? Itu CD udah turun temurun dari nenek moyangnya kakekku.. ”

“Wah, maap deh, Kwang maap.. Aku kan gak tau. Ntar aku ganti deh! Warna pink kan? Gampang. Di lemarinya Appa banyak kok yang warna gitu.”

“Beneran diganti ya?”

“Iya tenang aja..”

“Oh akhirnya celana dalamku akan tergantikan juga..”

“Aduuuhh.. Udah deh, udah deh! Udah cukup ngomongin benda aneh itu. Pusing tau! Cepet bantu aku beresin semua ini.”kata Yoseob sambil menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras, lalu berdiri untuk mengerjakan tugas yang diberikan Fei padanya. Gikwang dan Jiyeon pun membantunya.

___

 

Pagi itu di gerbang sekolah, Yoseob terlihat kebingungan. Mukanya tampak panik tak seperti biasanya. Kebetulan waktu itu Gikwang dan Jiyeon yang baru datang juga melihatnya. Mereka penasaran melihat Yoseob yang seperti kebingungan itu.

“Yos! Kenapa kamu?” tanya Gikwang.

“Iya nih, kayak orgil aja.” Sambung Jiyeon.

“Kayak apa?” tanya Yoseob tak mengerti.

“Kayak Orgil. Nah, mana duitnya?”

“Duit apaan?”

“Duit 100 ribu lah. Kan aku udah ngatain kamu kayak orgil dua kali.”

“Nih orang ngomong apa sih? Kaga ngerti deh!”

“Iya.. Kata Umma Fei kalo aku ngatain seseorang kayak orgil dan orang itu tanya lagi sehingga aku harus ngatain dia orgil dua kali, berarti orang itu harus ngasih duit 100 ribu.”

“Oh gitu ya?”

“Iya, makanya cepet kasih duitnya sekarang.”

“Iya deh. Nih..” Yoseob menyerahkan uang 100 ribu pada Jiyeon.

“Nah, ini baru namanya Orgil sejati.”

“Makasih..”

“Sama-sama..”

“Eh tapi ngomong-ngomong, orgil itu apa sih?”

“Orang gila.. Masa gak tau?”

“Oh.. ya..  ya..” Yoseob mengangguk-angguk paham.

“Terus terus, kamu ngapain tadi kayak kebingungan gitu?” giliran Gikwang yang bertanya.

“Ini nih. Sekarang kan hari senin. Tapi aku lupa di mana letak kelas kita..”

“Duuh bego.. Masa kelas kita aja gak tau.”

“Emang kamu tau, Kwang?” tanya Jiyeon.

“Enggak..”

“Yaahh! Terus gimana dunk? Aku juga lupa nih! Ahh ini pasti gara-gara kemaren kita dikerjain sama Umma Fei habis-habisan sampai-sampai kita jadi amnesia kayak gini.” Kata Jiyeon kesal.

“Emm gini aja. Kita ikutin aja anak sekelas kita yang baru datang. Terus kemana dia pergi, kesitulah kita pergi. Gimana?” usul Gikwang.

“Whoa!! Encer juga ternyata otak kamu, Kwang.” Puji Yoseob.

“Iya nih! Aku kira kamu sama dongonya juga kayak si Yoseob.” Sambung Jiyeon.

“Engga dong.. Aku kan keturunannya Oom Albert Einstein..”

“Hah? Dia Oom kamu ya, Kwang?”

“Bukan dong.. Dia kan aktor terkenal..”

PLETAK!!

Tangan Yoseob dan Jiyeon pun serentak mendarat di kepala Gikwang. Gikwang spontan mengelus kepalanya sambil meringis kesakitan.

“Eh liat tuh! Itu temen sekelas kita kan? Siapa namanya aku lupa.” Kata Yoseob tiba-tiba sambil menunjuk seorang siswa yang baru masuk gerbang sekolah.

“Itu si Jangkung Dongwoon. Ayo cepet kita ikutin dia.” Kata Jiyeon mendahului kedua kawan namjanya itu mengikuti Dongwoon. Mereka mengendap-ngendap mengikuti Dongwoon layaknya seorang maling yang mengincar targetnya. Dongwoon yang berkaki panjang itu berjalan dengan langkah lebar-lebar sehingga membuat ketiga kucrut tadi agak kesulitan mengikutinya dikarenakan kaki mereka yang kalah panjang itu. Rupanya Dongwoon menaiki tangga sekolah dan menuju ke atas.

“Whoa! Ternyata kelas kita ada di atas. Aku mulai sedikit ingat sekarang.” Bisik Yoseob.

“Sst.. Kita ikutin terus dulu. Ngerumpinya nanti saja.” Balas Jiyeon.

“Aduuhh.. Yos.. Kakiku kamu injek nih! Sakit tau!” pekik Gikwang tiba-tiba sambil meringis menahan sakit.

Yoseob melihat ke bawah. Benar juga. Tampak olehnya kaki Gikwang telah gepeng akibat dia injak.

“Gimana nih? Aku gak bisa jalan dengan kaki kempes kayak gini.”

“Aduh gimana ya?” Yoseob berpikir keras mencari akal. Sementara itu Dongwoon sudah terlihat jauh di depan. Tiba-tiba Yoseob melihat pintu gudang sekolah yang berada tak jauh darinya sedikit terbuka.

“Eh Yos. Mau kemana kamu?” tanya Jiyeon.

“Bentar. Siapa tau di dalam ada sesuatu yang bisa bikin kaki Gikwang ngembang lagi. Ayo ikut aku.”

“Terus si Jangkung Dongwoon?”

“Itu nanti sajalah. Kesembuhan kaki Gikwang lebih penting. Ayo!”

Jiyeon pun membantu Gikwang berjalan mengikuti Yoseob masuk kedalam gudang sekolah.

“Whoa!! Baru kali ini aku liat isi gudang sekolah kayak daerah pegunungan.” Kata Yoseob berdecak kagum.

“Hey-hey! Yang kamu liat itu lukisan pemandangan yang udah sobek.” Tegur Jiyeon.

“Loh, masa?” Yoseob menajamkan penglihatannya. Ternyata benar, yang dilihatnya itu hanyalah lukisan yang sudah sobek sana sini mirip celana kesayangannya yang sekarang berada di rumah. Ah, Yoseob jadi miris melihatnya.

“Mana sesuatu yang tadi kamu bilang yang bisa balikin kakiku ngembang lagi, Yos? Udah gak tahan nih!” kata Gikwang.

“Iye bentar. Ini juga lagi nyari, Kwang.”

Yoseob mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gudang. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang diharapkannya. Sebuah pompa. Dengan penuh rasa haru ia segera mengambil pompa tersebut.

“Kwang, aku udah nemuin sesuatu itu!” serunya.

“Benarkah? Oh akhirnya penderitaanku akan segera berakhir.” Kata Gikwang sambil menangis bahagia.

Lalu tanpa menunggu malaikat Isrofil meniup sangkakalanya, Yoseob segera memompa kaki Gikwang yang gepeng itu hingga akhirnya kembali seperti sediakala.

“Berhasil, Kwang!” katanya setelah beberapa saat kemudian.

“Iya, kakiku udah balik lagi!” balas Gikwang.

YEEEE!! Keduanya pun berpelukan.*ikuuuuttt#PLAK!!

“Eh tunggu-tunggu!” kata Yoseob tiba-tiba.

“Kenapa e kenapa, Yos?” tanya Gikwang sambil menatap sobatnya itu penuh kasih sayang.

“Jiyeon mana Jiyeon?”

“Loh iya ya? Kemana dia? Kok gak ada?”

Keduanya mulai celingukan mencari Jiyeon.

“JIYEON!! KAMU DI MANA??”

Keduanya terus mencari Jiyeon mulai dari kolong-kolong, dalam kardus bekas hingga ventilasi pintu dan jendela. Namun yeoja itu tak juga memunculkan wajah manisnya.

“Apa dia udah keluar duluan ya?” tanya Gikwang.

“Ah, gak mungkin. Masa iya dia tega ninggalin kita berdua?”

“Lha terus kemana dunk?”

“Eh liat itu! Di sana ada lubang. Mungkin aja dia masuk ke sana. Ayo kita liat!”

Keduanya pun mendekat ke arah lubang yang dimaksud Yoseob tadi. Lubang itu berukuran kecil mirip ukuran lubang yang biasa dilewati kucing di rumah Yoseob. Namun mereka tak dapat melihat ke dalam lubang tersebut karena suasananya yang gelap.

“Lubang apa ini? Kecil amat. Masa iya Jiyeon masuk sini. Mana muat dia?” kata Gikwang.

“KYAAA!! TOLOONG!!!”

Yoseob dan Gikwang berpandangan.

“Coba tebak itu suara siapa?” tanya Yoseob.

“Yang jelas bukan suaranya Teteh Syahrini. Cetarr membahana euy!”

“Itu suaranya Jiyeon, Kwang! Dia ada di dalam ruangan ini.”

“Loh masa? Aku gak percaya ah! Pasti cuman suaranya tikus yang kejepit bantal aja.”

“Iya aku yakin kok kalo itu tadi suaranya Jiyeon.”

“Ck.. Masa sih? Bentar.”

Gikwang mendekatkan kepalanya ke dalam lubang itu lalu berteriak.

“ Woii yang di sono! Teriak lagi dong! Pengen mastiin nih tadi suaranya tikus apa Jiyeon!”

Yoseob tersenyum lalu mengacungkan jempol pada Gikwang.

“Good!” katanya. Gikwang pun membalas mengacungkan kepalan tangan kanannya ke atas mengikuti gaya Bung Tomo sambil mengucap “MERDEKA!”

“INI JIYEON BEGOO!! CEPETAN KALIAN TOLONGIN AKU!!” suara itu pun terdengar lagi.

“Wah, ternyata beneran Jiyeon, Yos. Gimana nih?”

Yoseob pun mendekatkan kepalanya ke lubang dan berteriak.

“Kita gak bisa masuk Jiy! Lubangnya gak muat buat kita berdua!!”

“POKOKNYA KALIAN HARUS TOLONGIN AKU! KALO ENGGAK AKU BISA DIBUNUH!”

“DIBUNUH?? Whoa aku atut ah kalo sama urusan bunuh-bunuhan kayak gini. Mau pulang aja.”

“EHH JANGAANN!! AKU JANJI DEH BAKAL BALIKIN DUIT KAMU YANG SERATUS RIBU TADI. TAPI BEBASIN AKU DULU!!”

Yoseob  berpikir sejenak, dua jenak, tiga jenak, empat jenak, lima jenak, enam jenak, tujuh jenak..

“Belom selese Yos mikirnya? Lumayan tau uang seratus ribu. Kalo kamu gak mau, ntar biar aku aja deh yang ambil duitnya. Tapi bebasin Jiyeon dulu. Gimana?” kata Gikwang tak sabar menunggu keputusan Yoseob.

Yoseob pun mengangguk setuju.

“Baiklah. Tapi gimana caranya kita masuk sana? Lubang ini sudah tentu gak akan muat kita lewati.”

Di saat keduanya sibuk berpikir, tiba-tiba seorang namja yang tak diundang nyelonong masuk begitu saja.

“Butuh bantuan, Tuan-Tuan?” tanyanya.

“Eh, anda siapa?” tanya Yoseob heran.

“Itu apa itu yang di tangan?” sambung Gikwang pula penasaran melihat namja itu membawa sesuatu yang dibungkus rapi dengan pita warna warni bak pelangi di langit yang biru.

“Perkenalkan, nama saya Jang Hyunseung. Saya adalah tukang service hp keliling yang kebetulan mendengar keluhan kalian. Dan ini yang ada di tangan saya adalah…”

Namja bernama Hyunseung itu membuka bungkusan indah di tangannya dan..

“..tadaaaa..”

Sebuah gergaji mesin tampak terhunus anggun di tangannya.

“WHOA!! APA INI??” Yoseob dan Gikwang terkejut melihatnya.

“Ini namanya gergaji mesin. Masa ndak tau sih? Norak deh! Biasanya saya menggunakan ini untuk memperbaiki hp-hp yang rusak milik orang-orang.”

“Wah.. Hebat! Pasti langsung sembuh ya hapenya?”

“Langsung terbawa angin sepoi-sepoi basah.”

“Eh?”

“Iya.. Soalnya hp-hp itu langsung lumat jadi debu-debu gitu. Dan gara-gara itu saya jadi sering masuk keluar penjara karena didakwa sudah merusak citra profesi tukang service hp yang seharusnya bisa memenuhi keinginan pelanggannya. Tapi rasanya saya memang tidak berguna.. Hiks..”

Hyunseung pun menangis sedih.

“Jangan nangis. Nih usap pake ini aja.” Kata Gikwang sambil menyodorkan lengan baju seragam milik Yoseob. Hyunseung pun langsung mengusap air matanya sekaligus ingusnya di sana. Yoseob menepuk-nepuk pantatnya punggungnya karena merasa iba.

“Baiklah! Jadi, apa masalah yang membuat kalian mengeluh?” Hyunseung mendadak serius, membuat Yoseob dan Gikwang sedikit terkejut.

“Iya jadi gini.. Kami berdua mau masuk ruangan ini. Ada teman kami yang terjebak di sana. Tapi gak bisa. Liat aja lubang sekecil itu mana muat buat kami berdua?” jelas Yoseob.

“Tenang saja. Selama ada Hyunseung si tukang service hp keliling yang tidak pernah sukses, kalian akan aman-aman saja. Sekarang, minggirlah!”

Yoseob dan Gikwang segera menjauh dan membiarkan Hyunseung beraksi. Hyunseung terlihat memejamkan mata, lalu setelah berkomat kamit dan ngedance Fiction by B2ST terlebih dulu, ia pun menyalakan gergaji mesinnya dan mulai membelah lubang di depannya itu sehingga menjadi lebar seukuran gajah afrika.

“SELESAI!!” ucapnya girang.

“WHOA KEREN!! Akhirnya kita berhasil masuk juga! Terima kasih ya Hyunseung. Anda telah berhasil menjadi tukang service hp keliling yang sukses!” puji Gikwang sambil menyalami Hyunseung. Yoseob mengikutinya.

“Oh iya nomor hape anda berapa? Siapa tahu nanti kami butuh bantuan lagi?” tanya Yoseob.

“Kosong delapan sembilan enam, tujuh tiga dua satu, lima lima lima lima. Jangan lupa! U.. call w..” kata Hyunseung mengikuti gaya Sule di tipi.

“Okelah siip!!”

“Ya udah saya cabut dulu kalau begitu.”

“Oke titi dj yah..” kata Gikwang.

Setelah berpelukan dan cipika cipiki sebentar sebagai tanda perpisahan, Hyunseung pun beranjak keluar meninggalkan mereka.

“WOII KALIAN LAMA SEKALI SIH??” terdengar suara Jiyeon membentak. Yoseob dan Gikwang menoleh terkejut. Mereka melihat Jiyeon tengah terikat di sebuah tiang bendera.

“Maapin kita berdua Jiy. Tadi soalnya kita masih bingung mau masuk lewat mana. Habis, lubang di sana terlalu kecil gak muat buat kami berdua. Untung ada Hyunseung si Tukang service hp keliling. Dia yang bantu kita buat bikin lubangnya jadi lebih besar.” Kata Yoseob.

“Iya, Jiy.. Sekarang dia udah jadi Tukang service Hp keliling yang sukses loh. Kami punya kok nomor hapenya. Kamu mau?” sambung Gikwang.

“Dasar bego kalian ini ya? Ngapain susah-susah bikin lubang segede itu? kalian gak liat di sono ada pintu masuk? HAH??”

Ngik ngok!! Kedua namja suami author  yang super jenius ini melihat ke arah yang ditunjuk Jiyeon. Benar saja. Ternyata tak jauh dari lubang kecil tadi *yang sekarang udah jadi lubang gede* ada pintu masuknya. Pintu itu tersenyum ramah dan melambai pada mereka.

“HAI!”katanya.

“Hai juga!” balas Yoseob dan Gikwang.

“Ya sudah! Cepat lepasin ikatan aku sini!” kata Jiyeon.

Seperti dikomando, kedua namja itu bergegas mendekati Jiyeon. Namun belum sempat mereka membuka ikatan Jiyeon, tiba-tiba suasana berubah kerlap kerlip bak lampu disko disusul dengan irama musik lagu dangdut Hamil Duluan by emm siapa ya penyanyinya. Ah lupa gue.

“HUAHAHAHAHAHAHA…!!” tiba-tiba terdengar suara tawa menyeramkan membahana di sekitar ruangan. Beberapa saat kemudian muncullah seseorang berpakaian hitam dengan style Mr. Black musuh Saraz 008 berdiri di atas mimbar.

“Whoaa… Asyik nih! Udah lama kita gak ngedance kayak gini ya, Kwang.” Kata Yoseob sambil menggerak-gerakkan badannya mengikuti irama musik.

“Iya nih, Yos. Yuhuu tarreeekk cuy!!” sambut Gikwang mengikuti jejak Yoseob.

“WOY!! WOY!! WOYY!! LOE BERDUA KAGAK LIAT APA KALO GUE ADA DI SINI?? GUE PENJAHAT NIH!! PENJAHAAT!! GIMANA SIH LOE!!” sosok Mr. Black tadi berteriak karena tersinggung kehadirannya diabaikan oleh kedua namja ini.

Yoseob dan Gikwang pun tersadar. Serempak mereka melihat ke arah sosok yang membentak mereka tadi. Dan musik pun berhenti seketika.

“Whoa!! Liat Kwang! Mr. Black! Wuuiihh keren euy ada Mr. Black di sini.” Kata Yoseob heboh, lalu mengeluarkan hapenya dan memotret ke arah sosok Mr. Black itu. Sementara Mr. Black langsung berpose dengan gaya nungging plus ngasih dua jari tangan kanannya sambil nyengir.

“Wahh.. kalo ada Mr. Black, pasti bentar lagi muncul Saraz nih! Horee kita bisa minta tanda tangan mereka dan kita bisa pamerin ke temen-temen, Yos!” sambung Gikwang kegirangan seraya mengeluarkan buku diary dan pulpennya.

“Hehh Kucrut! Kalian berdua itu gila apa keplek sih? Dia itu penjahatnya, Bego! Dia yang udah ngikat aku di sini!” bentak Jiyeon.

“Loh masa? Aduh, gak jadi motret deh kalo gitu.” Yoseob pun langsung mendelete semua foto Mr. Black yang tadi difotonya.

“Iye ah! Gak jadi minta tanda tangannya.” Susul Gikwang sambil memasukkan kembali buku diary dan pulpennya kedalam tas. Mr. Black pun manyun dibuatnya.

“Hey sosok hitam ganteng! Siapa kamu sebenarnya dan apa maumu dari kami?” tanya Gikwang kemudian sambil berkacak pinggang.

“Ow.. Tidak bisa.. Ganteng-ganteng begini saya juga punya nama tau! Perkenalkan, namaku adalah Dujun si Pangeran Keterangan. HUAHAHAHAHAHAHA..”

Yoseob, Gikwang dan Jiyeon saling berpandangan. Mereka berdiskusi sejenak. Lalu giliran Yoseob yang berkacak pinggang.

“Hey Pabo! Dimana-mana kalo di pilem-pilem misteri, adanya itu Pangeran Kegelapan. Bukan Pangeran Keterangan. Apa-apaan Pangeran Keterangan? Mentang-mentang gelap antonymnya terang aja. Sarap lu ye?” protes Yoseob, disusul anggukan setuju oleh kedua sohibnya.

Pangeran Keterangan Dujun berpikir sejenak, lalu berkata,

“Iye sih.. Gue juga tau. Tapi ini kan bukan cerita di pilem. AhH sudahlah! Tidak usah banyak CINCAU..”

“Banyak cincong..” ralat Gikwang cepat-cepat.

“..Iya maksudku tidak usah banyak cincong..”

“Good!” puji Gikwang puas.

“..karena kalian sudah mengganggu ketenanganku, maka aku akan segera membunuh kalian, dan memakan daging kalian mentah-mentah. HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA UHUK.. UHUK.. HOEKS..!!”

“Tuh kan, tuh kan, tuh kan? Udah tua banyak ulah sih. Muntah kan jadinya.” Komentar Yoseob, kembali diikuti anggukan setuju oleh kedua sahabat kentalnya itu.

“AHH SUDAH CUKUP BASA BASINYA!!! SEKARANG, TAMATLAH RIWAYAT KALIAN!!”

Pangeran Keterangan itu pun terbang ke arah ketiga anak itu dan siap menerkam mereka.

“KYAAAAAAAAAAAAA!!!” Yoseob dan Gikwang langsung lari tunggang langgang mencari tempat perlindungan.

“WOII!! JANGAN TINGGALIN GUE KUCRUUUT!!” teriak Jiyeon yang masih terikat itu ketakutan. Sementara PangKet *pangeran keterangan. Cape ngetik soalnya, kekeke* semakin dekat dengannya.

“KALO KALIAN GAK NOLONGIN AKU, DUIT SERATUS RIBU ITU KAGAK BAKAL KALIAN DAPETIN LAGI!!” teriak Jiyeon lagi.

“MWO?? SERATUS RIBU??” Pangket Dujun yang semula sudah membuka mulutnya hendak menerkam Jiyeon bulat-bulat itu, mendadak urung dan langsung berdiri di hadapan Jiyeon dengan mimik wajah gimanaa gitu.

“Apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Jiyeon was-was karena takut diterkam.

“Tadi kamu sebut-sebut duit seratus ribu kan?”

“Iye. Kenape emang?”

“Dimana duit itu sekarang? Cepet kasih ke aku!”

“Eitz! Tunggu dulu! Kamu mau duit itu?”

Pangket Dujun mengangguk cepat.

“Boleh. Tapi lepasin dulu ikatanku, baru kamu dapet uangnya. Gimana? Deal?”

“Oke, deal!” pangket Dujun mengulurkan tangan kanannya pada Jiyeon.

“Kenape tangan lu?” tanya Jiyeon heran.

“Loh, kan tadi kita deal. Biasanya kalo di tipi-tipi gitu kan salaman dulu kalo mau deal-dealan.”

“Woii bego! Gimana kita bisa salaman? Orang tanganku aja masih terikat gini.”

“Oh iya ya..” Pangket Dujun nyengir sambil menggaruk-garuk rambutnya yang kebetulan memang ketombean.

“Ya udah cepetan buka!!! Mau duitnya kagak??” bentak Jiyeon lagi.

“Oh iya iya mau.. Buset dah! Horror bener sih yeoja satu ini. Ngalahin emak gue aja!”

Pangket Dujun pun mulai berusaha membuka ikatan Jiyeon.

Sementara itu Yoseob dan Gikwang yang sedang bersembunyi dan menyamar sebagai kardus bekas itu berbisik-bisik.

“Eh, Yos. Duit kita mau diambil sama Pangket tuh!” bisik Gikwang.

“Itu duit gue kali..” ralat Yoseob.

“Iye-iye.. Tapi kan tadi kamu bilang duitnya buat aku aja..”

“Bener juga sih.. Terus gimana dong? Aku kagak rela lho kalo bekas duitku itu jatuh ke tangannya si Pangket.”

“Sama apalagi aku. Malah lebih kagak rela lagi. Mana baru mau jadi calon duitku lagi. Kan lumayan buat beli pakean dalem yang baru..”

“Kyaaaa jangan sebut benda aneh itu lagi!”

“Eh iya.. Iyaa.. Maap..”

“Ya udah, gimana kalo kita serang aja dia?”

“Tapi begimane caranya?”

Yoseob mulai memutar otaknya. Tiba-tiba kedua matanya menangkap sesuatu. Tapi sesuatu kali ini bukan pompa yang tadi. Melainkan sebuah jala yang biasanya dipakai para nelayan untuk menjaring ikan di laut. Yoseob tersenyum lalu mengerling ke arah Gikwang memberikan isyarat. Gikwang yang mengerti langsung tersenyum pula sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

Sementara itu ikatan Jiyeon sudah hampir terlepas. Dan setelah benar-benar terlepas, Pangket Dujun langsung menagih janjinya.

“Mana duitnya?” tanyanya.

“Iye sabar, aku ambil dulu. Tapi merem ya?”

Karena bayangan uang seratus ribu yang melingkari kepalanya itu terus berputar, Pangket Dujun pun menuruti perintah Jiyeon dan memejamkan kedua matanya.

“Awas jangan ngintip..”

“Kagak..”

Perlahan-lahan Jiyeon pun mengeluarkan uang lembar seratus ribu dari dalam tasnya. Namun bersamaan dengan itu, tiba-tiba dua namja yang sejak tadi sembunyi itu mendadak lari mendekat sambil menenteng jala berukuran XXL MNOPQRSTUVWXYZ.

“KYAAAAAAAAAAAA JANGAN AMBIL BEKAS DUIT GUEEE!!!” teriak Yoseob geram.

“ALIAS CALON DUIT GUEEE….!!!” sambung Gikwang tak kalah sengitnya.

Pangket Dujun seketika membuka kedua matanya, namun kedua namja kesayangan author itu telah lebih dulu meringkusnya menggunakan jala besar tersebut. Ketiganya bergumul habis-habisan hingga akhirnya Pangket Dujun tak dapat bergerak lagi. Ia terjebak di dalam jala raksasa itu.

“YEEEE KITA BERHASIL!!” kata kedua namja itu sambil berpelukan dan melonjak-lonjak kegirangan.

PLETAKK!! PLETAKK!!

Tiba-tiba tangan mulus Jiyeon mendarat di kepala mereka berdua.

“Aduhh!! Jiy kenapa aku dipukul??” protes Yoseob sambil mengelus kepalanya yang sakit akibat kena jitak dari Jiyeon.

“Iya nih! Sakit tau! Bukannya terima kasih, malah jitak seenaknya aja.” Sambung Gikwang yang langsung disambut anggukan setuju dan acungan jempol dari Yoseob.

“Jelas aja aku keki!! Tau gak? Gara-gara kalian berdua yang bertindak sembrono itu, duit seratus ribu itu lenyap dari tanganku tauu!!”

“MWO??”

“Puas kalian sekarang? HAH?? PUAS??”

“Tapi tapi tapi tapi tapi.. Tadi kan belum sempet kamu kasih duitnya.”

“BEGO!! Dia itu sakti, tau! Gerakannya cepet! Pas tadi aku lengah gara-gara liat kalian yang tereak-tereak kagak jelas itu, dia langsung nyamber tuh duit. Padahal tadi rencananya aku tuh cuman pura-pura mau ngasih duitnya aja terus kabur keluar mumpung dia lagi merem. Ehh kalian malah ngerusak rencanaku.”

“Yahh tapi itu artinya kan sama aja kamu mau ninggalin kita berdua di sini dong! Gak boleh-gak boleh! Pokoknya tindakan kami tadi udah bener. Iya kan, Kwang?”kata Yoseob.

Gikwang mengangguk cepat sambil mengacungkan jempol kakinya.

“HUHH ya udah deh! Sekarang terserah kalian aja. Mau duit itu balik apa kagak, aku udah gak mau tau lagi urusan sama tuh duit.”kata Jiyeon, lalu beranjak dari tempatnya dan duduk di atas mimbar bekas tempat Pangket Dujun muncul pertama kali tadi.

Yoseob dan Gikwang mengalihkan pandangan kepada Pangket Dujun yang masih terjebak dalam jala. Kemudian keduanya berpandangan, lalu mengangguk seolah mengerti apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Pangket Dujun yang menyadari ada bahaya yang mengancamnya,  seketika membelalak terkejut, karena melihat kedua namja super duper yummy itu masing-masing membawa pentungan yang kalo ia tidak salah tebak itu milik tetangga hansipnya yang hilang beberapa tahun yang lalu.

“Mau apa kalian?” tanyanya was-was.

“Menurut lohh??” balas Yoseob dan Gikwang serempak.

“Eh jangan, jangan! jangan pukuli aku. Ampun aku nyerah deh!”

“Bagus, kalo gitu serahin duitnya sekarang!”

“Ow tidak bisaa.. Barang yang sudah dikasih, tidak bisa diambil lagi..”

“Oh jadi nantang nih ceritanya?”

“Gini aja.. Duit ini bakal aku serahin ke kalian, tapi dengan satu syarat..”

“Syarat apaan??”

“Bebaskan aku dulu..”

Yoseob dan Gikwang saling berpandangan. Kedua namja itu berunding sejenak.

“JANGAAAN..!! JANGAN IKUTIN OMONGAN DIAA!!” teriak Jiyeon dari atas mimbar.

“Tapi dia bilang bakal serahin duitnya kalo kita bebasin dia dulu, Jiy..” kata Yoseob.

“Iyaa.. Abis dia serahin duitnya, kita langsung keluar dari sini. Terus kalo aku udah dapet duitnya bakal aku pake buat beli…itu..hehehe…anu…emm..gak jadi deh..” Gikwang tak melanjutkan kalimat ‘CD’ nya karena melihat Yoseob sudah melotot ke arahnya.

“JANGAN!! POKOKNYA JANGANN!! DIA ITU PENJAHAT!! DIA ITU MAU NIPU KALIAN!! PERNAH NONTON PILEM DRAMA GAK SIH??”

“Pernah sih, tapi nontonnya gak sampe selesai..”

“Sudah jangan kebanyakan mikir lagi. Mau duitnya gak nih?” potong Pangket Dujun sambil memamerkan uang seratus ribu itu.

“Gimana nih, Yos?’ tanya Gikwang bingung.

“Ya udah deh, kita bebasin dia aja dulu.”

“JANGAAAN… ADUHH DASAR NAMJA-NAMJA PABOO!!” karena tak sanggup melihat adegan selanjutnya, Jiyeon pun menelungkupkan wajahnya ke atas meja.

Sementara itu Yoseob dan Gikwang mulai berusaha mengeluarkan Pangket Dujun dari jeratan jala itu. Namun begitu ia bebas, secepat kilat ia terbang menjauh sejauh dua meter dari tempat Yoseob dan Gikwang.

“Woii! Mana duitnya? Dasar penipu kamu!!” kata Yoseob marah karena merasa ditipu.

“HUAHAHAHA DASAR KALIAN NAMJA-NAMJA BODOH!! MAU-MAUNYA SAJA DIBOHONGIN SAMA MANUSIA SECERDAS PANGKET DUJUN!” ejek Pangket Dujun merasa puas.

“HUWAAA DUIT GUE DIAMBIIIL…!!!” Gikwang langsung menangis tersedu-sedu karena tidak jadi mendapatkan uangnya.

“Hey Pangket cakep..!!” seru Yoseob.

“Makasih..” sahut Pangket Dujun.

“Cepet kamu balikin duit itu. Itu bukan hak kamu tau! Apa kamu gak pernah dengerin ceramahnya Bang Haji di radio? Hah?? Ngambil barang yang bukan milik kita itu sama aja namanya dengan MENCURI!! Dan itu hukumnya HARAM, tau??” teriak Yoseob membabi buta.

“Ciyuuzz?? Miapah??” sahut Pangket Dujun cuek sambil asyik manicure pedicure.

Yoseob semakin mendongkol dibuatnya. Ia sudah kehabisan akal. Apalagi dilihatnya Gikwang masih belum berhenti menangis. Sementara Jiyeon, yeoja itu sepertinya sudah pergi ke alam mimpi. Terbukti suara dengkurannya terdengar sampai ke bawah.

“Hehh manusia bodoh! Mau cari akal apa lagi kamu? Kemenanganku ini sudah berada di depan mata. Kamu gak bisa berbuat apa-apa lagi. Nah, sekarang terimalah jurus rasenganku ini! RASENGAAAAAAANN!! HIAAAATT CIIIAAA..!!!”

Pangket Dujun segera mengeluarkan rasengannya. Yoseob kelabakan. Ia tidak tahu harus bagaimana. Semua jurus yang ia pelajari seperti lenyap ditelan rasa takutnya. Di saat-saat genting seperti itu tiba-tiba muncullah seorang pahlawan. Dengan mudahnya ia menangkis serangan Pangket Dujun dan membuat serangan itu mengenai atap gudang sehingga meninggalkan lubang besar di sana. Namun sayangnya puing-puing kehancuran atap gudang itu malah menutupi lubang bekas buatan Hyunseung si tukang service keliling, juga si pintu ramah tadi. Yoseob dan Gikwang terpana melihatnya. Jiyeon yang semula tertidur itu pun turut terbangun juga. Sosok pahlawan yang menolong mereka itu semakin lama semakin jelas terlihat.

 

 

To be continued..

 

Haha sampai di sini dulu deh ceritanya. Dilanjutin lain waktu lagi. Sooo, gimana nih readers tanggapannya? Kacau gak? So pasti lah.. Makanya tadi author saranin buat nyiapin kantong muntah aja😀 Kira-kira siapa yah pahlawan yang menyelamatkan mereka itu?? Kita liat nanti deh kalo udah waktunya😀

Tapi tapi, para readerdeul ada yang suka kan sama ceritanya? Mian deh kalo gak suka. Tapi bener loh, author cuman punya tujuan pengen nyenengin readerdeul aja🙂

Ya udah deh, silahkan cuap-cuapnya di bawah ya, readers tersayang *ngerayuduluah😀

See you at the next part *waving

Kamsahamnida🙂