Tried to Walk

 

Tried to Walk

By AiuAhra

©아유 아라2012

 

Cast : Baro and Kim Won Hee

Fandom : B1A4

Genre : Angst-Songfict

Lenght : Drabble|1050 words

Rating : PG 13

 

Inspirational Thing : Aku nemu ide fanfic ini berdasarkan MV “Tried to Walk” melihat Baro yang galau bikin aku greget bikin FF-nya hihihi.

 

Back Song : Tried to Walk—B1A4

 

Disclamer : Baro from WM Entertaimet—B1A4 and Kim Won Hee  are themself. This fanfic just a fiction, so do not bash~

 

A/N : Annyeong ^__^ mianhe kalo masih juga posting FF galau hehehe~ habisnya menemukan feel untuk FF galau lebih gampang ketimbang FF biasa😄 *ngeles* Oia, mungkin reader akan sedikit bingung sama jalan cerita FF ini. Sama author juga bingung *plak* habisnya cuma sehari ngerjainnya *ngeles lagi* :p Okelah, happy reading ajah ^^ and mianhe kalo ada typo~~

 

***

 

On my way back from leaving you. I’ll forget you…

 

Kapal ferri yang membawaku menuju pulau Nami masih melaju dengan tenang.  Setenang air danau Cheonpyeong yang beriak dibelah ujung kapal.

Aku menatap hampa ke sekelilingku. Di depan sana pulau Nami mulai terlihat. Musim gugur membuatnya terlihat hening. Seperti pulau tanpa penghuni, padahal di sana cukup banyak pengunjung. Aku masih memandang ke sana dengan tatapan yang kosong, seperti tak akan ada hal yang menarik yang bisa kunikmati di sana.

Menarik? Hh…kurasa sudah tak ada yang menarik lagi sejak… sejak Won Hee meminta kami untuk berpisah.

Kim Won Hee. Kurasa aku butuh banyak lembaran kertas untuk menceritakan tentang dirinya. Tentang kami berdua. Sebelumnya aku dan dia punya kisah yang sama. Setidaknya kami punya banyak kenangan. Ada begitu banyak hal yang kami lalui bersama. Termasuk pergi ke pulau Nami ketika musim gugur datang. Namun kali ini aku hanya pergi seorang diri. Bersama bongkahan hati yang dilanda sunyi. Ah, seharusnya aku tak mengingatnya lagi…

 

Yes…don’t meet a guy like me now…

 

Won Hee berdiri mematung di hadapanku. Ia sama sekali tak bicara. Hanya menunduk, hanya membisu. Seperti batu yang tak akan pernah bergerak ke sisi manapun. Aku pun hanya bisa diam menatapnya. Kukira ia butuh waktu untuk siap mengutarakan maksudnya.

                “Kita berpisah saja…” itu adalah kalimat yang tak pernah terpikir olehku. Aku tak pernah menduga kalau suatu saat Won Hee akan mengucapkan kalimat itu padaku. Pun aku juga tak berharap aku yang mengatakannya, karena aku tak pernah menginginkan perpisahan di antara kami.

                Saat itu aku tak mencoba meminta alasannya. Karena aku paling tahu apa alasannya. Karena aku bukan laki-laki yang baik. Aku sadar betul akan itu. Tetapi Won Hee tak pernah protes akan sikapku selama ini. Bahkan sebelum kami menjalin hubungan ia sangat mengenal bagaimana tabiatku, bahwa aku bukan laki-laki yang cukup baik untuk seorang perempuan. Bahwa aku hanyalah seorang laki-laki yang betah berada di jalanan, mencari sebuah kebebasan dengan sunyi yang kerap menemani.

                Aku membiarkannya pergi. Seperti seorang pengecut. Seperti laki-laki yang baru kalah berjudi. Aku hanya menatap punggungnya yang kemudian hilang, hilang dan tak akan kembali lagi…

 

I guess love is leaving—it rides the wind and flies far away…

 

Akhirnya kapal yang kutumpangi berhenti dan menepi di pelabuhan. Aku lekas melangkah turun. Suasana pulau Nami di musim gugur cukup sepi. Tak banyak pengunjung. Aku berjalan di jalan yang dipenuhi pohon mapel yang meranggas. Beberapa dedaunan yang masih bergayut di tangkai mulai berguguran. Lalu semilir angin akan menerbangkannya.

Aku tersenyum samar. Bukankah aku sama halnya seperti daun malang itu? Dulu ia pasti punya kisah menyenangkan saat masih bergayut pada tangkai pohon. Mungkin ia punya banyak teman di sana. Hingga kemudian takdir membawanya pada satu kenyataan bahwa ia akan hilang, dihembus angin saat musim gugur tiba.

Mungkin cinta yang menghubungkanku dengan Won Hee juga seperti itu. Aku rasa perasaan itu telah pergi. Pergi dibawa angin dan terbang sangat jauh, sampai aku tak akan bisa menggapainya lagi.

 

I guess everything is changing—I guess you’re changing just like me…

 

Aku terkejut. Ini bukan pertemuan yang kuinginkan. Bertemu dengan Won Hee, dengan kondisi ia sedang bersama pria lain. Aku tak suka kondisi seperti ini. Terlebih keadaanku tak cukup baik. Won Hee dapat mengetahui dengan mudah bahwa aku belum bisa melupakannya. Kantung mata dengan wajahku yang semakin kusam ini tak akan bisa berbohong bahwa aku baik-baik saja. Won Hee jelas tahu aku tak pernah baik-baik saja sejak ia meninggalkanku.

                “Bagaimana kabarmu, Baro Oppa?” pertanyaannya terdengar sangat basi. Aku tak menjawabnya, hanya tertawa pelan. Seperti sebuah cengiran kesal. Cengiran yang kutujukan pada diriku yang tampak malang.

                “Kau…terlihat bahagia…,” aku berkata dengan datar. Won Hee tersenyum lalu mengangguk.

                “Oppa juga harus bahagia…”

                Aku tersenyum hambar kemudian memilih untuk segera berlalu dari hadapannya. Aku harus bahagia. Kukira itu bukan hal yang mudah kulakukan, tanpa Won Hee di sisiku.

 

It hurts, I miss you so much. I’m going. I’m going. I’m leaving…

 

Aku ingat. Dulu saat kami masih bersama, Won Hee akan menggenggam tanganku dan kami berjalan di bawah pohon mapel yang bersemi indah. Ia menoleh ke arahku lalu menunjukkan senyumnya yang paling manis. Kemudian bibir kecilnya akan berkata-kata. Banyak hal. Sementara aku mendengarkannya dan merasa begitu bahagia.

Aku ingat. Dulu saat kami masih bersama, Won Hee akan menarik tanganku. Mengajakku berlari. Seperti dua anak kecil yang baru mengerti bahwa dunia luar sangat menyenangkan. Ia membawaku menembus angin. Membawaku ke tempat yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Tempat yang dipenuhi pesaraan tulus darinya.

Aku juga ingat. Dulu saat kami masih bersama, Won Hee menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Aku tahu pada saat itu ia menaruh kecewa padaku. Karena aku tak juga berubah menjadi laki-laki seperti yang ia inginkan. Yang bisa memberinya sebuah perhatian. Sebuah ungkapan yang membuktikan bahwa aku sangat membutuhkannya. Sangat mencintainya. Kukira ia mengerti arti tatapanku padanya. Kukira ia mengerti mengapa aku ingin tetap ia menggenggam erat tanganku. Kukira ia bisa membaca isi hatiku lewat rasa nyaman yang kurasakan kala ada di sisinya.

Ini menyakitkan. Aku hanya bisa merindukannya. Lalu mencoba pergi menjauh. Menjauh dan kemudian menghilang dari semua kenangan yang pernah kami bagi bersama…

 

Tears are flowing because you and I, we loved so much…

 

Kenangan akan tetap menjadi kenangan. Selamanya ia akan tersimpan rapi dalam memori kepala. Atau mungkin  akan terkikis perlahan seiring berjalannya waktu. Dan jika bagiku waktu berjalan amat lambat, maka aku akan kesulitan melupakannya. Dan jika bagi Won Hee waktu berjalan engan cepat, maka akan mudah baginya untuk melupakanku. Terlebih kini ada pria lain di sisinya.

Kurasa cerita tentang air mata dan suka yang pernah kami bagi bersama akan segera sirna. Berganti dengan cerita tentang aku dan air mataku juga kesendirian.

Aku tersenyum hambar. Lagi. Pandangan mataku melihat ke sekitar. Barisan pohon mapel masih terlihat hening. Sesekali angin musim gugur menghembusnya pelan-pelan. Membuat semacam irama kesunyian.

Langkahku terhenti. Aku menengadah. Kulihat langit yang muram. Awan kelabu menyapu birunya tanpa celah. Aku bukannya tertarik melihat langit monoton itu. Aku hanya menahan agar air mataku tak jatuh. Namun ia justru jatuh, bersamaan dengan hembusan angin yang menerpaku. Aku tersenyum. Kali ini senyum penuh luka.

Aku memejamkan mata. Berharap semua masa lalu dapat terlupakan ketika aku membuka kembali kedua mataku. Tak apa jika dalam kegelapan ini aku melihat bayangan wajah Won Hee. Tak apa jika kegelapan ini membuatku mem-flashback semua tentang aku dan dia. Karena setelah ini, aku harus melupakannya.  Tak akan mengingatnya lagi.

Aku membuka kedua mataku. Semua memang terlihat sama. Langit tetaplah muram. Namun setelah ini tak akan ada lagi cerita mengenai kenangan. Aku akan mulai melangkah lagi sekarang. Melangkah menjauhi masa lalu. Melangkah untuk melupakan Won Hee…selamanya.

 

I’m walking on these streets without you…

I’m walking on these streets without you…

 

FIN

25 November 2012