skool-looks-kikwang04

Annyeong readers.. Ada yang menanti kelanjutan cerita yang satu ini gak ya? Miris banget dah hati author kalo kaga ada😦

Ya udah deh, ada atau gak ada author anggep ada aja😀 Let’s meluncurrr ke part selamnjutnyaa..🙂

 

Title                 : The Adventure of The Three Buddies PART 2

Writer              : Endor Yochi

Main Casts      : Yang Yoseob (B2ST) sebagai siswa SMP

Lee Gikwang (B2ST) sebagai siswa SMP, sobat Yoseob

Park Jiyeon (T-ARA)  sebagai siswi SMP, sobat Yoseob and Gikwang

Other Casts     : Wang Feifei (Miss A) sebagai Ummanya Jiyeon

Jang Hyunseung (B2ST) sebagai tukang service hp keliling

Yoon Dujun (B2ST) sebagai Pangeran Keterangan

Yong Junhyung (B2ST) sebagai si Buta dari Toko Mpok Nori

Son Dongwoon (B2ST) sebagai siswa SMP

Genre              : Comedy, Fantasy, Ngawur ( pokoknya gak kebayang deh betapa ancurnya nih epep :D)

Length                         : 2 PARTS

Rating             : Jangan kuatir. Menurut MUI, epep ini halal kok dikonsumsi semua umur. Bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek boleh juga kalo mau baca, kekeke #PLUK!! Lempar jemuran ke readers.

THE ADVENTURE  OF THE THREE BUDDIES®2013

 

Cerita sebelumnya :

“Hehh manusia bodoh! Mau cari akal apa lagi kamu? Kemenanganku ini sudah berada di depan mata. Kamu gak bisa berbuat apa-apa lagi. Nah, sekarang terimalah jurus rasenganku ini! RASENGAAAAAAANN!! HIAAAATT CIIIAAA..!!!”

Pangket Dujun segera mengeluarkan rasengannya. Yoseob kelabakan. Ia tidak tahu harus bagaimana. Semua jurus yang ia pelajari seperti lenyap ditelan rasa takutnya. Di saat-saat genting seperti itu tiba-tiba muncullah seorang pahlawan. Dengan mudahnya ia menangkis serangan Pangket Dujun dan membuat serangan itu mengenai atap gudang sehingga meninggalkan lubang besar di sana. Namun sayangnya puing-puing kehancuran atap gudang itu malah menutupi lubang bekas buatan Hyunseung si tukang service keliling, juga si pintu ramah tadi. Yoseob dan Gikwang terpana melihatnya. Jiyeon yang semula tertidur itu pun turut terbangun juga. Sosok pahlawan yang menolong mereka itu semakin lama semakin jelas terlihat.

 

_Author POV_

 

“WHOA!! SI BUTA DARI GOA HANTUU!!” pekik ketiga anak itu heboh ketika mereka tahu sosok penyelamat mereka.

“Maaf, tapi kalian salah. Aku adalah Yong Junhyung si Buta dari Toko Mpok Nori.” Kata sosok asing itu sambil membungkuk memperkenalkan diri.

“Eh?” ketiga anak itu keheranan.

“Jadi ceritanya begini. Sebelumnya julukanku sih emang si Buta dari Goa Hantu, tapi semuanya berubah karena ada kejadian yang mengharuskanku mengganti julukanku. Jadi gini, waktu itu aku kan lagi jalan-jalan sama si Dudu..”

“Eh, siapa si Dudu?” sela Jiyeon penasaran.

“Itu monyet peliharaanku. Kalian tau sendiri kan kalo aku punya monyet peliharaan yang selalu bersamaku kemanapun aku pergi?”

Ketiga anak itu mengangguk. Kini ketiganya tampak duduk manis berjejeran mendengarkan cerita si Buta. Dan mungkin karena dirasa belum ada lawan yang siap melawannya, Pangket Dujun pun turut serta duduk di kejauhan mendengarkan dongeng dari si Buta Junhyung.

“Nah.. Waktu itu malam hari. Hujan turun sangat deras. Karena kehujanan, akhirnya kami berdua pun berteduh di dalam sebuah toko obat illegal..”

“Darimana kamu bisa tau kalo itu sebuah toko illegal? Kamu kan buta?” sela Gikwang.

“Aku tau karena penjualnya sendiri yang bilang begitu. Terus dia bilang kalo namanya Mpok Nori. Dia juga bilang kalo dia punya beberapa koleksi ramuan modern made by Professor Dr. Aming. Bahkan ramuan itu ada juga yang bisa buat hewan berubah jadi manusia. Nah, waktu itu si Dudu monyet piaraanku itu mendengar semua percakapan kami. Eh tahu-tahu waktu kami semua sudah tidur, dia nyolong ramuan yang bisa merubah hewan menjadi manusia. Pagi harinya pas kami bangun, si Dudu sudah menghilang dengan meninggalkan secarik surat. Dalam surat itu dia bilang kalo dia mau mencari petualangannya sendiri dalam wujud manusia. Dia tidak tahu kalau ramuan itu membawa dampak negatif buatnya, yaitu dia bisa makan apa saja yang dia mau, termasuk daging manusia..”

“HIIIIIYY…!!” ketiga anak itu bergidik ketakutan.

“Karena aku kuatir dengan keadaannya, aku minta sama Mpok Nori untuk membuatkan ramuan penyembuh. Tapi dia menolak. Katanya kalo aku mau ramuan penyembuh itu, aku harus mengganti julukanku menjadi Junhyung Si Buta dari Toko Mpok Nori. Katanya sih biar tokonya jadi terkenal dan banyak dikunjungi masyarakat gitu. Karena aku sangat butuh, aku pun terpaksa menyetujuinya. Akhirnya dia pun membuatkan ramuan itu untukku.”

“Lalu kenapa kamu sekarang malah ada di sini?” tanya Yoseob.

“Kalian lihat makhluk yang ada di sana itu?”

Ketiga anak itu melihat ke arah yang ditunjuk si Buta Junhyung.

“Pangeran Keterangan Dujun?” ucap mereka serempak.

“Pangeran Keterangan Dujun apanya? Dia itulah si Dudu, monyet piaraanku yang udah berubah wujud menjadi manusia.”

“MWOOO??”

Ketiga anak itu terkejut mendengarnya. Mereka melihat ke arah Pangket Dujun dengan tatapan tak percaya.

Pangket Dujun nyengir bebek lalu melambaikan tangannya.

“Halo! Annyeong!” katanya kemudian sambil membungkuk.

“Sebenarnya dia itu baik. Tapi karena pengaruh ramuan itu makanya dia jadi jahat. Dan dia cuman patuh sama majikannya, yaitu aku sendiri. Mohon dimaapin atas semua kekhilafan yang dia buat,” kata si Buta Junhyung lagi.

“Jadi.. Kamu.. Kamu itu monyet?” tanya Yoseob pada Pangket Dujun mencoba memastikan.

“Biasa aja kale ngomong MONYET nya..” sahut Pangket Dujun sedikit tersinggung.

“NYAHAHAHAHA..!” Ketiga anak itu mendadak tertawa terbahak-bahak. Gikwang sampai berguling-guling di lantai dengan berderaian air mata. Sedangkan Yoseob berlari merapat ke dinding dan memukul-mukul dinding dengan histeris. Sementara Jiyeon karena saking gelinya, tanpa sadar ia menampar-nampar pipi si Buta Junhyung.

“Woii!! Woii!! Apa-apaan nih? Bisa diem gak semua?” bentak Si Buta Junhyung tiba-tiba.

Ketiganya pun serentak diam dan kembali ke tempat semula.

“Oops!!” ucap Jiyeon terkejut ketika dilihatnya kedua pipi Si Buta Junhyung merah akibat tamparannya.

“Huhh!! Kalian ini! Ya sudah, sepertinya cukup sampai di sini saja perjumpaan kita. Mudah-mudahan di lain kesempatan kita bisa bertemu lagi, tentunya di jam dan tempat yang sama, dalam acaraa…” si Buta Junhyung berkata sambil mengangkat tangannya menirukan presenter di televisi. Tapi bukannya sambutan yang ia dapatkan, melainkan malah tatapan keheranan dari keempat makhluk di depannya itu. Maka dengan sedikit menahan malu, ia kembali menurunkan tangannya dan berubah jadi si Buta lagi.

“Baiklah! Dudu, cepat minum ramuan ini dan kita pulang ke rumah.” Kata si Buta Junhyung kemudian sambil menyerahkan ramuannya pada pangket Dujun. Pangket Dujun pun menurut dan mengambil botol ramuan itu.

“EHH TUNGGU DULU!!” cegah Gikwang tiba-tiba.

“TUNGGU APA LAGI, KWANG??” serang keempatnya bersamaan, membuat Gikwang melongo.

“Ebuset.. Kompak bener kalian! Bukan apa-apa, tapi aku cuman mau ngambil duit aku yang seratus ribu itu. Cepetan bawa sini!” kata Gikwang.

“Oh iya! Hampir aja kelupaan tadi. Ayo cepet balikin, DUDU!!” sambung Yoseob pula.

“Tapi tapi tapi..”

“Balikin gak? Gue bunuh diri nih!” ancam Gikwang sambil mengarahkan sebuah penggaris yang ia ambil dari dalam tas milik Yoseob ke lehernya sendiri.

“Ehh jangan! JANGAAN!! Iya deh iya aku balikin..” akhirnya Pangket Dujun pun terpaksa menyerahkan uang seratus ribu itu pada Gikwang. Secepat kilat Gikwang pun merebutnya.

“ALHAMDULILLAAAAAAHH Akhirnya gue jadi juga beli cel……”

PLETAKK!!

Belum sempat Gikwang melanjutkan kalimatnya, tangan Yoseob terlebih dahulu telah mampir di kepalanya. Jiyeon ngakak melihatnya.

“Aduhh! Yos! Kenapa sih? Sakit tauukk!!” protes Gikwang tidak terima.

“Sekali lagi kamu ucapin kata-kata laknat itu, aku ambil lagi tuh duit.” Ancam Yoseob.

“Ehh iya, iya.. Maap.. Lupa soalnya tadi saking suenengnya, hehehe..”

“Permintaan maaf diterima. Tapi awas kalo diulangin lagi.”

“Iye-iye..”

“Nah, Dudu. Kamu boleh minum sekarang.” Kata si Buta Junhyung kemudian.

Pangket Dujun alias Dudu itu mengangguk, lalu mulai meneguk ramuan penyembuh itu sampai habis. Beberapa saat kemudian tubuhnya mulai mengeluarkan asap tebal, dan sebentar kemudian mengecil hingga membentuk seekor monyet yang lucu alias Dudu.

“Wuahh unyu sekali monyetnya! Boleh aku pelihara gak Om But?” kata Jiyeon.

“Yee enak aja. Ntar siapa yang nemenin saya tidur kalo gak ada Si Dudu.”

“Yahh.. Om Bubut pelit ihh..”

“Biarin! Week!”

Jiyeon merengut dibuatnya.

“Tenang aja, Jiy. Kan masih ada kita berdua yang nemenin kamu kapanpun kamu mau. Ya gak, Kwang?” kata Yoseob.

“Yoi, Yos!”

“Gak ah! Abis kalian kayak orgil sih..”

“Kayak ap…..”

“JANGAAAAAANNN!!” Yoseob dan Gikwang serempak membungkam mulut si Buta Junhyung yang semula hendak bertanya itu.

“Kalian berdua kenapa sih?” tanya Junhyung kemudian setelah kedua namja tadi melepaskan bungkamannya kembali.

“Kalo ada seseorang tanya dan dia ngatain seseorang orgil dua kali, maka orang itu harus ngasih dia duit 100 ribu..”

“Masa? Wah-wah.. Sungguh TER-LA-LU..”

“Makanya..”

Jiyeon hanya cengengesan dibuatnya.

“Terus gimana nih? Kita harus keluar dari sini sekarang juga. Nanti kalo ketahuan sama Guru bisa-bisa kita dihukum karena gak ikut pelajaran.” Kata Yoseob.

“Gimana mau ikut pelajaran? Orang kelas kita aja kita lupa.” Sahut Gikwang.

“Jangankan kelas, kita keluar dari sini aja belum tentu bisa. Liat aja tuh semua lubang udah tertutup sama puing-puing hasil rasengannya si Pangket Dujun tadi. Ada sih lubang, di atap. Tapi masa kita mau naik ke atap? Hellooow kita bukan superman yang bisa terbang ya..” sambung Jiyeon bawel.

Di saat mereka sedang kebingungan berpikir bagaimana caranya mencari jalan keluar, tiba-tiba Yoseob terlonjak.

“Aku tahu! Aku tahu!” pekiknya.

“Tahu apa, Yos?” tanya yang lain keheranan.

“Kita kan bisa minta bantuannya Hyunseung si tukang service hp keliling yang udah sukses itu.”

“Whoa iya bener! Jenius kamu, Yos!” sambut Gikwang.

“Pastinya! Tos dulu donk!”

PROKK!!

“Hehh-hehh!! Kalo mau minta bantuan ya langsung aja, jangan kebanyakan cincau..” kata si Buta Junhyung.

“Cincong!” ralat Gikwang.

“..iya itu maksudnya. Jangan kebanyakan cincong..”

“Good!” puji Gikwang puas.

“Dasar, majikan sama bawahan sama aja..” gumam Jiyeon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sementara Yoseob pun langsung meng call Hyunseung.

“Halloo thethangga!” ucap Yoseob menirukan logat kukang Julien *baca : film Penguin of the Madagascar.

“Iya hallo.. Baik saya akan langsung ke TKP sekarang juga.”

Tuut..tuut..tuuut..

Yoseob melongo dibuatnya.

“Kenapa, Yos?” tanya Gikwang heran.

“Aku bahkan belum bilang apa-apa..”

Belum sempat Gikwang menyahut lagi, tiba-tiba terdengar suara bising dari arah lubang tembok yang semula tertutupi puing-puing hasil karya Pangket Dujun tadi. Sebentar kemudian lubang itu semakin menguak dan akhirnya benar-benar terkuak. Dari sana muncul Hyunseung bersama senjata canggihnya, sang gergaji mesin. Hyunseung tampak tersenyum dan mengacungkan jempol ke arah mereka dengan gaya Asuka *baca: Ultraman Dyna.

“Whoa, kerja bagus Hyunseung! Anda berhasil untuk yang kedua kalinya.” Kata Yoseob sambil melangkah keluar melalui lubang yang dibuat Hyunseung. Yang lain pun mengikuti.

“Iya.. Saya benar-benar sangat.. Terharu sekali. Semua ini berkat kalian berdua. Hiks.. Terima kasih..” Hyunseung menangis lagi.

“Iya sama-sama.. Ini.. Pake ini aja..” kata Yoseob sambil menyodorkan lengan baju seragam milik Gikwang.

“Eh?” Gikwang kebingungan.

“Gantian dunk.. Tadi kan aku udah..” bisik Yoseob. Gikwang pun mengangguk dan membiarkan Hyunseung mengusap air mata sekaligus ingusnya di lengan bajunya.

“Baiklah rasanya kami sudah tidak ada gunanya lagi di sini. Kami harus segera kembali ke tokonya Mpok Nori dan membayar ramuan itu karena yang kemaren itu masih ngutang.” kata si Buta Junhyung.

“Oh gitu? Baiklah kalo begitu. Terima kasih buat semuanya ya, Om But?” kata jiyeon.

Mereka pun bersalaman dan cipika cipiki sebentar, kecuali dengan Jiyeon tentunya. Karena Jiyeon bilang harus bayar 100 ribu dulu kalau mau cipika cipiki dengannya.

“Dasar yeoja matre..” gumam si Buta Junhyung lirih.

Setelah berpamitan, si Buta junhyung dan si Dudu pun melesat terbang ke angkasa hingga lenyap dari pandangan mata.

“Wuehh!! Dia bisa terbang?? Tau gitu kenapa tadi pas mau keluar dia gak terbang aja lewat atap? Duh, tuh orang emang bener-bener bego ya?” komentar Gikwang.

“He’eh!” sahut yang lain mengiyakan.

“Ya udah lah! Yang penting kalian bisa keluar dari sini. Dan saya rasa saya harus pulang juga.” Kata Hyunseung.

“Iya.. Sekali lagi makasih ya atas bantuannya.”

“iya sama-sama. Sampai ketemu lagi!”

Hyunseung melambaikan tangannya ala pak Habibie dan melesat terbang juga menyusul Junhyung si Buta dari Toko Mpok Nori.

“MWOO?? Dia bisa terbang juga? WHOA!! Keren!!” kata ketiga anak itu sambil memandang ke atas langit dengan terkagum-kagum.

“Hey kalian bertiga! Sedang apa di situ?” tegur seseorang tiba-tiba.

Ketiganya pun terkejut dan menoleh.

“Si Jangkung Dongwoon?” ucap Jiyeon.

“Semua orang juga tahu kalo tubuhku jangkung. Tapi gak usah dipake julukan juga kalee..”

“Hehe iya maap, maap..”

“Kalian bertiga sedang apa di sini? Bukannya ikut pelajaran di kelas, tapi malah main-main di sini.”

“Ahh ceritanya panjang, Woon.. Tapi kami gak bisa cerita sekarang. Kami capek..” kata Yoseob sambil tergeletak di pundak Gikwang.

“Iya, Woon. Tadinya sih kami emang niat ke kelas. Tapi kami lupa kelas kami di mana..” sambung Gikwang sambil mengelus-ngelus kepala Yoseob.

“Iya terus kami ngusulin buat ngikutin kamu sampai ke sini..” Jiyeon menambahkan.

“Oh gitu? Ya udah, kalian masuk kelas sana! Kelas 8B. Udah ditungguin guru tuh!” kata Dongwoon.

“Lha terus kamu mau kemana?”

“Emm.. Ke toilet bentar.”

“Oke dah! Thanks ya?”

Dongwoon hanya mengangguk, lalu meninggalkan mereka bertiga.

Ketiganya pun mulai mencari kelas yang dimaksud Dongwoon.

“8 B? Yang ini kan kelasnya? Tapi kok kosong?” kata Yoseob keheranan setelah mereka sampai di kelas yang dimaksud.

“Iya nih! Kok kosong? Kemana semua orang?”

“EH LIHAT ITU!!” kata Jiyeon tiba-tiba.

Ketiganya melihat ke papan tulis. Di sana tertulis sebuah tulisan yang rapi ditulis dengan huruf balok bertuliskan “KHUSUS UNTUK HARI INI KELAS DIBUBARKAN SECARA MENDADAK DIKARENAKAN SEMUA GURU SEDANG RAPAT MEMBAHAS ATAP GUDANG SEKOLAH YANG BERLUBANG TANPA DIKETAHUI SEBABNYA.”

“MWOO?? APA-APAAN??”

“Berarti kita ditipu mentah-mentah sama si Jangkung itu. ASSEEMM!! Namja itu harus diberi pelajaran!” kata Gikwang gemas.

“Aku setuju.”sahut Yoseob, lalu celingukan mencari sesuatu yang baru. Bukan pompa, bukan pula jala, melainkan meja guru.

“Eh, mau kamu apakan tuh meja guru, Yos?” tanya Gikwang heran.

“Ya buat dilempar ke Dongwoon lah! Aku yakin dia masih belum jauh dari sini. Siapa yang mau ikut aku?”

“Tunggu! Aku ikut.” Kata Gikwang, lalu setelah menemukan sesuatu nya, yaitu tiga buah kursi, satu di tangan kiri, satu di tangan kanan, dan satu lagi di atas kepalanya, ia pun siap pergi berperang.

Sementara Jiyeon kebingungan harus memilih senjata apa. Namun setelah agak lama berpikir, ia menyuruh kedua sobat namjanya itu keluar duluan. Lalu dengan mengeluarkan jurus ala HULK, ia mencopot pintu kelas 8B dan menggotongnya.

“WHOA!! Wanita perkasa!!” komentar Gikwang dan Yoseob kagum.

“Baiklah! Mari kita berperang sekarang juga.” Ucap Jiyeon.

“Siaaap!!”

Ketiganya pun bergegas menyusul kemana Dongwoon pergi. Ternyata Dongwoon sudah sampai di luar sekolah. Ketiga anak itu berlari mengejarnya dengan menggotong senjata masing-masing.

“WOII JANGKUNG!! BERHENTI KAMU!!” teriak mereka kalap.

“KYAAAAAA MAMPUS GUE!!” ucap Dongwon terkejut setengah pingsan ketika dilihatnya ketiga makhluk aneh itu mengejarnya sambil membawa berbagai macam senjata. Dengan ketakutan ia pun berlari tunggang langgang menjauhi ketiganya. Namun ketiga anak yang sudah terlanjur kalap itu tak peduli lagi. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menjatuhi tubuh Dongwoon menggunakan senjata yang mereka bawa. Begitu ketiganya hampir mendekati Dongwoon, Yoseob pun memberi aba-aba.

“LEMPAAAAARR!!!”

“KYAAAAAAAAAAAA!!!!”

PRUNG!! PRANG!! BRUAKK!! JDUG!! GRADAK-GRADAK!!! KROMPYANG!!! CETARRR!! BLUKK!!

“NYAHAHAHA RASAKAN ITU!!” teriak ketiga anak itu puas ketika lemparan mereka mengenai sasaran. Namun wajah kemenangan mereka itu seketika pudar karena melihat ternyata Dongwoon masih sehat wal’afiat tak kurang suatu apapun.

“WEEE GAK KENA!! GAK KENAA!! WEEKK!!” ledek Dongwoon sambil menjulurkan lidahnya.

“Loh kok bisa?” tanya Yoseob heran sambil berpandangan dengan kedua temannya.

“Padahal tadi itu udah pas lho!” sambung Gikwang tak kalah herannya.

“Eh-eh, lihat itu!!” seru Jiyeon tiba-tiba.

Ketiganya melihat ke arah tumpukan senjata mereka tadi. Perlahan-lahan senjata-senjata itu terkuak, dan kemudian muncullah seseorang yang paling menakutkan di dunia keluar dari tumpukan senjata tersebut.

“KYAAAAAAAAAA UMMA FEIII…!!!” teriak Jiyeon histeris, langsung berbalik dan lari terbirit-birit. Sementara Yoseob dan Gikwang malah sempat-sempatnya berunding.

“Gimana nih, Kwang? Aku gak mau disuruh ngisi bak mandi di rumahnya lagi.” kata Yoseob ketakutan.

“Iya aku juga kapok tau bantuin kamu waktu kemaren itu. Tapi aku juga harus dapetin pakean dalam aku yang hilang itu, Yos!”

“Dasar pabo! Jiyeon kan udah bilang kalo pp-ppakke-ann dd-ddall-leem kamu itu udah dibakar..” Yoseob terpaksa mengucapkan kata-kata tabu itu walaupun dengan susah payah.

“Oh iya ya? Aku baru inget sekarang. Ya udah tunggu apa lagi? Kita lari sekarang!!”

“KALIAAAANN!!! JANGAN KABUUURRR!!!”

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA….!!”

Yoseob dan Gikwang pun berlarian menyusul Jiyeon.  Namun dengan menggunakan jurusnya, Fei terbang dan berhasil menghadang mereka bertiga.

”MAU LARI KEMANA KALIAN?? HAHH??”

Ketiga anak itu terpaksa berhenti dan berlutut dengan pasrah.

“Ampun Umma.. Jiyeon minta maaf.. Jiyeon gak tau kalo senjata kami tadi mengenai Umma.. Jiyeon janji bakalan rajin kok di rumah kalo Umma mau maafin kami..” kata Jiyeon hampir menangis karena membayangkan hukuman pedih yang akan dijatuhkan kepadanya.

“Iya Tante.. Saya juga janji deh bakal bawa kue setiap hari ke rumah Tante asalkan Tante gak hukum kami..” sambung Yoseob memelas.

“Iya Tante.. Saya juga janji bakal membawakan bla bla bla saya asal Tante mau maafin kami..” Gikwang menambahkan.

“Bla bla bla apa maksudmu?”

Gikwang melirik ke arah Yoseob sebentar, lalu menutup kedua telinga anak itu sambil berkata,

“Maksud saya pakean dalam saya, Tante..”

“Ohh.. Itu?? Emm ya.. ya.. Baiklah! Kali ini kalian saya maafkan. Tapi awas kalo kalian sampai berani melanggar janji kalian! NIHH hadiahnya!” kata Fei sambil mengepalkan tangan kekarnya. Ketiga anak itu ciut melihatnya.

“Ya sudah! Pulang sekarang!”

“Terimakasih, Umma!” kata Jiyeon dengan perasaan lega.

“Terimakasih Tante.” Sambung Yoseob dan Gikwang pula.

Fei pun beranjak pergi sambil melakukan gerakan khasnya, yaitu menggoyang-goyangkan tangannya ala Miss Universe.

“Fiuhh!! Lega juga akhirnya.” Kata Gikwang.

“Ah tapi sayang aku harus kasih kue tiap hari ke dia. Payah! Mana kuenya mahal lagi harganya.” Keluh Yoseob.

“Sama, aku juga harus ngurusin rumah tiap hari. Beuhh! Mana ada waktu buat baca novel kalo kayak gitu ceritanya.” Sambung Jiyeon.

“Sama aku juga sebenernya gak rela sih harus ngasih bla bla bla ku ke dia. Tapi ya mau gimana lagi?” kata Gikwang.

“Ya udahlah, yang penting kan kalian dimaafin. Daripada dihukum hayo.. Kan lebih parah lagi kalo dihukum.” Kata seseorang tiba-tiba.

Ketiganya menoleh ke arah suara itu. Seorang namja jangkung tampak berdiri tak jauh dari mereka sambil nyengir katak.

“KAMUUU??” teriak ketiga anak itu histeris dan langsung berdiri dengan serempak. Melihat itu, namja jangkung alias Dongwoon itu mulai sadar akan bahaya yang mengancamnya. Maka tanpa babibu lagi ia pun langsung lari pontang panting menghindar sebelum ketiga anak itu mengamuk. Sementara ketiga anak yang masih kesetanan itu kembali mengejarnya sambil memunguti senjata-senjata mereka lagi untuk dilemparkannya kepada Dongwoon.

“HYAAAAAAAAAAAAAA TOLOOOONG TANTE FEEIIIIII…..!!!” teriak Dongwoon ketakutan.

 

_Author POV end_

___

 

THE END

 

Hahaha gimana readers? Tambah kacau banget kan ceritanya? Pastinya, soalnya pas lagi bikin epep ini perasaan author juga lagi kacau. Awalnya sih karena seharian penuh author kena marah dari Umma tercinta. Makanya tanpa sengaja langsung muncul ide gila kayak gini. Eh, ternyata kelar juga dalam waktu dua hari, haha seneng sih.. Abis jarang banget author bikin epep bisa langsung tamat gitu. Pasti banyak gantungnya. *authorlagicurhat

Nah.. Sekarang giliran para readerdeul nih yang harus cuap-cuap di bawah. Kasih komentar atau kritikannya mengenai epep di atas tadi. Sedikit gak papa lah yang penting author gak sendirian di sini. Okeh readers?? Sampai jumpa di wahana selanjutnya *doainajabisa :p

Kamsahamnidaa🙂