Untitled

Title: Friends || Genre: Friendship, Romance || Length: Chaptered || Rating: PG-13 || Main casts: Kwon Ji Yong (GD of BIGBANG), Dong Yong Bae (Taeyang of BIGBANG), Lee Chaerin (CL of 2NE1), Sandara Park (Dara of 2NE1)

Disclaimer: Terinspirasi dari lagu TOP & Taeyang – Friends. Selain itu plot murni dari author.  Casts milik diri mereka sendiri dan Tuhan YME. Apa bila terjadi plagiarisme, harap segera laporkan kepada author via twitter @ScarecrowRahina atau melalui komentar pada FF ini. Credit pic: in pic

Notes: Apa bila terjadi plagiarisme, harap segera laporkan kepada author via twitter @ScarecrowRahina atau melalui komentar pada FF ini. Read, Like, Comment! Selamat membaca!

I’m not wandering around

I’m just looking for you

Why bother to run away?

.

Friends

by Rahina Lollidela

“Seandainya bisa… apa menurutmu kita akan kembali seperti dulu?”

Dara memandang sejenak laki-laki yang duduk menghadap tuts piano itu dengan senyuman sarkastisnya. “Seandainya bisa? Semuanya sudah berakhir, Yongbae. Sudahlah!” gadis itu berucap dan kembali meneguk soda kalengnya.

“Menurutmu sudah berakhir, ya?” Yongbae tersenyum simpul. Laki-laki itu meregangkan jari-jarinya dan mulai menarikannya pada tuts piano.

Dara memejamkan matanya ketika alunan familiar itu menguasai pendengarannya. Fur Elise. Dulu Yongbae dan Jiyong sering berlomba memamerkan versi masing-masing. Kini yang didengarnya adalah versi original kebanggan Yongbae, bukan versi elektronik milik Jiyong yang menjadi favorit Chaerin. Ah, di mana dua orang itu?

“Nah, kulihat kau mulai marindu.”

Dara mengerjapkan matanya ketika tanpa sadar alunan karya Beethoven itu tak lagi terdengar digantikan ucapan yang begitu menyudutkan dari Yongbae. Dara terdiam menatap sendu laki-laki yang pernah menjadi sahabatnya. “Bagaimana pun juga kita pernah menjadi sahabat. Bagaimana tidak?” ucap gadis itu, mulai melembut.

“Kau tahu di mana dua lainnya?”

Dara menggeleng. “Hanya Jiyong yang selalu datang ke kafe tempatku bekerja. Memuakkan. Kami bukan siapa-siapa di sana. Hanya pelanggan tetap dan pelayan kafe saja.”

*** Friends***

Chaerin terus melangkah memandangi maneken-maneken yang memamerkan pakaian rancangannya. Sangat anggun. Ya, tentu saja. Gadis itu menghembus pelan merasa paru-parunya sangat sesak. Terlalu lama tak menghirup udara bebas, begini jadinya.

“Kalau ada yang mencariku, bilang kalau aku sudah pergi dan baru kembali besok,” gadis itu berpesan pada asistennya yang dengan mantap langsung mengangguk, tak menyadari bahwa bosnya itu baru saja tanpa sadar mengatakan bahwa ia tak akan menemui laki-laki pilihan ibunya.

Chaerin terus melangkah santai, memasukkan kedua tangannya pada saku mantel putih kotak-kotak anggun yang dikenakannya. Bukan, bukan karyanya. Dia tidak memakai karya sendiri. Gadis itu terus melangkah santai menerawang pemandangan Seoul dari balik kacamata hitamnya. Dingin sekali. Rindu itu kembali memuncak.

“Chaerin?”

Chaerin menghentikan langkahnya. Rasa hangat pelukan itu kembali dirasakannya. Tidak. Tidak ada yang memeluknya. Hanya suara familiar itu… Ah, Jiyong. Lama tak jumpa.

“Ji… Jiyong?” Chaerin memandang Jiyong bingung. Ia harus bagaimana?

“Tidak biasanya aku melihatmu di sini. Sedang apa?” Jiyong bertanya.

Chaerin terdiam. Ya, sedang apa dia di sana? Berjalan-jalan dan … baru menyadari bahwa ia tersesat?! Oh, Lee Chaerin yang lebih sering diantar supir memang seperti ini.

“Well… Yeah…, aku… tadinya aku berniat mengambil udara segar dan ternyata aku tersesat,” gadis itu mengangkat kedua bahunya. Kikuk. Tidak apa-apa. Lagi pula bersikap segila apa pun di depan Jiyong tak akan masalah baginya. Karena laki-laki itu bukan laki-laki yang sedang dalam masa pendekatan, juga karena laki-laki itu pernah menjadi sahabatnya.

“Tersesat? Bagaimana bisa?” Bukankah dulu kita sering ke sini hingga larut malam? Ingin sekali Jiyong menambahkannya.

“Well… aku tidak tahu jalan di Seoul dengan baik. Hariku mayoritas di Jepang.”

Apa? Tapi dulu kau yang banyak mengenal tempat-tempat menyenangkan di sini, Chae. Semuanya sudah berubah. Tiga tahun rupanya waktu yang cukup lama.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Chaerin mengangkat bahunya lagi. Gadis itu menghembus pelan, menghilangkan rasa canggung. “Kau mau mengantarku?”

***Friends***

“Terimakasih sudah mau mengantarkanku ke sini. Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot,” Dara mengangguk kecil pada Yongbae yang entah kenapa mau mengantarnya hingga ke kafe tempatnya bekerja dan memerangi rasa canggung yang masih begitu kental terasa. Hari ini Dara mendapat shift kerja siang.

Yongbae menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Tidak usah sungkan begitu. Kenapa tiba-tiba jadi canggung begini?”

“Ah, iya, kau benar. Kalau begitu lebih baik aku lekas masuk dan bekerja. Sampai jumpa!”

***Friends***

“Kau masih sering ke sini?”

Langkah dua pasang kaki itu terus berdampingan melangkah santai. “Eum. Begitulah. Well… kau tentu saja tahu tempat ini. Bukankah dulu kau sangat menyukai tempat ini, Ratu Kelab Malam?”

Chaerin terkikik geli ketika Jiyong melirikkan mata padanya, menyindir. Daerah Hongdae dan kelab malamnya, bukankah dulu ia yang sering merengek meminta ke sini? “Lama sekali aku tak ke sini. Kau tahu? Kelab malam di Jepang agak berbeda.”

“Jadi kau secara permanen tinggal di sana?”

Chaerin menggeleng manis. “Aku cukup sering ke sana karena yah… urusan fashion. Lagi pula aku sangat menyukai Ambush belakangan ini.”

“Fashion? Oh, jadi benar kalau kau designer CL, eoh? Hebat sekali!” Jiyong memuji. Tidak. Untuk orang-orang yang sama-sama menyukai pesta pora seperti mereka rasa canggung sudah benar-benar lenyap dari kehidupan. Bahkan berdansa dengan orang yang tak dikenal saja sudah biasa.

“Haha… Lalu bagaimana denganmu? Komposer termahal se Korea? Bagaimana kabar Fur Elise mu itu?”

Jiyong tersenyum kecil. “Terhapus.”

“Bagaimana bisa?”

Aku kira dengan menghapusnya aku bisa melupakan kalian, ternyata tidak. “Tidak sengaja. Kau tinggal di mana? Ku antar?”

***Friends***

Sebentar lagi kafe sudah mau tutup. Dara terus bertengger di balik kasir memandangi sosok laki-laki yang enggan meninggalkan tempatnya. Laki-laki itu sudah menghabiskan tiga cangkir kopi seharian ini. Apa dia mau mati karena kebanyakan kafein? Dara membatin.

Unnie, bisakah kau suruh dia pulang? Kita sudah mau tutup.”

Dara menghembuskan nafas ketika rekan kerjanya itu meminta. “Huh… baiklah.”

Dara melangkah pasti, agak ragu, memang. Laki-laki itu tampak tua dan depresi. Entahlah, tapi ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi. “Permisi, Tuan, kami sudah mau tutup,” Dara berucap pelan.

Laki-laki itu mendongakkan kepalanya, tersenyum sarkastis. “Oh, baiklah. Kau tutup dulu saja. Nanti akan kuantar kau pulang, Manis.”

“Apa? Maaf, Tuan, apa yang anda bicarakan?” Benar. Sesuatu yang buruk memang akan terjadi.

“Atau kau mau ke rumahku saja, ha? Baiklah,” laki-laki itu berdiri, membuka lengan kanannya untuk merangkul Dara.

“Tuan, apa anda mabuk?” Dara terus bergerak menyingkir.

Tidak. Dara terpejam takut ketika bahunya terasa dipegang oleh dua tangan dari belakang dan didorong pergi dari kafe. Gadis itu terlalu takut untuk membuka mata dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Buka matamu!”

Dara mengangkat sebelah alis ketika suara familiar itu terdengar. “Jiyong? Kau…?”

To be continued….