g

Title/Judul : A Little Thing I Wonder
Author         : Angelinblack
Genre            : Drama, Romance
Rating           : PG17
Length          :12 Chapter
Disclaimer  : Cover and Story belong to me. It’s had been posted in my blog “angelinblack.wordpress.com”
Main Cast/Pairing : Kim Jaejoong JYJ, Jeon Boram T-ara, Park Yoochun JYJ
Summary/Foreword : Pernahkah kamu mencintai seseorang yang sangat kau benci, hingga kau tidak menyangka bagaimana hatimu begitu saja memutuskan untuk mencintainya? Boram harus bertemu kembali dengan mimpi buruknya di masa lalu, seseorang yang begitu ingin di lupakannya, Kim Jaejoong. Ia tahu pria itu begitu mencintainya, ia tidak habis pikir bagaimana bisa, karena ia begitu membenci pria itu.

Jam 10 malam. Aku selesai berkeliling Tokyo hari ini. Berbelanja di pasar tradisional di ujung kota, memotret pemandangan di sepanjang Harajuku, dan mencicipi beberapa hidangan khas. Rasanya puas sekali! Aku sudah menulis bagian pembuka naskah skripku. Tiba-tiba saja aku mendapatkan ide untuk membuat peran imajinasi tokoh pria saat melihat seorang pemuda berpakaian serba putih di Harajuku. Akan ku buat cerita ini tentang seorang wanita korea yang jatuh cinta pada pria Jepang dalam mimpinya, tapi ternyata pria itu sedang koma di Jepang. Seru, bukan?! Aku jadi penasaran, aktor jepang siapa yang akan dipakai sutradara untuk memainkan naskahku ini.

Apartemenku, tepatnya tempat flat Yoochun yang kutinggali berada, terlihat sedikit sepi. Ya, sejak kemarin tinggal disini, aku juga jarang bertemu dengan tetangga selantai. Mungkinkah, apartemen ini sepi karena terlalu mahal? Atau orang-orang kaya yang gemar mengoleksi flatlah yang membelinya?, jadi flat-flat mewah ini hanya menjadi rumah ‘lain’ mereka? Haah~ Bagaimana mereka bisa menghabiskan uang seperti itu?? Itu, sama sekali tidak adil mengingat banyak orang hidupnya sangat hemat, termasuk aku…

Aku menekan tombol lift dan menunggu pintu terbuka. Tidak lama, hanya kurang dari 1 menit lift berbunyi dan pintunya mulai terbuka. Tapi, begitu pintu itu terbuka, Yoochun berlari keluar dari lift dan langsung menarikku menjauh. Lagi-lagi orang ini! Apalagi yang dia inginkan sekarang?!

“Mwo (apa)?!”kulepaskan tanganku dari genggaman pria itu kasar.

“Ikut aku!!”ia kembali memegang tanganku, kali ini lebih kuat.

“Kemana??”aku menatapnya bingung. Wajahnya terlihat sangat cemas.

“Night Club”jawabnya singkat dan langsung menarikku pergi.

“Ya!!! Tunggu dulu!!!”aku mengerem kakiku secepat kilat, mencoba menahannya untuk menarikku lebih jauh. “Kau pikir aku wanita macam apa, hah?!”bentakku, kupukul kepalanya dengan tas jinjingku yang berisi notebook kecil.

“Aaaa!!”ia menjerit kesakitan. “Baboya!!”, ia memelototiku galak, “Ya, kau sudah memaafkanku!! Terimakasih!! Tapi, tidak bisakah kau menghilangkan pikiran-pikiran burukmu tentangku??!”bentaknya.

“Lalu, mau apa ke night club?!”balasku, tak mau kalah.

“Menyelamatkan Jaejoong!! Aku takut paparazi menemukannya!!”

“Tapi kenapa ke…”belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Yoochun sudah menarikku lagi. Ia menyuruhku naik ke mobilnya yang berbeda dan langsung tancap gas.

“Tidak ada waktu lagi!! Kita harus buru-buru! Aiisshh!! Kim Jaejoong!! Sudah kukatakan padanya kalau ia ingin bermain dengan perempuan, lebih baik ia menyuruh mereka ke flatnya saja!!”Yoochun mengomel sendiri. Ia mengerem dengan kasar di lampu merah dan menoleh padaku. “Kau, kau lakukan apa padanya?!”

“Aku?!”ku tatap Yoochun bingung, aku benar-benar tidak mengerti maksudnya. Memangnya, apa yang kulakukan pada Jaejoong.

“Baiklah… Baiklah… Mungkin ia hanya tidak bisa mengotrol perasaannya karena melihatmu lagi… Aiishhhh!!”ia kembali menatap lurus ke depan dan kembali tancap gas begitu lampu berubah.

“Ya!! Oppa!! Memangnya ada apa dengan Jaejoong-oppa??!”

“Kurasa ia sedang stress… Setiap kali ia tidak bisa menahan perasaannya ia akan pergi minum… Selalu begitu… Aku saja sudah tidak minum dengan ganas seperti itu!! Kenapa, ia tidak bisa menghentikan kebiasaannya itu, sih?!”Yoochun mengomel lagi. Terlihat jelas, ia benar-benar khawatir.

“Dia juga main perempuan, kan??”. Yoochun mengangguk.

“Bagaimana ini Oppa?? Ini semua karena aku??”aku menunduk pelan. Kali ini aku benar-benar merasa bersalah. Karenaku, seorang pria menjadi sangat buruk! Ya Tuhan…

Kurasakan mobil berhenti lagi dengan kasar. Aku menoleh. Kami berhenti di sebuah night club besar, tapi kami berhenti di jalan masuk belakang. Yoochun bergegas turun dari mobil, aku mengikutinya. Kami masuk ke dalam night club melalui pintu belakang, langsung menuju ruang VIP night club tersebut.

Tiba-tiba Yoochun menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatapku. “Aku tau, tidak akan berhasil kalau aku yang membujuknya pulang… Aku mohon kau mau…”pintanya.

“Apa ini akan berhasil??”ku tatap Yoochun ragu. Ini pertama kalinya aku ke Night Club dan aku langsung diberi tugas membawa seorang pria, yang mungkin sekarang sudah mabuk berat, pergi dari Night Club ini. Apa aku bisa? Sebenarnya, aku ingin sekali menolak, tapi lagi-lagi rasa bersalahku pada Jaejoong mendorongku. Aku harus menyelamatkan laki-laki itu. Ya, aku mengerti sekali bagaimana gawatnya kalau sampai paparazi menemukannya. Hidupnya, sekali lagi, akan hancur. Itu akan berat sekali untuknya, seandainya benar terjadi.

“Kau pasti bisa…”Yoochun menepuk pundakku pelan. “Nah, ruangannya nomor 5… Itu disana… Cepatlah!”

“Ya!! Ini aku sudah mau jalan!! Tidak usah dorong-dorong!!”aku kesal sekali Yoochun yang mendorong-dorongku maju, itu membuatku menjadi nervous.

Baiklah… Ku pejamkan mataku dan kutarik nafas dalam-dalam… 1… 2… 3… 4… 5… Aku pasti bisa!

“OPPA!!!”ku dorong pintu ruang VIP 5 keras-keras dan berteriak sekencang-kencang. Ku kuatkan diriku dan ku tatap apa yang ada di hadapanku. Aku kaget, ada sekitar 5 orang wanita dengan pakaian ‘tidak pantas’ menatapku kaget dan seorang pria yang teler karena mabuk berat duduk lemas di antara mereka. Ya, pria itu Kim Jaejoong.

“Oppa!! Palli (cepat)!! Ayo pulang!!”aku berjalan lurus ke depan dan menarik tangan Jaejoong. Kancing kemeja pria itu terbuka semua.

“Eung…”Jaejoong menoleh padaku, ia menatapku dengan setengah sadar. Ya, aku yakin ia setengah sadar saat ini.

“Kau bisa berdiri sendiri atau tidak??!”bentakku. Wanita-wanita yang berada di sekitarku hanya menatap kami bingung. Ya! Mereka adalah orang jepang dan aku berbicara dalam bahasa Korea, mereka pasti tak mengerti.

“Eung??”Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. Aku menghela nafas panjang. Ku tarik sebelah lengannya dan kukaitkan di leherku. Mau tak mau, aku harus memapahnya.

“Berdiri!!”aku merangkul pinggang ramping pria itu dan membantunya berdiri. Ya Tuhan, orang ini berat sekali!! Untung saja dulu aku sering latihan fisik karena ikut ekskul Taekwondo, aku masih bisa menahannya walaupun sekuat tenaga.

“Kenapa kau…”Jaejoong berbisik samar di telinga.

“Dengar! Aku kesal padamu!”balasku penuh dendam. Aku memapahnya keluar ruangan dengan susah payah. Ia terdiam begitu mendengar ucapanku. “Sekali lagi kau membuatku melakukan ini, mati kau!!”

“Aku…”

“YA!! BANTU AKU DISINI!!!”teriakku begitu melihat Yoochun. Aku tau Jaejoong ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tidak ingin mendengarnya sekarang. Tidak, saat otaknya saja tidak bisa membedakan mana kanan dan kiri! Aku kesal sekali! Bau alkohol di badannya sangat menyengat dan itu membuat kepalaku pusing!

***

                Yoochun membaringkan Jaejoong di atas tempat tidurnya. Ia menghela nafas berat dan langsung memijat-mijat bahunya sendiri pelan.

“Aiiishhh!! Kau ini!! Merepotkan sekali!!”ia menatap Jaejoong kesal.

“Eung..”Jaejoong melingkar di tempat tidur dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Aku ingin muntah…”ujarnya pelan.

“Aiisshhh!!”Yoochun mendengus kesal. Ia menoleh padaku, “Bisa kau ambilkan kantong untukknya? Aku tidak ingin ia muntah di atas kasurku…”

“Sekarang, ganti bajumu!! Kau akan sakit nanti!!” Yoochun berjalan menuju lemarinya dan mengeluarkan sebuah sweater ungu besar.

“Aku tidak mau…”Jaejoong meringkuk pelan. Ia berguling-guling di atas tempat tidur dan sesekali membenturkan kepalanya ke kasur pelan.

“Kau mau mati, hah?!”bentak Yoochun. Ia terlihat khawatir sekaligus kesal.

“Biar saja… Aku.. Mati…”bisik Jaejoong. Yoochun terdiam kaget.

“Ya!! Kau sadar dengan apa yang kau katakan??!!”bentak Yoochun lagi.

“Biarkan saja!!!”. Aku tak dapat menahannya, aku muak sudah dengan orang-orang ini. Mereka membuatku benar-benar pusing! “Biarkan saja dia MATI!!!”. Yoochun menatapku kaget, sedangkan Jaejoong terkekeh pelan. Aku berlari menuju dapur Yoochun, mengambil sebuah baskom besar dan menuangkan seluruh persediaan air es dan es batu yang ada di kulkasnya. Aku bergegas kembali menuju kamarnya dan langsung menyiramkan isi baskom itu pada Jaejoong. Kesal sekali rasanya! Aku benar-benar kesal padanya!!

“YA!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA RANJANGKU!!!!”bentak Yoochun, tapi aku tidak memperdulikannya. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat dengannya.

“Mati saja kau!! Mati!! MATIII!!!”aku melompat ke ranjang Yoochun dan memukuli Jaejoong dengan baskom di tanganku seperti orang kesurupan. Aku kesal sekali!! Kesal!!

“MATILAH DAN JANGAN PERNAH MENYUSAHKANKU LAGI!!!”aku mendaratkan pukulan terakhirku di kepalanya dan berteriak sekuat tenaga. “KAU PIKIR APA YANG AKAN KAU DAPATKAN DENGAN TERUS HIDUP, HAH?!?! PRIA SEPERTIMU!! AKU TIDAK MUNGKIN BISA MENCINTAIMU, KAU TAU!!!”

“Boram…”Yoochun memegang pundakku pelan, tapi aku langsung menepisnya.

“KAU!! KAU MEMBUATKU GILA KAU TAU!!!”teriakku lagi pada Jaejoong.

“Lalu apa??”Jaejoong menoleh padaku. “Kau tidak tau bagaimana hidupku selama 10 tahun, kan?! Kau tidak tau bagaimana beratnya, kan?! Kau tidak tau, bagaimana aku terus memikirkanmu, kan?! Kau tidak tau bagaimana aku berusaha menekan perasaanku hingga aku hampir frustasi, kan?!”. Pria itu, ia terlihat sekali menekan amarah dalam suaranya. Suaranya bergetar, bergetar dan terdengar dalam. Mukanya merah padam dan matanya berkaca-kaca. “Akulah yang kau buat gila, Boram…”

“Hah?!”aku tersenyum sinis. “Kau pikir aku percaya?! Lalu kenapa kau pergi dengan wanita-wanita kotor itu?! Kau sangat rendahan!!”

“Kalau aku tidak pergi dengan mereka, lalu siapa? Kau? Kau mau pergi denganku?!”, ia menarik nafas dalam. “Kau mau pergi dengan pria rendahan seperti aku?”suaranya sedikit tertahan. Kulihat, air mata mulai membasahi wajahnya.

“Aku…”aku tidak bisa membalasnya. Ya, dia benar. Mungkin, selama ini akulah yang jahat. Mungkin, selama ini aku yang bersalah…

Aku menatapnya hampa. Ini, pertama kali aku melihat seorang pria menangis di hadapanku dan, terlebih lagi, pria ini menangis karena aku. Terlintas dipikiranku, pria ini benar-benar serius padaku. Tapi, aku tidak mungkin bisa… Menerima… Keadaan pria ini sekarang… Tidak… Aku…

“Kau egois…”

***

                “Dia sudah tidur… Sepertinya, ia terkena demam…”Yoochun menutup pintu kamar dan berjalan menghampiri. Jaejoong tiba-tiba tak sadarkan diri tadi. Karena ranjang Yoochun basah, ia membawanya ke flat yang sekarang kutempati dan membaringkannya di ranjangku.

Aku sendiri, tidak bekata apapun setelah itu. Kata-kata terakhir Jaejoong membuatku resah, sangat resah. Egois? Benarkah aku egois?? Aku tidak menyadarinya… Apa aku begitu egois padanya??

“Kau keterlaluan, menyiramnya dengan air es malam-malam…”Yoochun duduk di sebelahku dan merangkulku pelan. “Apa yang kau pikirkan??”

“Aku… Aku tidak tau kalau aku ini egois…”aku menoleh pada Yoochun, berharap ia memberikan penjelasan yang bisa diterima otakku. Aku ingin seseorang menasehatiku sekarang ini. Aku benar-benar buntu, tidak tau harus bagaimana. Terlebih lagi hatiku sangat resah.

“Kau sudah pernah jatuh cinta??”Yoochun membalas tatapanku.

Aku mengangguk. “Tapi laki-laki itu memutuskan hubungan kami karena perempuan lain…”

“Kau sedih?? Sakitkah…”

“Tentu saja!! Sakit sekali… Dia cinta pertamaku…”. Aku mengingatnya, hari dimana ia memutuskanku di depan perempuan itu. Perempuan yang ia katakan, lebih dicintainya daripadaku. Sakit sekali. Bahkan, aku tidak keluar kamar selama seminggu karena itu.

“Kalau begitu, seharusnya kau tau bagaimana sakitnya Jaejoong… Kau juga cinta pertamanya…”

Aku membelalakkan mataku kaget. “Aku?!”tanyaku setengah tak percaya.

“Percayalah padaku… Aku berani bersumpah deminya!!”Yoochun menatapku serius. “Boram… Pernahkah kau, sekali saja, berfikir untuk mencintainya??”tanyanya kemudian.

Aku terdiam dan menggeleng pelan. “Tidak…”

“Kenapa?? Karena latar belakangnya? Masa lalunya? Kelakuannya??”

“Eung…”. Aku berfikir. Ya, ucapan Yoochun benar.

“Kalau begitu kau egois… Kau tidak pernah benar-benar tulus menerimanya…”

“Tapi dia…”

“Percayalah padaku, seseorang bisa berubah karena orang yang dicintainya. Jaejoong pun begitu… Pada dasarnya dia adalah orang yang sangat baik… Dia sangat tulus padamu… 10 tahun, bukanlah waktu yang sebentar untuk memendam perasaan… Kau tau betapa beratnya… Belum lagi dengan kenyataan kau sangat membencinya… Itu sangat menyiksa…”

“Eung…”

“Bukankah lebih baik memiliki seseorang yang sangat mencintaimu?? Cobalah… Cobalah kau mencintainya… Kau tidak akan tau apa yang akan terjadi, bukan? Kenapa kau tidak mau mencoba?? Tidak ada salahnya mencoba…”

“Aku?? Aku tidak tau…”