SaranghandagoTitle/Judul :Saranghandago
Author         : angelinblack
Genre            : Romance, Drama
Rating           :PG-17
Length          :Oneshoot
Disclaimer  : angelinblack. This story belongs to me! Sudah pernah di post di blog pribadi author angelinblack.wordpress.com
Main Cast/Pairing :Chen EXO-M (Kim Jongdae), You
Summary/Foreword : My first love that can’t be told. Kisah cinta pertama yang manis. Kenangan yang tak bisa kau lupakan. People are right, First love never die.

“Eomma, aku pulang!”kubuka pintu kaca toko bunga milik ibuku dan berlari masuk. Kuletakkan tasku di belakang meja kasir dan kupakai celemek ungu pucat yang sudah disiapkan ibuku di dekat tumpukan keranjang anyam kosong. Seperti biasa, aku selalu membantu ibuku menjaga toko bunga kami sepulang sekolah hingga malam.

“Oh, Lee An. Baguslah kau sudah pulang. Ibu baru membuka toko setengah jam yang lalu, ayahmu tiba-tiba pulang dan mengeluh sakit. Bisa kau tata bunga-bunga di depan toko? Ibu sedang mengerjakan pesanan untuk pernikahan besok!”Ibuku menoleh dari ruang belakang toko kami dan tersenyum.

“Baiklah…”kuanggukkan kepalaku pelan dan meraih sekeranjang penuh lili putih untuk ku atur di depan toko. Sebenarnya aku lebih suka membantu ibuku merangkai bunga, tapi nantinya aku hanya akan merepotkan karena belum mahir. Yah, aku akan berlatih lagi nanti setelah memajang bunga-bunga ini di depan toko.

Kuletakkan keranjang lili putihku di sebelah lavender yang baru datang tadi malam. Ungu dan putih, perpaduan warna yang kusuka. Juga, akhir-akhir ini, kedua bunga ini sangat laris.

“Hei gadis bunga!”. Kuhela nafasku panjang, lagi-lagi, pasti siswa-siswa SMA itu lagi. Ya, toko kami memang terletak di dekat SMA yang lumayan besar. Bukan sekolahku yang jelas, karena aku bersekolah di SMA khusus putri yang cukup jauh dari sini. Jika waktunya pulang sekolah seperti ini, pasti akan ada banyak siswa-siswa lewat dan mengejekku ‘Gadis Bunga’. Memangnya apa salahnya membantu ibuku berjualan bunga?! Dasar pikiran laki-laki memang tidak bisa dimengerti!

“Kenapa?! Kalian mau membeli bunga?!”kubalikkan badanku menghadap gerombolan siswa-siswa itu dan kupelototi mereka satu-persatu. Tapi herannya, mereka selalu tertawa melihatku begitu.

“Kali ini, ya. Kami ingin membeli bunga!”celetuk salah seorang dari mereka. Ia melirik teman di sebelahnya dan mendorongnya pelan, “Kau saja yang belikan, Jongdae! Kita bertemu di rumah sakit!!”ujarnya sebelum akhirnya pergi bersama dengan teman-temannya yang lain.

“Mau beli bunga apa?”kutatap laki-laki yang berdiri dihadapanku pelan. Tidak seperti teman-temannya yang lain, laki-laki ini terlihat rapih, dan juga ini pertama kalinya aku melihatnya. Gerombolan teman-temannya memang suka lewat di depan toko kami, aku hafal wajah mereka satu-persatu, tapi laki-laki ini, aku tidak mengenalnya.

“Entahlah, bisa pilihkan untukku?”laki-laki itu tersenyum pelan, senyuman yang sangat cerah dan tulus. Ia berjalan mendekatiku dan menaikkan kedua alisnya, membuat kedua mata di balik kacamatanya itu membulat besar. “Rencana nya, kami akan menjenguk wali kelas kami di rumah sakit..”

“Begitu?”ku anggukkan kepalaku pelan, angin berhembus pelan, membuat ujung rambutku terbang menutupi wajahku. Kuhembuskan nafasku pelan dan kusibak rambutku ke belakang telingaku pelan. “Emm, lili putih dan lavender? Kedua jenis ini sedang laris akhir-akhir ini…”usulku kemudian.

“Terserah kau saja…”laki-laki itu tersenyum, mengikutiku mengambil beberapa tangkai bunga dan masuk ke dalam toko untuk membungkusnya.

“Aku baru melihatmu, apa kau anak baru?”tanyaku sembari menggunting ujung tangkai-tangkai bunga dihadapanku.

“Eum?”laki-laki menaikkan alisnya bingung.

“Ya, gerombolanmu tadi. Aku melihat mereka setiap hari, tapi ini pertama kalinya aku melihatmu…”jelasku kemudian. Sedikit kulirik laki-laki itu dan tersenyum.

“Tidak…”ia terkekeh pelan. “Aku selalu bersama mereka setiap mereka lewat di depan toko ini setiap hari…”

“Begitukah? Ah, maafkan aku…”

“Tidak apa-apa, mungkin karena badanku terlalu kecil, jadi tertutup oleh mereka…”ia tertawa ringan, suara tawanya terdengar merdu.

“Eum, mungkin…”kusibakkan rambutku lagi. Yah, aku selalu lupa membeli ikat rambut, jadi rambut panjangku sedikit menyusahkan di saat-saat bekerja seperti ini.

“Ini…”laki-laki itu menyodorkan sebuah bungkusan kecil padaku.

“Apa ini?”kutatap ia tak mengerti.

“Untukmu…”masih tersenyum, ia meletakkan bungkusan itu di telapak tanganku.

“Bolehku kubuka?”tanyaku yang dijawab anggukan kecil darinya. Kubuka bungkusan kecil itu dan kudapati sebuah ikat rambut manis dengan banyak hiasan bunga berwarna ungu di dalamnya.

“Kulihat kau selalu kesusahan karena rambutmu itu, jadi kupikir ini akan membantumu…”ujarnya kemudian.

Tak tau harus berkata apa, kubungkukkan badanku pelan dan kuucapkan terimakasih padanya. Ini pertama kalinya aku mendapatkan hadiah dari seorang laki-laki. Sejak SD, aku selalu masuk ke sekolah khusus wanita, jadi aku tidak pernah punya teman laki-laki sebelumnya.

“Jadi, berapa bunganya?”tanyanya kemudian.

“Oh!”kutepuk dahiku pelan. “5 Won. Kuberi diskon 1 Won, karena ini pertama kalinya kau membeli disini…”kusunggingkan senyumku ramah. Laki-laki ini membawa suasana menyenangkan dalam dirinya, aku menyukainya. Bukan suka dalam arti khusus, hanya sekedar senang melihatnya.

“Terimakasih, Lee An..”ujarnya kemudian sambil meletakkan uang di meja kasir. Di ambilnya bunga yang sudah kubungkus tadi sembari tersenyum, “Terimakasih…”

“Ah, tunggu! Bagaimana kau tau namaku?”aku berlari memutari meja kasir menghampiri laki-laki itu.

“Aku mendengarnya saat ibumu memanggilmu..”

“Kalau begitu, namamu?”

“Jongdae…”

“Oke, terimakasih telah mampir Jongdae. Datang lagi…”

***

                Hujan mulai turun deras. Kuletakkan keranjang bunga terakhir yang kupindahkan dari luar pelan. Kuhela nafasku panjang dan kuputar tubuhku pelan. Karena terburu-buru mengangkut bunga dari luar, pinggangku jadi sedikit sakit.

“Lee An!!”seseorang berlari ke depan pintu toko sembari mengangkat jasnya menutupi dirinya.

“Jongdae?”sedikit berlari menghampiri laki-laki itu, kulihat dirinya sedikit basah kuyup terkena hujan. “Masuklah, nanti kau tambah basah!!”perlahan, kutarik lengan laki-laki itu masuk ke dalam toko. “Sendirian?”tanyaku kemudian.

“Ya, teman-temanku yang lain sedang mendapat hukuman karena tidak mengerjakan tugas Fisika..”ia tersenyum pelan.

“Kau basah sekali. Duduklah dulu, akan ku ambilkan handuk..”kupersilahkan ia duduk di bangku kecil di dalam toko kami dan berlari mengambil handuk kering di ruang belakang toko.

“Ini. Untung saja kau lewat sini, jadi kau bisa berteduh..”kusodorkan handukku pada Jongdae.

“Terimakasih…”ia tersenyum dan mengambil handuk dari tanganku.

“Bagaimana keadaan wali kelasmu?”tanyaku kemudian.

“Baik. Anaknya lahir dengan selamat…”

“Jadi wali kelasmu itu habis melahirkan?”

“Ya, “ia mengangguk  dan tertawa pelan. Lagi-lagi, suara tawanya terdengar merdu.

“Apa kau penyanyi?”tanyaku kemudian. “Suaramu terdengar bagus…”tambahku buru-buru.

Jongdae tersenyum lagi. Ya Tuhan, laki-laki suka sekali tersenyum. Aku sama sekali tidak keberatan dengan kebiasaannya tersenyum, senyumnya manis dan menyenangkan. “Calon…”jawabnya.

“Calon? Apa kau seorang trainee sebuah perusahaan?”tanyaku kemudian.

“Belum…”ia menggeleng pelan. “Tapi pasti akan…”

“Hmmm… Kau optimis sekali…”kusipitkan mataku pelan. “Nah, sebelum kau bernyanyi di depan juri audisi, bernyanyilah dulu sekarang! Aku ingin mendengarnya…”

“Sekarang?”ia menaikkan kedua alisnya. “Baiklah, kau ingin aku menyanyi apa?”

“Eum… Terserah kau saja…”kutegakkan badanku bersemangat. Ya, aku ingin sekali mendengar laki-laki ini bernyanyi.

“Hmmm…”laki-laki itu tersenyum dan berfikir sebentar. “Kau suka Dong Bang Shin Ki?”tanyanya kemudian.

“Kau bercanda?! Tentu saja!! Mereka sangat keren!!”seruku kemudian. Gila saja jika kau menanyai seorang gadis di jalan saat ini apakah mereka menyukai Dong Bang Shin Ki atau tidak! Tentu saja, mereka menjadi trend di kalangan para gadis sekarang ini! Belum lagi lagu mirotic mereka yang baru-baru ini rilis!! Semua teman-temanku di buat gila karenanya!!

“Kurasa aku tau lagu mereka yang cocok denganmu. Flower Lady, kau tau?”

“Eumm, tidak…”kugelengkan kepalaku pelan.

Jongdae tertawa lagi. “Katanya fans Dong Bang Shin Ki? Masa kau tidak tau lagu mereka?!”ledeknya.

“Sudahlah!! Cepat nyanyikan!!”

“Ya… Ya…”Jongdae melirikku pelan. “Dengarkan ya…”

Challanhan jo haesarui banjjagim (Like the glittering sun)

Hangaron baram naui gyotul maemdol tae (When a flash of wind whirls around me)

Boinun modun punggyonge (I end up looking for you, who has faded into the scenery)

Sumyodun norul chatge dwae (Why is it this so fragrant, as if this is a dream?)

Ojjom iroke hyanggirounji (Like flowers my lady, you have been rooted in my heart)

Machi kumgyolchorom (So you can’t go elsewhere)

Like flowers my Lady, odido gal su opge (Stay with me, you’re so beautiful)

Nae shimjang ane purirul naeryoso (So you can’t go elsewhere)

Stay with me nomu arumdaun (Stay with me, you’re so beautiful)

Shine your leaves gaduk pionajullae na (Shine your leaves; will you always bloom for me?)

Man bol su itge Stay (So only I can see it, stay)

You stay Always

Jongdae berhenti bernyanyi dan terbatuk pelan. “Selesai…”ia menoleh menatapku dan tersenyum. “Bagaimana?”

“Bagaimana?”kutatap wajahnya pelan, sebelah tanganku mencengkeram rok seragamku pelan. Berdebar, ya itulah yang kurasakan di sepanjang nyanyiannya tadi. Suaranya sangat indah, mungkin, suara terindah yang pernah kudengar. Aku bersumpah, bahkan bulu kudukku sampai ikut berdiri mendengarnya, padahal ia hanya menyanyikannya dengan cara yang biasa saja. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia mempunyai suara seindah itu? “Indah…”sahutku kemudian, “Indah sekali!!”

“Terimakasih…”Jongdae tersenyum dan terbatuk lagi.

Perlahan, kutempelkan punggung tanganku di dahinya dan kusentuh tenggorokannya pelan. Hangat, apa dia sakit? “Kau sakit?”tanyaku kemudian.

“Eung…”Jongdae terdiam menatapku, sepertinya ia kaget karena kusentuh wajahnya tanpa izin tadi. Tapi beginilah aku, aku terbiasa menjaga anak-anak kecil tetanggaku, jadi semua kuperlakukan seperti adik sendiri.

“Bajumu basah..”kulirik kemeja seragam Jongdae pelan. “Aku membawa baju olahragaku, gantilah bajumu, ya…”kusentuh bahunya pelan sebelum beranjak pergi.

“Tunggu!”Jongdae menahan tanganku.

“Ada apa?”aku menoleh pelan sembari mengangkat kedua alisku.

“Aku menyukaimu…”

“Hah?!”kukerutkan alisku bingung. Sedikit kaget, benarkah ia baru saja mengatakan bahwa ia menyukaiku?! “Ba… Bagaimana bisa?”

“Entahlah, begitu saja..”ia menundukkan wajahnya dan tersenyum pelan, jelas sekali ia terlihat malu sekarang ini. Sepolos itukah laki-laki ini? “Ah! Hujan sudah reda!”serunya kemudian menatap keluar toko. Ia beranjak berdiri dan menghadap padaku salah tingkah. “Aku pulang dulu, terimakasih sudah menolongku…”ia membungkukkan badannya seklias dan beranjak pergi.

“Ah, Jongdae!!”seruku kemudian. Aku sedikit menahan tawa melihatnya membalikkan badannya salah tingkah. “Terimakasih, sudah menyukaiku… Aku sangat senang…”

***

-(years later)-

                “Kau mau menatap posternya sampai berapa lama, Lee An?! Showcasenya sudah akan mulai!!”Dongyi membentakku pelan dan menarik tanganku.

“Ya…”kuanggukkan kepalaku pelan. “Tenang saja, kita dapat bangku paling depan, bukan?”ujarku kemudian, masih sembari mencuri-curi pandang pada poster artis yang akan kami tonton showcasenya.

“Kau tidak mengerti?! Kita juga harus berebut meskipun kita mendapatkan tiket VIP!! Cepatlah! Aku ingin segera melihat Leeteuk oppa!!!”ia menarikku kasar masuk ke dalam gedung di hadapan kami.

“Ya… Ya, maafkan aku… Ini pertama kalinya aku menonton konser…”ujarku kemudian. Ku pegangi ujung dress-ku agar tidak terbang dan kuimbangi langkahku dengan kecepatan berlari Dongyi. Dongyi adalah fans berat dari Leeteuk Super Junior, aku sendiri sampai tak habis pikir kenapa ia bisa merelakan uangnya untuk membeli tiket showcase boyband lain hanya karena MC showcase tersebut adalah Leeteuk. Tapi untunglah, karena dengan begitu, aku mempunyai teman untuk menonton showcase ini. Ya, aku memang tertarik dengan boyband baru ini dan ini pertama kalinya aku mampu merelakan uangku untuk membeli tiket hanya untuk sekedar menonton konser musik seperti ini. Ya, ini semua karena seseorang. Seseorang yang ingin kulihat di showcase ini.

“Cepat!! Cepat duduk!!”setelah menyerobot dan menjambak beberapa fangirl dihadapannya, Dongyi menemukan tempat duduk kosong di urutan bangku paling depan, hanya berjarak sekitar 2 meter dari panggung.

Kuhela nafasku panjang dan duduk di sebelah Dongyi. Kutatap Dongyi pelan, ia mengeluarkan sebuah bando dengan tulisan Leeteuk di atasnya, sebuah lightstick berwarna biru sapphire, dan poster Leeteuk yang di dapatkannya dari album Mr. Simple kemarin. Ku rapihkan rambutku pelan sembari menatap Dongyi yang masih sibuk berkutat dengan alat-alat yang dibawanya. “Memangnya seorang fangirl harus membawa itu semua saat menonton konser idolanya?”tanyaku kemudian.

“Ya!”Dongyi mengangguk penuh semangat. “Kita harus membawa benda seberharga mungkin yang dapat membuat idola kita menoleh menatap kita!! Kau? Kau bukannya suka dengan boyband baru ini? Kau tidak membawa posternya?”tanyanya kemudian.

“Tidak…”kugelengkan kepalaku pelan, “Tapi kalau barang berharga, mungkin ada…”kurogoh saku tasku dan kuambil ikat rambut bunga berwarna ungu milikku dari dalamnya. Kuikat rambutku ke samping agar ikat rambutnya dapat terlihat dari panggung dengan jelas. Mungkin dengan begini, ia bisa mengenaliku.

“Ikat rambut usang?”Dongyi menatapku dengan mulut ternganga.

“Ya, ini berharga…”sahutku kemudian.

Dongyi menghela nafas panjang dan menjerit tepat saat Leeteuk keluar, membuka acara showcasenya. Tidak memperdulikanku, ia berteriak sekuat tenaga berusaha mendapatkan perhatiannya. Ku tutupi telingaku pelan, dengan suara seperti ini, seharusnya ia bisa menjadi ketua Koor di kampus.

Lampu gedung di gelapkan, layar besar di bagian panggung mulai memainkan opening film pelan. Mulai dari pemandangan seperti di luar angkasa dan profile satu-persatu member grup, kemudian ke narasi pendek berbahas inggris yang membuatku teringat pada film avatar aang yang pernah ku tonton dulu. Musik mulai terdengar, kulirik Dongyi yang mulai kehilangan rasa tertariknya karena Leeteuk yang sudah turun dari panggung. Ia memainkan kuku-kuku yang baru di cat dan balas melirikku.

“Hei…”ia berbisik pelan. “Selama berteman denganmu, ini pertama kalinya aku melihatmu mau mengeluarkan uang sakumu untuk menonton konser. Kenapa kau tertarik pada Boyband ini?”

Sedikit tersenyum, kuangkat kedua bahuku pelan. “Entahlah, mungkin alasan yang sama kenapa kau menyukai Super Junior…”

“Karena Super Junior cinta petamaku?”Donyi menatapku bingung.

“Eum…”kulirik sedikit panggung di hadapanku yang sudah mulai mempertontonkan 6 laki-laki memainkan lagu beat berjudul ‘History’ dalam bahasa Korea. “Mungkin…”kuanggukkan kepalaku pelan dan menatap ke arah panggung lagi, sebentar lagi versi China lagu tersebut akan di bawakan oleh 6 laki-laki lainnya, aku tidak ingin melewatkannya.

“Uwaaa!!”Dongyi tepekik pelan saat versi China lagu ini mulai dimainkan. “Mereka tampan-tampan sekali!! Tidakkah menurutmu orang-orang China itu lebih tampan dari yang Korea?!!”ia menepuk bahuku pelan.

“Eummm…”kumiringkan kepalaku dan tersenyum, “Aku suka member Koreanya…”

“Memangnya ada?”Dongyi menatapku penasaran.

“Ya…”kuanggukkan kepalaku. “Dua orang itu…”kutunjuk laki-laki dengan celana army dan silver yang mulai maju ke depan.

“Oh…”Dongyi menganggukkan kepalanya. “Eh, tapi rasanya aku pernah melihat laki-laki dengan celana silver itu. Bukankah dia mirip dengan temanmu dulu?”

“Siapa?”kuangkat kedua alisku.

“Eung… Aku lupa namanya, sebentar kuingat-ingat dulu… Tapi kurasa, mereka bukan orang yang sama..”

Lagu History selesai terngar dan lampu kembali gelap sebentar. Leeteuk kembali naik ke atas panggung, membuat Dongyi menunda memutar-mutar memorinya dan kembali berteriak memanggil Leeteuk.

“Sekarang, saya akan memperkenalkan bintang hari ini, EXO!!”teriak Leeteuk kemudian yang di sambut teriakan meriah seisi gedung. 12 laki-laki yang baru tampil tadi kembali naik ke atas panggung dan berdiri berjejeran.

“Dongyi…”kucolek Dongyi pelan. “Bisakah kau meneriakkan nama seseorang untukku?”pintaku kemudian. Meskipun kami berada di antara gerombolan masa, dengan jarak sedekat ini dan dengan kekuatan teriakan Dongyi aku yakin member favoritku itu pasti mendengarnya.

“Kau ingin aku meneriakkan nama siapa?”Dongyi menatapku pelan.

“Chen…”bisikku kemudian.

“Baiklah…”Dongyi mengangguk pelan. Ia menarik nafas dalam-dalam, membuatku bersiap-siap mendengar teriakan 10 octavnya sebentar lagi.

“CHENNNNN!!!!”Dongyi berteriak dengan kekuatan penuh. Kulihat banyak fangirl di sebelah kami menoleh kaget, karena yang baru saja memperkenalkan diri bernama Tao, bukan Chen.

Sedikit menahan tawa, aku kembali menatap ke arah panggung. Benar saja 4 member di kanan menoleh ke arah kami mendengar teriakan Dongyi. Tao yang baru saja memperkenalkan diri, Baekhyun yang membungkukkan badan memperkenalkan dirinya, Xiumin yang tersenyum padanya, dan Chen…

“Teriakkan lagi namanya…”bisikku lagi pada Dongyi.

Dongyi mengangguk pelan. “CHEEENNN!!!”teriaknya lagi, tapi kali ini aku ikut melambaikan tanganku.

Kulihat Chen tepat menatap ke arah kami sekarang ini. Kulambaikan tanganku lagi dan ekspresi wajahnya berubah melihatku. “Fighting!”kugerakkan bibirku pelan sembari kukepalkan tanganku, mencoba memberikannya semangat.

Chen terdiam dan tersentak kaget saat tiba gilirannya memperkenalkan diri. “Annyeonghaseyo EXO-M-e Chen irago hamnida!!”ia membungkukkan badannya, tersenyum, dan kembali melirik ke arahku.

“Kau melihatku, Jongdae??”kutepuk kedua tanganku dan berbisik pelan.

“Jongdae?!”Dongyi menatapku kaget. “Jongdae yang itu?!! Jadi benar dia?!! Laki-laki yang dulu sempat….”

Aku tersenyum pelan pada Dongyi. “Cinta pertama…”ujarku kemudian.

Kulihat Chen masih menatap ke arahku. Perkenalan member sudah sampai D.O sekarang ini, aku tidak punya waktu banyak sebelum ia turun ke backstage lagi. Entah ia mengerti apa yang kukatakan atau tidak, kugerakkan kedua bibirku pelan. “Lama tak jumpa, Jongdae. Akhirnya kau jadi penyanyi juga, Chukhae! Sudah ku bilang kau yang terbaik, bukan?! Aku masih menjadi fans no.1-mu, Fighting!”.

“Kau gila?! Memangnya ia mengerti apa yang kau ucapkan?! Bahkan mungkin, ia sudah lupa padamu, bodoh!!”Dongyi berbisik pelan.

“Aku tidak peduli, aku tetap fans nomor 1-nya…”kulirik Dongyi dan tersenyum pelan.

“Saranghae!”kugerakkan bibirku lagi. Alis Chen sedikit berkerut, entah ia mengerti atau tidak, aku sudah tidak peduli. Aku memang kemari untuk mengatakan ini lagi. “SARANGHAE, SARANGHANDAGO. I LOVE YOU MY FIRST LOVE!”

 END