sketch

Title/Judul : Sketch
Author         : angelinblack
Genre            : Romance, Drama
Rating           : PG-17
Length          :Oneshoot
Disclaimer  : angelinblack. This story belongs to me. Sudah pernah di-post di blog pribadi author angelinblack.wordpress.com
Main Cast/Pairing : Xi Luhan EXO-M, Xu Zhaorou (you)
Summary/Foreword : “Loving you is like trying to touch the stars. I know I can never reach you ,But I can’t help but try” Terkadang lebih baik menyimpan rasa cinta daripada kau mengatakannya dengan resiko yang ada. Terkadang tempatmu berada saat ini sudah menjadi tempat ternyaman bagimu, hingga kau tak mau mengambil resiko untuk berpindah. Tapi, itukah pilihanmu saat kau jatuh cinta? Saat semua yang terjadi membawamu pada hal yang jauh di atas ekspektasimu? This is the story about that…

 

“Loving you is like trying to touch the stars

I know I can never reach you

But I can’t help but try”

***

                Jam 3 sore, seusai sekolah, aku berlari menuruni tangga dengan cepat dan memperlambat langkahku melewati lapangan sepak bola yang terletak di barat sekolah. Seperti biasa, setiap harinya lapangan itu selalu ramai dengan siswi-siswi yang berkerubung di bangku penonton, menonton pertandingan sepak bola. Bukan pertandingan dalam arti benar-benar ajang perlombaan berhadiah, hanya saja kelakuan iseng siswa-siswa yang menghabiskan waktu luang mereka.

Kubelokkan langkahku pelan, melangkah turun diam-diam ke bangku penonton yang menjorok ke bawah dan duduk mengambil bangku sepi di pojok kanannya, tepat di bawah pohon akasia kecil yang daunnya menguning menjelang musim gugur. Kulepas tas ranselku pelan dan kukeluarkan buku sketsa unguku dari dalamnya. Awalnya, aku bahkan tidak pernah berfikir untuk melakukan hal ini saat pulang sekolah. Aku memang suka sekali menggambar, kakekkulah yang mengajariku dari kecil. Setiap hari, aku membawa setidaknya 3 buku sketsa di dalam tasku. 1 buku sketsa, untuk setiap objek yang berbeda. Objek yang ku lukis hanyalah benda-benda mati atau mahkluk hidup yang statis, seperti bunga dan pepohonan. Aku tidak tertarik melukis makhluk hidup seperti manusia ataupun binatang, karena mereka bergerak dan tidak statis, susah bagiku menangkap mereka dengan setiap gerakannya. Tapi, seseorang mematahkan pikiranku itu.

Musim semi, setahun yang lalu. Saat itu aku baru selesai mengerjakan tugas piket dan berjalan pulang melewati lapangan bola saat melihatnya. Sekitar jam 5, setelah kerumunan siswi-siswi yang menonton sepak bola bubar, kulihat laki-laki itu masih di lapangan memainkan bolanya. Ia mengeluarkan headphone dari tasnya dan bersenandung kecil sambil memainkan bola dengan ujung kakinya. Entah bagaimana, perasaan itu datang begitu saja, sesuatu yang membuatku ingin mengabadikannya ke dalam buku sketsaku. Mengabadikan setiap momen senyumannya, tawanya, kedipan matanya. Besoknya, kudapati diriku duduk di bangku yang sama setiap pulang sekolah. Mengamati, melukisnya, besoknya lagi terus hingga sekarang ini. Entah sudah berapa lembar yang kuhabiskan untuk memindai wajahnya dengan guratan tanganku, aku tidak pernah menemukannya tidak indah untuk dilukis. Ya, ia objek terindah bagiku.

“Menonton bola juga?”seseorang mengambil tempat kosong di sebelahku dan tersenyum, membuatku reflek menutup buku sketsaku yang sudah mulai kucoret.

“Lufei?”kuhela nafas lega menyadari teman sebangkukulah yang duduk di sebelahku. Ia tersenyum lebar, rambutnya yang di ikat kebelakang mulai terlihat berantahkan.

“Melukis lagi?!”ia menggelengkan kepalanya dan berdecak pelan. “Apa yang kau lukis? Bola?”

“Eung… Ya…”kuanggukkan kepalaku pelan.

Lufei menyipitkan matanya curiga. “Sini! Aku mau lihat!!”ujarnya sembari mencoba merampas buku sketsaku.

“Jangan!!”teriakku kemudian, menyembunyikan buku sketsaku di balik punggungku. “Masih belum jadi.. Ka.. Kau tau, bukan, aku paling tidak suka jika lukisanku di lihat orang sebelum selesai!!”aku mencoba mencari alasan untuk menyanggah.

“Oke, baiklah… Tunjukan padaku setelah selesai, oke?!”ia mengambil permen karet dari saku kemejanya dan mengunyahnya pelan. “Aisshh!! Kenapa Zhihong ikut main, sih?! Dia itu payah!!”umpatnya begitu melihat ke arah lapangan. “Kau tau, seharusnya ia memberi umpan silang.. Posisinya…”ia menyenggolku dan mulai bercerita tentang strategi bermain bola yang baik menurutnya, membuatku mati kutu dan tertawa pelan. Sayang sekali, sepertinya hari ini harus kuurungkan niatku dulu untuk melukis, tapi mungkin aku bisa menyelesaikannya di rumah nanti.

Tak sampai 1 jam, pertandingan sudah selesai. Aku tak peduli siapa yang menang, karena Lufei masih mengumpat mengejek permainan Zhihong yang jelek. Aku bahkan tidak tau Zhihong yang mana. Ya, aku memang tidak banyak bergaul, aku tidak pandai merangkai obrolan dengan orang lain. Tidak seperti Lufei, ia sangat supel dan banyak memiliki teman dari kelas lain, kadang aku iri dengannya.

“Kau sudah mau pulang?”Lufei menepuk pahaku pelan. “Tunggu disini, kita pulang bersama, ya.. Aku mau menemui Zhihong dan memakinya dulu!!”ia tersenyum dan berlari menuruni tangga bangku penonton menuju lapangan. Kulihat ia menyeret lengan siswa kelas 3 dengan badan gempal ke tepi lapangan, menghampiri beberapa orang siswa lainnya yang sedang mengganti sepatunya.

Aku tersentak kaget menyadari salah seorang di antara gerombolan siswa itu. Laki-laki itu, ya laki-laki yang selalu menjadi peran utama di setiap lukisanku. Jadi Lufei mengenalnya? Ya, aku tau dia memang sangat populer di sekolah kami, bintang sekolah, tapi tidak sampai pikirku bahwa Lufei mengenalnya. Kami berada di kelas 2 sekarang, susah untuk berkenalan dengan senior bagi kami, apalagi jika senior itu seorang bintang terkenal di sekolah. Rasanya, aku sangat iri padanya. Dia, bisa dengan sesukanya mengobrol dengan laki-laki itu, sedang aku? Hanya bisa mengamatinya dari jauh dan melukisnya. Tapi jujur saja hanya dengan itu aku cukup merasa senang, memangnya gadis seperti aku bisa berharap lebih lagi?! Kurasa tidak!

***

                “Mama!!”aku berlari menuruni tangga rumahku menuju dapur, menghampiri Mama yang sedang memasak makan malam. “Mama membongkar tasku, tadi?!”

“Ya…”Mama menoleh pelan. “Mama rapihkan buku-bukumu di atas meja, kenapa panik begitu?”

“Mama lihat buku sketsa warna unguku tidak? Lihat tidak, Ma?!”tanyaku panik. Tentu saja, bagaimana aku tidak panik, buku itu berisi semua sketsa wajah laki-laki yang kusuka, bagaimana kalau ada orang lain yang melihatnya?!

“Tidak”Mama menggeleng pelan. “Hanya ada warna merah dan biru tadi. Kenapa? Sudahlah, minta kakek belikan yang baru saja untukmu…”

“Tidak bisa, Ma!! Ini gawat!!”jeritku sambil kembali berlari naik ke kamar. Kutatap mejaku yang sudah berantahkan karena ku acak-acak tadi. Kutarik nafasku, mencoba menenangkan diriku dan kembali mencari buku sketsaku sambil merapihkan kembali mejaku. Tidak ada! Tetap saja tidak ada! Tunggu dulu, jika Mama bilang tidak melihatnya saat mengeluarkan isi tasku tadi, berarti… Berarti buku sketsaku tertinggal di lapangan sepak bola tadi?!

“Ya Tuhan!!”kutepuk dahiku pelan. Aku ingat sekarang!! Tadi kusembunyikan bukuku di belakang punggung karena akan direbut Lufei dan aku lupa memasukkannya kembali ke dalam tas! Ya Tuhan, bagaimana jika seseorang menemukannya dan melihat isinya?! Aku memang tidak mencantumkan namaku di buku itu, tapi tetap saja aku tidak ingin ada orang yang melihatnya. Sketsaku itu, hanya aku yang boleh melihatnya! Ya besok aku harus mencari sampai dapat! Sampai dapat!

***

                Jam 4, kulirik ke arah jendela kelas, mengintip ke arah lapangan sepak bola sembari menyapu lantai kelasku untuk kesekian kali. Ku urungkan niatku untuk mencarinya sepulang sekolah, terlalu banyak orang, terlalu tinggi resikonya untuk ketahuan. Jadi, kuputuskan untuk menukar jadwal piketku dengan Wanjing dan menyibukkan diriku hingga pertandingannya bubar. Benar saja, kulihat para siswi mulai beranjak dari bangku penonton. Dengan cepat, ku simpan kembali sapu kelas ke dalam almari kayu di pojok belakang dan berlari menuju lapangan.

Lapangan bola sepi dengan cepat. Kulirik ke sekelilingnya, memastikan hanya tinggal 1-2 orang yang ada disana sebelum akhirnya berlari menuju bangku tempatku biasa duduk melukis. Kuperhatikan sekelilingku, tidak ada tanda-tanda bukuku disana. Tunggu, mungkin saja tidak sengaja tertendang seseorang dan jatuh atau bergeser ke tempat lain!

“Baiklah…”kuhela nafasku pelan dan menggulung lengan kemejaku, mulai menyusuri bangku penonton satu-persatu mencari bukuku. Tidak ada! Berarti, jatuh ke lapangan? Mungkinkah?

“Kau mencari sesuatu?”seseorang menyapaku pelan.

“Ya, apa kau lihat buku…”kubalikkan tubuhku pelan dan mematung di tempat begitu melihat orang yang menyapaku. Tuhan! Ya Tuhan! Dia, laki-laki itu…

“Kau mencari buku?”ia tersenyum ramah.

“Ah! Ya. Warna ungu.”kuanggukkan kepalaku pelan.

“Tunggu sebentar..”laki-laki itu mengaduk-ngaduk isi tasnya sebentar. “Buku ini?”ia mengeluarkan sebuah buku tebal dari dalam tasnya dan benar saja! Itu bukuku!

“A… Aku…”ku alihkan pandanganku tak berani menatapnya. Mati aku! Bagaimana kalau ia sudah melihat isinya?! Apa yang harus kukatakan padanya?!

“Aku menemukannya kemarin, tenang saja, aku belum mengutak-atiknya…”ia menyodorkan bukuku pelan.

“Terimakasih…”kuambil bukuku pelan dan menyimpannya rapih ke dalam tasku. Ku bungkukkan punggungku salah tingkah dan berbalik pergi.

“Tunggu dulu!”laki-laki itu berlari mengejarku. “Siapa namamu?”tanyanya kemudian, masih dengan senyum manis tersungging di bibirnya.

“Eung, Xu Zhaorou…”ku mainkan jemariku gugup. Ya Tuhan, bahkan suaraku sendiri terdengar samar di kalahkan suara degup jantungku yang berdebar keras. Sangat keras, ya, jantungku berdebar sangat keras, aku bahkan sangsi jika laki-laki ini tidak bisa mendengarnya.

“Namaku…”

“Xi Luhan…”potongku tiba-tiba, entahlah, suaraku keluar begitu saja. “Aku tau, kau sangat populer…”

“Tidak juga…”laki-laki itu terkekeh pelan sembari menggaruk-garuk belakang kepalannya.

“Terimakasih sudah menemukan bukuku…”kubungkukkan badanku lagi dan kembali melangkah pergi. Bingung, aku ingin berada disebelahnya lebih lama, tapi aku tak tau harus berbuat apa.

“Oh iya, Zhaorou!”teriaknya lagi, membuatku kembali menoleh padanya. “Jika ingin melukisku lagi lain kali, bilang dulu! Aku, kan, bisa berpose yang lebih keren untukmu!!”

***

当我想你, 我的心唱小情歌…

蝴蝶舞,这就是为什么我不能停止微笑..

when i think of you, my heart sings a little love song

 butterflies dance and that’s why i can’t stop smiling

***

                Bel istirahat berbunyi, kurapihkan kembali bukuku ke dalam tas dam mengeluarkan kotak bekal yang Mama siapkan untukku. Jujur aku memiliki alergi pada beberapa jenis makanan, jadi akan lebih aman jika aku membawa bekal dari rumah, itulah yang dipikirkan Mama.

“Hei, kau mau ikut aku dan yang lainnya ke kantin?”Lufei menepuk bahuku pelan.

“Maafkan aku, kau tau aku selalu membawa bekal, bukan?”kugelengkan kepalaku pelan.

“Tidak apa-apa, bawa saja bekal makananmu ke kantin. Zijun juga kadang membawa kue-kue dari rumahnya..”Lufei tersenyum ramah.

“Tidak, aku…”

“Kau takut dikerjai anak-anak lain karena membawa bekal?”Lufei mengangkat kedua alisnya pelan. “Tenang saja! Aku akan pasang badan untukmu!”

“Akan merepotkanmu, tidak usah…”kugelengkan kepalaku lagi. “Aku akan makan di bangku dekat ruang botani..”,kukeluarkan buku sketsaku dari dalam tas, “aku ingin menggambar…”

“Baiklah…”Lufei mengangguk pelan. “Aku akan beli bekal dan menemanimu makan disana kalau begitu, okay?!”ia mengedipkan sebelah matanya dan beranjak pergi. “Kutemui kau disana, ya!!”jeritnya kemudian, membuatku tersenyum dan menganggukkan kepalaku.

Aku beranjak dari bangku sembari membawa bekal, buku sketsa, dan pensilku. Ruang botani terletak di bagian belakang sekolah, terdiri dari 3 rumah kaca yang besar dengan 2 kebun yang tertata rapih menghimpitnya. Tempat ini benar-benar rapih dan sepi, juga nyaman, hanya di gunakan pada jam pelajaran biologi dan kelas ekstra botani. Ada sebuah meja dan bangku kayu besar terletak di bawah pohon sakura disana, tempat itu selalu menjadi tempat favoritku saat musim semi. Biasanya saat istirahat siang, daripada menghabiskan jeda waktuku untuk ikut pergi belanja ataupun duduk di cafe bersama yang lainnya, aku lebih suka duduk dan menghabiskan waktuku disana. Terkadang, aku bahkan bisa tidur siang disana sepanjang waktu istirahat. Ya, aku memang lebih nyaman berada dalam suasana tenang dan sepi.

“Eung?”kuhentikan langkahku tak jauh dari bangku tujuanku. Seorang anak laki-laki duduk memunggungiku, menyandarkan tubuhnya ke atas meja sembari memakai headphone bernyanyi pelan. Menyadari keberadaanku, ia berbalik menoleh menatapku dan tersenyum. Ya Tuhan! Itu Luhan!

“Ini, tempatmu ya?”ia melepas headphone menyapaku ramah.

“Eung, aku akan cari tempat lain kalau begitu…”kubungkukkan badanku pelan dan berbalik.

“Kenapa? Keberatan berbagi tempat denganku?”tanyanya kemudian.

“Tidak, bukan begitu..”kembali berbalik, kugelengkan kepalaku pelan.

“Kalau begitu, duduklah…”ia mempersilahkanku duduk di sebelahnya.

Kuanggukkan kepalaku pelan dan berjalan menghampiri bangku disebelahnya yang kosong. Sedikit menjaga jarak, aku duduk di paling ujung bangku membiarkan spasi yang cukup lebar di antara kami.

“Kau membawa bekal?”Luhan mengerutkan alisnya pelan.

“Ya..”kuanggukkan kepalaku. “Aku alergi babi, jadi susah untuk menemukan makanan yang cocok untukku di kantin..”jelasku kemudian.

“Aku juga bawa bekal!”seru Luhan sambil menunjuk kotak makan berwarna merah di hadapannya. “Secara tekhnis aku tidak benar-benar membawanya dari rumah. Beberapa siswi suka memberikanku kotak bekal. Kalau aku, akan kupilih makanan yang paling enak dan sisanya ku bagikan pada yang lain…”ia terkekeh pelan. Kembali menatapku, ia beralih ke buku sketsa yang kuletakkan di atas meja. “Kau mau melukis?”

“Ya…”kuanggukkan kepalaku pelan. Ya Tuhan, aku merasa sangat malu saat ini bahkan di saat aku tidak melakukan apapun. Belum lagi jika teringat buku sketsaku yang di temukan laki-laki, rasanya tidak ada muka untuk menatapnya sekarang ini.

“Mau menggambarku?”laki-laki itu tersenyum pelan.

“Ah, itu…”tersentak kaget, ku palingkan wajahku pelan.

“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan…”ia tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, kau juga tidak keberatan berbagi tempat ini denganku, bukan? Mungkin, aku akan sering kemari mulai saat ini. Tempat ini, eung, sangat nyaman..”

“Ya, sangat nyaman…”kuanggukkan kepalaku pelan.

Luhan menghela nafas dan kembali menoleh padaku, ia tersenyum lagi. “Kau tak banyak bicara, ya. Percaya atau tidak, aku juga bukan tipe orang yang banyak bicara. Hanya saja, dengamu, aku jadi banyak bicara seperti ini… Mau berteman denganku?”ia menyodorkan tangannya.

Kukerjapkan mataku perlahan. Ya Tuhan, keburuntungan apa yang sedang melandaku ini? Dulu bahkan aku tak pernah membayangkan dapat bertatap muka dengan laki-laki ini, sekarang justru laki-laki ini memintaku menjadi temannya. Kuanggukkan kepalaku dan kupasang senyumku, “Ya tentu saja. Teman…”

***

               Berteman dengan Luhan, kukira tidak akan semenarik ini. Aku tau akan sangat bahagia bagiku berteman dengannya, mengenalnya, tapi tidak kukira aku akan merasa nyaman dengannya. Gadis sepertiku bukan tipe orang yang mudah beradaptasi dengan orang lain, tapi dengan Luhan tidak. Dia mampu membuatku berekpresi sebebas yang kumau saat bersamanya.

Satu hal yang ku sadari tentangnnya, di adalah laki-laki yang sangat baik. Bahkan terlalu baik menurutku. Menjadi bintang sepak bola sekaligus ‘penyanyi’ sekolah yang sering menang perlombaan, tentu membuatnya menjadi pusat perhatian di setiap gerakannya. Kutemukan dia tidak pernah keberatan dengan ketenarannya, ia nyaman dengan popularitasnya, dan senang menjadi pusat perhatian. Tapi, di sisi lain, ia akan datang menemuiku ketika ingin menghindari semuanya.

“Hai!”Luhan berlari menghampiriku dengan 2 kotak bekal di tangannya. Ia tersenyum dan menyodorkan salah satunya padaku. “Tidak mengandung babi, aku jamin!”sahutnya.

“Tapi, aku suka membawa bekal..”kugoyangkan kotak bekalku pelan.

“Ayolah! Aku mati-matian meminta Yuanji untuk membuatnya…”

“Kau memanfaatkan siswi-siswi itu lagi?!”

“Aku tidak memanfaatkannya, mereka yang menawarkan…”kilahnya kemudian. “Ei, sudah dengar lagu baru JJ Lin belum?”ia menyenggolku pelan.

“Kau tau aku tidak pernah update lagu-lagu baru, sia-sia bertanya padaku.”

“Tapi kau tau apa yang kusuka darimu?”

“Eung?”

“Kau mau mempelajari apa yang kusuka, aku menghargainya. Terimakasih…”ia tersenyum pelan. “Mau mendengarkan aku menyanyi?”

“Lagu apa hari ini?”kulirik tas di punggungnya pelan, “Kau bawa gitar hari ini?”

Luhan terkekeh pelan dan mengeluarkan gitarnya, memasangnya di atas pangkuannya. Ia terbatuk pelan dan tersenyum. “普通朋友 (Ordinary Friends) David Tao. Aku sudah berlatih semalaman. 请你仔细聆听 (Please listen carefully)..”

等待 (Wait)。我随时随地在等待 (I’ll wait anytime or anyplace)。做你感情上的依赖 (Depending on your feelings)。我没有任何的疑问 (I have no doubts)。这是爱 (This is love)

我猜你早就想要说明白 (I’m guessing you’ve always wanted to make it clear)。我觉得自己好失败 (I’m dissapointed in myself)。从天堂掉落到深渊 (From heaven, i drop down into the abyss)。多无奈 (I’m so helpless)

我愿意改变 (I’m willing to change)。 重新再来一遍 (To start from the beginning) 。我无法只是普通朋友 (There’s no way that i just can be an ordinary friend)。感情已那么深 (My feelings are so deep)。叫我怎么能放手 (How can you tell me just to let it go?)

但你说“i just wanna be your friend”做个朋友 (But you said to me that you only want to be my friend)。我在你心中只是just a friend不是情人 (In your heart i’m only a friend not somebody to love)。我感激你对我这样的坦白 (I appriciate you’re telling how you feel)。但我给你的爱暂时收不回来 (But the love i have for you, i cannot take it back)。So i我不能只是be your friend (So, I can’t just be your friend)

“Bagaimana?”Luhan meletakkan gitarnya dan tersenyum.

“Bagus. Kau akan ikut lomba lagi?”ku anggukkan kepalaku pelan. Aku menyukai lagunya, lagu itu sedikit banyak bercerita tentang apa yang kupikirkan saat menatap laki-laki di hadapanku itu. Hanya saja, aku menjadi begitu pengecut menghadapi perasaanku sendiri. Laki-laki seperti Luhan, tentu saja di kelilingi banyak perempuan di sekitarnya. Aku yakin sudah banyak yang menyatakan perasaan suka padanya, jadi kenapa aku harus menjadi salah satu dari kebanyakan orang?

“Ya, aku akan ikut lomba di Beijing Supermall minggu depan. Kau akan menontonku? Kau belum pernah datang ke perlombaanku sebelumnya, bukan?”

“Tidak.”kugelengkan kepalaku pelan, “aku selalu datang ke perlombaanmu, hanya saja kau yang tidak melihatku. Akan ku tonton kau minggu depan. Semangatlah!! Jiayou!!”

“Hei..”Luhan menopang dagunya, menatapku. Pose itu, selalu membuatnya terlihat manis.

“Ya?”

“Apa ada yang ingin kau katakan padaku?”

“Apa?”kukerutkan alisku. “Memangnya apa yang harus kukatakan padamu?”

“Entahlah”ia mengangkat kedua bahunya pelan, “Mungkin saja ada…”

***

                “Mana?”Luhan menyodorkan tangannya padaku.

“Apa?”bingung, kukerutkan alisku pelan.

“Buku sketsamu..”

“Ini?”kuserahkan buku sketsa yang sedang ku pegang.

“Bukan. Yang ada gambarku!”ia mengembalikan bukuku dan menghela nafas panjang.

“Kenapa mau melihatnya tiba-tiba?!”kukerutkan alisku dan ku singkirkan buku-buku sketsaku pelan.

“Memangnya tidak boleh?!”ia mencondongkan tubuhnya dan mengambil buku sketsa unguku dengan cepat.

Malu, kupalingkan wajahku pelan dan kubuat diriku sibuk dengan kotak bekalku. Laki-laki itu tak bersuara, untuk waktu yang lama hanya gesekan-gesekan lembaran kertas yang dapat ku dengar. Perlahan, kulirik laki-laki itu pelan. Ia tengah duduk memandang buku sketsaku sembari menyunggingkan senyumnya. Ya Tuhan, andai senyum itu hanya di tujukan untukku, aku pasti akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia saat ini. Tapi, jika kau mengenal Luhan, kau tidak akan pernah menganggap senyum itu sebagai sebuah hadiah. Luhan, dia selalu tersenyum seperti itu pada semua orang. Sampai saat ini aku tidak pernah menemukannya memperlakukan seseorang secara khusus, tidak pernah sama sekali.

“Eumm…”Luhan menutup buku sketsaku dan menghela nafas pelan. “Kau tau?”ia menoleh menatapku.

“Apa?”kuangkat kedua alisku penasaran.

“Aku dan Meili sudah berpacaran…”

“O!”. Kaget, tak mampu berkata apapun, kupalingkan wajahku perlahan. Sakit, tiba-tiba saja jantungku serasa ditikam, detak jantungku seolah berhenti untuk sepersekian detik membuat nafasku sedikit tercekat. “Selamat. Akhirnya….”

“Tapi aku tidak mencintainya…”ia memotong ucapanku, membuatku kembali menoleh menatapnya.

“Lalu, kenapa kau berpacaran dengannya?”

“Dia menyatakannya padaku, dia menyukaiku. Menurutmu, aku harus menolaknya?”

Iya, seharusnya kau menolaknya saja. Tak sanggup bicara, kutundukkan kepalaku pelan. “Jadi, kenapa kau menerimanya?”

“Tidak ada alasan khusus…”ia menggelengkan kepalanya. “Kenapa aku harus menolak orang yang menyukaiku?”

Kutundukkan kepalaku lagi. Sakit, hatiku benar-benar terasa sakit. Rasanya, aku ingin sekali lari dari sini dan menangis. Tapi, jika ku lakukan itu, tidakkah akan menimbulkan kecurigaan pada Luhan? Aku sudah menahan perasaanku sampai detik ini, jadi kenapa aku harus merusak semua usahaku sekarang ini? “Tidakkah…”kutarik nafasku dalam-dalam, “Tidakkah, seharusnya kau bersama Meili sekarang ini. Jika ia tau kau bersamaku… Tidakkah ia akan marah?”

“Terserah dia mau marah atau tidak. Aku sama sekali tidak ambil pusing…”Luhan mengangkat kedua bahunya dan kembali membuka buku sketsaku di tangannya.

“Jangan dilihat…”

“Eung?”

“Gambarku, jangan dilihat…”

Luhan mengerutkan alisnya pelan. Tingkahku saat ini, mungkin membuatnya heran. “Dengar…”ia menyentuh bahuku pelan. “Aku lebih suka menghabiskan waktu bersamamu, aku suka gambar-gambarmu…”

“Kau benar-benar menyukainya?”

“Tentu saja! Lihat! Bagaimana aku tidak menyukainya?! Aku sangat terlihat tampan di gambar-gambar ini! Bagaimana bisa kau menggambar seperti ini?!”

“Tentu saja karena aku berbakat!!”kekehku pelan. Tidak, sebenarnya bukan jawaban itulah yang ingin ku katakan. Dia terlihat tampan di gambar-gambarku, bukan karena tanganku yang handal, tapi karena matakulah yang memandang dirinya seperti itu. Memandangnya dengan cara yang sama seperti yang kulakukan sekarang ini. Sangat indah.

***

Kenapa aku tidak mengatakan padanya perasaanku yang sebenarnya?

Jawabannya sangat sederhana, karena tidak ada yang ingin kuubah dari ini semua.

Jika kau mengenal Luhan dan menjadi aku, mungkin kau tidak akan melakukan hal yang sama.

Bukan karena takut akan patah hati, karena dia buka tipe laki-laki yang bisa berkata tidak.

Jika kau mengenal Luhan sepertiku, kau akan sadar betapa sadarnya dia akan popularitas yang dimilikinya. Betapa sadarnya ia bahwa banyak perempuan yang menginginkannya.

Jika kunyatakan perasaanku padanya, sudah pasti ia akan menerimaku, karena ia memang begitu.

Tapi di balik itu semua penting bagiku mengetahui posisi hatinya.

Untuk apa jika mulutnya berkata ‘ya’, tapi hatinya ‘tidak’?

Jika kau sendiri sudah berada dalam posisi yang berbeda dengan perempuan kebanyakan itu, apa kau ingin mengubahnya?

Bagiku tidak.

Jadi, apa aku salah?

***

                “Hei!”Lufei berdiri di pintu gallery-ku dan tersenyum pelan. Ia berjalan menghampiriku dan tersenyum sembari merapihkan ujung jaket kulitnya yang mengkilat. Di kalungnya tergantung sebuah kartu yang terpasang fotonya dan tertulis namanya dengan rapih sebagai salah satu EO sebuah acara. Entah acara apa, aku tidak sempat membacanya sebelum ia menarik resleting jaketnya, membuat kartu itu terbungkus rapih di dalam jaketnya.

“Apa yang membuatmu kesini? Kau bilang sedang sibuk…”tanyaku kemudian

Lufei berdecak pelan. “Aku kemari membawa kabar bagus untukmu!”

“Apa aku akan senang mendengarnya?”sedikit tersenyum, kurapihkan kembali keramik-keramik hias yang baru selesai kutata tadi.

“Issshh!!”Lufei mendengus pelan, sedikit terlihat raut kekesalan di wajahnya karena aku yang tidak terlihat tertarik dengan apa yang akan di ceritakannya. “Kukatakan padamu! Luhan sudah kembali ke Beijing!!”

“Apa?!”kutatap Lufei tak pecaya. Benarkah itu? Benarkah yang dikatakannya?! Luhan kembali ke Beijing?!

“Ya…”Lufei mengangguk. Tersungging senyum kemenangan di bibirnya melihatku kini tertarik dengan topik pembicaraannya. “Sudah berapa lama sejak kalian tidak bertemu? Kau sudah pindah ke Jepang sebelum kelulusan, jadi mungkin sudah 5 tahun?”

“Kau mau mengantarkanku menemuinya?”

“Tentu saja…”Lufei menganggukkan kepalanya. “Kau akan terkejut lagi nantinya…”

***

                Kuletakkan tas tentengku di pangkuanku gugup. Gugup, bagaimana mungkin aku tidak gugup?! Baru saja Lufei memberitahuku bahwa Luhan sudah menjadi seorang penyanyi sekarang ini di bawah nanungan agensi besar di Korea! Dan lagi, ia kembali ke Beijing untuk mengadakan showcase grupnya! Kebetulan, Lufei ikut menjadi EO-nya, seandainya tidak, aku mungkin masih tidak tau apapun sampai sekarang ini. Aku memang berniat menemui laki-laki itu setelah pulang ke China, tapi 3 hari di China, aku justru sibuk mengurus gallery warisan kakek dan lupa sama sekali mencari kabar Luhan. Ya Tuhan, aku masih ingat sekali terakhir kali aku bertemu dengannya.

***

                Kutatap Luhan dari kejauhan. Laki-laki itu melambaikan tangannya padaku, tersenyum, dan berlari menghampiriku sambil menenteng sepatu bola di tangannya. Sedikit kulirik perempuan cantik yang berjalan mengikutinya di belakang. Meili,ya, sudah 3 bulan mereka berpacaran. Aku sendiri heran, bagaimana aku masih bisa terus berdiri di sebelahnya dengan kenyataan di hadapanku bahwa seseorang sudah memilikinya sekarang ini?

                “Sudah lama menunggu?”Luhan tersenyum padaku.

                “Tidak…”kugelengkan kepalaku pelan. Sedikit kulirik Meili dan kusunggingkan senyumku padanya. “Hai, Meili…”

                “Oh, halo jiejie…”Meili tersenyum ramah. Ia menghampiri Luhan dan menggandeng tangan laki-laki itu kemudian. Ya Tuhan, andai saja aku bisa menghilang sekarang ini juga. “Kami akan pergi menonton film, jiejie mau ikut?”

                “Tidak. Terimakasih…”kugelengkan kepalaku pelan dan kualihkan pandanganku pada Luhan. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi bagaimana aku bisa mengatakannya jika Meili ada disini?

                “Meili, kau mau menungguku di gerbang sekolah?”seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan, Luhan menatap Meili dan tersenyum membujuknya. “Aku ada urusan dengannya…”ia melirikku pelan.

                “Baiklah…”. Aku tau Meili sangat enggan meninggalkan kami berdua, tapi akhirnya ia tetap mengangguk dan berjalan pergi.

                “Jadi…”, Luhan menghela nafas panjang, “Ada yang ingin kau katakan padaku?”

                “Itu… Ya…”kuanggukkan kepalaku pelan. “Aku akan pindah ke Jepang. Mama mendapatkan pekerjaan disana…”berat, hatiku terasa berat.

                “Haruskah kau ikut ke Jepang?”

                “Ya.”

                “Kau senang pindah dari sini?”

                “Aku…”kuhela nafasku, “Tidak…”

                “Jadi kenapa kau ikut pindah?”

                “Aku…”.

Hening, Luhan melangkahkan kakinya mendekat. “Ada lagi yang ingin kau katakan?”tanyanya kemudian.

“Ah?”kukerutkan alisku bingung. Tidak hanya hari ini, akhir-akhir ini ia sering menanyaiku jika ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya.

“Tidak. Hanya saja, aku selalu merasa kau ingin mengatakan sesuatu…”

“Tidak ada. Tidak ada lagi…”

“Kau yakin?”

“Ya…”kuanggukkan kepalaku pelan. “Tidak ada lagi yang ingin kukatakan…”

***

                “Zhaorou?”seseorang menepuk bahuku pelan, membuatku sadar dari lamunan singkatku tadi. Kutolehkan wajahku pelan dan kudapati seseorang familiar tersenyum padaku. Matanya masih terbelalak kaget, tapi bibirnya tetap saja menyunggingkan senyum. Senyum yang sama seperti yang kuingat selalu membuat hatiku terenyuh setiap kali memikirkannya. Luhan, laki-laki itu, tidak bukan laki-laki lagi, pria itu berdiri masih dengan butiran-butiran peluh menetes di wajahnya.

Kurogoh sakuku pelan dan kusodorkan tisuku padanya. “Tisu? Keringatmu sangat banyak…”canggung, tetap saja kusunggingkan senyumku padanya. “Syukurlah, kau sekarang sudah menjadi penyanyi… Selamat,ya…”

Luhan, mengambil tisu yang kusodorkan dan mengelap wajahnya pelan. Tak bersuara, kuputuskan untuk kembali melanjutkan ucapanku lagi. “Aku kemari untuk memberikanmu hadiah…”kurogoh tasku dan ku keluarkan buku sketsa tua berwana ungu dari dalamnya. “Selamat, ya…”kusodorkan bukuku padanya.

“Hei…”Luhan mengambil buku sketsaku dan membuka pelan. Sedikit tersenyum, ia kembali menatapku lagi. “Hanya itu saja? Ada lagi yang ingin kau katakan?”

Sedikit terkekeh pelan, ku gelengkan kepalaku kemudian. “Memangnya apa lagi yang harus kukatakan?”

Mendengus pelan, Luhan menutup buku sketsaku dan memicingkan matanya. “Kau benar-benar masih tidak mengerti?!”

“Tidak. Aku mengerti…”ku gelengkan kepalaku lagi. “Hanya saja, kenapa aku harus mengatakannya?”

“Jadi kau masih tidak ingin mengatakannya?”

“Tidak…”ku gelengkan kepalaku lagi. “Aku ingin mengatakannya. Hanya sekali ini aku akan mengatakannya, jadi dengarkan baik-baik. Aku….”

“Aku mencintaimu.”

“Ah?”

“Aku mencintaimu!”

***

“Sejak menemukan bukumu, sejak ku putuskan untuk membukanya, dan sejak mataku melihat gambar di dalamnya. Sejak saat itulah denyut nadiku tak lagi konstan.”

***

我的心对我说,我不能告诉你。但我可以画出完美的,我爱的人。

“I can’t tell you what my heart said. But i can draw the person i loved”