the unexpected cover

Title/Judul                 : The Unexpected – A Zayn Malik Love Story

Main Cast/Pairing     : Zayn Malik and you as Lia

Author                        : RAR. [@rurimadanii]

Genre                          : Romance

Rating                         : PG-13

Length                        : 6 chaptered

Disclaimer                  :
Original buatanku sendiri tapi, zayn dan 1D punya ibu mereka masing-masing😆 Terpublish di blog saya dan Alhamdulillah banyak yang ngaku nangis baca ceritaku ini. Sebelnya, sempet diplagiat sama orang dan sampai sekarang belum izin sama sekali sama saya. Ohya, setel lagu yang sedih-mellow-galau ya biar suasanya semakin mendukung buat menitikkan air mata. Komen/mention ke twitter saya gimana reaksi kalian baca ini. Saya butuh kritikan untuk mengukur gimana kemampuan saya😀

(—-0—-)

[Zayn]
Something’s gotta get now
‘Cause I’m dying just to make you see
That I need you here with me now
‘Cause you’ve got that one thing

Dan tepat ketika lirik terakhir yang ia nyanyikan berakhir dan disahut oleh nyanyian anggota 1D lain, sesosok bayangan yang berdiri jelas di hadapanmu sekarang menggamit tanganmu. Matamu ditatap lekat. Dan ia.. ia tersenyum padamu. Perlakuannya menimbulkan teriakan riuh rendah dari penonton. Tapi tidak denganmu.

Kau membeku.
Lidahmu kelu.
Matamu terpaku.
Nafasmu tercekat.
Jantungmu melonjak.

Apa lagi ini?

“…-n?” gumammu lirih. Lirih dan tak tega. Kau tak tega menggumamkan nama orang yang saat ini sedang ingin kau lupakan. Kau tak tega menggumamkannya. Kau tak tega..

Tepat saat lagu dilanjutkan, kau menyadari.. menyadari semuanya. Bahwa kau telah.. tidak kau tak mau mengakuinya. Perasaan jengkel dan marah meraupi tubuhmu liar. Kau benar-benar merasa dipermainkan. Tidak, kau benar-benar dipermainkan.

Kau menarik tanganmu dari genggamannya dan berlalu layaknya seseorang di depanmu tak ada. Kemudian berlari kecil menerobos kawanan bodyguard, berharap kau lenyap saat itu juga.

Hatimu perih lagi.
Perasaanmu tercabik lagi.
Tetesan itu keluar lagi.
Semua terasa salah bagimu.

“Lia!” lelaki itu memanggilmu. Meneriakkan namamu. Ia ikut menerobos bodyguard tapi entah mengapa bodyguard menahannya. Sayup-sayup kau dengar, ia tidak diperkenankan menjauhi panggung lebih jau lagi apabila lagunya belum selesai.

Dan kau tetap berlari kecil. Tak mempedulikan lelaki itu. Tak mempedulikan lagunya. Tak memedulikan irama merdunya. Tak mempedulikan malam tahun baru. Tak mempedulikan tatapan sinis penonton yang iri akan perlakuan makhluk adam itu.

Apa maksud semua ini? Apa maksudnya?!

Fikiranmu kalut. Kau tak habis fikir mengapa serentetan peristiwa yang menguras emosimu terjadi hari ini. Dan semua itu karena ulah lelaki yang menggamit jemarimu tadi. Karena lelaki yang kau rindukan. Lelaki yang ingin kau lupakan. Lelaki yang sejujurnya masih kau cintai. Ya, kau masih teramat mencintainya.

Kau menjauhi panggung. Menyelinap lincah di antara kerumunan orang dengan harap keluar dari tempat ini secepatnya. Tapi kerumunan itu sepeti mendesakmu. Menyulitkanmu berjalan apalagi berlari. Tapi kau tak menyearh. Kau masih punya secercah tenaga untuk menghadapi mereka. Dan kau masih berusaha melangkahkan kakimu dalam desakan manusia dengan kristal-kristal yang keluar dari kelopak matamu.

Cukup lama kau berjalan, cukup lama kaumenyelinap dan cukup lama pula kau terhenyak akan semua ini. Hingga akhirnya lagu berakhir mengiringi kebebasamu dari kerumunan tersebut.

‘One Thing’ kata itu.. kata itu terngiang di otakmu. Sejenak fikiranmu melayang ke masa itu. Masa dimana lelaki itu memintamu untuk mendukungnya. Masa dimana lelaki itu menahanmu pergi. Masa dimana kau luluh karenanya. Masa dimana kau benar-benar merasa perasaanmu tak akan pernah tersampaikan. Masa dimana lelaki itu berkata bahwa kau.. adalah ‘One Thing’ baginya.

Dan sekarang fikiranmu bertambah rumit. Benakmu terpenuhi oleh kejadian absurd hari ini. Semua layaknya film yang berjalan lambat. Menyisakan kekecewaan yang teramat dalam perasaanmu. Kau benar-benar kecewa karena mereka semua terlewat tega…

“Lia! Wait! Listen to me!” teriak seseorang dengan menarik sikumu. Seseorang dengan suara berat yang amat kau rindu. Ia memaksamu berhenti. Reflex, kau tolehkan kepala ke arahnya dan mendapati seraut kekhawatiran di sana. Gurat kepedihan terlukis jelas di wajahnya melihat mukamu memerah penuh air mata.

PLAK!

Dan tamparan itu sukses mendarat di pipi kanannya. Menyisakan jejak merah dan meninggalkan perih yang semakin membekas dalam hatimu.

Kau menggigit bibir kuat-kuat. Air matamu akan tumpah lagi. Tidak, kau harus menahannya. Kau tak mau tetesan bening itu keluar di hadapan lelaki ini. Kini, kau tak mau lagi terlihat lemah di hadapannya.

Tapi ia bergeming. Entah mengapa raut mukanya mengatakan bahwa ia menerima tamparanmu dengan ikhlas. Jelas, amarah tak terlukis sedikitpun pada air mukanya meresponmu yang menamparnya. Ia mungkin merasa.. pantas menerima tepukan bertenaga dari telapak kirimu itu.

Kau yang melihatnya terdiam tak merespon akhirnya bermaksud pergi meninggalkannya. Kau butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Kau butuh waktu untuk mengenyahkan permainan bodoh ini. Dan kini, jalan terbaiknya adalah menjauh dari lelaki di hadapanmu. Menjauh dari permainan tak masuk akalnya hingga membuatmu nyaris gila.

Tapi belum satu langkah kau pergi lelaki itu mencengkram pergelangan tangan kananmu. Memaksamu berhenti beranjak darinya. “Let me go.” Ucapmu serak. Kau berusaha melepaskannya dengan mengibaskan tanganmu. Tapi cengkramannya semakin ia kuatkan. Teramat kuat hingga membuatmu merintih kesakitan. “It hurts. Let me go, Zay…” Pada akhirnya pertahananmu runtuh. Sekujur tubuhmu menegang. Tanganmu bergetar kehilangan tenaga. Kristal itu turun lagi tanpa sempat kau kendalikan.

Lalu Zayn memutar tubuhmu menghadapnya. Melihatmu tertunduk dengan air muka kacau yang seperti ini membuat hatinya seolah tersayat pisau tajam dari segala sisi.

“I’m sorry.” Gumamnya lirih penuh sesal. Kau tak menjawab. Masih sibuk dengan senggukanmu. Untuk sesaat kalian terdiam. Seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi terhalang oleh sesuatu yang lain. Tapi kau tahu, inilah saat yang paling tepat bagimu menumpahkan seluruh kekesalanmu padanya. Pada lelaki di hadapanmu ini. Kau menghirup nafas dalam-dalam, menghapus air matamu cepat, mengangkat kepalamu dan berkata…

“You! You’re cruel Zayn! You’re evil! You’re crazy! You make me worried! You make me stressed! You make my day messed! You make me frustrated like I almost die! You should not do that stupid thing! Don’t you think how will I be? Don’t you think how panic am I? Don’t you think if it real happene-..” ucapanmu terhenti. Emosimu mencpai puncaknya. Batinmu makin perih. Kau menundukkan kepalamu lagi. Membiarkan genangan kecil di bawah kelopak matamu terjun bebas dari tempatnya terproduksi.

Kau tak mau melanjutkan kalimat itu. Kau tak mau membayangkannya. Yang paling penting kau tak mau itu benar-benar terjadi. Pada akhirnya, tertuanglah seluruh kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, kekecewaan dan kecemasan berlebihmu pada Zayn. Masih dengan iringan bulir-bulir air mata ketak-berdayaanmu. Tapi entah mengapa, sepertinya apa yang kau lakukan sekarang tidaklah cukup. Makianmu pada Zayn belum memuaskan hatimu. Semuanya seperti tak berbanding dengan apa yang kau rasa.

Anehnya, kau kehilangan kata-kata. Kau tak bisa berucap banyak. Entah mengapa, hatimu merasa lega melihat Zayn di depanmu, tapi.. Amarah itu masih ada.

Zayn masih bergeming menatapmu. Tak peduli dengan kekesalan dan kemarahanmu yang terlontar dari bibirmu. Dia masih.. menunggu. Menunggumu unutk benar-benar mengeluarkan seluruh perasaanmu.

Kau bermaksud untuk memarahi Zayn lagi. Dengan satu kata yang amat dibencinya. Satu kata yang tak pernah terucap dari bibirmu maupun bibirnya. Satu kata yang-sejujurnya-tak pernah mewakili perasaanmu padanya. Satu kata yang.. akan keluar jikalau kau benar-benar tak menyukai hal itu. Dan kaupun bergumam..

“I hate you..” tapi kau tahu benar, hatimu belum puas menggumamkannya. Kau perlu meneriakkannya. Supaya Zayn benar-benar tahu bawa kau sangat kecewa dengan perlakuannya. Karena itu kau mengangkat kepalamu dan meneriakkan.. “I HATE YOU. I HATE YOU, Z-” dan kelima jemari kanannnya merapat menyentuh pipi kirimu cepat. Menelungkupkanmu ke dalam kehangatan tangannya. Perlakuannya memaksamu untuk menengadahkan kepalamu lebih tinggi lagi akibat dorongan lembut jemarinya.

Dan ucapanmu terhenti.. seiring dengan terkecupnya bibir mungilmu olehnya. Menularkan sensasi yang tak pernah kau rasa sebelumnya. Sensasi pengaktif urat syarafmu untuk bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Sensasi terindah yang pernah kau rasa. Sensasi itu membagi kehangatan dan ketenangan yang ia punya. Kehangatan dan ketenangan yang Zayn miliki.

Untuk sekali lagi, kau membeku. Kau tak bisa menolak kecupannya. Jujur, kau bahkan menikmatinya. Kelopak matamu tertutup secara otomatis karena terhanyut dengan segala perasaan campur-adukmu padanya. Kini, kau tak memiliki jarak dengan Zayn. Tak ada sisa kecil ruang di antara kalian. Hembusan nafasnya menyapu hidungmu hangat. Menyatukan hembusanmu ke dalamnya.

Zayn sukses membuaimu dalam kecupan lembutnya. Kecupan hasrat terpendamnya. Kedua tanganmu mencengkram coat Zayn kuat-kuat. Sedangkan tangan Zayn masih menelungkup pipimu sedangkan tangannya yang lain menarik pinggangmu erat mendekat padanya. Cukup lama Zayn mengecupmu hingga akhirnya kau terdiam. Hingga akhirnya kau tenang. Hingga akhirnya tetesan air matamu berhenti. Kau tahu, kali ini Zayn kembali berhasil menenangkanmu. Tapi bedanya, kini penenangan itu merupakan sesuatu berbeda yang pertama kali kau dapat dalam hidup. Yeah, that was your first kiss.

Kemudian Zayn menarik lembut dirinya menjauh darimu. Mengakhiri kecupan, kehangatan dan ketenangan yang diberi olehnya. Lalu kau membuka matamu perlahan. Dan kau mendapati mata coklatnya menatapmu lurus dan dalam. Untuk kesekian kalinya, kau terkunci dalam manik coklatnya. Manik terindah yang pernah kau lihat yang kala ini berbinar penuh harap padamu. Tak perlu waktu lama bagimu menunggunya bereaksi lagi. Karena ketika ia menguncimu dalam tatapannya, suara beratnya kembali menarik seluruh perhatianmu untuk mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan..

“But, I love you, Lia. And I wanna make sure wether my ears have no troublesome or not. Because.. When I fell asleep, I heard an angel voice whispered beside me. An angel voice that can make my eyes open to let me reach it. Reach the voice. To know who does it belongs to. To reply it. To reach you. Yeah, to reach you, Lia.” Terang Zayn padamu

Kau terdiam. Kau terhenyak. Kau kehabisan kata. Kau masih menatap lekat mata coklat itu. Mendengar suaranya bersenandung melontarkan kata yang membuatmu meleleh.. merupakan sesuatu yang tak pernah kau bayangkan. Dalam benakmu, mungkin kau tak akan pernah berkesempatan melihat lelaki itu lagi. Menatap matanya, mukanya, terbuai senyumnya, perlakuannya, bahkan mendengar suaranya. Tapi kini, keinginan terakhirmu di ferris wheel terkabul. Semua jadi kenyataan. Dan keinginanmu.. mungkin akan terkabul untuk jangka waktu lama ke depannya nanti.

Nyatanya, ia tak berubah. Ia masih sama seperti yang dulu. Ialah orang yang amat kau kenal, amat kau cinta. Dia Zayn. Zayn Malik. Zayn Javvad Malik. Temanmu, sahabatmu, kakakmu, ayahmu, musuhmu, malaikatmu, pewarna hidupmu dan tentunya.. cinta pertamamu.

“But..” kau mencoba untuk membuka suara. Memecahkan keheninganmu dan menyahut ucapan Zayn. Tapi lagi-lagi, Zayn menyelamu.

“Here. I make the new one.” Sela Zayn dengan mengeluarkan seuntai kalung dari dalam saku coatnya. Kalung berbandul huruf Z yang merupakan inisial nama Zayn.

“Z?” tanyamu tak mengerti. Mengapa harus..

“Zayn. Prove that you’re mine.” Ucapnya datar. Membuat sesuatu kecil di hatimu melonjak kegirangan. Tapi tunggu, kau belum memilikinya. Meskipun kalian telah saling berucap sayang.

“I’m not yours.” Sahutmu menggeleng kepaala.

“Be mine?” tanyanya lembut dengan seberkas keyakinan penuh yang tersirat jelas dalam matanya. Kau speechless. Tak dapat berkata. Lalu Zayn tersenyum lagi. Dan dengan cepat beranjak di belakangmu. Melepaskan ikatan syalmu dan menyibakkan rambutmu ke sisi kiri. Kemudian kedua jemari kanan-kirinya menyuput ujung-ujung kalung dan menyentuhkannya mengelilingi lehermu. Dan sentuhan terakhir, ia satukan ujung dan ujung kalung, mengalungkan syalmu tanpa mengikatnya dan merapikan kembali rambutmu yang tadi disibakkannya. Setelah lakukan itu semua, ia kembali berdiri di hadapanmu dengan sunggingan senyum puas yang terlukis jelas pada bibirnya.

“I haven’t said yes..” komentarmu akan apa yang telah Zayn lakukan.

“That’s no need. We’ve already have each other, Lia. Filling all emptiness and making the completeness one that lasts forever.. Yeah, we do. We’ve already done.. ”

Zayn benar. Semua terasa benar bagimu. Sejenak kau sentuh bandul kalung itu dan memandangnya. Z. Zayn. Dan buliran bening menuruni pipimu lembut. Kau tersentuh. Benar-benar tersentuh akan apa yang telah diperbuatnya. Niatanmu yang hanya ingin menyampaikan perasaan terpendam padanya, kini malah berkembang menjadi sesuatu yang-dulu-amat kau inginkan meskipun kau tahu, ini tak mungkin terjadi. Tapi fakta nyatanya berpihak kepadamu.

“Come on, don’t make me cry again.” Ucapnya melihat satu tetes air mata yang turun di pipimu sembari menghapus kristalmu dengan ibu jarinya. Kau memang menangis. Tapi kali ini berbeda. Bukan karena kecewa. Namun, karena itu merupakan suatu wujud kelegaan yang teramat sangat dari dalam dirimu.

“Again?” tanyamu lebih lanjut. Beberapa tahun belakangan ini, kau tak pernah melihat Zayn menangis. Tunggu, bukannya di rumah sakit..

“Yeah, you’ve broke your promise. You said that you will never cry again because of me, right? And.. and there’s Liam at that time. Then everything becomes more complicated and harder than I thought.” Zayn adalah seorang yang akan ikut menangis apabila ia tak bisa menenangkan wanita yang ia lihat menangis. Itu merupakan satu di antara fakta-fakta lain yang kau tahu tentangnya. Entah mengapa, penjelasan Zayn membuat buliran lain menyusul keluar dari lingkar matamu. Diiringi dengan sebuah senyuman kebahagiaan yang terpancar jelas dari bibirmu.

Kemudian ia merentangkan lengannya, menarikmu mendekat dan merengkuhmu erat dalam pelukan hangatnya. Pelukan nyamannya. Pelukan tenangnya. Pelukan yang paling kau suka.

“C’mon, stop tearing, please. I’m already here, Lia.” Bisiknya melalui telinga kananmu sembari mengusap lembut punggungmu. Lalu ia mengecup ubun-ubunmu mesra. Seperti kecupan sayang kakak pada adik semata wayangnya. Kau hanya menganggukkan kepala dan balas memeluknya erat. Jujur, kau benar-benar merindukannya. Merindukan segala sesuatu tentang dirinya. Tentang Zayn.

“You shouldn’t do that thing to know mine, Zayn.” Ucapmu memprotes ulah Zayn hari ini.

“Mine?” Balas lelaki-yang masih kau peluk-itu menanya.

“My feeling.” Jawabmu datar.

“I’ve already known.” Komentarnya tenang. Setenang hatimu sekarang. Dan jawaban Zayn, nggak urung membuatmu terkejut.

“What?” Protesmu menuntut kejelasan. Kau meregangkan pelukanmu, tapi ia masih merengkuh pinggangmu. Sedangkan kau memegang coatnya erat sembari menatap lurus matanya. Mau bagaimanapun, perasaanmu telah sejak lama bersemai sesak. Menghadirkan sesuatu paling indah yang pernah kau dapat dalam hidup. Namun sekarang, Zayn telah mengetahuinya sejak lama? Mengapa ia tidak..

“We can’t lie to ourselves, Lia. And somehow, you and your feeling appear naturally towards me.” Selanya cepat. Dan kau membenarkan seluruh ucapannya. Yeah, kau memang tak bisa membohongi apalagi menutupi perasaanmu sendiri.

“And you’re just talking about this for now?” Protesmu kesal.

“I have to make sure. That’s why I be your friend. To know a lot about you. To suit us. To make sure that I deserve as your man.” Gombal Zayn padamu. Tapi kau tahu, ia serius. Ia benar-benar menjadi temanmu untuk mengetahui segala tentangmu lebih dalam lagi.

“And I’m not deserving as your woman, Zayn.” Bantahmu terhadap keseriusannya. Menurutmu, kau memang tidak pantas menjadi sesuatu yang penting dari bagian hidupnya. Kau.. kau hanya teman Zayn yang selalu butuh sosoknya ketika kau sedang down. Itu.. itulah yang kau fikir tentang dirimu terhadapnya.

“No you’re not. You are my one thing. Please. Just talking about us. You said that you don’t care with other people think, right? Then do it. Just you, I and our feeling.” Pintanya halus padamu. Tapi kau masih bingung. Kau masih gamang terhadap Zayn. Meskipun hati kecilmu selalu menuntut kejelasan hubungan kalian. Dan hatimu berkata bahwa Zayn memang mencintaimu.

“But.. why me?” Tanyamu lagi pada Zayn. Diikuti dengan tatapan tak percaya pada binar matamu.

“Why you? Then I should ask why you do like me too?” Jawab Zayn yang malah balik menanya padamu. Sebuah pertanyaan yang menurutmu memiliki banyak jawaban. Memang, kau memang punya segudang alasan untuk mencintai Zayn. Mencintai malaikat hidupmu.

“I have many reasons to reply it. And you don’t need to know.”

“Then, you don’t need to know mine.” Ucapnya datar disusul dengan tatapan usil mata coklatnya. Sejenak kau berfikir.. Menimbang-nimbang apa yang harus kau lakukan. Dan akhirnya kau menyerah..

“You know everything, Zayn? Yeah. You’re my everything. You just like a light for me. The reason that I still alive.” Mungkin kalimat inilah yang paling mendeskripsikan bagaimana perasaanmu terhadap Zayn. Sederhana, tapi itulah titik jelasnya.

“Lia. Stop it. I know you really-really love me. The one that should said that is me.” Ucap Zayn menyanggah akhir kalimatmu. Ia seperti tak menerima bahwa dirinyalah yang kini digombali dengan alasanmu mencintainya.

“Then we have the same reason.” Simpulmu cepat.

“No-not.” Bantahnya lagi yang membuatmu penasaran untuk kesekian kali.

“Then why Zayn?” tanyamu lagi. Dan kini, kau benar-benar ingin sebuah jawaban. Jawaban mengapa akhirnya malaikat hidupmu membalas perasaanmu.

“I don’t know. It grows naturally. Bigger and more unexpected than I think.” Sebuah alasan yang sukses membuatmu speechless. Alasan yang terlihat simpel namun benar-benar mengena alami. Sejenak, kau hanya menatap pancaran keyakinan matanya yang selalu membuatmu luluh. Membuatmu tenang. Dan membuatmu merasa benar. “Finally, you’ve got speechless. That’s what I’ve waited. The only one thing that marks you’ve accept and glad.” Seringainya senang. Lalu ia kembali memelukmu erat.

“Yeah, you’ve already known a lot about me, Zayn.” Ucapmu dalam rengkuhannya. Rengkuhan paling bermakna yang selalu ingin kau nikmati lebih lama lagi. Tak lama ia meregangkan pelukannya. Menatapmu penuh arti dan berkata..

“That’s why I love you.” Sebuah kalimat yang terlontar spontan dari mulutnya dan rangkaian sederhana itu sukses membuatmu bungkam tak dapat berkata. Speechless karena teramat terkesimanya kau terhadap sosok di depanmu ini. Entah mungkin untuk keberapa kali, lelaki di hadapanmu ini sukses menguncimu dengan kedua bola mata coklatnya. Menghipnotismu dan membuatmu masuk dalam dunianya, dunia kalian. Kau, dia dan perasaanmu.

Sejenak, Zayn mendekatkan tubuhnya denganmu untuk membagi sisa kehangatan yang kalian punya di antara semilir angin musim dingin yang menari-nari di sekililing kalian. Kalian masih bertukar pandang. Keheningan berarti yang menyelimuti kalian sangat kau nikmati. Kini, kau teramat puas memandangnya, menyentuhnya, mendengarnya dan mengetahui perasaannya.. Dan tak dapat dipungkiri, kau ingin selamanya begitu. Ya, selamanya selama nafas masih kau hembuskan.

Masih dalam hening, Zayn singkirkan anak rambutmu yang menari menutupi dahimu. Ia menyibakkannya lembut dan tersenyum manis kepadamu. Sebuah senyuman terindah milikmu seorang. Perlahan Zayn mendekatkan mukanya ke mukamu. Kelopak matanya menutup begitu juga denganmu. Kau bisa merasakan sebuah perasaan hangat menjalar di tubuhmu. Bahkan kau bisa merasakan jantungmu berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Tapi kau menikmatinya. Begitu juga detakan jantung Zayn yang bisa kau rasakan.

Hembusan nafas Zayn telah dapat kau rasa, hidung manucngnya telah mengenai hidungmu, jarak kalian semakin dekat, lalu…

~END OF THIS CHAPTER~