loveintheheart

Tittle               : Love In The Heart

Author            : Permata Delia

 

Main Cast       : Kim Hyona (OC) , Lee Jinki (SHINee)

 

Support Cast  : Jung Yumi (OC)

 

Length            : Oneshoot

 

Genre              : School life , Romance

 

Rating             : General

Summary        : Kim Hyona, seorang pelajar SMA yang cantik, periang, dan memiliki bakat di music. Dia juga banyak mendapat juara dari setiap lomba yang dia ikuti. Namun satu yang sulit ia dapatkan, yaitu Her First Love.

Cr poster by: http://wemakeartfactory.wordpress.com/

==============================================================================

_Hyona POV_

Setiap pagi aku pergi ke sekolah dengan semangat, bagaimana tidak ? aku akan bertemu dengan orang yang aku cintai. Dia adalah Lee Jinki, sunbae ku di sekolah. Yaa meskipun dia bukan namjachingu ku tapi aku sudah menyukainya sejak SMP. Dan bisa di bilang dia adalah first love ku.

Selama SMP aku selalu menahan rasa sakit hati yang aku rasakan, karena aku harus melihat namja yang aku cinta harus menjadi milik yeoja lain. Dan itu selalu terjadi berulang kali.

Tapi setelah SMA aku mendapat keberuntungan, yaitu bisa menjadi teman dan bisa dekat dengan Jinki. Hhmm, aku pun tak menyangka bisa sedekat ini dengan Jinki oppa. Dan semua itu berawal dari sebuah hukuman.

_Flashback_

Hari itu adalah hari yang melelahkan untukku. Karena aku harus menyelesaikan lagu ciptaan ku untuk lomba minggu depan. Dan hasilnya harus diserahkan besok kepada guru vocal ku untuk latihan. Alhasil pada pagi hari mataku bengkak dan terlihat lingkaran hitam karena bergadang semalaman.

Saat belajar pun aku tak berkonsentrasi karena mataku terus menuntut agar menutup. Sesekali aku menguap dan kepalaku termangut mangut. Ingin sekali rasanya mendaratkan kepalaku dan tidur terlelap. Sampai akhirnya bel istirahat menyadarkan ku.

“mwo? Sudah bel istirahat?” tanyaku heran.

“ne, sudah puas tidurnya nyonya Hyona? Kalo begitu ayo kita ke kantin. Perutku sudah lapar!” jawab teman sebangku ku Jung Yumi.

“ahh aniya,. Aku ngantuk, hooaamm.. aku tidur saja disini. Kau ke kantin sendiri saja sana.”

“mwo? Aniya, kau harus ikut. Masa aku ke kantin sendiri? Ayolah palli..” Yumi terus menarik-narik tangan ku agar aku ikut bersamanya. Aish anak ini tidak bisakah membiarkan ku senang sebentar saja? Menyebalkan.

“ne,ne aku ikut. Dan stop menarik-narik tangan ku.” Yumi langsung melepaskan tangan ku dan nyengir kuda. Akhirnya aku mengalah untuk ikut dengannya. Hhh~ dasar Yumi, ke kantin saja musti ditemani. Anak kuda saja jika makan tidak perlu diantar.

Sampai di kantin pun aku tidak bernafsu makan, meski pun aku belum sarapan tapi aku lebih bernafsu untuk tidur.

“ya! Hyona-ah, mengapa kau malah tidur? Kau tidak ingin makan?”

“kau saja yang makan, aku ingin tidur saja. Kalau bel masuk berbunyi kau bangun kan aku. Arraseo?”

“dasar kau!” terserah Yumi mau bicara apa, yang jelas sekarang yang aku inginkan hanya tidur dengan nyenyak dan tidak ada seorangpun yang mengganggu. Tak butuh waktu lama aku pun tidur dengan nyenyak.

_beberapa saat kemudian_

“ya! Hyona-ah.. ireona bel masuk sudah berbunyi. Ireona palli..” Yumi terus mengguncang-guncangkan badan ku agar aku bangun.

“aduh anak ini susah sekali bangun, hey Hyona palli ireona..”

“eomma 5 menit lagi…” igau ku. tapi sungguh aku merasa sekarang sedang berada di kamar ku sendiri, dan yang membangunkan ku adalah eomma.

“eomma? Hey aku bukan eomma mu. Hyona aku mohon bangun. Apa kau mau di hukum oleh Lee songsaenim? Ya! Oh baiklah terserah kau mau tidur 5 menit, 5 jam , atau 5 tahun sekalipun terserah. Sekarang aku mau ke kelas saja.” akhirnya Yumi meninggalkan ku yang masih tidur nyenyak.

-30 menit kemudian-

“hooaamm….” Aku mulai membuka mataku dan sedikit merenggangkan punggung ku yang terasa pegal. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kantin. ‘Sepi’ itu lah keadaan kantin sekarang. Yumi yang tadi ada di hadapan ku pun telah tidak ada. Dan itu artinyaa…..

“hwuuaa~.. aku telat masuk kelas…” aku pun langsung berlari kencang menuju kelas. Koridor sangat amat sepi, jelas saja pelajaran sudah dimulai sejak tadi, aish Hyona pabo matilah kau.

Saat aku sampai di depan pintu ku dengar Lee songsaenim sedang mengajar. Aku tidak yakin akan lolos dari amukan Lee songsaenim, ya bagaimana aku tidak dimarahi? Pelajaran sudah di mulai 30 menit yang lalu. Dengan ragu ku langkah kan kaki ku mendekat kearah pintu dan mengetuknya.

Tok.tok tok

“annyeong Lee songsaenim” kataku memberi salam sambil membungkukan badan.

“dari mana saja kau Kim Hyona?” Tanya nya denan nada sinis.

“mianhe songsaenim ta,tadi sa,saya ket,ketiduran di kantin.” jawabku dengan terbata-bata.

“oh ketiduran di kantin ya?” terdengar dari nada bicaranya seperti menyindir. “kalau begitu lanjutkan acara tidurmu di koridor saja sana.!”

Dengan lemas aku berbalik dan berjalan keluar pintu. Ini sudah pasti terjadi. Dan tidak ada gunanya juga aku membela diri mati matian agar bisa terbebas dari hukuman, Lee songsaenim bukan guru baik hati yang mau memaafkan murid yg telat masuk pelajarannya. Sebelum keluar ku hentikan langkah ku dan menatap Yumi dengan tatapan bertanya ‘mengapa kau tak membangunkan ku?’ dan tatapan ku di balas dengan menaikan bahunya yang seolah berkata ‘itu salah mu sendiri’ baiklah ini semua salah ku dan sekarang aku akan melaksanakan hukuman ku dengan berdiri di koridor.

Hari yang sangat amat melelah kan. Hari ini tidak ada bagus-bagus nya untuk ku.

Saat aku sedang meratapi nasib ku yang sedang di hukum ini, aku mendengar derap suara langkah kaki mendekat. mataku membulat saat ku lihat seorang namja tinggi dan tampan mendekat, dan sepertinya akan lewat di depan ku. Dia adalah Jinki oppa. OMG mau di taruh dimana muka ku kalo dia tau aku sedang di hukum sekarang? Mudah-mudah dia tidak bertanya kepadaku kenapa aku berdiri disini sedangkan pelajaran sekarang sedang di mulai. Ku dengar langkah kaki nya semakin dekat dan dekat. Aku semakin menundukan kepalaku karena takut akan ditanya olehnya. tapi aku lega saat dia sudah berjalan melewati ku.

“hah.. untung saja..” ku pejamkan mataku dan ku pegang dadaku yang berdetak cepat.

“hey kau Kim Hyona kan?” Ku angkat kepalaku. Betapa terkejutnya aku saat kulihat yang memanggil ku adalah Jinki. Ommo! Apa aku tidak salah dengar? Jinki oppa memanggil ku?

“hello..  mengapa kau melamun? Kau Kim Hyona kan?” Tanya nya sambil mengibaskan tangannya di depan wajah ku. Aku pun tersadar dari lamunan ku.

“ah ne, aku Kim Hyona. Kau mengenal ku oppa?” Tanya ku agak sedikit gugup.

“ne aku mengenal mu. Kau adik kelas ku di SMP dulu kan? Dan sekarang kau 1 SMA dengan ku.” jawaban nya membuat ku kaget. Ternyata selama ini dia mengenalku. “oh ya, sedang apa kau disini? Bukan kah pelajaran sedang di mulai?” ini adalah pertanyaan yang aku takut kan keluar dari mulutnya, dan sekarang pertanyaan itu keluar dengan mulus dari mulutnya. Aigo aku harus jawab apa?

“a.aku sedang dihukum oleh Lee songsaenim.” aku semakin menundukan kepalaku, OMG tamat sudah riwayat ku. Muka ku harus disimpan dimana?

“oh kau sedang di hukum? Kalau gitu kebetulan, minggu depan kau akan ikut lomba cipta lagu kan? Dan aku sudah dengar lagu ciptaan mu itu. Aku suka dengan lagu mu.” refleks aku langsung mengangkat kepalaku dan menatapnya tidak percaya. “aku ingin berkolaborasi dengan mu. Kau yang nyanyi dan aku akan memainkan alat musiknya, gimana kamu mau kan?” aku menganga tidak percaya, apa aku sedang bermimpi? Ommona! Tuhan kalau ini mimpi tolong jangan bangun kan aku lagi.

“hey! Lagi lagi kau melamun. Apa kamu mau menerima ajakan ku?” dia kembali mengibaskan tangannya di depan wajah ku.

“ne, aku mau oppa..” tanpa berfikir panjang aku menerima ajakannya.

“baiklah kalau begitu ayo kita ke ruang seni musik. Kita latihan disana.”

“sekarang oppa? Tapi kan aku sedang di hukum, kalau aku dimarahi Lee Songsaenim bagaimana?”

“sudahlah kau ikut saja dengan ku sekarang. Apa kau mau berdiri disini sampai pulang sekolah nanti? Bel pulang masih 3 jam lagi loh?” ahh aku sangat ingin ikut dengan Jinki oppa, sialnya aku sedang di hukum. Ottokhe?

“baiklah aku ikut dengan mu” lebih baik aku ikut dengan Jinki oppa. Dari pada harus berdiri disana selama 3 jam, hahaha😀

@ruang seni musik.

Sesampai nya di ruang seni musik Jinki oppa menyuruh ku untuk menyanyikan lagu ciptaan ku, dan dia sendiri bermain gitar. Wow! Sungguh tak terbayangkan oleh ku bisa sedekat ini dengannya. kuperhatikan wajahnya saat sedang bermain gitar, tampan,cool,dan mempesona. Sungguh perfect. Saat ku sedang memandangi wajahnya, tiba-tiba dia melihat kea rah ku. Aku langsung menundukan wajah ku. Dan aku yakin wajah ku sekarang sudah seperti kepiting rebus.

“kenpa kau malah melihat ku terus? Kenapa tidak bernyanyi?” tuh kan. Dia tau kalau aku sedang memperhatikannya. >.

“ah ne oppa. Ayo kita mulai.” kami pun mulai menyanyikan lagu yang aku ciptakan dengan susah payah selama semalaman. Dan dari tragedi hukuman tadi, sekarang aku bias sedekat ini dengan Jinki oppa. Terimakasih Lee Songsaenim, terimakasih Yumi,terimakasih Tuhan kalian telah membantuku agar bisa dekat dengan Jinki oppa.^^

_flashback end_

Nah dari situ lah dimulai nya kedekatan ku dengan Jinki oppa. Semenjak lomba itu, aku dan Jinki oppa sering ngobrol dan jalan bersama. Dan kami juga sering menghabis kan waktu seharian untuk bernyanyi. Dan kita juga punya 1 lagu ciptaan kita berdua, judulnya Love In The Heart. Lirik nya aku yang membuat,dan aransemen nya oleh Jinki oppa.

Tak terasa sekarang aku sudah sampai di sekolah. Saat aku memasuki gerbang tiba-tiba ada yang mencubit pipi ku dari belakng.

“ya! Lepaskan. Sakit!” dan ternya itu adalah Jinki oppa.

“hahaha..lihat pipi mu merah..” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku memajukan bibir ku sambil mengusap-ngusap pipi ku yang merah. “sudah jangan cemberut gitu. Jelek tau” lanjutnya.

“tapi kan sakit oppa.” kata ku sambil mengembungkan pipi ku.

“ ne mian, Salah mu sendiri punya pipi yang menggemaskan..” aku bosan dengan kata-kata nya, setiap abis mencubit pipi ku dia pasti bilang seperti itu. Huh!  “ah ya, pulang sekolah kita ketemu di taman belakang seperti biasa ya. ingat jangan sampai telat!” dia pun pergi dari hadapan ku begitu saja. Dasar kebiasaan sekali.

-sepulang sekolah-

Setelah pelajaran berakhir aku langsung pergi ke taman belakang sekolah. Itu adalah tempat ku dan Jinki oppa sering menghabis kan waktu sampai sore. Disana kita sering bernyanyi lagu yang kita berdua ciptakan. Sudah hampir setengah tahun kita dekat. Dan aku sangat ingin Jinki oppa menyatakan cinta nya kepada ku. tapi apa dia juga mencintai ku? dia sering memberiku perhatian lebih dari seorang teman. Dan Yumi pun pernah bilang seperti itu kepada ku. apa mungkin Jinki oppa juga mempunyai perasaan yg sama seperti ku? aku sangat penasaran dengan perasaan nya terhadap ku.

Apa aku harus menyatakan perasaan ku terhadap nya?

Tapi aku malu. Dan aku takut setelah aku menyatakan perasaan ku kepadanya, dia akan menjauhi ku dan tdak mau dekat dengan ku lagi. Tapi kalau tidak, hati ku tidak akan tenang.

Tuhan aku harus bagaimana? Tolong aku.

“mmhh, oppa.” dia langsung berhenti bermain gitar dan berali menatap ku.

“ne, ada apa Hyona?”

“aku mau tanya, boleh?” Tanyaku ragu.

“tentu, tanya apa?” jawabnya dengan tersenyum manis dan mulai menatapku.

Aku menatap nya agak ragu. Apa ini keputusan yang benar? Aku menarik nafas sambil menutup mata dan menghembus kan nya,

“oppa.. aku…” ottokhe? Apa yang harus ku katakan sekarang.

“bicara yang benar Hyona, jangan membuatku bingung.” Aish, kenapa suaranya malah membuatku semakin gugup dan jantungku berdetak duakali lebih cepat. Rileks Hyona, tinggal bilang ‘Saranghae Oppa’ itu sudah cukup.

“oppa aku…”

Drrrtt~ drrtt~ drrtt~

Yaampun kenapa banyak sekli gangguan. Padahal ini momen yang tepat. Kuambil handphone dari saku seragamku, dan ternyata eomma yang menelfon. Ku tekan tombol hijau untuk menerima panggilan eomma.

“yoboseo?”

“Hyona, kau dimana?” Tanya eomma diseberang sana

“aku masih disekolah eomma, waeyo?” tidak biasanya eomma menelefon ku, pulang jam berapapun eomma tak pernah marah karena sudah tau kebiasaan ku nongkrong di belakang sekolah.

“eomma ada pesanan membuat brownies, tolong belikan bahannya sekarang. Karena nanti malam kue nya mau diambil. Tolong eomma ya nak, pakai uang mu dulu. Nanti dirumah uang mu eomma ganti. Ne?” jelas eomma panjang lebar. eomma ku memang seorang ibu rumah tangga yang menerima pesanan berbagai macam kue. Dan ku akui memang kue buatannya sangat enak. Tapi haruskah menyuruhku disaat seperti ini? Aigo eomma~

“ne eomma. Akan kubelikan sekarang.” Jawabku pasrah. Yah aku harus apa lagi kalau eomma sudah berbicara.

“ne,cepat ya Hyo jangan lama lama.” Telfon pun terputus.

“ada apa Hyona?” Tanya Jinki oppa.

“aku harus pulang oppa.” Jawabku sambil berdiri dan membereskan barang barang ku.

“wae?” tanaya Jinki oppa bingung.

“eomma menyuruhku membeli bahan untuk membuat brownies. Katanya ada pesanan dan nanti malam akan diambil.” Jelasku panjang lebar.

“aku antar ne?” aku mengangguk megiyakan ajakannya. Apapun yang ia tawarkan tak pernah ku tolak. Yang penting bisa terus bersamanya, dan itulah yang membuatku senang. Kami pun berjalan keparkiran. Jinki oppa membawa motor sport merah kesayangannya.

Selama berbelanja Jinki oppa tidak bisa diam. Jinki oppa beberapa kali bertanya tentang apa saja yang aku beli. Tak jarang Jinki oppa menjahiliku yang sedang memilih bahan kue. Dia memang orang yang tidak bisa diam dan jail. Tapi itulah yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Tingkah laku seperti anak kecil yang tidak bisa diam dan hipper aktif, juga jago dalam hal bermusik. Andai momen ini akan abadi selamanya aku merasa manusia paling berbahagia di muka bumi ini. Tapi sayangnya aku tak yakin momen ini akan terus terjadi, aku pesimis. Jika aku bisa menentukan takdir, aku ingin takdirku adalah kamu Jinki oppa.

“oppa, aku sudah selesei. Aku ke kasir dulu ne.” aku mengakhiri lamunanku. aku tak ingin lamunanku membuat hatiku hancur nantinya.

“ne, aku tunggu di parkiran.” Aku mengangguk. Jinki oppa berlalu ke parkiran. Dan aku segera menuju kasir. Aku tak mau membuat Jinki oppa menungguk terlalu lama.

Setelah selesai berbelanja, aku bergegas ke parkiran. Jinki oppa sedang duduk diatas motornya sambil memainkan ponsel. Dia pasti merasa bosan menungguku, karena tadi di kasir lumayan panjang mengantri.

“oppa maaf, kau pasti bosan menungguku.” Jinki oppa tersenyum samba memasukan ponselnya kedalan saku, lalu berdiri dari duduknya.

“gwenchana, bukannya tadi di kasir mengantri panjang?” aku mengangguk. Inilah nilai plus dari seorang Lee Jinki, dia orang yang pengertian dan dewasa. Dimana lagi ada namja seperti dia.

“kajja, eomma mu pasti sudah menunggu.” Jinki oppa menaiki motornya. Aku pun duduk dibelakangnya.

Dadaku semakin bergemuruh berada di dekatnya seperti ini. Dan hasratku ingin mengatakan apa yang aku rasakan kepadanya semakin menjadi. Apa jika aku menyatakannya tidak akan merubah segalanya yang sering terjadi? Aku takut jika momen seperti hari ini dan hari kemarin tidak bisa terjadi lagi jika aku mengatakan apa yang aku rasakan. Tuhan bantu aku, apa yang harus aku lakukan sekarang?

Motor Jinki oppa berhenti. Ternyata sudah sampai di depan rumahku. Aku terlalu larut dalam lamunanku, sampai aku tidak sadar kalau sekarang sudah sampai di depan rumah. Aku turun dari motor. Jinki oppa juga turun dari motor dan membuka helmnya dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnnya.

“gomawo oppa sudah mengantarku. Mau mampir?” tawarku kepadanya.

“apa jika aku mampir dulu aku akan mendapatkan sesuatu?”

“mwo? Sesuatu apa maksudmu?” tanyaku heran.

“kamu.” Katanya dengan muka yang serius. Deg! Apa maksudnya dengan ‘kamu’? aku berfikr keras apa maksudnya. Apa mungkin Jinki oppa juga…

“hhahhahaha~” tiba tiba Jinki oppa tertawa keras. Membuatku hatiku mencleos. “aku bercana Hyona-ssi.” Katanya ringan sambil menubit pipiku.

Kau tau oppa, bercanda mu itu membuatku mati mematung seketika. Apa kau benar benar tidak menyadari apa yang aku rasakan? Apa kau tak bisa melihatku? Aku mohon buka matamu, lihat aku, lihat hatiku yang tulus kepadamu. Aku tau, aku tak sebanding dengan mantan mantan mu yang cantik cantik. Tapi bisakah kau melihat ketulusanku? Ini sudah dibatas kesabaranku, aku sudah tak kuat menahannya lagi. Kujatuhkan belanjaan yang sejak tadi kupegang. Kutatap Jinki oppa dengan serius. Yah mungkin inilah saatnya, aku tak mau lagi menyimpan semua sendiri. Ku kepalkan tangan ku kuat. Semoga ini yang terbaik.

“kau kenapa Hyona?” Tanya Jinki oppa yang bingung dengan sikapku yang tiba tiba.

“oppa, “ kutarik napasku sejenak, mengumpulkan seluruh keberanianku “Saranghae.” Akhirnya satu kata sederhana yang selama ini kupendam, keluar dari mulutku dihadapan orang yang kucintai.

“haha, kau mau membalas candaan ku Hyona-ssi?” katanya sambil mensejajarkan wajahnya dengan ku. “Tapi sayang, aku tidak akan tertipu oleh mu.”

Langsung saja ku kecup singkat bibirnya yang berada tepat didekatku. Jinki oppa nampak kaget dengan apa yang baru saja ku lakukan.

“apa aku terlihat seperti beecanda?” tanyaku serius. Dia tampak bingung harus berbicara apa. Memang ucapan dan perlakuanku ini terlalu terburu buru dan mendadak. Ahh aku jadi menyesal mengatakan ini semua. Tapi apa boleh buat, aku terlanjur menyatakan kepadanya. Hyona pabo, Jinki oppa pasti membencimu sekarang.

“mianhe oppa, aku..aku..”

“ssttt…” Jinki oppa meletakkan telunjuknya dibibir ku. Menyuruhku untuk menghentikan kata kata yang ingin kuucapkan. “aku yang harus minta maaf padamu. Karena aku seperti memberi harapan padamu. Aku memang menyayangimu karena kau mirip dengan adikku yang sudah meninggal.” Aku tertegun dengan ucapan Jinki oppa. Jadi Jinki oppa punya adik yang sudah meninggal, dan mirip denganku. Aku diam tidak merespon, menunggu dia melanjutkan ucapannya.

“adikku meninggal saat aku masih duduk disekolah dasar. Dia mengidap penyakit leukemia.” Jinki oppa menarik napas sejenak, memikirkan masa lalunya dengan adik yang dia sayangi, aku terus menyimak curhatannya. “dia sangat mirip denganmu. Cantik, manis, periang , dan juga senang menyanyi. Saat aku melihatmu tampil di acara perpisahan SMP angkatanku, aku jadi teringat adikku. Kau mengingatkanku padanya.” Aku tidak tau harus bicara apa. Aku hanya menatapnya sendu.

Jinki oppa menggegam tanganku dan menatapku. “aku belum tau apa yang aku rasakan sebenarnya padamu. Tapi aku menyayangimu lebih dari seorang teman.” Aku mengangguk dan tersenyum. Yah aku mengerti, aku tidak terlalu berharap Jinki oppa membalas rasa cintaku yang tulus. Yang penting Jinki oppa tau apa yang kurasakan.

“ne oppa, gomawo.” Jinki oppa mencubit pipiku pelan. Aku melebarkan senyumku. Aku bersyukur Jinki oppa tidak membenciku dan merubah sikapnya tehadapku. Aku berharap kita bisa seperti ini selamanya.

“tapi jika kau terus bersamaku seperti ini, aku pikir rasa sayang ini akan lebih besar padamu.” Katanya sambil tersenyum jahil padaku.

“ya! Jangan seperti it uterus padaku. Atau aku akan…”

“hm? apa? akan seperti ini.” Jinki oppa mengecup bibirku agak lama, berbeda denganku yang mengecupnya kilat. Sekitar 5 detik, jinki oppa melepaskan kecupannya. Aku hanya terpaku dengan apa yang baru saja Jinki oppa lakukan.

“aku pulang dulu saengie.” Katanya sambil mengacak rambutku dan berlalu menaiki motornya. Saat Jinki oppa menyalakan mesin motor, barulah aku tersadar. Jinki oppa melajukan motornya, aku hendak mengejarnya dan meminta pertanggung jawaban atasa apa yang ia lakukan. Namun motornya bejalan dengan cepat.

“ya oppa!!” aku berteriak memanggilnya. Jinki oppa hanya melambaikan tangannya sebagai jawaban.

Aish~dasar namja, seenaknya saja. Sesudah mencium malah pergi begitu saja. Mencium? Aku meraba bibirku sendiri. Dia adalah first love sekaligus first kiss ku juga. Meskipun saat ini dia belum bisa membalas perasaanku tapi satu kalimat yang dia katakan tadi membuatku memiliki harapan baru.

“tapi jika kau terus bersamaku seperti ini, aku pikir rasa sayang ini akan lebih besar padamu.”

Tuhan, jadikanlah kalimat itu menjadi nyata terjadi. Dan aku, akan terus berusaha agar terus tetap bersamanya. Agar kalimat itu menjadi kenyataan.

Segala sesuatu bisa terjadi bila kita mau berusaha dan bersabar dalam melakukannya. Dengan harapan, usaha , dan doa, semua yang tidak mungkin bisa saja  menjadi mungkin. Asal kita tidak pernah putus asa dan berjuang.

-END-

Aneh? Gaje?

Inilah karyaku😀

Don’t forget leave a comment oke? J