Author  : Nalin Lee

Tittle     : Love like bubble’s

Genre   : romance

Tags       : Lee SungMin and Park Chan Mi (OC)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T .. jangan lupa kunjungin blog aku yah, kekkeee*numpang promosi www.mitwins.wordpress.com

Love like bubble’s

Seorang perempuan tengah duduk dibawah sebuah pohon oak besar yang tumbuh dihalaman belakang kampusnya. Tempat ini memang selalu sepi, tak banyak orang-orang berkunjung ketempat ini, terlebih disaat jam istirahat seperti ini, orang-orang akan lebih memilih menghabiskan jam makan siangnya dikantin ataupun tak sedikit dari mereka memilih mengunjungi perpustakaan untuk melanjutkan tugas mereka atau hanya sekedar membaca referensi-refensi buku terbaru yang dimiliki.

Tempat ini memang sepi, itulah mengapa alasan gadis dengan mantel coklat tosca-nya itu menyukainya, dengan ditemani segelas bubble tea kesukaannya ia betah menghabiskan berjam-jam waktunya ditempat ini. Bukan ia tidak pandai bergaul seperti gadis seusianya, hanya saja ia lebih memilih menjunjung tinggi nilai ketenangan dan kedamaian yang menjadi sesuatu yang difavoritekannya, dan ia berhasil mendapatkannya ditempat ini.

Senyum dibibir mungilnya terus mengembang. Dengan mata tertutupnya ia membiarkan angin musim semi menyentuh permukaan kulit mulusnya. Mencoba merasakan kedamaian dari aroma rerumputan dan bunga cosmos dihampir sekeliling taman.

Ia membuka matanya perlahan, mencoba membiasakan cahaya yang masuk melalui retina mata kecoklatannya, tangannya beralih mencari sesuatu didalam tas punggungnya yang sedari tadi terletak dipangkuannya. Tak perlu waktu lama untuknya untuk mencari sesuatu yang ia cari, karena ia sudah sangat hafal betul mengenai letak barang-barang didalam tasnya.

Sebuah benda selinder berukuran sedang dan sebuah kawat kecil yang terlihat membentuk lingkaran kecil dengan sebuah pegangan sebagai dasarnya. Perlahan gadis itu membuka silinder berisi cairan yang terlihat sedikit berbusa itu kemudian mencelupkan setengah kawat yang berada ditangan kananya kedalam. Ia mencoba menarik nafas panjangnya dan mulai meniup kawat yang sudah diarahkan keudara itu dengan hembusan nafas perlahan namun pasti.

Terciptalah sebuah lingkaran dengan diameter yang tak terlalu besar. Sebuah balon gelembung besar dengan balon-balon gelembung berukuran kecil yang juga mengiringinya saat gadis itu selesai menghembuskan nafasnya yang ditahannya dipipinya tadi.

Inilah salah satu hobi favoritenya jika berada ditaman ini. Membuat gelembung sabun, mencoba menyampaikan impian-impian dan harapannya melalui hembusan nafas yang mengiringinya. Terdengar konyol memang jika seorang gadis usia hampir mencapai usia 20 tahun, usia yang sudah cukup dewasa untuk melakukan hal kekanakkan seperti itu.

“ternyata gelembung-gelembung itu memang lebih penting daripada sekedar untuk menghubungiku sepertinya Channie”

Suara yang terdengar kecewa itu berhasil menginterupsi hobi Chan Mi, gadis yang sedari tadi tenggelam dalam hobinya itu mengalihkan pandangannya kearah kanannya, menatap seorang namja yang entah sejak kapan duduk disebelahnya itu tengah menatapnya dengan ekspresi cemberutnya, ekspresi yang sangat disukai Chan Mi. ekspresi aegyo dari kekasihnya.

“aku sudah menghubungimu oppa” jawabnya seraya kembali meniupkan cairan berbusa itu menjadi sebuah gelembung yang lebih besar dari sebelumnya “wow, kau lihat itu Sungmin oppa, itu gelembung terbesar yang pernah aku buat” teriaknya girang, tak sedikitpun memperdulikan lelaki disebelahnya yang memasang tatapan jengahnya.

Pria yang dipanggil Sungmin itu mencoba merebut paksa kawat pembentuk gelembung itu dari tangan gadisnya, membuat sang pemiliknya menatapnya tak suka akan apa yang dilakukan sang pria “apa yang kau lakukan oppa. Kembalikan,” ia mencoba meraihnya lagi, namun gerakannya kalah gesit dari gerakan Sungmin, membuatnya kembali cemberut.

“yhaa, berhenti kau memang ekspresi cemberut seperti itu Channie” sungmin hanya terkekeh kecil melihat Chan Mi dan mencium pipi Chan Mi kilat. Gadis itu tak bergeming sedikitpun seolah hal itu tak lebih penting dari kawat yang baru saja direbut SungMin. “Ayolah Channie, seharusnya kau yang harus merayuku karena kau tidak menghubungiku seharian ini” lanjut Sungmin.

“aku sudah sering menghubungiku seharian ini oppa, tapi tak ada respon apapun darimu” jawab Chan Mi. kali ini ekspresinya berubah manja dan menggeser tempatnya duduk mendekat kearah Sungmin dan melingkarkan tangannya kelengan Sungmin, ekspresi yang membuat SungMin semakin menyayangi gadisnya.

“kau sering menghubungiku? Kapan? Seharian ini aku tidak menemukan pesan ataupun panggilan masuk darimu Channie” Tanya Sungmin retoris, membuat sang gadis semakin mengeratkan rangkulannya dilengan SungMin.

“kau tidak melihat aku baru saja melakukannya oppa? Gelembung-gelembung itu yang menyampaikannya semuanya kepadamu. Tidakkah kau mendengarnya oppa?”

Sungmin membulatkan matanya tak percaya mendengar jawaban polos dari kekasihnya, bagaimana bisa gadisnya itu berfikir kalau pesan yang ia coba sampaikan lewat gelembung-gelembung balon itu tersampaikan padanya. Sungmin mencoba melepas lengan Chan Mi yang melingkar dilengannya, menatapnya untuk lebih memastikan kalau gadis ini masih waras.

Chan Mi kembali menatap Sungmin dengan ekspresi cemberutnya “Oppa, aku masih ingin memelukmu”

“kau benar-benar masih waraskan Channie” Tanya Sungmin sembari menatap Chan Mi lurus-lurus, menelisik wahanya. Sungmin memang sadar kalau wajah Chan Mi mamang berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia temui. Gadis-gadis yang sering ia temui memang lebih cantik daripada Chan Mi. bukannya Chan Mi tidak cantik, kata cantik  pun tak mampu mewakili wajah yang sekarang berada dihadapannya itu. Namun yang membuat SungMin heran dengan wajah Chan Mi adalah gadis berusia 19 tahun itu memiliki wajah yang terlihat imut, bahkan lebih imut daripada anak kecil berumur 7 tahun sekalipun. Dengan paras imut dan tekstur mungilnya itu terkadang membuat Sungmin meragukan kalau usia Chan Mi benar-benar 19 tahun.

Chan Mi menatap SungMin jengah, berulang kali SungMin mempertanyakan hal tidak penting seperti itu. “Aku memang gila setelah mengenalnu oppa. Gila karena mencintaimu. Kau puas oppa?” Chan Mi memang menyadari itu sudah lama semenjak ia mengenal dan bisa memiliki kekasih seperti Lee SungMin dihidupnya. Memang terdengar berlebihan, namun Jikalau kalian berada diposisi Chan Mi seperti sekarang, mungkin kalian juga akan merasakan kegilaan yang sama sepertinya. Kegilaan karena cinta.

“Park Chan Mi. kau kan memiliki ponsel, kau sebaiknya menggunakan ponsel itu untuk menghubungiku. Mungkin saja gelembung-gelembungmu itu lupa menyampaikan pesanmu kepadaku” kali ini SungMin mencoba bersabar akan sikap Chan Mi yang kadang tidak dapat ditebak olehnya. Kadang gadis itu bisa bersikap dewasa tanpa SungMin sadari, dan terkadang beginilah sikapnya, terlalu kekanak-kanakkan. Jikalaupun Chan Mi memiliki kepribadian ganda, ia tidak akan mempersalahkannya, ia akan tetap mencintai gadisnya.

“araseo opaa, lain kali aku akan menggunakan ponselku” sahut Chan Mi dengan cengiran khasnya “sekarang apa boleh aku memelukmu lagi oppa?” Tanya Chan Mi pelan, ia menundukkan wajahnya, tidak ingin Sungmin meledeknya karena pipinya sekarang yang terlihat memerah malu.

Tanpa aba-aba SungMin menarik Chan Mi kedalam dekapan hangatnya, mencoba menyalurkan segala rasa rindunya. Meresapi setiap kebersamaan yang tercipta didalamnya. Menghirup lekat-lekat aroma khas Chan Mi yang seolah menjadi candu baginya. Begitu damai, tenang, hangat dan penuh cinta.

“Seberapa besar kau mencintaiku Channie” Tanya SungMin lembut memecah keheningan diantara mereka.

Chan Mi tersentak mendengarkan pertanyaan yang baru saja SungMin lontarkan, namun ia bisa menguasai rasa terkejutnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya dipinggang SungMin “sebesar cintaku terhadap gelembung sabun oppa” jawab Chan Mi mantap.

Lagi-lagi SungMin tersentak, pelukannya dipinggang Chan Mi sedikit melonggar.

“aku mencintaimu seperti gelembung. Walaupun gelembung itu rapuh dan mudah pecah namun aku akan selalu membuatnya dengan seluruh sisa nafas dihidupku. Gelembung itu jika diciptakan akan muncul beberapa gelembung, bukan hanya satu. Tapi banyak, seperti itulah cintaku padamu oppa” Chan Mi menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

“walaupun gelembung itu perih jika terkena mata, namun aku tak akan pernah membencinya, aku menerimanya apapun kekurangannya. Karena gelembung itu akan selalu indah dimataku. Dengan wajudnya yang bening bagai kaca aku berharap cintaku juga sebening itu tanpa berbagai macam warna kehidupan yang berusaha mengubahnya. Gelembung akan tetap bening saat kita ciptakan” jelas Chan Mi panjang lebar dengan satu kali tarikan nafas. Ia melonggarkan pelukannya dipinggang SungMin untuk beralih menatap ekspresi yang ditunjukkan kekasihnya. Ia memang tidak pandai berkata-kata manis, tapi memang itulah yang dirasakannya pada SungMin. Seseorang yang sangat berarti dihidupnya. Gelembung yang tak akan pernah pecah.

Sungmin sedikit menundukkan kepalanya saat Chan Mi juga tengah mendongakkan kepalanya menatap Sungmin. Jika Chan Mi berfikir gelembungnya bisa menyampaikan segala perasaan dihatinya, namun berbeda dengan SungMin. Ia lebih memilih menggunakan ciuman untuk menghantarkan segala perasaan cintanya pada Chan Mi. disaat bibir saling menyatu, itulah saatnya kau bisa merasakan seberapa besar cintanya kepadamu.

Sungmin mendekatkan wajahnya pelan kewajah Chan Mi yang entah sejak kapan matanya tertutup rapat, menunggu momen kisah cinta itu bertaut. Perlahan namun pasti SungMin ikut memejamkan matanya saat bibir mereka bertemu untuk yang pertama kalinya.

Walaupun ini bukan ciuman pertama yang pernah SungMin lakukan, hanya saja ciuman ini lebih berarti dihidupnya. Ciuman yang ia tunjukkan kalau ia sangat mencintai Chan Mi. Ciuman penuh cinta yang hanya ditunjukkan kepada gadisnya.

Cinta..

Orang bisa menganggap cinta itu seperti apapun, namun Sungmin hanya menganggap kalau cinta itu seperti apa yang dikatakan Chan Mi. seperti gelembung sabun. Terdengar konyol memang, tapi SungMin tahu cintanya memang seperti gelembung sabun yang walaupun gelembung itu rapuh dan mudah pecah namun ia akan bersumpah untuk selalu membuatnya dengan seluruh sisa nafas dihidupnya.

Gelembung itu jika diciptakan akan muncul beberapa gelembung lainnya, bukan hanya satu. Tapi banyak, seperti itulah cinta.

walaupun gelembung itu perih jika terkena mata, namun manusia tak akan pernah membenci cinta, manusia akan selalu menerima apapun kekurangan cinta. Karena gelembung itu akan selalu indah bagi siapapun yang memandangnya. Dengan wajudnya yang bening bagai kaca semua pasti berharap cinta yang ia miliki juga sebening itu tanpa berbagai macam warna kehidupan yang berusaha mengubahnya. Gelembung akan tetap bening saat seseorang menciptakannya.

Itulah cinta..

Love like bubble’s

 

END