why wdiing dress must white

Author  : Nalin Lee

Tittle     : Why Wedding dress must White Colour?

Genre   : Romance

Tags       : Lee Sung Min, and Park Chan Mi

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T .. jangan lupa kunjungin blog kita yah, kekkeee*numpang promosi www.mitwins.wordpress.com

Why Wedding Dress must White Colour?

 

 “Oppa, boleh aku bertanya sesuatu?”

Chan Mi mengelus-elus lembut rambut panjang Sung Min yang kini sedang berbaring dipangkuannya. Merasa ini adalah momen yang menyenangkan yang jarang ia rasakan, Sung Min enggan untuk membuka matanya, membiarkan hatinyalah yang merasakan kebahagiaan yang meletup-letup dirasakannya jika berada disebelah gadisnya. Dengan mata terpejam dan senyum manis terukir dibibirnya, Sung Min menganggukkan kepalanya.

Gemas melihat tingkah kekasihnya itu Chan Mi sedikit membungkukkan badannya dan mencium kening kekasihnya itu dengan lembut, membuat sang pemilik kening sedikit tersentak dan secara refleks membuka matanya, memandang kekasihnya yang kini tersenyum menggoda.

“Aku tahu kau lelah oppa, kau jauh-jauh ‘kabur’ dari China untuk menemuiku, dan sekarang bisakah kali ini saja aku melihat mata cantikmu itu terbuka oppa?” Tanya Chan Mi memberengut, tangannya sedari tadi masih sibuk mengelus-elus rambut Sung Min.

Sung Min hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Chan Mi, tangannya terulur membelai manja pipi Chan Mi dengan penuh sayang “baiklah jika memang itu maumu, aku bisa membuka mataku 24 jam penuh jika kau selalu menciumku seperti itu”

Entah apa yang lucu dari perkataan yang baru saja Sung Min lontarkan, Chan Mi dan Sung Min saling tertawa.menikmati setiap momen yang mereka lalui bersama. Kesibukan Sung Min dengan album terbaru Super Junior M ‘Break Down’ membuatnya harus bisa menahan rindunya pada gadis itu. Gadis yang kini tengah menatapnya dengan piyama kuning cerah yang ia kenakan, entah dapat bisikan dari mana, akhirnya Sung Min bisa memaksimalkan istirahatnya untuk kembali terbang ke Seoul menemui gadisnya, gadis yang sangat dirindukannya. Sebuah bayaran yang pantas untuknya melakukan hal nekat jika dia bisa bertemu dengan gadisnya.

SungMin merengkuh tangan Chan Mi, meletakkannya dipipinya. Hangat. Setiap kali ia berada disisi gadis itu kehangatan bertubi-tubi menderanya, membuatnya merasakan kebahagian yang semakin melengkapi hidupnya.

Manik mata Sung Min tak pernah lepas memandang setip inchi paras cantik wajah Chan Mi, terkadang tangannya terulur untuk membelai kelembutan yang terpatri disetiap lekukannya “Apa yang ingin kau tanyakan Channie?”

“Aku tau kau lelah oppa. Tidurlah.. kamarku cukup luas untuk kita tidur berdua” gadis manis itu melemparkan senyum teduh tepat setelah ia mengecup kedua pelupuk mata kekasihnya. Sung Min tahu dengan jelas gadisnya sangat mengkhawatirkan dirinya, mau tak mau ia menurut dan mulai memejamkan matanya, hanya memejamkan mata, tanpa berniat untuk tidur sedetikpun. Ia tidak mau saat-saat berharga seperti ini hanya ia habiskan untuk tidur.

Jika apa yang kita impikan didunia ini sudah ada didepan mata, untuk apa lagi kita mengharapkan untuk hadirnya mimpi saat kita tertidur.

Jari-jemari Chan Mi dengan lembut terus membelai rambut Sung Min, sesekali ia merapikan anak-anak rambut yang menghalangi wajah tampan pria itu “Gaun pernikahan yang Lee Hae Mi kenakan saat upacara pemberkatan seminggu yang lalu sangat cantik yah oppa” ucap Chan Mi tulus, matanya telihat berbinar mengiingat seberapa cantiknya gaun yang ‘saudara kembarnya’ itu kenakan saat upacara pernikahannya dengan Lee Dong Hae.

Chan Mi ingat betul bagaimana rasa bahagia yang meletup-letup yang Hae Mi rasakan saat mengenakan gaun impiannya. Gaun karya Ralph Laurent dengan desain sederhana dihiasi payet-payet yang mengelilinginya. Sederhana, namun tetap elegan. Rona kebahagiaan perlahan menelusup masuk kehati Chan Mi saat ia membayangkan ialah yang menegnakan gaun cantik itu saat hari pernikahannya kelak, membuat ia tak bisa menyembunyikan senyum manisnya saat ia membayangkannya.

“Wae? Apa kau juga ingin cepat-cepat menyandang gelar nyonya Lee?” Tanya Sung Min dengan nada menggodanya yang berhasil mengembalikan Chan Mi akan lamunannya. Mata Sung Min sedikit terbuka, menatap Chan Mi dengan kerlingan nakalnya.

“A..a..aniyo” Chan Mi menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, bagaimana bisa Sung Min bertanya seperti itu saat mengetahui kalau ia sangat ingin cepat-cepat menyandang status Nyonya Lee, status sebagai istri sah Lee Sung Min, dan saling berjanji dihadapan Tuhan disaat seperti ini.

Sung Min mengacak poni rambut Chan Mi, yang lagi-lagi memanyunkan bibirnya. Sung Min sangat suka momen seperti ini, saat ia bisa menggoda gadisnya “Araa, araa..lantas apa yang kau ingin tanyakan?”

Kepala Chan Mi mendongak, menatap flavon apartemennya. Entah apa yang ia cari disana, sepertinya plafon-plafon itu lebih menarik daripada wajah kekasih didepannya “aku tidak mengerti kenapa setiap pengantin perempuan mengenakan gaun putih diacara sakral seperti itu oppa” gumam Chan Mi.

Sung Min mengerutkan dahinya bingung. Ia mencoba meresapi pertanyaan yang gadis itu pertanyakan padanya beberapa detik yang lalu, selang sepersekian detik kemudian ia kembali tersenyum menatap Chan Mi yang masih sibuk dengan fikirannya dengan matanya yang kini sepenuhnya terbuka. Ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan, matanya perlahan kembali tertutup, memaknai setiap esensi waktu yang berharga yang mereka miliki saat ini.

“putih itu melambangkan kesucian, sepasang pengantin tentunya dengan hati dan cinta yang suci mengikrarkan janji suci mereka dihadapan Tuhan harus mengenakan gaun indah dengan warna suci pula, Suci dan dengan ketulusan yang murni. Itulah prinsip kita nanti saat mengikrarkan janji dihadapan Tuhan” jelas Sung Min lembut, tersirat dari nada-nadanya suara lembut Sung Min juga sarat akan kesucian didalamnya

“tapi oppa aku ingin mengenakan gaun pengantin dengan warna yang berbeda saat aku menikah dengan calon suamiku kelak” rengek Chan Mi, kali ini tangannya mengoyang-goyangkan bahu Sung Min, persis seperti anak kecil yang minta dibelikan permen oleh kakaknya.

Dalam hitungan detik mata Sung Min membelalak lebar dengan mulut yang sedikit terbuka memperlihatkan keterkejutannya, bukan karena gerakan-gerakan ‘anarkis’ yang dilakukan gadis itu ataupun nada manja yang beberapa detik lalu gadis itu lontarkan, ia sudah sangat terbiasa mendengar celotehan-celotehan manja dari kekasihnya itu. Namun, yang membuatnya sedikit gusar adalah penekanan kata ‘calon suamiku’ yang gadis itu keluarkan, ia sedikit tidak rela mendengar kata ‘calon suamiku’ yang gadis itu ucapkan. Bukankah cepat atau lambat dirinya lah yang akan menjemput Chan Mi saat di depan altar nanti.

Sung Min segera bangikt menegakkan kepalanya dari pangkuan Chan Mi, membuat Chan Mi yang kali ini kebingungan dengan respon yang diberikan Sung Min-nya.

“waeyo oppa?” Tanya Chan Mi dengan wajah polosnya, tak mengerti dengan tatapan mematikan yang dilemparkan kekasihnya itu kepadanya.

1..2…

Belum sampai hitungan ketiga Sung Min meraih tengkuk Chan Mi dan dengan gerakan yang cepat ia menyapukan bibirnya dibibir Chan Mi.

Masih dengan ekspersi bingung dan tak mengertinya Chan Mi hanya bisa memejamkan matanya, membalas kecupan-kecupan lembut bibir Sung Min dibibirnya.

“akulah calon suamimu kelak Park Chan Mi” ucap Sung Min setelah mengakhiri ‘ciuman mendadaknya’ dengan nada mendeterminasinya.

“memangnya kau ingin mengenakan gaun berwarna apa saat hari pernikahan kita nanti?” Tanya Sung Min lagi, menyadari atmosfir diruangan ini sedikit berbeda karena tindakan yang tanpa sadar yang baru saja dilakukannya.

“kuning. Aku ingin mengenakan warna favoriteku nanti saat upacara pernikahan kita, dan kau boleh memakai warna pink jika kau mau oppa” sahut Chan Mi semangat.

Sung Min kembali merebahkan kepalanya dipangkuan empuk kekasihnya itu, membiarkan jari-jemari lentik itu mengusapnya dengan penuh kasih sayang “aku tidak perduli, warna apapun yang akan kita kenakan saatnya nanti, entah itu putih atau apapun lah itu, yang harus kau tau. Cintaku tidak bisa dilihat dari warna pakaian apa yang kita kenakan. Karena bagiku, cintaku untukmu beraneka macam warna, penuh kebahagiaan didalamnya, semua warna itu indah, begitulah yang cinta yang akan aku berikan padamu Channie~ya.” Jawab Sung Min tulus.

Chan Mi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan Sung Min yang separuhnya memang ia tak mengerti. Entah karena kinerja otaknya yang cenderung lamban atau otaknya yang memang tidak berfungi jika mendengar kata-kata romantis seperti itu.

“Jadi kau ingin saat upacara pernikahan kita nanti, kita mengenakan gaun berwarna-warni seperti pelangi oppa?”

Menghindari pertanyaan konyol lainnya yang akan gadis itu pertanyakan, Sung Min segera menarik tangan Chan Mi dengan sedikit paksa, membuat Chan Mi mau tak mau juga ikut berbaring tapat disebelah Sung Min. ia meraih punggung Chan Mi agar lebih mendekat padanya dan menenggelamkan gadis itu dalam pelukan hangatnya, pelukan yang akan selalu ia rindukan nantinya, saat ia kembali melanjutkan kesibukan Super Junior M nya.

“jaljayo” bisik Sung Min mesra sebelum keduanya memejamkan mata, berangkat menuju alam mimpi.

.

.

.

Putih. Memang lah sebuah warna yang melambangkan makna ketulusan cinta yang suci. Tapi itu hanya merupakan sebuah symbol yang tidak akan bisa menjadi patokan seberapa sucinya kah cinta dia untuk kita. Terkadang kita memaknai sesuatu hanya dari warna saja. Tapi bagiku, cinta itu masalah hati. Hati kitalah yang akan menentukan warna apa yang akan kita berikan unuknya.

 END

Note : Eaaaaaa.. ff gaje lagi yang ngebut banget selesainya. Aku tahu ini jelek T.T