pizap.com13615122718931

Title: Thinking of You

Author: Matogirl

Main Cast: Zelo B.A.P and You

Genre: Fluff, Romance, Sad

Rating: G

Length: Vignette

Disclaimer: Fanfic ini murni berangkat dari pikiran saya. Idenya juga ide saya, judulnya dari lagunya Katy Perry-Thinking Of You. Kalo castnya ya punya Tuhan, keluarganya, sama member grupnya hehehe ^^

Summary: Aku selalu memikirkan Choi Junhong, setiap kenangannya tersimpan rapi dan aku seharusnya tak melepaskan tangan itu.

 

*-*-*-*-*-*

I always thinking of you, Choi Junhong

*-*-*-*-*-*

 

Aku seharusnya tak melepaskan tangan itu, karena rasa takut kini mendominasi setiap ruang di otakku. Dadaku terasa penuh dengan beberapa hal yang aku sendiri tak mengerti. Mungkinkah Junhong paham hal ini? Mungkin dia bisa mengambil satu persatu beban ini dan membuat jalanku terasa lebih ringan. Dengan begitu aku tak perlu pulang dalam keadaan sendu karena bus sedang penuh kala ini. Sangat penuh, Junhong.

Junhong, aku ingat kita selalu memilih bangku di pojok kanan bus karena satu dua hal yang kau bisikkan ternyata ada masuk akalnya juga.

Kau bilang jika duduk di sana akan membelakangi matahari, kau tidak suka matahari yang terik menyirami matamu dan kau akan bersembunyi di belakangku. Lalu aku ingat bagaimana rasanya jemari itu menggambar satu persatu silabel di punggungku dalam diam, dari kata ‘Aku‘, kemudian tidak lama setelah itu kau membentuk sebuah kata ‘Menyukai‘, dan kata terakhir membuatku tersenyum sumringah di sore hari sepulang sekolah.

 

Dirimu

 

Ini juga merupakan alasanmu mengapa kursi di pojok kanan bus selalu menjadi pilihanmu.

“Namsan Tower!!” Serumu menunjuk gedung tinggi yang menjulang di bawah cakrawala beserta semburat-semburat jingga langit.

Kau suka melihat Namsan Tower dari sini dan kau pun berkata padaku, satu hal yang membuat pipiku bersemu merah selama lima menit dan berusaha menyembunyikannya darimu (itu sulit, Junhong).

“Suatu hari nanti aku akan membawamu kesana, membeli gembok super besar dan menuliskan nama kita disana sebanyak-banyaknya. Kau mau kan?” ungkapmu gembira. Kau selalu begitu, Junhong. Sifat kekanak-kanakanmu membuatku merasa lucu, bahagia dan entah apa seribu faktor lainnya.

Aku tak langsung mengiyakan. Menyisir ponimu yang berantakan tertiup angin. “Memang kau punya uang kesana?” Tanyaku lembut, perhatikan perubahan air muka yang drastis, sekejap aku merasa bersalah. Ingin kutarik ucapan itu, Junhong.

“Memang…” kau memutar kepalamu ke belakang, melihati siluet tower itu yang semakin menjauh selagi bus terus berjalan tanpa henti. “Harganya mahal ya?”

“Mmm…mungkin.”

Tapi kau adalah Junhong yang lama kukenal. Kau adalah Choi Junhong yang bisa membuatku tertawa dalam tangis, membuatku berjalan di atas tali saat perlombaan sekolah, membuatku kembali berlari di lomba waktu itu setelah jatuh hanya oleh banner besar yang kau bawa. Ini Choi Junhong yang mengataiku ‘jelek’ di kelas dua dan ‘cantik’ di kelas delapan.

 

Ini Choi Junhong yang kukenal dapat membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

“Kalau harganya mahal…” gumammu sambil menundukkan kepala.

 

Aku kira kau akan menyerah. Biarlah kita pergi ke tempat lain yang tidak memakan banyak biaya, karena sebenarnya…

 

Dimana pun itu, kapan pun itu, setiap momen, setiap detik yang kuhabiskan bersamamu terasa berharga, Junhong. Kita tak perlu pergi kesana, sesungguhnya. Aku bukan pacar Jung Daehyun yang minta dibelikan tas mahal di mall atau kekasih Himchan yang menuntut pulang dengan mobil mewah.

 

Tapi di kala itu, dirimu…

 

“Aku akan membeli celengan sebesar ini…” tanganmu membentang lebar di hadapanku. “Dan menabung setiap hari agar kita bisa kesana.” Lalu kau memelukku erat.

Supir bus melihati kita, Junhong, asal kau tahu saja. Dia menggelengkan kepala namun ada senyuman tipis tersungging di wajahnya. Aku yakin dia mengerti.

Lalu sebulan setelah perbincangan ini, kau masih saja memandang tower itu dengan mata berbinar-binar walaupun kita pergi dua kali kesana. Aku ingat itu hari rabu dan minggu. Gembok yang kita beli memang tak sebesar yang kau rencanakan, Junhong. Tapi aku tahu, aku sangat tahu sampai-sampai jantungku menolak memperlambat detaknya…

 

Aku tahu rasa sayangmu lebih besar.

 

Namun…

 

Kini aku duduk sendirian.

 

Tidak juga berada di pojok kanan. Kursi itu sudah lebih dulu di tempati orang lain; sepasang ibu dan anak. Dan duduk di sudut kiri ternyata tidak mengenakan. Matahari bersinar terlalu terang dan menusuk mataku. Kau benar, Junhong. Tapi aku juga tidak yakin duduk disana akan terasa sama tanpamu. Bagaimana rasa kekosongan di hariku masih menambah lubang hitam di hatiku.

 

Jadi, kuputuskan…

 

Lebih baik duduk di tempat lain—tanpamu, karena aku tak mau menyaingi langit mendung sore ini. Aku tak mau bersedih, tak mau menangis tanpa bahumu yang menjadi tempat sandaran dan jarimu yang siap menghapus air mataku.

 

Junhong, aku memikirkanmu.

 

Aku kira bayangan wajahmu akan menghilang setelah memoar tentang bus itu berlalu, tapi kemudian aku melihat sepeda rakitanmu yang setengah jadi, masih tergeletak begitu saja di halaman depan rumahku. Hatiku pun segera menyebutkan namamu seratus kali banyaknya dan bagaimana kenangan itu kembali menghampiriku.

Aku ingat kau bilang ingin pergi mengelilingi kota bersamaku, menaiki sepeda itu dan adalah ide konyolmu, “Ayo, pergi ke jepang naik sepeda ini.”

Kau ingat Jongup? Kekasihku di kelas 7? Dia pernah melontarkan ajakan yang sama, namun dia mengajakku naik pesawat dan pergi ke Jepang. Orang tuaku juga pernah mengajakku kesana menggunakan bus dan kapal.

Junhong, hanya kau dan kaulah orang pertama yang mengajakku ke Jepang menaiki sepeda rakitanmu dan…

 

Aku menyukai ide itu, Junhong.

 

Aku membayangkannya setiap malam setelah kau berbicara seperti itu. Aku membayangkan betapa indahnya dunia berputar sedangkan kita berada di atasnya, aku melingkarkan tanganku di pinggangmu dan menempelkan wajah ke punggungmu.

Lalu kita melewati beberapa musim, beberapa ratus tempat, menempuh ribuan kilometer dan kau akan katakan kau tidak pernah lelah dan seandainya kau lelah, Junhong…aku akan menggantikanmu, kayuh sepeda itu sampai akhir.

Namun nampaknya kita harus menunda perjalanan itu. Karena kau tidak ada disini. Tanpamu…sepeda itu tidak akan selesai dan percuma aku memandangnya saat ini.

Aku pun membuka pintu rumahku dan pergi ke lantai atas dimana kamarku adalah satu-satunya ruangan yang bisa menenangkan pikiran serta jiwa.

 

Aku salah.

 

Disanalah berjuta-juta kenangan terpampang jelas di hadapanku dan menyambut kedatanganku, seolah kau ada disana, Junhong. Foto-foto yang kita ambil tertempel di dindingnya, setiap kenangan terkecap pasti di pikiranku dan namamu terukir di setiap sel kecil otakku.

Aku memeluk diriku sendiri dan bagaimana air mata turun saat aku membuka pintu lemari bajuku. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah jaket birumu yang masih tergantung diantara baju-bajuku, enam bulan lamanya.

Dikala itu merupakan kencan yang cukup buruk. Hujan menghambat perjalanan kita ke bioskop, menahan kita di halte bus dan kau terus saja mengeluhkan hal ini. Kau mengutuk langit, kau mengutuk orang-orang yang mempunyai mobil, kau mengutuk orang-orang yang membawa payung, kau mengutuk segelas kopi hangat dan ketika sebuah sepeda melintas diatas kubangan air lalu mengenai bajuku, kau bersumpah akan membunuh orang itu.

“Aku tidak apa-apa.” Kataku menenangkanmu, namun kau sangat marah. Semua sumpah serapah kau keluarkan.

Junhong, aku tak suka saat kau marah-marah seperti itu. Kau akan cepat tua kalau sering marah.

Lalu hal yang paling kuingat adalah kau membuka jaketmu dan memakaikannya padaku. Mulutku baru saja ingin berucap, udara sedang dingin dan kau hanya memakai selembar kaus tipis itu! Tapi kau lebih dulu mengucapkan kalimat demi kalimat yang membuatku menelan semua kata-kata itu perlahan.

“Kau bisa sakit kalau begini caranya. Aku tak mau kau sakit.” gumammu lembut sembari mengancingkan satu persatu kancing di jaket. Matamu dipenuhi rasa cemas, aku dapat melihatnya dengan jelas.

“Kau tidak apa-apa?” Kau menangkup kedua sisi wajahku. Aku pun mengangguk.

 

Semuanya baik-baik saja saat bersamamu, Junhong.

 

Bahkan dikala aku harus menerobos hujan dan kena flu karena hal ini, aku tetap baik-baik saja. Meski terik matahari berganti hujan lebat, meski langit biru berubah menjadi langit gelap yang kelam, meski kau tak bersamaku saat ini, disini, kenanganmu terus menemaniku dan aku menyukainya.

Aku menyukai bagaimana jaketmu masih beraroma layaknya dirimu, permen karet berpadu dengan aroma deterjen rumahmu. Atau rambutmu yang terasa lembut kugenggam saat kita berpelukan. Atau kulitmu yang lembut saat kusentuh. Atau bisikanmu di telinga dan telunjukmu yang mengukir kata-kata indah di punggungku.

 

Aku merindukanmu, Junhong.

 

Sangat merindukanmu.

 

Aku memakai jaketmu saat menulis surat ini.

 

Cepatlah pulang, aku merindukanmu.

 

Aku selalu memikirkanmu, Choi Junhong.

 

 

Regards, Your lover.

 

*-*-*-*-*-*

 

Aku ada disini…

 

Seakan memperhatikan wajahnya yang tersenyum…

 

Aku ingat tubuh ini duduk di tempat tidurnya selagi dia sibuk membereskan kopernya, masukkan mantel tebal, celana jins, semua apa yang sekiranya Junhong butuhkan selama berada disana.

Dia bingung, dia limbung dan aku menghentikan tangannya yang berusaha memasukkan semua barang-barang yang bersangkutan denganku, di mulai dari foto, jam pemberianku, papan skate, boneka dariku.

 

“Junhong…” bisikku sedih. “Apa yang kau lakukan?”

 

Dia menggelengkan kepala cepat-cepat. “Aku harus membawa semuanya.” Dia terluka. Dia tidak mau berjauhan denganku.

 

Lalu aku membantunya menyusun barang-barang di koper itu. Tidak kumasukkan jam weker, papan skate, meja laptop, tapi dia menahan tanganku ketika aku hendak mengeluarkan si boneka kelinci dari kopernya.

“Jangan boneka! Aku membutuhkannya.” Aku tertawa melihatnya. Apa-apaan Junhong ini? Apa dia anak umur lima tahun yang tidak bisa tidur tanpa boneka?

“Dia mengingatkanku padamu, jadi aku bisa memeluknya jika aku merindukanmu.” Jawabnya lemas.

 

Oh, baiklah.

 

Kusimpan boneka kelinci itu di koper dengan baik-baik. Kuletakkan di bagian paling luar agar memudahkan Junhong untuk mengambilnya. Kuberikan pelukan terakhir yang lama sebelum Junhong pergi sebelum selanjutnya dia akan memeluk boneka itu sebagai penggantiku.

 

Seandainya…

 

Atau seharusnya…

 

Aku tidak melepaskan tangan itu…

 

Karena saat aku tak lagi mampu meraih tangannya, aku tahu aku akan menempuh ribuan jam tanpanya. Aku akan menempuh perjalanan pulang tanpanya, duduk di bus tanpanya, makan siang tanpanya, memikirkannya selama perjalanan berangkat kuliah, memikirkannya saat malam menjelang, memikirkan apa yang Junhong lakukan disana, memikirkan apakah Junhong suka makanan disana, apakah Junhong merindukanku…

 

Aku memikirkannya…

 

Terlalu sering dan aku hampir gila dibuatnya.

 

*-*-*-*-*-*

 

Junhong bukan penulis surat yang baik.

 

Dia punya tulisan tangan yang sedikit buruk, menempel satu sama lain hingga aku butuh beberapa detik sebelum menyadari itu adalah huruf A atau kata itu adalah kata ‘aku’.

Hari ini aku menerima surat dari Amerika. Aku tak perlu melihat dari siapa itu karena kutahu hanya ada satu orang di jagat raya ini yang punya tulisan sekacau itu.

 

From: Choi Junhong.

 

Hei, sayang, apa kabarmu? Kau tidak lupa aku siapa, kan? Aku baik-baik saja disini dan musim panas terasa tidak seru tanpamu, aku serius. Aku punya teman bernama Mark dan dia sangat baik padaku. Aku makan dengan baik.

Kentang goreng disini sangat besar!! Sebesar jari Kang Hodong, aku tidak bohong. Aku melampirkan fotonya. Kau harus lihat!! Aku juga pergi ke pantai dan menemukan beberapa kerang cantik secantik dirimu. Kalau aku pulang, aku akan merangkaikan kalung dari kerang, oke?

Ah, aku sangat merindukanmu. Hari pertama aku tiba aku langsung memeluk boneka totomato dan membayangkan wajahmu. Aku juga tidak bisa makan, karena…

TIDAK ADA NASI DISINI!!

Tapi aku berusaha beradaptasi. Ternyata kentang tidak terlalu buruk. Tapi aku suka limunnya disini. Aku bertaruh pada Mark untuk meminum sepuluh gelas limun dan aku menang, yeay! (tapi setelah itu aku tidak masuk kuliah dan berada di toilet seharian. Jangan cemas, aku tidak apa-apa dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi)

Eumm…aku tidak suka gadis disini. Kulit mereka aneh, ada bintik-bintik cokelat dan aku langsung ingat kura-kura peliharaanmu (hei, apa kabar Mr. Turtle? Aku merindukannya!).

Dan kau…tidak berkencan atau bersama laki-laki lain, kan? Jangan mau di dekati Jongup! Jangan mengangkat telepon darinya atau membalas pesannya! Aku tahu dia masih mencoba mendekatimu. Jika dia berani mengambil satu langkah saja kearahmu, aku bersumpah akan pulang dari Amerika detik ini juga dan memukulnya.

 

(dan aku berharap Jongup melakukannya. Biarkan Junhong pulang dan kami bertemu kembali)

 

Aku sangat, sangat, sangat, sangat merindukanmu. Mungkin ini terdengar cheesy, tapi sungguh…aku sangaaaaaaaaaaaaaattttttttt merindukanmu dan seandainya aku bisa pulang ke Korea dan bertemu denganmu.

Aku punya satu puisi bahasa inggris yang kutulis untuk pelajaran sastra. Eumm…Mrs. Smith katakan ini puisi yang bagus dan aku berkata aku memikirkan kekasihku saat menulisnya.

 

Ini puisiku:

 

Love begins with a smile…

It’s always by your smile I like the most

I see thousand suns bursting in my heart

Whenever you smile

I love the way you smile

 

Then grow with a kiss…

I can see a rainbow in your eyes

I can see the reflection of the one you loved

And when we close our eyes, your lips against my lips

I love you and love the way we kissed

 

And it’s ends with a happiness tear upon our face.

Because I see you’re the one smiling and surround by my love

So we cried because of we are the one who feel the happiness

And because I love you so much

 

Apakah itu terlalu cheesy? Mark menertawaiku soal kiss, kiss itu, tapi aku tak peduli. Puisi itu memang benar adanya.

Eumm, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu dan aku berharap musim dingin ini aku akan pulang. Senangkah dirimu? Aku harap ya. Aku harap kau selalu menungguku dan aku ingin bisa merasakan rindumu disini.

I love you so so much🙂

 

Regards,

Handsomely boy, Choi Junhong, your lover.

 

 

Aku melipat surat itu dengan rapi dan memeluknya di dada. Hari ini matahari seakan tersenyum padaku dan siluet Choi Junhong tergambar jelas di kepalaku. Aku tahu musim dingin masih sangat lama datang menghampiriku, tapi aku mencintai Junhong dan akan selalu menunggunya kembali.

 

*-*-*-*-*-*

 

I always thinking of you, Choi Junhong

 

 

-Fin-

Author’s note:

Bagaimana? Ini ff debut saya lho ^^ dan bohong banget si Zelo gabisa beli tiket ke Namsan Tower, dia ‘kan artis sekarang…beli Namsan Tower pun pasti bisa hehehe ^^

Sori ya klo saya sok puitis dan member B.A.P lainnya seperti terbuang gitu😦

Mohon review-nya yaaa ^^ makasih juga sama admin yang udah publish ff saya dan soal posternya…itu nyomot dari google dan ngedit nambahin tulisannya😦

Aduh, paling gabisa artwork, jadi harap maklum ya ^^