tumblr_mh9vz7e1Ac1qcp7i2o1_500

Title/Judul                           : Cold as Ice

Author                                  : Kyungmi Park

Genre                                    : Fantasy, Fluff.

Rating                                   : 15PG

Length                                  : 980 words

Disclaimer                           : FF ini murni karya author, dan bukan merupakan hasil jiplakan/copy-an. Alur cerita adalah milik author, tapi Castnya hanya author pinjam.

Main Cast/Pairing           : * Xiumin EXO-M as Kim Minseok

                                                 * Shin Eunri (Original Character)

Summary/Foreword       : “Apapun yang aku sentuh, semua menjadi beku.” Minseok kembali memainkan tangannya ke udara, membentuk serpihan salju dari ujung jemarinya. “Dan aku tidak ingin membekukanmu.”

 

Cold as Ice.

Dingin. Itu yang pertama kali Shin Eunri rasakan saat bersentuhan dengannya. Dalam bayangan mungkin akan terasa hangat. Hampir terjatuh dan ditangkap oleh sepasang tangan pria. Ini klasik, memang. Banyak terjadi dicerita romantis ataupun di drama. Dan ini pasti menghasilkan hal yang sama, getaran.

Ya, getaran. Eunri juga merasakannya saat tangan pria itu tak sengaja mendekap tubuhnya, menahannya agar tidak terjatuh. Meski begitu, Eunri tidak mendapatkan hangatnya. Yang gadis itu rasakan hanyalah dingin. Tidak menusuk, tapi tetap dingin. Anehnya, dingin itu membuat Eunri tertarik. Seperti magnet, Eunri adalah kutub selatan dan pria itu adalah kutub utara. Saling menarik, tidak ingin terlepas.

Tapi sayangnya, pria itu melepaskannya lebih dulu. Melepaskan sentuhan yang memberikan getaran unik untuk Eunri. Gadis itu hanya terdiam, tidak mampu untuk berkata atau berbuat apapun. Eunri hanya terdiam. Baru saja Eunri ingin memanggil pria itu yang ternyata sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya. Membuat gadis itu berselimut perasaan kosong. Memang sudah tidak dingin, tapi kosong. Lebih baik dingin daripada kosong.

Pria dingin, begitulah Eunri memanggilnya. Oh bukan hanya Eunri, teman sekelas merekapun memanggilnya begitu. Selalu menyendiri dan tidak pernah terlihat dekat atau bahkan sekedar berbicara dengan orang lain. Pria itu selalu sendiri.

Sebenarnya, sudah lama Eunri ingin berinteraksi dengan pria itu, masuk kedalam dunianya. Mengetahui segala seluk-beluk tentang pria itu. Tapi, belum sempat Eunri mendekatinya, pria itu sudah lebih dulu menjauhinya. Tidak memberikannya sedikitpun celah untuk mendekat. Meski begitu, Eunri tidak mudah menyerah.

Dan akhirnya kesempatan itu datang…

***

“Kenapa kamu melakukannya?”

Eunri yang tadinya sedang sibuk menulis dibuku catatannya, langsung mengalihkan pandangannya kearah pria dingin dihadapannya. Matanya mengerjap berkali-kali, mencoba mencerna pertanyaan yang keluar dari Kim Minseok. Gadis itu memiringkan kepalanya, kebiasaannya bila tidak mengerti sesuatu. “Apa yang aku lakukan?”

Meski mata Eunri tepat menuju kearah matanya, Minseok tetap tak bisa menatapnya. Entah mengapa mata gadis itu terasa terlalu bersinar baginya. Pria itu hanya mampu menatap lantai seakan itu adalah hal paling menarik yang pernah ia lihat. “Kamu tahu apa yang aku bicarakan.”

Senyum terurai diwajah Eunri saat mengingat kejadian sepuluh menit lalu. Saat dengan lantangnya ia mengajukan diri untuk satu kelompok dengan Minseok yang langsung disetujui oleh guru mereka. Itu adalah kesempatan untuknya mendekati Minseok. Dan ia takkan melewatkannya begitu saja.

“Apa yang kamu inginkan dariku?” Nada yang keluar dari mulut Minseok terasa dingin.

Sedari awal Minseok bertemu dengan Eunri, ia tahu kalau gadis ini akan membawa masalah untuknya. Ditambah dengan insiden akhir-akhir ini dimana Eunri terlihat jelas berusaha berinteraksi dengannya. Ia tahu dengan pasti kalau gadis itu sedang berusaha mendekatinya.

“Aku hanya ingin dekat denganmu. Apakah itu salah?”

Minseok tidak memberikan jawaban, atau mungkin ia tidak tahu jawabannya. Yang sekarang terpikirkan olehnya hanya pergi dari tempat ini. Pergi dari hadapan gadis ini, secepatnya.

Eunri tidak tinggal diam. Ia memang tidak bisa tinggal diam. Begitu melihat Minseok keluar dari kelas, ia segera membuntuti pria itu. Ia tidak tahu kemana pria itu akan pergi, yang pasti ia akan terus mengikutinya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada pria dingin ini. Maka dari itu, ia takkan melepaskannya begitu saja.

“Berhenti mengikutiku.” Dingin. Bahkan suaranya terasa dingin. “Kalau kamu cukup pintar, kamu tidak akan mengikutiku, Eunri-ssi.

Mereka sudah berada diatap gedung sekolah yang penuh dengan terpaan sinar matahari. Dengan memunggunginya, Minseok berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dengan Eunri. Meski ia yakin, gadis itu akan terus mendekat padanya.

Eunri tersenyum lebar. Meski cuaca disekitar mereka sangat hangat, suara Minseok tetaplah dingin. Sama seperti hati pria itu. “Kalau begitu, katakanlah kalau aku tidak cukup pintar.”

Minseok tidak menyangka jawaban seperti ini yang akan keluar dari mulut gadis itu. Begitu ia berhadapan langsung dengan Eunri, senyum manis dan lebarlah yang ia dapatkan diwajah gadis itu. Hanya sebuah senyum dan itu sanggup menggetarkan hatinya. Minseok merasa ini salah, amat salah.

“Apakah aku tidak pantas untuk dekat denganmu?” Eunri terdengar lemah dan Minseok tidak bisa mendengarnya seperti itu. Hatinya ikut tersayat melihat mata sayu gadis itu.

Minseok menggeleng perlahan. “Bukan itu,” Pria itu memberikan jeda dalam kalimatnya sebagai celah untuk menarik nafas. “Kamu tidak mengerti.”

“Kamu bisa membuatku mengerti dengan menjelaskannya.”

“Ini tidak semudah yang kamu bayangkan.”

“Dan ini tidak akan sesulit yang kamu bayangkan.”

Minseok kembali berpaling, memunggungi Eunri sekali lagi. Tangan kirinya terangkat ke udara, merasakan hangatnya cahaya matahari yang menyelimuti tangannya. Ia harus melakukannya, ia harus membuat gadis ini menyerah untuk mendekatinya. Ia hanya tidak ingin menyakiti Eunri.

“Aku, berbeda.”

Minseok mengangkat tangan kanannya dan seketika itu juga, cuaca yang tadinya hangat berubah menjadi dingin. Salju berjatuhan disekitar mereka, hanya disekitar mereka. Lantai dimana Minseok berpijakpun menjadi beku.

“Apapun yang aku sentuh, semua menjadi beku.” Minseok kembali memainkan tangannya ke udara, membentuk serpihan salju dari ujung jemarinya. “Dan aku tidak ingin membekukanmu.”

Meski suhu disekitar mereka menurun drastis, hal itu tidak mempengaruhi Eunri. Dengan langkah mantap, gadis itu mendekati Minseok. Berdiri dihadapan pria dingin itu. Pria dingin, memang julukan yang tepat untuk pria ini.

“Lihat aku,” Eunri menatap lembut pria itu sembari menangkup wajah dingin Minseok dengan sebelah tangannya, membuat Minseok beralih untuk menatapnya. “Aku tidak membeku. Aku baik-baik saja.”

Hangat. Itu yang Minseok rasakan ketika tangan Eunri menyentuh wajahnya, menangkupnya. Gadis itu tidak terlihat kedinginan sama sekali. Entah mengapa hal ini sedikit melegakan Minseok. Dan tanpa sadar, pria itu menyentuh tangan Eunri yang masih menangkup wajahnya. Merasakan hangat mengalir melalui sentuhan itu.  Minseok menyukainya. Sensasi hangat ini, Minseok menyukainya.

“Sedikit banyak, aku mengerti perasaanmu.” Suara Eunri terdengar begitu lembut. Bahkan seperti mantra yang membius Minseok untuk lebih tenang. “Karena aku sama sepertimu.”

Kesenyapan memenuhi mereka berdua. Sensasi hangat masih dapat Minseok rasakan dari tangan Eunri. Meski begitu, jeda ini memberikan sensasi sesak yang aneh. Kesedihan dalam suara Eunri seakan membawa rasa pedih mengudara menyelimuti mereka.

“Hanya saja,” Eunri mengangkat tangannya yang bebas lalu menjentikkan jarinya. Sebuah api kecil berwarna merah menyala terbentuk diatas jari itu. Api itu tidak terasa panas, melainkan hangat. Hangat yang menyenangkan. Gadis itu tersenyum tatkala bertemu mata dengan si pria dingin. “Aku adalah api.”

fin.

Iklan