jet_plane

 

Title               : I Let You Go

Main Cast      : Kim Jong Woon

Park Seo Hae

Genre                        : Fluffy, Romance

Rating                        : PG-13

Length           : Ficlet

Author           : K.H (@muna2024)

Disclaimer     : Ini fanfic pertama yang aku publish, jadi mohon koreksinya. Karena masih ada banyak kesalahan. Gomawo.

Summary       : I let you go because I know about you

 

Dahan pohon menari mengikuti irama merdu angin. Menerbangkan daun-daun kering yang gugur dari dahannya. Sinar matahari menembus tiap celah kehidupan.

Di sebuah bangku berwarna coklat gelap, duduk dua anak manusia. Keduanya hanya diam memandang lurus ke depan. Hamparan tanah kosong yang tenang. Seolah mendukung suasana senyap yang dua orang itu lakukan.

Angin terus berhembus. Detik waktu tak juga pernah berhenti. Namun matahari mulai lelah. Lelah menjadi saksi dua orang yang duduk tenang. Suara burung berkicau lemah mengusik ketenangan dua insan itu.

“Aku rasa mati akan lebih menyenangkan”. Akhirnya pecah suara di antara keduanya. Seorang berambut panjang dengan pita hijau di sisinya mengeluarkan suara keputusasaan.

“Kenapa kau berfikir seperti itu?” respon seorang lagi yang mengenakan kemeja merah dengan motif kotak-kotak sedang dengan dasi hitam sebagai pemanis.

Wanita itu menolehkan kepalanya, mengganti pemandangan tanah kosong dengan wajah tampan pria itu. Pria yang di tatapnya juga ikut menggerakkan kepalanya menatap wanitanya.

Setelah puas menikmati wajah mempesona pria itu, wanita yang menggunakan coat hitam kebesaran, yang di sinyalir milik pria yang duduk di sebelahnya, kembali menatap lurus kedepan.

“Tak ada seorangpun yang bisa mengerti aku” ucap wanita itu.

“Tapi aku mengerti dirimu” ungkap pria itu singkat yang kemudian menyampirkan tangan kanannya ke pundak lawan bicaranya.

“Aku tahu siapa kau. Kau adalah wanita yang aku cintai dan kau juga wanita yang hanya bisa mencintaiku. Geutchi?” lanjut pria itu di iringi senyum yang mampu membuat wanita berdegub kencang.

Geure. Hingga rasanya aku ingin menenggelamkan tubuhmu di sungai amazon bersama ikan piranha, supaya tak ada seorangpun yang bisa memilikimu, hmm selain aku” lanjutnya ringan.

Sementara itu pria dengan rambut hitam sempurna itu hanya tertawa pelan setelah mendengar jawaban ‘menyakitkan’ dari kekasihnya sendiri.

“Seharusnya kau lebih bersyukur dengan hidupmu yang sekarang” ucap pria itu mendorong pundak kanan wanitanya supaya kepala wanitanya dapat menyandar di bahunya. Wanita itu hanya diam, mempersilahkan prianya kembali berbicara.

“Setidaknya kau masih punya orang tua yang..”

“Mereka bukan orang tuaku” potong wanita muda itu.

“Tapi mereka menyayangimu dengan tulus”

“Dari mana kau tahu mereka tulus padaku? Berbicara padaku saja tidak ada di schedule mereka yang padat. Mereka tak akan pernah mengerti aku. Siapa aku? Aku bahkan pernah berfikir apakah aku anak mereka tau bukan. Bahkan anak anjing mendapat perlakuan khusus dari majikannya. Sedangkan aku, apa yang ku dapat?” ungkap wanita itu mengeluarkan uneg-uneg nya yang selalu mengganjal di hatinya.

“Kau harus mencoba mengerti kondisi mereka nae gongju”. Pria itu mengusap-usap lengan wanita yang di panggilnya dengan sebutan ‘ratu’. Memberikan gerakan relaksasi, untuk menenangkan hati wanitanya yang sedikit terbakar.

“Aku tak bisa”

“Kau harus mengerti mereka dahulu, baru mereka akan mengerti dirimu. Jangan menuntut mereka lebih”

“Kau tak mengerti aku oppa

“Aku memahamimu, aku tahu kau terluka, aku tahu itu karena aku tahu siapa dirimu”

“Aku membencimu”

“Aku sangat mencintaimu”

Wanita itu menarik kepalanya yang menyandar di bahu kanan pria yang beraroma memabukkan itu.

“Berhenti. Aku muak dengan hari ini”.

“Aku tak bisa berhenti. Sekalipun kau memintaku berhenti, aku tidak bisa berhenti mencintaimu nae gongju, karena itu kau harus…”

“Berhentilah. Harus berapa kali aku bilang. Aku benci mendengar kata ‘harus’, apalagi kata itu keluar dari mulutmu”

Wanita itu bangun dari duduknya setelah menyelesaikan kalimatnya. Wanita itu berjalan menjauh. Masih menggunakan coat hangat yang menutup sempurna terusan berwarna hijau pastel yang melekat indah di tubuhnya.

Sedang pria itu hanya memandang punggung wanita yang ia cinta berjalan menjauh sambil menghela nafas panjang. Tidak tahu harus bagaimana menghadapi kekasihnya yang sangat keras kepala. Masalah yang menimpa keluarga wanitanya membawanya pusing bersama.

 

***

 

Suasana terlihat tenang meski banyak orang yang ada di dalamnya . semuanya tenggelam dalam dunianya sendiri. Menyelam dalam kenikmatan menikmati jendela dunia yang sedang mereka buka.

Beberapa di antara mereka ada tang duduk santai sambil menikmati bacaan yang di bawa. Ada yang sedang kesulitan menggapai buku di rak paling atas. Ada juga yang duduk di lantai, serius membaca buku tebal sampai tidak sadar ada seorang yang berdiri di sampingnya.

Annyong nae gongjunim” sapa orang yang berdiri tadi. Sedangkan yang disapa hanya menolehkan wajahnya sesaat dan kembali sibuk dengan bukunya. Merasa di acuhkan, pria yang kali ini menggenakan kaos biru laut di padu dengan jas semiformal, duduk di samping wanita itu.

“Kau masih marah pada oppa Seo~ya?” ucap pria itu yang hanya di balas sebuah dehaman mewakili kata ‘iya’ sambil terus membuka bukunya lembar demi lembar.

Ah~ ottoke? Semakin kau membenciku, rasa cintaku justru akan bertambah besar Seo~ya” ucap pria itu di barengi dengan tawa riang sang pria. Akibat suara kikikannya, beberapa pasang mata memandangnya aneh. Pria itu pun hanya menundukkan kepalanya beberapa kali sebagai permohonan maaf. Seo Hae, wanita itu, memandang prianya geli. Apakah dia tidak sadar kalu sedang berada di perpustakaan. Arah mata keduanya saling bertemu. Seo Hae memasang wajah normalnya kembali.

“Apakah kau tidak punya perbendaharaan kata lainnya. Kalimat yang kau ucapkan tadi selalu kau ucapkan setiap aku sedang marah, dan itu sudah berlangsung selama lima tahun” ucap Seo Hae dengan raut seris sambil menatap bukunya tak bosan. “Apa kau tak bosan? Aku yang mendengarnya sangat bosan Jong Woon oppa” lanjut Seo Hae, Park Seo Hae.

“Benarkah? Bahkan aku tak sadar ketika mengatakannya. Mungkin memang sudah tercetak permanen di hatiku, dan itu hanya untukmu”. Seo Hae mendengus mendengar ucapan Jong Woon yang penuh kata manis.

“Apa yang sedang kau baca?”. Jong Woon menarik paksa buku yang Seo Hae sedang baca.

“Yak! Apa yang kau lakukan, kembalikan bukuku”ucap Seo Hae pelan seperti orang yang berteriak tertahan, mengingat mereka masih di dalam perpustakaan. Seo Hae berusaha menggapai buku yang disembunyikan Jong Woon di balik punggung nya.

“Ini bukan bacaan yang tepat untukmu, bahkan aku yang sudah tingkat tujuh belum membacanya, dan kau yang baru tingkat tiga sudah berani membacanya”

“Aku tidak perduli. Cepat kembalikan, aku hampir menyelesaikan buku itu”. Seo Hae terus mencoba untuk mengambil alih bukunya. Namun, bukannya menggapai bukunya, tangan Seo Hae justru di gapai oleh Jong Woon. Di genggamnya erat tangan Seo Hae dan meletakkannya di atas paha yang di tutupi celana jeans itu. Seo Hae berhenti menggerak-gerakkan tangannya.

“Kau bisa membacanya nanti Seo~ya, atau bahkan kau bisa membaca buku yang lebih ‘tinggi’ dari buku ini. Yang perlu kau lakukan hanya mengisi formulir yang orang tuamu kirim dan menandatanganinya. Dan tadaa~ impianmu sebagai jaksa akan terwujud”

“Kau mengusirku? Kau menyuruhku pergi? Sampai mati aku tidak akan mengambilnya” ucap Seo Hae tegas.

“Ayahmu menelfonku, beliau memintaku untuk meyakinkanmu kalau pilihan ayahmu itu tidak salah. Ini demi masa depanmu juga Seo~ya

“Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang kau memahamiku. Tapi yang baru saja kau ucapkan sama sekali tidak mencerminkan apa yang pernah kau ucapkan sebelumnya” Seo Hae menghela nafas sejenak dan melanjutkan ucapannya. “Masa bodoh dengan impianku menjadi jaksa terkenal dan sekolah di luar negeri. Aku tidak menginginkannya lagi. Aku sudah melupakannya sejak aku mengenalmu” Seo Hae berhebti sejenak. “Dan aku tahu sekarang. Kau tidak pernah mengerti aku oppa”. Seo Hae berusaha meloloskan tangannya dari genggaman tangan Jong Woon, namun sekuat ia mencoba tidak berhasil.

“Jangan mempertaruhkan mimpi besarmu hanya karena aku. Gapai mimpimu sebagai jaksa yang terbaik Seo Hae~ya. Aku ingin melihatmu menjadi jaksa yang hebat, heum” kata Jong Woon persuasif.

“Kau satu-satunya orang yang merangkap sebagai orangtua, kakak, teman dan juga kekasih sekaligus. Aku tidak ingin jauh darimu oppa”. Matanya mengenang. Dalam sekali kedipan, air itu akan turun membasahi pipinya.

“Seo Hae~ya

“Aku tidak akan pergi”

“Seo Hae~ya, setidaknya buat bangga orang tuamu. Perbaiki hubungan kalian. Aku tidak suka kau yang selalu membangkang orang tuamu” bujuk Jong Woon. Seo Hae hanya diam untuk beberapa saat.

“Apakah kesempatan bersamamu masih ada saat aku kembali menyandang gelar jaksa?” tanya Seo Hae yang tak mampu dijawab Jong Woon.

***

 

 

At Incheon Airport

Jong Woon dan Seo Hae berjalan beriringan di dalam bandara internasional ini. Hiruk pikuk manusia yang akan pergi atau yang baru turun dari pesawat menjadi pemandangan wajar di mata.

Jong woon menarik sebuah koper merah tua di tangan kirinya, sedang tangan kanannya berfungsi untuk menggengam tangan Seo Hae. Keduanya berhenti di depan tempat pengecekan barang. Ke duanya saling berhadapan.

“Aku tahu kau benci kata ‘harus’, tapi kali ini kau harus melakukan satu permintaan yang akan aku ajukan” buka Jong Woon diangguki Seo Hae.

“Kau harus menjaga kesehatan, selalu tersenyum bahagia. Dan yang terutama adalah jangan membangkang ayahmu di sana. Aku akan menjaga eommamu di dini. Itu permintaanku”

“Bodoh. Yang kau sebutkan tadi ada tiga permintaan” sahut Seo Hae.

“Hehe..” tawa Jong Woon. “Satu lagi, kau harus kembali dengan kesuksesan”.

“Aku tidak mau, kau telah mengusirku dari tanah kelahiranku sendiri, dan aku harus harus menuruti permintaanmu? Jangan harap!”.

“Baiklah. Kalau begitu kau tidak perlu pulang. Menetap saja di sana sampai kau sukses. Aku akan mencari wanita lain yang tidak keras kepala sepertimu”. Seo Hae membelalakan matanya tajam pada Jong Woon.

Seo Hae menghembuakan nafasnya pelan. “Aku akan menurunkan egoku kali ini” ucap Seo Hae yang kemudian merangsak maju memeluk tubuh Jong Woon yang cukup atletis.

“Aku mencintaimu oppa” sambungnya di depan dada Jong Woon. Jong Woon membalas pelukan Seo Hae. Di usapnya lembut punggung yang selalu membuatnya nyaman ketika lelah.

“Kau harus sukses dan kembali ke Korea. Lalu kita lihat bersama, apakah kesempatan itu masih ada”. Seo Hae melepas pelukannya.

“Aku pasti akan merindukan suara cerewetmu oppa!”

Oppa rasa, ayahmu jauh merindukan putrinya yang keras kepala ini” ucap Jong Woon merapikan rambut Seo Hae yang munutup kening favoritnya. Di letakkannya bibir memabukkan itu di kening Seo Hae lama. Mata Jong Woon yang tadi terpejam, beralih memandang benda kecil yang pernah membuatnya mabuk. Bibir Seo Hae. Jong Woon menurunkan sedikit kepalanya menggapai bibir ranum Seo Hae.

“Kau mau apa? Ini melanggar peraturan pemerintah. Apa kau lupa mahasiswa hukum tingkat tujuh?” ucap Seo Hae saat bibir Jong Woon hampir mencapai bibirnya. Jong Woon menggaruk kepalanya kikuk. Bahkan beberapa mata melihatnya sedikit aneh.

“Bisakah kita pergi ke toilet sebentar?”

“Mwo? Dasar pervert mind!!” setengah teriak Seo Hae dan memukul lengan Jong Woon dengan buku setebal lima centimeter. Buku dengan judul sama yang minggu lalu di rebut Jong Woon saat di perpustakaan. Pria itu memberikan buku itu pada Seo Hae sebelum datang ke bandara. Yang pasti itu bukan buku yang ada di perpustakaan, karena di balik buku tebal itu ada kata-kata yang Jong Woon rangkai khusus hanya untuk Seo Hae.

“Aku hanya bercanda mahasiswa hukum tingkat tiga”

Terdengar suara pemberitahuan keberangkatan pesawat Seo Hae mengalun tenang. Menyentakkan hati kedua insan yang dalam hati mereka yang terdalam enggan beranjak dari tempat mereka berdiri.

“Kau percaya padaku ‘kan oppa?” tanya Seo Hae.

“Heum, tentu aku percaya”

“Kau percaya pada kemampuan otakku yang cerdas ini ‘kan?”

“Tskk, selain keras kepala lau juga sombong ternyata. Nde, gongjunim, aku percaya, sangat percaya” jawab Jong Woon mantap. Seo Hae tersenyum lega.

“Jangan berbuat macam-macam di sana Seo~ya, oppa punya puluhan mata-mata yang selalu mengawasimu!” kata Jong Woon.

“Kau juga. Karena kita belum berakhir”. Keduanya tersenyum. Dan kembali, suara pemberitahuan memaksa dua insan ini untuk segera merenggangkan gengaman tangan mereka.

“Cepat masuk, nanti kau tertinggal pesawat”

Oppa, aku sudah meminta Tuhan untuk mengirim ratusan malaikat untuk menjagamu dan satu malaikat khusus yang akan menjaga hatimu” ujar Seo Hae.

“Kalau begitu cepat pergi dan selesaikan belajarmu. Lalu kita lihat, apakah malaikat yang Tuhan kirim melakukan tugasnya dengan baik”

Nde. Kkalkeyo!” Seo Hae berjalan mundur pelan, menjauh sambil melambaikan tangannya ke arah Jong Woon. Seo Hae membalik tubuhnya memunggungi Jong Woon. Jong Woon masih melambaikan tangannya.

Tiba-tiba matanya terbelalak saat Seo Hae berlari ke arahnya dan mengecup bibirnya singkat. Seo Hae jalan mundur lagi sambil melambaikan tangannya lebih bersemangat. Sementara itu, Jong Woon masih belum sadarr dengan apa yang baru saja terjadi.

“Jong Woon oppa!!” panggil Seo Hae. Jong Woon memandangnya bingung.

Saranghae!!” gerak bibir Seo Hae, kemudian membentuk ‘love sign’ di atas kepalanya dan melambaikan kembali tangannya. Jong Woon hanya tersenyum melihat tingkah Seo Hae berusan. Ya, memang karena yang tadi tu bisa di bilang kangka.

Yak! Mahasiswa hukum tingkat tiga Park Seo Hae! Kau baru saja melanggar peraturan pemerintah. Akan ku pastikan kau tidak akan selamat saat kembali nanti” teriak Jong Woon meski tubuh Seo Hae tak lagi terlihat.

 

***

 

Jong Woon berjalan menuju sebuah ruangan yang di lapisi dengan dinding kaca. Dari dalam ruangan itu bisa di lihat aktivitas pesawat yang akan kepas landas ataupun baru saja mendarat.

Jong Woon berdiri di depan dinding kaca saat sebuah pesawat melakukan lepas landas dengan sempurna dan terbang membelah udara.

I let you go because I know about you” gumam Jong Woon. Semakin lama badan pesawat semakin kecil di pandangan matanya.

 

END_