beautiful wind-nalin_lee

Author  : Nalin Lee

Tittle     : Beautiful Wind

Genre   : romance

Tags       : Lee SungMin and Park Chan Mi (OC)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : jelek? Emang. Gaje? Apalagi. Ah entahlah cerita ini emang rada aneh😛 *bow. FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T .. jangan lupa kunjungin blog aku yah, kekkeee*numpang promosi www.mitwins.wordpress.com

BEAUTIFUL WIND

 

 

Jika aku katakan angin itu cantik apa kalian akan percaya?

.

.

.

“kau sedang apa hyung?” Kyuhyun kini tepat berdiri disebelah Sung Min, hyung kesayangannya itu yang masih memandang kemerlip lampu-lampu yang menghiasi hampir seluruh kota Seoul dari atas apartemen mereka semenjak satu jam yang lalu. Matanya terpaku menatap Sung Min dengan sorot matanya yang penuh dengan intrik keingin tahuan disetiap pancarannya.

Husshhh,,

Hening,

Bukan suara Sung Min yang ia dengar, tapi suara angin yang memang tak diharapkannya yang menjawab pertanyaannya.

“hyung..” sekali lagi Kyuhyun berusaha untuk memanggil hyungnya yang kini beralih menatap kelamnya malam dari atas dorm mereka, tanpa ada bintang, tanpa ada bulan. Hanya hamparan langit malam tanpa kemerlip bintang-bintang maupun senyuman indah sang rembulan.

Kyuhyun ikut mendongakkan kepalanya, menatap langit hampa seperti ini membuatnya bosan “kau menyukai langit malam hyung?” Tanya Kyuhyun lagi, ia bosan jika suasananya menjadi canggung seperti sekarang ini.

Sung Min hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Kyuhyun, namun matanya masih tetap fokus pada sesuatu yang sedari tadi ditatapnya, bukan dengan tatapan kosong tapi dengan tatapan mata yang penuh dengan binar-binar yang menghiasinya.

“kau menyukai kemerlip lampu-lampu kota Seoul dari atas sini hyung?” Tanya Kyuhyun lagi.

Lagi-lagi Sung Min hanya menggeleng, membuat Kyuhyun semakin bingung dibuatnya, ia menggaruk kepalanya sebagai kebiasaan jika ia tidak memahami sesuatu.

“lantas apa yang membuatmu betah berjam-jam disini hyung? ” tanya Kyuhyun untuk yang kesekian kalinya, berharap hyungnya itu memberikan jawaban atas kebingungannya.

“angin”

“Mwoo?? Angin??” Kyuhyun mengulang kata yang baru saja ia dengar, berharap indera pendengarannya tidak sedang bermasalah.

“Ne, aku menyukai angin. Angin itu cantik” jawab Sung Min seraya melenggangkan kakinya meninggalkan Kyuhyun yang masih menganga mendengar jawaban yang Sung Min berikan.

.

.

.

Dia datang secepat angin, tapi aku berharap ia tak pergi secepat hembusan angin pula. Biarkan angin itu tetap berada disisiku, menyejukkan hatiku.

.

.

.

“hyung, kau yakin kita berjalan-jalan dijalanan ramai Apgeujong seperti ini tidak ada ELF ataupun netizen yang mengetahui?” Tanya Kyuhyun, matanya menatap liar orang-orang yang menatapnya dengan berbisik-bisik melihat penampilan mereka yang memang terlihat berbeda dari orang-orang disekelilingnya, karena berbagai penyamaran yang kini mereka kenakan untuk menutupi identitas diri mereka masing-masing.

“kau kenapa? Bukankah kau sendiri yang tadi memaksaku untuk ikut denganku jalan-jalan, kenapa malah sekarang kau yang ribut?” jawab Sung Min gusar, mendengar berbagai keluhan tidak penting dari magnaenya sedari tadi.

“ani hyung, aku hanya takut semua orang akan silau dengan pesonaku, jika mengetahui siapa sosok diriku sebenarnya” jawab Kyuhyun asal diakhiri dengan tawa lebarnya, membuat orang-orang yang melihatnya menatapnya heran.

Pletak

Dengan senang hati Sung Min memberikan jitakan manisnya tepat dikepala Kyuhyun, berharap otak dongsaengnya itu kembali normal. Namun apalah mau dikata Kyuhyun tetaplah Kyuhyun, ia malah semakin tertawa lebar melihat tatapan kesal hyungnya itu.

“kita mau kemana hyung, sedari tadi kita terus berjalan” Tanya Kyuhyun setelah tawanya mulai mereda, ia mencoba membetulkan letak masker yang membuatnya merasa risih.

“aku ingin mencari angin” walaupun sebagian wajah Sung Min hampir tertutupi masker, namun senyum dibibirnya masih dapat terukir dengan jelas.

“angin, angin, angin, dan angin” Kyuhyun hanya bergumam cuek “akhir-akhir ini kau sering membicarakan angin, ada apa dengan angin hyung? Bukankah kau bisa menemukannya hampir dimanapun kau berada” Tanya Kyuyun jengah, ia ingat sudah hampir seminggu ini hyungnya itu sering berdiam diri, dan jika ditanya Sung Min pastilah akan menjawab anginlah sebagai alasannya.

“walaupun terlihat hampir serupa, tapi semua angin tak ada yang benar-benar mirip Kyu” Sung Min menghentikan langkahnya, matanya terpaku menatap sesuatu atau tepatnya seseorang yang berdiri tak jauh darinya, seolah ia telah menemukan apa yang selama ini ia cari.

“sepertinya aku telah menemukan angin yang kucari”

.

.

.

Cinta itu seperti angin, hembusannya begitu pelan dan menyejukkan, menenangkan jiwa siapa saja yang merasakan ketulusannya .

.

.

.

Sudah hampir sebulan ini Sung Min mengenal sosok Park Chan Mi, gadis yang dilihatnya disalah satu sudut jalanan Apgeujong, saat itu Sung Min hanya merasakan angin menerpa hatinya, tak menghiraukan kebisingan-kebisingan disekelilingnya sekalipun itu suara Kyuhyun yang berdiri tak jauh darinya. Ia hanya merasakan angin menerpa seluruh sister syaraf ditubuhnya, memporak porandakan seluruh hatinya, membawa imajinasinya melayang ketempat yang paling indah dihidupnya, gadis itu pulalah yang membuat dirinya merasakan hembusan angin yang membawa aroma-aroma yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Gadis yang kini tengah berjalan pelan disebelah Sung Min menggosok-gosokkan kedua telapaknya, memberikan kehangatan pada telapak tangannya yang mulai terasa beku.

“apa angin musim gugur membuatmu kedinginan?” Tanya Sung Min dengan tawa kecilnya, angin diakhir musim gugur memang terasa semakin dingin menjelang akhir musim gugur seperti ini.

Gadis itu hanya terkekeh mendengar pertanyaan Sung Min, mencoba untuk memecah kecanggungan yang sedari tadi menyelubungi atmosfir diantara mereka, walaupun sudah hampir sebulan ini mereka saling mengenal satu sama lain, namun entah karena alasan apa gadis itu hanya merasa canggung jika berdekatan dengan seorang idol seperti Lee Sung Min disebelahnya.

Sebelum gadis itu membeku kedinginan karena ulahnya yang memang seenak hatinya mengajak gadis itu berjalan-jalan tanpa mengenakan mantelnya, mengingat saat itu Sung Min terlalu senang bisa menghabiskan sore hari ini bersama gadis itu. Sung Min segera melepas jaketnya dan menyampirkannya dibahu Chan Mi.

Gadis itu menghentikan langkahnya, memandang lekat-lekat jaket yang kini telah bertengger manis dipundaknya, membuat Sung Min yang melihatnya turut menghentikan langkahnya.

“pakailah Channie, aku tidak ingin gara-gara aku dengan seenaknya membawamu kesini, kau menjadi sakit” sahut Sung Min, seolah mngerti akan tatapan gadis itu, tak lupa ia memberikan senyum hangatnya, berharap gadis itu bisa merasakan kehangatan akibat senyumannya.

Chan Mi masih bergeming ditempatnya, ia sedikit mendongakkan kepalanya, menatap lurus-lurus Sung Min yang kini tengah berdiri dihadapannya “jika aku sakit itu bukan masalah besar oppa, tapi jika kau yang sakit jadwalmu akan terganggu, kau hanya mengenakan kaus seperti itu, nanti kau bisa sakit oppa” gadis itu mencoba berdebat dengan Sung Min, tangannya bergerak ingin melepas jaket Sung Min yang tersampir dibahunya, berniat mengembalikannya kepada pemiliknya.

Belum sempat gadis itu melepaskan jaketnya, kedua tangan Sung Min bergerak cepat menghalangi tangan mungil gadis didepannya “aku tidak akan sakit, karena aku mencintai angin. Aku yakin angin tidak mungkin membiarkanku sakit karenanya”

.

.

.

Hidup itu juga seperti angin, kadang hembusannya terasa begitu pelan dan menyejukkan, menenangkan jiwa siapa saja yang merasakan ketulusannya, tapi terkadang angin juga bisa menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, menjadi tornado yang bisa meluluh lantakkan permukaan bumi yang dilewatinya dalam sekejap.

.

.

.

“kau tidak pernah mencintaiku Channie?” suara Sung Min terdengar lirih, menambah rasa sakit yang kini bergejolak dihatinya.

Gadis yang ditanya hanya menundukkan kepalanya, menolak untuk menatap mata Sung Min, melihat mata sayu itu semakin membuatnya tidak bisa melakukan semua kebohongan ini, tapi semuanya harus terlihat jelas untuk mereka berdua, ia tidak ingin memberikan Sung Min harapan terlalu jauh, disaat ia tidak memiliki waktu yang lebih lama lagi untuk tetap berada disisi orang yang dicintainya, disaat hari semakin hari jantungnya semakin melemah.

“aku tidak pernah mencintaimu sedikitpun” gadis itu mencoba mempertahankan nada bicarannya setenang mungkin, ia tidak ingin suaranya terdengar bergetar dan membuat semua kebohongannya terungkap begitu saja.

“tatap aku, tatap mataku Channie, katakan kalau kau tidak mencintaiku, tatap aku Channie” ditengah deru emosinya Sung Min mengguncang-guncang bahu Chan Mi, meminta gadis itu mengatakan kalau gadis itu tengah bercanda saat ini.

Chan Mi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, membiarkan Sung Min melakukan apapun untuk menyalurkan segala emosinya, baginya ini semua lebih menyakitkan daripada penyakit yang dideritanya semenjak ia dilahirkan, ini jauh lebih sakit, saat pria yang kau cintai mencoba untuk mempertahankanmu disisinya, namun kau tidak bisa melakukan itu semua.

Sung Min menghentikan aksinya, ia kembali mendudukan dirinya, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, pria itu memang jarang sekali untuk mengeluarkan air mata, namun berbeda untuk kali ini, ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, membiarkan tetesan-tetesan bening itu mengalir dari pelupuk matanya.

Gadis itu tidak ingin melihat Sung Min tersakiti lebih jauh, dengan kasar ia menghapus air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya “aku harus pergi oppa, terima kasih untuk semuanya” gadis itu membungkukan badannya sekali sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Sung Min, orang yang dicintainya.

Dusta. Sedari tadi gadis itu terus berdusta untuk menutupi segalanya, ia bilang ia tidak pernah mencintai lelaki itu? Dusta, ia hanya tidak ingin Sung Min-nya itu bersedih saat melihat jasadnya terbaring dirumah sakit, ia menolak kemungkinan apapun jika transplantasi jantung yang dijalaninya esok hari gagal, ia menolak untuk menerima cinta Sung Min lebih dalam lagi, menolak untuk lelaki itu bersedih karena kehilangan dirinya untuk selamanya.

.

.

.

Hembusan angin kadang datang, kadang pergi, namun yakinilah, angin yang sama akan kembali datang menghampiri dirimu, membawa kesejukan yang sama atas kehadirannya.

.

.

.

“berhentilah membohongi dirimu sendiri”

Gadis dengan kursi roda itu tersentak mendengar pernyataan suara seseorang yang begitu dikenalinya. Ia tetap dengan posisinya, menatap bunga-bunga cosmos di taman rumah sakit ini tanpa berniat untuk berbalik menatap seseorang yang mengganggunya.

“bisakah kali ini kau jujur padaku?menarik kembali kata-katamu bahwa kau tidak mencintaiku? Katakan kau mencintaiku Channie, katakanlah, aku mohon, berhenti membohongi dirimu sendiri” suara pria itu terdengar lirih, sudah tiga bulan semenjak terakhir kali ia mendengar suara lirih yang terdengar serupa saat ia bertemu untuk terakhir kalinya dengan pria ini.

Sudah tiga bulan ia menjalani hidupnya sendiri, sudah tiga bulan ia mencoba untuk menghapus jejak kenangan dari orang yang dicintainya, ia tidak ingin semakin terpuruk karena ternyata perasaan cintanya hanya menjadikan beban untuk orang yang dicintainya. Menjadi beban untuk lelaki tercintanya. Lee Sung Min.

“aku tau aku yang melepasmu, tak sepantasnya untukku meraihmu kembali, masih banyak gadis yang lebih baik dariku diluar sana” untuk kedua kalinya gadis itu kembali berbohong, ia sadar ia hanyalah gadis yang baru saja mendapatkan transplantasi untuk jantungnya seminggu yang lalu, ia tidak ingin pria itu datang padanya hanya untuk mengasihaninya “pergilah oppa” lanjutnya dengan nada lirih, membiarkan air matanya menuruni pipinya.

“jika kau tidak mau kembali padaku, baiklah aku yang akan mendatangimu” kali ini Sung Min tengah berjongkok tepat didepan kursi roda gadis yang terdengar mencoba untuk menyembunyikan isakannya. Hatinya begitu sakit melihat Chan Mi, gadisnya itu menyembunyikan semuanya kesakitannya selama ini darinya, menyembunyikan penyakit yang dideritanya seorang diri, terlebih menyembunyikan perasaan cinta untuknya itu jauh didalam sudut hatinya. Itu semua membuat hati Sung Min seperti tercabik-cabik oleh hembusan tornado yang menghantamnya.

“aku akan menunggumu untuk mengatakan bahwa kau mencintaiku. aku akan selalu menunggumu, karena aku yakin kau seperti hembusan angin yang kadang datang, kadang pergi, namun aku akan selalu yakin bahwa angin yang sama akan kembali datang menghampiriku, membawa kesejukan yang sama atas kehadiranmu untuk mengatakan bahwa kau mencintaiku”

.

.

Jika ada yang mengatakan bahwa kau tidak bisa melihat angin, mereka salah, mereka semua salah.. buktinya aku bisa melihat angin. Percayalah angin itu cantik.

Pejamkan matamu, dan rasakanlah hembusannya saat menerpa kulitmu.

Angin memang tak kasat mata, namun kalian bisa melihatnya dengan mata hati kalian.

Ada hal yang terpenting agar kalian bisa memandang kecantikan angin, yaitu ketulusan untuk mencintainya. Apakah kalian bisa merasakannya?

Apakah angin itu cantik?

Ya, angin itu akan selalu cantik dimataku.

END