Yesterday2_Õ뻵£¼

Yesterday

Author                  : KimNa

Kategori               : Sad Romance

Rate                       : Bimbingan Orang Tua

Cast                       : Baek Yerin 15&

Park Jinyoung aka JR JJProject

Im Jaebeom aka JB JJProject

Park Jimin 15&

Length                  : 1-7 Part (15 Page)

Disclaimer           : jun-knnf233.tumblr.com

Summary            : Cerita antara kisah cinta yang rumit dan perselisihan keluarga.

*** 4 tahun yang lalu, Bandung, Indonesia ***

Matahari nampak mulai turun ke barat. Aku dan Jinyoung baru pulang dari rapat anggota Mading. Kami sedang membicarakan tema untuk hari kemerdekaan tahun ini. Sebelum pulang kami mampir ke supermarket sebentar. Tapi pada saat aku mencari dompetku, ternyata dompetku tidak ada! Ah benar! dompetku tertinggal di tas ransel sekolahku. Karena buru-buru aku lupa memindahkannya ke tas kecil yang kubawa sekarang. Aku pun membatalkan niatku membeli ice cream kesukaan ku. Padahal haus banget! huhu. Jinyoung nampak mengambil sebungkus eskrim kesukaannya kemudian pergi membayarnya. Tapi sesampainya di kasir, melihat aku yang tidak membeli apapun dia bertanya, “Yerin-ssi.. kau tidak membeli apa-apa? bukankah kau bilang kau ingin eskrim?”. Suaranya itu cukup keras sehingga kasir dan pengunjung yang antri di kasir menoleh kepadaku. Aish dasar Jinyoung! Kalo aku bilang aku tidak punya uang untuk membelinya aku sangat malu. “Tidak Jinyoung-aa, aku gak haus lagi” ucapku sambil memaksa tersenyum. “Oh ya sudah” jawabnya singkat. Aish, mendengar jawabannya aku agak kesal. Gimana bisa aku ga haus orang udah jalan 1 kilo! Jinyoung gimana sih ga bisa ngerti banget! Minimal dia nawarin lah buat beliin. “Dasar Jinyoung pelit!” omelku dalam hati.

Akupun berjalan keluar duluan karena kesal dengannya. Tak berapa lama ia pun keluar. Kami pun berjalan lagi. Aku jalan duluan dengan diikuti Jinyoung dibelakangku. Aku mulai menaiki anak tangga jembatan penyebrangan dengan langkah gontai. Tenggorokan aku udah kering bangeeet. Sesaat sebelum menaiki anak tangga selanjutnya Jinyoung menarik tanganku. Aku terkejut sehingga aku oleng dan ingin jatuh. Tapi sebelum aku jatuh, Jinyoung menangkapku. Dan posisi kami sekarang aku berada dalam dekapan Jinyoung. Aku terdiam sebentar. Perasaan ini datang lagi. Perasaan berdebar-debar yang cuma aku rasakan saat aku didekat Jinyoung. Akupun tersadar dan melepaskan tubuhku dari dekapan Jinyoung. Aku takut dia mendengar detak Jantungku yang sangat kencang. Tapi tangannya masih berada di punggungku. Saat aku melihat wajahnya ia nampak memejamkan matanya dan menarik nafas. Aku agak heran dengan tingkahnya itu. Gak biasanya Jinyoung bertingkah seperti itu. Ia nampak gugup. “Yerin-ssi, kamu tahu aku bukan orang yang pandai berbicara atau romantis, tapi… maukah kau menjadi yeoja-chingu ku?” ucapnya nampak lega kemudian tersenyum. Aku sangat kaget mendengarnya. Wajahku serasa panas dan mungkin sekarang wajahku terlihat seperti kepiting rebus. Dan melihat senyumannya, astaga, mana mungkin tega aku menolaknya? Apalagi aku memang menyukainya kan? hehe. Tapi aku pura-pura ngambek. “Ya! Seharusnya kau tau kalau yeoja-chingu mu ini kehausan! kau malah asyik makan eskrim sendirian” ucapku sambil memanyunkan bibirku. Ia hanya tertawa mendengar ucapanku. Aku yang bingung melihat tingkahnya kemudian bertanya, “Ya! kenapa tertawa?” ucapku kesal. Ia kemudian berhenti tertawa dan mengisyaratkan  dengan wajahnya agar aku membalikkan badanku kebelakang. Aku pun menuruti isyarat nya, dan.. betapa terkejutnya aku. Tangannya yang sedari tadi melingkar di belakang punggungku memegang 1 cup eskrim coklat ukuran sedang dan setangkai bunga mawar. Aku refleks menutup mulutku saking kagetnya. “Mana mungkin aku membiarkan yeoja-chinguku kehausan?” ucapnya sambil terkekeh pelan. Ia menyerahkan bunga itu dan membukakan cup eskrimnya lalu menyerahkannya padaku. Aku pun memakannya sampai habis. Ia yang melihat tingkahku hanya tertawa. “Yerin-ssi, aku tau kau sangat haus tapi makannya jangan berantakkan seperti itu” ucapnya. “Hah? benarkah? dimana yang belepotannya?” tanyaku agak panik. “Biar aku yang bersihkan”, jawabnya sambil memegang tanganku dan mencium bibirku. Di terangi cahaya matahari terbenam kami terdiam sejenak. Sekitar 5 detik ia kemudian melepaskan ciumannya. Aku hanya terpaku. Ini ciuman pertamaku. Walaupun kaget jujur aku sangat menyukainya. Ia kemudian tersenyum dan kembali menggandeng tanganku. “Ayo pulang” ajaknya. Aku pun balas mengenggam tangannya. Kami pun berjalan pulang meninggalkan tempat ini. Tempat ini akan menjadi tempat yang sangat berarti suatu hari nanti…

*** Januari 2012, 1 Minggu sebelum pertunangan Yerin-Jaebeom, Bandung, Indonesia ***

“Oppa, nanti kamu datang ke tempat om adi ya buat mencoba Jas yang kemarin sudah aku pilih” ucap Yerin dalam pembicaraan kami di telepon. “Iya sayang, besok pagi aku akan kesana” jawabku. “Sudah makan?” tanyanya. “Belum chagii, hari ini pekerjaan ku sangat banyak. Ada klien yang ingin beberapa lirik dalam lagunya diubah, aku belum sempat untuk makan”, jawabku. “Chagiyaa, kenapa kau melupakan hal terpenting seperti itu? Bagaimana kau bekerja dengan perut kosong?” rengeknya. “Ah gwaenchana, aku akan baik-baik saja chagiyaa, aku sempat memakan puding yang dibawakan klien tadi” jawabku berusaha menenangkannya. “Ani, itu tidak cukup chagii, aku gak mau kamu sakit sebelum hari pertunangan kita. Tunggu aku, aku akan kesana untuk membawakan calon suamiku makanan” jawabnya sambil terkekeh. “Mwo? jangan nanti kau repot, kau pulang saja, istirahat” jawabku. “Gak mau, calon suamiku tidak boleh menjadi kurus, bagaimana nanti jas yang aku pesan menjadi kebesaran untukmu, tunggu aku.. *ttut* ” jawabnya kemudian sambungan telepon terhenti. Aku pun hanya tersenyum kecil dan meletakkan Handphone ke atas meja. “Mas Jae, klien kita sudah datang” ucap asisten ku, Dimas. “Baiklah” jawabku sambil mengambil beberapa alat tulis dan buku musikku kemudian pergi mengikuti Dimas.

Satu jam berlalu. “Ya terima kasih Mas Jae, saya sangat suka kinerja Anda yang sangat cepat” ucap klienku. “Sama-sama pak, saya senang anda menyukai hasil pekerjaan saya” jawabku sambil menyambut jabat tangan beliau. Setelah mengantarkan beliau ke depan pintu gedung aku kembali ke ruangan ku di lantai 3. Aku melirik arloji ku. ”Seharusnya dia sudah sampai disini” ucapku dalam hati. Handphone ku berdering. Tampak nama Yerin terpampang dilayar. Aku segera mengangkatnya. “Chagiyaa eodiya?” sambarku langsung setelah menekan tombol ‘Answer’. Aku agak terkejut mendengar suaranya ditelepon. “Ya?…ya?…”, jawabku lalu aku segera menutup telepon dan berlari turun.

  tbc