Yesterday2_Õ뻵£¼

Yesterday

Author                  : KimNa

Kategori               : Sad Romance

Rate                       : Bimbingan Orang Tua

Cast                       : Baek Yerin 15&

                                   Park Jinyoung aka JR JJProject

                                   Im Jaebeom aka JB JJProject

                                   Park Jimin 15&

Length                  : 1-7 Part (15 Page)

Disclaimer           : jun-knnf233.tumblr.com

Summary            : Cerita antara kisah cinta yang rumit dan perselisihan keluarga.

*** Januari 2012, 1 Minggu sebelum pertunangan Yerin-Jaebeom, Bandung, Indonesia ***

Aku sedang berada diruang kerja ketika aku mendapat telepon dari nomor Yerin. “Chagiyaa eodiya?” sambarku langsung setelah menekan tombol ‘Answer’. Aku agak terkejut mendengar suaranya ditelepon. Ini bukan suara Yerin. “Maaf apakah anda mengenal orang yang memiliki nomor ini?” tanya  seseorang diseberang sana. “Ya?..”, jawabku. “Kami dari rumah sakit ingin memberi tahukan bahwa pemilik telepon ini mengalami kecelakaan, tolong anda menghubungi keluarganya segera, kami melihat anda adalah kontak terakhir yang dihubunginya” ucap mereka lagi. “Ya..” Jawabku segera lalu menutup telepon dan berlari turun. Aku membuka alarm mobilku dan mengemudikannya dengan laju menuju rumah sakit sambil terus menghubungi orang tua Yerin. Aku berusaha memberi tahu mereka dengan nada yang setenang mungkin agar mereka tidak panik. Sesampainya dirumah sakit aku segera berlari ke arah ruang Informasi dan setelah mendapatkan informasi yang aku perlukan aku segera berlari ke ruang ICU. Aku berhenti di depan pintu dan memandang seseorang yang berada di balik pintu itu sekarang. Kakiku seakan lemas. Bagaimana bisa orang yang berbicara denganku beberapa jam yang lalu dengan cerianya sekarang terbaring didalam sana dengan penuh alat bantu kehidupan ditubuhnya?. Aku tertunduk dan terjatuh. Airmataku seakan menggantung diujung mataku. Tak lama kedua orangtua Yerin datang dan menghampiriku. Diikuti Jimin, sahabat Yerin. Mereka bertanya-tanya padaku apa yang terjadi. Tapi aku seakan kehilangan tenaga untuk berbicara. Aku hanya diam menahan airmataku. Tak berapa lama dokter yang menangani Yerin keluar. Setelah berbicara beberapa saat dengan orang tua Yerin, ibu Yerin nampak berteriak histeris dan Jatuh Pingsan. Ayah Yerin pun nampak terpukul dan Jimin pun menangis. Dokter pun memanggil beberapa suster yang ada di sekitar sana untuk menolong Ibu Yerin dan Ayah Yerin pun mengikuti mereka ke arah ruang IGD. Aku masih terdiam disana. Menyesali sesuatu. Seharusnya aku bisa lebih kuat menahannya untuk tidak datang. “Arrrrrrggggghhhhhhhhh Yerin-aaaaaaahhh!!!” aku hanya bisa berteriak sambil menangis.

5 hari berlalu sejak Yerin koma. Tidak ada tanda-tanda kesadaran darinya. Ia tetap tertidur dan tidak bergeming. Aku teringat akan seseorang. Seseorang yang mungkin mampu membantu Yerin untuk sadar. Aku segera mencari nomor telponnya. Setelah menemukannya aku segera menghubunginya. Tak berapa lama menunggu akhirnya teleponku diangkat. “Halo?” sapanya. “Halo.. Jinyoung-ssi.. aku Jaebeom, kekasih Yerin-ssi” jawabku. “Ya ada apa Jaebeom-ssi?” jawabnya. Aku terdiam sejenak. “Jinyoung-ssi, bisa kah kau datang ke sini sekarang?” akhirnya aku melanjutkan pembicaraan.”Kemana?” tanyanya. “Ke rumah sakit sekarang” suaraku bergetar. Dia nampak kaget mendengar ucapanku. “Wae? Apakah terjadi sesuatu?” tanyanya dengan nada cemas. Diam sejenak. “Yerin-ssi..yerin-ssi kecelakaan.. dan sekarang ia koma..” jawabku sambil menahan isakanku. Kami kembali terdiam sejenak. “Bisakah kau segera ke sini” lanjutku lagi. Tak berapa lama terdengar nada teleponku diputus. Aku terdiam. Mungkin aku sudah melakukan hal yang benar, pikirku. Aku memasukkan handphone ku ke saku dan kembali berjalan ke ruangan Yerin.

*** Akhir Januari 2012, 1 Hari sebelum pertunangan Yerin-Jaebeom, Bandung Indonesia ***

Aku segera berpakaian dan mengambil kunci mobil dan berlari ke garasi. “Jinyoung-aa kau mau kemana pagi-pagi begini?” tanya eomma heran. Aku tak sempat menghiraukannya. Pikiranku benar-benar kacau sekarang. Aku segera mengeluarkan mobilku dari garasi. Aku mengendarai mobilku dengan laju menuju rumah sakit. Sesampainya disana aku segera menuju ruang ICU. Aku menemukan sosok-sosok yang tidak asing lagi bagiku didepan ruang tunggu. Aku menghampiri mereka. “Jinyoung-ssi” ucap Jaebeom saat aku menghampirinya. “Kau..” ucap Ayah Yerin memandangku. Ibunya nampak terkejut melihatku. Ia menghampiriku. “Apa kau putra Nyonya Park?” tanyanya dengan terbata-bata. “Ne..” jawabku singkat. Airmatanya pun tumpah. Ia tertunduk. “Mianhae aku telah melukai ibumu..” ucap ibu Yerin sambil menangis. Ayah Yerin menghampirinya dan berusaha menenangkannya. “Tidak Yerin Eommeoni.. Itu bukan salah anda..” Jawabku. Aku pun menjelaskan Apa yang terjadi 2 Tahun ini. Apa hubunganku dengan Yerin dan Bagaimana keluargaku. Jaebeom dan Jimin pun nampak kaget mendengar ceritaku. Saat kami sedang berkumpul tiba-tiba para perawat dan dokter berlarian masuk ke kamar Yerin. Kami pun panik dan segera mengikuti mereka. Nampak terdengar suara panjang dari alat pembaca detak Jantung Yerin. Tangisan Ibu Yerin nampak mengencang melihat putrinya sedang berjuang melawan maut didalam. Para dokter terus berupaya melakukan berbagai hal untuk menyelamatkannya. Nampak dokter sedang meminta suster memberi gel ke alat pembangkit detak Jantung. Ia kemudian meletakkannya di dada Yerin dan membuat tubuh Yerin tersentak. Namun masih tak kunjung ada reaksi. Nada panjang itu masih berbunyi. Beberapa kali mencoba mereka tetap gagal. Hingga akhirnya dokter menggelengkan kepalanya dan menyuruh suster melepaskan berbagai Alat bantu yang ada ditubuh Yerin. Jaebeom terjatuh dan Ibunya berteriak histeris. Ayahnya menangis. Jimin nampak menutup kedua mulutnya dengan tangannya. Berusaha menahan tangisannya. Dan aku, aku terdiam sejenak. Masih memandang ke dalam ruangan itu. Mereka nampak sibuk merapikan alat-alat yang ada disana. Dan nampak seorang suster menarik selimut Yerin dan menyelimutkannya hingga menutupi seluruh tubuh Yerin. Aku mendorong tubuhku masuk dan Para dokter dan perawat berjalan keluar. Aku berdiri disamping Jasad Yerin. Aku berlutut. Airmata yang kutahan sedari tadi akhirnya tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesali segala yang telah terjadi. Aku bahkan tak sempat menjelaskan kesalah-pahaman yang terjadi Antara kami. Bahkan aku tak pernah sempat mengatakan kepadanya aku Mencintainya. Bahkan sejak 5 tahun lalu. Aku menyesal. Sangat menyesal.

*** 1 Februari 2012, Hari Pemakaman Yerin (Hari Pertunangan Yerin-Jaebeom) Bandung, Indonesia ***

Para pelayat nampak terus berdatangan. Aku, Jaebeom, dan Jimin memilih duduk di bangku taman rumah Yerin. Kami saling berbagi cerita tentang Yerin. Dari semua cerita kami sangat tercermin bahwa Yerin adalah sosok yang menyenangkan. Ia begitu hangat kepada siapa saja. Walaupun dengan orang yang tidak dikenalnya. Jimin dan Jaebeom kemudian masuk ke dalam untuk membantu mengurus persiapan pemakaman dan menyapa tamu-tamu. Aku masih memilih duduk disini. Tak berapa lama aku bangkit dan berjalan-jalan mengelilingi Taman ini. Aku memandang tanaman-tanaman yang ada disini. Rapi dan Indah. Ku pikir yang merawat semua ini pastilah ibu Yerin. Saat sekolah dulu Yerin pernah merengek kesal saat sekolah kami mengadakan penanaman pohon. Ia bilang ia tak suka bercocok tanam. Karena ia takut cacing dan ulat. Tanpa sadar aku tersenyum mengingat kenangan itu. Aku terus berjalan. Tapi langkahku terhenti sejenak saat melihat tanaman bunga mawar dan potnya. Bunga mawar itu nampak layu. Mungkin karena sudah lama tak disiram. Tetapi pot bunga mawar itu membuatku tertegun. Potnya adalah cup eskrim yang aku belikan untuk Yerin saat aku menyatakan perasaan ku kepadanya 4 tahun lalu. Dan ada sebuah kartu dengan tulisan yang sudah usang terikat di tangkai bunga mawar itu. Aku mengambil kartu itu dan membacanya.

“Bunga mawar, aku sangat kecewa bunga yang diberikan Jinyoung minggu lalu sudah layu, jadi aku berniat menanam kembarannya.. hehe semoga dengan menanammu disini kau bisa tumbuh subur seperti cintaku untuk Jinyoung^^ Walaupun menanammu perlu perjuangan yang berat aku akan berusaha melindungimu dari cacing-cacing itu dan merawatmu^^ Berbunga yang banyak yaaaaa^^ -Yerinie-“

Air mataku tumpah membaca kartu itu. Betapa banyak penyesalan yang datang padaku kini. Aku mengambil pot itu dan berniat membawanya pulang. Saat berjalan keluar aku melihat ibuku dan ibu Yerin berpelukan. Ibuku menepuk pundak Ibu Yerin dan berusaha menenangkan tangisannya. Aku pun tersenyum. Setelah upacara pemakaman selesai aku memutuskan untuk bertahan sebentar dimakam Yerin. Aku meletakkan setangkai bunga Mawar di pusaranya. Aku berdoa sebentar. Setelah berdoa aku beranjak bangun dan mengusap pusaranya. “Yerin-aah, saranghae.. Jaljaa” Bisikku sambil mengusap air mata dan beranjak pulang..

tbc

Iklan