swing of love and friendship

Author  : Nalin_Lee

Tittle     : Swing of Love and Friendship

Genre   : Romance, and friendship

Tags       : Lee Sung Min, Lee DongHae, Cho Kyuhyun, Park Chan Mi (OC), and Lee Hae Mi (OC)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T.. mian typo hampir bertebaran dimanapun😀

kunjungi juga blog kita di www.mitwins.wordpress.com *numpang promosi😀

 

Swing of Love and Friendship

“ini ayunanku” seorang gadis kecil dengan sweater kuning cerahnya berdiri berdecak pinggang disebelah gadis seusianya yang tengah tertawa senang bermain dengan ayunannya, wajah manis gadis bersweater kuning itu terlihat sedikit tersamarkan karena sedikit keangkuhan yang kini lebih mendominasinya.

 

Merasa dirinya dipanggil gadis kecil dengan hoodie biru mudanya itu perlahan dengan kaki mungilnya menghentikan ayunannya yang tengah berayun, ia beralih menatap gadis bersweater kuning yang berdiri tak jauh darinya. “ada apa?” tanyanya dengan wajah polosnya.

 

“kau tidak mendengarku hah? Ini ayunanku, dan sebaiknya kau segera menyingkir dari ayunan ini, aku ingin memainkannya” teriaknya sebal, membuat anak-anak seusianya yang juga tengah asyik bermain di taman bermain disekolahnya itu kini menghentikan aktivitas mereka dan beralih menatap sumber keributan yang dibuat oleh gadis bersweater kuning itu.

 

“aku lebih dahulu disini, kau bisa memaikan ayunan yang lainnya jika kau mau” jawab gadis kecil itu santai, ia melirik sebuah ayunan lainnya yang memang tak ada yang memainkannya.

 

“Shireeooo, aku mau ayunan ini” gadis bersweater kuning itu tak memperdulikan tatapan anak-anak lainnya yang menatapnya kesal, masa bodoh dengan tatapan sinis mereka, yang pasti ia ingin ayunannya, dan anak itu menyingkir dari ayunannya.

 

Gadis berkepang dua itu hanya diam memandangi gadis itu, merasa diacuhkan  gadis dengan sweater kuning itu menarik paksa tangan gadis kecil yang masih mempertahankan ayunannya, anak-anak yang lain ingin berusaha melerai mereka, namun apa daya mereka sudah mengenal dengan jelas siapa gadis bersweater kuning itu yang memang bertingkah seenaknya sendiri.

 

“hentikan Channie”

 

Berulang kali anak-anak lainnya berteriak berusaha melerai, namun teriakan-teriakan itu tak digubris sedikitpun oleh gadis itu. Ia hanya ingin bermain dengan ayunan yang memang menjadi favoritenya di taman sekolahnya ini, itu saja. Kenapa yang lainnya terlalu mendramatisir keadaan seperti itu?

 

Brukkkkkkkkk..

 

Hening,,,

 

Mereka semua ternganga melihat kejadian yang sangat cepat terjadi diantara mereka, tak terkecuali gadis dengan sweater kuning itu yang juga terperangah karena aksi brutalnya sepersekian detik yang lalu, tatapan matanya kini berubah menjadi sebuah penyesalan melihat gadis berhoodie biru itu jatuh terjerembab bawah.

 

“Aigooo, apa yang kau lakukan hah?” keheningan itu lenyap seketika saat seorang bocah kecil segera menghampiri mereka dan dengan cepat mengangkat tubuh mungil gadis itu yang sedang meringis kesakitan saat menyadari luka-luka kecil dilututnya akibat berbenturan dangan pasir.

 

“a..a..aku tidak sengaja melakukannya” sahut gadis yang diteriaki itu gugup, sebenarnya ia tidak ingin membuat teman sekelasnya itu jatuh, hingga membuatnya terluka seperti itu, ia hanya menarik lengan gadis kecil itu agar gadis itu agar segera menjauh dari ayunannya. Hanya itu saja, Walaupun banyak dari teman-temannya sekelasnya yang menganggap ia angkuh, namun ia tidak sejahat itu untuk melukai temannya sendiri.

 

“naneun gwaenchanayo” gadis berhoodie darkblue itu hanya tersenyum, mengacuhkan bocah kecil dihadapannya yang terlihat sangat khawatir.

 

Lagi, bukan kata itu yang ingin didengar gadis bersweater kuning itu sedari tadi, ia rela mendapatkan teriakan maupun omelan yang memang pantas dialamatkan padanya karena sikapnya tadi, tapi ternyata gadis itu memaafkannya begitu saja?

 

“Ayoo kita keruang kesehatan, lututmu berdarah” bocah kecil itu berusaha mebopong gadis kecil itu untuk berdiri, namun gadis itu malah meringis kesakitan.

 

Merasa iba, gadis kecil dengan sweater kuning bermotif bintang itu ikut mengulurkan tangannya, berniat membantunya untuk berdiri, walau bagaimanapun ini semua salahnya, ia tidak akan lari dari tanggung jawab begitu saja.

 

“kau mau apa hah? Belum puas kau membuatnya seperti ini? Lebih baik kau segera menjauh dari sini” bocah laki-laki itu menepis tangan gadis itu kasar, membuat gadis kecil itu hanya menatap nanar kearahnya. Bocah itu akhirnya berjongkok, ia harus menggendong gadis itu agar segera diobati “cepat kau naik, lukamu bisa infeksi nantinya”

 

Dengan ragu akhirnya gadis itu memposisikan tubuhnya dipunggung bocah itu, merasa posisinya sudah benar, bocah itu bangkit berdiri, berjalan meninggalkan taman bermain menuju ruang kesehatan, menghiraukan tatapan gadis-gadis kecil seusianya yang menatap iri kearah mereka.

 

Masih dengan perasaan bersalahnya, gadis kecil dengan sweater kuningnya itu terus menatap kepergian mereka. Hatinya ikut merasakan sakit saat melihat darah dari lutut gadis kecil itu.

 

“kau jahat” beberapa orang kerumunan gadis kecil melempar sebuah kerikil kearah gadis bersweater kuning itu yang masih menatap kepergian gadis berhoodie biru dengan rasa bersalahnya. Saat merasa ada beberapa kerikil kecil yang sengaja dilemparkan kerumunan gadis-gadis seusianya itu, ia hanya terdiam mematung ditempatnya sedari tadi, kelopak mata cantiknya ia biarkan tertutup rapat-rapat membiarkan mereka semua melakukan itu kepadanya. Ia tau ia yang salah, ia pantas mendapatkan hukuman seperti itu.

 

“hentikaaaannnnnn”

 

Teriakan melengking dari seorang bocah laki-laki, dan lemparan kerikil-kerikil yang telah terhenti mengenai tubuhnya, gadis kecil itu segera membuka matanya melihat apa yang baru saja terjadi saat ini.

 

“aku tau Chan Mi tak sejahat itu untuk melukai Hae Mi, aku yakin Channie-ku pasti tidak sengaja melakukannya” seorang bocah kecil dengan kaus pink terangnya yang entah sejak kapan berdiri didepannya. Berdiri dengan kedua lengannya yang terangkat kesamping, seolah memberikan perlindungan kepada gadis bersweater kuning itu.

 

Gadis itu hanya tercengang melihat punggung tegap itu berdiri didepannya, walaupun ia hanya bisa melihat punggung seorang bocah kecil dengan kaus pink terangnya itu, namun ia sudah tau siapa sosok yang sekarang berusaha membelanya.

 

“tapi Sung Min oppa, gadis angkuh itu sudah membuat Hae Mi telluka sepelti itu“ seorang gadis dengan suara cadelnya itu mencoba protes kepada lelaki berkaus pink yang dipanggilnya Sung Min opaa itu.

 

“Semua orang mengataiku jahat, aku tak bermaksud sedikitpun untuk melukainya, aku hanya…” setelah sekian lama terdiam, gadis yang masih setia berdiri dibelakang Sung Min itu kini mencoba untuk mengeluarkan suaranya. Suara yang hampir terdengar seperti bisikan itu terdengar bergetar. Apa dia menangis? Seorang gadis seperti Park Chan Mi menangis? Mustahil.

 

“aku mengerti, aku percaya padamu” bocah itu ikut berbisik  tepat ditelinga Chan Mi, ia tersenyum riang dan menepuk-nepuk pelan bahu gadis itu berusaha untuk menyemangatinya.

 

Sung Min kembali berbalik, menatap kerumunan anak-anak sekelasnya itu dengan tatapan tegasnya “sekarang kalian bubar, atau kalian semua aku laporkan Kim Seongaengnim“

 

Dengan diiringi teriakan riuh anak-anak yang masih berkerumun itu, akhirnya mau tak mau mereka membubarkan diri mereka masing-masing, menuruti apa yang baru saja ketua kelas mereka perintahkan. Kembali sibuk dengan permainan mereka yang sempat tertunda akibat ulah menyebalkan yang tak sengaja Chan Mi lakukan.

 

“kau mau menemaniku?” suara itu kembali terdengar saat kerumunan itu membubarkan diri. Masih dengan nada yang sama. Seolah ia begitu menyesal telah melakukannya.

 

“kemana?”

 

“keruang kesehatan, aku ingin minta maaf pada Hae Mi. kau mau menemaniku?” tanyanya lagi. Gadis itu menatap Sung Min dengan tatapan mata penuh harapnya.

 

“ne, kajja” dengan santainya Sung Min -bocah kecil itu- menarik lengan Chan Mi untuk segera mengikutinya keruang kesehatan.

 

“Keundae…” Chan Mi menghentikan langkah kaki mungilnya begitu saja, membuat Sung Min mau tak mau ikut menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap gadis manis bersweater kuning itu dengan tatapan heran.

 

“A..aku takut Dong Hae kembali memarahiku” kali ini gadis itu menundukkan kepalanya takut-takut, bahkan ia masih sangat mengingat dengan jelas beberapa menit yang lalu saat bocah sekalem Dong Hae bisa sebegitu menakutkankannya jika terlihat marah seperti itu.

 

“kau tenang saja, aku akan kembali memarahi ikan koi itu jika ia berani membentakmu” ujar Sung Min tenang, tangannya terulur mengacak poni Chan Mi seolah memberikan sentuhan menenangkannya, tak lupa senyum manisnya yang tak pernah lupa ia berikan kepada gadis itu membuat ketakutan yang sempat terlintas difikiran Chan Mi segera tergantikan saat menatap senyum kelinci bocah yang seolah kembali memberinya suntikan semangat untuknya.

 

“Ne, kajja..”

.

.

.

 

“untuk apa kau membawanya kesini hyung?” Tanya bocah kecil itu dingin, ia masih sibuk dengan obat merahnya saat ia melihat Chan Mi dan Sung Min memasuki ruang kesehatan, membuat gadis itu menghentikan langkahnya mendengar suara ‘tak bersahabat’ Dong Hae yang terdengar seperti menusuk-nusuk hatinya.

 

“Aishhh, kau diamlah Lee Dong Hae, ia tak sejahat seperti yang kau kira” seru Sung Min cepat.

 

“ia memang jahat Sung Min hyung, kau tidak perlu berteman dengan orang jahat sepertinya” balas Dong Hae lagi. Ia segera menempelkan plester luka antiseptic pada luka-luka kecil dilutut Hae Mi.

 

Tak mau berdebat lebih jauh dengan bocah ikan itu, Sung Min mengeratkan genggaman tangannya ditangan Chan Mi, seolah memberikan isyarat kalau ia tak perlu menanggapi omongan menyakitkan Dong Hae. Sung Min kembali menarik tangan mungil Chan Mi untuk kembali mengikutinya berjalan mendekati Hae Mi yang duduk ditepi ranjang kecil disudut ruangan bercat putih gading itu.

 

“aa..aku minta maaf. Jeongmal. jeongmal mianhae” berkali-kali Chan Mi membungkukkan badannya tepat dihadapan Hae Mi.

 

Sung Min yang berdiri dibelakangnya hanya terkekeh geli, melihat Chan Mi membungkkukan badannya seperti itu mengingatkannya akan ponsel flip yang biasa digunakan eommanya. Terlihat seperti itulah Chan Mi sekarang ini. hihihihi

 

“kau tidak salah, justru aku yang tak hati-hati tadi, jika saja aku tak membuatmu kesal dan segera beranjak dari ayunan itu mungkin aku tak akan jatuh seperti itu tadi” seulas senyum gadis berhoodie biru itu membuat Chan Mi akhirnya merasa lega, seolah kekhawatirannya sedari tadi menguap begitu saja.

 

“kau memaafkanku?”

 

“ne”

 

Gadis dengan sweater kuningnya itu mengulurkan tangan kanannya. Walaupun sudah hampir dua tahun ia bersekolah ditaman kanak-kanak ini dan  dua tahun pula ia berada dikelas yang sama dengan Hae Mi, namun mereka tak pernah berkenalan secara resmi sekalipun. “Namaku Park Chan Mi, aku..”

 

Belum selesai gadis itu memperkenalkan dirinya, gadis berhoodie biru itu tertawa ringan “aku tau kau Park Chan Mi. Gadis kecil penyuka warna kuning. Dan aku bisa mengenalmu karena kau adalah gadis yang terkenal diantara murid-murid lainnya” potong Hae Mi cepat.

 

“Aku? Terkenal?” awalnya gadis kecil itu heran mendengarnya, bagaimana bisa ia menjadi terkenal diantara anak-anak lainnya jika mereka saja tak mau berteman dengannya? Selang beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu “apa kau mau bilang aku terkenal diantara murid-murid lainnya karena keangkuhanku?”

 

“Ahh,, aniyo. Aniyo” potong gadis itu cepat, kepalanya ikut bergerak kekiri dan kekanan, membantah apa yang baru saja gadis itu fikirkan “kau tau? Gadis-gadis lainnya yang bilang begitu hanya iri melihatmu. Walaupun kau terlihat angkuh dimata mereka, tapi kau tetap saja terlihat cantik. Bahkan banyak namja disekolah kita yang mencoba untuk mendekatimu, kau saja yang tidak peka. Cho Kyuhyun, bocah PSP itu bahkan terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukaimu”

 

“Jincha?” Tanya Chan Mi yang seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya, yang ia tau teman-temannya yang notabene-nya kebanyakan perempuan memang menjauhinya. Itulah sebabnya ia lebih memilih bermain dengan anak laki-laki yang seumurannya, bahkan sudah hampir 2 tahun ia bersekolah di taman kanak-kanak ini ia tak mempunyai satupun teman perempuan.

 

“Ne, kau tak percaya padaku?”

 

Chan Mi hanya menggeleng cepat.

 

“Lihatlah namja yang berdiri dibelakangmu saat ini. Kau tak melihat kalau Sung Min juga terang-terangan menyukaimu?”

 

Dengan cepat Chan Mi segera menolehkan kepalanya kebelaknag dan menatap bocah dengan kaus pink-nya yang tersenyum lebar, memperihatkan deretan gigi kelincinya yang tersusun rapi “aku memang menyukaimu” bisiknya pelan.

 

“aku Lee Hae Mi” gadis itu balas mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Chan Mi yang masih terulur sedari tadi, mebuat Chan Mi kembali menatap Hae Mi yang kini telah berdiri tepat didepannya, sepertinya gadis itu sudah terlihat membaik.

 

“Dan aku Lee Sung Min” namja berkaus pink itu tanpa diminta ikut mengulurkan tangannya, meraih tangan Chan Mi dan Hae Mi secara bersamaan dengan kedua tangannya.

 

“Aishhh,, kau memalukan hyung, mana ada orang yang menjabat tangan kedua orang sekaligus seperti itu?” Dong Hae yang sedari tadi diam akhirnya membuka suaranya kembali dan tanpa sungkan DongHae menjitak kepala Sung Min, teman sekelasnya yang memang lebih tua beberapa bulan darinya itu.

 

Setelah menghadiahkan sebuah jitakan manis dikepala namja imut itu, kini Dong Hae mengulurkan tangannya tepat dihadapan Chan Mi “Lee Dong Hae imnida. Aku juga minta maaf karena membentakmu tadi” kali ini suara Dong Hae lebih terdengar ‘bersahabat’ ditelinga Chan Mi. membuat gadis itu kini tersenyum senang melihatnya.

.

.

.

Insiden kecil itu membuat seluruh hidupku berubah, aku baru menyadari bahwa tak semua orang membenciku. Walaupun banyak celaaan, caci maki, dan kebencian diluar sana. Namun aku bersyukur masih ada orang-orang yang tulus menyayangiku. –Park Chan Mi-

 

Bahkan jika seluruh dunia menjauhiku karena pilihanku untuk bersahabat dengannya, aku rela melakukan itu. Yang aku tau, mereka hanya iri melihatku memiliki sahabat sesempurna Chan Mi dalam hidupku. –Lee Hae Mi-

 

Didunia ini banyak yang terlihat memang pada tak semestinya. Dibalik sisi angkuhnya, aku tau dan aku sangat yakin banyak sisi baik yang ia miliki. Dan satu hal yang baru aku ketahui di dunia ini. Walaupun banyak orang yang membenci seseorang, aku tau mereka semua hanya merasa iri hati pada orang itu. Itulah manusia, merasa dirinya yang terbaik dengan menjelekkan orang lain dan menganggap dirinya sempurna. –Lee Dong Hae-

 

Yang aku tau aku hanya mencintainya. Seburuk apapun orang lain mengatainya. Namun ia tetap yang terbaik dimataku. Tak salah hatiku memilih dirinya untuk ku cintai. –Lee Sung Min-

END

Note: gaje kah? Jelek? Atau membosankan? Huhuhu, mian kalau ceritanya rada gaje gini