Guardian

Guardian Life, My Guardian Love

Author                        : Riiku

Cast                 : Shin Miwoo (OC), Kim Jongwoon

Genre              : Romance

Rating             : PG-17

Leght               : Oneshoot

Aku terinspirasi dari dorama Jepang, “Nazotoki wa diner”. Karakter mirip, konsep kisah awal mirip, tapi kisah utama romancenya jelas berbeda. Alurnya mundur maju mundur nih. Liat2 tanggalnya okey…^^

Pernah aku posting tentunya di blog pribadiku, http://riikuclouds.wordpress.com. Di blog aku itu FF-nya banyak cast yeppa, tentu saja, karena aku istri yeppa…hahaha! *digeplakin clouds*

Sudahlah..cek this out!

Aku hanya tidak bisa membiarkan dirinya terlepas sejenak dari pengawasanku. Aku sudah terlanjur ketergantungan untuk menjadi penopang hidupnya selama ini. Aku lebih rela menyumbangkan hidupku demi kebahagiaan dan kesenangan dirinya. Shin Miwoo, ia terlalu penting bagiku. Aku tidak dapat menggambarkannya betapa pentingnya ia. Yang jelas, bersamanya selama ini adalah kecukupan yang sangat berharga bagi hatiku.

(Kim Jongwoon)

Cheonan, 10 Januari 2013. 10.24 pm KST

Miwoo POV

Aku berlari cepat tanpa berhenti. Saat ini aku merasakan himpitan yang menghalangi nafasku dengan baik. Sesak. Sejenak saja aku berhenti, habis sudah semua yang telah aku lakukan selama ini. Aku..belum mau mati!

“Berhenti kau!!”

Teriakan itu sangat keras dan seolah mengintimidasiku. Tapi aku berharap ketakutanku saat ini tetap berada di titik terendah diriku. Aku harus terus berlari. Membawa semua ini tanpa ragu. Aku bersumpah jika aku berhasil terlepas dari keadaan ini, aku tidak segan menguliti mayat pria brengsek yang mengejarku ini.

“Berhenti!!”

Aku berlari sampai ke suatu padang ilalang yang luas. Suasana perdesaan ini begitu sepi dan mudah sekali menemukan hutan atau padang ilalang. Aku memaksakan menembus tegaknya daun ilalang itu demi terus menghindarinya sambil memegang erat benda yang sangat berharga, baik baginya maupun bagiku. Sebuah kamera SLR yang telah menangkap adegan penyiksaan terakhir dari pria yang sekarang mengejarku tanpa ampun. Rongga dadaku serasa kosong. Aku kesulitan mengisinya dengan oksigen yang tidak mudah kuhirup bebas jika sedang berlari.

Kesulitan bernapas ini membuatku tidak fokus dalam bergerak sehingga dengan mudahnya, kakiku terjerat kumpulan sampah yang membuatku segera terjatuh merasakan lekukan tanah yang tidak rata. Sakit! Pria yang tadi mengejarku, menyeringai puas melihatku terjatuh, ia perlahan melangkah mendekatiku dengan maksud menakutiku. Sebisa mungkin, ketakutan di sisi paling bawah nyaliku aku tahan agar tidak naik hanya karena ancaman dan seringaian kejamnya.

“Mau kemana kau gadis kecil…? Serahkan kamera itu padaku..!”

Aku merasuk mundur pelahan. Ketakutan itu mulai naik ke tingkat lebih tinggi. Namun, ketika mataku menangkap gerakan cepat seseorang yang berlari mendekat ke arah sini, tanpa sadar aku ikut menyeringai hingga menurunkan kembali titik ketakutanku sampai ke dasar nyaliku cepat. Aku tersenyum. Seorang yang berlari itu memang selalu datang di saat aku membutuhkannya. Ia, namja yang selama ini mengisi hari-hariku sebagai penjaga setia aktivitasku, seorang bodyguard setiaku, pengawal hidupku, sekaligus pria yang paling utama dalam hidupku. Suamiku tercinta, Kim Jongwoon.

DUK BUAGH

Aku tidak mengerti hanya sebuah kaki yang melayang tepat ke belakang kepala itu seketika membuat pria pengejarku ini runtuh. Ia meringis kesakitan memegang kepalanya lalu berakhir menutup mata tidak sadarkan diri. Nafasnya masih terlihat dari gerakan tubuhnya menandakan pria itu masih hidup. Lalu, namja yang berada di hadapanku yang sekarang membelakangiku ini, menggerakkan kepalanya ke samping sehingga aku dapat melihat sebagian wajahnya dari samping.

“Agashii, gwencana…?” suara baritone itu terdengar sangat lembut seiring suara tiupan angin yang menerpa lembut ilalang. Mereka bergoyang ceria seolah mengekspresikan diriku yang memang sangat senang dan melayang hanya karena mendengar suara dan menatap mata tajam itu dari samping.

“Gwencana..” jawabku tidak menghentikan sedikitpun senyumku. Ia masih melirik sambil memunggungiku. Aku mengangkat kamera dalam genggamanku menghadapnya seolah memberitahukan bahwa aku berhasil. Matanya yang menyipit karena tersenyum itu membuatku nyaman.

ooo

Jongwoon POV

“Oppa…” panggilnya. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat langkahnya yang terseret-seret kecil. Mungkin karena tadi ia terjatuh. Untuk kesekian kalinya aku tersenyum lagi karena gadis ini.

Gadis yang menjadi sandaran hatiku, yang juga menjadi tumpuan hidupku selama ini. Ia adalah agashii-ku. Cucu tunggal dari majikan atau tuan besarku. Tuan besar yang merupakan teman baik kakek. Aku bekerja sebagai pengawal pribadinya sejak lima belas tahun yang lalu. Bukan karena tanpa alasan aku mau bekerja di sana. Aku sebenarnya juga anak yang terbilang cukup kaya dan memiliki kedudukan jelas dalam garis keturuan penerus perusahaan appa.

Aku  bekerja pada tuan besar, kakek Shin Ah Hyun, hanya bermaksud menghabiskan waktuku bersama gadis ini, Shin Miwoo. Selalu bersama dengannya, memang membuatku ketergantungan dengan dirinya. Begitupun ia, setiap pekerjaan yang dilakukannya, bisa dikatakan tidak pernah selesai dengan baik tanpa bantuanku.

Tapi itu dulu. Sekarang statusku berbeda. Aku adalah pria yang akan selalu mengisi hidupnya. Begitupun dengannya, ia adalah gadis satu-satunya yang akan dan selalu mengisi hari-hariku, kehidupanku, nafasku, dan seluruh pikiranku. Dia adalah istriku tercinta, Shin Miwoo, ah, ani, Kim Miwoo.

Meskipun sekarang status kami telah jelas, kami masih saja tetap menjalani kehidupan seperti ini. Ia yang bergerak cepat mengejar pelaku setiap mendapatkan jawaban kasus dariku, selalu berakhir aku tolong ketika pelaku mulai hendak membahayakan dirinya. Aku, memang selalu menjadi pelindungnya sampai sekarang. Pengawal hidupnya.

“Kau bilang kau tidak apa-apa…” Aku menghampirinya dan kemudian berjongkok di depannya. Aku melihat luka di lututnya dan sepertinya, sendal yang dipakainya juga cukup menyiksa karena membuat kakinya lecet.

“Aku memang tidak apa-apa.” Ia menghentakkan kakiknya kasar menjauhiku yang tadi menyentuh kakinya untuk melihat lukanya. “Aku hanya mau kau jangan berjalan terlalu cepat. Kondisiku sedang tidak memungkinkan berjalan cepat.” gerutunya.

Aku berdecak menatap wajah sungutnya padaku. Malas berkelit dengannya, untuk memutar balik tubuhku sebagai isyarat padanya agar diam dan memilih kugendong. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya bingung.

“Tentu saja menawarkan bantuan, agashii…”

“Kau ini! Masih saja sok formal begitu! Aku ini siapamu hah?!” hentaknya.

“Arasso. Kau istriku yang sangat cerewet. Sudahlah jangan banyak bicara. Cepat naik. Shin Miwoo pabo!”

“Ish! Kau yang pabo! Tidak mau! Kau pasti berkeringat dan bau karena tadi sudah berlari-larian mengejar penjahat itu dan aku. Jadi pasti… Kyaaa!!” Aku tidak mempedulikan gerutuannya. Aku menariknya saja langsung hingga ia akhirnya terjatuh di punggungku dan dengan cepat aku menarik kedua kakinya sebelum berdiri.

“Ya!! Kau ini suka seenaknya saja Kim Jongwoon pabo!” Ia memukuli pungungku pelan dan kakinya meronta.

“Aku turunkan di sini lalu kau ku tinggal?!” gertakku. Ia masih memukuliku, bahkan berani menjambakku. “Argghh!!” Aku merintih sakit dan dengan cepat menyingkirkan tangannya di kepalaku itu sampai akhirnya melepas gendonganku darinya hingga membuat ia terjatuh lagi.

“Ya!! Jongwoon pabo! Huaa… Aku terjatuh lagi…”

“Salahmu sendiri kenapa meronta saat kugendong! Makanya diam!”

“Tidak mau!! Huaa.. Kau jahat!! Aku benci!!” Ia merasuk bangun dan tertatih menghampiriku dan memukuliku lagi. Aku menghela nafas. Menghadapi gadis ini yang selalu bersikap manja dan aneh jika sudah kelelahan, memang sudah biasa bagiku.

Aku menarik cepat kedua tangannya dan kugenggam erat. Ia nampak terkejut membesarkan matanya. Tanpa menunggu reaksi darinya, aku tersenyum smirk dan mencium sekilas bibirnya. Seperti biasa, setelah ini, ia pasti diam membeku. Saat seperti ini, aku akan dengan mudah mengendalikannya. Aku langsung memutar badanku dan mengaitkan kedua tangannya ke leherku. Kuraih kakinya hingga ia akhirnya jatuh dalam gendonganku. Tanpa sadar aku tersenyum saat ia menyandarkan kepalanya di punggungku.

“Nappeun namja! Kau senang kan selalu bisa mengendalikanku..?!” Ia mengeratkan pegangannya di leherku.

“Tentu saja. Aku adalah pengawal hidupmu, pengawal cintamu.” ucapku percaya diri.

“Ish. Percaya diri sekali kau! Tidak ada jatah malam ini!”

“Mwo?! Aku kan sudah membantumu, chagi…” rengekku memberikan penekanan mengejek pada kata terakhir tadi.

“Hentikan meledekku!”

“Hahaha…” Aku tertawa puas mendengarnya yang terus menggerutu. Entahlah, aku sangat menyukainya jika kami seperti ini. Rasanya sangat menyenangkan hidup bersamanya. Shin Miwoo, kau tahu, aku akan selalu menjadi pengawal  hidupmu, pengawal cintamu!

Rollingback Time…

Seoul, Desember 2012

Shin’s Home, 07.00 pm KST

Miwoo POV

Aku menata kembali foto-foto yang telah kucetak. Laptop yang berada di hadapanku masih menyala tanpa aku gubris sedikitpun. Mataku lebih fokus mengamati satu persatu foto lalu beralih ke berkas dan laporan yang berbentuk catatan rumit ini. Aku mengeluh dan menghela nafas saat aku tidak juga menemukan pencerahan apapun. Kasus ini terlalu rumit!

“Agashii, apa ada yang bisa aku bantu…?” Aku menghela napas lagi. Saat ini jelas hanya dan aku dan namja ini di ruangan pribadiku. Tapi ia masih memanggilku dengan sapaan hormat yang menurutku sangat menyebalkan!

“Aku kan sudah pernah bilang, jika tidak ada siapapun, kau bebas memanggil namaku. Hentikan bersikap sok formal begitu!”

“Mian. Aku hanya kebiasaan. Habisnya, aku jengah melihatmu sejak tadi hanya membolak-balik berkas tanpa menuliskan solusi apapun di laptopmu.” Ujarnya santai. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang pinggangnya seraya mengintip ke arah meja dimana banyak peralatan kerjaku berserakan.

“Kau tidak tahu sih, ini kasus yang sangat sulit!”

“Jinja…? Apa kali ini kau belum menemukan tersangkanya LAGI? Atau, tidak ada bukti kuat untuk tersangka LAGI?” Tanyanya terdengar antusias sekaligus mengejek. Aku mendelik sebal. Aku memalingkan cepat wajahku meghadapnya yang masih berdiri setia di belakangku tadi. Beruntung aku duduk di kursi geser yang mudah sekali berputar-putar dalam hitungan detik.

“Ne.. Aku belum menemukan tersangkanya. Wae? Apa kau berpikir aku bodoh? Ani..aku tidak bodoh. Kau mungkin bahkan tidak akan bisa menemukan petunjuk kasus ini… Meskipun kau sering membantuku, tapi, aku rasa… Ini tidak akan mudah bagimu.” Jelasku sombong lalu membalikkan kursiku kembali berkutat dengan pekerjaan di mejaku.

Selalu begini. Ketika aku kesulitan mencerna kasus yang terjadi, pengawal setiaku ini sering mengalihkan diri dan membantu banyak untuk penyelesaian kasus. Bahkan bisa dikatakan, hampir semua kasus, ia yang selalu memecahkannya. Bukannya aku tidak suka dibantu, tapi, ini benar-benar menjatuhkan harga diriku. Aku ini asisten detektif! Kenapa aku bisa kalah hanya dengan seorang pengawal pribadi?!

Aku, Shin Miwoo, adalah salah satu dari asisten detektif swasta yang memiliki nama yang cukup terkenal di Korea, Park Jin Young, alias JYP. Detektif yang katanya ternama, keren, ambisius dan tampan. Cih! Kata terakhir tadi sunguh tidak rela aku ucapkan! Detektif itu memang  terlalu dan sangat bodoh untuk menyelesaikan setiap kasus. Kadang setiap kegiatan investigasi hanya berakhir pada analisa dangkal dan gayanya yang sok rupawan!

Setiap ada kasus, aku harus repot mengikuti gerakannya mencari petunjuk yang kadang tidak berguna apapun. Sekali lagi, ia hanya berlagak sok heroik dan sok keren setiap menemukan bukti. Terkadang, asumsi dan dugaannya terlalu ‘simpel’ untuk disebut sebagai analisis. Satu hal lagi yang aku tidak suka dari detektif jelek itu. Ia selalu berlagak seperti bangsawan kaya. Padahal, ia tidak pernah tahu kalau aku lebih kaya darinya. Ya, aku adalah cucu tunggal Shin Ah Hyun, kakekku yang merupakan direktur utama S.A.H Coorporation yang memiliki kekuasaan dan nama terkenal di seluruh jagat Korea, bahkan sudah sampai ke negara-negara tetangga.

Seperti biasa, ketika aku membawa sekian banyak petunjuk ke rumah ini, mencoba menganalisisnya, pastilah pengawalku ini, Jongwoon, selalu mengambil alih dan bahkan ia selalu berhasil memecahkan kasusnya! Merasa saat ini aku jengah karena ia selalu berhasil, aku sekarang enggan memberitahukan padanya soal kasus kali ini.

“Kau tidak mau dibantu, Miwoo-ah..?” tanyanya lagi. Aku merasakan sedikit hembusan nafasnya mendekatiku hingga mengenai tengkukku. Aku sampai terlonjak terkejut dan membalik menjauhkan diri. Ternyata ia sedang memperhatikan isi catatan dari laptopku. Membuat jantungku nyaris copot saja karena perlakuan anehnya tadi.

“Ya..apa yang kau lakukan?!” tanyaku setengah berteriak. Tanpa menghiraukan ucapanku, ia malah dengan santainya mengambil catatan yang kupegang. Ia membalik-balikkan dan membacanya sejenak. Lalu, ia melihat foto-foto dari penemuan di TKP. Tidak ada komentar apapun, hanya wajah seriusnya yang berdiri di sampingku duduk. Aku menyernyit saat ia tiba-tiba menyernyit membaca kasusnya.

“Apa… Kau menemukan sesuatu?”

Ya?! kenapa aku malah bertanya padanya! Aku kan berencana tidak mau membuatnya menyelesaikan kasus lagi!? Merasa aku telah salah, aku menutup mulutku panik dan satu tangankku lagi merebut kasar catatan di tangannya yang sedang ia baca. Ia tersikap.

“Aku sedang tidak ada mood meladeni aksi penemuanmu dalam kasus yang kutangani. Jadi, mian aku harus menyembunyikan darimu.” Ucapku sombong lalu berdiri sambil menutup laptop dan membereskan peralatan di meja. Saat aku hendak berlalu meninggalkannya, ia menarik kedua bahuku dan memaksaku duduk kembali di meja tadi. Lalu, ia mengambil laptopku, kertas-kertas catatanku dan peralatan lainnya. Ia meletakkan semua di meja samping ranjangku.

“Geure..sekarang, kau harus makan malam dulu sebelum tidur…” Ia tersenyum.

ooo

Aku masih menatap laptop di pangkuanku sekarang. Mataku menatap fokus ke catatan kasus yang telah dibuat. Memainkan gerak tanganku mengusap touchpad laptop ini tidak terarah, atau sekadar melayangkan pikiran semrawut mencoba menerka dan mencerna setiap celah informasi apapun agar bisa memberiku petunjuk.

“Shin Miwoo… kapan kau akan tidur jika masih berkutat di depan laptop begitu…?” Aku tidak menghiraukan ucapan namja yang berdiri di samping ranjangku ini.

Tiba-tiba aku menghentikan gerak tanganku saat laptop itu dengan mudah ia geser menjauh dariku. Lalu, tanpa dosa ia menarik baterainya hingga akhirnya mati. Aku menatap bengis padanya.

“Ya!!” Amukku. Ia meletakkan santai laptopku di atas meja belajarku. Aku turun dari ranjang dan memukulinya. “Apa-apaan kau ini?!” lanjutku marah.

“Kau harus tidur. Sekarang sudah jam malam.” Ia menahan tanganku yang bergerak memukulinya marah lalu menggeser aku kembali ke ranjang sampai aku terduduk kembali di tepi ranjang.

“Kau siapa?! Seenaknya saja memerintah dan mengaturku!”

“Aku sudah mendapat wewenang dari Tuan besar untuk menjaga kau gadis cerewet…” ujarnya sombong sambil mengangkat kumpulan kunci di tangannya seolah menantangku. Aku mendengus kesal.

“Tapi tidak dengan mengatur diriku seenaknya!” Aku masih saja protes. Namja itu kemudian tersenyum lembut dan bergerak mendekatiku lagi. Tangannya terulur mengusap puncak kepalaku.

“Kau harus beristirahat. Jangan sampai kau sakit karena hal sepele seperti ini. Bukankah besok kau harus bekerja lagi dan menyelesaikan semua kasus dengan baik? Kau bilang kau adalah asisten detektif yang hebat.. Jadi, jangan sampai hanya karena kurang tidur kau tidak maksimal bekerja…” Ujarnya mencoba memberikanku pengertian. Parahnya, setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya seketika meluluhkan hatiku untuk menuruti kebenaran dari mulutnya. Ia selalu bisa dengan mudah mengendalikan emosiku!

Ia berjongkok dan mengangkat kakiku agar berselonjor di ranjang. Lalu menuntunku untuk terlentang tidur. Ia menarik selimut menutupi sebagian tubuhku. Terakhir, ia tersenyum khas padaku sebagai pengantarku tidur. Saat aku memejamkan mata, aku baru mengingat satu hal yang terlupakan. Dengan cepat, aku kembali membuka mata dan berujar padanya, “Jongwoon-ah, kapan harabeoji pulang?” tanyaku.

“Eumm..Mungkin lusa..” ujarnya setelah sebelumnya memutar kepala bingung mencari jawaban. Aku bergumam sambil mengangguk sendiri.

“Hmmm… Aku berharap harabeoji tidak lagi-lagi membawa namja untuk diperkenalkan padaku…” Sejenak diam.

“Memangnya kenapa kalau ada namja yang diperkenalkan lagi padamu? Bukankah itu bagus untukmu? Siapa tahu kau akan tertarik nanti. Lagipula, itukan sebagai tanda bahwa tuan besar menyayangimu dan ingin yang terbaik bagimu, Shin Miwoo…”

Aku menoleh cepat padanya. Sedikit mencibir bibir sebal. Dasar namja bodoh! Tidak tahukah dia selama ini aku tidak pernah mau menerima namja manapun masuk ke dalam hidupku karena sudah ada dia?!

“Cih, mana ada sayang tapi memaksakan kehendaknya?! Aku sudah bilang padanya berkali-kali kalau aku tidak mau menikah saat ini!” kesalku lalu membalikkan badanku memungunginya. Ia bear-benar membuatku sebal saja dengan membahas ini!

“Baiklah, aku rasa kau harus segera tidur. Pasti kau sangat lelah karena sejak tadi berkutat dengan kasus itu dan tidak kunjung menemukan petunjuk apapun. Hmmm…meskipun kasus itu sangat mudah tapi nampaknya kau cukup kesulitan ya. Otakmu memang tidak berbakat dengan hal seperti ini.” Seketika aku membelalakkan mata mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya. Aku mendengar bunyi kenop pintu ditarik. Dengan cepat, aku bangkit berbalik.

“Yakk!!”

PUK

Aku melempar bantal yang berada di dekatku hingga mengenai kepalanya. Ia berhenti dan berbalik kaget ketika melihatku yang tersengal-sengal penuh nafsu membunuh melihatnya. Mulai lagi. Ia mulai mengataiku dengan hal-hal yang mudah memancingku emosi.

“Kau..!” Aku menunjukkan jariku ke arahnya. “PENGAWAL BODOH! JELEK! IDIOT! ANEH! BANYAK BICARA! GENIT! MENYEBALKAAANNNN!!!” teriakku sangat kencang bahkan aku rasa seluruh bumi ini bergetar hebat karena teriakanku. Ia menutup telinganya dengan kedua jari telunjuknya yang menyumbat masing-masing lubang telinga.

ooo

Aku duduk bersandar di ranjang ini. Seperti biasa lagi. Pengawalku yang baik dan setia ini, ah, aku merasa tidak rela menyebutnya begitu tadi. Apalah pokoknya…

Ia sekarang duduk di sampingku ikut berselonjor di ranjang sambil melipat tangannya angkuh. Sesekali ia mendorong kacamatanya agar nampak gaya sok kerennya. Aku melirik sebal padanya sekilas.

“Jadi bagaimana…?” tanyaku memecah keheningan. Ia mulai membuka mulut.

“Miwoo, kau tahu apa yang salah dari pandanganmu selama ini?” tanyanya memulai. Aku menyernyitkan alis mendengarnya.

“Kau selalu melihat setiap pembunuhan dengan merujuk pada barang bukti yang ditemukan saja. Kau tidak pernah memperhatikan akan keadaan sekeliling TKP atau kaitannya dengan latar belakang korban.” Aku kembali menyernyitkan alis bingung. Aku menatap dirinya yang masih dengan pose semula. Melipat tangannya angkuh sambil mendorong sesekali kacamatanya. Ia lalu bergerak mengambil foto TKP.

“Ini, lihat. Di TKP, kau mungkin hanya memperhatikan apa yang ditemukan dan beberapa sidik jari yang menempel di sekitar mayat korban atau bajunya. Tapi, kau tidak memperhatikan kejanggalan di sini kan?” Ia menunjuk pada sebuah lukisan dinding di ruangan tersebut. Lukisan yang nampak berbeda dari salah satu foto sebelum kejadian. Foto suasana asli ruangan itu. Lukisan di foto yang ditunjuk Jongwoon ini menunjukkan gambar dua pria memegang cangkir gelas minum teh dengan tangan kanan. Tapi, di foto yang satunya, salah satu dari dua pria itu memegang cangkir dengan tangan kiri. Aku kembali menyernyit.

“Apa hubungannya lukisan dengan kasus kematian ini?”

“Inilah kunci utamanya. Lukisan ini jelas ditukar sebelum kematian korban. Pastinya ini tentang lukisan ini. Asal kau tahu, setelah aku mencari informasinya tadi…” Ia menekan sebuah tombol menuju riwayat pencarian di internet. “Lukisan satu-satunya yang berbeda itu adalah lukisan asli seorang pelukis legendaris dari Swiss yang konon katanya, lukisan itu memiliki riwayat kekuatan mistik yang bagus. Katanya, dengan adanya lukisan itu di rumah, maka, pemilik rumah tersebut akan mengalami kemudahan dalam segala urusan seperti salah satunya melancarkan bisnis.” Jelas Jongwoon. Aku menganga.

“Bukan hanya itu saja sih. Satu hal lagi yang aneh adalah luka di ujung jari korban. Kau tidak melihat ya, kalau ujung jari-jari korban sempat mengalami ruam.” Aku melihat foto tersebut.

“Ini karena sebelum kematian korban, sempat terjadi insiden penarikan lukisan itu, mungkin seperti berebut begitu.” Jelasnya. “Apa kau bisa menebak pelakunya dengan mudah?” Aku berpikir sejenak hingga akhirnya aku mengerti.

“Ah..jadi tetangganya yang melakukannya? Song Chae Rin? Ia kan salah satu pekerja di apartemennya yang sering membersihkan rumah korban? Mungkin saja ia tahu soal lukisan itu, lalu mencoba merebut dari korban dengan saling tarik-menarik berebutan? Lalu, pada akhirnya korban kalah dan mati terbunuh?” tanyak antusias. Jongwoon menghela nafas.

“Kau ini benar-benar ya. Gadis berotak simpel dan sangat bodoh. Mengeluarkan analisis sekenanya saja.” Ia menoyor kepalaku membuatku berontak menjauhi tangannya dari kepalaku.

“Ya!! Kau menghinaku lagi?!”

“Habisnya kau benar-benar bodoh nona muda…” jelasnya mengacak puncak kepalaku. Aku mendengus sebal.

“Ini soal lukisan. Lukisan tua dan bersejarah. Apa menurutmu seorang pekerja pembantu rumah tangga mengetahui soal itu? Tidak mungkin! Ini lagi yang kurang dari kau. Tidak pernah mencari tahu kehidupan korban. Salah seorang relasi bisnisnya, asal kau tahu, ia adalah seorang kolektor benda-benda antik dan bersejarah. Ia adalah salah satu pria yang datang bersamaan dengan para polisi. Ia, datang dengan berpura-pura tidak tahu apapun ketika melihat jasad korban. Ia punya alibi bahwa akan mengadakan pertemuan bisnis dengan korban di café, sesuai dalam pesan singkat mereka ketika janjian. Namun, pria itu mendatangi korban ke rumahnya ketika jam pertemuan itu lalu mencoba mencuri lukisannya. Sang pelaku mengira kalau korban sudah pergi dari apartemennya. Tapi ternyata korban kembali lagi sebelum pelaku selesai menagmbil lukisan itu.”

Aku menyernyit. Ada kejanggalan di sini. “Kenapa pelaku harus memancing korban keluar? Jadi maksudnya ia mencuri begitu?”

“Tidak mencuri. Hanya menukar lukisan. Bahkan awalnya pelaku memang hanya menukar, tidak ingin membunuh. Pelaku, adalah relasi bisnis yang sangat dipercaya korban meskipun mereka baru bekerja sama dalam waktu tidak kurang dari sebulan. Sehingga, pelaku dapat mengetahui dengan mudah kunci apartemennya. Ia sengaja meminta korban bertemu dengannya di café agar punya alibi. Selama perjalanan korban ke café, ia berencana mendatangi apartemen korban dan menukar lukisan dengan imitasi yang berbeda. Tapi sayangnya, pelaku sangat ceroboh. Ia sempat menjatuhkan vas bunga milik korban. Hal itu yang membuatnya kehilangan banyak waktu untuk membereskannya. Sialnya, ketika pelaku membereskan pecahan vas itu, korban datang. Akhirnya, tanpa sengaja, pelaku menyumpal pernafasan korban sampai jatuh tergeletak di lantai. Lalu, pelaku tahu korban adalah pengidap penyakit kolestrol, ia sengaja menyebar tablet obat di sekitar korban agar terlihat seperti terkena serangan jantung mendadak dan tidak sempat minum obat.”

“Oh..jadi begitu. Lalu, kenapa tadi kau bilang pelaku menjatuhkan vas bunga? Darimana kau tahu? Jangan asal-asalan menebak…”

“Aku tidak asal menebak nona… Lagi-lagi kau tidak memperhatikan foto di TKP.” Aku dengan cepat melihat foto-foto di TKP. Menyelidik dengan intens. Tapi sayangnya, aku tidak menemukan apapun. Saat aku masih asik memutar mata mencari, telunjuk Jongwoon mengarah pada sesuatu di lantai dalam foto itu. Pecahan vas bunga! Aku menoleh cepat ke arahnya yang tersenyum seolah penuh kemenangan. Alisnya terangkat naik turun. Dasar senga! Aku mendengus.

“Jadi, siapa pelakunya…?”

“Relasi bisnis korban yang sangat dekat dengannya, seorang kolektor benda antik… Dia datang bersamamu kemarin ketika penyelidikan…” Aku berpikir sejenak. Memang saat itu ia datang menjemputku ketika penyelidikan itu usai.

“Apa… Jang Woo Hyuk?” tanyaku pelan. Ia mengangguk. Aku tersenyum puas dan mengangguk-angguk sendiri sambil bergumam, “jadi begitu…”

Aku berdiri cepat lompat dari ranjang. “Ayo, kau harus mengantarkanku!” Aku memutar langkah ke sisi berlawanan ranjang lalu menariknya turun. Ia bingung, tapi tetap saja ikut turun. Aku akan ke tempat pelaku sekarang juga!

ooo

Jang Woo Hyuk’s Home

Jongwoon POV

Aku menginjak rem lalu berbalik ke arahnya yang duduk di sampingku. Selalu seperti ini, saat sudah mendapatkan pemecahan kasus, gadis ini langsung bertindak.

“Sudah sampai, nona…” panggilku padanya yang menggerakkan kepalanya mengedarkan pandangan ke seluruh sisi rumah. Padahal, memang rumah ini sepi. Lihat saja, jam malam begini siapa yang masih keluar-luar rumah?!

“Ish. Sudah kubilang panggil biasa saja saat tidak ada siapapun selain kita…” gerutunya.

“Hoaammm…” Aku menguap. Ia menoleh cepat ke arahku.

“Kau mengantuk?!” Aku mengangguk.

“Ini sudah hampir tengah malam Miwoo-ah. Kenapa tidak besok saja?”

“Ani. Pokoknya harus sekarang.”

“Yasudah kalau begitu aku tidur di sini kau masuk ke dalam.” Ucapku asal lalu melipat tanganku dan bersandar pada jok. Aku memejamkan mata.

“Geure..kau tunggu di di sini.” Ucapnya cepat. Aku mendengar detuman pintu mobil. Masih dalam kondisi setengah mengantuk yang sengaja aku buat, aku membuka sedikit mataku dan melihat gadis itu berlari masuk ke dalam rumah. Aku mendengus pelan. Dasar gadis pemberani yang sok kuat!

Aku menggerakkan tanganku meraih ponsel lalu menghubungi sebuah nomor andalanku. Selalu saja seperti ini. Ia akan bertindak gegabah hingga membahayakan dirinya. Saat itu, aku selalu menjadi dewa penyelamat baginya. Tapi, karena aksinya ini, terkadang aku terhibur karena tindak lucunya. Bagaimana bisa aku tidak jatuh dalam pesonanya selama ini? Ia selalu membuat aku tergerak untuk selalu melindungi dan menjaganya sampai kapanpun!

ooo

Miwoo POV

Aku berjalan masuk ke dalam rumah mengendap-endap. Mudah bagiku membuka pintu yang terkunci. Jongwoon pernah mengajarkan padaku. Hanya dengan modal sebuah kawat aku bisa melakukannya. Aku melempar kawat yang ada di tanganku dan membuangnya asal. Sesekali melirik ke luar. Meskipun tidak melihat mobilku dari sini, tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang hilang. Padahal ini sudah biasa. Aku selalu bergerak mencari pelaku sendiri dan ia menunggu di luar.

Aku memasuki ruang tengah. Aku terkejut sejenak lalu tersenyum. Mendapati pemandangan yang sangat menguntungkan bagiku tanpa perlu aku cari-cari atau memaksanya. Jang Woo Hyuk ahjushii, tamatlah riwayatmu!

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Siapa kau? Keluar dari rumahku?!!” Ia berteriak kaget lalu menyembunyikan lukisan yang sedang ia lap bersih itu. Percuma, aku sudah melihatnya.

“Jadi benar ya, anda pelakunya tuan Jang Woo Hyuk? Lukisan itu… milik tuan Im Sang Hoon kan?” tanyaku mendelik. Ia bergerak menjauhiku yang melangkah mendekatinya.

“Jangan bercanda. Kau tidak bisa sembarangan menuduhku nona..”

“Aku tidak menuduhmu… Aku punya bukti-buktinya.” Aku mengangkat sebuah foto bukti itu ke samping wajahku. “Kau menukar lukisan itu dengan imitasi kan? Kau sengaja mengirim pesan untuk Sang Hoon datang ke café sebagai alibimu. Kau membunuh tuan Sang Hoon dengan menutup jalan nafasnya lalu sengaja menyebarkan obat di sekitar mayat Sang Hoon agar disangka penyakitnya kambuh hingga meninggal?” tanyaku.

Ia nampak tergagap mendengar penjelasanku. Tapi, tiba-tiba aku menghentikan langkahku mendekatinya ketika tangannya dengan cepat menyambar pisau di atas meja dan mengacungkannya padaku.

“Jangan mendekat!” ujarnya. “Mati kau!!”

“Kyaaaa!!!” Aku memejamkan mataku refleks saat ia berlari dan menghunuskan pisau itu untuk megenai tubuhku. Dasar bodoh! Harusnya aku berlari!!

BET DUAKK

“Akhh!”

CRANG

Aku memberanikan membuka mataku perlahan. Aku mendapati lagi punggung itu. Namja yang selalu menjadi pengawal setia hidupku, Kim Jongwoon. Kepalanya menyamping melirikku. “Agashii tidak apa-apa?” tanyanya. Aku tersenyum sebelum mengangguk antusias.

“Awass!!”

Pelaku itu berdiri cepat setelah mengambil pisau tadi dan hendak menghunuskan pisau itu pada Jongwoon. Ia sempat menghindar namun tetap saja mengenai lengannya. Aku panik.

CRAT

“Jongwoon-ah…”

“Akh! Eugh!”

BUAGH

Jongwoon menahan sakit di tangannya dan memilih menendang kuat pelaku yang sempat ketakutan karena berhasil melukai tangan Jongwoon. Pelaku tersungkur dan jatuh pingsan. Kekuatan kaki dan tendangan Jongwoon memang tidak perlu diragukan. Ia dapat dengan mudah membuat orang lain pingsan dalam sekali tendangan.

DRAP DRAP DRAP

Aparat keamanan dan kepolisian datang menghampiri kami. Mereka langsung menangkap pelaku yang masih pingsan. Salah satu polisi memberikan sebuah perban pada Jongwoon. Aku menghampirinya dengan berusaha sekuat tenaga menahan tangisku agar tidak jatuh.

“Akhh..” ringis Jongwoon saat ia mencoba mengikat luka itu agar darah tidak terus keluar. Aku menatapnya sendu. Aku membantunya mengikat luka itu.

“Kita kerumah sakit, ne?”

“Andwe. Kau harus pulang  sekarang. Ini sudah malam. Kau harus tidur.” ucapnya mencoba normal. Tapi aku tahu ia masih menahan sakit.

“Tapi lukamu…”

“Gwencana… Cukup dibersihkan, lalu diobati biasa juga akan membaik. Hanya tergores sedikit. Kajja!” Ia menarik tanganku dengan salah satu tangannya yang tidak terluka. Aku melirik luka itu. Jasnya sampai robek sedikit tertutup lilitan perban putih yang sudah berubah warna menjadi merah darah. Memang tidak nampak terlalu parah, tapi aku tetap saja khawatir.

ooo

Jongwoon POV

Aku menarik tangan Miwoo untuk masuk ke dalam sampai akhirnya sampai di depan kamarnya. Aku membukakan pintu kamarnya dan menggerakkan daguku mengisyaratkan ia masuk. Ia memajukan bibirnya sedikit.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

“Gwencana…” Ucapku padanya dengan pelan. Aku mengulurkan tangan kananku yang tidak terluka ini untuk mengusap puncak kepalanya. Tanpa diduga, ia menghentikan gerak tanganku dan menarikku masuk ke kamarnya lagi. Ia menggiringku agar duduk di tepi ranjang. Lalu, ia mengambil kotak obat yang ada di lemarinya, meletakkannya di sampingku, berlari keluar hingga akhirnya membawa mangkuk berisi air hangat dan kain lembut. Ia lalu berlari cepat duduk di sampingku.

Ia melepas perban yang melilit lenganku lalu menarik jasku sampai akhirnya aku menanggalkannya hingga tersisa kemejaku yang telah basah ternoda darah di lengan kiriku. Tanpa berbicara apapun, ia membukakan kancing kemejaku satu persatu dengan cepat dan menarik lengan kemeja kiriku. Luka menganga itu segera terlihat.

Dengan cekatan, ia mengeluarkan kain dan membersihkan lukaku dengan air hangat yang ia ambil sebelumnya dari dapur, lalu mengoleskan kapas yang telah dilumuri alkohol. Aku menahan suara karena perih mengenai lukaku. Ia menatapku seolah bertanya apa aku baik-baik saja. Aku tersenyum padanya.

“Gwencana… Aku ini seorang pria. Jadi aku pasti kuat jika hanya luka kecil seperti ini…” ucapku menenangkan tatapan matanya itu. Ia lalu mengeluarkan perban dan kapas. Kapas itu dilumuri obat luka. Ia menempelkannya pada lukaku lalu melilitkan perban perlahan sebagai pengikat. Sangat perlahan sampai aku tidak merasakan sakit karenanya. Setelah usai, ia menunduk lemas dan menurunkan tangannya mengusap tanganku. Aku menarik dagunya agar menghadapku ketika aku melihat tetesan air mata darinya. Aku mengusap air mata dari pipinya itu dengan tangan kananku yang bebas.

“Sudahlah… Miwoo-ah… Aku baik-baik saja…”

“Selalu seperti ini… Kau selalu terluka dan kerepotan karena aku…”

“Itu memang sudah menjadi tugasku. Kaulah yang harus selalu aku lindungi Miwoo-ah…” ucapku pelan masih terus mengusap air mata di pipinya. Ia menghentikan gerak tanganku dan merasuk ke pelukanku, menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Karena itu… Karena itulah sebabnya aku tidak bisa tidak tergantung padamu Jongwoon-ah… Kenapa kau tidak mengerti itu. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan bisa apa-apa. Aku sangat membutuhkanmu. Sangat.” Aku mengusap pelan rambutnya yang terulur panjang.

“Aku..ah..” Aku merasakan sensasi yang aneh saat tiba-tiba tangannya bergerak di sekitar perutku. Ia dengan cepat lepas dari pelukanku terkejut.

“Mi..mianhe..aku tidak sengaja…” Mungkin ia merasa risih karena mendengar desahanku tadi.

“Kau menyentuh tubuhku sembarangan Miwoo-ah… Kau tahu aku geli di bagian itu?!” ujarku agak menekan. Ia menggigit jarinya bingung. Matanya yang besar itu menatapku takut. Aku membenahi kemejaku dan menariknya cepat hingga akhirnya kembali menutupi bahuku. Perlahan aku mengancinginya lagi dari bawah.

“Habisnya..aku penasaran dengan absmu yang datar itu…” ucapannya menghentikan gerak tanganku yang mengancingi kemejaku. Aku meliriknya yang menutup wajahnya tersipu malu. Entah mengapa, aku jadi terbawa suasana canggung sekaligus tegang.

Aku memejamkan mata lalu membukanya lagi untuk mengembalikan fokus dan pikiran bodohku. Biar bagaimanapun, dia adalah majikanku saat ini. Fantasi gilaku tentangnya cukup dalam khayalanku saja. Tidak boleh mengkhianati kepercayaan yang diberikan kakek!

“Tidurlah, Miwoo-ah…” hanya kata itu yang bisa kuucapkan setelah aku mengancingi rapi kemejaku. Aku mendongak lagi melihatnya. Matanya yang besar itu menatapku intens. Sesekali mengerjap pelan hingga terpancar kecantikan alaminya. Aku tahu ia sedikit mengantuk karena mata itu perlahan menjadi sayu.

Tapi, entah mengapa jarak kami tanpa terasa semakin dekat. Dekat karena gerak tubuhku yang tidak tahu aturan mendekatinya, dan wajahnya juga mendekat menjangkau wajahku. Sampai puncak kekeliruan dan kesalahan terbesar bagiku membiarkan bibir ini menyentuh permukaan lembut bibirnya. Ia bergerak lebih dulu dalam sentuhan penuh sensasi menggila itu. Aku yang tidak berhasil mengembalikan fokusku, malah asik menikmati ciuman pertama kami ini.

Aku semakin bergejolak ketika mendengar desahan pelan darinya. Bunyi decapan dan tautan bibir kami memenuhi ruangan sunyi ini. Terlalu dalam dan panas menjalari seluruh tubuhku. Aku merasakan perasaan di dada ini melompat-lompat membutuhkan tiupan oksigen. Tapi, entah mengapa emosiku menuntut untuk tidak sekarang dan mencoba menguatkan diriku agar tetap bertahan tanpa udara bebas.

“Eugh…” Miwoo mendorong pelan dadaku sehingga aku dapat melepaskan tautan bibirku dari bibirnya yang seperti candu dan magnet untukkku. Matanya mengerjap menatapku seolah baru saja mengalami mimpi yang tidak pernah ia bayangkan benar-benar terjadi. Sama sepertiku. Aku tidak pernah bisa menyangka bahwa aku baru saja menciuminya dengan tanpa menyadari status diriku.

“Jongwoon-ah… Aku…”

“Shin Miwoo… Kau belum tidur?!”

Aku melotot terkejut ketika kudengar suara dari luar kamar Miwoo. Kakek?

“Hareboji!” ucap Miwoo panik dengan pelan. Ia lalu berdiri cepat diikuti olehku yang langsung mengambil jasku untuk melangkah keluar. Tapi Miwoo malah menarik tanganku dan menatapku menggeleng seolah enggan membiarkan aku pergi.

“Wae? Aku harus keluar…”

“Tidak sekarang pabo! Kau harus sembunyi!”

“Mwo? Kenapa aku harus sembunyi?”

Ia menarikku dan mendorongku paksa untuk berjongkok dan bersembunyi di bawah ranjangnya. Aku menatap tidak percaya seolah enggan melakukannya. Tapi ia mendelik lagi menatap mengancam agar aku menuruti maunya. Aku akhirnya pasrah dan bersembunyi di bawah ranjang.

CLEK CLEK

“Harabeoji…”

“Kau masih belum tidur?”

“Ani…belum… Aku baru akan tidur sekarang. Kenapa ada harabeoji?”

“Kenapa katamu? Dasar! Kakek sudah datang sejak tadi saat kau tidak ada di rumah. Bahkan kakek tahu kau baru saja pulang tadi dengan Jongwoon. Pergi kemana kau tadi? Mana Jongwoon?! Apa yang kalian lakukan di luar?!”

“Ah..eum..itu… Ah, aku hanya meminta Jongwoon membelikanku pizza! Ya.. Pizza! Tadi aku sudah memakannya habis dan sudah kubuang ke tempat sampah.”

Aku memukul pelan keningku mendengar jawaban bodoh gadis itu. Pizza katanya? Aish! Kenapa juga aku harus bersembunyi?! Bukankah lebih baik tadi aku keluar dan bertemu dengan kakek saja daripada membiarkan gadis bodoh itu mengarang cerita bebas yang tidak masuk akal?!

“Pizza? Lalu mana Jongwoon?!”

Mati kau Shin Miwoo!

“Ah.. itu.. tadi, setelah mengantarkan aku ke kamar, ia telah kembali ke ruangannya. Atau mungkin, ia pulang ke rumahnya. Aku tidak tahu harabeoji…”

Terdengar cukup aneh. Tapi aku berharap kakek tidak berpikir yang tidak-tidak.

“Hmm… Kakek kira kalian berdua di dalam… Kakek hanya mengantisipasi hal yang tidak diinginkan nantinya. Sudah malam. Tidurlah.”

“Baik kek…”

KRIEET…

BLAM

Aku menghela napas lega. Lalu aku perlahan merangkak dan keluar dari ‘tempat persembunyian’ paksa itu. Aku mendapatinya masih berdiri terpaku di ambang pintu. Aku gunakan lagi jas tersebut. Lalu, aku berjalan menghampirinya.

“Sudah. Kau tidur sana. Besok harus bangun pagi.” Ujarku dan mendorongnya ke ranjang. Ia menurut dan tanpa melawan ia menarik selimut menutupi tubuhnya yang tertidur membelakangiku. Aku menggigit bibirku sejenak terpaku memandangnya sebelum akhirnya aku keluar dari kamarnya.

BLAM

Aku berjalan pelan menuju tempat aku beristirahat seharusnya. Di kamar paling ujung dari koridor lantai dua ini. Tapi aku terkejut saat kakek ternyata sudah menungguku di ambang pintu kamarku. Aku berhenti di jarak tidak terlalu jauh darinya. Dengan segera aku menunduk hormat padanya. Tuan besar berjalan pelan dibantu dengan tongkat penyangga tubuhnya yang masih sedikit tegap itu ke arahku. Setelah berhadapan denganku, ia tersenyum.

“Ada yang mau aku bicarakan padamu Jongwoon-ah… Ikutlah denganku ke ruanganku.”

“Ne? Eumm. Baik tuan.”

ooo

06.00 am KST

Miwoo POV

Aku merasakan hembusan nafas hangat menerpa pipiku. Sangat lembut dan entah mengapa aku menyukai wanginya ini. Sepertinya aku mengenalinya. Aku  memilih membuka perlahan mataku untuk mencaritahu apa ini. Benar saja, aku memang mengenal hembusan nafas ini. Aku melotot tiba-tiba akibat jarak yang dekat ini. Nafasku tercekat.

“Hmm..akhirnya bangun juga. Sepertinya kemoreseptor di hidungmu itu sudah sangat mengenali wangi nafasku sebagai efek penyadar saat kau terlelap di alam mimpi.” Ujarnya santai menjauhkan wajahnya. Aku menyadari satu hal. Saat ini, tubuh Jongwoon yang bodoh ini berada tepat di atasku. Kedua tangannya berada di samping kepalaku sebagai penahan tubuhnya.

SINGGG…

“YA!! KIM JONGWOON PABO!! MESUM!! GENIT!! APA YANG MAU KAU LAKUKAN PADAKU?! KENAPA KAU BISA ADA DI KAMARKU?! KELUAR!!”

Aku merasakan getaran hebat menggelora di kamar ini karena suara teriakanku diikuti olehnya yang dengan santai tanpa merasa bersalah menutup kedua telinganya dengan tangannya. Dasar Kim Jongwoon mesum!

ooo

“Hari ini kau ada jadwal lagi, Miwoo?” tanya kakek saat kami mulai menyantap sarapan pagi kami.

“Ne… Hari ini aku harus ke kantor lagi menata ulang markas detektif JYP…” jawabku tidak semangat. Ini karena pekerjaan konyol yang keluar dari ide cetusan detektif tua yang bodoh itu. Ia beralasan ingin mengganti suasana kantor agar mudah dalam bekerja menyelesaikan kasus.

“Sebaiknya kau tidak usah pergi.”

Aku mendongak melihat kakek. Setengah senang dan bingung bercampur aduk. Ada apa? Kelihatannya serius.

“Kakek ingin mengenalkan seorang anak dari rekan bisnis kakek, Jung Ji Sung. Putranya itu tampan, lulusan Hongik University dan sekarang baru saja menyelesaikan pendidikan di Heidelberg untuk Master degree nya. Ia sepertinya tertarik padamu saat kakek memperlihatkan fotomu padanya.”

“Harabeoji…” panggilku lirih. Aku memilih mendiamkan dan berhenti makan. Aku merasa kesal mendengar ucapan kakek tadi. “Aku tidak mau menikah!!” teriakku yang sontak membuat kakek kaget. Begitu juga dengan Jongwoon yang sejak tadi memang berdiri di samping meja makan ini.

“Kalau kau tidak mau menikah, mau sampai kapan kakek bisa memiliki cucu dan keturunan?! Siapa yang bisa mengambil alih perusahaan jika kau tidak mau menikah juga?! Putra Ji Sung itu anak yang baik dan sangat bagus dalam mengelola perusahaan…” kakek mencoba membentakku. Aku semakin kesal karena terus saja kakek memaksaku menikah dengan pria-pria pilihan kakek. Tidak mengertikah kakek mengapa aku seperti ini?!

Aku mendongak memandang kakek nanar. Lalu, aku beralih melihat Jongwoon. Setidaknya, ia harus berani mengatakan sesuatu soal kami. Apalagi soal kejadian kemarin malam. Ciuman itu. Apakah ia tidak mengerti juga perasaanku?!

“Jongwoon-ah… Kenapa kau diam saja?! Katakan sesuatu…” rengekku pada Jongwoon. Bodohnya lelaki itu hanya terlonjak kikuk. Ia menoleh ke arah kakek yang jelas saja kakek menggeleng pelan. Seketika Jongwoon diam menundukkan kepalanya hormat pada kakek dan memilih tidak menggubris permintaanku. Ada apa dengan mereka? Seperti ada sebuah kompromi sebelumnya.

“Jangan mencari perlindungan Jongwoon. Kau harus menuruti perintah kakek. Sekedar berkenalan dulu juga tidak apa-apa.”

“Harabeoji! Aku tidak mau menikah! Tidak jika tidak dengannya!” Aku dengan nekat berteriak dan menunjuk tepat di depan muka Jongwoon. Tentu saja kakek dan Jongwoon sangat terkejut mendengar ucapanku barusan. Jongwoon menunjuk dirinya sendiri menatap padaku bingung seolah bertanya padaku mengapa dia. Aku tidak peduli.

“Harabeoji.. Sampai kapanpun kakek memaksaku, aku tetap tidak akan mau menikah jika tidak dengannya. Dengan Kim Jongwoon yang pabo! Yang tidak mengerti bagaimana perasaanku! Pria yang selalu ada setiap aku membutuhkan bantuan. Pria yang selalu melindungiku bahkan mengorbankan nyawanya sendiri. Pria yang sangat bodoh yang beraninya menciumku tanpa mengatakan cinta padaku! Bahkan aku mencintainya! Huaaa…” teriakku meluapkan emosi yang sejak tadi tertahan rapi dalam hatiku. Seketika berantakan hingga aku menangis kencang karena ini. bahkan melihat wajah mereka saja, aku tidak berani. Aku memilih menundukkan kepalaku.

Tiba-tiba tanganku tertarik dan terjatuh tepat di pelukan Jongwoon. Tentu saja, karena itu, tangisku yang pecah terhenti seketika karena terkejut. Aku melirik kakek yang duduk di hadapanku yang sedang tersenyum mengangkat kedua tangannya menopang dagu di hadapanku. Senyum penuh kemenangan.

“Gomawo… Saranghaeyo…” ucap Jongwoon mengusap pelan punggungku.

ooo

Cheonan, 20 Desember 2012

Jongwoon POV

Aku berdiri dengan tenang menunggu di atas altar. Suasana putih menghiasi seluruh ruangan dan pelataran ini. Sangat cerah secerah perasaan hatiku yang meluap bahagia. Hari ini adalah hari sakral. Aku menunduk tersenyum membayangkan memori yang terlalui setelah bertahun-tahun lamanya aku menghabiskan waktu bersamanya. Cinta pertama yang muncul di kala usiaku 13 tahun. Itu terdengar kekanakan. Tapi, buah kerja keras dan pengorbananku selama ini berhasil. Gadis itu, pada akhirnya menerimaku.

Ia tersenyum saat muncul dari gerbang itu. Seolah ia adalah permata yang sangat indah, sinar permata itu memancar seiring langkahnya berjalan ke arahku. Sangat cantik. Ribuan kiasan kata-kata indah tidak cukup menggambarkan betapa sempurnanya ia di mataku. Mempesona dan sangat menyegarkan dahaga cintaku. Sampai pada tangannya yang ditopang tangan kakek berpindah di tanganku, aku menggeggamnya erat. Ia tersipu merona menatapku sedikit-sedikit. Sangat manis.

Kami berdua berhadapan di depan tempat biasanya pengucapan janji dan sumpah itu. Dengan mudah semua terdengar mulus bergantian dari mulut kami. Ucapan penuh makna dan ikatan yang membuat semua keraguan dalam hidupku hilang. Sebuah ikatan baru yang terjalin dan akan dilewati nanti bersama dengan gadisku, Kim Miwoo.

“Kedua mempelai, dipersilahkan berciuman.”

Kalimat terakhir yang biasanya menjadi moment paling menegangkan bagi pasangan mempelai. Aku membalikkan badan menghadap Miwoo yang menunduk malu. Pipinya semakin memerah seperti tomat. Tapi sangat cantik dan menggoda. Aku menarik dagunya menghadapku. Ia mengerjapkan matanya membelalak melihatku. Aku bergerak mencium prmukaan bibir itu lembut dalam hitungan detik hingga akhirnya saling melepaskan diri. Aku tersenyum saat gadis itu masih asik terbengong dengan dunianya. Seolah tidak menyadari sorak-sorai dan hempasan kelopak bunga diantara kami.

“Hei, Shin Miwoo… I’m Your Guardian Love…”

Flashback

“Sudah selama ini kau masih terus bertahan Jongwoon-ah… Apa kau masih enggan menyerah? Bahkan saat ini usia Miwoo sudah melewati 20 tahun. Kau masih ingin menunggunya?”

“Aku masih ingin menunggunya, tuan besar.”

“Hmm… kau memang keras kepala seperti kakekmu. Aku pun sudah berkali-kali mengatakan jangan memanggilku tuan besar. Tapi kau tetap memilih seperti itu…” ucap kakek menopang dagunya di hadapanku.

“Kim Myung Dong, kakekmu telah memintaku berkali-kali untuk mengembalikanmu ke Belanda tinggal bersamanya lagi. Apa kau tidak mau menerima permintaan kakekmu yang sangat merindukanmu, heum? Setahun sekali kau bertemu dengan kakek mu di Belanda. Lalu, sebulan sekali dengan orang tuamu di Cheonan. Hanya demi menemani hari-hari bersama cucu kecilku yang cerewet dan sok pintar itu?” Aku mendengus pelan sambil terkekeh.

“Itulah cinta kakek… Aku hanya tidak bisa membiarkan dirinya terlepas sejenak dari pengawasanku. Aku sudah terlanjur ketergantungan untuk menjadi penopang hidupnya selama ini. Aku lebih rela menyumbangkan hidupku demi kebahagiaan dan kesenangan dirinya. Shin Miwoo, ia terlalu penting bagiku. Aku tidak dapat menggambarkannya betapa pentingnya ia. Yang jelas, bersamanya selama ini adalah kecukupan yang sangat berharga bagi hatiku.”

“Arasso… Kau mengingatkanku akan cintaku pada istriku, Soo Kyung.” Aku tersenyum.

“Tapi kelihatannya sebentar lagi kau akan berhasil kan?” Aku mendongak menatap kakek bingung.

“De?”

“Apa cucuku sangat menggoda dan memuaskan dalam berciuman?” Aku melotot seketika. Lalu, dengan kikuk aku menggaruk belakang kepalaku bingung. Kakek terkekeh melihatku.

Flashback End

ooo

Rollingback into now..

Cheonan, 10 Januari 2013. 11.00 pm KST

Miwoo POV

Aku meregangkan otot punggungku yang serasa pegal. Setelah kami berlarian tadi karena kejar-mengejar dengan penjahat itu, aku seperti kehabisan energi lagi. Baru saja aku selesai mandi dan memilih langsung menghambur ke kasur. Setelah dua minggu usai pernikahan aku dan Jongwoon, kami akhirnya bertemu lagi tiga hari yang lalu karena Jongwoon kembali ke Belanda bertemu kakeknya. Tidak habis pikir ia merahasiakan tentangnya padaku selama bertahun-tahun. Ternyata, hidupnya sebagai pengawal pribadiku, semata-mata karena ingin bersamaku dan menjagaku. Apakah romantis? Terdengar sangat romantis! Tapi aku tetap saja sebal karena mudahnya aku dibohongi bahkan kakekku sendiri mengetahui semua. Tapi, tetap saja, sebesar apapun kekesalanku padanya, aku tetap memaafkan dengan mudah karena jelas rasa cintaku lebih besar dari itu.

Kami baru dua hari di Cheonan. Tempat kelahiran Jongwoon. Ini malam kedua kami. Bisa dikatakan, ini adalah malam bulan madu kami. Aish. Mengingat tentang bulan madu membuat pipiku memanas seketika. Jujur saja, kami sampai saat ini belum pernah melakukan apapun. Tidak mengerti bagaimana rasanya ketika dua minggu lalu Jongwoon tiba-tiba tidak ada di sisiku aku harus kelimpungan menyesuaikan diri tanpanya. Meskipun akhirnya aku bisa melakukan apapun tanpa dirinya, seperti menyelesaikan beberapa kasus tanpa bantuannya, tetap saja ketika ia pulang, aku merasa nyaman untuk kembali menggantungkan diri padanya, membiarkan ia tetap menjadi pengawal setiaku.

CLEK

Aku menoleh ke arah pintu kamar mandi. Jongwoon keluar dengan rambut yang masih basah terlihat dari kucuran air dari rambut itu. Handuk kecil terkalung rapih di lehernya. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya hingga membuat beberapa butiran air melompat dan bercipratan. Sangat seksi. Aku mengelus rambutku sendiri yang juga basah. Kenapa kami bisa bersamaan mandi membasahi rambut?! Aish! Aku menggetuk-getuk kepalaku karena pikiran mesum menjalari otakku saat tadi memperhatikannya. Ada apa denganku?! Harabeoji… cucumu yang polos ini sudah berpikiran yang tidak-tidak…

“Kenapa denganmu?” Aku melonjak kaget saat Jongwoon bertanya padaku dan dengan santai duduk di samping ranjang sambil melepas handuk. Ia melemparkan handuk itu begitu saja ke atas sofa kamar. Lalu, menoleh menghadapku. Nafasku tercekat tiba-tiba saat matanya yang tajam itu menatapku.

“Kau tidak sakit kan? Sedikit pucat.” ujarnya menggerakkan tangannya mengusap pipiku. Omona.. Aku bisa mati!

“Opseo! Aku baik-baik saja!” Aku menjatuhkan diriku cepat berbaring di ranjang dan menutup tubuhku dengan selimut sampai menutupi kepalaku. Ya Tuhan… Aku sangat tegang!

“Hei..Kalau kau tidur seperti ini, kau bisa mati kehabisan napas…” Jongwoon menarik selimut yang menutupi kepalaku menurunkannya hingga wajahku terlihat. Aku menggigit bibir bawahku kikuk. Pastinya, wajah bodohku terlihat!

“Hmm…sepertinya kau memang harus tidur. Sarafmu di kala malam memang sering tergangu sampai terbengong bodoh seperti ini.”

CUP

“Tidurlah…” Aku masih membujur kaku saat dengan mudahnya tadi Jongwoon mengelus keningku, memberi kecupan singkat di sana hingga akhirnya mengusap pipiku lembut. Ia kemudian berbaring terlentang. Ia menoleh ke arahku hingga aku perlahan menoleh bodoh menghadapnya. Ia tersenyum lalu bergerak menyamping menghadapku. Dalam waktu yang cukup lama kami saling bertatapan intens tanpa mengatakan sesuatu.

“Miwoo…” panggil Jongwoon lirih memecah keheningan.

“Euh?” Aku terlonjak kaget. Tapi aku masih setia menatapnya.

“Apa aku pernah bilang padamu?” tanyanya. Tangannya bergerak mengusap rambut yang menutupi wajahku dan memainkannya. “Kau sangat cantik.” Ujarnya singkat.

“Kau ingin aku mengatakan tampan padamu?” Entah mengapa pikiran itu terlintas tiba-tiba.

“Memangnya aku tidak tampan? Aku kan sangat tampan…” ia malah balik bertanya. “Hei, Miwoo-ah… Aku tampan kan?” Ia bangkit menghadapku antusias.

“Aku tidak mau menjawab.” Jawabku cepat.

“Berarti aku sangat tampan.” Ia kembali merebahkan tubuhnya lagi di sampingku.

“Cih! Percaya diri sekali kau!” Aku menggerutu. Ia mengerucutkan bibirnya. Aku terkekeh masih menatapnya. Ia lalu berbalik lagi menatapku.

“Ah, iya. Kau dulu pernah bilang penasaran dengan abs datarku kan?”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Ish! Kau lupa! Kau bahkan pernah menyentuhnya seenaknya membuatku kegelian dan teransang! Kalau saat itu aku tidak bisa menahan diri, sudah dapat dipastikan kita akan mengalami sesuatu sebelum menikah.” Ujarnya santai. Ia bangkit menghadapku. Aku masih diam tidak bereaksi. Sepertinya tadi itu ia mengucapkannya seolah mengajakku berkelahi atau mencari keributan. Tapi, aku merasakan lelah sampai aku tidak mengatakan apapun.

“Miwoo-ah… Kau masih ingat kan saat ciuman pertama kita? Bagaimana saat itu aku merasakan getaran hebat bergejolak di dadaku. Kau bahkan sangat lihai membuatku kecanduan menyelami bibirmu lama.. hehe..” Ia menceritakan kejadian itu tanpa canggung dan terkekeh. Membuatku menyernyit bingung melihatnya.

“Aish! Kenapa kau diam saja?! Tidak marah atau terpancing sedikitkah? Aish! Ah… Aku harus bagaimana ya…” Ia bergumam frustasi sendiri lalu mengacak rambutnya. Ia lalu turun dari ranjang dan berlalu keluar kamar. Aku bangun dan duduk. Kepalaku kumiringkan bingung. Ada apa ya dengannya?

ooo

Jongwoon POV

Aish! Dua minggu tidak melihatnya memang benar-benar berhasil membuatnya semakin bodoh dan polos! Apa ia tidak mengerti apa yang aku inginkan? Apa tidak mengerti apa yang aku rasakan? Sudah selama ini aku menahan rindu yag meluap-luap tidak karuan dan terus merongrong dalam hatiku hanya karena ingin melihat, mendengar, menyentuhnya?! Aish!

Aku meneguk cepat air putih yang kutuangkan di gelas untuk kedua kalinya. Seketika panas yang menjalari tubuhku mereda. Panas yang aku rasakan tadi, sepertinya hanya aku yang merasakan. Shin Miwoo pabo itu, nampaknya santai saja dan tidak peduli. Pasti sekarang ia sudah tidur terlelap di kamar.

“Oppa…”

Aku merasa aku berhalusinasi mendengar suara gadisku itu. Aku dengan cepat menggeleng dan kembali meminum sisa air putihku.

“Oppa…” Kali ini bukan hanya suara, tapi sebuah pelukan hangat dari tangan yang melingkar mendekapku dari belakang.

“Oppa..ayo kita tidur.. Aku tidak mau sendirian di kamar…” rengeknya yang jelas saja membuat aku tersenyum dan menuruti keinginannya tanpa syarat. Aku berbalik menghadapnya setelah menyingkirkan kedua tangannya yang melilit pingangku.

“Geure.. Ayo kita tidur… Agashii..”

“Kau memanggilku begitu lagi…” Ia mengerucutkan bibirnya.

“Wae? Aku kan memang pengawalmu?”

“Ne.. Sekarang kau menjadi pengawal hatiku.” Jawabnya terkekeh. Ia menunduk tersipu malu. Membuatku gemas dan tidak tahan mencubit hidungnya pelan. Ia merajuk kesal lalu memukul dadaku pelan.

“Hei.. Kenapa memukulku..? Haha. Kajja. Kita tidur. Sudah malam.” Ucapku menghentikan sedikit susana aneh dan menggelikan ini. Aku merasa memang sebaiknya tidak perlu memaksakan diri untuk ia mengerti keinginanku. Masih terlalu awal untuk semuanya bagi gadis polos ini. setidaknya, aku sudah pernah mengalami perasaan menahan diri dalam selang waktu yang lama dulu saat bersamanya.

Aku menarik tangannya untuk beranjak. Tapi tanpa diduga, ia masih diam tidak bergerak. Malah ia menahan aku untuk beranjak.

“Wae?” Saat aku bertanya dan mendekatinya, tiba-tiba ia dengan cepat menarik kedua bahuku dan mencium bibirku sekilas.

“Gomawo… Untuk semuanya. Untuk kesetiaanmu. Untuk pengorbananmu. Dan untuk cintamu.” Ucapnya tersenyum. Kali ini ia bergerak mendekatiku lagi dan kembali menjangkau bibirku. Kecupan kali ini lebih lama. Aku memejamkan mata merasakan hangat desiran perasaannya mengalir dari permukaan bibir kami yang bersentuhan.

Saat ia melepaskan ciuman itu, ia tersenyum seduktif padaku. Membuatku tidak bisa menahan luapan emosi yang melompat-lompat ingin keluar dari tubuhku. Aku menarik pinggangnya dengan cepat dan menjangkau kembali bibirnya. Menciumnya dalam, mengecupnya berkali-kali sampai tidak tahan semakin mengeratkan pelukanku. Seolah mengerti apa yang aku inginkan, tangan Miwoo bergerak menggapai leherku dan mengalungkannya di situ sampai berjinjit menikmati ciuman kami. Aku menahan kepalanya dengan menekan tengkuknya supaya tautan bibir kami tidak terlepas. Kali ini, aku merasa Miwoo telah memberikan tanda bagiku untuk memulai semuanya. Shin Miwoo, aku mencintaimu.

ooo

Seoul, 10 Oktober 2013, 06.00 am KST

Kim Family’s Home

Jongwoon POV

“Jongwoon oppaaaa….!!!”

Aku menutup telingaku refleks ketika mendengar teriakan khas dari gadis di dalam kamar sana. Sudah biasa. Pasti sekarang ia sedang kesulitan lagi melakukan sesuatu. Aku yang tadi sedang membaca koran pagiku dengan damai, harus menghentikan kegiatanku itu untuk melihatnya.

Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan pagi harinya ini. Mungkin saja ia sedang kesulitan mengangkat bantal-bantal yang terjatuh akibat gerakan tidurnya yang tidak beraturan. Padahal, gadis itu sedang hamil besar. Masih saja bersemangat berteriak-teriak.

Setelah hampir satu tahun kami menikah, aku sudah mulai menggeluti perusahaan kakek dan menjadi direktur utama di sana setelah pendidikan Masterku selesai. Miwoo juga telah cuti bekerja sebagai asisten detektif. Ia lebih memilih menjaga diri dan anak kami yang masih menunggu saat tepat melihat dunia.

“Eugghh.. Akkhhh…” Aku berlari cepat saat mendengar suara rintihan Miwoo dari kamar. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Miwoo sedang tergeletak duduk di lantai merintih kesakitan memegangi perutnya. Darah mengalir dari bagian selangkangannya. Aku dengan cepat menghampirinya.

“Miwoo-ah…”

“Jongwoon oppa.. hiks.. Anakku..anakku…” Racaunya sambil menangis terisak.

“Tenang, kita ke rumah sakit sekarang. Yakinlah tidak apa-apa…” ujarku menenangkannya. Lalu aku dengan cepat meraih tangannya melingkar di leherku dan meraih kakinya. Aku mengangkatnya cepat keluar rumah.

ooo

Seoul Hospital

Aku menunggu tidak tenang. Berkali-kali aku mondar-mandir di depan pintu kamar persalinan. Sesekali mengintip saat melihat dokter dan suster bersiap-siap di sana.

“Tenanglah Jongwoon-ah.. Kakek yakin Miwoo dan cicitku pasti selamat…” Mungkin kakek berkata seperti itu dengan duduk tenang bersila di kursi tunggu hanya untuk menulariku dengan ketenangannya. Ia hanya berharap aku tidak frustasi menunggu tegang di luar. Padahal, kalau boleh jujur, saat ini aku memang sangat frustasi dan rasanya mau mati tegang menunggu kenyataan. Istriku akan melahirkan anakku!

Tidak lama menunggu, seorang suster keluar dan mengatakan padaku bahwa proses persalinan sudah berlangsung. Aku memutuskan ikut masuk ke dalam. Tapi sayangnya, saat aku sudah masuk ke dalam, aku melihat wajah Miwoo yang berjuang keras dengan teriakan terakhir hingga membuat sebuah kepala bayi keluar dari bawah sana dengan cepat hingga menjadi tubuh bayi yang utuh!

Aku merinding ketika melihat darah langsung keluar banyak dari sana juga. Seketika, aku merasakan gelap dan terhuyung. BUGH. Aku rasa aku jatuh pingsan.

ooo

Aku bangun perlahan membuka mataku. Kudengar suara eomma sangat dekat. Aku rasa Aku berhalusinasi. Tapi sepertinya tidak. Saat aku sadar penuh, aku melihat tubuh eomma yang membelakangiku. Eomma sedang berbicara dengan Appa dan Harabeoji sambil tertawa-tawa.

SET

Aku bangun berdiri cepat. Aku seperti orang kikuk memutar pandangan kemanapun. Tiba-tiba teringat lagi bagaimana keadaan Miwoo dan anakku.

“Miwoo!” teriakku. Eomma menoleh cepat ke arahku. “Eomma! Mana Miwoo?! Bagaimana dia? Bagaimana anakku?!” Eomma bukan menjawab malah tertawa melihatku.

“Eomma…” rengekku.

“Jongwoon-ah, kau bangun juga akhirnya. Haha. Eomma tidak habis pikir bagaimana seorang bodyguard dan pengawal hebat bisa pingsan hanya karena melihat darah dan anaknya keluar langsung dari rahim istrimu.. haha..”

“Eomma…” aku merengek kembali. Bagaimana tidak aku kesal melihat eomma malah meledekku. Appa dan Kakek juga terkekeh melihatku. Setelah akhirnya aku mendengus kesal, eomma akhirnya tidak tahan mengatakan padaku dimana Miwoo.

“Miwoo baik-baik saja. Anakmu juga. Mereka di kamar sebelah…” ujar Eomma. Dengan cepat aku melompat dari ranjang dan berlari keluar.

BRAKK

Aku sampai membuka pintu kasar dan tidak sabar. Karena perlakuanku, Miwoo yang sedang duduk di ranjang kaget menoleh padaku.

“Ya!! Kim Jongwoon! Ternyata kau?! Apa-apaan membuka pintu seperti itu?! Mau membuat anakmu mati jantungan hah?!”

Aku tersenyum lega. Sangat bahagia. Ia sudah kembali berteriak kesal padaku dan ditambah lagi kehadiran anak kami yang saat ini digendongnya. Dengan tidak sabar aku menghambur ke arahnya. Aku memeluk Miwoo dan tentu saja, menciumi anak kami.

“Laki-laki, ne?” tanyaku menatap Miwoo karena memang sebelumnya hasil diagnosa USG anak kami adalah laki-laki. Miwoo mengangguk senang. Aku ikut tersenyum bahagia.

“Hei, Kim Hyunjae..” Baru saja aku memanggil nama baru untuk anakku. Nama yang memang telah kupersiapkan jauh-jauh hari. “Selamat datang di dunia ini. Appa akan menjagamu sama seperti menjaga eomma-mu. Selamanya. Menjadi pengawal hidupmu, pengawal cintamu…” ucapku pada Hyunjae yang menggeliat kecil di gendongan Miwoo yang juga tersenyum menatap putra kami ini.

Aku langsung mengambil alih gendongan Miwoo mencoba perlahan menggendong anakku. Betapa bahagianya aku ketika merasakan tubuh mungil itu dalam dekapanku. Merasakan gerak napas pelan sang buah hati. Merasakan bahwa aku memilikinya seutuhnya. Bayiku, putraku, Kim Hyunjae.

“Hyunjae, nanti Appa akan mendukungmu untuk jadi detektif handal ya.. Kau pasti akan menurunkan kepintaran Appa. Kau tidak boleh menurunkan kebodohan eomma-mu oke? Otak eomma-mu itu standar dan sangat simpel. Sampai kau hadir dalam kandunganpun ia masih belum berubah. Selalu butuh bantuan Appa memecahkan kasus…” Aku bercerita panjang lebar pada bayiku ini. Tanpa sadar, Miwoo di sana sudah menggebu menatapku garang. Aku menoleh takut-takut dan perlahan melihatnya.

“Kim Jongwoon…” Aku menelan ludah. Beruntung eomma datang di saat yang tepat dan menggendong cucunya dari tanganku tanpa sadar. Lalu dimulailah lagi kebiasaan itu.

“ENAK SAJA MENGATAIKU! KAU YANG PABO! MENYEBALKAN! CEREWET! BANYAK GAYA! MESUM! GILAAA!!!” Aku sampai menutup telingaku cepat karena mendengar teriakan kencang yang sangat dekat dariku. Eomma yang sudah berdiri di ambang pintu kamar sampai menggeleng melihat kami. Parahnya, bukan hanya teriakan kali ini. Aku mendapat bonus tambahan dari Miwoo. Jambakan.

“Ya..Ya..Ya.. Shin Miwoo!! Aniya! Aaaa….!”

THE END