IU-Wy1I Love You, My Friend

 

Title/judul : I Love You, My Friend

Author : Fitria Hazmi

Main cast : IU/Lee Jieun, Wooyoung (2PM), Kim Nae Ri (OC)

Genre : Romantic , Friendship , Sad

Rating : T

Length : oneshoot

Disclaimer : FF ini tidak lebih hanyalah karangan, fiktif belaka, jika terjadi kesamaan, itu tidak disengaja. Hak mempermainkan pemeran FF, berada ditangan mereka masing-masing. Di sini author hanya meminjam nama, tidak lebih.

 

Note : Harap tidak meng-copypaste FF ini tanpa seizin author terlebih dahulu. No Bashing ya . Tidak ada toleran buat plagiat. Tanggung dosanya sendiri.

 

Akhirnya, FF ini dipostkan juga.

Hehehehe

Agak gak rela bikin ff bergenre sad buat salah satu couple favoritku ini. Tapi mau gimana lagi, emang fiil nya dah nyambung sama yang ini.

Pemberitahuan : kalimat yang bercetak “miring” menandakan yang berbicara adalah hati IU. Ini author jelaskan supaya tidak membingungkan.

 

Yang mau lebih kenal author silahkan add fb author “Fitria Hazmi”, follow twitter “@fitriahazmi”, ato invite pin bb author “2A49AB93” . Thankyuu.

Terima kasih buat admin-admin yang kece yang sudah mau memposting ff saya. Kalau tidak, mungkin ff ini sudah berkarat di dalam laptop saya. Semoga kedepannya saya bisa menyalurkan ide yang penuh di otak saya ini dalam bentuk ff lagi.

Silahkan membaca ya!🙂

Kepahitan dalam mencintai seseorang ialah, harus menerima jika orang itu mencintai orang lain.

Author POV

“Yaa, ppalii. Ayolah IU, mengapa wajahmu kau tekuk begitu? Aku akan memperkenalkanmu dengan yeojachinguku, bersemangatlah sedikit.” ucap Wooyoung bersemangat.

 

“Ne, bersabarlah sedikit Youngie. Aku sedang bersiap-siap. Dan wajahku kenapa? Aku tidak menekuk wajahku, hanya saja aku terlalu kelelahan.” Ucap IU membalas.

 

Andai saja kau mengerti, betapa hancurnya perasaanku saat ini.

Andai saja kau mau memahami, betapa berantakan ruang dimana hatiku berada.

Andai saja kau mau melihat, pasti banyak jarum yang menusuk hatiku kini.

 

“Apakah kamu sakit IU-ah? Wajahmu pucat begitu.” Ucap Wooyoung sambil menyentuh dahi IU.

 

“Nan gwaenchana. Aku hanya kelelahan.” Balas IU lagi sambil menepis tangan Wooyoung dari dahinya.

 

Aku sadar tangan itu bukan milikku, aku sadar perhatianmu itu hanya sebatas sahabat, aku sangat menyadari semuanya. Tapi apakah salah jika aku berharap lebih?

 

“Ne, baiklah jika kau tidak apa-apa. Kajja kita berangkat, dia sudah menunggu terlalu lama.” Balas Wooyoung.

 

“Ayoo.” Balas IU.

Author pov end

 

IU pov

Apa kau tidak menyadarinya? Tidak merasakan kehadiranku yang lebih daripada sahabat dihidupmu? Tidak bergetarkah jiwamu saat didekatku?

 

“Youngi-ah, kita akan menemuinya dimana?” Tanyaku berpura antusias.

 

“Di Pantai. Dia sangat mirip denganmu, menyukai pantai dan suka lupa waktu saat di pantai.” Jawab Wooyoung semangat. *mian jika seandainya hobbi IU disini berbeda dari kenyataannya, soalnya author bikin cerita ini berdasarkan inspirasi nyata author

 

“Owh, pasti dia anak yang manis.” Ucapku.

 

“Ne, dia memang manis.” Balas Wooyoung.

 

Setelah itu, tiada percakapan lagi diantara keduanya, sampai 15 menit kemudian, mereka tiba ditepi pantai itu.

 

“IU, ayo turun.” Ucap Wooyoung.

 

“Ne!” Jawabku yang tersadar dari lamunanku.

 

Kami sama-sama melangkah ke bibir pantai, terlihat seorang perempuan yang sedang bermain dengan air.

 

“Nae Ri-ah!” Teriak Wooyoung.

 

Gadis itu menoleh. Dia benar-benar cantik. Dia berjalan mendekat kearah kami. Keanggunannya semakin terlihat jelas.

 

“Nae Ri-ah, perkenalkan ini IU, sahabatku yang sering kuceritakan. Yang memiliki hobi sama denganmu. Dan IU, ini Nae Ri-ah.” Sambung Wooyoung.

 

“Annyeonghaseyo. Kim Nae Ri imnida.” Ucap Nae Ri memperkenalkan diri. Dia gadis yang baik, terlihat jelas dari wajahnya, tidak salah Youngie memilih dia sebagai yeojachingunya.

 

“Annyeonghaseyo. Lee Jieun imnida. Panggil aku IU saja.” Balasku sambil membungkuk.

 

“IU-ah, ayo kita bermain di pantai. Cuaca saat ini sangat bagus.” Ucap Nae Ri.

 

“Ne, kajja.” Balasku lagi.

 

Aku bermain di pantai bersama Nae Ri. Untuk sementara aku melupakan dia sebagai yeojachingu Youngie. Melupakan rasa sakit hati maupun fisik yang ku derita.

 

Pernahkah kau menyadarinya Youngie? Perubahan fisikku dari hari ke hari. Pernahkah kau mengira, bahwa sahabat yang kau kira sehat-sehat saja akan pergi kapan saja bila waktu menginginkan. Akankah kau merasa kehilangan nantinya?

 

Kami bermain sangat lama. Hingga aku lupa bahwa aku tak boleh terlalu lelah. Tanpa aku sadari, darah mengalir dari hidungku.

 

“Yaa, IU-ah kenapa dengan hidungmu?” Ucap Nae Ri mengagetkanku.

 

“Ani, gwaenchana. Aku baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, mungkin hanya kelelahan saja.” Ucapku.

 

“Benarkah itu IU-ah? Wajahmu terlihat tidak seperti biasanya. Terlihat begitu pucat.” Ungkap Wooyoung sambil menyodorkan sapu tangannya ke wajahku. Aku menangkap kekhawatiran di nada bicaranya.

 

“Tidak apa-apa Youngi, sedikit istirahat ini bakalan sembuh.” Ucapku yakin.

 

“Chagi, sebaiknya kau antarkan IU pulang, biarkan dia beristirahat. Kelihatannya dia sangat kelelahan.” Tambah Nae Ri

 

“Baiklah chagi, tapi bagaimana dengan dirimu?”

 

“Aku tidak apa-apa Wooyoung, aku bawa mobil sendiri.” Balas Nae Ri lagi.

 

“IU-ah, kajja kita pulang.” Ucap Wooyoung.

 

“Ne Youngie. Nae Ri, terima kasih buat hari ini, kau benar-benar perempuan yang baik. Sampai bertemu lagi. Bye~.” Ucapku.

 

“Ne IU-ah, kau juga perempuan yang cantik. Senang berkenalan denganmu. Sampai bertemu juga.” Balasnya.

 

Setelah mengucapkan salam perpisahan, kami berjalan berlawanan arah dengan Nae Ri. Aku merasakan kepalaku pusing. Cuaca yang tadi cerah berubah menjadi gelap. Angin pantai bertiup kencang. Otomatis aku merapatkan jaketku.

 

Setelah sampai diparkiran, aku langsung memasuki mobil Wooyoung. Kami tidak berbicara satu patah katapun. Sampai kami tiba didepan gedung apartemen kami. Aku hanya mengucapkan terima kasih dan salam, setelah itu aku langsung masuk ke gedung apartemen kami dan memasuki kamar apartemenku sendiri.

 

Aku bertahan sampai saat ini itu karenamu. Aku yang tadinya mustahil bertahan hidup, bisa menikmati hidup yang panjang sampai aku merasakkan cinta itu juga karenamu. Aku seakan debu yang akan terbang oleh sedikit hembusan angin tetap bertahan di posisi itu hanya karenamu. Aku yang mulai memahami apa arti cinta, dan bagaimana rasanya sakit, itu juga karena kamu.

IU pov end

 

Wooyoung pov

Aku benar-benar khawatir dengan keadaan IU. Bagaimana tidak? Wajahnya begitu pucat, sudah seperti mayat. Tidak biasanya dia begini. Mimisan tadi? Sejak aku kenal dengannya dari umur 5 tahun, sampai sekarang kami menginjak semester 5 kuliah bisnis, baru kali ini aku melihatnya mimisan. Aku mengkhawatirkannya. Sangat! Orang tuaku dan orang tuanya tinggal di New York, mengurus perusahan masing-masing. Aku dititipkan oleh Lee ahjuma untuk menjaga IU. Sehingga kami tinggal bersebelahan di gedung apartemen ini.

 

Aku ingin sekali mengetahui apa yang disembunyikan IU, tapi sama sekali tidak mendapat celah untuk mengetahuinya.

Wooyoung pov end

 

Next week . At afternoon sunday

IU pov

Aku lelah dengan kesibukanku setiap hari. Aku merindukan suasana pantai yang hangat. Terutama di sore hari libur ini. Tanpa pikir panjang aku segera berganti pakaian santai, merapikan penampilan sekadarnya, dan menyambar kunci mobil bergegas menuju pantai.

 

Aku bergegas turun saat sampai di pantai. Pantai lumayan ramai hari ini, banyak pasangan yang sedang bersenda gurau. Menunggu sunset hari ini. Sekarang masih pukul 5 sore, lebih baik aku bermain air dulu.

 

Aku berjalan ke pinggir pantai, mencelupkan kakiku yang mengenakan sendal santai. Bermain-main dengan pasir putih itu. Sampai datang seseorang anak laki-laki lucu menghampiriku.

 

“Noona, maukah kau bermain denganku?” Tanyanya.

 

“Bermain? Boleh adik manis. Siapa namamu?” Tanyaku.

 

“Aku Lee Eun Jo noona. Noona sendiri?”

 

“Bermain? Boleh adik manis. Siapa namamu?” Tanyaku.

 

“Aku Lee Eun Jo noona. Noona sendiri?”

 

“Aku Lee Ji Eun, Eun Jo. Kau boleh memanggil noona dengan sebutan ‘IU noona’.”

 

“Baiklah noona. Kajja kita membuat istana dari pasir noona. Aku membawa alat-alatnya.” Ucapnya lucu dengan pipi chubbynya sambil tangannya menunjuk ketumpukan mainan di suatu kotak dibelakangnya sendiri.

 

“Oke, kita buat istana pasir yang besar dan indah.” Ucapku.

 

Setelah sekian lama bermain, istana kami pun jadi. Senja mulai menampakan diri.

 

“Eun Jo-ah, kajja kita pulang.” Teriak sebuah suara.

 

“Ne eomma.” Balas Eun Jo

 

“Noona, aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi.” Lanjutnya. Dia lalu berlari meninggalkanku dan menuju ke eommanya berada.

 

Ah, sudah senja. Lebih baik aku pulang juga. Aku mulai beranjak dan menatap ke pantai sebentar. Tiba-tiba aku melihat sebuah pemandangan yang sangat menyesakkan. Sunset tlah menampakkan diri, kala itulah mereka, Youngie dan Nae Ri berciuman jauh dihadapanku. Kurasakan tubuhku mematung. Aku ingin berlari, tetapi kakiku ini tidak mau berkompromi. Air mataku spontan mengalir. Kurasakan bagai belati tlah menancap dalam dihatiku. Perih, sesak. Aku mencoba menguasai diri, aku berjalan menjauh. Kurasakan kakiku tidak kuat menopang tubuhku. Kepalaku yang tiba-tiba seperti di hantam sebuah benda yang sangat berat membuatku oleng dan terjatuh. Aku kehilangan kesadaran. Pasrah jika Tuhan mengambilku pergi.

IU pov end.

 

Wooyoung pov

Hari ini aku mengajak Nae Ri pergi ke pantai. Kami akan melihat sunset bersama-sama. Saat sunset menampakkan diri, aku melihat Nae Ri tersenyum disampingku. Aku mencoba meyakinkan apa aku benar-benar mencintai gadis ini. Aku bingung. Tidak ada rasa bergejolak dihatiku. Hanya rasa ketertarikan, tidak lebih. Disaat aku melamun, Nae Ri menatapku.

 

“Waeyo chagi? Ada apa denganmu?” Tanyanya.

Aku terkesiap, “Ani. Tidak apa-apa chagi.” Aku menatapnya, kenapa jantungku biasa saja? Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, sampai bibir kami bertemu. Kenapa beginipun aku biasa saja. Berbeda saat aku mencuri mencium IU pada saat di tertidur dulu waktu kami SMA. Kenapa dengan hatiku?! Aku bisa gila.

 

“Ada yang pingsan. Ayo, kita lihat.” Teriak seseorang yang tidak jauh dari kami.

 

Itu otomatis membuat kami saling melepaskan diri. Aku merasakan perasaan yang tidak enak. Aku bergegas menuju kerumunan orang yang tak jauh dari kami sekarang. Aku menerobos kerumunan itu. Hatiku mengatakan bahwa aku mengenalnya. Aku sangat terkejut dengan pemandangan dihadapanku. IU tergeletak tak sadarkan diri. Darah kembali mengalir dari hidungnya. Wajah yang sangat pucat itu. Memaparkan rasa sakit yang diterimanya.

 

“IU-ah, gwaenchana? Ada apa denganmu! Bangunlah IU-ah, jangan buatku khawatir. Bertahanlah.” Ucapku sedikit berteriak.

 

Aku segera membopongnya menerobos kerumunan membawanya kemobil dan bergegas kerumah sakit. Di dalam perjalanan, aku mengetik sms ke Nae Ri bahwa tlah terjadi sesuatu kepada IU, dan meminta maaf meninggalkannya sendiri.

 

Dia lalu membalas sms-ku :

From : Nae Ri

Tidak apa-apa oppa. Aku bisa pulang sendiri. Kabarkan aku keadaannya nanti.

 

Aku tidak membalas lagi sms itu. Sesampainya dirumah sakit, aku menggendong IU dan menghampiri suster-suster disana. Mereka segera bertindak. Aku menungguinya diluar ruangan. Tak berapa lama, dokter pun keluar. Dia menghampiriku.

 

“Apa kau keluarganya pasien? Dia akan segera dipindahkan kekamar inap. Kondisi fisiknya sangat lemah.” Ucap dokter itu.

 

“Ne dokter. Aku satu-satunya keluarga dia yang berada di Seoul. Orangtuanya di NY.”

 

“Baiklah, ikut keruanganku. Kita akan membicarakan penyakitnya lebih lanjut.”

Wooyoung pov end

 

Author pov

Terlihat namja duduk di depan sebuah ranjang di suatu ruangan di rumah sakit. Di depannya terbaring seorang yeoja yang terlihat lemah. Dia menggenggam tangan yeoja itu dan berkata pelan.

 

“IU-ah, bertahanlah. Aku disini, saranghae. Mian, aku baru menyadarinya.”

 

Flashback

“Apa yang terjadi dengan IU dokter?” Tanyaku.

 

“Kau tidak mengetahuinya? Dia mengidap kanker otak stadium akhir. Sel kankernya sudah menyebar.”

 

“Mwo? Dokter tidak bercandakan? Usahakan yang terbaik dok, sembuhkan dia.”

 

“Ne, kami akan berusaha, tetapi keputusan tetap berada di tangan yang kuasa.”

Flashback end

Author pov end

 

______

At morning

Wooyoung pov

IU sudah bangun. Dia kaget menyadari dia berada dimana. Aku menatapnya. Meminta penjelasan kebohongannya.

 

“Mian Youngie, karna aku kau menjadi repot. Aku akan menjelaskannya ke kamu di pantai. Bawa aku ke pantai, aku ingin melihat pemandangan pagi di pantai.”

 

“Tidak IU-ah, kau masih lemah. Wajahmu sangat pucat. Masih sangat dingin di pantai pada pagi hari.”

 

“Ani wooyoung. Ayolah, kabulkan permintaanku. Aku baik-baik saja.”

 

“Baiklah.”

 

Aku membawanya kepantai. Dia duduk di kursi roda, sedangkan aku duduk dikursi santai di pinggir pantai. Matanya menerawang jauh. Daritadi belum ada percakapan di antara kami.

 

“Jelaskan kepadaku sekarang.” Ucapku memulai.

 

“Baiklah, aku akan menjelaskan. Aku mengidap penyakit ini saat duduk dibangku SMA. Saat aku tiba-tiba pingsan di kelas dan kau mengantarkanku pulang keapartemenmu. Kau ingat itukan? Saat aku sadar, kau masih disekolah, aku mengecek keadaanku ke dokter, alhasil, aku mengetahuinya. Aku berusaha melawan penyakit itu sampai sekarang, dan saat ini adalah puncaknya.” Jelasnya menatap pantai. Dia meneteskan air mata.

 

“Kenapa kau menyembunyikannya padaku? Apa aku hanya kau anggap sebagai orang yang tidak berguna?”

 

“Mianhae youngie, aku hanya ingin kau tidak mengkhawatirkanku.”

 

“Apa kau tahu? Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu kemarin! Apa kau tahu!” Bentakku.

Dia lalu menangis.

Wooyoung pov end

 

Author pov

“Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu kemarin! Apa kau tahu!” Bentak namja itu.

 

Yeoja yang dibentak menangis tersedu-sedu.

 

“Kapan kau peduli padaku ha? Kau selama ini tidak pernah memikirkan perasaanku.” Balas wanita itu dengan suara bergetar.

 

“Aku menyayangimu. Tidak sadarkah kau?”

 

“Kau yang tidak sadar, aku sakit karna kau Youngie. Aku yang tersiksa.”

 

Melihat yeojanya menangis, namja itu berhenti membentaknya. Lalu berucap, “Mianhae IU-ah, jangan menangis. Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu. Aku menyayangimu. Saranghae.”

 

“Mwo? Jangan bercanda Wooyoung-ah, kau sudah memiliki Nae Ri.”

 

“Aku sudah putus dengannya. Aku sudah menjelaskan semuanya. Aku hanya tertarik, bukan cinta. Yang aku cintai itu engkau IU-ah.”

 

“Tetapi youngie- ….”

Belum sempat yeoja itu menyahut, namja itu langsung membungkam mulut yeoja itu dengan sebuah ciuman lembut.

 

“Saranghae IU-ah, bertahanlah. Tetaplah disampingku.” Ucap namja itu setelah melepaskan ciumannya.

 

“Nado saranghae Youngie.” Balas yeoja itu.

 

Namja itu memeluk yeojanya. Lama bertahan di posisi itu, namja itu merasakan sesuatu yang aneh. Dia melepaskan pelukannya dan menatap yeoja itu. Dia mengguncangkan tubuh yeoja itu, tetapi yeoja itu hanya diam.

 

“IU-ah, bangun. Jangan tinggalkan aku.” Rintih namja itu.

 

Dia membawa yeoja itu kembali kerumah sakit dan menghampiri dokter.

 

“Apa yang terjadi dengan dia Young-ssi?”

 

“Tolonglah dia dokter, selamatkan dia. Palli dokter.” Jawab Wooyoung kalut.

 

“Baiklah, kami akan berusaha, berdoalah.”

 

Dokter tersebut masuk kedalam meninggalkan Wooyoung yang tengah menangis sambil berdoa demi keselamatan IU.

 

“Tuhan, jangan kau ambil yeojaku. Biarkan lah dia menikmati hidupnya lagi. Kuatkan dia tuhan. Selamatkan dia. Jangan pisahkan dia dariku.” Batin Wooyoung berdoa.

 

End~

 

Hayooo ! Author kabur ! Hehehehe

Gak dehh . Jangan ngamuk readers tersayang. Endnya ngegantung ya? Pengennya apa? IU hidup ato meninggal?

Author bakal bikin sequelnya kalo kalian mau, setuju nggak ?

Kalo iya, ayoo coment sebanyak-banyaknya.

Bye-bye reader. See you next time in my next ff .

Ayoooo ! Kewajiban kalian, coment ! Laksanakanlah. Hehehe