School Life Diary_melurmutia

Author : melurmutia

Casts: Kim So Hyun and Yeo Jin Goo

Genre : School Life, Romance

Rating : PG-13

Length : Series

Disclaimer : I do not own the casts. Yang suka nonton drama MBC The Moon That Embraces The Sun dan I Miss You pasti tahu couple ini. Aku suka banget sama mereka jadi langsung nulis fanfic-nya. Khas anak SMP. Pernah diposting di blog pribadi, http://www.mydearexo.wordpress.com dan juga di http://www.schooloffanfict.wordpress.com.Happy reading! ^^

Tolong tinggalkan komentar setelah dibaca😀

Don’t plagiarize my post!

Gadis itu duduk terdiam sambil menyandarkan kepalanya di salah satu pegangan ayunan di sebuah taman. Ia mulai menghentakkan kedua kakinya dengan perlahan ke tanah sehingga tubuhnya seakan melayang oleh ayunan itu. Rambut panjangnya yang indah melambai lembut. Kepalanya menengok kesana kemari mencari-cari sosok yang sedang ditunggunya dan mendesah pelan. Tidak biasanya orang itu datang terlambat. Apa terjadi sesuatu padanya?

“YAAA!!!”

Gadis itu tersentak kaget bukan main. Seseorang dengan suara berat di belakangnya tiba-tiba berteriak dan langsung menahan pegangan ayunan dengan kedua tangannya sehingga gadis itu berhenti terayun. Ketika ia menoleh, anak lelaki itu langsung tertawa jahil. Gadis itu memutar bola mata dan berdecak. Ia seketika membuang muka pada lelaki di belakangnya dan memasang ekspresi cemberut. Lelaki itu dengan riang langsung berjalan ke depannya.

“Wah, sepertinya kau marah!” goda anak lelaki itu lalu berjongkok tepat di depannya.

“Dari mana saja kau?” tanya gadis itu sambil mengangkat dagu.

Lelaki itu hanya tersenyum dan sepertinya tidak berniat menjawab pertanyaan yang dilontarkan untuknya. Sebenarnya ia sejak tadi sudah sampai duluan di taman itu dan memerhatikan gadis itu yang bosan menunggunya dari kejauhan tanpa alasan yang jelas.

“Sudahlah! Yang penting kan aku sudah datang. Cepat keluarkan PR-nya!”

Mwo? Bisa-bisanya ia langsung membicarakan inti pertemuan hari ini. Bukankah orang itu harus minta maaf dulu karena sudah membuatnya menunggu begitu lama? Gadis itu menendang kaki lelaki yang sedang berjongkok di depannya sehingga jatuh ke belakang. Ia bisa melihat lelaki itu meringis dan bangkit dengan cepat lalu mulai mengomel.

“So Hyun-a!”

Gadis itu menunduk lalu tertawa kecil. Lelaki itu pasti sangat kesal. Begitu ia kembali mendongakkan kepala, lelaki itu berjalan menjauh. Sontak gadis itu mebulatkan mata terkejut dan bergegas turun dari ayunan. Ia berlari menghampiri lelaki itu dan memegang lengannya dengan kedua tangan.

“Jin Goo-ya, mianhae!”

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum jahil. So Hyun kali ini menyadari ia telah dikerjai lagi. Selalu seperti itu. Ujung-ujungnya ia yang pada akhirnya selalu meminta maaf dan kalah dari Jin Goo. Benar-benar menyebalkan! So Hyun menepis lengan Jin Goo dan hendak berbalik meninggalkan lelaki itu. Namun, Jin Goo dengan cepat langsung menangkap tangannya sehingga gadis itu menoleh pelan ke arahnya.

“Aku yakin kau tidak akan bisa menyelesaikan PR itu tanpa diriku.”

Wajah So Hyun bersemu. Ia cepat-cepat memalingkan pandangannya dari Jin Goo. Harus ia akui bahwa ucapan lelaki cerdas yang sedang menggenggam tangannya itu benar. Selama ini, Jin Goo-lah tempatnya bertanya soal tugas sekolah yang dianggapnya rumit.

Namun, apakah hal itu yang membuatnya merekah? Entah sejak kapan ia mulai memandang berbeda teman sejak kecilnya itu. Lelaki itu sedang tersenyum ke arahnya. Darah So Hyun berdesir cepat. Ia sungguh tidak tahu perasaan macam apakah itu.

Jin Goo tiba-tiba mengalungkan sebelah lengannya di bahu So Hyun, membuat mata gadis itu seakan ingin melompat keluar. Jin Goo kemudian seperti menggiring gadis itu ke bangku taman. Di dekatnya, ransel pink So Hyun tergeletak begitu saja. Jin goo juga mulai mengeluarkan buku dan alat tulisnya dari ranselnya. So Hyun tersenyum ke arahnya dan ikut mengeluarkan PR-nya.

Mereka berdua menyandarkan kepala di bangku taman, mengangkat-angkat buku mereka, memainkan bolpoin, mendiskusikan tugas matematika mereka dengan begitu serius. Jelas sekali Jin Goo yang dominan memberikan pengarahan kepada So Hyun. Gadis itu hanya sesekali mengangguk mengerti dan beberapa kali meminta penjelasan tentang jawaban soal kepada Jin Goo.

“Soal nomor enam dan tujuh ini mirip. Aku akan kerjakan yang nomor enam. Kau coba kerjakan nomor tujuh seperti yang aku contohkan tadi,” ujar Jin Goo sambil melingkari nomor soal untuk So Hyun.

Senyum gadis itu mengembang. Begitu ia menuliskan rumus pertama, pandangannya beralih pelan kepada Jin Goo. Lelaki itu dengan lincahnya menuliskan rumus-rumus menyebalkan itu di buku tulisnya dan memasukkan semua variabel-variabe soal ke dalamnya sehingga menghasilkan jawaban yang tepat. Ia penuh dengan konsentrasi terhadap apapun yang dikerjakannya. Lihat saja ekspresinya. Keningnya agak berkerut. Mata hitamnya yang tegas tidak beralih dari apa yang ditulisnya. So Hyun menyukai pemandangan itu.

“So Hyun-a!”

Gadis itu membelalak kaget saat dirinya tertangkap basah sedang memandangi Jin Goo. Lelaki itu melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah So Hyun, pertanda bahwa gadis itu sedang mengkhayal. So Hyun mengerjapkan mata salah tingkah.

Aish! Kau sejak tadi melamun, ya? Jadi, apa yang kujelaskan tadi percuma saja?”

“Hah? Tidak! Siapa bilang aku melamun?”

“Tentu saja kau melamun! Lihat, soal nomor tujuh itu belum kau kerjakan!”

Ara! Akan aku kerjakan!”

So Hyun menggigit bibirnya setelah membaca soal tersebut. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan berpikir keras. Jin Goo memang telah menjelaskan cara penyelesaian soalnya. Bodoh sekali ia hanya melamun sepanjang hari itu. Tidak mungkin kan ia meminta lelaki itu memberikan penjelasan ulang. Nanti ia dikira benar-benar bodoh padahal memang.

Aha! Seakan di atas kepala So Hyun tiba-tiba ada lampu bohlam yang menyala, ia menyadari sesuatu. Soal nomor enam dan tujuh kan agak mirip. Jin Goo sudah mengerjakan soal nomor enam. Ia bisa tinggal melihat catatan Jin Goo dan cuma harus mengganti variabel soal. So Hyun tersenyum jahil. Hehehe…

“Jin Goo-ya, aku pinjam catatanmu sebentar, ya!”

Lelaki itu tidak mendengar. Matanya terpejam sambil menyandarkan kepala. Alur napasnya teratur. Wajah polos yang sesungguhnya pun nampak. Ia tertidur pulas. Senyum So Hyun merekah. Sudah menjadi kebiasaan Jin Goo untuk tertidur saat mengerjakan tugas bersamanya di tempat itu. So Hyun mengeluarkan bantal kuning kecil dari ranselnya dan dengan hati-hati ia mengangkat kepala Jin Goo dari sandaran bangku kemudian diselipkannya benda tersebut.

Niat untuk mengerjakan soal nomor tujuh pun sirna. So Hyun mengeluarkan buku catatan kecil dari ranselnya lalu memandang Jin Goo sejenak. Ia kembali tersenyum dan dengan perlahan ikut menyandarkan kepalanya di bahu Jin Goo. Dibukanya buku catatan kecil itu dan mulai menulis.

Hari ini aku membawa bantal kuning kecilku dan benar saja! Ia tertidur lagi. Kali ini aku tidak akan membiarkan kepalanya sakit karena bersandar di bangku taman yang keras. Akan kubuat ia bersandar padaku. Ia pasti akan merasa lebih nyaman.

Dari bahu Jin Goo, So Hyun melirik lelaki itu yang masih terpejam dan menatapnya dalam-dalam. Tiba-tiba jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. So Hyun memegang dadanya dengan kedua tangan seakan takut Jin Goo terbangun karena degup jantungnya yang mulai menggila. Gadis itu mengatur napas sambil menutup mata. Ia kembali menulis diary-nya dengan ragu.

Kurasa aku menyukainya. Benarkah? Tidak mungkin…

So Hyun menutup diary-nya sambil mendesah pelan. Ia merapatkan kepalanya di bahu Jin Goo dengan wajah bingung. Angin sepoi-sepoi bertiup di sekitar taman, menyibak pelan wajah dan rambut mereka, seolah-olah menyampaikan pesan selamat tidur. So Hyun merasakan kesejukan yang datang itu seperti sedang membelainya dan dengan tidak sadar ikut masuk ke dunia mimpi.

Jin Goo, sepertinya aku menyukaimu!

Langit berubah kemerahan saat Jin Goo terjaga. Sesuatu yang empuk ada di bawah lehernya. Saat ia hendak menengok, So Hyun sedang tertidur pulas di bahunya. Ia menatap gadis itu dari puncak kepalanya dan tersenyum kecil.

Angin bertiup kembali. Jin Goo mengangkat sebelah tangannya ke udara merasakan hembusannya. Jantungnya ikut berdegup kencang seakan memecah keheningan sore itu. Jin Goo kelabakan dan langsung memegang dadanya agar So Hyun tidak terbangun karena mendengarnya. Jin Goo mengembuskan napas. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan pastinya ia merasakan hal ini bila berada di sisi So Hyun. Ia kembali memandangi So Hyun dan perlahan meraih sebelah tangan gadis itu kemudian menggenggamnya erat. Ia mencoba memejamkan mata, mencoba mememahami apa yang ia rasakan, dan perasaan itu datang dengan lebih hebat. Kini ia mengerti.

So Hyun-a, hanya kau yang membuatku merasakan hal seperti ini. Apakah tidak apa-apa kalau aku menyukaimu?