time machine

Author  : Nalin Lee

Tittle     : Time Machine

Genre   : romance

Tags       : Cho Kyuhyun and Kim Hyun Mi (OC)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : jelek? Emang. Gaje? Apalagi. Ah entahlah cerita ini emang rada aneh😛 *bow. FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T .. jangan lupa kunjungin blog aku yah, kekkeee*numpang promosi www.mitwins.wordpress.com

Time Machine

Drttt…. Drtttt.. Drrtttt…

Getaran dimeja itu sontak menyadarkanku dari lamunanku yang tidak penting yang baru saja ku lamunkan. Aku melirik ponsel Sony Ericsson ungu yang terletak sembarang diujung mejaku, tangan kananku dengan malas meraihnya. Ku buka flip ponsel bututku itu. Ternyata ada sebuah pesan singkat yang masuk.

Kyuhyun ?

Nama yang tertera dilayar ponselku membuatku sedikit menganga dan membuat pupil mataku membesar. Badanku yang sedari tadi tertunduk lemas menatap coretan-coretan yang sedari tadi ku hasilkan seketika itu juga menegang.

Aku menatap kedepan, takut-takut dosen itu menegurku yang tidak memperhatikannya sedari tadi. Aman! Dosen itu tetap focus berkutat dengan papan tulis, spidol, dan juga tulisan-tulisan yang memenuhi papan tulis putih itu.

Aku kembali menundukkan kepalaku, menatap ponselku yang beberapa detik lalu terabaikan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ragu-ragu jempol tanganku menekan tombol read yang terletak diujung atas keypad ponselku.

 

Aku berada didepan gerbang kampusmu sekarang. Aku harap kau tidak lupa dengan janji kita sore ini ^^

Tanpa diperintahkan aku kembali membulatkan mataku. Sedetik kemudian aku menepuk dahiku, salah satu kebiasaanku jika aku ini orang yang pelupa. Astaga, mana mungkin aku melupakan hal sepenting ini. Bagaimana aku bisa melupakan janji dengan sahabatku itu. Aishhh! Kau bodoh Hyun Mi.

Aku mengedarkan pandanganku memandangi teman-teman sekelasku yang lainnya, ternyata bukan cuma aku yang bosan dengan mata kuliah ini, tapi hampir semua dari mereka memiliki ekspresi yang sama denganku. Ekspresi bosan dan mengantuk., hanya sebagian yang tetap focus menatap dosen yang masih sibuk dengan materi perkuliahannya yang tidak bisa ku mengerti. Entah mata kuliah ini yang trlalu sulit atau otakku yang tidak mampu menjaring materi merangkai kata ini. Entahlah, itu tidak penting, yang pasti mata kuliah ini teramat sangat membosankan.

Hufthh.. aku menghembuskan nafas dengan berat, berharap kantuk yang sedari tadi menyelubungiku lenyap bersama hembusan nafasku. Aku mengangkat pergelangan tangan kiriku, melirik sekilas jam tangan bermerk guess yang melingkar manis disana, jarum jam menunjukkan angka 2, berkali-kali aku mengerjapkan mataku, mungkin rasa kantuk ini membuat penglihatanku mengabur. Aku mendekatkan tanganku, memfokuskan penglihatanku kembali. Oh no, ternyata memang ini masih pukul 2. Itu artinya satu jam lagi mata kuliah ini akan berakhir.

Hufthhh. Lagi-lagi aku menghela nafasku dengan berat. Berada dikelas ini satu jam lagi terasa seperti berbulan-bulan lamanya atau mungkin terasa berabad-abad. Yah mungkin terlalu berlebihan, tapi yang pasti aku bisa mati bosan disini.

Aku kembali meraih ponselku yang kubiarkan flip-nya terbuka sedari tadi. Dengan perasaan bersalah yang menghantuiku, aku segera menekan tombol replay.

 

Tentu saja aku ingat dengan janji kita hari ini. Tapi, aku harus berada dikelas ini selama satu jam lagi. Dengan sangat terpaksa kita harus membatalkannya hari ini L

Send..

Yah, apa boleh buat. Dengan sangat terpaksa dan hati yang sangat tidak rela aku membatalkannya. Tidak mungkinkaan aku menuruhnya menungguku selama itu. Andai saja aku mempunyai mesin waktu seperti ceritaa kartun Doraemon favoriteku itu, pastilah aku bisa mempercepat waktu sekarang juga.

Drttt…. Drtttt.. Drrtttt…

Getaran dari ponselku sontak menyadarkanku dari lamunan konyolku akan Doraemon dan mesin waatunya. Aku segera mebuka flip ponselku.

 

Satu jam? Baiklah. Aku akan menunggumu ^^

“APAAAAAAAAAAAA?”

Opsss. Aku segera mambekap mulutku dengan tangan kiriku. Teriakan melengking yang baru saja kuhasilkan membuat seisi kelas yang sedari tadi sunyi senyap kini menatapku dengan ekspresi bingung diwajah mereka masing-masing. Bagaimana aku tak heboh seperti itu. Namja seperti Kyuhyun rela menungguku selama satu jam? Oh my God. Sepertinya Evil itu sedang kerasukan malaikat.

“kau bodoh Hyun Mi. Pasti sebentar lagi tamatlah riwayatmu”

Samar-samar aku mendengar suara Chan Mi. Sahabat sekaligus teman yang duduk disamping kiriku saat ini tengah berbisik memperingatkanku.

Glekk. Aku menelan ludahku dengan susah payah mendengar ultimatum yang Chan Mi berikan padaku. Keringat dingin entah sejak kapan muncul ini menambah rasa horror yang menyelimutiku kian bertambah. Belum sempat  aku menatap kedepan, sebuah teriakan menggelengar tertangkap oleh pendengaranku “KELUAAAARRRR”

.

.

.

.

“Huaahaaha. Kau dikeluarkan dari kelas hanya gara-gara kau membuat seisi kelas heboh seperti itu”

“Aishhh. Terus saja kau tertawa Kyuhyun bodoh. Aku seperti itu juga karena dirimu” aku menggembungkan pipiku kesal.

“hei..heii. jangan ngambek seperti itu. Kau terlihat tambah jelek dengan wajah seperti itu” Kyuhyun mencubi-cubit pipiku gemas.

Byurrr..

Coffee late yang ingin segera meluncur ketenggorokanku itupun kini terpaksa beralih tempat ke wajah tampan Kyuhyun. Kyuhyun sontak membulatkan matanya melihat cairan coklat panas itu diwajahnya.

“Yhaaa.. Kim Hyun Mi apa yang kau lakukan ?” teriak Kyuhyun geram.

Aku berusaha merogoh tasku, mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk membersihkan tampang kusut Kyuhyun akibat insiden coklat panas barusan. Siapa suruh mencubit pipiku saat aku sedang minum. Jadi ini kan bukan salahku.

“ini” aku menyerahkan selembar tissue padanya. Walau bagaimanapun ini salahku, aku tentunya harus bertanggung jawabkan.

Kyuhyun menatapku dengan tampang datarnya. Tak berapa lama ia melengoskan kepalanya menatap kearah jendela tepat disebelah kami duduk sekarang ini. Café yang letaknya hanya beberapa meter dari kampusku ini memang café favorite kami berdua, suasana yang jauh dari kebisingan ini membuat kami nyaaman berlama-lama ditempat ini.

Aku beranjak dari dudukku yang sedari tadi berhadapan dengannya menuju bangku kosong disebelahnya. Kau tidak pernah berubah Kyuhyun, 2 tahun berpisah denganmu tak membuatmu berubah sama sekali. Kau tetaplah Kyuhyun yang kukenal. Kyuhyun dengan segala tingkah konyolnya. Kyuhyun yang suka ngambek dengan hal yang sepele.

“heii, ingat umurmu sudah 25 tahun, bersikaplah seperti lelaki dewasa. Bagaimana nanti istrimu jika mengetahui kelakuanmu layaknya seperti anak TK begini” aku mencoba membujuknya. Yah beginilah caraku membujuk seseorang. Aku memang tak pandai berkata-kata manis seperti gadis-gadis lainnya jika membujuk kekasihnya. Lagipula namja babo ini kan bukan kekasihku. Buat apa aku bersikap manis dihadappannya. Yang ada ia malah akan menertawaiku. Dasar namja iblis

Kyuhyun menatapku sekilas. Sudut kanan bibirnya terangkat, memperlihatkan seringai menyebalannya “Kau yang akan menjadi istriku kelak. Jadi buat apa aku bersikap bukan seperti diriku kau sudah mengetahui semua tentangku bukan”

Omoooo.. bicara apa iblis ini. Apa otaknya sedang bermasalah sekarang? Aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi dan.

Pletakkk.

Jitakan cantikku berhasil mendarat dikepalanya. Ia meringis pelan dan mengusap-usap bekas jitakanku. Cih, berlebihan sekali. Pukulankukan tidak sekeras itu.

“apa kau ingin membuat suamimu ini menjadi bodoh hah?” teriaknya. Aigooo. Hobby-nya berteriak ternyata masih melekat padanya sekarang ini.. ckckkckk.

“kau memang sudah bodoh dari dulu. Percuma kau melanjuutkan kuliahmu di Paris jika kau masih bodoh seperti ini” aku beranjak hendak meninggalkannya yang masih memasang tampang kesalnya.. hihihi. Aku paling selalu suka jika membuatnya kesal seperti itu.

“yhaa.. kau mau kemana?”

“Aku mau mendaftarkan pernikahan kita. Kau mau ikut?” tanyaku dengan suara yang dibuat semanis mungkin. Meladeni candaan konyol-nya sedikit kan tidak masalah.

.

.

.

“katanya kau mau mendaftarkan pernikahan kita, kenapa malah kesini” pertanyaan yang sama sejak setengah jam lalu itu membuat telingku sakit. Aku tak berniat sedikitpun menggubris namja yang sedari tadi sibuk dengan PSP-nya dengan mulutnya yang tidak pernah berhenti bertanya tentang pertanyaan konyolnya itu.

Hufthhh. Biarlah ia terus mengoceh seperti itu. Dia pasti akan berhenti dengan sendirinya jika ia lelah. Aku bukannya tidak suka dengan candaannya kali ini. Hanya saja aku ingin berhenti berharap. Berharap pada sahabatku ini. 15 tahun aku bersamanya, selama itupula aku merasakan sakitnya menyimpan rasa cinta ini sendiri.

Biarlah seperti ini saja, hanya menjalin sebuah persahabatan dengannya tidak terlalu buruk bagiku. Setidaknya aku masih bisa menatap wajahnya, mendengar suaranya, dan selama ia masih tak  jauh dari jangkauanku itu sudah lebih dari cukup untukku. Jika aku mempunyai kekuatan untuk membuat waktu terasa menjadi lebih lama berjalan, aku akan melakukannya, aku ingin membuat waktu berjalan dengan sangat lamban jka bersama dengan namja ini.

“kau mendengarkanku chagiya?”

“uhukkk.. uhukkk..”

Tangan besar namja itu kini sibuk mengelus punggungku lembut. Huhhh. Sudah cukup, berhenti bercanda seperti itu Cho Kyuhyun. “Yhaaaaaa.. kau bodoh atau idiot hah? berhenti bergurau dengan candaan bodohmu itu” teriakku kesal. 15 tahhun bersamanya ternyata hobby-nya berteriak kini mulai tertular padaku -,-

“aku tidak bercanda”

Aku membulatkan mataku tak percaya. Dengan gampangnya namja iblis ini mengucapkan tiga kata itu? Aigooo. Aku bisa gila.

“yah, terserah kau lah Cho KyuHyun” aku berlari meninggalkannya yang masih duduk dibangku taman itu. Belum beberapa langkah meninggalkannya, aku berbalik sekilas menatapnya. Tatapan mata coklatnya berhasil membuatku terpaku, sorot matanya memperlihatkan keseriusan dari ucapan yang sempat ia lontarkan kepadaku. Ayolah Hyun Mi, apa kau lupa kalau ia actor drama musikal yang sudah sering berakting seperti itu, kau jangan tertipu dengan acting konyolnya seperti itu.

.

.

.

Tepat seminggu setelah kejadian itu, yahh sekarang disinilah aku. Disebuah ruangan yang terlihat sacral bagiku, dan juga bagi namja iblis itu. Dentingan piano yang dimainkan Sungmin menambah kesan sacral dari upacara pemberkatan kami.

Jika kalian bertanya sedang apa kami disini? Pasti kalian berfikir kalau kami hanya menghadiri sebuah upacara pernikahan. Oh tidak. Kalian semua salah. Percaya kah kalian jika sekarang kalian berada di upacara pernikahanku?

Senyum yang sedari tadi tak pernah terlepas dari wajahku terus mengiringiku berjalan pelan menuju altar tepat kyuhun dan seorang pendeta yang sedang menungguku. Dengan appa-ku yang sedari tadi terus mengonrol kecepatan langkahku agar tidak terlalu terburu-buru. Ayolah appa. Jarak dari pintu masuk dengan altar yang didekorasi serba putih itu tidak terlalu jauh. Bisakah kita percepat upacara pernikahan ini.

“aku titipkan putri manjaku ini padamu. Tolong jaga dia” akhirnya aku mendengar suara appaku ini setelah selama seminngu ini aku tidak mendengarnya. Saat kyuhun melamarku tepat didepan kedua orang tua-ku. Appa tak memberikan sepatah katapun pada kami. Appa hanya menganggukkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan kami saat itu juga. Awalnya aku mengira appa tak merestui hubungan kami, ternyata appa mencintaiku dengan caranya sendiri.

Diam bukan berarti tak merestuikan? Yah mungkin seperti itulah cinta yang kyuhun berikan padaku. Bukan layaknya seperti donghae oppa yang selalu menyatakan rasa cintanya melalui kata-kata romantis, atau bukan pula seperti Sungmin oppa yang selalu memberi perhatian lebih pada kekasihnya, dan bukan seperti siwon-opa yang  mengutamakan kesempurnaan dan kemewahan untuk menyatakan cintanya. Namun kyuhun tetaplah kyuhyun. Ia mencintaiku dengan caranya yang istimewa selalu ada kejutan disetiap detikya.

“Cho kyuhyun, apa kau bersedia menerima Kim Hyun Mi menjadi istrimu baik dalam keadaan suka, maupun duka, sehat maunpun sakit. Sampai maut memisahkan?”

Hening. Tak ada satupun yang mengeluarkan suara. Melalui ekor mataku aku melirik kyuhyun, apa ia ragu untuk menjadikanku sebagai istrinya?

“Ya. Aku bersedia. Sangat. Sangat. Sangat bersedia” jawab Kyuhyun lantang.

Omoooo.. bagaimana bisa aku memilih namja ini sebagai suamiku. Samar-samar aku mendengar beberapa orang dibelakang sana mencoba menahan tawanya. Tuhan. Apa aku harus membatalkan pernikahan ini.

“Kim Hyun Mi, apa kau bersedia menerima Cho Kyuhun menjadi suamimu baik dalam keadaan suka, maupun duka, sehat maunpun sakit. Sampai maut memisahkan?”

Aku melirik Kyuhyun sekilas. Ternyata ia juga menatapku dengan senyum mengembangnya. Aku tau pasti sekarang dalam fikirannya aku tidak bisa menolaknya. Cihh, kau pede sekali Mr. Cho.

“aku tau kau pasti akan menjawab ‘Ya, Aku bersedia’ ” ternyata benar dugaanku, namja itu dengan penuh percaya dirinya ia berbisik ditelingaku. Astaga namja ini. Disaat sacral seperti ini pun ia masih sempat menggodaku.

Aku menghembuskan nafas pelan “Ya, aku bersedia” jawabku yakin.

Suara tepukan riuh dari para hadirin yang sedari tadi menyaksikan pun lepaslah sudah, upacara yang terbilang sederhana ini telah berhasil ku lalui.

Kyuhyun berbalik mentapku. Perlahan namun pasti ia mendekatkan wajahnya kerahku.

Chu~

Ciumannya begitu Lembut dan Manis secara bersamaan.

Jika kalian bertanya kapan ciuman yang sangat berkesan yang pernah ku rasakan. Sebagian orang pasti akan menjawab saat ciuman pertama. Memang benar. Aku pun merasakannya tapi yang pasti, menurutku. Ciuman yang paling mengesankan itu adalah disaat ciuman setelah kita mengikrarkan janji sehidup semati dengan orang yang paling kita cintai dihadapan Tuhan. Apa aku benar?

Tuhan.. sudah sering aku menggerutu akan waktu yang kau berikan padaku. Namun sekarang aku tidak perlu lagi meminta pada-Mu untuk menghentikan waktu saat ini juga. Hidup itu memang tidak selalu bahagia. Aku hanya ingin berusaha menghargai dan menjalani waktu ang engkau berikan padaku.

Bersamanya~

 

End

Note: eaaaaaaaa,, balik lagi dengan author gaje satu ini. Kali ini aku bukan bawa couple Sung Min dan Chan Mi seperti biasanya. tapi kali ini ingin memperkenalkan couple Hyun Mi dan Kyuhyun. Hohoho. Author labil pengen pilih SUNG MIN atau KYUHYUN buat jadi suami. Makanya munculin tokoh baru😀

I hope you like it J