Yoochun Yoon Eun Hye Gwaenchana_melurmutia

Author : melurmutia

Casts : Park Yoochun & Yoon Eun Hye

Genre : Angst, romance, sad

Rating : PG-13

Length : Drabble

Disclaimer : I do not own the casts. Ide cerita murni karangan author.

Note: Aku nulis fanfic ini karena sudah kena Bogoshipda fever dari tahun lalu. Hehehe… Pernah diposting di blog pribadiku mydearexo.wordpress.com dan di schooloffanfict.wordpress.com. Happy reading! ^^

Tolong tinggalkan komentar setelah dibaca

Don’t plagiarize my post!

Setelah pria bengis dengan pakaian kumal itu meninggalkan ruang penyimpanan barang, gadis itu masih terkapar di ubin yang dingin. Rasa perih akibat tamparan kuat di wajahnya masih membekas. Segala yang ada di sekitarnya nampak kabur. Tangan dan kakinya diikat kuat, mulutnya dibungkam dengan kain, membuatnya benar-benar tidak berdaya bahkan untuk bergeser dari posisinya sekarang. Dalam hening malam di ruangan dingin tersebut, air matanya jatuh membentuk tetesan kecil di ubin.

Yoochun-ah…

Ia mendongak ke kaca besar di langit-langit. Bulan mulai nampak seutuhnya dari awan yang menutupinya. Rasa takutnya bergelimpah, membuatnya tergerak untuk mendorong tubuhnya sendiri ke sudut ruangan dan meringkuk dengan sisa tenaganya. Tangisnya mulai pecah. Namun, raungannya mustahil terdengar sampai ke luar ruangan. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak sanggup mengontrolnya.

Tolong aku, Yoochun-ah…

Pikirannya masih dipenuhi oleh namja itu. Orang itu pasti sudah menunggunya beberapa jam yang lalu di kafe tempat mereka akan bertemu hari ini tanpa tahu apa yang terjadi padanya. Tanpa tahu bahwa ia didekap oleh seseorang yang kejam.

Agassi? Aku temannya Yoochun. Ia tidak bisa datang hari ini karena tiba-tiba ada urusan kantor yang harus diselesaikan. Ia sedang menunggu di kantornya dan menyuruhku untuk menjemputmu, agassi. Katanya agassi ada di tempat ini…

Eun Hye menyandarkan kepalanya di dinding. Ia tak henti-hentinya menangis meraung-raung, menyesali kebodohannya yang mau saja mengikuti orang itu, menyesali telah memercayai orang itu dengan mudahnya. Kalau saja ia tidak melakukannya, ia sudah pasti dapat bertemu dengan Yoochun, menikmati caffe latte favoritnya di tempat itu bersamanya, menghabiskan waktu sepuasnya bersama namja yang dicintainya itu, tertawa bersamanya.

Seiring waktu berlalu, ia mulai dapat mengontrol emosinya. Meski masih terisak, pandangannya kosong di ruangan remang itu. Memorinya membawanya kembali akan kenangan indah bersama Yoochun. Wajah orang itu terus bermunculan di depannya. Kalau ia mati hari ini, seumur hidup ia akan menyesal.

Petir menggelegar hebat. Suara keras itu bergema di ruang penyimpanan yang luas. Eun Hye tersentak dan berteriak. Kilat menyambar menyala-nyala, seakan menembus kaca besar di langit-langit, seakan ingin menyerangnya. Bunyi air berjatuhan satu-satu di atap membahana ke seluruh ruangan. Hujan lebat mulai mengguyur memperburuk keadaan. Situasi malam yang mengerikan itu membuat Eun Hye lebih merapatkan tubuhnya ke sudut ruangan untuk melindungi diri. Tangisannya kembali pecah. Ia menutup mata, menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha menepis rasa takut yang menyelubunginya. Tangan dan kakinya terasa sakit karena terluka oleh tali tambang yang melilitnya erat.

Tolong aku! Selamatkan aku, Yoochun-ah!

Bunyi bantingan pintu terdengar di ujung sana, membuat Eun Hye terlonjak kaget. Sebuah bayangan hitam terbentuk oleh cahaya kilat. Eun Hye membelalak tegang. Bayangan hitam itu semakin mendekatinya. Gadis itu tetap berusaha untuk mendorong mundur tubuhnya dengan paksa meskipun telah tahu bahwa ia sudah menyudut di tembok.

Eun Hye menggelepar takut bukan main saat pria itu mendekatinya. Ia menangis dan berteriak frustrasi, menendang-nendang orang di depannya dengan kedua kakinya yang terikat, membenamkan wajahnya di sudut tembok, sama sekali tidak ada keberanian untuk menatap orang itu. Namun, orang itu sama sekali tidak melawan.

“Eun Hye-ya! Ini aku… Ini aku…”

Suara berat lirih yang dikenalnya itu terdengar jelas, mengalahkan kerasnya bunyi hujan. Eun Hye seketika terdiam dalam isakannya. Setelah beberapa saat, dengan perlahan ia memutar kepala. Walau tidak begitu jelas karena air mata, ia bisa melihat mata bening orang itu. Sesosok pria yang familiar. Orang itu perlahan berjalan selangkah lagi ke arahnya, berjongkok tepat di depannya, ikut melinangkan air mata, dan tersenyum lembut. Gadis itu masih terpaku saat orang itu dengan sigap melepaskan kain yang membungkam mulutnya serta menyingkirkan tali tambang yang melilit tangan dan kakinya.

“Yoo…chun-ah…”

Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum dalam tangisnya. Sebelah tangannya yang hangat memegang wajah Eun Hye. Tangan yang lainnya menghapus lembut air mata di wajah Eun Hye. Gadis itu tak kuasa membendung rasa harunya dan seketika ia melepaskan tangisnya di pundak Yoochun. Kedua tangannya memeluk pria itu sangat erat. Rasa takut yang menyelimutinya pun menguap, membuat ia merasa aman. Yoochun membalas pelukan Eun Hye erat. Ia membelai rambut gadis itu untuk menenangkannya. Air matanya ikut jatuh oleh tangisan Eun Hye. Gadis itu masih gemetaran dalam dekapannya.

Gwaenchana! Semua akan baik-baik saja. Ada aku di sini untuk menyelamatkanmu. Eun Hye, kau tidak perlu khawatir lagi.”

Ucapan Yoochun tidak membuat Eun Hye berhenti menangis. Gadis itu masih tetap ketakutan dan mempererat pelukannya. Yoochun menepuk-nepuk lembut bahu gadis itu, meyakinkannya bahwa semua penderitaannya telah berakhir. Eun Hye terus-menerus memanggil nama Yoochun dan hal itu membuat namja tersebut ikut merasakan sakit hati gadis itu.

Mianhaeyo! Aku memang bodoh! Aku seharusnya bisa melindungimu hingga kau tidak harus merasakan hal ini. Tapi, Eun Hye-ya, aku janji ini untuk yang terakhir kalinya kau merasakan kepedihan. Kau akan terus bersamaku mulai sekarang, hingga tidak satu pun orang yang bisa menyakitimu lagi… Eun Hye-ya, jangan menangis lagi. Gwaenchana!