THR

Author                          : Riiku

Cast                             : Kim Jong Woon, Shin Mi Woo (OC), Kim Jae Joong.

Genre                          : Romance, Live.

Rating                         : PG-18

Length                         : Chaptered

Ketika sebuah keinginan melampiaskan dendam harus melawan sebuah kesucian yang ditakdirkan sejalan dengan hidupnya. Siapakah yang harus mengalah? Apakah yang harus dikalahkan? Dendam, atau cinta?

Itulah pilihan hidup… Sebuah kebencian dan pembalasan, yang tenggelam dalam hati yang murni. Dendam suci…

…Snipped Story…

Seoul Hotel

Dering telepon masuk menggema di sebuah kamar hotel yang baru saja diisi oleh penghuninya, seorang pria yang kini asik mendengarkan musik dengan headset besarnya di depan balkon, tiba-tiba terhenti setelah lama tidak dihiraukan sang penyewa kamar itu. Meskipun ia mendengarkan musik dengan cukup keras, ia tidak berhenti fokus pada sebuah jendela kamar dari sebuah rumah besar di tengah pemukiman kota yang ada cukup jauh di seberang gedung hotel dimana ia menginap.

Matanya yang kecil, menatap tajam, menambah kesan angkuh sekaligus dingin yang terlihat jelas. Pria itu, Jong Woon, seolah sedang menahan amarah. Oleh karena itu, sedikit gangguan akibat suara dering telepon tadi, tidak terlalu ia pedulikan.

Jong Woon, kini berada di kamar hotel yang ada di lantai yang cukup tinggi. Lantai kelima belas dari enam belas lantai. Merasa asik memandang dan mengawasi kini, ia akhirnya mengambil sesuatu dari saku celananya untuk mengusir kebosanan dan rasa penatnya sesaat.

Dengan cepat, sebuah kotak yang berisikan beberapa putung rokok dibukanya, dan ia mengambil satu batang dari sana. Segera, tangannya yang lain merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah pena kecil yang ketika ditekan, langsung mengeluarkan api kecil sebagai penyulut pertama rokok tersebut menyala. Jong Woon, meniup rokok tersebut dengan santai setelah sedikit menghisap asap dari bara api tersebut.

Sedang asik menikmati suasana santainya, pria tersebut dikejutkan dengan sebuah sepatu yang melayang tepat di depan wajahnya. Ia terhenyak kaget dan menoleh cepat ke atas. Betapa terkejutnya ia ketika melihat dari atas, sebuah kaki menjuntai bebas, kaki yang entah ia melihat jelas atau tidak, berasal dari seorang wanita yang kini memandang ke bawah dengan ekspresi ketakutan.

Wanita itu, tidak terlalu jelas Jong Woon melihatnya. Hanya saja, tangannya yang berusaha menahan tubuhnya bepegangan pada ujung tembok pembatas lantai teratas gedung, sudah terlihat mengenaskan. Ya, siapapun dapat langsung mengira bahwa pegangan yang terkait hanya dari satu ujung telapak tangan kecil tubuh gadis itu, tidak akan mampu menahan gadis tersebut agar tidak jatuh, termasuk Jong Woon yang kini melotot terkejut dari balkon kamarnya.

Saat sebuah air mata yang menetes melayang bebas mengenai pipi bawah mata Jong Woon, dalam sekejap ia langsung membuang putung rokoknya yang baru sepertiganya membara dihisapnya. Dalam hitungan detik, sontak saja, tangan Jong Woon bergerak mengulur ke depan seiring langkah kakinya untuk mendapatkan tubuh yang terjatuh cepat melewati lantai balkonnya.

TEP

Pria itu sedikit bernapas lega meskipun belum bisa menghela napas. Setidaknya, tangan dari gadis yang jatuh tadi, berhasil didapatkannya. Ia mengerang ketika mengumpulkan kekuatannya yang paling besar agar bisa menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh.

Sebelah tangannya merangkak di tangan gadis itu agar dapat mencengkram kuat. Sementara, satu tangannya lagi bepegangan kuat di tepian balkon supaya ia dapat memusatkan kekuatan untuk mengangkat tubuh gadis tersebut yang melemas tidak berdaya. Gadis tersebut sepertinya pingsan.

“Ukkh.. Ah!” helaan napas yang mengebu-ngebu serta keringat yang sedikit keluar menandakan Jong Woon cukup kesulitan menahan serta menarik berat tubuh itu.

Akhirnya, setelah tangan satu lagi milik gadis tersebut berhasil digapainya, Jong Woon menarik cepat dan membawa gadis itu terjatuh ikut bersamanya yang terhuyung ke lantai balkon. Gadis tersebut memang pingsan. Matanya menutup dalam dekapan Jong Woon yang telah langsung bangkit menepuk-nepuk pelan pipinya agar sadar.

Ahgashii…” panggilnya sambil menepuk serta menggoyangkan tubuh gadis itu. Ia berusaha lagi membangunkan ketidaksadaran gadis tersebut. Namun, ia menghentikannya ketika menyadari pakaian apa yang dikenakan gadis itu. Ia meraih sedikit ujung rok tiga perempat bagian di bawah lutut yang berwarna biru tua tersebut sambil menyernyit.

Jong Woon kemudian beralih lagi menatap wajah terpejam gadis itu. Sebuah tudung yang seharusnya dikenakan sudah tidak ada, berganti menjadi rambut yang terikat membuntal namun sangat berantakan.

Sejenak mengamati garis wajah serta lekukan indah gadis itu. “Heuh! Terlalu cantik untuk seorang biarawati!” keluhnya. Tapi, ia menghentikan tiba-tiba aksinya kembali menepuk pipi gadis itu, ketika menemukan sudut bibir gadis tersebut yang lebam. Jong Woon menyernyit lalu kembali mengguncangkan tubuh kecil itu.

Ahgasshi, ahgasshi…!” seru Jong Woon.

Tidak kunjung mendapatkan reaksi, Jong Woon menyerah sejenak. Ia kemudian melirik ke atas memastikan tidak ada keganjilan di sana. Namun, tetap saja, nalurinya seperti mengatakan lain. Ada sebuah keganjilan yang menjadi kecurigaannya. Jong Woon kemudian meletakkan langsung tubuh gadis di dekapannya tadi ke lantai dan berlari cepat keluar kamar untuk ke atas.

***

Jong Woon membuka pintu balkon atap. Ia kemudian berlari-lari mengelilingi sekitar. Namun, ia harus menelan rasa kecewa karena tidak menemukan sesuatu apapun. Tapi, Jong Woon menyernyitkan alis ketika tanpa sengaja menginjak sebuah liontin ketika hendak berjalan kembali ke pintu. Liontin tersebut langsung menarik dirinya membukanya cepat. Dan ketika membukanya, Jong Woon terhenyak dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kertas bertuliskan sesuatu yang hanya dipahaminya.

Terdiam sesaat, Jong Woon memikirkan kembali perasaan benci dan kesalnya dahulu. Memang itu semua belum hilang, hanya saja, keasikannya dengan rutinitas barunya membuatnya terlena sejenak merasakan kedamaian dan ketenangan. Jong Woon akhirnya sadar, tujuannya masuk dan mengikuti organisasi ilegal yang menggiurkan itu, adalah untuk membalas dendam. Bukan yang lain. Jong Woon mengepalkan tangannya keras dan menggenggam liontin itu penuh amarah. Secepat kilat ia mengantungi kembali liontin tersebut, lalu berlari kembali ke kamar hotelnya.

…Snipped Character’s Dialouges…

Kim Jong Woon

“Menyimpan kebencian ini, adalah cara diriku menghabiskan hidupku. Karena itu, aku bersumpah tidak akan mati sampai akhirnya kebencian itu berhasil membuat orang itu merasakan kesengsaraan. Baru setelah itu usai, aku akan mati.”

“Kau tidak usah khawatir, aku bisa melindungimu. Aku cukup terlatih untuk menjadi seorang pembunuh. Yang perlu kau lakukan sekarang, adalah mencari cara untuk membayarku. Buat aku senang merasakan kenikmatan hidup…”

“Cih! Sebanyak apapun kau menangis, pada akhirnya kau hanya akan merasa kalah dan lemah. Kenapa tidak kau pikirkan cara untuk membalas semua perlakuan buruk mereka padamu, hah? Mereka selalu bisa berpikir cara yang jahat untuk mencelakaimu! Kenapa kita tidak, eoh?!”

“Berhenti melakukan tindakan bodoh dengan berbaik hati memaafkan mereka! Apa kau sudah gila mencabut begitu saja hukuman mereka atasmu?! Orang tuamu korban mereka! Orang tuamu merasakan perih dan luka berkali-kali lipat dari penderitaan mereka, tidakkah kau menyadari itu semua, hah?! Persetan dengan kebaikan hati! Persetan dengan kesucian jiwa yang selalu kau junjung tinggi itu! Hidup itu tidak akan memandang kesucian selama kejahatan itu berdiri bebas di atas bumi! Shit! Kau pasti akan selamanya menjadi manusia terlemah dan bodoh yang pernah kutemui, Shin Mi Woo!”

“Jangan pernah mengharapkan apapun dariku. Kau hanya akan terluka nantinya. Buang jauh pemikiran bodoh atas perasaanmu itu. Semua hanya simpati yang dangkal. Kau mengerti?!”

“Aku sudah selesai berurusan denganmu. Tidak ada lagi alasan bagiku melanjutkan kebiasaan bersamamu.”

Shin Mi Woo

“Apa anda tidak salah? Kenapa aku harus menerima semua tanggung jawab itu? Aku hanya seorang calon biarawati yang hidup sejak kecil di panti asuhan. Tidak ada hubungannya dengan keluarga kalian. Aku juga tidak berniat menyelami kehidupan duniawi.”

“Aku tidak bisa… Tidak mungkin aku menjadi seorang model! Tidak. Tidak tidak tidak… Aku akan melakukan pekerjaan apapun selain itu! Aku tidak mau mengenakan pakaian yang tidak pantas di mata Tuhan. Tidak!”

“Apakah kau tidak pernah mencoba memaafkan? Hatimu akan jauh lebih tenang seperti air yang mengalir perlahan ke ngarai. Semua kepedihan, adalah hikmah dari Tuhan yang perlu kita selami maknanya lebih jauh.”

“Tuhan… Seberat apapun cobaan yang Kau berikan, aku akan menerima dan menjalaninya semua. Terima kasih kau telah memberikan pelindung yang baik untukku, yang selalu menjagaku dan tidak pernah lengah memperhatikanku. Terima kasih Tuhan…”

“Aku hanya ingin bersamamu. Aku hanya tidak ingin jauh sedikitpun darimu. Aku butuh dan selalu mencarimu untuk teman yang juga bisa menjagaku. Kau adalah satu-satunya pria yang sanggup membuatku bahagia bercampur sedih dalam satu waktu. Aku hanya bisa memandangi dan melihatmu. Aku… hiks.. Kumohon Jong Woon-shii, jangan pernah pergi sedikitpun dariku. Apa aku salah jika mengharapkan kau selalu di sisiku?”

Kim Jae Joong

“Bisakah ayah menghentikan cara dan tindakan konyol ayah?! Aish. Bagaimana bisa seseorang yang tidak kukenal nantinya mengambil alih perusahaan begitu saja? Dan sekarang, apa yang kulihat? Seorang Biarawati?! Apa ayah sudah gila!”

“Sebesar apapun niatan ayah untuk memasukkanmu dalam daftar keluarga kami, atau memberikanmu seluruh hak atas perusahaan, apapun itu, aku pastikan akan menghalanginya.”

“Kenapa kau bersikap baik padaku? Apa kau memiliki maksud tertentu padaku? Aku tidak semudah itu tertipu wajah polosmu, Shin Mi Woo.”

“Apa kau membenci ayahku? Kau memanfaatkan gadis itu kan untuk mencapai tujuanmu kan? Kalau itu semua benar, berarti kau sungguh licik, Jong Woon-ah.”

“Aku mengajakmu ke tempat ini untuk melihat silsilah keluarga kita. Ayahmu, dan ayahku, kita memiliki riwayat keturunan yang sama, meskipun pada dasarnya berbeda. Darahku, tidak pernah ada dalam darahmu, begitupun sebaliknya. Jadi, tidak menutup kemungkinan kan, sebuah ikatan terjalin diantara kita? Ikatan lain yang membuat semuanya menjadi lebih adil. Sebuah ikatan, pernikahan.”

“Apa kau bisa memulai memandangku? Sedikit saja, aku ingin perhatianmu sesekali untukku.”