First Revenge – Destiny Meet

THR

Author                          : Riiku

Cast                             : Kim Jong Woon, Kim Jae Joong, Shin Mi Woo (OC).

Genre                          : Romance, Live.

Rating                         : PG-18

Length                        : Chaptered

Live is mystery. There are something that never expected will be held. Something that forced you to see many people around… Live… Like a destiny… That flows… That begins by meets each other… And the story, was starting from now…

ST. Sincere Dormitory

Teng… teng.. teng…

Kicauan burung kecil khas gereja sederhana yang terletak di sebuah sudut desa perbatasan kota Seoul dengan Incheon, yang tercakup dalam wilayah asrama sebuah lembaga pendidikan khatolik khusus wanita di Incheon, ST. Sincere Dormitory, terdengar seiring bunyi detingan lonceng pertanda pergantian jam. Sinar menyengat dari matahari di atas langit, terasa sangat dekat menyentuh atap gereja tersebut. Sinar tersebut kemudian menjalar hingga ke bagian atap kaca yang menembus ke dalam ruangan gereja.

Sepi. Tentu saja, karena tidak ada kegiatan ibadah apapun di siang hari ini. Tapi, sebuah keadaan yang terbiasa sepi serta tenang di gereja tersebut, tidak mempengaruhi gerak mata dan mulut yang bergumam dari seorang gadis yang kini berada di depan altar. Ia masih sibuk bersimpuh dengan menggenggam erat kedua tangan tertangkup di depan wajah, tepatnya dekat dagunya.

“Tuhan… Ampunilah dosaku selama ini. Hanya Engkau-lah Maha Pengasih dan Pengampun bagi hambanya yang telah melakukan kesalahan. Hari ini, aku akan berusaha lagi mengikuti ujian ini… Aku sangat ingin lulus, aku ingin bisa menghapal semuanya dengan baik. Kumohon Tuhan… Aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk belajar. Aku ingin memulai mengabdikan diri sepenuhnya pada-Mu, menaati semua aturan yang diwajibkan bagi golonganku. Tuhan… Aku berjanji akan melakukan semua yang terbaik dan tidak akan mengecewakan siapapun jika aku berhasil nanti. Terima kasih Tuhan…”

Sebuah gerakan khas dilakukannya seusai berdoa. Gadis muda itu kemudian berdiri dan mendekat ke tengah ruangan gereja sambil menatap patung yang bercahaya akibat pantulan sinar siang hari tersebut. Sebuah kalung yang terkait manis di lehernya dan menjuntai hingga dada, perlahan digenggam oleh tangannya. Sebelumnya, ia meraba struktur khas kepercayaannya. Matanya fokus menatap ke depan dengan tegas.

“Tuhan, berkatilah aku. Amiin…”

Senyumnya mengambang jelas. Namun dengan cepat ia kembali berlari keluar dari gereja itu ketika melirik jam dinding di tembok gereja. “Omona!! Aku terlambat!!”

Drap drap drap

***

Gadis itu berlari dengan terburu-buru. Napasnya tersengal kuat. Sampai tiba di sebuah ruangan kelas yang telah tertutup, ia berhenti. Ia melihat-lihat dari balik kaca, sambil berjinjit dan mendongak ke arah dalam kelas. Kelas itu tengah hikmat suasananya.

Seorang biarawati tengah berjalan mengitari kelas. Gadis itu perlahan merasuk ke dekat pintu masuk ruangan, mengendap-endap seperti pencuri.

“Soo Eun! Park Soo Eun!” panggil gadis itu berbisik pada salah seorang gadis lain yang tengah konsentrasi pada kertas di mejanya. Ia duduk di salah satu meja di tengah kelas. Ia menoleh setelah mendengar samar suara gadis itu.

“Shin Mi Woo?” lirihnya melotot kaget.

Kursi sebelahnya memang kosong. Gadis yang bernama Shin Mi Woo itu kemudian menggerak-gerakkan tangannya seperti sebuah isyarat bagi Soo Eun. Dialog yang membingungkan dalam kebisuan dan hanya gerakan isyarat jarak jauh.

“Ada apa?!” tegur biarawati yang tadi sempat berkeliling di belakang kelas itu pada Soo Eun yang terlihat heboh tidak tenang. Mi Woo sontak berbalik bersembunyi lagi di belakang pintu.

“Ah, tidak ada apa-apa Suster Jang,” ucap Soo Eun menunduk.

Biarawati yang dipanggil Suster Jang tadi langsung berbalik lalu berkeliling di belakang. Soo Eun kembali melihat pintu dan Mi Woo telah muncul di sana. Ia bergerak-gerak lagi mengisyaratkan agar Soo Eun mau melakukan apa yang ia pinta. Soo Eun menghela napas sebelum akhirnya menoleh ke arah Suster Jang dan memanggilnya sambil mengangkat tangannya.

“Suster Jang,” ucapnya. Suster Jang langsung menoleh padanya. “Aku mau ke kamar kecil,” lanjutnya.

***

Sepeninggal Suster Jang dan Soo Eun yang ke toilet, Mi Woo yang sejak tadi bersembunyi dari balik pintu langsung keluar. Ia kemudian menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengendap-endap lagi masuk ke kelas tersebut. Ia mencari posisi kursinya setelah mengambil sendiri berkas ujian yang seharusnya ia kerjakan. Dengan santai ia duduk dan mengerjakannya tanpa mempedulikan tatapan kesal dan sinis siswa lainnya.

Gadis itu, tidak menyadari bahwa tindakannya barusan bukan sebuah rahasia baginya. Ada seorang biarawati yang melihat tingkahnya dari jauh dan dari balik ruang kelas itu. Biarawati itu menggelengkan kepala memandangi Mi Woo yang tidak menyadari kesalahannya.

***

“Kau sudah gila Shin Mi Woo!” ketus Soo Eun sambil berjalan berdampingan dengan Mi Woo menuju ruang ibadat, pelajaran selanjutnya. Mi Woo hanya tersenyum-senyum bangga.

“Biar saja. Suster Jang itu tidak mungkin mengingat dan mengenalku. Itu kan kelas besar jadi pasti dia tidak sadar aku terlambat, hihi,” balas Mi Woo santai sambil terkekeh.

“Ish! Kau ini! Bagaimana jika Suster Jang tahu. Kau bisa mendapatkan hukuman dan terancam tidak lulus lagi,” kecam Soo Eun.

“Hei, kau mau kita tidak lulus lagi bersama?”

Mwo? Kenapa bersama?”

“Iya. Kan kau yang membantuku melakukan tindakan tadi, hehe.” Mi Woo melangkah cepat mendahului Soo Eun sambil tertawa.

“Aish Shin Mi Woo… Awas kau ya!” Soo Eun mengejar Mi Woo dan memukuli kecil gadis itu. Mereka bercanda di koridor asrama.

“Soo Eun-ah, Mi Woo-ah!” teriak salah seorang siswa asrama lainnya. Mereka berdua menoleh.”Kalian dipanggil Suster kepala Kang.”

***

Soo Eun merengut kesal sambil memajukan bibirnya. Ia melempar begitu saja cangkang kerang yang telah dibersihkannya ke arah bak berisi air yang digunakan untuk menampung bahan masakan laut itu. Seketika air tersebut terciprat mengenai wajah Mi Woo yang memang berada di dekat bak itu. “Yak! Park Soo Eun!” seru gadis itu memekik.

“Apa?!” balas Soo Eun tak kalah tinggi sampai akhirnya Mi Woo memilih merengut diam. “Ini semua karena kau! Karena ulah seorang gadis calon biarawati yang bodoh dan tukang melanggar aturan! Dan aku, gadis sial yang memiliki nasib menyedihkan berteman dengannya!” Soo Eun merengut marah-marah.

“Soo Eun-ya, mianheyo…” lirih Mi Woo. “Aku tidak bermaksud melibatkan kau untuk semua ini.”

“Ya! Kau tidak pernah bermaksud tapi aku selalu terlibat dalam semua urusan kenakalanmu itu, Mi Woo-ah! Aish! Park Soo Eun… Kenapa kau harus memiliki teman seperti ini…” keluh Soo Eun. Mi Woo mempoutkan bibirnya kecewa.

Arasso. Kau memang tidak pernah suka berteman denganku. Aku memang selalu merepotkan…” ucap Mi Woo pelan.

“Ya! Kau selalu merepotkan!”

Crash!

Soo Eun melempar kerang yang dipegangnya begitu saja ke bak.

“Aku sudah tidak tahan melakukan ini. Ini tidak adil. Aku di sini hanya sebagai pihak yang membantu. Biang keladinya kan kau! Seharusnya aku tidak dihukum sama sepertimu!” ketus Soo Eun.

Mi Woo diam menundukkan kepalanya.

“Aish, kenapa kau selalu saja menyusahkanku Mi Woo-ah…!” tambah Soo Eun lagi yang sontak membuat emosi Mi Woo tidak dapat tertahan lagi. Gadis itu hanya menunduk terisak.

Mendengar isakan pelan Mi Woo yang diam saja sejak tadi, Soo Eun mendongak dan memperhatikan Mi Woo yang ada di depannya itu. Ia menghentikan gerakan tangannya membersihkan bahan makanan laut itu. Setelah ia melihat sendiri setetes air mata jatuh dari pipi Mi Woo, Soo Eun membelalak dan langsung menghampiri Mi Woo khawatir.

Aigoo… Mi Woo-ah… Mi Woo, mianhe. Apa kau menangis? Mianhe tadi aku berbicara kasar padamu…”

“Aku memang teman yang menyusahkan. Aku selalu menyusahkanmu. Aku tidak berguna…” ucap Mi Woo. Soo Eun memeluk temannya itu prihatin.

Aniya. Aniya, Mi Woo-ah… Kau tidak seperti itu. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Mianhe kau jadi terluka dan sedih karena perkataanku. Aku selalu senang membantumu, bersamamu, melakukan apapun. Meskipun aku juga harus dihukum, aku rela asalkan bersamamu dan menemanimu Mi Woo-ah… Sudahlah, jangan bersedih eoh…” ucap Soo Eun sambil memeluk Mi Woo lembut.

Tanpa diketahuinya, Mi Woo yang menangis itu kemudian menghentikan tangisnya dan tersenyum pelan. Ia terkekeh sedikit sebelum akhirnya melanjutkan aksinya berpura-pura sedih.

“Terima kasih, Soo Eun-ya. Aku sayang kamu,” ucap Mi Woo. Ia melirik baskom kecil yang berisi udang-udangan. Di sana terpantul wajahnya yang tidak bisa menahan geli. Ia akhirnya terkekeh sendiri.

Soo Eun yang menyadari Mi Woo sepertinya bergerak kecil dan terkekeh pelan, perlahan melepas pelukannya. Mi Woo mendelik dan tertawa menatap ekspresi Soo Eun yang merasa dipermainkan. Ia menatap Mi Woo dengan kesal.

“Mi Woo-ah!!” teriak Soo Eun serasa menggelegar sampai air genangan udang-udang yang terendam itu bergetar. Perlahan, getaran dan gambar udang-udang itu mengubah latar kejadian peristiwa lain yang tidak jauh dari lingkungan tempat itu, diluar dari gereja dan asrama tersebut.

Sebuah perkotaan yang bising. Lalu lalang kendaraan di jalan, orang-orang yang pergi bekerja, mencari kehidupan masing-masing. Tidak berbeda jauh dengan suasana di ujung kota Incheon, dekat dengan tepi pantai yang membentang indah. Salah satu pemukiman penduduk yang cukup padat serta ramai. Aktivitas utama berpusat di sebuah pasar yang menjual barang kebutuhan penduduk, terutama hasil-hasil laut.

Traditional Market, Incheon

Brak!

Terdengar sebuah detuman keras dari meja yang digebrak oleh tangan yang terdengar kuat, sontak membuat nyaris semua mata teralih pada keributan kecil yang dimulai di sana. Sebuah kios yang menjual hasil laut yang tergolong bangsa crustaceae dalam klasifikasi, yaitu udang-udangan.

“Sudah berapa kali kami katakan untuk tidak terlambat membayar iuran, hah!”

Brak!

Sekali lagi meja yang ada di depan kios itu, yang dipenuhi oleh banyak udang-udangan yang tergeletak di piring-piring, terhempas berantakan.

“Ka… kami tidak bermaksud membayar terlambat. Tapi kami sungguh belum memperoleh keuntungan lebih…”

 

Seorang Ahjumma yang merupakan pemilik toko, terlihat ketakutan menjawab pertanyaan pria yang sedang dipuncak amarah dan kekesalan itu.

Duak. Srak.

Salah satu pria lain, yang merupakan teman dari pria tadi, menendang banyak baskom-baskom yang berisi udang-udangan lain hingga terhambur di tanah sia-sia. Suasana bertambah tegang.

“Belum memperoleh keuntungan?! Jelas-jelas daganganmu selalu habis sejak kemarin! Mau mencoba membohongi kami?!” teriak pria lain yang menendang baskom itu, penuh amarah.

“Aku… Maaf tapi kami sungguh belum mendapatkan keuntungan banyak.”

Brak!

Ahjumma! Anda tahu kalau pasar ini bisa saja lenyap jika kalian tidak menyejahterakan kami, eoh?!” teriak pria yang tadi sempat mengebrak meja lagi. Ahjumma tadi, menunduk ketakutan.

Tep.

Sebuah tangan menepuk pelan pundak pria tadi hingga akhirnya ia menghentikan gertakannya pada Ahjumma tersebut. Ia menoleh ke arah pria lain yang datang dengan ekspresi dinginnya sambil berujar lirih, “hyung…

“Sudahlah, Min Ho-ya. Hentikan gertakanmu pada Ahjumma ini,” ucap pria itu disertai smirk kecil dari sudut bibir kirinya.

Pria itu, kemudian diam sebentar sambil memandangi Ahjumma tadi sambil menopang tangan pada sebelah kaki yang adadi bangku kecil di samping meja. Ia berkacak pinggang sambil menghisap putung rokok yang sudah mau habis, hingga kemudian ia buang begitu saja di sampingnya berdiri.

Sedikit tiupan asap terakhir ia layangkan di udara dengan angkuh. Lalu, ia menurunkan kakinya, melangkah mendekati sang Ahjumma yang ternyata sedang memeluk seorang anak perempuan kecil yang bersembunyi ketakutan di balik pinggang ahjumma tersebut.

Pria tadi, berjongkok langsung. Ekspresinya yang menakutkan serta dingin tadi, berubah menjadi lembut namun tetap memandang tajam. Kali ini, ia fokus pada gadis kecil itu.

“Jangan… Jangan…” ujar Ahjumma tadi sambil menarik gadis kecil itu agar tidak disentuh oleh pria tersebut.

Pria itu diam dan masih berwajah angkuh. Namun, ia tidak menghentikan pandangan intens pada gadis kecil itu. Perlahan, ia tersenyum lembut.

“Gadis kecil, apa kau takut pada oppa?” tanyanya.

Gadis kecil itu merengut dan menunduk.

“Maafkan ulah teman-teman oppa yang merusak toko umma-mu ya. Tapi, kamu harus mengerti. Umma-mu melanggar aturan perjanjian. Jadi, kami datang menagih janji umma,” lanjut pria itu dengan penjelasan lembut. Gadis kecil tadi masih ketakutan.

Meskipun begitu, pria itu masih saja berani mengusap puncak kepala gadis kecil itu.

Oppa berjanji tidak akan menyakiti kalian, tenanglah,” ucapnya lembut. Tapi, gadis kecil tadi tetap menghindari kepalanya dari usapan itu dan mundur terus ke belakang tubuh Ahjumma tadi.

Pria itu terlihat menahan marah. Namun, ia memberanikan diri tetap tersenyum pada gadis kecil tadi. Tidak lama, pria tersebut berdiri berkacak pinggang dan menghela napas.

“Bulan depan, dua kali lipat dari iuran sekarang. Jika tidak, anakmu ini, menjadi aset yang berguna bagiku…” ucap pria itu dingin. Ia kemudian mengangkat satu tangannya ke atas. Sontak pria lainnya, menghampiri pria tersebut.

“Rapikan dan kita pergi,” ujarnya singkat langsung berbalik cepat.

***

Incheon Bar

Tring!

Peraduan gelas-gelas kaca berisi larutan pemuas dahaga sekaligus pembuat pikiran normal memudar, soju, langsung bercipratan kecil membasahi meja. Empat orang pria muda ada di meja tersebut, namun hanya satu yang terlihat tidak tertarik menenggak minuman itu. Tampilan urakan mereka khas penghuni jalanan atau kata lain, yaitu brandalan, terlihat jelas. Bunyi musik menggema. Sinar-sinar lampu memaksa penglihatan mereka seolah terhuyung bersamaan dengan kenikmatan menenggak minuman itu juga.

“Jadi, hyung tadi membebaskan Ahjumma itu?”

“Bukan hanya itu hyung, ia malah berbaik-hati bersikap lembut pada anak kecil, lalu menyuruh kami merapikan toko yang sudah kita acak-acak itu, huh!” kesal pria yang ada di sebelah pria yang bertanya tadi, Min Ho, lalu menenggak kembali gelas soju terakhirnya.

“Wah… Iblis penyelamat kota kita, berubah menjadi malaikat berbaik hati,” komentar pria yang semula bertanya untuk memulai percakapan. Ia melirik penuh arti ke arah satu pria yang merengut dan bersandar pada kursi sambil melipat tangan.

“Ia nampaknya mencoba terlihat baik pada anak kecil itu, namun sayangnya, anak kecil itu tetap menolak dirinya, haha…” tambah pria lainnya yang bertubuh paling besar di antara lainnya, Young Woon.

Brak!

“Hentikan!” teriak pria yang sejak tadi memang diolok-olok itu. Ia kemudian memandang bergantian pada tiga pria yang diam tidak berkutik melihatnya. “Kalian lupa tujuan kita melakukan ini, huh?”

Sejenak diam.

“Melindungi mereka dari campur tangan pemerintah kota, agar wilayah ini tidak menjadi sasaran pembangunan kota! Dan kalian lupa kelompok skatte bodoh yang dipimpin Jae Gi itu yang sering mengganggu dan datang ke sini? Kalau bukan karena kita, mereka tidak akan berani mengganggu warga lagi. Secara tidak langsung kita yang mempertahankan wilayah ini!” bentak pria itu diakhiri menggebrak meja lagi. Ia kembali bersandar kembali pada kursi dan mengangkat kaki duduk bersila angkuh.

“Iya hyung. Kami tahu. Maaf,” sahut Min Ho. “Ini semua karena Hyuk Jae-hyung yang memulai,” lanjutnya lagi menunjuk pada pria di sebelahnya, yang memulai awal percakapan.

“Ya! Kenapa aku?!” bantah Hyuk Jae.

“Kau yang awalnya menanyakan kronologis kejadian tadi. Salahmu karena tadi kau tidak ikut kami memantau pasar,” tukas Young Woon ikut menyalahkan Hyuk Jae.

“Ya, Young Woon hyung! Aku kan bertanya karena aku memang penasaran akan kebaikan Jong Woon hyung yang kalian ceritakan bahwa-”

“Aku hanya memberi keringanan pada Ahjumma itu karena aku melihat gadis kecil tadi. Saat melihatnya, aku hanya teringat Jung Yi,” ujar Jong Woon, pemimpin kelompok tersebut yang langsung dimaklumi dengan santai oleh ketiga temannya yang lain.

Ahjumma itu pasti lebih mendahulukan kepentingan putrinya itu daripada membayar iuran bulanan dengan kita…” lanjut Jong Woon dengan raut wajah murung. Ia kemudian menoleh ke sekeliling dan mendapati wajah Min Ho, Hyuk Jae dan Young Woon yang nampak intens memperhatikannya.

Merasa ia terlihat berbeda dan terlihat memiliki hati, ia berdehem pelan dan melanjutkan kembali ucapannya dengan nada angkuh seperti biasa. “Tapi sekali lagi kutekankan, aku hanya memberikan kelonggaran waktu membayar. Soal biaya iuran, aku tidak akan berbaik hati,” ujar Jong Woon.

Arasso Jong Woon-ah. Kami tahu kau tidak mungkin semudah itu berbaik hati pada orang lain. Sesuai prinsip kita, menawarkan segala bantuan, tidak secara cuma-cuma…” tambah pria yang bernama Young Woon itu.

Jong Woon mengerumul bibir malas. Ia kemudian menggerakkan tangannya mengambil segelas soju, lalu meminumnya cepat.

“Nah, begitu dong hyung! Kita kembali bersenang-senang menikmati keindahan dunia…” ujar Hyuk Jae menarik pundak Jong Woon. Tapi, Jong Woon langsung menepisnya kesal.

“Mana hiburannya?!” serunya.

“Tenang saja, tidak akan sia-sia kita ke sini…” sahut Min Ho menyambut kedatangan beberapa gadis-gadis muda yang mengenakan pakaian mini dan terlihat seksi.

Sontak Hyuk Jae menghampiri dan menggiring satu persatu gadis-gadis itu ke meja mereka. Young Woon menarik dua gadis langsung membawanya ke lantai dansa. Bergantian Min Ho juga ikut bersenang-senang bersama gadis yang ada dengan Hyuk Jae. Berbeda dengan Jong Woon, ia lebih memilih duduk diam menunggu gadis-gadis itu mendekat dan melayaninya.

Dua gadis langsung menghampiri Jong Woon dan bergerak erotis di hadapannya mencoba menggodanya. Perlahan-lahan, Jong Woon yang terus meminum seteguk demi seteguk soju tadi, ikut terbawa suasana juga karena bunyi detuman musik yang sirama dengan gerak meliuk gadis cantik di hadapannya.

Jong Woon tersenyum smirk sebelum akhirnya langsung bangun lalu menyambar cepat salah satu gadis itu dan menciuminya. Satu gadis lainnya mencoba mengalihkan perhatian pria itu sampai akhrinya, Jong Woon merasa menang memiliki dua wanita pemuas itu dalam satu waktu.

***

08.30 am KST

Seoul, The Agent Production’s Building

Langkah tegas seorang pria memasuki gedung dengan cepat. Ia tidak menghiraukan banyak sapaan orang-orang di sekelilingnya begitu melihatnya datang. Ia hanya memandang fokus ke depan dengan angkuh. Langkahnya berakhir di sebuah pintu masuk yang bertuliskan dengan jelas, ‘CEO’s Room’.

Tanpa mempedulikan ucapan seorang wanita yang sepertinya sekretaris di tempat itu, ia masuk begitu saja usai menarik kenop pintu.

Clak.

Hal yang pertama didapatinya adalah sosok pria paruh baya yang terlihat bersahaja, sekaligus bijaksana, sedang duduk di meja kerjanya sambil membaca banyak laporan-laporan dalam map. Ia membulatkan matanya mendapati sosok pria muda yang sangat dikenalnya, putra pertama, namun merupakan anak terbungsu di keluarganya.

“Ayah. Apa benar yang dikatakan Ibu dan noona, bahwa Ayah tidak akan memberikan hak perusahaan padaku?” tanyanya langsung. Ia bertanya tanpa basa-basi, tanpa melihat dan mencairkan suasana terlebih dahulu.

Sontak pria paruh baya itu, Kim Hyeong Sang namanya, terkekeh mendapati ekspresi serius putranya yang baginya lucu.

“Ayah! Kenapa malah tertawa!” desak pria itu.

“Jae Joong-ah. Kau datang menemui Ayah hanya untuk menanyakan ini? Astaga. Kau mengganggu pekerjaan Ayah saja. Cepat keluar sana,” ujar Hyeong Sang santai.

“Ayah! Aku serius! Aku tidak terima kalau benar perusahaan akan diberikan pada orang lain, Ayah,” ujar Jae Joong, nama pria itu, dengan menahan kesal.

“Jae Joong-ah, Ayah belum akan mati. Kenapa kau meributkan soal hak kuasa perusahaan? Sudahlah. Jangan khawatir, semua soal perusahaan, adalah hal yang terbaik yang akan ayah berikan dan putuskan. Sana, kembali bekerja,” perintah Hyeong Sang.

Jae Joong sontak merengut. Namun, akhirnya ia berbalik dan memilih keluar memenuhi perintah Ayahnya. Akan tetapi, sebelum sempat keluar, ia menghentikan diri ketika mendengar suara sapaan Ayahnya menerima panggilan telepon.

Yobseo?”

Ne, benar. Nama pasangan itu adalah Shin Sam Yoon dan Shin Seul Ki. Ya, anak perempuan. Mungkin usianya sekarang menginjak 23 tahun. Dia yang akan menjadi penerus hak milik perusahaan ini.”

Sontak Jae Joong yang mendengar hal itu langsung menarik kedua alis matanya terkejut.

Ne. Nanti setelah pertemuan dengan presiden Cho, kau bisa langsung ke sana mencarinya. Bawa dia kepadaku nanti.”

Nuut…

Jae Joong terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ia melangkah benar-benar keluar ruangan itu.

***

Jae Joong berdiri di sebuah mobil yang merupakan mobilnya. Ia memincingkan mata ketika melihat dari jauh, sekretaris Ayahnya berjalan menuju mobilnya. Jae Joong memang telah menduga dengan benar bahwa yang barusan ditelpon Ayahnya, adalah sekretaris kepercayaannya yang berkerja menjadi kaki tangannya langsung, yang sekaligus sebagai pengacara pribadi keluarganya, Kim Han Woon namanya.

Jae Joong ikut masuk ke mobil setelah mobil yang dikendarai Kim Han Woon tadi, melesat keluar parkiran. Pria itu, menarik pedal gas juga mengikuti jalannya mobil itu.

***

Incheon Church, at ST. Sincere Dormitory

Pagi hari itu sangat cerah. Banyak burung-burung yang beterbangan menghiasi suasana taman asrama dekat gereja utama wilayah Incheon yang berada dalam lingkungan asrama ST. Sincere, sekolah khatolik khusus wanita. Burung-burung gereja kecil itu juga bertengger nyaman di tanah, dekat dengan ember yang memiliki air sedikit berbusa. Namun, dengan cepat, burung itu kembali terbang dan menjauh.

Suara ciprakan air akibat dari sebuah kain lap yang dicelupkan membuat burung tadi berlalu. Mi Woo, gadis yang melakukan tindakan tadi, ia memeras kain lap itu lalu membersihkan kaca jendela gereja yang bisa dijangkaunya. Ia sedang membersihkan kaca jendela gedung itu.

Pekerjaan rutin Mi Woo itu terhenti ketika ia merasakan seseorang berlari menghampirinya. Ia menoleh dan mendapati salah satu temannya, calon biarawati lainnya, tersengal-sengal usai menemukannya.

“Shin Mi Woo, kau diminta menghadap Suster kepala Kang sekarang.”

***

Jae Joong menghentikan mobilnya tidak jauh dari mobil Han Woon berhenti. Ia melihat pengacara Han Woon keluar mobil dan memasuki area gereja dan asrama katholik Incheon. Jae Joong menyernyit ketika melihat Han Woon yang datang langsung disambut oleh beberapa biarawati yang ada di sana. Setelah mereka masuk ke dalam, Jae Joong memutuskan mengikuti Han Woon masuk.

Jae Joong berjalan memutar pada gedung yang merupakan pusat asrama itu. Beruntung langkahnya tidak diketahui siapapun, dan ia berhasil masuk tanpa diketahui. Ia melihat sekilas tuan Han Woon yang berbelok ke jalan sebuah lorong hingga akhirnya memasuki sebuah ruangan.

Pria itu, mendekatkan telinga ke pintu yang tertutup tadi. Ia sedikit samar bisa mendengar percakapan itu. Ia memutuskan berniat menguping.

Jae Joong harus menghentikan niatannya sejenak ketika terdengar langkah mendekat ke arahnya. Ia langsung berjalan mundur, dan bersembunyi di balik tembok tikungan dekat ruangan itu. Ia melirik sedikit dan melihat seorang biarawati muda yang mengetuk pintu tersebut.

“Masuk!”

Clak.

“Oh, Shin Mi Woo, ayo masuk!”

Jae Joong langsung keluar dari persembunyiannya dan mendekat ke pintu ruangan tadi. Beruntung sedikit terbuka sehingga ia benar-benar bisa mendengar jelas percakapan di dalam.

Sementara di dalam, Mi Woo menatap bingung pada seorang pria yang terlihat sangat dewasa, yang cocok menjadi Ayahnya. Pria itu ada di hadapannya, di samping Suster kepala Kang, sedang tersenyum lembut padanya.

“Mi Woo, perkenalkan, ini tuan Kim Han Woon,” ujar Suster Kepala. Han Woon membungkuk memberi salam pada Mi Woo dan gadis itu, juga balas menundukkan kepala.

“Keluargamu mengutus tuan Han Woon agar bisa membawamu kembali,” jelas Suster Kepala Kang singkat. Mi Woo menyernyit.

“Keluargaku?” lirihnya. “Suster, aku anak yatim piatu dan…”

“Tuan Han Woon sudah mendatangi kami selama beberapa kali. Hampir satu bulan kami memastikan semua bukti bahwa ia adalah benar utusan keluargamu. Kau, masih memiliki keluarga Shin Mi Woo. Dan mereka, berhak atas apa yang diputuskan padamu juga. Tuan Han Woon menjelaskan, kau harus melakukan sesuatu untuk menolong keberlangsungan umat,” jelas Suster Kepala Kang yang jelas membuat Mi Woo menyernyit bingung.

“Keberlangsungan umat?” tanya Mi Woo heran.

“Nona muda, anda adalah pewaris sebuah perusahaan milik Tuan saya, Kim Hyeong Sang,” ucap Han Woon  sopan. Seketika Mi Woo, maupun Jae Joong yang ada di luar ruangan, terkejut mendengar itu.

“A-ap… Apa?” tanya Mi Woo kaget dengan terbata.

“Ya, nona muda adalah salah satu puteri dari tuan Shin Sam Yoon, yang merupakan salah satu putra kandung dari pendiri The Agent Production, perusahaan tekstil, garment dan aksessories di Incheon.”

Jae Joong menyernyit mendengar nama Shin Sam Yoon. Nama itu memang yang tadi disebutkan oleh Ayahnya di dalam percakapan tersebut. Ia baru mengerti bahwa gadis yang ternyata adalah calon biarawati itu, adalah gadis yang dibicarakan oleh Ayahnya tadi. Gadis yang akan menjadi penerus perusahaan yang kini dikelola Ayahnya.

Sebuah kenyataan yang membuat Jae Joong mengerang kesal sendiri dalam hati. Banyak pertanyaan terlintas. Mengapa gadis itu? Siapa Shin Sam Yoon? Mengapa Ayahnya memilih tidak memberikan perusahaan padanya? Apa sebenarnya hubungan gadis itu, dengan dirinya? Dikatakan bahwa Shin Sam Yoon adalah putra kandung pendiri The Agent Production, tapi, bukankah pendiri The Agent Production adalah kakeknya? Apakah artinya, gadis itu adalah adiknya?

Jae Joong memutuskan pergi dari tempat itu. Ia tidak bisa berlama-lama mengerang kesal di sana sedangkan emosinya menghentak ingin segera keluar. Akhirnya, pria itu berjalan dengan sedikit terburu-buru keluar, namun, tetap berhati-hati agar tidak diketahui siapapun.

***

Mi Woo terdiam duduk di kursi dalam gereja. Ia terbengong menatap patung bunda maria yang ada di hadapannya. Seulas senyum dipaksakannya, namun, tetap saja ia kembalikan ke ekspresi murung.

Bingung. Kata itu yang menjadi alasan utama ia berada di tempat itu. Usai pelajaran berakhir, gadis itu hanya duduk dan sesekali menghela napas. Sesekali juga, ia memejamkan mata mencoba tenang. Tapi usahanya tetap saja tidak membuahkan hasil. Ia masih tidak bisa berpikir jernih dan memutuskan sesuatu.

Flashback

“Ya, nona muda adalah salah satu puteri dari Tuan Shin Sam Yoon, yang merupakan salah satu putra kandung dari pendiri The Agent Production, perusahaan tekstil, garment dan aksessories di Incheon.”

“Kau tidak salah?Aku memang puteri Shin Sam Yoon, tapi, jika Ayahku dikatakan putera kandung pendiri sebuah perusahaan besar… Itu pasti salah.”

“Tidak salah nona. Shin Ah Hyun, adalah kakek Anda yang merupakan pendiri perusahaan tersebut. Ayah Anda, dulu seharusnya menjadi penerus perusahaan itu. Namun, karena ia memutuskan hubungan keluarga dan terpisah dari akta keluarga, ia akhrinya meninggalkan perusahaan. Kami, baru bisa menemukan informasi mengenainya setelah sekian lama ini.”

“Suster Kepala Kang, ini semua tidak benar kan?”

“Shin Mi Woo… Ayahmu memang dulu menikah dengan ibumu setelah meninggalkan kehidupannya di Seoul.”

“Nona muda, setelah Ayah Anda pergi, perusahaan tidak memiliki generasi penerus. Akhirnya, Tuan Ah Hyun menyerahkan kendali perusahaan pada sepupunya, yang merupakan anak dari adik perempuan ayahnya, Kim Sang Ahn. Setelah Tuan Kim meninggal, putranya, yaitu Kim Hyeong Sang yang memimpin perusahaan saat ini. Beliau-lah yang memerintahkanku menemukan Anda serta berniat mengembalikan semua yang bermula menjadi hak atas keluarga Anda.”

“Tapi, bagaimana jika aku menolak hak-ku itu?”

“Nona muda. Setidaknya, Anda bertemu lebih dulu dengan presdir Kim. Permasalahan perusahaan kali ini menjadi hal yang ia sangat khawatirkan. Perusahaan jika tidak dipegang anda, akan terjadi keributan dan perpecahan dalam keluarganya. Oleh karena itu, beliau membutuhkanmu, nona muda.”

“Keributan dan perpecahan?”

“Shin Mi Woo, aku mengerti kau sangat bingung dan terkejut. Tapi percayalah, Tuhan tidak akan memberikan semua kejutan ini padamu dengan tanpa maksud. Tuan presdir Kim memintamu kembali. Mungkin, kau satu-satunya yang bisa diandalkannya sehingga Tuhan mengirimkan ini semua padamu. Ini bukan hanya sekedar hak yang bisa kau terima atau tolak, tapi menjadi kewajiban bagimu juga demi kesejahteraan umat jika kau bisa berpikir dan mendalami lebih dalam.”

Flashback End

Mi Woo mengangkat kepalanya yang tadi tiduran di atas meja. Ia masih mempoutkan bibir tidak mengerti. Semua serba mendadak. Baginya ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Tapi, semua serasa mimpi namun nyata. Ia mengemban pilihan berat.

“Tuhan… Aku selalu berharap bisa lulus dan segera diangkat menjadi biarawati. Tapi, sampai bertahun-tahun Kau tidak pernah meluluskanku. Sekarang, datang seseorang yang mengatakan aku harus menerima hak sekaligus kewajiban. Aku tidak mengerti. Kenapa harus aku Tuhan? Kenapa bukan Jang Mi saja yang pernah mengeluh padaku bahwa ia tidak ingin menjadi biarawati dan ingin hidup sebagai wanita normal di luar? Kenapa harus aku yang menginginkan menjadi biarawati? Jang Mi kan sudah bertekad sekali ingin menikahi pria tampan yang kaya raya. Tapi, mengapa dia selalu lulus pelajaran sedangkan aku tidak?”

Sejenak Mi Woo terdiam saat terpejam. Ia kemudian membuka matanya dan mengeluh kesal. “Aish! Kenapa aku berdoa seperti itu ya… Malah menjadi membicarakan Jang Mi…” ucapnya setelah sadar tadi ia lebih banyak membahas soal Jang Mi dan keinginannya. Jang Mi adalah salah satu temannya, yang tidur di kamar sebelahnya.

Mi Woo menyandarkan lagi dagunya pada meja. Ia menghela napas pelan. Lalu, ia kembali bangun dan menatap altar penuh harap.

“Kurasa jika aku berjalan-jalan sebentar akan lebih menyegarkan pikranku…” lirihnya. Ia kembali menatap intens ke depan. “Tuhan, aku boleh kan jalan-jalan keluar sebentar?”

***

Traditional Market

Empat pemuda nampak asik bermain-main di pelabuhan dekat pantai. Mereka kini sedang mengangkat banyak barang-barang yang rencananya akan dibawa ke daratan China melewati Laut Kuning China Selatan. Mereka saling menendang atau mengganggu usaha satu sama lain membawa barang-barang besar itu ke dek kapal. Belum usai pekerjaan mereka, datang seseorang pemuda yang mengenakan seragam sekolah berlari tersengal-sengal ke arah mereka.

“Jong Woon-hyung! Aku melihat adikmu Jung Yi dibawa oleh kelompok Jae Gi tadi!” serunya yang sontak disambut keterkejutan Jong Woon dan yang lainnya.

Jong Woon langsung memindahkan cepat kardus yang sedang ia bawa ke atas tangan Hyuk Jae yang ada di sebelahnya. Secepat kilat ia berlari mengikuti pemuda berseragam sekolah itu.

***

“Hyaa… Lepaskan! Lepaskan aku!!” teriak seorang gadis kecil yang mengenakan seragam sekolah SMP. Ia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman tangan kasar yang memaksanya memasuki sebuah lapangan luas yang ada di sudut wilayah itu. Gadis kecil itu meronta namun tetap saja tenaganya tidak dapat melawan mereka. Kedua tangannya terkunci oleh cengkraman kuat itu.

Sampai memasuki tengah lapangan tersebut dan berakhir di tempat yang diinginkan, dua orang yang membawa gadis kecil itu melempar gadis kecil itu begitu saja. Gadis kecil tersebut tersungkur di tanah dan meringis. Ia terjatuh tepat di hadapan seorang pria yang menatap kejam sekaligus penuh dendam padanya. Tangan kanan pria itu terbalut perban. Ia menarik dagu gadis kecil tadi sehingga dapat menatap matanya.

“Kau tahu kenapa kau dibawa ke sini, huh?” tanya pria itu pada gadis kecil yang berurai air mata ketakutan itu. “Dendam itu… harus dibayar mahal, nona manis…” ujarnya dengan nada jahat.

“Lepaskan aku!!” Gadis kecil itu kembali berteriak dan meronta ketika dua pria yang membawanya tadi, bersama yang lainnya, mulai mencoba mengikat gadis kecil itu dengan tali.

“Hahahaha!!” tawa kencang langsung meledak puas dari pria jahat tadi. Ia tersenyum puas menyaksikan gadis kecil tersebut menangis saat meronta, lalu beberapa teman-temannya dalam kelompok itu mulai melucuti pakaian gadis kecil tadi.

Duk!

“Aw!” teriak pria jahat itu meringis mengusap-usap kepalanya.

Sebuah sepatu kulit tergeletak di tanah sebagai tanda bahwa ringisan kesakitan pria itu memang berasal dari sepatu yang melayang itu.

“Apa yang kalian lakukan?! Hentikan mengganggu gadis itu!!”

Suara teriakan tersebut berasal dari seorang gadis yang berada dalam jarak beberapa meter dari kumpulan pria-pria tersebut. Bukan hanya karena ia seorang gadis yang membuat mereka terkejut saat itu, tapi, terlebih pada apa yang ‘terlihat’ darinya. Penampilannya terkesan asing dan khas. Pakaian panjang menutupi tubuhnya serta tudung kepala yang bertengger manis di kepalanya.

Gadis itu kemudian melempari mereka semua dengan batu-batu yang berukuran tidak kecil. Beberapa merasakan sakit lebam akibat terkena timpukan brutal gadis itu. Tidak sabar karena beberapa pria jahat itu tidak kunjung pergi, gadis itu mulai maju dan mengangkat sebuah balok kayu besar di tangannya. Ia dengan wajah sangar dan menakutkan, menghampiri kumpulan pria tadi yang langsung membubarkan diri dari kejaran gadis itu.

Mendadak suasana menjadi sepi. Kumpulan pria jahat tadi dengan pemimpinnya yang diperban tangannya, telah menghilang dari tempat itu.

Gomawo, unni…” ujar gadis kecil yang tadi nyaris menjadi korban pelecehan tersebut. Ia bangun dan duduk di atas tanah.

Gadis kecil itu menangis lagi. Sontak gadis tadi yang menolongnya segera berjongkok mencoba menghibur gadis kecil itu.

Gwencana adik kecil… Sekarang sudah tidak apa-apa, kau sudah selamat dari gangguan mereka…” ujar gadis itu sambil membantu gadis kecil tadi memperbaiki pakaiannya yang berantakan.

“Lain kali hati-hati ya,” lanjutnya. Gadis kecil itu mengangguk pelan lalu mengusap air matanya sendiri.

“Namamu siapa adik kecil?”

“Aku Jung Yi, Shin Jung Yi.”

“Heii, nama marga kita sama… Aku juga bermarga Shin. Namaku Shin Mi Woo.”

Gadis yang bernama Shin Mi Woo itu mengulurkan tangan tersenyum ramah pada Jung Yi. Mereka saling tersenyum. “Ayo, kuantar kau pulang.”

***

Drap drap drap.

Derap langkah panik dari Jong Woon berhenti di tengah lapangan bersama dengan seorang pemuda berseragam yang menjadi penunjuk jalan.

Drap drap drap.

Deru langkah lainnya mendekat dan akhirnya berhenti di belakang Jong Woon.

“Mana? Mana mereka? Mana Jung Yi?”

Pertanyaan tersebut terlontar memburu dari Jong Woon. Ia berkacak pinggang sambil mengatur napas akibat lari maratonnya.

“Aku tidak tahu hyung. Tadi aku memang melihat mereka membawa Jung Yi ke arah sini…” ujar pemuda berseragam sekolah itu.

Hyung, apa mereka membawa Jung Yi ke tempat lain?” tanya Min Ho yang berada di samping Jong Woon melontarkan pemikirannya.

Jong Woon menggigit bibir bawahnya menahan amarah. Ia menghentakkan kaki dengan kesal lalu menarik poni rambutnya melampiaskan rasa frustasi serta kekhawatirannya.

“Ahhhh… Kita ke markas mereka!” putus Jong Woon.

***

Jong Woon’s Home Rent

“Wah… Rumahmu nampak nyaman dan bersih. Meskipun ukurannya kecil, tapi sangat nyaman berada di atas sini… Wangi laut langsung menerpa dari sini… Haahhhh….” komentar Mi Woo saat merasakan udara berhembus menerpa tudungnya dengan lembut. Ia sekarang berada di lantai atas rumah sewa kecil yang menjadi tempat tinggal Jong Woon dan Jung Yi.

“Iya unni. Aku suka tinggal di sini…” ucap Jung Yi tersenyum. Ia menyodorkan secangkir minuman pada Mi Woo yang segera gadis itu ambil dan teguk sampai nyaris habis.

“Ah….” Mi Woo menghela napas lega setelah minum. Jung Yi menatap diam menaikkan kedua alisnya. Mi Woo terkekeh. “Ehehehe.. Aku sejak tadi memang sedikit haus…”

Mi Woo kembali tersenyum lalu tanpa sadar ia telah bangun berdiri menghampiri beberapa pot bunga yang tergeletak ada di lantai atas beranda itu.

“Wah… bunga portulaca yang cantik dan segar…” komentarnya memegang bunga itu dengan takjub.

Jung Yi terkekeh setelah menyernyit heran. Ia tidak pernah menyangka bertemu dengan seorang gadis biarawati yang sangat terlihat ‘berbeda’ baginya. Selama ini yang ia bayangkan, banyak Suster-Suster biarawati yang nampak bersahaja dan terkesan dingin. Tapi, gadis di depannya kini, berbeda. Lebih hangat, polos, dan ceria.

Unni, apa kau benar seorang biarawati?” tanya Jung Yi penuh arti membuat Mi Woo menghentikan aksinya dan menoleh pada Jung Yi yang masih duduk di kursi beranda.

“Ah… Aniya… Aku bukan, eh, belum. Aku belum resmi. Tapi… akan menjadi birawati, hehe,” ujarnya memainkan jari kikuk.

“Eoh… Ternyata calon biarawati ya unni. Apa kau bersekolah di St. Sincere?” tanya Jung Yi.

Sontak Mi Woo melompat duduk lagi di hadapan Jung Yi. Ia membuka mata lebar seolah tidak percaya sampai-sampai Jung Yi dibuat kaget olehnya.

“Kau, tahu tentang sekolah kami? Asrama kami? Woaa… Gadis baik. Kau pasti sering mengunjungi gereja kami kan? Iya kan? Ah, aku bersyukur ada anak muda yang masih antusias mendalami ajaran agama. Aku bersyukur Tuhan…” seru Mi Woo kemudian menatap langit takjub.

Unni-ya, kenapa kau mau menjadi biarawati?” tanya Jung Yi tiba-tiba membuat Mi Woo menoleh padanya.

“Ah… Kenapa ya? Ah… Aku hanya ingin. Karena, setiap melihat Suster Kepala atau Suster lainnya yang hebat dan pintar, aku sangat takjub. Aku ingin menjadi seperti mereka. Berbuat amal dan kebaikan, bertaqwa dan berbakti pada aturan agama,” jelas Mi Woo.

“Ah, Jung Yi-ya. Kau juga bisa bersekolah di sana kalau kau mau. Tapi jangan khawatir, tidak semua lulusan sekolah kami menjadi biarawati. Banyak yang berhasil mendalami ilmu agama di berbagai bidang keilmuwan di pemerintahan, atau menjadi tokoh pemuka di berbagai lembaga pemerintah,” tambah Mi Woo dengan antusias menceritakan soal St. Sincere, sekolahnya.

“Hihihi. Unni… Kau lucu sekali…” komentar Jung Yi yang membuat gadis kecil itu terkekeh.

Mi Woo mengerut heran. “Kalau begitu unni bisa tidak menjadi biarawati dong? Tidak harus menjadi biarawati kan setelah lulus?” tanya Jung Yi yang membuat Mi Woo tertegun sejenak.

“Yang penting kan… menjalani kehidupan yang berguna bagi umat dengan berpegang teguh pada prinsip Tuhan… Ya kan unni?”

Seolah menjadi sesuatu yang menohok bagi Mi Woo setelah ucapan Jung Yi barusan. Mi Woo menundukkan kepalanya terdiam seolah memikirkan sesuatu.

Unni, gwencanayo?” tanya Jung Yi khawatir memandang wajah Mi Woo yang tiba-tiba diam. Gadis itu kemudian tersenyum pada Jung Yi.

“Ah, iya. Dimana orang tuamu Jung Yi-ya?” tanya Mi Woo mengalihkan pembicaraan.

“Mereka tidak ada unni. Orang tuaku sudah damai di surga…” ucap Jung Yi yang membuat Mi Woo terdiam. “Aku di sini tinggal bersama oppa angkatku,” lanjut Jung Yi.

“Ah… Aku juga yatim piatu sepertimu…” ujar Mi Woo tersenyum lembut. “Tapi kau masih ditemani oppamu yang pastinya menjagamu dengan baik kan?”

Ne, oppaku sangat baik padaku. Tapi unni… Meskipun aku punya oppa dan kau tidak, kau masih mempunyai Tuhan kan bersamamu?”

Mi Woo tersenyum lebar mendengar ucapan bijak dari seorang gadis kecil di hadapannya. Tangannya refleks terulur dan memeluk gadis itu.

“Kau benar, seperti apapun hidupmu, bagimanapun, jika kau masih memiliki Tuhan berada bersamamu, semua akan baik-baik saja…”

***

Jong Woon mendobrak pintu sebuah bangunan dengan keras. Sontak kumpulan pria yang berada dalam ruangan itu terhenyak kaget, apalagi mendapati empat orang pria di hadapannya, pria-pria yang ditunggu kumpulan itu.

“Dimana Jung Yi adikku?!” teriak Jong Woon sangat marah. Ia langsung masuk dengan langkah penuh emosi dan menelusuri sekeliling ruangan itu. Sesekali ia berhenti dan meninju satu persatu yang menghampirinya seolah menghalangi jalannya. Bersamaan dengan itu, Young Woon, Min Ho dan Hyuk Jae, ikut melakukan tindakan yang sama dengan Jong Woon.

Perhelatan dan pertarungan pun terjadi. Banyak diantara mereka, dua atau tiga orang lebih, langsung menyerang Jong Woon bersamaan. Jong Woon bergerak lincah menghindar serta membalas tinjuan dan tendangan ke semuanya. Tangan kosong. Hal itu saja sudah terlihat cukup bagi Jong Woon mempertahankan diri. Ia memang sudah terlatih untuk hal sepele ini baginya.

Duak!

Jong Woon meninju keras wajah Jae Gi, pemimpin kelompok itu dengan sekuat tenaga hingga Jae Gi tersungkur ke tanah. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan tangan sebelahnya yang tidak berbalut perban. Jae Gi mengerang kesal.

Jep.

“Arrrggghhh!!!” teriakan Jae Gi menggema seketika. Jong Woon rupanya menginjak tangan Jae Gi berbalut perban tersebut dengan kakinya.

“KATAKAN DIMANA ADIKKU?!” teriak Jong Woon memekik.

“Ahh… Ah… Aaaa….”

Jae Gi hanya bisa mengerang menahan rasa sakitnya karena tangannya yang terluka parah akibat mengalami patah serta retak, diinjak Jong Woon penuh dendam. Sesekali Jong Woon melayangkan tendangannya pada pria lain yang datang hendak menolong Jae Gi. Atau anggota kelompok Jae Gi yang mencoba menyerang Jong Woon dari belakang, dengan cepat menjadi sasaran pelampiasan latihan otot Min Ho atau Hyuk Jae.

“DIMANA JUNG YI???!!”

“Ah… Arrggghh…. Aku…. Aku tidak tahu…” ucap Jae Gi mengerang sakit.

“APA MAKSUDMU TIDAK TAHU HAH?! KAU YANG MEMBAWA ADIKKU TADI KAN?! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADANYA?!”

“Aku… Aku… Arrrggghhh…..!!!” Jae Gi menjerit lagi ketika kaki Jong Woon memutar sambil menekan tangan itu. Darah segar merembes pada perban putih itu.

“CEPAT KATAKAN!!”

“Ah… Iya… iya…” jawab Jae Gi terbata.

“Aku memang berniat menculik adikmu dan mempermainkannya. Tapi, aku tidak tahu tiba-tiba datang seorang biarawati melihat kami. Kami semua lari dan meninggalkan adikmu bersama Suster biarawati itu… Jadi, pasti adikmu sudah aman di rumah bersama biarawti tersebut,” jelas Jae Gi dengan usaha sekuat tenaga bertahan.

“Arkh!” pekikan terakhir Jae Gi menjadi tanda bahwa Jong Woon memang telah melepaskan pijakan kakinya menyiksa tangan pria itu. Jae Gi masih mengerang kesakitan tidak berdaya. Beberapa teman anggota kumpulan itu menghampirinya dan menolongnya.

Jong Woon berbalik dan berkacak pinggang. Ia memberikan isyarat pada teman-teman lainnya agar membubarkan diri dan keluar dari tempat itu. Ia lalu berhenti sejenak dan berbalik lagi menatap Jae Gi yang tengah berusaha bangun.

“Kuperingatkan kau sekali lagi. Berani bermain-main dengan adikku lagi, aku tidak akan membiarkan kau menghirup napas sedikitpun!” kecam Jong Woon.

***

Incheon, Jong Woon’s Home Rent

Unni… Hati-hati ya…” ucap Jung Yi saat sudah berada di depan rumah sewa sederhana milik Jong Woon. Ia kini memberi salam perpisahan pada Mi Woo yang tengah membenahi helm kecilnya untuk menaiki skuter miliknya kembali ke asrama.

“Aku pergi dulu ya Jung Yi… Semoga kita bisa bertemu lagi lain kali… Terima kasih jamuannya…” ucap Mi Woo tersenyum lebar lalu menyalakan mesin skuternya.

Jung Yi melambaikan tangannya hingga melihat Mi Woo menjauh sampai berbelok ke sebuah tikungan. Ia kemudian melebarkan matanya terkejut saat perlahan sosok Mi Woo berganti dengan kemunculan sosok pria yang berlari ke arahnya, pria yang sangat dikenalinya.

Mi Woo yang menjalankan skuternya, memang tadi sempat berpapasan dan melewati Jong Woon yang berlari cepat ke rumahnya. Tapi mereka hanya lewat begitu saja. Mi Woo dan Jong Woon sama-sama tidak menyadari dan memang karena mereka saling tidak mengenal.

“Jong Woon oppa…

“Jung Yi-ya!” Jong Woon langsung memeluk Jung Yi tanpa ragu seolah tidak ingin melepaskan gadis kecil itu. Ia kemudian melonggarkan pelukannya dan menelusuri wajah dan segala sisi Jung Yi.

“Kau tidak apa-apa? Kau tidak terluka? Baik-baik saja kan?” tanya Jong Woon memburu.

Aniya oppa. Aku baik-baik saja,” ucap Jung Yi yang langsung membuat Jong Woon menghela napas lega.

***

Incheon, St. Sincere

Mi Woo memakirkan skuter milik asrama dengan hati-hati. Ini sudah mulai malam gelap. Gadis itu kembali melakukan suatu kesalahan yang terlupakan. Ia baru saja mengingatnya ketika hendak kembali pulang dari rumah Jung Yi. Ia lupa bahwa ada ibadat sore di gereja. Oleh karena itu, gadis itu memilih langsung ke asrama dan tidak ke gereja selagi jam ibadat belum usai.

Mi Woo tersenyum lega sekaligus puas usai meletakkan helmnya dengan manis di samping skuter itu. namun, setelah berbalik, ia harus membelalak terkejut mendapati Suster Kepala Kang yang tengah berdecak menatapnya.

“Su…Suster kepala…?” lirih Mi Woo.

“Shin Mi Woo… Shin Mi Wooo…” lirih Suster Kang sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Tiada hari tanpa membuat masalah dan melanggar aturan.”

***

Church

Mi Woo menunduk dengan takut pada Suster Kepala Kang yang ada di hadapannya kini. Usai menunggu di perpustakaan untuk merangkum ayat kitab, Mi Woo harus berada di gereja berdua dengan Suster kepala Kang, sementara seluruh siswi sudah kembali ke kamar asrama beristirahat.

“Shin Mi Woo… Ada banyak hal yang harus kuceritakan padamu,” ucap Suster Kang memulai. Mi Woo memberanikan diri mendongak menatap Suster Kepala Kang. Ia membuka matanya lebar dengan diam.

“Ibumu, dulu sama sepertimu. Calon biarawati,” ujar Suster Kang terhenti. Mi Woo sejenak terkejut, tapi ia lebih memilih diam untuk tetap mendengarkan cerita Suster Kang.

“Saat ibumu baru diangkat menjadi biarawati, ia menemukan Ayahmu yang terluka cukup berat saat itu. Ia membawa pria itu ke asrama ini. Sempat kami menolak karena jelas pria tidak mungkin bisa tinggal di tempat ini. Setelah itu, sempat terjadi keributan. Tapi, ibumu, menyadarkanku bahwa tolong-menolong tidak boleh memilih. Siapapun yang ada dihadapanmu yang patut kau tolong, kau harus menolongnya. Itu adalah perintah Tuhan. Pada akhirnya, aku yang saat itu masih menjadi biarawati muda, membantu ibumu agar Ayahmu bisa dirawat di sini. Semakin lama, Ayahmu bisa hidup dengan baik di sini. Ia sembuh, dan akhirnya banyak membantu kami. Tapi, kedatangan Ayahmu membuat kami harus kehilangan ibumu. Beliau memilih mengikuti naluri hatinya untuk menikah dengan Ayahmu demi menjaga kehormatannya.”

“Menjaga kehormatan?”

“Ya, ibumu, dan Ayahmu, mereka saling jatuh cinta. Karena hal itu, karena cinta itu… yang saat itu masih dianggap tabu dan hina dalam pandangan ajaran kami… Ibumu akhirnya diusir dari tempat ini. Aku saat itu sungguh terluka. Sungguh sedih kehilangan ibumu… Aku saat itu, menjadi teman sekaligus kakak bagi ibumu. Dia, adikku yang memberikanku semangat juang dan kegembiraan saat bersama-sama menjalani tugas,” cerita Suster Kang sambil menitikkan air mata. Mi Woo ikut terharu melihat Suster Kang yang menundukkan mata seolah mengingat kembali memori yang sempat dilalui dan menjadi hal yang tidak pernah dilupakan itu.

“Mereka kemudian tinggal di salah satu rumah sewa sekitar sini. Aku, sangat tahu bagaimana kehidupan dan asal muasal Ayahmu sejak awal. Ibumu yang menceritakan semuanya. Dan itulah yang sempat membuatku khawatir pada ibumu. Mereka, hidup dalam ancaman. Sampai di suatu saat, ibumu datang dengan bersimbah darah dan sisa-sisa tenaganya, ia datang ke tempat ini… membawamu yang masih bayi,” jelas Suster Kang. “Ibumu… meninggal setelah aku meraihmu dalam pelukanku, Shin Mi Woo…”

“Seul Ki-ya, Shin Seul Ki… Ia dibunuh oleh seseorang yang kami tidak pernah tahu. Esok harinya, Ayahmu ditemukan di rumah sewanya tewas…”

“Ayah, Ibuku… dibunuh? Mereka meninggal karena itu…?”

“Kami tidak pernah mengatakannya padamu karena kau masih kecil Shin Mi Woo… Kau masih terlalu muda, masih terlalu polos untuk tahu. Dan kau kini sudah dewasa, kau sudah memahami semua ajaran yang baik dan benar. Memaafkan, adalah wujud ketulusan dan keikhlasan hatimu pada apa yang diberikan Tuhan atas nasibmu itu. Kesalahan orang lain, adalah makna bahwa kesempurnaan itu tidak pernah menjadi milik siapapun. Hanya Tuhan…”

Mi Woo menundukkan wajah. Gadis itu, tidak bisa menahan air mata yang ikut mengalir bersamaan dengan suara parau dari penjelasan Suster Kang. Gadis itu terlalu syok. Sangat syok atas seluruh kejadian sebenarnya yang dialami oleh orang tuanya. Siapa dia, kehidupan asalnya dari orang tuanya, ia hanya bisa menangis.

“Semua kepedihan, adalah hikmah dari Tuhan yang perlu kita selami maknanya lebih jauh. Jika kau bisa memaafkan, hatimu akan jauh lebih tenang seperti air yang mengalir perlahan ke ngarai. Biarkanlah semua itu mengalir, membersihkan semua noda hitam dalam hati kita…” jelas Suster Kang.

“Pembunuh… Orang tuaku… Siapa… Suster?” tanya Mi Woo terbata dan penuh jeda.

“Salah satu anggota keluargamu. Dia, pembunuh itu, datang ke tempat ini, beberapa bulan setelah kematian orang tuamu. Ia, telah bertaubat dan memohon ampunan di sini. Kami, menerimanya hingga akhirnya ia menghembuskan napas dalam pengabdiannya…” jelas Suster Kang. Mi Woo terdiam.

“Kebutaan manusia akan kehidupan duniawi, memang bisa menggelapkan pikiran dan hati nurani. Haus akan kekuasaan, hal itu yang menyebabkan perpecahan pada keluargamu. Karena itu, kuharap kau memahami mengapa kau, diminta kembali disana. Ada perpecahan yang ingin dicegah… Tuan Han Woon menyebutkan bahwa Tuan besarnya, Tuan Kim, menyerahkan semua hak kembali padamu untuk membayar dosa yang pernah terjadi di keluargamu…”

Suasana kembali diam. Hanya terdengar isakan pelan Mi Woo yang berhadapan dengan Suster Kang yang memandangi Mi Woo sendu. Biarawati itu kemudian berpindah di samping Mi Woo duduk, dan memeluk gadis itu.

“Apa yang harus aku lakukan, Suster…? Apa yang harus kulakukan…?”

“Berdoalah… Maka Tuhanmu akan menjawabnya…”

***

Jong Woon’s Home Rent

Jong Woon memakan cepat suapan demi suapan dari piring di hadapannya. Ia sangat tidak sabar menyuapi diri untuk menghabiskan cepat makanan itu.

Oppa… Jangan cepat-cepat begitu… Kau bisa tersedak nanti…” tegur Jung Yi yang juga makan di meja yang sama dengan Jong Woon.

Ne, tapi mhashakanmhu memhang enhak Jung Yi. Akhu jugha laphar…” jelas Jong Woon tidak jelas. Jung Yi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan makan.

Tep.

“Ah….”

Terdengar helaan napas kencang Jong Woon usai menenggak minumnya. Ia kemudian melirik jam dinding “Bagus. Tepat sekali,” ucapnya yang tak dimengerti Jung Yi.

Tok tok tok.

Jong Woon langsung tersenyum sumringah mendengar suara ketukan dari pintu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu depan rumahnya. Ia kemudian bangun dan berlari cepat membuka pintu sampai terdengar bunyi decitan kursi.

Hyung!!!” seru dua orang ramai dari luar setelah tepat Jong Woon membukanya. Jong Woon segera keluar dan menutup pintu cepat.

“Bagaimana? Apa sudah mendapatkannya?” tanya Jong Woon antusias. Min Ho yang memang datang bersama Hyuk Jae, langsung mengangkat tangannya menunjukkan banyak uang yang bernilai tidak sedikit ke hadapan Jong Woon.

“Kita berhasil hyung…

“Woaaahhh! Bagus!!” teriak Jong Woon disertai kekehan kecil Hyuk Jae dan Mi Woo.

“Apa kubilang, mereka tidak akan mudah membiarkan kita keluar dari organisasi itu! Baguslah. Aku juga sudah tidak sabar kembali melatih ototku yang sudah pegal…” ucap Jong Woon sambil menggerak-gerakkan kepala dan tangan meregangkan otot.

“Benar hyung. Aku tahu sekali kau sangat suka melihat orang lain tersiksa sampai mati. Kau memang seorang pembunuh ulung! Hahaha!” seru Hyuk Jae tertawa.

“Ya, dan kau bisa saja menjadi sasaranku nanti Hyuk Jae. Bersiaplah kau mati!” ucap Jong Woon dengan nada dingin yang sontak membuat Hyuk Jae terdiam menelan ludah. Min Ho yang ada di sebelahnya, terkekeh senang.

Hyung, kau benar. Mereka pasti memanggil kita kembali dan membayar mahal agar kita bisa mengisi tugas kosong yang ada,” ujar Min Ho mengalihkan perhatian kesal Jong Woon pada Hyuk Jae yang membuat Hyuk Jae menghela napas lega. Setidaknya, ia merasa selamat.

“Ya, tentu saja. Sudah kukatakan pada kalian. Kita dibayar bukan untuk menjadi budak. Tapi kita memberikan jasa sekalipun jasa yang dianggap kejam sekaligus hina,” ucap Jong Woon tersenyum smirk.

“Lagipula, kita memang mempunyai kemampuan itu. Untuk apa kita takut pada bos tua bodoh yang menganggap kita hanya bodyguard suruhan yang bisa dikorbankan setiap saat?! Huh! Kita ini…pembunuh bayaran! Dan aku tahu pria tua itu juga takut pada kita!” tegas Jong Woon yang langsung disambut senyuman licik Hyuk Jae dan Min Ho.

“Tapi hyung, kuharap kau jangan lupakan janji setia menjaga wilayah ini ya…” goda Min Ho mendelik. Jong Woon berdecak.

“Kalau itu, aku melakukannya demi Jung Yi, pabo!” Jong Woon langsung mengambil cepat uang dari Min Ho dan berlalu melewati mereka berdua. Sontak Min Ho dan Hyuk Jae mengikuti Jong Woon berjalan.

Hyung, kita kemana?!”

“Apa kita bersenang-senang seperti biasa hyung? Jinja?” tanya Hyuk Jae antusias. Min Ho dan Hyuk Jae langsung bersorak senang meskipun hanya ditanggapi deheman biasa Jong Woon yang berjalan angkuh.

Sementara dari dalam rumah itu, Jung Yi yang memegang sendok diam saja usai mendengar ucapan dan obrolan dari luar itu. Gadis itu, masih dapat mendengar jelas percakapan mereka karena memang jarak pintu luar dengan ia makan cukup dekat. Lagipula, Jong Woon melupakan satu hal yang lebih detail, menutup pintu rumah dengan rapat. Celah pintu membuat suara dari luar terdengar jelas.

Jung Yi perlahan menitikkan air matanya. “Oppa…” panggilnya frustasi.

***

St. Sincere Dorminity

Mi Woo tengkurap santai di atas ranjangnya. Kakinya yang terselonjor dihentak-hentakkan kecil dengan kasur. Rambut panjangnya yang terurai terjatuh lemas di atas kasurnya, sebagian menutupi pipinya yang putih merona. Mi Woo membolak-balikkan sebuah album foto. Album foto yang menjadi momen yang tidak pernah ia tahu. Album itu, adalah milik ibunya, Shin Seul Ki.

Flashback

“Ini adalah diari dan album foto milik Seul Ki. Ia sama sepertimu, suka difoto…” ujar Suster Kang terkekeh pelan. Ia menyerahkan album foto itu beserta sebuah buku tebal yang merupakan diari milik Seul Ki pada Mi Woo yang langsung diambil gadis itu dengan antusias.

“Terima kasih Suster. Apakah, aku bisa memiliki dan menyimpan ini?” tanya Mi Woo memperhatikan bentuk luar album dan buku tersebut sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Tentu saja, itu adalah milik ibumu yang pastinya menjadi warisan milikmu juga…” ujar Suster Kepala Kang sambil tersenyum.

“Terima kasih Suster. Suster sudah menjaga milik ibuku selama ini dengan baik,” ujar Mi Woo yang langsung memeluk Suster Kang dengan lembut. “Aku menyayangimu, Suster…” lanjut Mi Woo lirih dan pelan, namun, masih bisa didengar Suster Kang yang langsung tersenyum.

“Mi Woo, kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang?”

“Ne, Suster. Aku akan ikut Tuan Han Woon besok dan memastikan semua dan mengetahui semuanya. Aku juga akan mendengarkan apa yang dikatakan Tuan Kim nanti. Setelah itu, aku akan mengikuti keputusan Tuhan yang datang dalam hati nuraniku, seperti cara kita memutuskan sesuatu. Yaitu, dengan menatap dalam ke hati nurani kita, mencari apa yang benar dengan berpikir melingkari kemungkinan dan kehidupan dari segala sisi,” ucap Mi Woo yang terdengar bijaksana.

Suster Kang langsung tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Ia bersyukur dapat memiliki murid yang mengingatkannya akan sosok sahabat lamanya, Shin Seul Ki. Dan putrinya, kini ada dalam dekapannya.

Flashback end

Mi Woo tersenyum sendiri melihat foto-fotonya beberapa tahun lalu itu. Merasa sangat bahagia ketika bisa melihat wajah orang tuanya yang selama ini ia rindukan dan tidak pernah ia ketahui. Ia kemudian beralih mengambil album foto miliknya. Sesekali membenahi tatanan yang tidak rapih, kemudian membolak-balikkan album fotonya dan membandingkan dengan milik ibunya. Hanya beda dari struktur, milik ibunya berwarna monokrom dan miliknya, lebih berwarna.

Momen-momen itu membuatnya memutar memori saat ia bersama-sama Soo Eun mengikuti banyak kegiatan-kegiatan gereja. Mi Woo melihat foto-foto miliknya itu yang tentunya sangat banyak ada dirinya dalam setiap foto. Ya, ia memang suka sekali menampakkan diri dalam setiap foto.

Ketika dokumentasi acara amal gereja di lingkungan sekitar, ia selalu aktif berada di tempat yang memungkinkan kamera menangkap gambarnya. Sama persis dengan ibunya. Mi Woo terkekeh melihat beberapa foto yang terlihat buruk, foto ekspresi Soo Eun yang aneh.

“Hei, Mi Woo-ah! Apa yang kau lakukan di atas sana hah? Kenapa kau terkekeh sendiri?” tegur Soo Eun yang merupakan teman sekamar gadis itu di asrama tersebut, yang kini sedang berselimut tidur di ranjang bagian bawah.

“Tidak apa-apa… Kau ini, mau tahuuu….saja Soo Eun-ya!” ledek Mi Woo melongokan kepalanya ke arah bawah. Soo Eun mendelik kesal.

“Yasudah sana kau tidur! Kau menggangguku tahu!”

“Hahaha… Oke…oke…” Mi Woo tertawa senang dan akhirnya berbaring tiduran. Mereka berdua memang teman sekamar. Selain itu, kasur mereka adalah kasur tingkat dimana Mi Woo tidur di atas, dan Soo Eun di bawah.

Mi Woo meletakkan seluruh album itu menumpuk di samping kasurnya. Ia mencoba memejamkan mata. Namun, ia membukanya tiba-tiba dan memilih turun saja untuk meletakkan itu semua dengan benar, yaitu di lemari pakaiannya.

Suara gerakan Mi Woo itu membuat Soo Eun membalikkan badan bangun. Ia memang tadinya memunggungi posisi Mi Woo yang ada di hadapan lemari pakaian. “Hei Mi Woo-ah…” panggil Soo Eun yang membuat Mi Woo menoleh terkejut.

“Kau belum tidur Soo Eun-ah?”

“Belum. Kau sukses membuatku mengabaikan rasa gengsi dan memilih mengajakmu berbicara sekarang daripada aku mati penasaran,” ujar Soo Eun yang membuat Mi Woo terkekeh. Gadis itu langsung menghampiri Soo Eun dan duduk di pinggir ranjang Soo Eun semangat.

“Oke… Oke… Kau ini marah-marah terus. Ada apa?” tanya Mi Woo. Soo Eun mengerucutkan bibirnya sejenak sebelum akhirnya membuka mulut bertanya.

“Dengar Mi Woo, katakan padaku dengan jujur.” Mi Woo mengangkat kedua alisnya mengantisipasi lanjutan ucapan Soo Eun. “Kudengar, kau akan keluar dari tempat ini?” tanya Soo Eun.

Mi Woo sontak diam dan mengerutkan alis. Ia merasa keanehan sedikit. Bagaimana bisa berita biasa bahwa ia memang besok akan keluar sebentar kembali ke keluarganya, dengan cepat menyebar di seluruh asrama sampai Soo Eun tahu lebih dulu sebelum ia bercerita?

“Mi Woo-ah, apa benar? Kau akan meninggalkan tempat ini apa benar? Katanya kau akan menjadi pemimpin perusahaan dan hidup di dunia luar?” tanya Soo Eun lagi dengan mengguncang-guncang bahu gadis itu.

“Tidak Eun-ah. Aku besok hanya mendatangi keluargaku sebentar. Mungkin beberapa hari. Tapi setelah itu, entah apa aku akan kembali atau tidak. Kuharap aku akan kembali ke sini lagi, bersamamu,” ucap Mi Woo tersenyum. Soo Eun mengerucutkan bibirnya dan bergerak memeluk Mi Woo.

“Aku harap juga begitu. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi padamu. Kuharap kau bisa menceritakannya segera padaku Mi Woo-ah. Aku tidak mau kau pergi…” ucap Soo Eun yang langsung membuat Mi Woo mengerut sedih.

“Aaaa… Euh-ah…. Huuu…” rengek Mi Woo. Mereka berdua kemudian saling merengek, mengerut, menangis dan berpelukan sedih seolah akan terpisah dalam waktu yang lama nanti. Saat suasana itu masih berlangsung, sebuah gedoran kencang pintu sontak membuat mereka mengalihkan diri menoleh ke arah pintu..

“Mi Woo-ah! Mi Woo-ah!!” teriak dari luar.

“Ada apa?” tanya Soo Eun setelah melepaskan pelukan mereka.

“Itu suara Chae Rin. Apa terjadi sesuatu yang gawat?” tanya Mi Woo menerka. Mi Woo dengan sigap turun dari ranjang untuk membuka pintu.

Clak. “Ada apa Chae Rin?” tanya Mi Woo setelah membuka pintu.

“Suster kepala Kang! Lagi-lagi alerginya kambuh. Beliau sekarang kesulitan bernapas karena asma-nya kembali menyerang. Kau cepat ke toko obat di kota membeli tabung oksigen. Hanya tersisa setengah tabung untuk membuat Suster bertahan.”

***

Incheon Street

Mi Woo mengendarai cepat skuter milik asrama itu. Dalam asrama kecil yang berisi calon-calon biarawati serta pekerja sosial wanita lainnya di kota pinggiran itu, hanya sebagian yang bisa menggunakan skuter, kendaraan sederhana yang ada di gereja. Dan semua yang bisa menggunakannya, telah lulus mengabdi di berbagai tempat gereja lain serta organisasi sosial di pelosok Korea. Yang tersisa kini, hanyalah Mi Woo yang dapat mengendarai skuter itu.

Mi Woo memutar setir ke kiri sebagai arah awal memasuki tengah kota, Incheon. Ia sedikit samar mengingat lokasi swalayan yang biasa ia datangi untuk mendapatkan tabung oksigen untuk Suster Kang. Ia menjalankan skuter dengan, pelan takut kalau ia terlewat atau salah jalan. Suasana malam itu, sepi.

Setelah menemukan apa yang ia cari, Mi Woo kemudian menepikan skuternya dan langsung berlari masuk ke swalayan. Beberapa orang yang ada dalam swalayan sedikit memandang aneh pada gadis itu karena penampilannya yang pastinya sangat khas. Mi Woo tidak peduli. Ia langsung berputar mencari apa yang ia hendak beli. Setelah menemukannya, ia langsung mengambil cepat tabung gas itu.

Agasshi, aku ingin membeli ini. Cepat! Cepat!” seru Mi Woo meletakkan dua tabung gas di hadapan kasir.

Kasir sempat bingung, namun ia tidak peduli dan akhirnya menghitung barang tersebut. Usai membayar dan mendapatkan apa yang diinginkannya, Mi Woo segera berlari panik keluar.

Mi Woo menyalakan skuternya dan berjalan ke arah jalan tadi ia lewati. Saat memasuki jalan yang agak kecil dan sangat sepi, ia tiba-tiba terkejut dengan kedatangan dua orang wanita yang memapah seorang pria melewati jalan. Sontak Mi Woo berteriak kehilangan keseimbangan.

“Aaaa….”

Ckiitttt…. Gabruk! Bruk!

“Akh!”

Dua wanita yang memapah pria itu berteriak panik dan menjatuhkan begitu saja pria yang mereka bawa. Mi Woo yang terjatuh ke samping meringis sakit. Beruntung pakaian lengan panjang yang dikenakannya, sedikit melindungi tangannya dari benturan aspal sehingga tidak terluka parah. Ia kemudian menoleh pada skuternya yang tergeletak jatuh dengan sosok pria yang tertelungkup di hadapan skuter itu. Mi Woo melotot panik.

“Huh?”

Mi Woo bangkit cepat mendatangi tubuh yang tergeletak itu. Ia ketakutan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sambil berteriak memanggil bantuan.

“Tolong! Tolong!”

Namun, hasilnya nihil.

Ottokhe?”

Mi Woo memainkan jarinya panik. Ia berjongkok di sisi tubuh pria itu sambil memandanginya bingung. Akhirnya, ia memberanikan diri menyentuh pelan bahu pria tersebut meskipun dalam hatinya ia merasa ngeri akan sentuhan lawan jenis yang tidak ada ikatan suci. Ya, ia memang memegang prinsip itu sejak kecil, sejak ia tumbuh di lingkungan asrama gereja.

“Ahh!”

Mi Woo menarik cepat tangannya ketika tubuh itu bergoyang akibat dorongan tangannya sendiri.

“Apa dia mati? Ottokhe?”

Mi Woo diam mengamati tubuh itu yang ia bisa menerkanya bahwa itu seorang pria. Tidak lama ia mendongak dengan merapatkan kedua tangannya.

“Tuhan, ampuni dosaku. Aku harus memastikan orang ini masih hidup atau tidak… Kumohon…”

Mi Woo menarik napas dalam dan menghelanya perlahan sebelum akhirnya memberanikan diri memegang bahu tubuh pria itu. Ia membalikkan tubuh itu dengan cepat sambil menahan suara teriakannya.

Namun, ketika tubuh itu terlentang jelas memejamkan mata di hadapan Mi Woo, gadis itu terbengong usai membuka mata menatap wajah pria itu. Seketika gadis itu merasakan sebuah getaran aneh yang membuat tubuhnya memanas sejenak dan wajahnya sontak memerah. Ia mengedipkan mata berkali-kali, memandang tubuh yang terpejam tidur, namun masih bergerak-gerak sedikit tidak nyaman.

Tanpa sadar, Mi Woo menggerakkan tangannya menelusuri wajah pria itu tanpa menyentuhnya. Ia seperti orang bodoh yang hanya diam, mengamati garis wajah itu, seolah terbang terbawa ke alam lain.

“Keindahan sempurna yang diberikan Tuhan. Aku tidak mengerti, betapa dunia sangat mudah dihadiri pria setampan ini….” gumamnya.

Mi Woo terlonjak kaget saat mata pria itu bergerak pelan. Ia sampai terjatuh duduk di aspal.

Tep.

Mi Woo membelalak panik ketika tangannya diraih pria itu yang kini, bergumam pelan sambil meracau tidak jelas.

“Mau kemana, gadis-gadisku, eoh? Ayo kita bermain lagi….” ucap pria itu langsung bangkit sedikit dengan tangan yang langsung merangkul bahu Mi Woo.

“Kyaa…!”

Bruk.

Mi Woo membelalakkan matanya mendapati sesuatu yang hangat menyentuh permukaan bibirnya. Ia mendapati mata yang terpejam yang sangat dekat itu ada di hadapannya langsung, dengan napas yang terhembus penuh bau alkohol mengenai wajah Mi Woo. Gadis itu langsung merasa pusing, namun ia cepat melawan pusing akibat bau alkohol itu. Ia memilih mendorong sekuat-kuatnya tubuh yang ada di atasnya dan menghempaskannya begitu saja.

Buliran air mata mulai muncul di sudut matanya. Bibirnya tadi menyentuh bibir pria itu yang kini terlentang benar-benar tidak sadarkan diri. Dengan usaha tersisa dan tenaga cepat, Mi Woo bangun berdiri dan mengangkat skuternya. Ia memandangi sejenak tubuh pria itu sebelum akhirnya menggesernya ke tepian jalan, lalu melesat pergi begitu saja.

***

Mi Woo terisak di atas ranjangnya. Soo Eun yang ada di bawah, bangun dan duduk sambil menatap langit-langit ranjangnya, dimana itu adalah permukaan bawah kasur Mi Woo.

“Mi Woo-ah… Sudahlah… Berhenti menangis… Suster kepala Kang sudah tidak apa-apa…” ucap Soo Eun sedikit kesal.

Mi Woo menghentikan sejenak tangisannya dan menoleh sedikit ke bawah. Namun, ia masih merasakan kepedihan lain yang membuatnya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Soo Eun memang tidak tahu apa yang terjadi pada Mi Woo. Gadis itu, saat ini menangisi nasibnya yang merasa ternoda serta hina di mata Tuhan setelah apa yang terjadi beberapa jam lalu.

“Mi Woo-ah… Berhentilah menangis. Kau ini tumben sekali secengeng itu. Biasanya kau kan tidak pernah menangisi Suster kepala Kang.” Tapi isakan Mi Woo masih terdengar. Soo Eun menghela napas kesal tanda ia menyerah.

“Aish! Sudahlah. Menangislah sana! Tapi jangan bersuara! Aku tidak mau terganggu dengan suara isakanmu itu!”

Soo Eun memutuskan berbaring saja tidur dan memejamkan mata. Ia menutup selimut ke seluruh tubuhnya agar suara tangis Mi Woo tidak dapat ia dengar.

“Tuhan… Ampuni aku…” lirih Mi Woo masih terus menangis. Dan kembali bayangan kejadian tadi terlintas di pikiran Mi Woo sambil gadis itu memegangi bibirnya dengan tangannya lalu terisak.

TBC

Tes.. tes.. Oke, mulai pidatonya.

Di sini, karakter Mi Woo sesuai dengan biasanya dia, agak2 pabo, polos, dan bandel. Tapi, buat karakter Jong Woon, jangan marah yah dibuat begini… Pria brengsek berandalan.. Pembunuh bayaran, tukang main pelacur, tukang mabok, ga bener banget dah! #plakk# hahaha. Sifatnya itu selalu sok dingin, tapi sebenarnya ia hangat kok.. kelihatan kan? Yah… nanti di next2 part jg keliatan.. Amiin..

Jae Joong, ini bias aku di TVXQ dulu. Tapi karena dia sudah minggat bersama dua sobatnya yang lain dari SM, aku jadi ga suka lagi sama TVXQ deh. Jadi cuma simpatisan ajah.. #plakk *ga penting*

Dia di sini aku buat di sebagai pria ambisius yang ga percayaan sama orang lain. Dalam perjalanan dia mengenal sosok aku nanti, cieelah.. *mendadak jadi Mi Woo*, ia akan menyadari perlahan bahwa kepercayaan terhadap orang lain itu penting.

Seperti apa nanti kisah mereka? *promosi*

Tungguin ajah lanjutannya. Semoga kalian suka. ^^

Tetep Semangat! Ditunggu Kripik sambel bakwan (kritik saran bacot) *deep bow*

*tebar Kiss Riiku*

*tebar pesona Riiku*

*tebar suami Riiku* #eh?#