School Life Diary 2_melurmutia

Author : melurmutia

Casts : Kim So Hyun & Yeo Jin Goo

Genre : School life, Romance

Rating : PG-13

Length : Series

Disclaimer : I do not own the casts. Ketemu lagi di seri kedua School Life Diary. Yang suka nonton drama MBC The Moon That Embraces The Sun dan Missing You pasti tahu. Aku suka banget sama mereka jadi langsung nulis fanfic tentang couple ini. Pernah diposting di blog pribadi www.mydearexo.wordpress.com dan di schooloffanfict.wordpress.com. Happy reading! ^^

“Cepat! Aku lapar! Kita bisa kehabisan makanan!”

So Hyun hanya menggeleng pelan melihat Jin Goo yang sedang menarik-narik tangannya begitu terburu-buru. Gadis itu belum selesai membereskan buku-buku di mejanya usai jam pelajaran. Ia terpaksa memasukkan buku-buku itu ke dalam tasnya dengan satu tangan karena Jin Goo sedikit pun tidak berniat melepas sebelah tangannya.

So Hyun tiba-tiba berhenti bergerak. Dengan takut ia menyapukan pandangannya secara perlahan ke semua teman-temannya di dalam kelas. Ia bisa memergoki mereka semua sedang berbisik-bisik satu sama lain. Apa mereka sedang membicarakannya? Menjelek-jelekkannya? Mengolok-oloknya?  Saat mata mereka beradu, mereka dengan cepat memalingkan muka seolah-olah tidak ada yang terjadi. Sudah seminggu ini mereka bertingkah demikian. So Hyun mengalihkan pandangannya kepada Jin Goo yang masih menunggunya untuk bergegas ke kafetaria. Lelaki itu seperti tidak menyadari atmosfer kelas. Seolah-olah tidak tahu-menahu tentang gejala-gejala itu. So Hyun menunduk lalu berbisik.

“Jin Goo, kau duluan saja!”

Lelaki itu mengerutkan keningnya kebingungan dan mendekatkan daun telinganya tepat di depan wajah gadis itu.

“Aku tidak mendengarmu. Apa yang kau katakan?”

So Hyun baru akan mengulangi perkataannya saat seorang gadis dengan rambut kecoklatan berombak memasuki kelas dengan nada riang. Gayanya modis, sesuai dengan tubuhnya yang ideal dan berparas cantik. Gadis itu berlari kecil dengan gaya genit menuju meja So Hyun dan dalam sekejap ia merangkul lengan Jin Goo erat. Mata So Hyun membesar meihat aksinya itu. Jin Goo beralih menatap gadis itu datar.

“Jin Goo-ya, bisa ikut aku sebentar? Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu!”

Gadis itu tersenyum manis dan dibalas datar oleh Jin Goo. Lelaki itu berpaling ke arah So Hyun memasang ekspresi seperti ingin minta tolong padanya agar gadis berambut coklat itu pergi. Namun, belum sempat Jin Goo mengiyakan, gadis berambut coklat itu sudah terlanjur berlari menyeret Jin Goo keluar kelas dengan paksa. Mau tidak mau Jin Goo ikut saja kemana gadis itu membawanya. Matanya tidak terlepas dari So Hyun sampai ia benar-benar meninggalkan ruang kelas. So Hyun berdiri terpaku dan mengerjapkan mata kebingungan. Beberapa teman sekelas mereka diam-diam ikut keluar membuntuti mereka berdua. Beberapa dari mereka pula justru berkumpul mengerumuni So Hyun. Gadis itu berubah kikuk.

Ya, anak baru! Sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin kami tanyakan padamu!”

Glek! So Hyun menelan ludah dan menahan napas. Ternyata benar selama ini mereka selalu berbicara di belakangnya. Apa ia sudah berbuat salah? Apa yang akan mereka katakan? So Hyun belum siap mendengarnya.

“Apa kau dan Jin Goo berpacaran?”

“Kalian berdua terlihat sangat akrab.”

“Jin Goo selalu memerhatikanmu!”

“Ayo, jelaskan pada kami!”

Hah? So Hyun mengangkat alisnya. Ia sempat tidak menyangka akan ditanyai hal demikian. Pertanyaan macam apa itu? Ia menggelengkan pelan kepalanya dengan ragu.

A, ani, kami cuma berteman.”

Teman-temannya itu seakan tercengang dengan jawaban So Hyun. Mereka memaksa teman barunya itu untuk menceritakan secara detail tentang hubungannya dengan Jin Goo. So Hyun agak kewalahan dengan sikap mereka. Teman-temannya itu seketika berubah 180 derajat menjadi sok akrab dengannya. Ia dengan terpaksa menceritakan semuanya.

So Hyun dan Jin Goo memang berteman sejak kecil. Rumah mereka di daerah ujung Mokpo saling berhadapan. Tidak heran mereka begitu akrab. Sampai suatu hari saat ayah Jin Goo dipindahtugaskan ke Seoul, mereka pun terpisah. Lima tahun kemudian saat mereka sudah duduk di bangku SMP kelas 3, So Hyun dan ibunya juga ikut pindah ke Seoul dan akhirnya satu sekolah dengan Jin Goo. Mereka akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama. Jin Goo yang paling banyak memberikan pengarahan untuknya sehingga tidak terlalu sulit bagi So Hyun untuk lebih mengenal sekolah barunya. Apa karena itu mereka salah paham?

“Ahh! Ternyata begitu! Kenapa dari awal kau tidak bilang?” tanya salah satu di antara mereka.

Mwo? Karena dari awal memang tidak ada yang menanyakan hal ini.”

Mereka agak salah tingkah mendengar jawaban So Hyun. Dari prediksi So Hyun, ada kemungkinan mereka yang sekarang sudah lebih terbuka untuknya. Gadis itu bernapas lega dan tersenyum kecil.

“Bukannya kami membencimu So Hyun-a! Kami justru mengkhawatirkanmu!”

Ne! Apa kau tahu siapa gadis yang pergi bersama Jin Goo tadi?”

So Hyun berganti menatap mata serius mereka satu per satu. Ia menggeleng datar. Yang ia tahu hanya gadis itu lebih cantik darinya dan sangat bergaya.

“Namanya Song Yeon Hee anak konglomerat. Seluruh sekolah juga tahu dia sangat ambisius dalam mendapat sesuatu. Tidak peduli apapun itu akan dirampasnya dan diklaim sebagai miliknya. Jika ada yang menghalanginya, dia tidak segan-segan menyakiti siapa pun itu!”

“Dia sangat tergila-gila pada Jin Goo. Semua orang tahu itu. Jadi begitu kami lihat Jin Goo sangat dekat denganmu, kami cemas nantinya terjadi sesuatu padamu karena gadis itu!”

So Hyun terdiam berusaha mencerna kalimat-kalimat itu. Belum lagi saat mereka mengatakan bahwa Jin Goo adalah murid paling populer di sekolah karena kecerdasannya dalam segala bidang mata pelajaran, jago olahraga, punya kepedulian tinggi, dan wajahnya yang tampan. Seluruh siswa di sekolah merasa sangat bangga apabila bisa akrab dengan lelaki itu. Merasa senang apabila dapat berteman baik dengannya. Karena itulah mereka merasa agak sedikit risih melihat So Hyun yang belum beberapa hari pindah ke sekolah itu langsung mendapat perhatian penuh dari seorang Jin Goo. So Hyun mulai berdebar setelah mendengarnya. Benarkah Jin Goo sudah sehebat itu? Teman masa kecilnya itu ternyata sangat disukai oleh seluruh penghuni sekolah ini.

Ya! Ya! Ya! Kami punya berita panas!”

Seruan dua orang siswi yang berlari masuk ke kelas membuyarkan lamunan So Hyun. Mereka langsung menghampiri meja So Hyun yang penuh dengan kerumunan murid-murid yang lainnya dengan terengah-engah dan mengeluarkan ponsel mereka lalu memutar rekaman video yang sepertinya baru saja mereka rekam.

Mwoya?”

“Lihat saja rekaman ini! Tadi Yeon Hee baru saja menyatakan cinta pada Jin Goo.”

Semua terlihat syok. Bola mata mereka hampir melompat keluar serta mulut mereka terbuka lebar. Seketika semua bersemangat saling mendorong mengerumuni layar kecil itu tak terkecuali So Hyun. Tiba-tiba perasaannya berubah sesak. Hal itu sungguh mengusiknya. Menyatakan cinta?

Dalam video itu sosok mereka berdua berdiri saling berhadapan di rooftop sekolah dari kejauhan. Gadis itu menyerahkan semacam bungkusan kecil dan langsung diterima oleh Jin Goo dengan senyum lebar. Sesaat kemudian setelah percakapan yang cukup panjang, So Hyun bisa melihat gadis di video itu tiba-tiba menunduk dalam sambil mengatakan sesuatu yang langsung membuat ekspresi Jin Goo tiba-tiba berubah. Sayang sekali video itu tidak begitu jelas merekam suara mereka sehingga tidak ada yang mengerti percakapan itu. Jin Goo kemudian seperti mengucapkan suatu hal yang membuat gadis itu mendongak ke arahnya. Tampak gadis itu seperti sedang mengelap kedua matanya dengan jemarinya. Apa ia menangis?

Aish jinjja! Dari mana kau tahu ia menyatakan cinta? Suaranya tidak jelas begini!”

“Kau ini bagaimana? Apa kau tidak bisa lihat dari gerak-gerik mereka?”

Sementara semua orang saling melempar argumen, So Hyun berjalan mundur dari kerumunan dan berlari ke luar kelas dengan perasaan yang tidak menyenangkan seperti terbebani. Ia memutar kepala di koridor kelas di tengah lalu lalang para siswa, mencari-cari sosok Jin Goo. Apa mereka masih di rooftop?

So Hyun baru akan menapaki tangga saat seorang guru memanggilnya. Orang itu menyerahkan semacam kardus besar berisi beberapa pigura gips mini karya seni para murid. Ia dimintai tolong untuk membawa kardus itu ke rooftop. Orang itu lalu lari terbirit-birit ke WC pria. So Hyun mengembuskan napas berat dengan berlebihan.

Wae gurae jinjja?”

Kardus itu tidak ringan. Poni So Hyun agak sedikit basah oleh keringatnya yang bercucuran karena membawa beban berat sambil menapaki tangga. Ia melangkah dengan malas dan saat itu juga pikirannya langsung membawanya kepada Jin Goo.

Ia sangat populer… Sebegitu hebatnya kah dia sekarang? Dia kan hanya Jin Goo. Lelaki paling jahil sedunia…

So Hyun berhenti melangkah tepat di puncak ujung tangga rooftop itu. Ia memejamkan mata. Mengingat kembali saat ia bertemu Jin Goo untuk pertama kalinya setelah lima tahun. Pria itu terkejut dan langsung berseru padanya begitu menggebu-gebu. So Hyun menyukai senyumannya saat itu. Senyum yang sungguh ia rindukan. So Hyun pada awalnya berpikir Jin Goo akan kaku bahkan bersikap asing padanya setelah sekian lama tidak bertemu. Namun, ia salah. Perlakuannya padanya tidak berubah. Masih sama seperti dulu. Jin Goo yang jahil, selalu mengerjainya, mengejeknya, membuatnya frustrasi. Jin Goo yang selalu membuatnya tertawa, menolongnya, melindunginya, selalu berada di sisinya.

Jin Goo yang sekarang begitu banyak yang memujanya. Berharap bisa dekat dengannya. So Hyun menggelengkan kepala kuat-kuat. Menepis rasa egois yang menyelubunginya.

So Hyun baru akan melanjutkan langkahnya dan tiba-tiba terhenti lagi. Kejadian di taman kemarin saat mereka mengerjakan tugas bersama. Ia mengingat betul bagaimana debaran jantungnya yang tidak keruan saat berada di dekat Jin Goo. Bagaimana wajahnya memerah saat lelaki itu dekat dengannya. Pikirannya hanya dipenuhi lelaki itu sepanjang waktu dan hal-hal aneh lainnya. Hal yang tidak pernah ia rasakan lima tahun lalu. Mata So Hyun berkaca-kaca. Bagaimana bisa sekarang ia begitu menyukainya?

Suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu rooftop terbanting dengan keras membuat So Hyun kaget bukan main. Seorang gadis meninggalkan rooftop dengan wajah yang sungguh menyedihkan. Ia agak tercengang saat berpapasan dengan So Hyun di ujung tangga. Ekspresinya berubah mengerikan. Gadis itu menatapnya tajam dengan matanya yang penuh air mata. Pandangannya yang menusuk itu membuat So Hyun merinding ketakutan. Perlahan gadis berambut coklat itu berjalan mendekat ke arahnya. Dengan gemetaran, So Hyun berjalan mundur.

Tiba-tiba gadis berambut coklat itu mendorong So Hyun ke samping hingga menabrak tembok. Kardus berisi pigura gips itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Gadis berambut coklat itu berlari turun tangga meninggalkannya.

Tiba-tiba So Hyun kehilangan keseimbangan. Sebelah kakinya tidak pas menginjak ujung anak tangga karena kejadian itu. Ia kehilangan suara untuk berteriak. Tubuhnya seperti akan jatuh ke belakang, akan terhempas ke ubin tangga yang keras, dan jatuh terguling-guling menuruni tangga. Kepalanya akan mengeluarkan darah dan ia tidak tahu akan berakhir seperti apa nantinya.

“SO HYUN-A!!!”

Seseorang di depan sana memanggil namanya dengan lantang. Belum sempat ia melihat sosoknya, orang itu secepat kilat langsung meraih sebelah tangannya dan dengan sekuat tenaga menarik tubuhnya ke depan. Kini gadis itu menubruk tubuh lelaki tersebut. Kepalanya menghantam dada lelaki itu dan seketika ia tersontak. Matanya masih terpejam dan napasnya tidak beraturan. Keringat dinginnya bercucuran dan bahunya bergetar ketakutan. Begitu ia membuka mata, perasaan lega langsung meluapinya. Apa yang dipikirkannya sejenak tadi tidak menjadi kenyataan. Ia tidak jatuh ke bawah.

“SO HYUN-A! GWAENCHANA?”

So Hyun membelalak lebar. Jin Goo sedang menatapnya begitu cemas dan ketakutan. Ia memegang bahu So Hyun dengan kedua tangannya erat layaknya orang frustrasi dan memastikan apakah gadis itu baik-baik saja. So Hyun hanya terpaku menatap kedua mata Jin Goo dan mengangguk pelan mengiyakan. Jin Goo bernapas lega sambil menunduk.

“Apa yang kau lakukan di sini sendirian? Pabo! Untung tadi aku masih sempat menarik tanganmu. Kalau tidak, kau tahu? Seumur hidupku aku akan mengutuk diriku sendiri!” seru Jin Goo dengan serius.

So Hyun begitu luluh mendengar ucapan tulus Jin Goo. Butiran air matanya jatuh.

Mian.”

Hanya itu yang bisa So Hyun katakan. Selebihnya tercekat di lehernya. Ia tidak sanggup mengeluarkannya karena dadanya sakit menahan tangis. Ia kemudian tertunduk. Jin Goo tersenyum lega dan mengelus pelan puncak kepala So Hyun. Gadis itu merasakan belaian lembut itu seketika menghangatkan hatinya. Ia mengangkat kepala, kembali menatap kedua mata Jin Goo dan membalas senyumannya.

Sadar dengan apa yang mereka berdua lakukan, suasana langsung berubah kaku. Jin Goo langsung melepas kedua tangannya dari bahu So Hyun dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. So Hyun ikut-ikutan berubah kikuk.

“Su, sudahlah! Ahh! Sekarang ayo kita makan! Bukankah sudah kubilang dari tadi aku kelaparan? Aish! Menu makan siang yang enak di bawah pasti sudah habis.”

“Salahmu sendiri! Memangnya sejak tadi apa yang kau lakukan di sini?”

Jin Goo mengerjapkan mata dan terdiam. Situasinya tidak memungkinkan untuk menjelaskan semuanya pada So Hyun saat itu. Namun, tatapan mata gadis itu masih menuntut penjelasan darinya. Jin Goo benar-benar tidak tahu harus bercerita mulai dari mana sampai ia menyadari sesuatu. Dengan sok kaget, ia menunjuk kepingan-kepingan gips yang berceceran di lantai. So Hyun mengikuti arah pandang lelaki itu dan melotot tidak percaya. Ia telah menjatuhkan kardus pigura gips para murid. Ia menggigit bibirnya dan kembali menatap Jin Goo dengan tatapan pasrah. Gawat!

***

So Hyun membuka tutup tong sampah besar. Jin Goo lalu memasukkan sampah dalam kantong plastik hitam besar ke dalamnya. Gadis itu menatapnya penuh dengan rasa bersalah. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 sore hari. Semua murid sudah sejak tadi pulang ke rumah masing-masing. Tinggal mereka berdua yang masih menjalankan hukuman.

“Jin Goo-ya, mianhae! Ini salahku. Kau tidak seharusnya di sini membantuku.”

Gwaenchana! Kita akan makan siang setelah hukuman ini selesai. Kali ini, tidak akan ada lagi yang menghalangi kita untuk makan siang, oke?”

Jin Goo tersenyum lebar hingga membuat So Hyun tertawa kecil. Setelah membersihkan dedaunan kering di tiap sudut sekolah, mereka bergegas menuju kafetaria. Malangnya, makanan di sana pun habis tak bersisa. Semua petugas sedang terlihat membersihkan tempat itu.

“Tumben kau telat datang, Jin Goo-ya! Tidak ada sisa makanan lagi. Ini salahmu! Siapa suruh! Jatah kalian sudah diambil orang.”

So Hyun dan Jin Goo saling tatap. Jin Goo kembali bertanya pada ahjumma itu.

“Tapi, kami kan belum makan siang. Ini sudah sore hari. Jarak rumah kami dari sekolah sangat jauh. Bisa-bisa kami sampai malam hari dan belum makan apapun sepanjang hari. Ahjumma, kau tega sekali!” goda Jin Goo dengan tatapan memelas.

Ahjumma itu menggelengkan kepala. Ia memberi kode kepada Jin Goo untuk mendekat dan ahjumma itu membisikinya sesuatu. Senyum Jin Goo tiba-tiba mengembang dan ia kemudian menarik sebelah tangan So Hyun berlari meninggalkan kafetaria.

Ahjumma! Kamsahamnida!”

So Hyun melihat ahjumma itu dari kejauhan meletakkan jari telunjuknya ke bibir, menyuruh Jin Goo untuk diam. Ia sama sekali tidak mengerti. Apa yang mereka bicarakan? Tahu-tahu mereka sampai di gerbang belakang sekolah. Kenapa Jin Goo membawanya ke tempat itu?

“So Hyun-a, kau tunggu di sini. Akan kuambilkan makanan kita!”

Belum sempat So Hyun angkat bicara, Jin Goo kembali berlari masuk ke dalam gedung. So Hyun mengambil beberapa langkah dan duduk di tangga gerbang sekolah. Ia menopang dagu sambil memerhatikan sekelilingnya dengan bosan. Tiba-tiba ia tersenyum.

So Hyun mengeluarkan buku catatan kecilnya berisi tulisan harian warna-warni dan penuh gambar. Ia mulai memainkan pulpennya sambil terus tersenyum.

Kupikir hari ini aku akan mati. Aku hampir terjatuh di tangga rooftop dan entah bagaimana nasibku kalau saja Jin Goo tidak datang untuk menarik tanganku dan membawaku kembali menjalani hidup. Aku benar-benar bersyukur untuk itu.

So Hyun mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung pulpen, kembali membayangkan kejadian tadi dengan senyum manisnya.

Jin Goo menatapku seperti hampir gila. Ia memegang bahuku kuat-kuat, menahan tubuhku agar aku tidak terhempas ke belakang, seakan takut hal buruk terjadi padaku. Sungguh! Kalimatnya yang membuatku tertegun itu masih terngiang-ngiang di ingatanku. Dia bilang: Apa yang kau lakukan di sini sendirian? Pabo! Untung tadi aku masih sempat menarik tanganmu. Kalau tidak, kau tahu? Seumur hidupku aku akan mengutuk diriku sendiri!

Bunyi langkah kaki yang menggema di lobi sekolah membuat So Hyun terburu-buru menutup diary-nya dan memasukkannya kembali ke dalam ransel. Jin Goo datang sambil membawa dua susu coklat dari ruang penyimpanan untuk menu besok. So Hyun terperanjat kaget dan memukul pelan bahu Jin Goo. Lelaki itu tertawa lebar dan mengatakan bahwa ia hanya menjalankan apa yang diinstruksikan ahjumma kepadanya.

Mereka berdua duduk berdampingan sambil menikmati minuman itu. Seperti biasa, tidak lepas dari berbagai macam guyonan, lelucon, dan canda tawa. Seketika suasana berubah hening saat Jin Goo mengalihkan pembicaraan.

“So Hyun-a!”

“Waeyo?”

“………… tadi Yeon Hee menyatakan cintanya padaku.”

So Hyun tersedak oleh ucapan Jin Goo. Untung saja lelaki itu tdak menyadari. Ia membersihkan susu yang menodai pinggiran bibirnya dengan lengan bajunya.

“Ahhh…”

Mwo? Kau tidak terkejut?” tanya Jin Goo langsung menatap ke mata gadis itu.

So Hyun secepat kilat langsung berpaling darinya. Tentu saja ia terkejut. Ia tahu hal itu dari video hasil stalk teman-temannya tadi. Kenapa ia harus membicarakannya sekarang?

“Ke, kenapa aku harus terkejut?”

Jawaban So Hyun sontak membuat Jin Goo mati kutu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Hening untuk beberapa saat. So Hyun sama sekali tidak menyukai suasana ini. Begitu ia akan mengucapkan sesuatu, Jin Goo langsung menyela.

“Tapi, aku menolaknya.”

So Hyun perlahan kembali memutar kepalanya ke arah Jin Goo dan lelaki itu sedang tersenyum padanya, menatap lurus ke arahnya untuk waktu yang lama. So Hyun seakan terkunci olehnya. Deg! Gejala itu datang lagi. Gejala aneh saat bersama Jin Goo. So Hyun tidak bisa menahannya lagi. Namun anehnya, ia justru membiarkan gejala itu masuk menyelimutinya dan mencoba memahaminya kembali.

Jin Goo, aku sangat menyukaimu! Jeongmal!

“Lihat, wajahmu memerah! Wah, kau cemburu, ya?” goda Jin Goo kemudian sambil tertawa jahil dan menyenggol lengan So Hyun.

So Hyun tidak menyangka orang itu akan berkata demikian. Ia salah tingkah, memutar bola mata dengan malas, bangkit berdiri, dan memasang wajah cemberut khasnya kepada Jin Goo yang masih duduk di sampingnya.

Ne! Wajahku memang memerah karena pantulan sinar matahari sore, pabo! Rugi sekali kau menolak gadis seperti dia!”

Gadis itu menjulurkan lidahnya kepada Jin Goo dan mengambil langkah lebar meninggalkan lelaki itu keluar gerbang. Jin Goo menatapnya penuh arti sambil terus tersenyum. Rambut panjang gadis itu kini melambai indah diterpa angin sore. Cahaya matahari keemasan membuatnya nampak lebih misterius jika dilihat dari belakang. Jin Goo berdiri dari tempatnya dan mengejar gadis itu dengan perasaan ringan dan menggebu-gebu.

“SO HYUN-A, TUNGGU AKU!” Justru aku menolaknya karena aku menyukaimu, pabo!