spring memory

Author            : Riiku Hanazawa (@ririiku)

Cast                : Kim Jongwoon, Shin Miwoo (OC).

Drabble aneh yang ga ada ceritanya. Tapi, memang penuh konflik batin secara authornya bikin sambil nangis karena inget enlist day suami tercinta, Yesung aka Kim Jongwoon. Dan setelah tanggal 6 Mei, sampai 2 tahun ke depan, nama Yesung tidak akan lagi ada. Yang ada, hanya nama Kim Jongwoon.

Recommended : You can play Yesung’s songs. Soundtrack drama That Winter, The Wind Blows – Gray Paper. Atau lagu2 Yesung lainnya, secara lagu2nya emang sedih kan… huu…

Seranum bunga-bunga Cherry blossom di halaman rumah yang berdaratan kehijauan karena rerumputan yang hidup segar dan teratur di sana, terlihat segar bermekaran. Berlatarkan langit biru yang cerah, sinar mentari yang belum muncul penuh, menjadi sambutan menyorotnya kisah di tempat itu.

Kicauan burung seakan menjadi soundtrack lagu awal semangat setiap jiwa di musim terbaru. Musim dingin berpamitan pulang, lalu musim semi datang membawa cinta. Musim semi pertama yang dimulai dari bulan Maret, memang menjadi semangat baru bagi siapapun untuk menyambut aktivitas rutin mereka.

Tapi, ini sudah memasuki bulan Mei. Mei, 5th. Dua bulan berikut setelah ini, musim semi tidaklah baru. Tidak ada lagi semangat cerah bunga-bunga yang bermekaran. Satu persatu mahkota bunga beruntuhan dan menanggalkan sebagian daunnya. Mereka mulai menyesuaikan diri menghindari cuaca yang menjadi semakin panas untuk memasuki musim panas.

Salah satu pohon cherry blossom yang hidup di sebuah pekarangan rumah sepertinya tidak mengikuti lingkungannya. Ia seolah tidak peduli dengan keadaan musim semi yang dalam waktu dekat ini akan habis masanya. Pohon itu, tetap memunculkan keindahan bunganya yang mekar. Wangi kehidupannya, sepertinya tertular pada seorang pria yang tengah berdiri di halaman rumah tersebut sambil memejamkan mata menghadap langit. Kedua tangannya direntangkan agar bisa menghirup sebanyak-banyaknya oksigen sehat di pagi hari.

Pria tersebut kemudian menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan pinggang dan kaki yang diam sebagai tumpuan. Lalu, dilanjutkan olehnya memulai gerakan-gerakan ringan untuk meregangkan otot tubuh yang kaku. Sesekali, pria tersebut berlari-lari di tempat. Sampai beberapa menit, pria tersebut masih melakukan aktivitasnya meskipun mentari sudah tersenyum lebar dan mulai meninggi.

Dalam sekejap, pria itu menghentikan aktivitasnya saat melihat sebuah jendela yang terbuka lebar. Dari jendela itu, ditampakkan wajah ceria seorang gadis yang disambut angin pagi yang segar hingga membuat rambut panjangnya beruraian ke belakang jendela. Pria tadi, tersenyum simpul masih sambil menatap gadis itu. Satu kata di pikirannya yang terlontar dalam gumaman, “cantik!”

Gadis tersebut masih asik memejamkan matanya menghirup angin sejuk pagi hari. Sang pria, juga masih asik menatap dari kejauhan. Sampai ketika gadis tersebut membuka matanya dan mengedarkan padangannya, ia terhenyak kaget ketika menyadari sang pria di sana sepertinya sedang memperhatikannya.

Pria tersebut, kemudian tersenyum sehingga menghilangkan matanya yang semakin menyipit karena matanya yang sipit. Perlahan ia menggerakkan mulutnya dengan mengatupkan kedua telapak tangannya seperti hendak berteriak. Tapi, gerakan mulutnya tidak mengeluarkan suara kencang, hanya gerakan mulut dari jauh, “sa-rang-hae.”

Gadis tadi, menggerakkan tangan merapikan rambutnya dengan canggung. Ia juga tersenyum ke arah pria tersebut. Seolah mengerti apa yang diucapkan pria tadi, semburat merah muncul perlahan di pipinya yang cukup berisi.

***

Gadis itu berlari dengan cepat. Ia kemudian bergerak membelok ke sebuah dinding kompleks. Tepat setelah ia membelok di tikungan itu, ia berhenti dan menarik napas teregah-engah.

“Ah…hosshh…. Mian oppa, kau lama menungguku kan?”

Seorang pria yang sedang duduk santai diatas sepedanya menoleh cepat ke belakang, arah sumber suara gadis tadi terlontar. Pria itu tersenyum.

Aniya. Tidak terlalu lama, kok. Lagipula, seberapa lamanya pun kau terlambat, aku akan tetap menunggumu….”

Gadis itu tersenyum malu mendengar pengakuan pria itu.

Kajja. Cepat naik!”

Pria itu menarik tangan gadis tadi agar duduk segera di jok belakang sepeda yang tengah ditaikinya. Gadis tadi, langsung duduk dengan manis sambil berpegangan erat pada pinggang pria tersebut.

“Sudah?” tanya pria itu.

“Sudah oppa.”

Sontak sepeda langsung terkayuh perlahan, dan semakin lama, semakin cepat berjalan. Angin lembut langsung menerpa dua insan tersebut yang melaju cepat seolah terbang dalam hempasan langit biru yang membentang.

Musim semi, memang menjadi musim yang menarik bagi siapapun untuk menikmati suasana alam yang membentang indah. Keindahan tersebut, secara langsung, membawa dampak kebahagiaan bagi dua manusia yang saat ini tertawa riang memecah udara.

***

Satu persatu kotak makan ditata di sebuah alas taman yang indah. Gadis itu dengan gesit membukanya hingga langsung tercium aroma lezat masakan-masakan nikmat bagi mereka berdua. Sang gadis, Shin Miwoo namanya, tersenyum pada pria di hadapannya. Pria itu, Kim Jongwoon namanya, tersenyum sambil menggerak-gerakkan alisnya pada Miwoo seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak sabar mencicipi hidangan-hidangan di hadapannya.

“Kau mau makan yang mana dulu oppa?” tanya Miwoo lembut.

Jongwoon memutar sumpit yang ia pegang untuk menelusur semua kotak makan itu. Ada Hoeddeok, yang kelihatan manis sebagai makanan ringan pembuka. Kue sejenis pancake dengan saus kayu manis dan gula merah. Tambahannya, kacang kenari. Jongwoon sangat suka itu. Ada lagi Japchae, mie dengan sayuran setengah matang yang menggugah selera sebagai hidangan pokok mereka. Tidak lupa ada Khimci, dan Bibimbap yang juga merupakan makanan utama bagi penduduk Korea.

Ada satu makanan yang menarik perhatian Jongwoon. Sepertinya itu adalah kue manis buatan Miwoo yang tentunya, adalah resep buatan gadis itu sendiri. Warnanya merah, dan sangat menarik bagi Jongwoon. Pria itu juga kebetulan menyukai warna merah.

“Itu apa?”

“Oh… Bola kacang strawberry. Aku mencampurkan manis dari strawberry dengan kacang renyah kesukaan oppa. Tepung di sini aku gunakan sebagai perekat. Ah, kalau memakan ini, kita harus memakannya bersama sausnya. Tarra!!”

Miwoo mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna terang. Cairan hasil dari campuran fermentasi air beras dan gula tebu putih. Gadis itu dengan cekatan mengambilkan beberapa buah kue itu ke dalam mangkuk. Ia lalu menyiramkan cairan saus bening tersebut, yang seketika menjadi berwarna merah jambu cantik. Tidak lupa ia menambahkan mangkuk tadahnya yang terisi es.

“Kalau dingin, akan terasa lebih segar oppa. Ini nanti saja dimakannya setelah kita menghabiskan Bibimbap, eoh?”

Mereka berdua mulai menikmati hidangan yang tersaji. Tidak banyak yang diucapkan, akan tetapi, tatapan mata keduanya memang menyiratkan kebahagiaan yang benar-benar indah. Ya, keduanya memang merasa bahwa semangat musim semi, selalu membawa senyuman bahagia.

***

Miwoo tengah terlentang di hamparan rumput yang beralaskan tikar kecil. Ia menatap langit di hadapanya dengan tersenyum. Langit itu seolah dekat dengannya. Ia menggerakkan tangannya menjangkau langit itu. Langsung saja terasa ia telah menggapainya. Tapi, Miwoo mengeluh kecewa ketika ia merapatkan jemarinya menggapai, ia tidak berhasil membawa langit itu dalam genggamannya.

Saat Miwoo termenung menatap jemarinya sedih, sebuah tangan mungil lain langsung merapatkan diri dan menautkan jemarinya dengan jemari Miwoo. Gadis itu sontak menoleh. Didapatinya wajah seorang pria yang tengah tersenyum lembut di hadapannya. Jongwoon.

Seperti memang senyum adalah sindrom yang menular, Miwoo sontak juga ikut tersenyum seperti pria itu. Tatapannya hangat. Itu yang Miwoo suka.

“Jangan berusaha menggapai langit sendirian… Bukankah ada aku?” bisik Jongwoon.

Oppa…” lirih Miwoo malu.

“Memang kita tahu bahwa menggapai langit membentang di hadapan kita ini adalah satu hal yang terdengar mustahil. Tapi, kadang kita memang memaksakan diri menggapainya kan?” Miwoo melirik Jongwoon yang tengah berujar menghadap langit.

Jemari tangan mereka yang tertaut, terlihat mesra dan serasi. Jongwoon memindahkan tangan Miwoo di atas dadanya sehingga gadis itu dapat merasakan degupan jantung lembut Jongwoon. Angin bertiup perlahan seperti alunan musik yang santai.

“Aku juga ingin sekali menggapai langit. Aku akui aku memaksakan diri ke sana. Tapi, jika kita berusaha menggapainya sendirian, tentunya akan terasa sakit jika akhirnya tidak mendapatkannya. Jika kita menggapainya bersama, kebersamaan itulah yang akan lebih membahagiakan daripada kepuasan mendapatkan langit.”

Hening. Keduanya hanya menghabiskan waktu melihat langit yang perlahan meredup. Tapi, awan cerah musim semi ini masih tetap tersenyum bahagia. Ya, hati mereka masih tetap tenang di bawah taburan kelopak bunga sakura yang berjatuhan. Sepertinya, bunga itu sudah habis masa mekarnya.

Oppa… langit itu cantik. Apakah aku bisa secantik itu?”

“Kau akan cantik kalau kau merasa kau cantik. Seperti apapun kau, aku menyukaimu yang merasa dirimu cantik… Jadilah gadis yang cantik Miwoo… Karena aku suka melihat senyummu yang cantik.”

Sontak ucapan Jongwoon membuat Miwoo menoleh menatap pria itu dari samping. Jongwoon yang memejamkan mata, gerakan naik turun dadanya, sepertinya sangat terlihat indah di mata Miwoo. Ribuan ungkapan rasa terima kasih Miwoo untuk Jongwoon rasanya tidak cukup. Tapi Miwoo memang tidak bisa menghentikan gerakan ototnya tersenyum.

Miwoo mengikuti Jongwoon memejamkan mata dan menghirup aroma langit musim semi. Pikirannya terhanyut dalam alunan merdu sebuah suara. Ia tahu itu dari suara indah Jongwoon yang kini tengah bernyanyi.

Miwoo benar-benar menikmatinya. Jongwoon, sepertinya tidak pernah sadar bahwa kehadirannya saat ini di sisi Miwoo, membawa dampak indah sekaligus menyesakkan. Kita akan tahu mengapa harus sesak. Yang jelas, gadis itu kini sedang mengatur perasaannya agar tidak membenamkan pikiran berlarut akan kesesakkan itu.

***

Malam sedikit dingin. Langit berubah menghitam. Tapi tidak seluruhnya hitam karena bercak sinar putih bintang menjadi motif yang indah.

Oppa…

“Heum…”

“Apa kau mau menemaniku menggapai langit?”

“Tentu saja. Tidak ada hal yang bisa kujanjikan untuk membuatmu percaya akan ketulusan perasaanku. Akan tetapi, aku hanya bisa memberikan senyum dan ucapan semangat agar kau terus bahagia. Dan aku tahu, senyum dan ucapan semangat itu adalah ketika aku hadir saat kau membutuhkanku. Jadi, kalau kau membutuhkanku untuk menemanimu menggapai langit, aku tentu saja bersedia,” jawab Jongwoon sambil memejamkan mata.

Ya, mereka berdua masih melakukan aktivitas itu sejak sore. Saat sunset datang, mereka hanya membuka mata memandangi momen itu dengan pikiran yang terlihat kosong. Tidak ada yang tahu bahwa ternyata satu sama lain saat itu sedang saling mengisi pikiran itu penuh. Miwoo memikirkan Jongwoon, dan begitu pula Jongwoon memikirkan Miwoo. Hingga siang hari yang menutup menjadi malam, mereka masih merebahkan diri berdampingan seperti itu.

“Tapi…” ujar Miwoo tertahan. “Bagaimana bisa aku menggapai langitnya bersamamu sedangkan aku melihat kau sudah ada di sana…”

Jongwoon sontak menoleh ke arah Miwoo. Keningnya mengerut bingung. Lalu kerutan itu memudar saat ia mengikuti tangan Miwoo yang melepaskan diri dari genggaman tangan Jongwoon. Tangan itu kini menunjuk sesuatu yang ada di langit itu. Sebuah bintang.

“Ia paling bersinar. Di manapun aku melihatnya, aku selalu merasa ia paling bersinar diantara yang lainnya. Meskipun banyak orang mengatakan ia tidak terlihat dan terkadang meredup, tapi bagiku, ia satu-satunya yang bersinar,” ujar Miwoo dengan nada suara yang meracau. Sepertinya gadis itu tidak bisa lagi menahan dirinya.

“Aku tidak akan bisa menggapainya. Bahkan saat aku berusaha keras untuk menggapainya, ia bahkan memutuskan pergi dan enggan memunculkan diri. Bagaimana bisa aku mengejar dia yang menjauh dariku sedangkan aku sama sekali tidak bisa menuju langit? Aku… Tidak bisa menggapainya… Jongwoon-oppa… hiks.”

Miwoo menangis terisak seketika. Ucapannya barusan adalah ungkapan terdalam gadis itu yang telah lama terpendam di relung hatinya. Gadis itu, memang sangat frustasi memikirkan bagaimana caranya dapat menggapai bintang itu. Ia merasakan kesesakkan itu semakin menjadi.

“Miwoo-ah…” panggil Jongwoon lirih menatap Miwoo dari samping yang menangis terisak. Wajah gadis itu, ia tutup sendiri dengan kedua telapak tangannya. Saat Jongwoon hendak menarik tangan Miwoo, gadis itu sontak bangun dan duduk.

“Aku tidak bisa oppa… Aku tidak bisa menggapaimu…” ucap gadis itu menggelengkan kepala. Ia memilih menjauh menghindari Jongwoon dengan memalingkan badan.

Jongwoon bangun dan ikut duduk di samping Miwoo. Ia menggeser diri mendekati gadis itu.

“Apa kau masih belum bisa melepasku?” tanya Jongwoon. Miwoo menggeleng.

Miwoo berteriak keras. “Aku baru hendak menggapaimu. Aku baru akan meraihmu. Tapi, kau malah memilih pergi dariku, oppa! Kau yang memilih pergi!”

“Aku harus pergi Miwoo-ah. Ini adalah kewajibanku…”

Jongwoon berusaha memberikan pengertian kepada Miwoo.

Apa yang memang dirisaukan oleh mereka berdua memang seperti itu. Jongwoon dan Miwoo, baru saja menjadi pasangan kekasih selama seminggu. Sebelumnya, banyak sekali hal yang membuat hubungan mereka sulit disatukan.

Miwoo, ia hidup bersama kakeknya yang merupakan direktur utama salah satu perusahaan besar di Seoul. Gadis itu sebelumnya, telah dijodohkan oleh sang kakek dan baru saja akan melangsungkan pertunangan. Tapi, pertunangan batal atas usaha seorang pria yang tak lain tak bukan adalah Jongwoon.

Jongwoon adalah tetangga Miwoo sejak kecil. Ya, pria itu tinggal di depan rumah Miwoo. Berbeda dengan gadis itu, Jongwoon hidup dengan serba kesederhanaan. Ia hanya memiliki usaha kecil sebuah café yang dikelola bersama adiknya. Sehari-hari, Jongwoon hanya membuat puisi atau artikel kecil yang sering ia kirimkan ke berbagai majalah maupun surat kabar Seoul. Pekerjaannya, tidak menentu.

Tapi bagi Miwoo, kesederhanaan Jongwoon, adalah kekayaannya. Gadis itu merasakan perasaan lebih dari seorang kakak sejak lama pada Jongwoon. Ia bahkan selalu merasa Jongwoon adalah pria sempurna yang nampak bersinar di langit yang ingin ia gapai. Miwoo, memang berpikiran sedikit picik jika menginginkan pria itu digenggamnya utuh hanya untuknya. Tapi, begitulah bahagianya gadis itu. Saat Jongwoon, hanya ada untuknya.

Kakek Miwoo, awalnya tidak pernah menyetujui hubungan keduanya. Entah apa yang memicu tapi yang terlihat adalah, kesenjangan sosial itu memaksa kakek Miwoo bertindak menghalangi cinta mereka berdua. Setelah melalui masalah besar yang melibatkan kedua keluarga mereka, pada akhirnya, mereka bisa melewatinya hingga akhirnya menjalin hubungan bersama.

Tapi, hubungan yang baru berjalan satu minggu itu, harus berakhir kembali. Pasalnya, Jongwoon memutuskan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara Korea Selatan. Wajib Militer.

Seharusnya itu bisa dihadapi dengan mudah bagi siapapun yang mendengarnya. Hanya ditinggal selama dua tahun. Bukankah mereka bisa bertemu juga di sela-sela kegiatan wajib militer? Tidak ada halangan untuk tidak boleh menemui seseorang yang penting selama wajib militer kan? Mereka pasti diperbolehkan bertemu sesekali.

Akan tetapi, lain hal jika kenyataannya pilihan Jongwoon yang membuat kemungkinan itu menjadi tidak bisa dilakukan. Jongwoon mendapat tempat wajib militer yang sangat jauh. Bahkan bisa dikatakan sangat sulit menempuh perjalanan ke sana. Jongwoon juga menutup diri untuk memilih menetap di asrama itu sampai kewajibannya dua tahun berakhir. Artinya, tidak ada kesempatan dan keinginan pria itu kembali ke rumah sebentar, selama menjalani tugas itu. Apalagi kini, Miwoo tahu kalau Jongwoon telah menonaktifkan semua alat komunikasinya.

Lalu bagaimana bisa gadis itu menjalani harinya nanti tanpa ada sedikitpun kabar akan Jongwoon? Apa ia sanggup? Memikirkannya saja sampai membuat gadis itu terisak tidak karuan seperti itu.

“Miwoo-ah…”

Jongwoon merangkulkan kedua lengannya melingkar leher Miwoo. Gadis itu masih terus terisak hebat. Kesal, amarah, rasa kalah, kecewa, benci, dan semua terkumpul sangat menyesakkan baginya.

“Miwoo-ah…”

Jongwoon mengeratkan rangkulannya saat mendengar isakan yang semakin keras dari Miwoo. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Miwoo.

“Kau jahat oppa. Kau yang memilih melenyapkan diri dariku… Aku baru saja akan menggapaimu oppa!”

Andwe. Kau tidak boleh menggapai apapun. Yang kau lihat itu bukan aku. Aku tidak di langit itu. Aku menunggu kau pergi ke langit itu dan aku pasti akan ikut bersamamu ke langit. Kita menggapainya, dan meraihnya bersama.”

“Tapi kenyataannya kau akan pergi oppa…”

“Hanya sebentar Miwoo-ah. Sebentar…”

“Dua tahun oppa! Kau katakan sebentar sementara aku seharipun sangat gila jika tidak melihat dan mendengar dirimu!”

“Kau bisa melakukannya Miwoo-ah… Kau bisa. Kita pernah berjuang bersama mengikat dan mempertahankan cinta kita. Selama bertahun-tahun… Rasa sakit menunguku pulang melaksanakan tugas tidak akan sebanding dengan rasa sakit kita selama itu. Tidak ada salahnya kan kau melakukannya? Menungguku… menunggu untukku….”

Tangisan Miwoo semakin keras. Gadis itu sangat benci dengan kata menunggu. Daripada menunggu, ia pasti lebih memilih berlari menghampiri apa yang ditunggunya supaya ia lebih cepat mendapatkannya. Ia tidak suka menunggu.

“Kau bilang ucapan semangat yang selalu ingin kau berikan untukku adalah ketika kau hadir saat aku membutuhkanmu. Tapi jika kau pergi, apa bisa kau melakukan itu?!” pekik Miwoo menghempaskan pelukan Jongwoon.

Gadis itu langsung beranjak hendak bangun. Tapi Jongwoon dengan cepat menahan Miwoo dan kembali memeluk gadis itu dari belakang.

“Bukankah kau selalu bilang… Bahwa aku selalu dekat di dalam hatimu. Aku selalu hadir dalam pikiranmu. Aku selalu mengisi hatimu saat suasana apapun. Aku sangat dekat denganmu kan? Kenapa kau masih ragu Miwoo-ah…”

Tidak. Jongwoon tidak bisa menahannya lagi. Pria itu melepaskan tangisan pilunya juga setelah sebelumnya berpura-pura tegar. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Tidak. Apa yang bisa dilakukan oleh mereka sekarang? Sebuah kenyataan yang malah membuat kesesakkan mengiringi hati bertaut mereka.

Malam yang seharusnya indah dan sunyi itu malah diiringi kalimat sendu dari tiupan angin. Lembutnya udara bergerak yang menyentuh dedaunan malam menjadi saksi. Tetesan air mata tidak cukup menggambarkan kesesakkan itu.

***

“Jangan selingkuh!”

Ucapan singkat penuh rasa kesal dari Miwoo barusan, membuat Jongwoon terkekeh refleks.

“Hei… Bukankah seharusnya yang mengatakan itu aku?”

Miwoo mengerut mulutnya kesal. Lalu ia mengembungkannya tanpa menoleh sedikitpun pada Jongwoon yang tengah terbaring juga di sampingnya.

“Bintang itu. selalu saja hadir dalam penglihatanku. Ia paling terang. Aku selalu bisa menemukan dirinya di hamparan bintang lainnya yang mungkin bagi banyak orang lebih berkilau. Tapi, aku sudah lebih menemukannya dahulu. Aku sudah menganggap bintang itu paling indah. Aku rasa, bintang itu sudah menutup semua penglihatanku untuk melihat bintang lainnya. Ah…Aku benci mengatakannya. Tapi sejujurnya aku tidak bisa hidup normal jika tidak melihat bintang itu satu malampun.”

Jongwoon tersenyum kecil. Ia menggeser diri mendekat pada Miwoo. Tangannya terulur lurus, hingga akhirnya bisa bersentuhan dengan tangan Miwoo yang juga terulur lurus di sebelahnya.

“Sudah aku katakan aku bukan bintang itu…,” elak Jongwoon.

Ani, aku melihatmu seperti itu. Dan oppa tahu kan aku benci mengakuinya,” balas Miwoo. Jongwoon semakin tidak bisa menahan tawa. Pria itu sebenarnya amat bahagia mendengar pengakuan kecil Miwoo yang tentu saja, melegakan hatinya walau sedikit.

Arasso. Aku adalah bintang itu. Lalu kau yang mana?” tanya Jongwoon seperti penawaran.

Mollayo. Tidak ada sepertinya,” ujar Miwoo malas.

Ne, kau memang tidak ada,” sahut Jongwoon yang seketika membuat Miwoo membelalak kesal ke arahnya. “Aku yang menutupimu di sana sehingga kau tidak terlihat,” lanjut Jongwoon yang menghentikan niatan Miwoo untuk balas berteriak. Gadis itu diam memandang Jongwoon yang menoleh ke arahnya kemudian.

Jongwoon tersenyum. Ia lalu menautkan jemari tangannya pada jemari tangan Miwoo. Pria itu mengangkat tautan tangan mereka mendekat ke wajahnya. Dikecupnya telapak tangan Miwoo. Lalu, Jongwoon mengarahkan tangan mereka ke langit di atas mereka itu.

Kajja. Kita gapai bersama…,” ujar Jongwoon.

Miwoo menatap ke tautan tangan mereka yang mengarah tepat ke bintang kesukaannya itu. Selama beberapa detik ia tersenyum senang membiarkan Jongwoon menggerak-gerakan tangan mereka bebas. Jongwoon mengarahkan telapak tangan Miwoo untuk mencengkeram langit.

“Pejamkan matamu…” bisik Jongwoon di telinga Miwoo.

Sontak gadis itu menutup matanya seraya membiarkan tangannya digerakkan bebas oleh Jongwoon. Gadis itu sempat terkekeh geli ketika merasakan sapuan dan hembusan napas Jongwoon mengenai tengkuk wajah sampingnya. Ia terdiam saat merasakan hangat permukaan bibir Jongwoon menyentuh pipinya terus menerus.

“Kita ke langit bersama sekarang. Kau siap? Anggap setelah ini, kita akan melayang di langit. Sama-sama berada di sana, tapi gravitasi yang tidak beraturan membuat kita terhempas menjauh tanpa arah. Kita bersama-sama menunggu, mencari, dan bergerak bebas melewati hari demi hari, dengan membawa cahaya cinta masing-masing. Lalu, berakhir dipertemukan kembali.”

Miwoo menyernyit. Tapi ia mengikuti instruksi Jongwoon yang dibisikkan padanya. Gadis itu masih memejamkan mata membayangkan apa yang diucapkan Jongwoon.

“Kau sudah melayang di langit? Sudah kan…?” tanya Jongwoon lagi berbisik. Miwoo mengangguk pelan. “Geure… Kalau begitu… Kita berpisah setelah mencapai titik kebebasan itu.”

Miwoo menyernyit takut sekaligus panik. Perlahan ia merasakan gerakan jemari Jongwoon yang melepas tangannya seolah membiarkan ia terpisah. Tapi, gerakan gadis itu terhenti saat Jongwoon kembali membisikkan sesuatu, “Shin Miwoo. Ketika kita berpisah di langit itu, anggaplah waktu kau menungguku selama dua tahun, adalah waktu yang dibutuhkan untuk kita mencari dan saling mendatangi tempat pertemuan kita di langit. Seperti kisah Adam dan Hawa yang terpisah lalu berjuang untuk bertemu kembali. Suatu saat, kita pasti bisa kembali dipertemukan… Percayalah.”

Miwoo merasakan gerakan Jongwoon menjauhi dirinya. Perlahan, ia membuka matanya. Ia terdiam sejenak menatap langit itu. Entah mengapa, ia tidak lagi melihat bintang itu di sana. Ia tidak melihat lagi bintang yang paling ia suka, yang menurutnya paling indah.

Hati Miwoo perih. Serasa ribuan sayatan dengan cepat menguliti sistem saraf ketenangannya. Perasaannya gusar. Kumpulan cairan bening berbondong-bondong menyeruak keluar. Gadis itu enggan menerima kenyataan. Nyatanya sekarang bayangan perpisahan mereka di langit itu lebih sakit dari yang ia perkirakan. Tapi, Miwoo mengerti apa yang dimaksudkan Jongwoon. Gadis itu, hanya bisa menangis.

Haruskah Miwoo melepaskannya? Melepaskan pria yang sejak awal bertaut bersama ketika mereka terbang menuju langit itu? Tapi pada kenyataannya memang cerita itu harus seperti itu. Terpisah satu sama lain saat terbang bebas. Padahal, gadis itu hanya ingin kebersamaan dengan pria itu, dengan Jongwoon.

Isakan tangis gadis itu sangat terdengar jelas. Ya, angin tidak sanggup memaksa rumput berbunyi lebih keras. Mereka hanya bisa bernyanyi sebatas bisikan kecil. Oleh karena itu, suara rumput yang bergerak ini kalah dari suara isakan Miwoo.

Miwoo terhenyak ketika merasakan sebuah tangan yang menelusup ke pinggangnya dan menarik kepalanya bersandar. Miwoo menoleh ke samping lalu mendapati dada Jongwoon yang telah ada sebagai sandarannya menangis. Sontak saja gadis itu bergerak menyamping lalu memeluk tubuh di sampingnya, tubuh Jongwoon, dengan seerat mungkin.

Seakan tidak ingin lepas, Miwoo menautkan kencang jemari kedua tangannya yang melingkari pinggang Jongwoon. Ia menangis semakin menjadi di dalam dekapan dada Jongwoon bersamaan degupan jantung pria itu. Jongwoon mengusap rambut Miwoo dengan lembut. Lalu, ia mengecupnya pelan, mengecup kening gadis itu lama.

“Teruslah berusaha mencari ne? Kita sama-sama saling berjuang menjalani waktu. Aku mencintaimu, Shin Miwoo… Neomu saranghandagu…”

Ne… Nado. Jeongmal saranghae…

***

4 Months Later

Pagi itu terdengar sangat ceria. Memang terdengar kicauan burung seperti biasanya. Akan tetapi, saat ini angin bertiup sangat kencang. Hembusannya, bukan hanya membawa lantunan melodi hari yang baru. Tapi tentunya, udara yang mulai dingin juga ikut terbawa hingga terasa pada orang-orang yang kini sedang berlalu lalang melewati pekarangan rumah.

Jendela sebuah kamar di lantai dua terbuka. Seketika seorang gadis muncul dari sana. Shin Miwoo. Ia kini mengenakan baju lengan panjang yang terlihat sedikit hangat. Akan tetapi, begitu ia melongokan tubuh ke luar jendela, gadis itu langsung mengusap-usap sendiri pergelangan lengannya yang terasa bergidik. Ya, barusan ada angin yang menghembus cukup nyaring melewatinya.

Dedaunan berguguran. Bahkan pohon Cherry Blossom di pekarangan rumah di seberang rumah Miwoo berada, telah menanggalkan semua daunnya. Miwoo terdiam menatap rumah itu. Sepi. Bukan berarti belum ada aktivitas. Tapi memang tidak akan ada aktivitas di sana. Yang gadis itu tahu, keluarga penghuni rumah itu, sedang pulang ke Cheonan.

Miwoo mengerjapkan matanya pelan. Ditatapnya kosong sebuah tempat dimana biasanya ia melihat seseorang yang ia suka, berdiri di sana menyambutnya bangun pada pagi hari. Tapi, tempat itu kosong. Sudah empat bulan yang lalu. Gadis itu tanpa sadar menitikkan air matanya.

Kosong jika yang melihat adalah orang lain. Namun dalam pandangan Miwoo, ia melihat jelas senyum Jongwoon yang tengah melambaikan tangan ke arah Miwoo. Tidak lupa gerakan khas yang sering dilakukan pria itu dulu juga terbayang di mata Miwoo. Saat Jongwoon meneriakkan dengan lantang kalimat sakral ekspresi cintanya.

Saranghae, Miwoo-ah!”

Kalimat tadi terdengar lantang di telinga Miwoo. Sontak gadis itu menoleh ke arah langit. Ia kemudian tersenyum puas begitu melihat seberkas sinar di langit yang sedikit mendung itu. Miwoo yakin. Itu adalah jawaban semangat kehidupannya. Kim Jongwoon. Miwoo tersenyum sambil mengangkat telapak tangannya menutupi pelipis seperti sedang melakukan gerakan hormat.

Saranghae, Jongwoon-ah! Aku masih menunggumu hari ini!”

***

Mata kecil seorang pria menatap ke arah langit sambil tersenyum tipis. Kedua tangannya mengangkat sebuah nampan berisi sup hangat sebagai sarapan pagi hari. Ia mengenakan topi dan syal tipis yang melilit di lehernya. Senyumannya, terasa hangat.

Pria itu terdiam berdiri mendongak. Ia langsung melebarkan senyumnya begitu mendapati seberkas cahaya kecil di langit yang cukup mendung. Meskipun tidak terlihat akan hujan, tapi sinar matahari di tempat itu nampak bersahabat dengan mata.

“Ya! Cepatlah! Makanannya sudah ditunggu!”

Teriakan dari sebuah gedung di hadapan pria itu membuatnya menoleh. Seorang pria paruh baya berdiri di sana memanggil pria itu. Tanpa banyak berpikir, pria itu melangkah mendekat setelah membenarkan topinya. Jarak semakin terbunuh seiring langkahnya menuju gedung bertuliskan nama sebuah panti sosial di pinggiran daerah terpencil Korea, sudut daerah yang jauh dari kota Gimhae.

Selama bermenit-menit pria itu terus bolak-balik menghantarkan barang dan kebutuhan makan bagi panti sosial itu. Ia mengangkutnya dari sepeda di halaman gedung, lalu ke dalam gedung. Begitu seterusnya.

Ketika usai, pria itu kembali berdiri bergeming di bawah langit tadi. Ia bersiap menjalankan kembali sepedanya untuk melaksanakan tugas selanjutnya. Sambil bersiap, ia menatap langit lagi. Ia tersenyum lebar dan mengangkat telapak tangan kanannya menelungkup di pelipisnya, membentuk gerakan hormat.

Saranghamnida, Shin Miwoo. Aku masih tetap berusaha melaluinya, demi kembali mendatangimu!”

***

2013 – Mei, 6th

Kita akan terbang menggapai langit bersama.

Jangan pernah sendirian, karena kau pasti akan terluka ketika jatuh nanti.

Jika kita bersama, akan lebih terasa indah melalui momen kebersamaan itu daripada perasaan keberhasilan meraih langit.

Percayalah!

 

Meskipun kau merasa aku sudah ada di langit ini bersinar terang, aku tidak akan berpindah kemana-mana.

Aku menunggumu di sini.

Namun, mungkin saja kau tidak pernah tahu bahwa kau juga ada di langit dan aku menutupi dirimu agar tidak terlihat oleh siapapun.

Sehingga, hanya kau yang mampu melihat sinarku dan aku yang melihat sinarmu.

 

Ayo kita ulangi perjuangan kita.

Kita turun kembali ke bumi, lalu terbang lagi ke langit.

Saat kita saling terlepas di langit, kita hadapi masa-masa itu dengan saling menunggu, mencari, dan bergerak bebas melewati hari demi hari, dengan membawa cahaya cinta masing-masing.

 

Kau bisa kan?

Aku pasti berusaha bisa.

Oleh karena itu kau harus bisa!

Terakhir pintaku, tetaplah merasa cantik agar kau tetap terlihat cantik.

Saranghaeyo, Shin Miwoo.

 

-Kim Jongwoon-

 

Kkeut!

Huwaa… Saranghamnida Kim Jongwoon!! I love you forever…! >///<