The Holy Revenge (Second Revenge) – Real Destiny Meet

THR

Author                        : Riiku

Cast                            : Kim Jongwoon, Kim Jaejoong, Shin Miwoo (OC).

Genre                         : Romance, Live.

Rating                         : PG-13

Length                        : Chaptered

 Maaf klo masih ada typo yah…

St. Sincere Dorminity

Kicauan burung pagi hari terdengar nyaring seakan mengiringi ucapan perpisahan sementara yang berlangsung di depan gereja. Cukup ramai. Hampir semua biarawati berdiri di luar dengan berjajar mengamati sebuah momen yang tersaji di hadapan mereka. Mungkin terdengar berlebihan, tapi seperti inilah asrama St. Sincere. Kepala biarawati, Suster Kang, nampak sedang menghayati pelukan perpisahan dengan salah satu murid St. Sincere, Shin Miwoo.

“Jangan lupa tetap mengingat doa harian. Jaga kesehatanmu dengan baik. Jangan takut karena Tuhan akan melindungi kita senantiasa jika kita tidak berhenti berdoa memohon padaNya,” ucap Suster Kang usai melonggarkan pelukannya pada Miwoo. Ia menggerakkan perlahan telapak tangannya mengusap pipi mungil Miwoo. Gadis itu, hanya bisa tersenyum kecil sambil mengangguk.

“Ne, suster Kepala… Aku akan mengingatnya…,” ujar Miwoo sedikit tersedu tanpa mengeluarkan air matanya. Ia kemudian membungkuk hormat pada semua suster, kemudian bergeser ke samping, yaitu berhadapan dengan sahabat baiknya, Soo Eun.

“Eun-ah….” Seketika panggilan kecil Miwoo membuat Soo Eun langsung menghambur memeluk erat gadis itu seolah enggan melepasnya.

“Miwoo-ah… Jangan meninggalkanku…,” rengek Soo Eun.

“Aku hanya sebentar Eun-ah. Aku akan kembali, ah, ani, pasti kembali. Tenang saja Eun-ah… Sudahlah, jangan menangis lagi…,” ucap Miwoo mencoba menenangkan. Soo Eun terus mengeratkan pelukannya sambil terus menangis. Tidak tahu apa yang harus dilakukan Miwoo untuk menenangkan sahabatnya itu, seolah ini adalah kepergian untuk selamanya. Miwoo terpaksa berusaha mendorong Soo Eun agar melepaskannya. Dengan sedikit berat hati, gadis itu berjalan mundur sambil melambaikan tangan menatap satu-persatu yang berdiri memperhatikannya. Keluarga asrama St. Sincere.

Miwoo kemudian berbalik setelah ia rasa cukup berpamitan pergi. Ia menghampiri tuan Han Woon yang sedang menunggu di samping mobil. Seketika, tuan HanWoon membukakan pintu mobil tepat Miwoo datang.Mereka melesat pergi, diiringi isakan dan rasa haru dari kesemuanya.

Mobil telah menjauh, dan semakin menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi. Tangis otomatis mereda. Meskipun beberapa masih terdengar bersuara sedih. Soo Eun masih belum bisa menghentikan rasa sedihnya dan terus terisak. Akan tetapi, ia menghentikannya tiba-tiba ketika mendengar bisikan dua orang suster di belakangnya berdiri.

“Baguslah anak nakal itu telah pergi. Setidaknya kita sedikit tenang sekarang.”

“Kau benar suster, aku selalu menghela napas dan naik darah kalau harus menghadapinya yang selalu ingin tahu dan giat bertanya setiap saat.” Soo Eun langsung membelalakkan mata dan  menoleh ke belakang. Sama reaksinya dengan yang lain, beberapa siswa asrama nampak bertepuk tangan senang satu sama lain dan membubarkan diri. Soo  Eun menatap  tidak percaya  pada semuanya. Sampai salah dua siswa lewat depannya dan bercakap sangat jelas soal Miwoo. Soo Eun menganga kaget.

“Dia sudah tidak ada. Tidak ada lagi yang bisa mengganggu kita serius belajar.”

“Iya, anak itu kan selalu mengganggu dengan keberisikannya.”

Dalam keheningan dan tiupan angin Soo Eun menatap satu persatu punggung yang menjauh masuk ke dalam gedung asrama. Sampai tiba Suster Kepala Kang lewat, Suster Kang tersenyum sedikit dan menepuk pundak Soo Eun seolah  mengingatkan gadis itu untuk masuk. Tapi setelah itu, mereka berlalu begitu saja. Soo Eun, terdiam tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. Ia terlalu syok dengan kanyataan.

***

Miwoo memandangi jalan lewat jendela mobil. Sebuah ransel yang ia bawa, yang berisi barang-barang kebutuhannya serta pakaian khas-nya, pakaian biarawati, ia letakkan di atas pahanya. Ia memandang sendu ke luar. Han Woon, yang melihat  hal itu, menyadari bahwa nona mudanya sedang merasa gusar.

Ahgasshi, apa anda sangat sedih meninggalkan tempat itu?” tanya Han Woon. Miwoo sontak menoleh dan tersenyum pada  Han Woon.

“Aku  memang sedih. Aku pasti merindukan mereka nanti. Tapi, aku tidak akan lama kan? Aku jadi tenang saja…,” jawab Miwoo santai. Gadis itu tersenyum sangat polos membuat Han Woon ikut  tersenyum padanya.

Ahgasshi, apa kau tahu kita akan ke mana?” tanya Han Woon lagi. Ia hanya ingin mengetes apakah nona mudanya ini masih ingat apa yang hendak mereka lakukan sekarang.

“Ah… Memangnya kita akan ke mana? Bukankah aku sekarang menemui pamanku? Lee Hyeong Sang  ahjusshi?” Han Woon tersenyum. Seperti dugaannya, nona mudanya ini terlalu polos untuk paham soal masalah yang hendak mereka hadapi.

Ahgasshi, sebenarnya, tuan besar Presdir Kim memintaku membawamu menemuinya di kantor pertemuan dengan para investor. Tapi, aku saat ini tidak bisa langsung membawamu ke sana karena penampilan anda ahgasshi,” jelas Han Woon yang membuat Miwoo menyernyit bingung.

“Memangnya kenapa?” Han Woon tersenyum sambil sedikit melirik penampilan Miwoo. Kemudian ia kembali menatap jalan dan menyetir dengan konsentrasi. Ia lalu membuka mulutnya berujar tenang,  “maaf ahgasshi. Presdir Kim memintaku agar tidak boleh ada yang tahu kalau ahgasshi itu calon biarawati.”

***

Seoul, Exclusive Seoul Hotel

Jongwoon bersama dengan ketiga temannya, Hyukjae, Youngwoon, dan Minho, berjalan memasuki kawasan taman depan Hotel elit di Seoul. Mereka memang membawa beberapa barang yang ada di dalam ransel masing-masing. Namun, lingkungan itu adalah lingkungan perkotaan yang elit. Melihat penampilan keempat pria yang meskipun terlihat tampan itu, tetap saja menjadi sesuatu yang asing dan pantaslah menjadi kecurigaan beberapa penjaga keamanan di tempat itu. Seorang aparat keamanan menghampiri segera keempat pria itu.

Anyeong,  tuan-tuan…” Petugas keamanan itu mengangkat telapak tangannya tanda salam hormat sebelum melanjutkan ucapannya lagi. Sontak keempat  pria tadi berhenti. “Maaf tidak sembarangan orang bisa masuk ke hotel kami ini. Biasanya, tamu-tamu  penting  atau beberapa undangan  resmi dari berbagai acara perusahaan besar yang bisa masuk dan…”

“Kami tamu penting!”  sahut Jongwoon cepat memotong ucapan petugas itu  yang mencoba mencegah mereka dengan menyapa sedikit sopan namun terkesan mengusir.

“Ah, kalau boleh tahu  tamu dari mana? Karena kami tidak bisa sembarangan mengizinkan orang biasa memasuki hotel kami,” ujar petugas keamana itu lagi.

Hyung, pria ini cerewet  sekali,” komentar  Hyukjae berbisik pada Jongwoon seolah memaksa Jongwoon melakukan sesuatu. Jongwoon memandangi petugas itu dengan sedikit menahan kesal tapi terkesan dingin.

“Hei… Tuan!” Jongwoon melangkah mendekat petugas keamanan itu dengan meninggikan dagu angkuh. “Kau panggil tamu yang bernama Kim Sang Jin yang sedang berada di dalam bersama beberapa calon  bodyguard yang sedang diceramahi di dalam ruangan khusus seminar!” Petugas keamanan itu mengerutkan alis bingung, lalu dalam sekejap, ia dan teman petugas lainnya langsung berbalik dan mematuhi ucapan Jongwoon usai Jongwoon  melemparkan secarik kertas dari genggaman tangannya. Kertas yang bertuliskan lambang organisasi ‘bodyguard and spy’.

***

Jongwoon melipat kedua tangannya angkuh sambil menatap dua pria paruh baya di depannya duduk. Ketiga temannya, duduk di sampingnya. Jongwoon menaikkan alisnya malas dan memutar pandangan ke sekeliling ruangan.

“Jadi, pekerjaan kecil menjaga keamanan seorang pewaris perusahaan saja?” ucap Jongwoon terkesan menyepelekan.

“Bukan pekerjaan kecil biasa Jongwoon-shii. Ini sangat penting asal kau tahu,” sahut salah satu pria paruh baya yang bernama Sang Jin. Jongwoon memandang remeh mengangkat salah satu sudut bibirnya.

“Kumohon tuan Jongwoon-shii, kali ini aku sangat membutuhkan bantuan anda,” sambung pria paruh baya lain yang merupakan klien Sang  Jin, Kim Hyeong Sang. Jongwoon hanya melirik sekilas Hyeong Sang. Ia memang belum mengenal pria itu, tapi ia sedikit tertarik menatap ekspresi memohon pria itu. “Pewaris perusahaanku nanti, adalah seseorang yang mungkin saja sulit diterima banyak pihak. Tapi, aku tetap menginginkan hak itu jatuh padanya. Aku tahu baik lingkungan sekitarnya nanti, pasti akan mengancam kehidupannya, termasuk keluargaku sendiri,” jelas Hyeong Sang yang membuat Jongwoon menyernyit.

Youngwoon yang duduk di samping Jongwoon mendekatkan bibir ke telinga pria itu untuk berbisik. “Jongwoon-ah, kita datang untuk menawarkan jasa instan. Menjaga dan mengawasi seorang pewaris, sama saja seperti bodyguard. Dan tentunya, kita akan melakukannya dalam waktu yang lama. Sam asaja kita seperti suruhan seperti sebelumnya. Tidak ada bedanya,” ucap Youngwoon mencoba meyakinkan Jongwoon bahwa pekerjaan itu bukan seperti yang diharapkan mereka sebelum datang ke Seoul. Jongwoon kembali menatap bergantian ke kedua pria paruh baya di depannya.

“Kami, datang untuk menjual jasa. Bukan menjadi bodyguard suruhan,” ucap Jongwoon singkat. Ia kemudian berdiri diikuti yang lainnya berdiri setelah Jongwoon menggerakkan tangannya seperti kode.

“Ah, Jongwoon-ah… Tunggu!” teriak Sang Jin dan menghampiri Jongwoon dan yang lainnya yang hendak keluar ruangan. Mereka berhenti karena Sang Jin berdiri di hadapan mereka. “Aku berani membayar dua kali lipat dari bayaran biasanya untuk tugas ini,” jelas Sang Jin singkat dan terburu-buru. Mereka diam sejenak. Hyukjae dan Minho, nampak tertarik seketika dan saling berbisik. Mereka lalu menjawili Jongwoon untuk memikirkan ulang keputusannya. Jongwoon yang jengah, langsung menghela napas kesal dan hendak berteriak, “sekali tidak tetap-”

Ne! Kau katakan saja dia pewarisnya! Cucu Shin Ah Hyun!”

Teriakan Jongwoon tadi tercekat diam ketika ia mendengar teriakan Hyeong Sang dari pembicaraan panggilan telepon yang sedang dilakukan pria tua itu. Sontak Jongwoon membelalakkan mata dan menoleh pada Hyeong Sang. Matanya memandang kosong seraya menerawang dalam bayangan putih masa lalu. Ia memutar kembali peristiwa yang berkaitan dengan nama itu, Shin Ah Hyun, nama yang ia kenali, yang seketika membuat matanya seolah menampilkan kembali bayangan kejadian yang paling diingat dalam alam bawah sadarnya.

Jongwoon yang masih terbengong dan membelalakkan matanya terkejut saat tepukan pelan mengenai pundaknya. Ia menoleh ke samping, Youngwoon memandangnya bingung. Jongwoon merasakan tubuhnya bergetar dingin dan memucat. Ia menelan ludah berusaha menormalkan kembali pacu jantungnya yang panik. Efek ketakutannya.

Ia kembali menelan ludahnya dan melangkah mendekati Hyeong Sang yang nampaknya sudah mengakhiri percakapannya di telepon itu. Hyeong Sang menoleh ke arah Jongwoon dan memandang bingung Jongwoon yang mendekat sampai akhirnya berhadapan dengannya memandang intens. “Aku, bersedia menerima tugas itu,” ucap Jongwoon.

***

Kim Family’s Home

Hyeong Sang tersenyum lebar memandang seseorang yang kini ada di hadapannya. Sesuai dengan harapannya, bertemu kembali dengan keponakan jauhnya, cucu dari paman-sepupunya, atau puteri dari anak paman-sepupu tirinya, seorang  gadis yang bernama Shin Miwoo. Miwoo memandang  Hyeong Sang dengan tatapan antisipasi. Pria paruh baya itu tersenyum hangat pada Miwoo seraya berujar lembut, “Shin Miwoo… Aku senang bisa melihatmu.”

Hyeong Sang mendekat pada Miwoo yang berdiri di tengah ruangan keluarga itu. Miwoo menundukkan tubuh sebagai sapaan hormatnya pada Hyeong  Sang. “Kau ternyata seorang gadis yang sangat cantik. Kau mirip sekali dengan Ayahmu. Dan garis wajahmu juga terlihat sama dengan kakekmu,  Shin Ah Hyun…,” lanjut Hyeong Sang.

“Aku juga senang melihatmu, Presdir Kim…,” balas Miwoo.

Aigoo…  Jangan panggil seperti itu. Panggil saja paman. Paman Hyeong Sang. Aku adalah putera dari Kim Sang Ahn. Ayahku itu, adalah sepupu tiri kakekmu, Shin Miwoo…,” jelas Hyeong Sang. Miwoo sejenak mendongak menatap langit-langit dan menggerakkan sendiri kepalanya dan bergumam. Ia sedang berpikir dan mencoba memahami silsilah keluarganya dan hubungan antara dirinya dengan pria paruh baya di hadapannya. Kegiatan gadis itu terhenti saat terdengar bunyi pintu dibuka cepat sekaligus sedikit  kasar. Empat orang, masuk seketika.

“Ah…  Ini istriku, Kim Min Ran,” jelas Hyeong Sang menunjuk ke arah wanita paruh baya yang sontak menghampiri Hyeong Sang mendekat. Pandangan wanita itu terkesan kurang suka, tapi tetap nampak sopan sekaligus hangat tatapannya terhadap Miwoo.

“Itu puteri pertamaku, Kim Jang Ri, dan sebelahnya, Kim Rin Na, puteri keduaku,” lanjut  Hyeong  Sang  menunjuk  dua gadis muda yang tidak terlihat berbeda usia jauh. Salah satu dari mereka, Kim Rin Na, melipat tangan angkuh serta memandang sinis. “Dan yang itu, puteraku yang paling tampan, Kim Jaejoong,” ucap Hyeong Sang di akhir. Miwoo memandang pria yang diam melihatnya itu dengan ragu. Gadis itu menyapa kikuk pada  Jaejoong.

“Mulai sekarang,  Shin Miwoo akan tinggal bersama kita  di rumah ini sementara sampai ia resmi menjadi pewaris perusahaan Agent Production. Baru setelah itu, ia bebas memilih apakah akan menempati rumah ini atau menempati rumah lainnya. Nanti juga ia akan kita masukkan dalam daftar keluarga kita sehingga Miwoo bisa dianggap oleh orang-orang sebagai bagian  keluarga  besar kita,” jelas Hyeong Sang penuh  bangga.

“Jang Ri, Rin Na, kalian sesama perempuan, perlakukan dan bimbing Miwoo agar bisa  menyesuaikan diri di lingkungan rumah,” perintah Hyeong Sang pada dua puterinya. “Dan kau Jaejoong, bimbing Miwoo agar menyesuaikan diri di kantor,” tambah Hyeong Sang kepada Jaejoong puteranya.

“Miwoo adalah adik kalian juga. Dan Miwoo-ah, kuharap kau juga bisa menganggap Jang Ri dan Rin Na sebagai eonni-mu  dan Jaejoong sebagai oppamu ne?” tanya Hyeong Sang. Miwoo mengangguk.

“Mohon bantuannya…,” ucap Miwoo membungkuk hormat pada mereka semua. Gadis polos itu masih belum menyadari sejak tadi, suasana tidak nyaman memang telah tercipta di pertemuan keluarga itu. Bahkan dari tatapan mata saja, rasanya sudah bisa ditebak ada segelintir ketidaksukaan serta kebencian yang terpancar dari keluarga itu. Han Woon, yang berada di ruangan itu, yang menyaksikan dari awal percakapan mereka, menyadari hal tersebut. Pria paruh baya itu, hanya memandangi Miwoo yang masih tersenyum tulus dengan sendu penuh kekhawatiran.

***

Jaejoong memandang Ayahnya dengan tatapan diam. Ia menyiapkan emosinya sendiri agar tidak  meledak saat berbicara dengan Ayahnya. Setelah perkenalan  singkat dengan Shin Miwoo tadi ke anggota keluarga mereka, Jaejoong masih belum puas karena Ayahnya sama sekali tidak menyinggung soal asal-usul Miwoo. Hal itu yang ia ketahui sejak  awal dan hingga kini masih tidak ia terima. Oleh karena itu, usai kepergian  Miwoo dan anggota keluarga lainnya, Jaejoong  memutuskan berbicara empat mata dengan ayahnya.

“Kau tidak keluar, Jaejoong-ah? Ayah kan sudah katakan kalian boleh kembali istirahat setelah tadi ayah memperkenalkan Shin Miwoo,” ujar Hyeong  Sang santai memandang Jaejoong lembut.

“Ayah… hentikan ini semua ayah,” ujar Jaejoong menahan tinggi suaranya. Hyeong Sang menyernyitkan alis keheranan.

“Menghentikan apa?”

“Gadis itu… Apa ayah tidak salah membiarkannya menjadi pewaris perusahaan? Itu berarti dia akan mengambil alih semua yang berkaitan tentang perusahaan kan?”

“Ne. Memangnya kenapa? Itu sudah menjadi hak Miwoo. Tidak ada yang salah…,” jawab Hyeong Sang santai dan langsung membuat Jaejoong menarik napas tidak sabar.

“Bisakah ayah menghentikan cara dan tindakan konyol ayah?! Aish. Bagaimana bisa seseorang yang tidak kukenal nantinya mengambil alih perusahaan begitu saja? Dan sekarang, apa yang kulihat? Seorang Biarawati?! Apa ayah sudah gila!” teriak Jaejoong meninggikan suaranya dengan memburu. Terlihat sekali sorot mata kepanikan sekaligus kekhawatiran yang mendominasi pandangan Jaejoong.

Hyeong Sang yang menyadari hal itu, segera bangkit berdiri dan menghampiri Jaejoong. Ia kemudian merangkul pundak putranya dengan pelukan khas antara pria. Jaejoong yang hendak berontak, segera ditahan oleh Hyeong Sang sehingga pria paruh baya itu  masih dapat berusaha menenangkan putera semata wayangnya sekaligus kesayangannya itu. Jaejoong, tidak dapat lagi menahan emosinya. Ia mulai membasahi matanya perlahan dengan tangisan tanpa suaranya.

“Ayah tahu kau tertekan, takut, dan bingung. Semua yang ayah lakukan tidak akan membuat kita jatuh. Percayalah. Kumohon, bantu ayah dengan mengerti tindakan ayah. Izinkan ayah untuk melakukan yang benar, Jaejoong-ah…”

“Ayah… Tapi… tapi aku sudah belajar agar bisa menjadi pemimpin yang baik. Lagipula, eomma menolak keputusan ayah kan? Aku tidak mau eomma marah dan meninggalkan kita lagi seperti waktu itu!” Jaejoong mendorong tangan ayahnya yang merangkul bahunya. Ia kemudian melangkah mundur sedikit menjauhi ayahnya.

“Jae  Jong-ah… Ayah mohon, mengertilah…”

“Dia, seorang, biarawati, ayah…,” ucap Jaejoong tertahan seolah memberi penekanan. “Seorang, biarawati! Bukan pewaris yang mengerti soal bisnis dan urusan perusahaan.”

“Tapi dia, adalah keturunan sah yang memiliki hak waris utama perusahaan ini, Jaejoong-ah…” tekan Hyeong Sang  menahan marah. Nampaknya pria paruh baya itu sudah mulai terpancing emosi.

“Ayah benar-benar sudah gila! Tidak sama sekali memikirkan masa depan perusahaan! Aku, tidak akan pernah membiarkan ayah melakukan tindakan konyol ini!” bentak Jaejoong lalu keluar begitu saja.

“Jaejoong-ah!”

***

Rin Na berjalan malas dengan Miwoo. Ia ditugaskan mengantarkan gadis itu ke kamarnya. Berbeda dengan Rin Na, Miwoo terlihat antusias dan memandangi sekeliling rumah dimana temboknya penuh ukiran indah. Terlihat sekali  hasil ukiran dari nilai seni yang tinggi. Sampai di kamar, Rin Na membuka pintu kasar dan mendorong Miwoo agar masuk.

“Kalau ada sesuatu yang kau perlukan lagi, jangan minta bantuanku! Tanya saja Jang Ri eonni atau eomma! Aku malas meladenimu!” ketus Rin Na. Miwoo mengangguk.

“Ne, eonni… Khamsaham-”

Brak. Pintu kamar tertutup cepat sebelum sempat Miwoo mengucapkan terima kasih pada Rin Na. Miwoo terdiam sejenak memikirkan sikap Rin Na barusan padanya. Sedikit banyak, gadis itu nampaknya memahami situasi. “Rin Na eonni tidak menyukaiku… Apa aku melakukan sesuatu yang salah padanya?” gumam Miwoo.

Miwoo hanya menghela napas. Ia memutuskan tidak menggubris pemikiran-pemikiran itu dulu dan beralih merapikan pakaian yang ia bawa di dalam tasnya. Miwoo menghela napas lagi melihat barang-barang miliknya. Ia memainkan bibir kesal.

“Nampaknya ada sedikit kejanggalan di sini. Bukankah tuan Han Woon bilang aku di sini tidak akan lama? Tidak sampai seminggu kan? Kenapa nampak seperti aku akan memegang kendali perusahaan selamanya?” gumam Miwoo mempoutkan bibirnya.

Clak. Suara kenop pintu yang dibuka membuat Miwoo dengan cepat berbalik. Ia kemudian terhenyak mendapati Jaejoong  yang tengah bersandar pada sisi pintu sambil melipat tangan tanpa sedikitpun melihat Miwoo. “O… oppa…,” lirih Miwoo. Sontak Jaejoong menoleh kasar dan melotot ke arah Miwoo membuat gadis itu menunduk takut.

“Jangan panggil aku oppa. Aku bukan oppa-mu. Kau bukan saudaraku, bukan adikku,” ujar Jaejoong tegas. Jaejoong melangkah mendekati Miwoo masih melipat tangannya. Ia kemudian  memandangi gadis itu sambil memincingkan mata.

“Sebesar apapun niatan ayah untuk memasukkanmu dalam daftar keluarga kami, atau memberikanmu seluruh hak atas perusahaan, apapun itu, aku pastikan akan menghalanginya,” ujar Jaejoong dengan singkat namun terdengar dingin. Segera setelah itu, Jaejoong berbalik dan meninggalkan Miwoo yang masih terbengong mengerut bingung.

Brak. Gadis itu mengerjapkan matanya tanda sadar akan kebekuannya sejenak. Ia saat ini benar-benar yakin akan satu hal. “Apa semuanya benar-benar mengira aku adalah pemegang kendali  perusahaan selamanya…? Ini tidak benar kan? Bukankah… Aku diminta hanya beberapa hari di sini sebagai pemegang nama sah seperti yang dijelaskan sebelumnya?” gumam Miwoo tidak yakin.

***

Miwoo memberanikan diri menghampiri ruangan Hyeong Sang. Ia menatap ragu pintu itu, sebelum akhirnya mengetuk pelan pintunya. Tidak ada sahutan dari dalam. Miwoo sempat berpikir bahwa kemungkinan Hyeong  Sang tidak ada di ruangan itu. Tapi, pemikirannya ternyata salah karena pintu itu langsung terbuka hingga menampakkan sosok  Hyeong Sang yang menata lembut Miwoo di hadapannya.

“Ada apa, Miwoo?” tanya Hyeong Sang ramah.

“Ah, maaf…  Maaf. Apa aku menganggu?” Hyeong Sang menggeleng.

“Tidak, kebetulan aku sudah menyelesaikan lembur malamku. Jadi, kau tidak mengganggu kok,” balas Hyeong Sang  masih tersenyum ramah pada Miwoo. Ia kemudian menggiring Miwoo untuk masuk ke ruangannya.

“Ada yang harus kutanyakan padamu, Presdir Kim,” ujar Miwoo setelah ia masuk dan berhadapan dengan Hyeong Sang. Pria paruh baya itu menghela napas karena lagi-lagi Miwoo memanggil formal dirinya.

“Ne, tanyakan saja. Tidak usah takut, Miwoo.”

“Apa anda… akan menjadikanku sebagai pengambil alih perusahaan?” tanya Miwoo hati-hati.

“Ne,” jawab Hyeong Sang tegas.

“Wae?”

“Karena kau yang pantas menerima semuanya, Miwoo. Kau adalah pewaris utama perusahaan itu secara hukum sah. Kau yang berhak menangani dan memegang kendali seluruhnya pada perusahaan.”

“Untuk seterusnya?”

“Ya, seterusnya, selamanya kau hidup.”

“Tidak sebagai  pemegang nama sebagai ahli waris perusahaan selama beberapa hari saja?” tanya Miwoo semakin menekan rasa penasarannya.

“Untuk selamanya  Miwoo… Bukan hanya beberapa  hari saja…,”  jawab Hyeong Sang dengan nada lelah dan mencoba berusaha  meyakinkan. Ia bingung harus mengatakan apa pada Miwoo yang nampak salah paham atas dirinya. Miwoo nampak diam berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

“Apa anda tidak salah? Kenapa aku harus menerima semua tanggung jawab itu? Aku hanya seorang calon biarawati yang hidup sejak kecil di panti asuhan. Tidak ada hubungannya dengan keluarga kalian. Aku juga tidak berniat menyelami kehidupan duniawi.”

“Tidak ada yang salah Shin Miwoo-shii. Aku sudah menjelaskan sejak awal kan mengapa kau berhak atas perusahaan… Kau adalah masa depan perusahaan  Agent Production, Shin Miwoo…”

Miwoo menganga diam. Ia seperti kehilangan kata-kata lagi akan satu hal yang terjadi di hadapannya.  Ia memutar-mutar matanya berpikir apa lagi yang harus ia lakukan selanjutnya. Ini kenyataan yang tidak mudah bisa ia terima.

“Bagaimana…,”  ujar Miwoo tertahan yang membuat Hyeong Sang menyiapkan pendengarannya dengan baik. “Bagaimana jika aku menolak itu semua?” tanya Miwoo menatap dalam Hyeong Sang.

“Kumohon Shin Miwoo… Ada alasan dan harapan bagiku membuat kau mendapatkan hakmu itu.”

“Apa alasannya? Suster Kang  pernah mengatakan agar aku mendengarkan penjelasan anda dan maksud anda memberikan hak ku itu padaku padahal anda tahu  aku adalah calon biarawati…”

“Ya, sebenarnya alasan itu lebih kepada keluargaku. Aku…meminta tolong padamu, demi keluargaku…”

***

Seoul Hotel

Jongwoon membawa ranselnya sambil berjalan santai memasuki sebuah kamar hotel. Kamar itu nampaknya sangat elit, terlihat dari penampakan suasana kamar tepat Jongwoon membuka pintunya dan memasukinya perlahan. Jongwoon memincingkan sudut bibirnya membentuk sebuah smirk usai menelusur seluruh sisi hotel dengan baik. Ia akhirnya melemparkan ranselnya ke atas ranjang dan merebahkan begitu saja tubuhnya di sana.

Jongwoon memandangi langit-langit kamar dengan diam. Perlahan ia menggerakkan tangannya menopang ke bawah kepalanya terlipat. Masih menatap langit-langit kamar, namun, sekarang pikirannya berkelana ke berbagai tahapan memori ingatannya. Sampai ia akhirnya memejamkan mata dan menerbangkan jauh bayangan yang berputar di matanya itu ke masa lalu, sebuah peristiwa yang membuatnya ketakutan.

Flashback

Jongwoon kecil melangkah perlahan mendekat pada pintu sebuah ruangan. Ia samar-samar mendengar suara yang bersumber jelas dari suara pria paruh baya yang sangat ia kenali, Ayahnya. Jongwoon menorehkan kepalanya melirik ke dalam. Ia mendapati Ayahnya berdiri berhadapan dengan seseorang  pria berjas yang nampak sedang bernegosiasi dengan Ayahnya.

“Putra Shin Ah Hyun?” ucap ayah Jongwoon.

“Ne, ini fotonya. Dan ini foto istrinya. Mereka satu-satunya pewaris perusahaan itu dan merupakan ancaman bagi tuan besar. Kuharap kau bisa melaksanakannnya dengan baik.”

“Tapi kau berani menjamin putraku dan istriku, ne?”

“Tentu saja. Semua tentangmu, akan kami jamin aman.”

“Baiklah. Tapi sekali lagi kukatakan, ini adalah yang terakhir. Setelah ini, aku tidak mau lagi.”

“Tentu saja…”

Jongwoon kecil memandang kedua tangan yang berjabat itu diam. Sinar menyilaukan yang  menjadi latar tautan jabatan tangan itu memutar kembali ke peristiwa lainnya. Peristiwa di saat gelap dan petir yang terdengar menyambar. Sangat gelap. Jongwoon  kecil yang ketakutan, berlari menghampiri ruangan sang Ibu tepat ketika ia mendengar teriakan ibunya.

Jongwoon kecil membelalak panik sekaligus takut ketika mendapati darah yang tercecer serta terciprat ke segala arah ruangan itu. Seorang pria yang tidak dikenalinya, tengah menusuk-nusuk tubuh tidak berdaya Ayahnya yang membelalak kaku. Ibunya, berada tidak jauh dari sana tertelungkup penuh darah di sekujur tubuhnya.

Jongwoon kecil berdiri kaku tanpa bisa melakukan apapun. Bahkan saat langkah pria yang memegang pisau itu terdengar jelas mendekatinya, menutupi pandangan matanya pada cahaya yang seketika membuat gelap menerpa tubuhnya akibat tubuh besar itu menghalangi sorotan cahaya lampu ke arahnya, Jongwoon  masih diam kaku. Belum sempat pria pemegang pisau itu menghantamkan kembali pisau itu ke kepala mungil miliknya, sebuah suara terdengar jelas menghentikan. Sirine polisi.

Sontak pria itu panik dan berlari hendak meninggalkan tempat itu. Namun, malang baginya. Pria pembunuh itu seketika berada dalam jeratan borgol aparat kepolisian yang datang. Jongwoon kecil, merasakan tubuhnya terangkat melayang. Ya, seseorang menggendongnya dan membawa anak itu keluar ruangan. Mata yang masih terbuka, hanya terlihat kilatan cahaya tidak berarti. Kosong.

Flashback End

Jongwoon membuka matanya tiba-tiba. Ia membelalakkan matanya dalam tarikan napas yang mengebu. Perlahan terlihat keringat dingin mengalir sampai jatuh melewati batang lehernya yang  sedang menelan ludah menahan emosi. Lalu, sebuah titik air kembali jatuh ke pipi Jongwoon. Ia menangis.

Drrrttt… Getaran sebuah ponsel di dalam ransel Jongwoon membuat pria itu mengalihkan perhatiannya mengingat sebuah pengalaman pahitnya. Jongwoon menolehkan kepalanya ke arah ranselnya dan bergegas mengambil ponselnya. Ia menatap nama kontak yang terpampang di  layar ponselnya dengan sendu.

Yobseo,” jawab Jongwoon.

Oppa… Kau tidak pulang?” suara kecil  anak perempuan terdengar cukup jelas dari ponsel Jongwoon.

Ani. Aku tidak akan pulang untuk beberapa lama,” ujar Jongwoon.

“Oh, apa oppa punya urusan penting?”

Ne.”

“Begitu yah. Baiklah. Kuharap oppa menjaga diri dengan baik selama menyelesaikan urusan penting oppa. Jangan lupa tetap jaga kesehatan oppa. Aku pasti akan merindukanmu dan menunggu kau pulang oppa…”

Ne. Jaga dirimu dengan baik  Jungyi-ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi oppa.”

“Eummm…  Anyeong oppa…”

Anyeong…”

Klik. Jongwoon menghentikan panggilannya tanpa menjelaskan apapun pada Jungyi, adiknya. Yah, ada alasan tersendiri baginya untuk tidak mengatakan apapun pada adik tirinya itu. Ia sendiri juga tahu kalau Jugyi memang sebenarnya ingin tahu, tapi, gadis kecil itu memilih menghormati kakaknya untuk tidak menanyakan apapun jika memang Jongwoon tidak mau menceritakan apapun.

Jungyi dan Jongwoon, merupakan dua saudara tidak sedarah yang  tumbuh bersama dalam keluarga kecil yang ditinggal kedua orang tua angkat Jongwoon, orang tua kandung Jungyi. Mereka satu sama lain, saling menyayangi namun tidak pernah saling mencampuri urusan hidup masing-masing sejak dulu.

“Menyimpan kebencian ini, adalah cara diriku menghabiskan hidupku. Karena itu, aku bersumpah tidak akan mati sampai akhirnya kebencian itu berhasil membuat orang itu merasakan kesengsaraan. Baru setelah itu usai, aku akan mati,” gumam Jongwoon sebelum memejamkan matanya tidur.

***

Miwoo membuka matanya perlahan saat merasakan dirinya telah cukup tertidur nyenyak. Ia bangun perlahan dan merapikan tempat tidurnya. Ia kemudian beralih  menurunkan kakinya duduk di tepian ranjang. Ia menangkupkan kembali kedua telapak tangannya lalu berdoa sebagai ibadat rutinnya di pagi hari.

“Tuhan… Berkatilah aku hari ini. Aku harap semua berjalan lancar. Aku sudah memutuskan apa yang menjadi keharusanku. Semua takdir Engkau yang menentukan. Tapi aku, hanya hamba yang memutuskan dengan rencana. Engkau yang melancarkannya atau memutar balikkan semua rencana itu menjadi rencana agung-Mu. Aku percaya, Engkau akan membuktikan semua kuasa-Mu sekarang. Aku menyayangimu Tuhan. Terima kasih. Amin.”

Miwoo membuka matanya dan menghela napas  panjang. Sedikit bergerak-gerak kecil dengan berlari ditempat  atau memutar-mutar tubuh meregangkan otot untuk olahraga paginya seperti kebiasaannya.

Miwoo kemudian menghela napas berkacak pinggang sebelum akhirnya berjalan meraih pakaian yang tergantung rapi di depan lemari kayunya. Seragam kebanggaannya, pakaian yang ia sukai. Ia mengelusnya lembut sebelum beralih ke kamar mandi.

***

Miwoo berjalan sedikit demi sedikit keluar dari kamar menuju pintu keluar. Ia membawa ranselnya dan melangkah dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Pakaian biarawati yang sejak awal ia gunakan, kembali ia pakai sekarang.

“Kau mau kemana?” Sontak suara itu mengejutkan Miwoo yang hendak menarik kenop pintu keluar rumah. Ia berbalik perlahan sambil menunduk.

“Mau kabur? Kabur saja…” Ucapan tadi seketika membuat Miwoomendongak. Ia terhenyak kaget mendapati Jaejoong di hadapannya. Miwoo mengerutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya Miwoo tidak mengenal suara pria itu. Jaejoong, sudah berpakaian rapi dengan kemeja dan jas yang terbalut pas di tubuhnya. Tampan. Itu pikiran pertama yang terlintas siapapun yang melihatnya.

“Ah… Ani. Aku tidak kabur…,” ujar Miwoo. Jaejoong memincingkan matanya.

“Kabur juga tidak apa-apa. Justru aku malah senang,” komentar Jaejoong yang langsung melongos melewati Miwoo hingga ia menarik pintu membukanya. “Ayo, kuantar sampai stasiun!”

Miwoo mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Ia memandangi Jaejoong yang menuruni  anak tangga teras rumah itu hingga mencapai sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah. Jaejoong membuka mobilnya dan masuk menjalankannya hingga akhirnya berhenti di hadapan Miwoo.

“Ayo cepat masuk!” teriak Jaejoong setelah membuka pintu mobil. Miwoo terlonjak kikuk dan akhirnya melangkah sedikit-sedikit masuk ke mobil.

***

Dalam perjalanan, Miwoo tidak berani menatap pria di sampingnya. Ia hanya sesekali melirik ekspresi diam Jaejoong di sampingnya. Miwoo tiba-tiba terlonjak kaget saat ada panggilan pada ponsel Jaejoong. Pria itu langsung meraih dnegan satu tangannya yang bebas, melihat nama kontak panggilan itu. Seketika ia memasang headset ke telinganya untuk menjawab panggilan itu.

Yobseo…”

“Eoh. Ne, she’s now here with me.”

“Ke hotel? Wae?”

Are you serious, noona? I’m not interest ini her! Stop that!

Mwoya?” Jaejoong langsung menoleh ke arah Miwoo dan menatap gadis itu sebentar. “She’s a pure girl. You want to make some stains on her sacred body?!”

“Kau yakin noona? Kalau ayah tahu bagaimana?” Kali ini suara Jaejoong terdengar khawatir.

“Okey, okey. Aku pegang janjimu kalau kau hanya ingin bermain-main dengannya. Kita sendiri yang akan mati jika sampai mencelakainya.”

It’s okey. But I don’t  want to get involved! I will bring her to Seoul hotel.

Klik. Jaejoong menghentikan panggilannya dan melepas kasar headsetnya. Miwoo memandangi Jaejoong  dengan tatapan tidak  percaya. Gadis itu tidak bodoh. Ia dapat sangat memahami ucapan-ucapan yang terlontar dari Jaejoong. Ia juga mengerti ketika memandang jalan ternyata Jaejoong tidak berputar ke arah  stasiun. Tapi ke arah lain.

Ada ketakutan yang tiba-tiba menerpanya. Namun ia mencoba tenang dan memikirkan hal positif. Ia menangkupkan kedua tangannya menunduk lalu memejamkan mata. Ia berdoa dengan suara yang amat pelan sampai tidak terdengar, “Tuhan, lindungi aku…

***

Seoul Hotel

Miwoo terpaksa turun setelah Jaejoong membukakan pintu mobil untuknya. Seketika Jaejoong menahan Miwoo melangkah untuk diam dulu. Ia melepas jasnya dan menutupi tubuh Miwoo dan memakaikan jas itu seolah menutupi apa yang dikenakan Miwoo. Pria itu dengan tidak ragu menarik tudung kepala Miwoo sehingga gadis itu membelalak kaget.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Miwoo meninggikan suaranya. Jaejoong balas menatap Miwoo garang.

“Kau diam saja. Di gedung ini, tatapan orang-orang akan sangat menghakimi gereja bila sampai melihat seorang biarawati memasuki hotel,” ujar Jaejoong langsung menarik tangan Miwoo mengikutinya masuk.

“Jaejoong-shii…  Kita mau kemana? Jaejoong-shii…,” tanya Miwoo khawatir ditambah lagi ia melihat Jaejoong memesan satu kamar khusus pada resepsionis.

“Sudah diam! Jangan banyak tanya,” jawab Jaejoong memaksa Miwoo masuk ke lift. Gadis itu menahan diri dari tarikan Jaejoong. Ia menggeleng kuat bahkan saat Jaejoong membelalakkan mata menarik tangannya agar masuk. Miwoo tidak bisa menahan ketakutannya. Ia nyaris menangis, matanya telah berkaca-kaca. Sampai sebuah tarikan keras Jaejoong membuat gadis itu terhempas menubruk tubuh Jaejoong dan akhirnya pintu lift tertutup.

Jaejoong membelalakkan matanya mendapati tubuhnya menempel dengan Miwoo yang menundukkan kepala ketakutan. Ia sontak melepaskan diri menjauh hingga Miwoo terhuyung bersandar di lift di sampingnya berdiri. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya memandang wajah Miwoo yang terpejam sedikit berair dengan tangan yang mengepal saling digenggamnya. Miwoo perlahan mendongak hingga akhirnya membuka matanya utuh memandang ke sebelahnya, Jaejoong, yang  menganga diam.

Pandangan itu terasa langsung ke manik mata Jaejoong yang memang tengah menatapnya. Ada sebuah hentakan yang tiba-tiba menghujam dada Jaejoong sampai jantungnya lebih berdegup kencang. Sorot mata Miwoo, sangat halus dan suci cahayanya. Seperti  sihir bagi pria itu, karena terasa mencekam tiba-tiba waktu di sekitarnya dalam hitungan sepersekian detik.

Jaejoong kembali mengerjapkan matanya sambil menggelengkan kepala pelan setelah sadar mereka telah sampai di lantai tujuan. Jaejoong langsung menarik tangan Miwoo dan membawanya ke kamar yang  baru saja ia pesan.  Sampai di kamar, Jaejoong mendorong Miwoo sampai duduk di tepi ranjang.

“Diam di situ!” perintah Jaejoong sambil mengacungkan jari telunjuknya mengancam pada Miwoo. Jaejoong nampak langsung mondar-mandir menekan tuts ponselnya menelpon.

Yobseo, noona?”

“Aku sudah membawanya ke Seoul Hotel. Kamar 204. Sekarang cepat datang karena aku tidak mau menunggu lama disini!”

Klik. Jaejoong langsung berkacak pinggang menatap jendela luar. Ia berdecak kesal sekilas sambil berujar lirih, “apa-apaan yang kulakukan ini… Heuhh… ini semua karena noona!”

Beberapa lama mereka menunggu, Jaejoong masih menatap luar tidak peduli dengan Miwoo. Meskipun ia kini memang bisa mendengar isakan pelan Miwoo yang sepertinya ketakutan, tapi Jaejoong tidak peduli. Sebenarnya, ia sempat memikirkan sesuatu soal nasib gadis di baliknya berdiri ini. Ia nampaknya masih memiliki hati dan kekhawatiran pada Miwoo.

Perlahan, Jaejoong menoleh ke belakang dan memandang sendu pada Miwoo. Dengan ragu, kakinya melangkah mendekati Miwoo dan tanpa sadar, tangannya hendak meraih tubuh itu hendak memeluknya. Namun Jaejoong harus terkejut karena Miwoo langsung menjauh dengan mata berair dan memundurkan duduknya.

“Kenapa kau tega padaku? Aku salah apa terhadapmu…?” lirih Miwoo. “Aku tahu kau ingin  melakukan sesuatu yang jahat terhadapku. Sejak awal…aku tahu. Tapi aku selalu yakin kau tidak sampai sejauh ini. Aku yakin kau pasti tidak akan melakukannya. Tapi…”

Miwoo  menghentikan ucapannya dan beralih  berdiri cepat. Miwoo melepas jas yang dikenakannnya dan melemparkannya begitu saja ke arah Jaejoong. Dengan cepat, ia berlari melesat ke luar.

“Ya! Kau!”  Jaejoong mengejar Miwoo. Saat bersamaan, mereka berpapasan dengan Jang Ri dan Rin Na yang baru saja keluar lift hotel. Sontak Miwoo yang baru saja hendak masuk lift, membelalakkan mata dan berlari cepat menghindar. Ia melewati tangga darurat. Tapi tangga itu menuju ke atas.

Sekuat tenaga ia berusaha menghindar. Ia terus berlari dan tanpa sadar sudah mencapai puncak sebuah gedung hotel. Angin langsung terhembus saat ia keluar dari pintu keluar balkon atap. Miwoo memundurkan langkahnya mendengar derap langkah mendekat ke arahnya. Sampai ia akhirnya berhenti di ujung tempat itu. Miwoo menelan ludah takut.

Satu persatu muncul Rin Na, Jang Ri dan Jaejoong di hadapan Miwoo. Jang Ri lebih dulu melangkah maju. Miwoo melangkah mundur. Gadis itu menahan ketakutannya dan berusaha kuat. Ia pernah menghadapi banyak penjahat sebelumnya, berandalan, pernah ia hadapi. Tidak ada alasan baginya untuk takut sekarang.

“Kami tidak  akan menyakitimu,  Miwoo-ah… Tenanglah… Kau  jangan lari begitu…,” ucap Jang Ri berusaha menenangkan Miwoo.

“Sebenarnya apa yang hendak kalian lakukan terhadapku? Katakan mengapa kalian hendak melakukan ini? Apa aku salah terhadap kalian?” tanya Miwoo tidak gentar. Rin Na yang terlihat menahan kesalnya, tidak sanggup bersikap pura-pura baik dan ramah. Ia berjalan cepat menghampiri Miwoo. Sebaliknya, Miwoo berjalan mundur refleks saat Rin Na semakin mendekat cepat. Rin Na lalu menarik Miwoo ketika mendapatkannya dan menariknya kasar sampai terjangkau oleh Jang Ri juga.

Miwoo terjatuh dan tangannya ditahan kuat oleh cengkraman Rin Na. Seketika mereka berdua langsung mencoba melucuti pakaian Miwoo. Mulai dari sebelah sepatu yang dilepaskan, lalu menarik beberapa helai pertama jubah biarawatinya.

“Aaaaa… Eonni! Lepaskan!!” teriak Miwoo meronta.

“Jaejoong-ah! Cepat rekam dari sekarang!!” teriak Rin Na. Jaejoong yang berdiri diam sejak tadi, dengan enggan mengambil kamera yang dibawa Jang Ri tadi, dan mulai menyalakannya. Ia menatap kosong ketika Jang Ri dengan mudah menyibakkan bagian bawah jubah yang tersisa di tubuh Miwoo hingga menampakkan kaki serta pahanya yang jenjang. Miwoo berteriak. Jaejoong refleks menutup matanya sambil terus mengarahkan kamera itu.

Jang Ri dan Rin Na nampak kesulitan membuka keseluruhan jubah Miwoo. Setelah mencoba dari atas sulit, mereka mencoba dari bawah. Dengan mudah kaki Miwoo terbuka, akan tetapi gadis itu masih menahan sekuat tenaga agar tidak terbuka keseluruhan sampai mengekspose tubuhnya. Dengan kasar Jang Ri mengarahkan tangannya menampar keras Miwoo agar gadis itu diam.

Miwoo tanpa sengaja menendang wajah Rin Na sampai ia tersungkur ke belakang. Sontak jeratan tangan Rin Na pada sebelah tangan Miwoo terlepas. Kesempatan itu digunakan Miwoo untuk mendorong Jang Ri dan melepaskan diri. Ia berlari menghampiri Jaejoong. Pria itu refleks diam dan membiarkan begitu saja Miwoo meraih kamera di tangannya.

“Jaejoong-ah! Kenapa diam saja! Bodoh!”

Rin Na bergerak cepat. Ia menarik tali kamera dan nampak berebutan dengan Miwoo. Jang Ri yang bangun sedikit perlahan, membelalak panik ketika menyadari bahwa Miwoo dan Rin Na yang sedang berebut kamera itu berada dalam posisi yang berbahaya. Sangat dekat dengan tepi beranda atap.

“Rin Na noona! Hentikan!” teriak Jaejoong  tanpa sadar. Ia kemudian berlari hendak menghentikan Rin Na. Namun naas, ketika tarikan kuat diantara mereka terhenti oleh salah satunya, maka otomatis akan ada gaya dorong yang terjadi berlawanan dengan itu. Rin Na melepaskan tarikan tangannya. Sontak Miwoo yang terdorong, kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terpeleset jatuh.

Rin Na membelalakkan mata syok dengan menganga. Jaejoong yang langsung terhenti berlari, berdiri kaku memandang tidak percaya. Jang Ri sontak menutup mulutnya menahan teriakan terkejutnya.

Prak! Kamera yang melayang itu jatuh terbanting. Sejenak diam.

“Aaaa…..” teriak Rin Na hilang kendali.

“Apa yang kalian lakukan noona?!” teriak Jaejoong seketika mengerang marah bergantian ke arah Jang Ri dan Rin Na.

“Bagaimana ini…? Bagaimana ini?!” Tubuh Jang Ri bergetar. Tangannya mengusap berkali-kali wajahnya yang terasa kaku ketakutan. Jaejoong menarik rambutnya frustasi sambil berkacak pinggang. Ia tidak habis pikir dan kehilangan akal lagi ketika mendapati dua kakak perempuannya tersungkur lemah dan ketakutan.

“Mati… Shin Miwoo… ia  jatuh… mati…,”  lirih Rin Na. Jaejoong menghela napas. ia segera mengambil kamera beserta serpihannya. Lalu menarik satu persatu kakaknya dan menopang mereka turun ke bawah.

“Kita harus segera pergi dari sini!” ujar Jaejoong.

***

Dering telepon masuk menggema di sebuah kamar hotel yang baru saja diisi oleh penghuninya kemarin. Seorang pria yang kini asik mendengarkan musik dengan headset besarnya di depan balkon, tiba-tiba terhenti setelah lama tidak dihiraukan sang penyewa kamar itu. Meskipun ia mendengarkan musik dengan cukup keras, ia tidak berhenti fokus pada sebuah jendela kamar dari sebuah rumah besar di tengah pemukiman kota yang ada cukup jauh di seberang gedung hotel dimana ia menginap. Matanya yang kecil, menatap tajam, menambah kesan angkuh sekaligus dingin yang terlihat jelas. Pria itu, Jongwoon, seolah sedang menahan amarah. Oleh karena itu, sedikit gangguan akibat suara dering telepon tadi, tidak terlalu ia pedulikan.

Jongwoon, kini berada di kamar hotel yang ada di lantai yang cukup tinggi. Lantai kelima belas dari enam belas lantai. Merasa asik memandang dan mengawasi kini, ia akhirnya mengambil sesuatu dari saku celananya untuk mengusir kebosanan dan rasa penatnya sesaat. Dengan cepat, sebuah kotak yang berisikan beberapa putung rokok dibukanya, dan ia mengambil satu batang dari sana. Segera, tangannya yang lain merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah pena kecil yang ketika ditekan, langsung mengeluarkan api kecil sebagai penyulut pertama rokok tersebut menyala. Jongwoon, meniup rokok tersebut dengan santai setelah sedikit menghisap asap dari bara api tersebut.

Sedang asik menikmati suasana santainya, pria tersebut dikejutkan dengan sebuah sepatu yang melayang tepat di depan wajahnya. Ia terhenyak kaget dan menoleh cepat ke atas. Betapa terkejutnya ia ketika melihat dari atas, sebuah kaki menjuntai bebas, kaki yang entah ia melihat jelas atau tidak, berasal dari seorang wanita yang kini memandang ke bawah dengan ekspresi ketakutan. Wanita itu, tidak terlalu jelas Jongwoon melihatnya. Hanya saja, tangannya yang berusaha menahan tubuhnya bepegangan pada ujung tembok pembatas lantai teratas gedung, sudah terlihat mengenaskan. Ya, siapapun dapat langsung mengira bahwa pegangan yang terkait hanya dari satu ujung telapak tangan kecil tubuh gadis itu, tidak akan mampu menahan gadis tersebut agar tidak jatuh, termasuk Jongwoon yang kini melotot terkejut dari balkon kamarnya.

Saat sebuah air mata yang menetes melayang bebas mengenai pipi bawah mata Jongwoon, dalam sekejap ia langsung membuang putung rokoknya yang baru sepertiganya membara dihisapnya. Dalam hitungan detik, sontak saja, tangan Jongwoon bergerak mengulur ke depan seiring langkah kakinya untuk mendapatkan tubuh yang terjatuh cepat melewati lantai balkonnya.

TEP

Pria itu sedikit bernapas lega meskipun belum bisa menghela napas. Setidaknya, tangan dari gadis yang jatuh tadi, berhasil didapatkannya. Ia mengerang ketika mengumpulkan kekuatannya yang paling besar agar bisa menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh. Sebelah tangannya merangkak di tangan gadis itu agar dapat mencengkram kuat. Sementara, satu tangannya lagi bepegangan kuat di tepian balkon supaya ia dapat memusatkan kekuatan untuk mengangkat tubuh gadis tersebut yang melemas tidak berdaya. Gadis tersebut sepertinya pingsan.

“Ukkh.. Ah!” helaan napas yang mengebu-ngebu serta keringat yang sedikit keluar menandakan Jongwoon cukup kesulitan menahan serta menarik berat tubuh itu. Akhirnya, setelah tangan satu lagi milik gadis tersebut berhasil digapainya, Jongwoon menarik cepat dan membawa gadis itu terjatuh ikut bersamanya yang terhuyung ke lantai balkon. Gadis tersebut memang pingsan. Matanya menutup dalam dekapan Jongwoon yang telah langsung bangkit menepuk-nepuk pelan pipinya agar sadar.

Ahgasshi…” panggilnya sambil menepuk serta menggoyangkan tubuh gadis itu. Ia berusaha lagi membangunkan ketidaksadaran gadis tersebut. Namun, ia menghentikannya ketika menyadari pakaian apa yang dikenakan gadis itu. Ia meraih sedikit ujung rok tiga perempat bagian di bawah lutut yang berwarna biru tua tersebut sambil menyernyit.

Jongwoon kemudian beralih lagi menatap wajah terpejam gadis itu. Sebuah tudung yang seharusnya dikenakan sudah tidak ada, berganti menjadi rambut yang terikat membuntal namun sangat berantakan. Sejenak mengamati garis wajah serta lekukan indah gadis itu.

“Heuh! Terlalu cantik untuk seorang biarawati!” keluhnya. Tapi, ia menghentikan tiba-tiba aksinya kembali menepuk pipi gadis itu, ketika menemukan sudut bibir gadis tersebut yang lebam. Jongwoon menyernyit lalu kembali mengguncangkan tubuh kecil itu.

Ahgasshi, ahgasshi…!” seru Jongwoon.

Tidak kunjung mendapatkan reaksi, Jongwoon menyerah sejenak. Ia kemudian melirik ke atas memastikan tidak ada keganjilan di sana. Namun, tetap saja, nalurinya seperti mengatakan lain. Ada sebuah keganjilan yang menjadi kecurigaannya. Jongwoon kemudian meletakkan langsung tubuh gadis di dekapannya tadi ke lantai dan berlari cepat keluar kamar untuk ke atas.

***

Jongwoon membuka pintu balkon atap. Ia kemudian berlari-lari mengelilingi sekitar. Namun, ia harus menelan rasa kecewa karena tidak menemukan sesuatu apapun. Tapi, Jongwoon menyernyitkan alis ketika tanpa sengaja menginjak sebuah liontin ketika hendak berjalan kembali ke pintu. Liontin tersebut langsung menarik dirinya membukanya cepat. Dan ketika membukanya, Jongwoon terhenyak dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kertas bertuliskan sesuatu yang hanya dipahaminya.

Terdiam sesaat, Jongwoon memikirkan kembali perasaan benci dan kesalnya dahulu. Memang itu semua belum hilang, hanya saja, keasikannya dengan rutinitas barunya membuatnya terlena sejenak merasakan kedamaian dan ketenangan. Jongwoon akhirnya sadar, tujuannya masuk dan mengikuti organisasi ilegal yang menggiurkan itu, adalah untuk membalas dendam. Bukan yang lain. Jongwoon mengepalkan tangannya keras dan menggenggam liontin itu penuh amarah. Secepat kilat ia mengantungi kembali liontin tersebut, lalu berlari kembali ke kamar hotelnya.

Setelah menunggu lama sampai tidak sengaja tertidur, Jongwoon akhirnya membuka matanya ketika mendengar desahan dan gerakan kecil dari tubuh yang kini terbaring di ranjangnya dengan selimut yang menutupinya. Jongwoon yang duduk bersila di sofa, langsung bangkit menghampiri gadis yang kini bergerak tidak nyaman dalam tidurnya.

“Eughh… jangan…”

Sebuah rintihan lirih membuat Jongwoon menyernyit saat memperhatikan wajah gadis itu, gadis bernama Shin Miwoo yang baru saja ia selamatkan dari kecelakaan tadi siang.

“Shin Miwoo-shii…” panggil Jongwoon sambil bergerak meraih dahi Miwoo dan mengusap peluh yang bermunculan. Pria itu telah mengetahui nama gadis itu dengan mudah. Ya, semua karena liontin tadi. Liontin yang diceritakan oleh tuan Hyeong Sang, satu-satunya peninggalan orang tua Shin Miwoo, gadis pewaris perusahaan besar itu yang kini harus ia lindungi, atau, lebih tepatnya, mengawal setiap saat gadis itu. Ada alasan lain bagi Jongwoon mau melakukannya. Dendam yang tersimpan dan tersembunyi sebagai misi pribadinya dalam menjalani tugas itu.

Jongwoon memandang wajah Miwoo dengan seksama dan semakin mendekatkan wajahnya mengamati. Namun ia terhenyak kaget saat mata Miwoo tiba-tiba membelalak terbuka. Miwoo juga terhenyak kaget ketika mendapati kesadaran tiba-tibanya. Terlebih lagi ia mendapati wajah seorang pria asing di hadapannya. Tapi, ingatan Miwoo terlalu baik. Ia langsung mengingat seketika setelah melihat wajah pria di hadapannya. Ia mengingat dengan jelas, wajah tampan pria yang pernah pingsan di tengah jalan dan tanpa sengaja ia temukan, kemudian mencium bibirnya.

“Aaa…!”

Miwoo berteriak refleks. Sontak Jongwoon terdorong terkejut hingga nyaris jatuh dari ranjang. Miwoo bangkit dan bergerak ke headboard ranjang. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya meskipun tubuhnya sendiri masih  berbalut pakaian utuh.

“Apa yang hendak kau lakukan?!”

TBC