Third Revenge – Together

THR

Author                        : Riiku

Cast                            : Kim Jongwoon, Kim Jaejoong, Shin Miwoo (OC).

Genre                         : Romance, Live.

Rating                         : PG-18

Length                        : Chaptered

Review part : Part 2

“Apa yang hendak kau lakukan?!”

Miwoo mendorong tubuhnya dengan ketakutan, semakin menempel pada headboard ranjang. Jongwoon yang  memperhatikan reaksi Miwoo hanya menyernyit dengan pandangan remeh. Pria itu kemudian bangun dari duduknya dan perlahan mendekati Miwoo. Pandangan yang biasa serta datar.

Beberapa menit Jongwoon hanya berdiri memandangi Miwoo yang meringkuk ketakutan serta bingung. Sesekali, ia menarik sudut bibir membentuk smirk. Kedua tangannya dilipat angkuh. Jongwoon memajukan diri selangkah. Dan secara refleks, Miwoo juga bergerak sedikit  bergidik. Sebuah senyum smirk langsung terukir dari Jongwoon. Ia nampaknya senang dengan reaksi  lugu  Miwoo.

“Si…Siapa kau…dan… Kenapa…aku… di sini…,” lirih Miwoo terbata.

Set.

Dengan cepat Jongwoon duduk tepat di tepi ranjang dekat dengan sisi Miwoo duduk sekarang. Sontak gadis itu membelalak kaget seolah napasnya terhenti. Apalagi kini Jongwoon malah terkekeh senang akibat wajah Miwoo yang memucat ketakutan.

Jongwoon memajukan wajahnya dan secara refleks Miwoo berteriak ketakutan. “Kyaa!”

“Hahahaha!” Jongwoon tertawa keras dan sesekali memukul pahanya. Ia sangat bahagia melihat reaksi ketakutan Miwoo.

Ia masih saja terus tertawa hingga perlahan Miwoo mulai merasa bingung. Gadis tersebut nampaknya melupakan takutnya dan malah memiringkan kepalanya memandangi Jongwoon tidak mengerti.

“Dia kenapa…,” lirih Miwoo.

“Hahahaha… Ah… Ah….”

Jongwoon berusaha menghentikan tawanya. Ia menundukkan kepalanya hingga akhirnya menghentikan tawanya. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke Miwoo cepat lalu mengagetkannya dengan tiba-tiba mendekat lagi.

“Huwaaa….” Miwoo berteriak lagi karena terkejut dan sontak itu membuat tawa Jongwoon meledak lagi.

“Huahahaha…. Ah… Ah….” Jongwoon mengatur napasnya di sela tawanya.

“Ya! Apa-apaan kau ini?!” Miwoo berteriak kesal. Ia tanpa sadar sedikit melonggarkan selimutnya.

Jongwoon tiba-tiba berhenti lalu menoleh ke arah Miwoo. Gadis itu terdiam. Jongwoon meletakkan kedua tangannya di bahu Miwoo yang tentu saja membuat gadis itu bergidik seperti patung yang ketakutan.

“Ah… Benar-benar… Apa semua biarawati memang takut terhadap pria seperti ini? Lucu sekali.”

Miwoo membelalakkan mata menahan napas dan sedetik kemudian ia berteriak lagi. “Kyaaa!! Tolooonggg!! Aku mmpphhh….”

Jongwoon menutup cepat mulut Miwoo menahan gadis itu berteriak. Miwoo membelalak kaget dan melotot ke arah Jongwoon. Pria itu dengan mudah meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya seperti berisyarat diam.

“Tenang… Tenang dulu, nona Shin Miwoo.” Miwoo perlahan melenturkan wajahnya menjadi sedikit lebih tenang. “Dengar dulu penjelasanku. Jadi tenang okey?”

Miwoo mengangguk pelan menurut.

“Kau tahu kau tadi hampir mati?”

Miwoo menggeleng pelan. Jongwoon menghela napas.

“Kau tadi hampir terjatuh dari gedung ini,” jelas Jongwoon singkat. “Aku di sini berperan menyelamatkanmu. Dan kebetulan, aku memang bertugas menyelamatkanmu,” lanjut Jongwoon dengan senyuman yang terlihat tulus meskipun sebenarnya adalah senyum palsu yang ia buat.

Miwoo terdiam memandang Jongwoon yang tersenyum padanya. Tidak mengatakan apapun. Gadis itu hanya memutar bola matanya dan mengerjap-ngerjapkan selama beberapa detik mengamati Jongwoon. Jongwoon masih setia tersenyum menunggu respon Miwoo, namun beberapa saat kemudian, senyuman itu berubah menjadi ekspresi dingin seakan menusuk mata Miwoo yang memandangnya. Seketika Miwoo menundukkan wajahnya.

“Tuan Kim Hyeong Sang, menugaskanku sebagai pengawal pribadimu karena kau adalah pewaris utama Agent Production. Kau itu dalam bahaya dan incaran orang-orang yang jahat padamu. Yang tadi, kau terjatuh karena ada yang hendak membunuhmu. Aku benar kan?” tanya Jongwoon serius.

Miwoo terdiam cukup lama.

“Ya! Kenapa kau hanya diam saja! Jawablah aku!” teriak Jongwoon tidak sabar.

Miwoo tersentak kaget. Ia menahan gemetar tangannya sementara matanya menelusuri sekeliling kamar hotel tersebut. Miwoo langsung terdiam mendapati pintu kamar tidak jauh darinya berdiri. Ia kemudian tiba-tiba saja menyibakkan selimut sampai membuat Jongwoon terdorong. Secepat kilat ia berlari menuju pintu.

“Ya!”

Brak!

Pintu telah tertutup cepat sebelum sempat Jongwoon menahan Miwoo keluar. Pria itu hanya menghela napas berkacak pinggang. “Shin Ah Hyun… Nama itu terlanjur melekat dalam ingatanku. Begitu sulit membalaskan semua kebencianku.”

Jongwoon memandangi pintu kamar hotel tersebut dalam diam. Ia lalu mengangkat tangannya yang memegang liontin. Ia membukanya untuk kembali melihat apa yang ada dalam liontin itu. ‘Saranghae’, kalimat itu yang tertulis jelas di liontin tersebut.

“Shin Miwoo… Nampaknya orang tuamu begitu menyayangimu,” ujar Jongwoon seperti berbicara pada liontin itu. Akhirnya, ia menarik liontin itu dalam satu kebasan tangan memasukkannya ke saku celananya lalu melangkah ke luar hotel.

***

Miwoo berlari kencang keluar hotel. Ia tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang melihatnya sinis karena penampilan gadis itu yang terlihat aneh. Pakaian biarawati tanpa penutup kepala. Siapapun tidak akan memungkiri bahwa ia bisa saja orang gila yang terobsesi pada gereja.

Miwoo menoleh ke sekeliling halaman hotel. Ia kemudian berlari usai menemukan pintu gerbang ke luar. Nyaris saja ia tertabrak mobil yang baru hendak masuk ke dalam hotel. Miwoo langsung menyebrang jalan, kemudian berlari tanpa arah. Dalam beberapa detik kemudian, Jongwoon keluar menelusur jejak lari Miwoo. Ia menyunggingkan bibirnya ketika mendapati punggung Miwoo yang menjauh di seberang jalan hotel. Jongwoon kembali memasuki hotel.

Miwoo menemukan sebuah halte tidak jauh dari pandangannya. Ia lalu menghentikan larinya dan bepegangan pada tiang halte sembari menormalkan napasnya yang tersengal. Miwoo kemudian duduk di kursi tunggu halte.

Selama berjam-jam, gadis itu hanya duduk, memandang kosong ke bawah, atau menarik napas. Sementara, matanya telah berair dengan pipi yang basah akibat tangisannya. Miwoo merasa kebas. Akan tetapi, ia masih berjuang dalam pikirannya, untuk menyemangati dirinya sendiri supaya kuat.

“Hiks. Suster Kang…,” rengek Miwoo menyebut nama salah satu suster favoritnya di asrama St. Sincere. “Soo Eun-ah…,” rengeknya lagi kali ini menyebut nama temannya. “Aku butuh bantuan kalian… hiks.”

Miwoo mengucapkan kalimat curahan hatinya. Ya, memang selama ini yang selalu membantu gadis itu ketika mengalami kesulitan adalah dua orang terdekat tersebut, Suster Kang dan Soo Eun. Akan tetapi, ketika kedua orang tersebut tidak bersamanya kini, Miwoo hanya bisa menangisi diri pasrah, berharap ia dapat menemukan jalan dalam hatinya untuk melanjutkan apa yang harus ia lakukan.

Dua orang remaja datang ke halte. Mereka berbisik ketika melihat penampilan kacau Miwoo. Tidak hanya itu, bahkan jumlah orang-orang yang memandang gadis itu sinis, bertambah. Dari pegawai kantoran, ibu rumah tangga, hingga anak kecil bahkan bingung melihat keadaan Miwoo. Semua mengira Miwoo memiliki gangguan jiwa.

Miwoo melirik mereka dengan tatapan sendu. Ia sangat sedih tiba-tiba hanya karena tatapan intimidasi mereka padanya. Ia sangat berharap siapapun dapat membantunya.

Bruumm!

Sebuah motor sporty berhenti tepat depan halte, atau tepatnya di depan Miwoo. Pengendara tersebut langsung membuka helmnya. Seorang pria dengan jaket kulit hitam yang asik menata rambutnya. Semua pandangan takjub, terutama dari gadis-gadis remaja, langsung mengarah pada pria itu.

Kim Jongwoon, pria tersebut, ia langsung melangkah mendekati Miwoo. Gadis itu melirik sedikit. Meskipun terkejut, Miwoo hanya diam memandangi pria itu. Bahkan ketika jaket Jongwoon sengaja dilepasnya untuk menutupi tubuh Miwoo, gadis itu bergeming diam. Tidak perlu menunggu lama, Jongwoon merangkul Miwoo untuk menuju motornya. Awalnya ragu, namun akhirnya Miwoo duduk di belakang berpegangan pada pinggang Jongwoon. Mereka kembali ke hotel.

***

Miwoo terdiam memandangi pria di hadapannya kini. Ia tengah duduk lesehan di depan Jongwoon dengan batas meja menghalangi dirinya dan Jongwoon. Ia memegang secangkir teh hangat dengan tenang. Rambutnya telah bersih tersisir, serta pakaian yang diganti berbeda, pakaian santai wanita pada umumnya.

“Tidak terlalu buruk jika kau mengenakan pakaian itu,” komentar Jongwoon sambil menguyah roti panggangnya menatap memicing ke arah Miwoo. Seulas smirk terbentuk di bibirnya.

Miwoo menoleh ke bawah, memperhatikan tubuhnya sendiri yang telah berbalut pakaian santai itu. Sebuah kaus lengan panjang dan celana panjang bahan katun berbalut nyaman di tubuhnya. Ia memang nampak tidak risih, hanya saja ia masih belum terbiasa.

Gomawo…,” sahut Miwoo lemah lalu menyesap teh hangatnya.

“Hei… Tidak perlu menampilkan wajah pura-pura murung. Aku tahu kau tidak berada dalam keadaan seburuk yang terlihat…,” komentar Jongwoon lagi asal. Ia masih asik mengunyah potongan roti yang mendadak menurutnya sangat enak.

“Kelihatannya kau sangat doyan dengan roti itu…,” ujar Miwoo yang langsung menghentikan gerak tangan Jongwoon memasukkan potongan-potongan roti ke mulutnya yang telah penuh. Jongwoon mencibir bibirnya.

“Aku suka rasa strawberi! Kenapa? Apa terdengar aneh? Apa urusannya denganmu?!” hentak Jongwoon mengerut kesal. Mulutnya yang penuh potongan roti membuat bibirnya mengulum lucu. Tanpa sadar, Miwoo yang memperhatikan Jongwoon, terkekeh sendiri.

Jongwoon mendongak bingung menatap Miwoo. Ia mendadak beku ketika melihat tawa pelan dan lepas Miwoo yang sambil berujar, “kau lucu…”

Tapi, dengan cepat Jongwoon menggelengkan kepala lalu menelan habis roti di mulutnya. Ia menenggak cepat tehnya dan kembali memandang sinis ke arah Miwoo. Seperti picingan pisau runcing yang menusuk, tatapan Jongwoon seketika juga menusuk mata Miwoo. Gadis itu langsung bergeming.

“Ah, maaf. Aku…”

“Nona Shin Miwoo. Mulai sekarang kau berada dalam pengawasanku. Kau, harus berhasil menjadi pewaris perusahaan Agent Production. Baru setelah itu, aku bisa menyelesaikan misiku berkaitan denganmu. Kau dengar?”

De?” Miwoo memiringkan kepalanya bingung.

De? Kenapa kau malah bertanya? Kau kan pewaris utama perusahaan itu. Shin Ah Hyun, dia kakekmu kan?” ujar Jongwoon meninggi sambil memandang remeh pada Miwoo.

Mwo? Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Miwoo kaget.

“Aku ada urusan berkaitan dengan nama kakekmu itu. Kau tidak perlu tahu,” jawab Jongwoon ketus. Sejenak ia memandang penuh dendam pada Miwoo seolah sedang mengutarakan gemaan perang di dalam hatinya. “Kau akan melihat nanti setelah semua berjalan sesuai keinginanku. Pembalasan dendam, akan dimulai.”

“Lalu, apa masalahnya jika aku pewaris utama Agent Production?” tanya Miwoo setelah meletakkan cangkir teh hangatnya di meja.

“Aish. Kau ini biarawati yang bodoh yah. Jelas-jelas tadi siang kau sudah hampir dibunuh orang dan kau kini santai? Merasa tidak masalah dengan keadaanmu? Sudah pasti banyak ancaman terhadapmu setelah ini! Perusahaan itu sekarang sedang menjadi perebutan banyak pemegang saham utama, bahkan keluargamu sendiri. Masa hal seperti itu kau tidak mengerti!” hentak Jongwoon terdengar sombong sekaligus angkuh. Miwoo mengerut kesal mengerucutkan bibirnya.

“Ck. Bagaimana bisa gadis bodoh yang tidak tahu politik bisnis menjadi pewaris utama. Apalagi mantan biarawati seperti ini,” remeh Jongwoon lagi ke arah Miwoo.

Cakkam! Aku bukan mantan biarawati! Perlu digaris bawahi, aku calon biarawati!” Miwoo membalas tatapan Jongwoon dengan tegas.

“Oh, calon biarawati, eoh?” sindir Jongwoon. “Heuh. Apa calon biarawati berpenampilan seperti ini?” tanya Jongwoon sambil memainkan jari telunjuknya bergerak ke atas dan ke bawah di hadapan Miwoo bermaksud menunjuk Miwoo remeh. Miwoo menggerakkan tangan menutupi dirinya sambil mengerucutkan bibir.

“Ini kan hanya dalam keadaan genting. Setelah aku punya uang, aku pasti bisa membeli lagi pakaian biarawatiku dan kembali ke asrama.”

“Ya, ya, ya. Bicara saja. Memangnya kau bisa bekerja apa. Merebut perusahaan yang menjadi hak-mu saja kau tidak bisa,” ketus Jongwoon enteng membuat Miwoo terdiam bergeming. Jongwoon melirik Miwoo.

“Apa aku harus melibatkan diri dalam kehidupan dunia ini? Aku sudah mencoba lari untuk bisa mengabdi pada-Mu, tapi aku malah kembali ke lingkungan ini semua. Salahkah aku jika menginginkan kaitan diriku dengan garis takdir dunia ini terlepas?” gumam Miwoo yang membuat Jongwoon menyernyit bingung. Ia tidak memahami apa yang diucapkan lirih Miwoo.

“Ya! Apa yang kau katakan? Jangan tidak jelas begitu! Kalau kau membaca mantra jangan dihadapanku! Tidak akan mempan!” teriak Jongwoon mendekatkan wajahnya pada Miwoo karena tangannya diletakkan di atas meja.

Jongwoon hanya berpikir untuk berteriak tepat di hadapan gadis itu untuk mengingatkannya bahwa Jongwoon tidak suka. Akan tetapi, perlakuan Jongwoon itu tanpa sadar membuat Miwoo terhenyak kaget sekaligus malu. Tiba-tiba saja gadis itu merasakan hentakan jantung memacu cepat akibat jarak wajah Jongwoon yang menurut versi Miwoo, tampan, sangat dekat beberapa centi dengannya.

“Ah… Euh… Maaf. Aku hanya…,” ujar Miwoo terbata.

“Apa?”

“Aku tadi hanya berdialog dengan Tuhan.”

Jongwoon menyernyit. Ia menghela napas lelah sambil mengusap wajahnya.

“Aish. Aku bisa gila!”

***

Miwoo membaca dengan teliti secarik kertas tanda kontrak yang menunjukkan siapa Jongwoon dan apa tugas pria itu berkaitan dengannya. Jongwoon memandang Miwoo tenang. Wajah pria itu saat ini tidak menunjukkan ekspresi berarti.

“Tuan Kim Hyeong Sang yang meminta kau melakukannya?” Jongwoon mengangguk. “Itu artinya kau adalah pengawal pribadiku?” tanya Miwoo lagi. Jongwoon mengangguk lagi.

Miwoo saat ini duduk di tepi ranjang. Sedangkan Jongwoon, ia duduk bersandar di bingkai jendela besar kamar ini, yang jika malam hari, terbiasa Jongwoon buka agar angin malam dapat masuk menyegarkan ruangan.

Jongwoon merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sekotak rokok biasanya. Lalu, bunyi cetakan menandakan sebuah alat yang merupakan korek api telah membakar rokok menjadi bara yang dibutuhkannya. Seketika asap mengepul memasuki ruangan.

“Uhuk! Uhuk!” Miwoo mengibas-ngibaskan tangannya mengusir asap rokok yang mengganggunya sampai gadis itu terbangun berdiri. Jongwoon menoleh ke arah Miwoo malas. Ia melihat Miwoo nampak tersiksa dengan asap rokok itu. Namun, pria itu malah acuh dan melanjutkan kembali merokoknya. Kali ini, ia sedikit lebih toleran dengan menghembuskan asap ke arah luar kamar, meskipun tidak sepenuhnya keluar, sebagian besar juga masuk ke dalam.

“Aish. Bisakah kau matikan rokokmu itu? Aku tidak tahan. Uhuk! Uhuk!” protes Miwoo. Jongwoon menoleh perlahan ke arah Miwoo. Ia lalu menapakkan kakinya ke lantai, duduk memperhatikan Miwoo yang berusaha bernapas dengan mengibas-ngibaskan tangan, dengan santai, seperti sedang menikmati pemandangan indah.

Jongwoon bergerak bangkit. Ia lalu menghisap rokok terakhirnya dalam-dalam sambil memasukkan satu tangannya ke saku celana, lalu melemparkan putung rokok itu ke luar. Terakhir, ia menghembuskan rokok itu ke arah wajah Miwoo.

“Ya! Uhuk! Uhuk!” Seketika Miwoo berteriak kesal. Ia masih berusaha mengambil napas yang menyekik dirinya akibat asap rokok itu. Jongwoon terkekeh memandangi Miwoo. Sejurus kemudian, Jongwoon malah mengusap puncak rambut Miwoo dengan santai sambil terkekeh.

“Gadis yang tidak menarik!” ucap Jongwoon tertawa pelan. Sebenarnya pria itu kini tengah memandang Miwoo yang sangat mirip dengan seseorang yang ia sayangi. Jung Yi. Adik angkatnya itu juga memiliki persamaan dengan Miwoo, tidak tahan asap rokok.

Miwoo mengelus rambutnya pelan usai Jongwoon memberikan usapan di sana. Jongwoon sendiri, telah melangkah ke dapur kamar kecil di kamar itu untuk mengambil air putih. Miwoo merasakan dadanya menghentak aneh selama ia memegangi puncak rambutnya dan memperhatikan gerakan Jongwoon meminum air dari sudut dapur sana. Ia seperti diguncang hebat oleh perahu di tengah laut yang mengombang-ambingkan jantungnya. Berdegup, cepat.

“Aku akan menjadi bodyguardmu, sekaligus kaki tanganmu. Aku akan membantumu mengambil kedudukanmu secara perlahan dengan jalan kepercayaan dari seluruh oknum penting yang terlibat dalam perusahaan. Singkatnya, aku ingin kau mengambil hati para investor dan pegawai bawahanmu agar bisa diakui sebagai direktur nanti. Seperti yang kau ketahui, saudaramu yang lain menginginkan jabatan tinggi itu,” jelas Jongwoon sambil membawa dua gelas air mendekat pada Miwoo. Entah air apa itu. Ia lalu menyerahkan salah satunya pada Miwoo.

Miwoo mengambil gelas itu. Ia mendongak ke arah Jongwoon yang berdiri di hadapannya. “Bagaimana kau bisa tahu segalanya?”

Jongwoon tersenyum. “Aku sudah banyak mengetahui tentangmu, nona muda,” jelas Jongwoon sambil mendekatkan wajahnya sampai beberapa senti lagi bersentuhan dengan Miwoo. Refleks gadis itu memundurkannya sedikit karena mendadak ia gugup lagi ketika berada dalam jarak sangat dekat dengan Jongwoon.

“Kau tidak perlu takut. Kita bisa menyelesaikan bersama dengan mudah. Aku suka bermain strategi dan menerjang bahaya seperti ini…,” ujar Jongwoon lalu menenggak minumannya. Ia lalu menyunggingkan senyum smirk di hadapan Miwoo.

Refleks gadis itu tergagap. Ia langsung meminum air di gelas dalam genggaman tangannya dengan cepat sampai habis. Miwoo menghela napas dan tanpa sadar Jongwoon terkekeh mendapati wajah Miwoo yang memerah, entah karena apa.

“Itu artinya, memang aku akan selalu dalam bahaya nanti? Apa benar banyak yang berniat membunuhku?” tanya Miwoo tidak sabar.

“Kau tidak usah khawatir, aku bisa melindungimu. Aku cukup terlatih untuk menjadi seorang pembunuh. Yang perlu kau lakukan sekarang, adalah mencari cara untuk membayarku. Buat aku senang merasakan kenikmatan hidup…”

“Heuh?” Miwoo memiringkan kepalanya bingung. Jongwoon melangkah mendekat pada Miwoo. Tapi gadis itu, entah mengapa malah bergeming diam berani menatap Jongwoon.

Perlahan mata Miwoo mulai menyayu. Ia merasakan kepalanya sedikit berputar aneh serta pandangan tidak fokus. Jongwoon menyodorkan gelasnya. Miwoo refleks mengambilnya dan meminumnya. Ia lalu diam lagi dan kembali merasakan perputaran yang semakin menjadi.

“Aku kenapa ya?” lirih Miwoo dengan kedua tangannya menggenggam gelas. Jongwoon mengambil dua gelas di tangan Miwoo sambil terkekeh.

“Kau harus terbiasa nantinya untuk meminum minuman seperti ini,” jelas Jongwoon singkat. Miwoo menyernyit. “Ini adalah soju. Jadi kalau rasa minumannya membuatmu berefek seperti ini di awal kau menenggaknya, maka kau harus hati-hati.”

Miwoo melebarkan matanya kaget. Mulutnya melongo shock. Jongwoon meminum sisa air di gelasnya tadi. “Jangan kaget. Mulai sekarang, aku akan sering mengajarkanmu berbagai hal, bahkan yang menjadi tabu dan asing bagimu. Supaya kau bisa menjaga dirimu.”

Miwoo memandang Jongwoon dengan mata sayu. Nampaknya gadis itu sudah mulai merasakan efek soju. Ia memutar-mutar tangannya ke arah wajah Jongwoon sambil berdiri sempoyongan. “Kau… Menyebalkan!” ketus Miwoo mengembungkan pipi.

Jongwoon meletakkan cepat gelasnya di meja terdekat dan berusaha mengantisipasi Miwoo jatuh. Ia menggiring Miwoo untuk duduk. Tapi gadis itu menepis tangan Jongwoon dan memilih tetap berdiri meski di ujung kesulitan mengontrol keseimbangannya.

“Kau, bagaimana bisa ada pengawal yang berniat meracuniku terus, ah!” racau Miwoo. “Pria angkuh, kasar, dan arogan!” Miwoo terus mengatai Jongwoon sementara pria itu dengan tenang berdiri di hadapan Miwoo dengan tangan merenggang sedikit bersiap menahan tubuh oleng Miwoo. “Kenapa aku harus menjadi orang yang diawasimu? Tidak enak sekali…”

Tep.

“Tapi!” Miwoo meletakkan kedua tangannya bepegangan di kedua bahu Jongwoon. “Kau sangat indah…” lirih Miwoo tersenyum.

“Euh?” Jongwoon menaikkan alisnya bingung. Miwoo menepuk pelan pipi Jongwoon sambil tersenyum senang, lalu berujar, “kau tampan.”

Seketika Miwoo terhuyung dan memejamkan matanya hingga merosot ke lantai. Beruntung Jongwoon lebih dulu menahan gadis itu hingga akhirnya jatuh ke dalam pelukannya. Jongwoon perlahan menarik Miwoo dengan mengambil lengan serta memosisikan sebelah tangannya di tengkuk Miwoo. Dalam sekali hentak, tangan Jongwoon yang satu lagi berhasil mengangkat kaki Miwoo sampai gadis itu berada dalam gendongan Jongwoon.

Jongwoon membawa Miwoo ke atas kasur. Ia merebahkan tubuh gadis itu yang telah terpejam tidur, berbaring di atas bantal di kepalanya. Lalu, sebuah selimut disibakkan Jongwoon menutupi tubuh Miwoo.

Jongwoon langsung berjongkok di samping ranjang. Ia memosisikan jongkoknya tepat di samping wajah terpejam Miwoo yang menghadap ke arahnya. Sangat dekat kurang dari lima belas senti. “Gomawo… Kau juga sangat cantik sebenarnya…,” ujar Jongwoon lirih nampak seperti berdialog sendiri. “Tapi kau tidak menggoda.”

Jongwoon memandangi Miwoo tanpa ekspresi. “Mungkin bukan sekarang. Tapi…” Jongwoon menghentikan ucapannya sejenak. “Aku pastikan akan membuat leluhurmu menyesal karena kesalahan mereka padaku. Kau… Saat ini masih senjataku, Shin Miwoo. Suatu saat, kau akan mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan dariku.”

Jongwoon mendekatkan wajahnya ke wajah Miwoo. Ia kemudian mengulurkan lidahnya menjilat permukaan bibir Miwoo. “Mashita,” ujar Jongwoon singkat sambil tersenyum smirk.

Tangan Jongwoon lalu meregang sejenak. Telapak tangannya membuka dan mengarahkannya di samping dada Miwoo, seperti sedang mengukur. Ia terus melakukan itu pada sisi atas, samping, dan depan dada Miwoo tanpa menyentuhnya. Sedetik kemudian, Jongwoon tersenyum puas. “Cup B. Tidak terlalu buruk,” gumam Jongwoon menopangkan wajahnya dengan tangan sambil memandangi Miwoo yang terlelap. Jongwoon tersenyum, senyuman yang terlihat licik.

***

Miwoo menggerakkan matanya untuk bangun. Ia terhenyak kaget mendapati sesosok tubuh tidur menyamping di sebelahnya. Ia bergerak menjauh dengan menarik selimut menutupi tubuhnya. Tentu saja, karena gerakan selimut tersebut, seseorang yang tidur itu, Jongwoon, terusik dan terbangun duduk. Miwoo mengantisipasi meski tengah terkejut.

“Hoaaammm…,” seru Jongwoon sambil meregangkan tangannya. Miwoo memandang Jongwoon membelalak sambil duduk merapat ke headboard. Jongwoon menoleh ke arah Miwoo dan terkekeh.

“Tenang saja, aku tidak melakukan macam-macam padamu. Aku hanya butuh tempat nyaman untuk tidur,” jelas Jongwoon menggacak-acak rambutnya yang terlihat sekali berantakan kini. Kemeja yang dikenakan pria itu juga, terbuka beberapa kancing dengan tidak teratur dan kusut. Jongwoon dengan santai menguap lagi lalu turun dari ranjang.

Brak!

Pria itu menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras membuat Miwoo tergidik ngeri. Miwoo langsung memutar pandangan ke sekeliling kamar. Tidak ada yang aneh. Tapi, ia sama sekali tidak ingat bagaimana ia bisa tertidur kemarin malam.

Cklak!

Pintu kamar mandi terbuka lagi. Jongwoon keluar dengan penampilan sama seperti tadi, hanya saja, wajahnya sedikit lebih segar karena ia habis membasuh mukanya. Ia lalu berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana kemudian menghampiri Miwoo.

“Kau mandi saja duluan. Kita tidak bisa tinggal seterusnya di hotel. Perlu tempat tinggal lain. Dan…” Jongwoon menggaruk lehernya menjenjang. “Aku temani kau mencari pekerjaan.”

De?” Miwoo terkaget bingung.

***

Miwoo menarik-narik rok dress yang dikenakannya menuruni kakinya. Lututnya sedikit terekspose membuat ia sedikit risih. Ia saat ini, berdiri di belakang Jongwoon yang sedang mengurus cek-out hotel.

Usai menyelesaikan administrasi, Jongwoon berbalik dan menatap Miwoo yang tengah menyesuaikan diri dengan pakaian itu. Jongwoon tersenyum memandangi Miwoo yang nampak lucu dan aneh. Ya, gadis itu masih saja merisihkan dress itu padahal Jongwoon memang membelikan yang sekiranya sesuai. Dress putih lengan panjang, yang terkesan anggun meskipun sedikit di atas lutut.

“Euh…” Miwoo menatap Jongwoon kikuk saat merasa dirinya jadi pusat perhatian Jongwoon. Pria itu tersenyum puas karena baginya, Miwoo nampak seperti gadis cantik yang alami.

Kajja!” Jongwoon menarik tangan Miwoo untuk membawanya ke suatu tempat. Sesuai dengan apa yang diucapkan pria itu sejak awal, menemani Miwoo mendapatkan pekerjaan.

***

Kim Family’s Home

Suasana ruangan tengah rumah besar terasa mencekam. Sejak dimulainya sarapan pagi bersama di sini, suasana tenang dan menekan terus terjalin. Kim Hyeong Sang, menguyah makanannya perlahan sementara ketiga putera dan puterinya menatapinya dengan antisipasi sekaligus takut.

Nyonya Kim, Kim Min Ran namanya, terdiam cukup lama memperhatikan suasana antara suaminya dan anak-anaknya. Merasa tidak sabar, ia akhirnya meletakkan garpu serta sendoknya kasar hingga terdengar bunyi detingan. Sontak semua langsung mengalihkan perhatian pada wanita itu.

Yeobo, hentikanlah bersikap seperti ini pada anak-anakmu!”

Akhirnya Min Ran sanggup juga mengutarakan protesnya karena sejak kemarin keributan terjadi di rumah itu ia hanya diam saja. Hyeong Sang menoleh ke arah istrinya.

“Anak-anakmu sudah menjelaskan kalau mereka tidak sengaja kan? Lagipula, mana? Kita sudah mencari di hotel itu ternyata tidak ditemukan mayat atau korban jatuh dari gedung hotel itu? Bukankah itu menandakan bahwa Shin Miwoo pasti selamat dan tidak apa-apa?” cergah Min Ran.

Hyeong Sang hanya acuh dan asik saja menikmati makannya. Sementara, Jang Ri dan Rin Na, hanya menundukkan wajah ketakutan. Jaejoong, ia dengan berani menatap Ayahnya berharap sang Ayah mengatakan sesuatu.

Min Ran menghela napas lelah. Percuma saja ia terus meneriaki suaminya, nyatanya suaminya tetap kukuh enggan berbicara mengutarakan sikapnya akan kesalahan putera puterinya.

“Ayah…,” panggil Jaejoong lirih. Hyeong Sang menghentikan sejenak gerakan tangannya menyantap makanan. “Maafkan kami…” Seketika helaan napas lega keluar dari Min Ran. Ia tersenyum memandang putera semata wayangnya itu karena bangga puteranya bisa berinisiatif mencoba mencairkan suasana.

Hyeong Sang mendongak memandang Jaejoong yang duduk di hadapannya. “Maaf bukan untuk Ayah. Tapi untuk gadis itu, Shin Miwoo.”

“Kalian menggunakan semua milik Miwoo sekarang. Fasilitas di sini, rumah ini, perusahaan, dan segalanya, adalah miliknya sejak awal. Kalian harusnya sadar akan hal itu,” jelas Hyeong Sang sambil meneruskan makannya.

“Ayah tidak memarahi kalian dengan meledak-ledak karena Ayah sendiri tidak perlu marah. Ayah tidak khawatir dengan Miwoo, karena Ayah tahu dia akan baik-baik saja. Entahlah. Meskipun gadis itu belum diketemukan dalam keadaan masih hidup atau tewas.”

Sontak semua mendongak memandang Hyeong Sang penuh tanda tanya. “Hentikan keegoisan kalian, lalu bersikaplah bersahaja secara perlahan. Suatu saat kita tidak akan bisa menikmati keadaan cukup seperti ini lagi jika Miwoo mengambil hak miliknya.”

Semua terdiam. “Terutama untukmu Jaejoong-ah. Ayah mendukungmu menjadi pemimpin yang bijaksana. Tapi juga harus berani menerima kenyataan yang benar dan jujur.”

Jaejoong menundukkan wajah sejenak. Ia berpikir berbagai macam hal mengenai kenyataan yang barusan diucapkan Ayahnya. Meskipun seperti perumpamaan, ia tetap mengerti bahwa suatu saat, ia harus menopang kedua kakaknya serta Ibunya yang tentu tidak mudah menerima kemiskinan yang akan datang nantinya. Jaejoong mendongak memandangi sebuah foto, foto keluarga yang terpampang di tembok ruangan makan itu.

***

Agent Studio, Seoul

Miwoo mengikuti langkah cepat Jongwoon. Sempat tersengal sejenak karena pria itu terus melangkah dengan cepat dan langkah besar. Jongwoon berhenti ketika tidak mendapati Miwoo di dekatnya. Ia berbalik ke belakang lalu menghela napas. Ia kembali menghampiri Miwoo dan memilih menggandeng gadis itu untuk berjalan lebih cepat. Seketika, Miwoo terhenyak kaget memandangi tautan tangannya pada Jongwoon yang terus berjalan beriringan menuju suatu ruangan aula yang besar.

Satu tangan Miwoo bertaut dengan tangan Jongwoon, satu tangannya lagi memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. Sampai memasuki ruangan itu, Miwoo melebarkan matanya mendapati suasana asing. Banyak payung-payung hitam yang dipasang tegak dengan orang-orang yang memegangi lampu besar ke arah banyak gadis yang tengah difoto. Di sudut ruangan itu ada penata rias dan beragam pakaian yang digantung.

Jongwoon tersenyum sumringah begitu melihat salah satu fotrografer yang ia kenali. Secepat itu ia langsung menarik Miwoo menuju ke sana.

“Minho-ya!”

Pria muda yang sedang memegang kamera itu, Minho, menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia terhenyak mendapati Jongwoon yang tengah mendekatinya. Bukan hanya masalah dihampiri Jongwoon, tapi pria itu kini tengah menggandeng seorang gadis yang asing bagi Minho.

Hyung?”

“Ah. Aku beruntung kau ada di sini.” Jongwoon langsung menarik Miwoo mendekat dan mendorongnya ke depannya sambil memegangi bahu gadis itu dari belakang. “Dia bisa jadi modelmu, eoh?”

Mwo?” Sontak Miwoo berteriak bingung usai Jongwoon menanyakan perihal dirinya pada pria muda di hadapannya yang tidak dikenalinya. Minho, sama bingung dan terkejutnya dengan Miwoo. Tapi kemudian pria itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Wae? Apa tidak bisa?” Jongwoon merangsuk ke samping Miwoo. “Dia kan cantik eoh?” tanya Jongwoon sambil menangkup wajah Miwoo dengan sebelah tangannya menghadap Minho. “Lihat, kulitnya juga bagus,” ujar Jongwoon lagi sambil menyingkirkan sebagian lengan dress Miwoo, membuat gadis itu membelalakkan mata terkejut.

“Euh… Hyung…” Minho tersenyum ketir.

Wae? Kau fotografer di sini kan? Kau pasti bisa merekomendasikan dia. Dia sedang butuh uang dan pekerjaan,” jelas Jongwoon singkat dengan nada memohon.

“Bukan begitu hyung, tapi… Aku belum berhak menentukan sebab aku belum lama bekerja di sini. Aku takut…”

“Dicoba saja dulu!”

Sontak mereka bertiga menoleh ketiga terdengar suara yang menginterupsi percakapan mereka. Seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka bertiga untuk ikut bergabung.

“Dae Goo ahjusshi…” Minho membungkuk hormat menyapa pria paruh baya itu. meskipun sudah berumur, tapi penampilan pria itu masih terkesan muda. Ia adalah manager utama majalah dan periklanan Agent Production.

“Dicoba saja dulu kemampuan gadis ini. Dia memang cukup memiliki modal alami sebagai seorang model,” ujar Dae Goo memandang Miwoo dengan tersenyum ramah. Gadis itu menundukkan kepalanya singkat dengan kikuk.

Jinja Tuan? Ah, gomawo. Kalau begitu, kalian bisa mencoba kemampuannya.” Jongwoon menyahut antusias. Dae Goo hanya tersenyum ramah pada pria itu. Jongwoon langsung mengulurkan tangannya berkenalan. “Aku Kim Jongwoon.”

Ne, Kim Dae Goo.” Jongwoon menyenggol lengan Miwoo yang menunduk diam di sebelahnya.

“Ah, namaku… Namaku Shin-”

“Dia Shin Ha Na. Namanya Shin Ha Na…,” potong Jongwoon cepat. Miwoo menoleh kaget penuh tanda tanya pada Jongwoon. Tapi nampaknya, gadis itu cukup mengerti sehingga ia tidak menanyakannya langsung sekarang.

Miwoo kembali beralih ke arah Dae Goo. Ia menundukkan kepala namun tidak mengulurkan tangannya meskipun Dae Goo mengulurkan tangan pada gadis itu. Jongwoon yang merasa canggung juga karena sikap Miwoo, dengan sigap menarik tangan Miwoo dan menyatukannya berjabat dengan Dae Goo.

“Aku Choi Minho,” sahut Minho mengulurkan tangan berkenalan juga dengan Miwoo.

Setelah itu, Minho mengomandokan seorang penata rias agar membawa Miwoo untuk dirias. Miwoo bergerak ketakutan. Ia melihat Jongwoon seolah memohon bantuan. Tapi pria itu hanya menatap seraya mengutarakan baik-baik saja. Jongwoon tersenyum sumringah memperhatikan Miwoo yang menjauh darinya sambil berkacak pinggang.

“Baiklah, aku harus pergi. Kuserahkan padamu Minho. Untuk selanjutnya, kau yang memutuskan,” ujar Dae Goo menepuk pelan pundak Minho. Jongwoon langsung menoleh, ia kembali menunduk hormat pada Dae Goo mengiringi kepergian pria itu.

“Terima kasih, Tuan!”

“Panggil saja aku Paman.”

“Ah. Terima kasih Paman…” Jongwoon membungkuk hormat pada Dae Goo yang terus semakin lama berlalu.

Hyung, nona Shin Ha Na itu pacar barumu?” tanya Minho yang penasaran sejak awal. Ia menyenggol lengan Jongwoon menggoda. Jongwoon menoleh memandang sinis.

“Sejak kapan aku berniat memacari seorang gadis, eoh? Aish. Berhenti memikirkan yang tidak-tidak. Dia itu aset pekerjaanku,” ujar Jongwoon yang jelas tidak dimengerti Minho.

“Maksudnya?”

“Kau diam-diam saja eoh. Aku bertugas mengawalnya. Dia pewaris utama Agent Production ini,” jelas Jongwoon santai.

“Hah?!” Minho terkejut menganga. Jongwoon mengusap wajah pria itu untuk menutup mulutnya yang menganga.

“Tidak usah kaget seperti itu. Nanti aku ceritakan. Ngomong-ngomong, yang lainnya bekerja di bagian mana?” Jongwoon melangkah duduk di salah satu kursi yang membuat Minho juga ikut duduk di sebelahnya.

“Ah… Hyukjae hyung, mereka di bagian perfilm-an. Aku tidak tahu, tapi kudengar Hyukjae hyung ada di bagian recuitment penari latar Agent Production. Lalu, Young Woon hyung, ia masih di Incheon. Ia memilih terus membantu pasar dan warga sekitar, termasuk menjaga Jung Yi.” Jongwoon mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lalu merentangkan kedua tangannya seraya menghela napas.

“Aku harap Jung Yi baik-baik saja. Setelah urusan ini, aku pasti akan menemuinya…”

Ne, hyung. Aku juga sudah berjanji dengan Jung Yi kembali ke Incheon dengan membawa banyak uang supaya aku bisa hidup bersamanya,” ujar Minho santai yang membuat Jongwoon menoleh ke arahnya.

Mwo?” Jongwoon menunjukkan jari telunjuknya ke arah Minho yang tengah terkekeh pada dirinya. “Kau bilang apa tadi? Hidup bersama?”

“Hehe. Mian hyung, aku sudah melamar Jung Yi sebelum ia lulus sekolah…”

Mwo? Ka-ka… Kau?” Minho langsung berdiri meninggalkan Jongwoon yang tengah mengacung-acungkan jari marah pada Minho. Sebuah kenyataan yang mengagetkannya, Jun Yi adiknya, ternyata diluar dugaannya telah menjalin ikatan dengan Minho tanpa sepengetahuannya!

“Ya! Minho-ya!”

Drap drap drap.

“Jongwoon-shii…!” Jongwoon menoleh ke samping dimana suara yang dikenalnya memangilnya. Shin Miwoo, gadis itu berlari menghampiri Jongwoon dan langsung menarik bahu pria itu memohon.

“Tolong aku, aku tidak bisa melakukan ini… Mereka hendak melakukan sesuatu padaku…,” rengek Miwoo dengan ekspresi khawatir dan ketakutan.

Jongwoon terdiam. Ia memandangi Miwoo setengah membulatkan matanya. Dalam hitungan detik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak hingga membuat siapapun di dalam ruangan itu menoleh padanya. Jongwoon sampai memegangi perutnya membungkukkan badan.

Miwoo merengut. Ia merasa kesal terhadap Jongwoon. Tapi, pria itu nampaknya sangat terhibur sekali melihat wajah Miwoo.

Jelas saja, gadis itu kini menampilkan wajah belepotan make-up. Lipstick merah yang bergeser sampai memanjang di pipi, blush on dan eyeliner yang terlalu tebal di beberapa bagian. Menyeramkan bagi siapapun yang melihat. Tapi bagi Jongwoon, menggelikan.

“Ya!!” pekik Miwoo cemberut. Jongwoon masih tetap terbahak-bahak.

“Ah… Ahahaha! Hahaha!”

***

“Nah, tenang saja nona… Anda tinggal memejamkan mata dan rileks okey?”

Suara lembut seorang penata rias mencoba menenangkan wajah ketakutan Miwoo yang duduk di depan cermin rias besar. Miwoo sebenarnya sangat berniat lari saat ini. Ia merasa terdesak. Akan tetapi, ia lebih ketakutan ketika berpapasan dengan pandangan mata Jongwoon yang terpantul di cermin di hadapannya.

Jongwoon di belakang Miwoo menunggu sambil duduk menyilangkan kaki serta melipat tangannya. Miwoo akhirnya pasrah saat gerakan tangan penata rias melukis di wajahnya, memolesnya dengan lembut dan sangat teliti.

Sedikit lama waktu berlalu. Jongwoon terus memperhatikan detail wajah Miwoo yang sedang memejamkan mata dirias. Sampai akhirnya pekerjan itu selesai, Miwoo menghela napas lega. Tidak lama kemudian, datanglah seseorang membawakan sebuah pakaian untuk dikenakan Miwoo. Gadis itu langsug membelalakan mata mendapati pakaian apa yang harus ia kenakan.

Sebenarnya hanya gaun panjang di bawah lutut. Akan tetapi, lengan yang terbuka dan sebagian dada yang terbuka membuat Miwoo ketakutan mengenakannya.

“Nah, nona sekarang bisa berganti dengan kostum ini dalam ruang ganti di sana. Kami akan menunggu di lokasi pemotretan tadi. Aku sekarang harus merias model lainnya. Permisi,” ujar penata rias itu membungkukkan badan berlalu.

Seketika, dalam ruangan terbuka yang bersekat di sampingnya itu kini, hanya ada Jongwoon dan Miwoo yang berdiri memegangi gaun tersebut dengan bergetar.

“Tunggu apa lagi… Cepat kau ganti pakaiannya!” seru Jongwoon jengkel. Miwoo berbalik menghadap Jongwoon.

“Kenapa tadi kau mengatakan namaku Shin Ha Na?” Jongwoon berdecak.

“Kau tenang saja. Di awal kau memang harus menyembunyikan identitasmu agar mereka tidak mengetahui siapa kau. Baru secara perlahan kau dapat menunjukkan dirimu sebenarnya. Jika saatnya tepat.”

Penjelasan Jongwoon tak semudah itu membuat Miwoo tenang. Gadis itu masih penasaran dan sangat bingung apakah ia perlu mempercayai Jongwoon atau tidak. Ia bukan gadis bodoh yang tidak mengerti bahwa ia kini merasa seperti boneka pria itu. Tapi, ketika ia merasa sesuatu yang salah padanya, ia menggeleng cepat seraya berbisik dalam hati, “tidak. Aku tidak boleh berprasangka buruk…

“Sudah jangan bengong saja. Pakai baju ini!” sentak Jongwoon yang membuat Miwoo terkejut.

“Aku tidak bisa…,” keluh Miwoo mendekati Jongwoon sambil merengek. “Tidak mungkin aku menjadi seorang model!”

Jongwoon berdiri lalu mengambil gaun itu kasar. “Kau harus menggantinya. Cepat!”

“Tidak. Tidak tidak tidak… Aku akan melakukan pekerjaan apapun selain itu! Aku tidak mau mengenakan pakaian yang tidak pantas di mata Tuhan. Tidak!” teriak Miwoo sambil mengulurkan tangan menghalangi Jongwoon mendekat. Jongwoon berdecak.

“Ya! Kau bisa melakukan apa selain ini? Kita butuh uang dan kau harus membayarku,” hentak Jongwoon kesal.

Mwo? Lalu kenapa harus aku yang bekerja? Kenapa tidak kau saja?” Jongwoon terhenyak kaget. Baru kali ini ia merasa Miwoo berani berteriak kasar padanya untuk melawan. Satu hal baru yang ia ketahui dari Miwoo.

Mwoya? Aku ini bekerja padamu, bodoh!”

“Siapa yang menyuruhmu bekerja padaku. Aku tidak meminta kau menjadi pengawalku atau semacamnya. Salah sendiri bekerja padaku!”

Miwoo mendorong pelan Jongwoon untuk menyingkir lalu beranjak hendak keluar. Jongwoon mengikuti arah memandang gadis itu lalu menghela napas tidak percaya. Ia tidak pernah menyangka calon biarawati ini, yang sejak kemarin terlihat lemah dan mudah dimanfaatkan, bisa melawan padanya.

Jongwoon dengan cepat menarik pergelangan lengan Miwoo sampai gadis itu kembali menghadapnya. “Ya! Aku diperintah Tuan Hyeong Sang!”

“Kalau begitu minta saja gaji pada Tuan Hyeong Sang! Jangan padaku!” balas Miwoo berteriak mendongakkan wajahnya.

Jongwoon menganga semakin tidak percaya. Meskipun memang seharusnya Jongwoon juga dibayar Hyeong Sang, tapi, entah mengapa pria itu tidak mengatakan sebenarnya pada Hyeong Sang bahwa ia kini telah bersama Miwoo. Tentu saja, Hyeong Sang menganggap kontrak kerja batal karena Miwoo tidak ada di sekitarnya. Dan itu berarti, Jongwoon belum mendapat sepeser uang pun dari Hyeong Sang.

“Aish.” Ia lalu mengalihkan pandangan tersenyum frustasi, lalu menghela napas menghadap Miwoo lagi. “Kau lupa ini perusahaan apa? Milikmu!”

Miwoo terhenyak kaget. “Masih untung mereka menerimamu dengan baik. Kau harus buktikan kau bisa mengambil hati mereka bekerja di sini! Mulai dari bawah, ara?” hentak Jongwoon.

Miwoo terbengong sejenak. Kemudian, kepalanya memutar mengamati sekelilingnya berada. Ia terdiam begitu menemukan brand yang ada pada stiker di cermin yang bertuliskan Agent Production.

“Kau masih tidak paham juga?!” tanya Jongwoon meninggikan suaranya. Ia lalu menarik wajah Miwoo menghadapnya dengan menahan pipi gadis itu. Sontak Miwoo menahan napas terkejut sekaligus gugup. Lagi-lagi, jarak dekat pada Jongwoon yang membuat ia tercekat.

“Kalau kau memulai dikenal dari kalangan bawah perusahaan ini, kau akan lebih mudah mendapat dukungan.” Miwoo terdiam menerima tatapan intens Jongwoon langsung ke manik mata gadis itu. Serasa teduh, sekaligus berapi. Sorot mata yang memabukkan pikiran Miwoo seketika.

“Tidak ada yang tahu kalau pewaris perusahaan ini adalah kau. Mereka belum pernah tahu. Dan suatu saat, itu akan menjadi keterkejutan besar,” lanjut Jongwoon lirih.

“Pakai ini. Tampilkan dirimu yang terbaik secara alami.” Jongwoon menyerahkan gaun itu ke tangan Miwoo. “Ingat. Kita harus mendapatkan uang sekarang. Kita harus mendapat tempat tinggal yang baik selama bersembunyi.”

***

Jongwoon berdiri melipat kedua tangannya. Ia memandang serius pada kilatan cahaya-cahaya kamera yang mengarah pada seorang gadis yang ada di sana, di tengah tatapan mata dan decakan kagum orang-orang.

Siapa yang menyangka gadis polos dan murni seperti Shin Miwoo, terlihat menggoda dan natural hanya karena gerak ekspresi gadis itu. Ekspresi yang tentunya membuat lelaki yang serius memperhatikannya terbuai bagai terbang dalam simfoni melodi penenang di alam bawah sadar.

Tidak terkecuali Jongwoon. Matanya terus menatap intens dan sayu melihat ekspresi Miwoo yang menatap kamera seolah menantang. Ia hanya bisa mengedipkan mata perlahan sambil tersenyum mengagumi kemolekan tanpa tipuan dari seorang Shin Miwoo.

***

Jongwoon dan Miwoo melangkah beriringan memasuki sebuah kedai. Miwoo tersenyum puas menghitung lembaran uang di dalam amplop yang dibawanya. Jongwoon mengikuti langkah gadis itu sambil tersenyum juga.

Set. Jongwoon mengambil amplop itu lalu memasukkannya ke dalam mantel Miwoo. Gadis itu mengerut bingung. “Simpan yang benar. Setelah ini uangnya kita butuhkan untuk membeli banyak barang-barang termasuk sewa rumah.” Miwoo mengangguk setuju.

Mereka kini mengambil kursi duduk di salah satu meja dekat kaca. Dari sana, mereka bisa langsung melihat jalanan di kota Seoul malam hari, yang cukup padat baik oleh pejalan kaki maupun kendaraan bermotor.

“Pesan apa, heum?” tanya Jongwoon. Miwoo menoleh ke arahnya. Ia melihat buku menu yang dipegang Jongwoon lalu menunjuk asal yang baginya kelihatan enak. Sepertinya gadis itu memang belum pernah mencoba makanan itu.

Seolleongtang. Kebetulan sekali aku memang ingin memakan sup ini,” komentar Jongwoon. Akhirnya mereka memesan makanan itu.

Selagi menunggu, Miwoo terus saja memperhatikan Jongwoon yang saat ini sedang mengotak-atik ponselnya lalu sesekali melihat-lihat ke luar kedai. Saat Jongwoon mendongak melihat Miwoo, ia mengerut heran akan pandangan intens gadis itu. “Wae?”

Miwoo terhenyak kaget. Baru saja ia memang terbengong memikirkan Jongwoon. Bagaimana sosok pria itu sebenarnya, seperti apa kata-kata pria itu, bahkan ia memutar kembali berbagai pertengkaran kecil yang sempat terjadi sebelumnya. Ia tidak menyangka dalam waktu kurang dari dua hari, Miwoo merasa aman hanya dengan bersama Jongwoon.

Ani. Aniyo.” Miwoo menggerakkan tangannya mengelak. Ia menelan ludah gugup saat pandangan Jongwoon menjadi dingin terhadapnya.

Sejenak diam. Jongwoon seperti sedang berpikir apa yang hendak ia katakan pada Miwoo karena ia kini hanya memandangi gadis itu tanpa ekspresi. Sedangkan Miwoo, ia nampak sangat gugup seiring gemuruh  dan rasa panas di sekujur tubuhnya, terutama di sekitar dadanya.

“Kau berencana membayarku berapa?”

De?” Miwoo mendongak cepat.

“Berencana membayarku berapa?”

Miwoo menundukan lagi dan bingung. “Ka-kau… Harus dibayar berapa?” tanya Miwoo balik. Jujur ia sendiri tidak mengerti harus menjawab apa.

Membayar berapa? Ia tidak pernah memperkirakan bisa membayar seorang pengawal pribadi berapa besar. Ia hanya tahu jika membayar sewa truk pengangkut beras dari tengah kota Incheon ke asramanya selama ini.

Jongwoon mendengus geli. “Kau benar-benar…”

Jongwoon meletakkan kedua tangannya di atas meja untuk menopang dagunya. “Kau tidak perlu bingung. Aku kan sudah pernah katakan kalau kau hanya membayarku dengan membuatku senang merasakan kenikmatan hidup.”

Miwoo mengerut bingung.

“Kau tidak mengerti maksudnya?”

Miwoo menggeleng cepat. Jongwoon tersenyum nakal.

“Harga masuk club malam di sini, sekitar 1.500-3.000 won. Aku biasa berkunjung setiap malam untuk bersenang-senang. Jadi…,” jelas Jongwoon tertahan. Ia langsung menarik satu sudut bibirnya membentuk smirk.

“Kau bisa memperkirakan berapa heum?” tawar Jongwoon disertai senyuman manisnya.

Miwoo menggerakkan bibirnya kelu. Ia mendadak merasakan kecewa seketika dan terluka di relung hatinya. Menatap mata Jongwoon yang bersinar sangat ia sukai. Tapi, mengetahui sesuatu yang menohok barusan, membuat gadis itu tak berdaya berkata-kata.

Pesanan sudah datang. Jongwoon tanpa basa-basi langsung memakan makanannya. Ia berhenti sejenak setelah mengunyah suapan pertamanya ketika melihat Miwoo yang diam memandangi makanan itu. Sedetik kemudian, gadis itu menangkupkan kedua tangannya sambil memejamkan mata. Sepertinya sedang berdoa. Usai berdoa, Miwoo tersenyum puas lalu mulai makan dengan lebih dahulu mengambil sumpit.

“Apa semua mantan biarawati selalu begitu, eoh?” lontar Jongwoon bertanya.

De?” tanya Miwoo balik dengan mengerut. Jongwoon hanya mengatupkan bibir malas. Ia lantas memilih melanjutkan makannya.

Gomawo…,” ujar Miwoo lirih di sela makan mereka. Jongwoon mendongak bingung. “Gomawo sudah membantuku. Aku merasa nyaman berada bersamamu.”

Seketika diam. Jongwoon memandangi Miwoo yang tengah tersenyum ke arahnya dengan menyernyitkan alis. Seharusnya keheningan berada diantara mereka, tapi tetap terdengar ramai karena gemuruh aktifitas kota. Jongwoon, akhirnya menggerakkan sedikit kedua sudut bibirnya sehingga terlihat seulas senyum.

Akan tetapi, tidak akan ada yang tahu sebenarnya isi hati pria itu selain dirinya sendiri dan Tuhan. Bahkan, gadis di hadapan Jongwoon kini, Shin Miwoo, benar-benar menduga bahwa dirinya mendapat sambutan senyum yang baik dari Jongwoon. Gadis itu, tidak peduli meskipun kenyataan siapa Jongwoon dan apa yang disukai pria itu. Ia hanya merasa senang ketika Jongwoon membalas senyumannya. Entah siapa yang menipu, atau siapa yang bodoh karena tertipu.

“Setelah ini kita cari rumah sewa, eoh?” ujar Jongwoon. Miwoo mengangguk sambil bergumam.

“Eumm…”

Tanpa sadar, keduanya tidak mengetahui sekeliling mereka, bahwa ada seorang gadis yang melongo melihat ke arah mereka. Sebenarnya gadis itu baru saja berjalan melewati depan kedai tersebut setelah berbelanja di sebuah toko pakaian langganannya. Ia terhenyak kaget langsung saat melihat wajah Miwoo yang tertawa senang saat menyantap makanan di dalam kedai. Gadis itu terdiam melongo sesekali mengucek-kucek matanya. Tidak percaya.

“Ya! Rin Na! Apa yang kau lakukan di situ?!”

Rin Na, nama gadis itu, ia mengacungkan jari telunjuknya perlahan menunjuk ke arah Miwoo masih dengan menganga syok. Jang Ri, gadis yang tadi meneriaki Rin Na, langsung menghampiri adiknya itu karena tidak sabar akan apa yang dilakukan adiknya.

“Ya! Kau ini!” Jang Ri menoleh mengikuti arah pandang Rin Na. Seketika ia membelalakkan mata melihat apa yang ada di hadapannya.

“Shin Miwoo masih hidup?”

TBC

Iklan