4’th Revenge – I Believe in You

THR

Author                        : Riiku

Cast                            : Kim Jong Woon, Kim Jaejoong, Shin Mi Woo (OC).

Genre                         : Romance, Live.

Rating                         : PG-18

Length                        : Chaptered

Itu Shin Miwoo!”

Gerakan bibir dengan suara yang menggema di telinga Shin Miwoo membuat gadis itu membelalakkan mata ke arah itu. Dua orang gadis, yang tentu saja dikenali Miwoo, Kim Rin Na dan Kim Jang Ri, saat ini tengah menatap tidak percaya ke arah Miwoo dari balik kaca gedung kedai dimana Miwoo sedang menghabiskan makan malamnya bersama Jongwoon.

Jongwoon yang tengah menikmati makannya, hanya melirik kecil ke arah Miwoo yang duduk di hadapannya dengan ekspresi panik dan ketakutan. Mata Miwoo yang membelalak membuat Jongwoon menyernyit bingung. Semakin bingung pria itu saat mendengar gumaman pelan Miwoo.

“Ya Tuhan… lindungi aku…,” gumam Miwoo lalu menarik kedua tangannya terkepal. Gadis itu lalu menunduk memejamkan mata.

Kim Rin Na dan Kim Jang Ri, tidak mau menghabiskan waktu mereka berlama-lama. Oleh karena itu, setelah melihat apa yang mengejutkan di hadapan, mereka segera mendatanginya.

Brak. Suara pintu kedai yang terbuka.

Drap Drap Drap.

Langkah kaki Rin Na dan Jang Ri mendekat ke arah meja Miwoo. Gadis itu masih sibuk memejamkan mata sambil menangkupkan telapak tangan mengepal di depan dagu seraya bergumam menyebutkan nama Tuhan pelindungnya. Jongwoon menghentikan makannya. Ia memicingkan mata dalam beberapa detik ke arah Miwoo. Lalu, pandangannya segera teralih pada Jang Ri dan Rin Na yang terburu-buru menghampiri mereka.

“Ya!” teriak Jang Ri.

Jang Ri dan Rin Na telah berdiri di hadapan Miwoo membelakangi Jongwoon.

“Ya! Gadis brengsek! Kau masih hidup, eoh?!” teriak Jang Ri lagi. Ia lalu menepukkan keras tangannya ke atas meja tepat di hadapan Miwoo. Sontak Miwoo terhenyak kaget lalu membuka matanya. Ia menoleh perlahan pada Jang Ri dan Rin Na yang telah berdiri angkuh melipat tangan.

Miwoo terdiam. Tapi matanya jelas menyiratkan ketakutan. Gerbrakan keras Jang Ri barusan memang cukup mengundang perhatian pengunjung kedai. Banyak diantara mereka kini tengah fokus memperhatikan ketegangan yang berlangsung itu.

“Gadis to**l! Kau masih hidup ternyata, eoh! Bisa-bisanya kau melarikan diri dan membiarkan kami menjadi kesulitan. Ayah jadi semakin membenci kami karena kau!” ketus Rin Na menunjukkan jari telunjuknya ke arah mata Miwoo. Lalu dengan tidak segan, ia menoyor dahi Miwoo dengan kasar.

“Euh… ah…,” gumam Miwoo dengan nada bicara bergetar.

Brak!

“Ya! bicara yang jelas, Shin Miwoo!” teriak Jang Ri lagi sambil menggebrak meja untuk kedua kalinya.

Eonni, kita bawa saja gadis bodoh ini ke hadapan Ayah untuk membuktikan bahwa kita memang tidak bersalah dan tidak membunuhnya,” usul Rin Na sambil membisikkannya ke telinga Jang Ri.

“Kau benar! cepat bawa dia!” seru Jang Ri memberikan instruksi pada Rin Na.

Dengan cepat Rin Na menarik tangan Miwoo dengan kasar sehingga gadis itu langsung berdiri dari tempatnya duduk. Mereka benar-benar tidak memperdulikan tatapan heran semua orang yang melihat. Mereka juga sepertinya tidak menyadari tatapan aneh Jongwoon yang tengah berada bersama Miwoo.

“Ah! Ah…,” gumam Miwoo kesakitan. Tapi, gadis itu nampak tidak berdaya menghindari kedua gadis itu yang hendak membawanya.

Tep!

Langkah Rin Na yang hendak menarik Miwoo untuk keluar kedai terhenti saat tangan Jongwoon menghentikan mereka. Dengan santai, Jongwoon melerai cengkraman tangan Rin Na, lalu berdiri membelakangi Miwoo untuk menghalangi tatapan membelalak kaget Rin Na dan Jang Ri.

“Apa kalian tidak tahu malu tiba-tiba datang lalu membuat keributan? Sangat tidak beretika,” ujar Jongwoon singkat. Sedetik kemudian, pria itu langsung tersenyum smirk menatap langsung ke arah Rin Na. Perlahan tapi pasti, Rin Na melepaskan jeratan tangannya pada tangan Miwoo.

“Kami…kami…,” ujar Rin Na terbata. Entah mengapa, menatap langsung Jongwoon di hadapannya itu, membuat Rin Na menjadi lupa apa yang hendak ia lakukan.

“Ya! Kau yang siapa? Ini tidak ada urusan denganmu! Dia ini Shin Miwoo. Adik sepupu kami. Jadi kami harus membawanya pulang sekarang!” teriak Jang Ri dengan cepat. Sepertinya ia menyadari perubahan raut Rin Na sehingga ia hanya menatap kasar sedetik ke arah adiknya itu seolah sedang mengatai bodoh pada Rin Na.

“Adik sepupu? Shin Miwoo? Khhh…,” kekeh Jongwoon. “Siapa Shin Miwoo? Namanya bukan Shin Miwoo. Dia Shin Ha Na. Kau mungkin salah orang…,” lanjut Jongwoon. Jang Ri langsung terhenyak kaget. Namun berbeda dengan Rin Na, gadis itu masih terdiam menundukkan kepala.

“Ya! Apa maksudmu kami salah orang, hah?! Aku tahu dia pasti Shin Miwoo. Ya! Gadis bodoh! Kau mengaku saja kau itu Shin Miwoo!” teriak Jang Ri tidak terima.

“Ah, nona,” panggil Jongwoon pada Rin Na tanpa menghiraukan teriakan Jang Ri tadi. “Kau masih ingat aku kan? Aku pernah menceritakan padamu bahwa aku memiliki adik angkat. Dia ini adikku. Jadi, aku rasa kau salah orang. Lebih baik kau tenangkan saudaramu ini agar tidak mengganggu kami lagi, heum?” jelas Jongwoon kepada Rin Na. Pria itu tersenyum lembut yang seketika membuat Rin Na terhenyak kikuk. Rin Na lalu menunduk diam.

“Anggap saja ini sebagai keberlanjutan interaksi kita…,” bisik Jongwoon di telinga Rin Na yang seketika membuat gadis itu menggidikkan tubuh.

“Ah, eoh. Arasso…,” jawab Rin Na mengangguk kikuk.

Gomawo…,” balas Jongwoon cepat lalu segera menarik tangan Miwoo menjauh, meninggalkan tatapan tidak percaya Jang Ri atau pun kebingungan pada Miwoo.

Brak. Pintu kedai tertutup. Jongwoon dan Miwoo telah meninggalkan kedai itu begitu saja. Seketika perhatian orang-orang langsung teralih kembali ke urusan mereka masing-masing, tidak lagi memperhatikan keributan itu.

Jang Ri langsung menoleh ke arah Rin Na dan menatap tajam gadis itu tepat sepeninggal Jongwoon. Jang Ri masih sangat yakin apa yang dilihatnya bukanlah kesalahan. Ia memang tahu betul bahwa gadis tadi adalah Shin Miwoo. Meskipun penampilan gadis itu nampak berbeda dan terlihat lebih cantik, tapi Jang Ri masih dapat membedakannya bahwa gadis itu, adalah Shin Miwoo, gadis biarawati yang beberapa hari lalu mereka temui.

“Ya! Apa yang terjadi padamu Rin Na?! Dia itu Shin Miwoo, eoh!” teriak Jang Ri.

Eonni… Kumohon hentikan. Dia bukan Shin Miwoo. Dia berbeda,” ujar Rin Na lirih. Jang Ri membuka mulutnya tidak percaya sambil menggeleng. Ia menatap Rin Na dengan pandangan aneh karena melihat raut wajah Rin Na yang berubah memerah. Jang Ri semakin mengangakan mulutnya tidak percaya ketika melihat Rin Na yang perlahan berjalan keluar kedai.

***

Miwoo melangkah ragu melewati sebuah pintu rumah yang telah dibuka lebar oleh Jongwoon. Miwoo memandang ke wajah Jongwoon yang tengah tersenyum seperti menyambutnya. Jongwoon memang saat ini berdiri di depan pintu itu merentangkan sebelah tangan menahan kenop pintu.

“Tunggu apa lagi? Kajja…masuklah tuan puteri…,” ucap Jongwoon tanpa ragu. Ia masih tidak menghilangkan senyumannya.

“Jongwoon-shii…” panggil Miwoo lirih.

Bingung. Gadis itu memang saat ini tengah bingung. Baru saja insiden di kedai membuatnya bingung karena dengan mudahnya Jongwoon menarik dirinya keluar dari jeratan dua saudara sepupunya, kini ia diajak ke suatu rumah yang dengan mudahnya langsung bisa ditempati Miwoo, begitu kata Jongwoon.

Waeyo? Masuklah… Ini rumahmu Shin Miwoo. Rumah kita,” ujar Jongwoon terkekeh.

Miwoo membiarkan Jongwoon menariknya ke dalam rumah. Jongwoon langsung menyalakan lampu ruang tengah. Seketika Miwoo menganga takjub melihat isi ruangan yang rapi. Memang rumah itu terlihat sederhana, tapi tata ruang dan letak barang-barang yang lengkap di sana, membuat Miwoo tersenyum puas.

“Kau suka? Ini rumah baru kita…,” ujar Jongwoon bangga sambil merentangkan tangan. Miwoo mengangguk setelah sebelumnya menoleh pada Jongwoon. “Sewanya pertahun hanya 80 ribu won. Cukup murah kan?” Miwoo mengangguk lagi.

Kajja. Kita lihat kamarmu,” ajak Jongwoon.

Miwoo melangkah mengikuti Jongwoon ke salah satu kamar yang tidak jauh dari ruang tamu. Hanya berjarak tidak lebih dari lima langkah setelah melewati ruang santai. Memasuki kamar Miwoo, gadis itu tersenyum senang melihat kamar mungil yang penuh hiasan cantik di sana. Tembok kamar itu dicat berwarna ungu terang. Kebetulan Miwoo memang menyukai warna ungu.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini Jongwoon-shii? Dalam waktu singkat….”

“Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mendapatkan semuanya dengan mudah. Selama kita mempunyai uang, semua akan mudah,” jawab Jongwoon sambil melipat tangannya.

Miwoo menatap tidak percaya ke arah Jongwoon. Sebenarnya gadis itu sangat aneh dengan semua yang ada di hadapannya. Seolah memang Jongwoon telah menyiapkan banyak hal baginya. Tapi, ia bingung untuk mengatakannya. Apalagi melihat senyuman Jongwoon yang menurutnya terlihat begitu tulus dan baik. Tidak sedikitpun pikiran Miwoo mendukung kecurigaan maksud lain dari Jongwoon. Apapun itu, Miwoo yang masih gadis polos, memang hanya bisa menerima pandangan positif tentang orang lain.

Jongwoon menoleh ke arah Miwoo yang tengah menatapnya intens. Pria itu tersenyum lembut secara refleks. Seketika Miwoo membesarkan matanya takjub karena nyatanya, dalam penglihatan gadis itu, Jongwoon kini terlihat begitu indah. Seberkas sinar putih yang suci menyeruak di balik tubuh pria itu. Miwoo mencengkram dadanya karena mendadak ia merasakan sesak.

***

“Bagaimana bisa kau begitu mudahnya membawaku menghindari saudaraku tadi?” tanya Miwoo.

Saat ini, mereka tengah menyesapi minuman hangat di malam hari. Miwoo memang menyukai teh hijau dan terbiasa meminumnya di malam hari. Tapi berbeda dengan Miwoo, Jongwoon kini asik menenggak soju dingin. Memang terasa dingin di mulut, tapi terasa hangat juga di tubuhnya. Ada lima kaleng soju yang disiapkan Jongwoon, dan segelas teh hijau di tangan Miwoo kini.

“Saudara?” tanya Jongwoon acuh.

Ne. Jang Ri eonni nampak sangat tidak percaya apa yang kau katakan. Aku yakin ia mengenaliku dengan baik. Lalu, Rin Na eonni… Aku sangat bingung bagaimana bisa ia melepaskanku begitu saja setelah kau mengucapkan sesuatu yang tidak kudengar tadi…,” ujar Miwoo pelan.

“Kau tidak mendengar yang aku katakan?” tanya Jongwoon setelah menoleh ke arah Miwoo. Gadis itu menggeleng. “Benarkah?”

“Saat itu kau berdiri membelakangiku. Aku hanya mendengar sedikit. Kau mengatakan aku Shin Ha Na, adik angkatmu,” jawab Miwoo.

Jongwoon melirik Miwoo tidak yakin. Tapi ia sepertinya memang tidak mau ambil pusing. Satu kesimpulan bagi pria itu, Miwoo memang gadis polos dan terlalu jujur.

Geure… memang itulah yang aku katakan pada gadis itu,” jawab Jongwoon singkat sambil meletakkan kaleng sojunya ke atas meja. Ia lalu bergerak lagi mengambil kaleng selanjutnya. Tersisa tiga kaleng lagi yang belum dibuka berarti.

“Hanya karena kau mengucapkan itu?” tanya Miwoo bingung. Ia menatap intens Jongwoon.

“Tapi entah mengapa aku menduga kau memang saling mengenal dengan Rin Na eonni. Aku melihat ekspresi eonni yang terkejut melihatmu. Apa kau dan Rin Na eonni memang saling mengenal sebelumnya?” lanjut Miwoo terdengar seperti memaksa ingin tahu kepada Jongwoon. Pria itu melirik sedikit ke arah Miwoo. Lalu, ia menenggak habis sekaleng soju dengan cepat.

Truk.

“Jika kami memang saling mengenal, aku rasa kau tidak perlu tahu, Shin Miwoo,” ujar Jongwoon tegas sambil meletakkan kalengnya dengan kasar. “Aku harap kau tetap fokus pada apa tujuan kita sekarang. Kau, harus mendapatkan kembali posisi manager utama di perusahaan itu,” tegas Jongwoon.

Jongwoon menatap tajam ke arah Miwoo. Seketika Miwoo menundukkan wajah merasa tertekan hanya dengan tatapan tajam Jongwoon. Ia mengigit bibirnya kikuk, lalu meletakkan cangkir tehnya.

“Maaf, seharusnya aku tidak perlu bertanya tadi…,” lirih Miwoo.

“Tidak masalah. Aku sepertinya harus menekankan satu hal padamu. Apapun yang aku lakukan dan aku instruksikan padamu nanti, aku minta kau jangan mempertanyakan alasannya lagi. Kau dengar?” tanya Jongwoon. Miwoo mengangguk cepat.

“Bagus,” ucap Jongwoon singkat lalu mengacak-acak puncak kepala Miwoo dengan santai. Pria itu, langsung berdiri untuk beranjak ke kamarnya.

Tapi, baru dua langkah pergi, Jongwoon menghentikan langkahnya saat menyadari ada yang tidak beres pada Miwoo. Dengan cepat ia berbalik. Matanya melebar melihat apa yang dilakukan gadis itu.

Jongwoon memang tidak sadar. Tadi, ketika ia dengan santainya mengacak-acak puncak kepala Miwoo, gadis itu langsung merasakan hentakan dada yang keras. Kegugupan gadis itu, teralih dengan cepat menuju tiga kaleng soju yang tersisa di meja. Tanpa ragu, Miwoo mengambilnya satu, membuka, dan menenggaknya tidak sadar. Awalnya memang Miwoo hendak meminum lagi teh hijaunya, tapi karena minuman itu telah ia habiskan sebelumnya, Miwoo refleks mengambil kaleng soju. Gadis itu memang terlalu polos karena tidak bisa membedakan kaleng minuman yang benar.

“Ya!” teriak Jongwoon cepat menghampiri Miwoo. Ia menahan tangan gadis itu yang hendak menenggak sebuah kaleng soju. Tapi sepertinya, pria itu terlambat. Miwoo sudah terdiam bergeming. Matanya mulai tidak fokus. Jongwoon menggoyangkan kaleng itu dan nampaknya sudah setengah isinya habis. Jongwoon menghela napas.

Miwoo terkekeh sebentar. Gadis itu kemudian menoleh cepat ke arah Jongwoon yang duduk di sampingnya. Ia kini terlihat berani menatap langsung Jongwoon.

“Hei!” panggil Miwoo kepada Jongwoon dengan menepukkan kedua tangannya ke dua sisi bahu Jongwoon. “Kenapa kau membantuku?”

“Heuh?” Jongwoon menyernyitkan alis bingung.

“Iya… Kau mau membantuku… Aku kan tidak pernah meminta untuk mengambil alih lagi perusahaan yang menjadi hak-ku. Aku kan sebenarnya ingin kembali ke asramaku. Tapi, kenapa kau malah membawaku kembali ke kehidupan seperti ini, heuh?” ujar Miwoo meracau. Gadis itu memainkan rambut Jongwoon yang ada di atas telinganya. Jongwoon terdiam sambil sesekali menelan ludah. Tidak tahu mengapa, pria itu mendadak menjadi gugup.

“Aku malah terlanjur suka dengan apa yang aku lakukan tadi… Hehe… Menjadi model, sepertinya menyenangkan,” kekeh Miwoo. Jongwoon memilih diam mendengarkan ucapan aneh Miwoo.

“Aku merasa hebat… Banyak sinar yang menerangiku… Aku baru pertama kalinya merasakan bahwa aku sangatlah cantik. Khhh… Kau tahu, aku suka itu. Bahkan… Aku juga suka melihatmu, haha,” ujar Miwoo tertawa aneh. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Jongwoon.

“Aku baru melihat sebuah keindahan yang membuatku nyaman… Baru kali ini… Aku sangat senang, hehe,” kekeh Miwoo menatap langsung Jongwoon.

Kedua bola mata Miwoo yang bergerak lincah menelusuri wajah Jongwoon, membuat Jongwoon harus menelan ludah menahan napasnya yang sulit. Miwoo melakukannya tanpa sadar. Ia hanya berkonsentrasi menelusuri wajah Jongwoon yang ia sukai lekuknya, sambil tersenyum senang. Tapi beberapa detik kemudian, Miwoo mengerut tiba-tiba. Ia lalu menjauhkan wajah Jongwoon begitu saja dengan cara melepaskan tangkupan tangannya di pipi Jongwoon.

“Ah… Tapi aku tidak suka. Kau dan Rin Na eonni… Sudah saling mengenal sebelumnya,” keluh Miwoo. Ia lalu menyandarkan diri ke sofa dan memilih memejamkan matanya.

“Shin Miwoo…?” Jongwoon mengguncangkan pelan Miwoo agar bangun. Namun tiba-tiba Jongwoon kembali terhenyak kaget saat Miwoo bangun dengan cepat.

“Kau menginginkan aku untuk menjadi manager utama perusahaan itu kan? Lalu kenapa tidak secara langsung saja kau mengembalikan aku ke rumah keluargaku, lalu pada akhirnya aku kembali mendapatkan hakku di sana? Kenapa kau memaksaku untuk menjadi model di perusahaanku sendiri? Lalu, memaksa aku memakai nama lain, bukan namaku?” tanya Miwoo dengan mendongakkan wajahnya angkuh.

Jongwoon terdiam menatap Miwoo yang mulai meracau dengan ekspresi berbeda.

“Kau pasti sudah tahu sesuatu tentangku… Kau sudah tahu kan masalah tentang keluarga kami kan? Apa kau benar-benar suruhan Tuan Hyeong Sang? Aku menjadi ragu padamu karena kau nampak sengaja membuat aku bersamamu di sini?”

Jongwoon memalingkan wajah sebentar, mengusap wajahnya frustasi, lalu menghembuskan napas. Jongwoon langsung menarik tangan Miwoo untuk berdiri.

Kajja. Kau harus tidur,” ujar Jongwoon. Tapi, pria itu kembali terkejut karena Miwoo menolak bangun dari duduknya. Gadis itu menghentakkan tangan Jongwoon kasar sampai membuat Jongwoon kembali duduk di sofa.

“Apa sebenarnya maksudmu? Kelihatannya kau bukan tidak sengaja menjadi pengawalku, eoh? Kau punya suatu misi tertentu kah?” tanya Miwoo lagi memburu.

Geure, aku sengaja menjadi pengawalmu. Aku juga punya misi tertentu,” jawab Jongwoon singkat. Miwoo membuka mulutnya syok. “Kajja! Kau sebaiknya segera tidur,” ujar Jongwoon lagi kali ini menarik Miwoo dengan lebih kuat. Miwoo berdiri masih dengan termenung sendu. Ia memang sudah mabuk nampaknya. Tapi, pikirannya masih sadar.

“Sudah aku katakan kau harus hati-hati terhadap minuman seperti itu. Kau malah meminumnya. Dasar bodoh!” hentak Jongwoon sambil menuntun Miwoo memasuki kamarnya.

Miwoo menghentak kesal. Ia memberontak saat Jongwoon memapahnya memasuki kamar sehingga membuat Jongwoon melepaskan diri dari Miwoo. Gadis itu kini tengah berdiri di hadapan Jongwoon memandang pria itu dengan menuntut. Ekspresinya terlihat serius.

Arasso… Aku akan berhati-hati…,” ucap Miwoo dengan mengerucutkan bibirnya. “Tapi… Meskipun kau memiliki misi tertentu, kau tidak akan memanfaatkanku kan, Jongwoon-shii?”

Jongwoon terdiam memandang Miwoo di hadapannya. Gadis itu membulatkan matanya seolah menanti jawaban pasti. Kepala Miwoo dimiringkannya dengan pipi yang mengembung persis seperti anak kecil yang beraegyo.

“Aku tidak memanfaatkanmu. Aku hanya membantumu. Kita simbiosis mutualisme. Dengan membantumu, aku pastikan aku juga dapat menyelesaikan misiku. Jadi mulai sekarang, kau harus menuruti kata-kataku agar semua berjalan dengan baik, arayo?” jelas Jongwoon dengan tegas.

Miwoo mengangguk pelan. Ia kemudian bergerak pasrah saat Jongwoon menariknya dan membawa masuk ke kamar. Miwoo tidak melawan saat Jongwoon menjawilnya agar tidur. Miwoo menaiki ranjang perlahan, lalu ia merebahkan diri di sana. Ia membiarkan Jongwoon menyelimuti tubuhnya.

Pandangan mata Miwoo tidak sedikitpun lepas dari Jongwoon. Gadis itu masih setia menatap Jongwoon yang tersenyum usai membantu Miwoo berbaring. “Tidurlah…,” ujar Jongwoon sambil mengusap pelan puncak kepala Miwoo. Pria itu kemudian berbalik hendak pergi. Tapi, langkahnya terhenti saat Miwoo kembali bergumam tanya padanya.

“Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Rin Na eonni?”

Jongwoon tersenyum tipis.

“Hubungan kami… Hanya saling mengenal dalam satu malam singkat. Tapi mungkin… Dia saat itu melihatku dengan harapan yang berlebihan,” ujar Jongwoon singkat tanpa membalikkan badan. Seulas smirk muncul dalam raut wajahnya singkat. Ia kemudian berlalu begitu saja keluar kamar dengan meninggalkan Miwoo yang terdiam sendu dalam berbaringnya.

***

Kim Family’s Home

Jang Ri melangkah kasar memasuki rumah. Ia mengejar adiknya, Rin Na, yang telah berlalu lebih cepat di depannya. Terlihat jelas bahwa Jang Ri sangat marah pada Rin Na.

“Ya! Kim Rin Na!” teriak Jang Ri. Sampai mereka memasuki kamar Rin Na, Jang Ri berhasil menarik kuat Rin Na agar menghadapnya.

“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu?! Kenapa kau mengatakan itu padaku tadi, hah?”

Jang Ri membentak Rin Na dengan kesal. Sebelumnya, mereka sempat beradu mulut saat perjalanan menuju rumah. Rin Na mengatakan agar Jang Ri menghentikan diri mencecar gadis tadi. Rin Na selalu mengucapkan bahwa gadis tadi, bukanlah Shin Miwoo yang mereka kenal.

“Dia itu Shin Miwoo! Apa kau tidak bisa mengenalinya dengan baik?!” hentak Jang Ri lagi.

Eonni! Cukup! Dia bukan Shin Miwoo. Kau tidak dengar tadi pria itu mengatakan dia adiknya yang bernama Shin Ha Na?!”

Rin Na melangkah kasar menuju tempat tidurnya. Tapi, Jang Ri dengan cepat menghalanginya sehingga mereka masih bisa berbicara sambil berdiri.

“Ya! Kenapa kau jadi seperti ini, hah? Sudah jelas-jelas tadi itu Shin Miwoo. Kau yakin itu kan? Dia, Shin Miwoo! Kita bisa membawanya pulang kalau saja kau tidak sebodoh tadi membiarkan pria itu membawanya pergi!”

“Sudah cukup eonni. Tidak usah mengurusi soal Shin Miwoo lagi. Kau tidak lihat pria itu tadi sudah membawanya? Dia bilang gadis itu adik angkatnya, eonni! Bukan Shin Miwoo!”

“Ya! Ada apa denganmu?! Kenapa kau jadi percaya pada pria itu hah? Kau tadi juga tiba-tiba menjadi tidak berkutik hanya dengan melihat pria itu. Ada apa sebenarnya? Apa kau mengenal pria itu? kau mengenalnya, eoh?” tuntut Jang Ri dengan pertanyaannya.

Ainya! Aku tidak mengenalnya!” elak Rin Na langsung berbalik untuk memilih menghindar.

“Ya! Katakan sesuatu padaku, Rin Na! Tidak biasanya kau luluh dengan mudah pada orang. Apa kau mengenal pria itu? Kenapa kau kelihatan takut tadi padanya, hah?” Jang Ri kembali menarik lengan Rin Na untuk menghadapnya kembali.

Eonni! Sudah cukup!”

“Cukup bagaimana? Ini tidak bisa dibiarkan. Pasti kau membiarkan pria itu membawa Shin Miwoo karena ada alasan tertentu. Apa itu? Katakan padaku!”

Ainya eonni! Tidak ada alasan apapun! Itu bukan Shin Miwoo dan gadis itu pasti sudah mati!”

“Shin Miwoo masih hidup!”

“Ya, eonni! Apa eonni lupa kalau seandainya Shin Miwoo itu kembali ke rumah ini, ia akan menjadi pewaris sah dan semua harta di sini akan kembali ke tangannya?! Dan eonni tidak lupa kan apa yang terjadi setelah itu? Ayah akan dipenjara untuk menebus semuanya! Eonni mau Ayah dipenjara?” teriak Rin Na balik yang membuat Jang Ri menganga tidak percaya.

“Apa maksudnya ini?”

Sebuah suara menginterupsi pertengkaran dua saudara perempuan itu. Mereka kompak menoleh ke arah pintu dimana adik laki-laki mereka sudah berdiri disana. Jaejoong, ia menatap bingung kedua kakaknya yang tadi berteriak-teriak di rumah itu. Jaejoong dengan cepat melangkah mendekat.

“Apa yang noona katakan? Apa benar itu? Shin Miwoo masih hidup? Lalu, apa maksudnya jika Shin Miwoo menjadi pewaris sah maka Ayah akan dipenjara untuk menebus kesalahannya? Begitu?” tanya Jaejoong memburu.

“Jaejoong-ah…,” lirih Jang Ri kepada adiknya itu.

“Jelaskan padaku noona!!” teriak Jaejoong tidak sabar. Jaejoong menatap bergantian pada Jang Ri dan Rin Na dengan napas yang tersengal-sengal. Pria itu, kini merasakan emosinya yang hendak ia kontrol sebisa mungkin agar tidak meledak dengan menarik napas sekuatnya.

***

“Ibu yang mengatakannya. Alasan Ibu tidak pernah setuju kedatangan Shin Miwoo sejak awal dan tidak setuju dengan niat Ayah membawanya pada keluarga ini adalah karena itu, karena Ibu tidak mau melihat Ayah dipenjara.”

Jaejoong terdiam mendengarkan penjelasan singkat dari Jang Ri. Ia tidak habis pikir dengan semua niatan ayahnya yang mempersulit dirinya sendiri demi seorang Shin Miwoo. Mereka bertiga kini duduk di sofa dan kursi dengan berhadapan di dalam kamar Rin Na.

“Pengacara Jang sudah memutuskan bahwa kesalahan kakek kita, dapat ditebus dengan pengorbanan Ayah. Meskipun tidak sepenuhnya merupakan kewajiban Ayah, karena Ayah dapat mengganti hukuman dengan membayar denda, tetap saja, Ayah ingin menebus kesalahan itu,” lanjut Jang Ri.

“Itulah sebabnya Ibu memaksakan secepatnya kau mendapatkan wewenang di perusahaan Jaejoong-ah. Karena ibu ingin menghentikan semuanya. Ibu mencoba menarik perhatian para investor untuk keberadaanmu…,” lanjut Rin Na.

“Dan kami tidak pernah memberitahukan padamu soal ini karena kami tahu, kau adalah pendukung setia keputusan Ayah,” tambah Jang Ri.

Jaejoong menoleh ke arah Jang Ri perlahan. Ia menyernyit heran akan kalimat Jang Ri yang mengatakan bahwa ia adalah pendukung setia keputusan Ayahnya. “Apa kau pikir noona tidak tahu bahwa kau sangat menyayangi Ayah? Kau satu-satunya yang bisa mempercayai keputusan Ayah. Kau putra kesayangan Ayah. Maka dari itu, kami sengaja mengarahkanmu selama ini untuk bisa menolak keputusan Ayah,” lanjut Jang Ri.

Jaejoong terdiam. Rin Na yang duduk di samping Jaejoong, perlahan mengusap lengan Jaejoong memberikan sedikit ketenangan. Ia nampak khawatir Jaejoong tidak menerima apa yang tengah terjadi di keluarga mereka.

“Pasti ada alasan bagi Ayah mengapa ingin mengorbankan diri seperti itu…,” gumam Jaejoong. Jang Ri dan Rin Na menyernyit bingung bersamaan. Mereka menatap bingung Jaejoong. Sedetik kemudian, Jaejoong mendongak menatap bergantian kedua kakaknya.

Noona, jelaskan lagi soal tadi. Apa Shin Miwoo benar-benar masih hidup?”

Jang Ri lalu mengubah ekspresi tenangnya menjadi kesal kembali. Ia melirik sinis pada Rin Na yang kini tengah menundukkan kepalanya.

“Dia masih hidup. Kami barusan menemui gadis itu. Tapi sayangnya, Kim Rin Na yang bodoh itu malah tidak membantu noona dan membiarkan saja gadis itu pergi dibawa seorang pria begitu saja!” ketus Jang Ri.

Jaejoong sontak menoleh ke arah Rin Na yang sedang menundukkan wajah takut. Jaejoong tahu Rin Na saat ini sedang tidak dalam keadaan baik. Ia melihat jelas raut khawatir serta kulit wajah Rin Na yang memucat.

Noona, ada apa? Jelaskan pada kami… Kau ketakutan. Aku tahu itu…,” ujar Jaejoong dengan lembut. Ia lalu meraih tangan Rin Na yang menutupi wajahnya sendiri. Rin Na menggeleng.

“Katakan noona. Apa ada hubungannya dengan pria yang dikatakan Jang Ri noona? Katakan padaku. Siapa nama pria itu dan ada apa dengannya berkaitan denganmu?”

Rin Na masih menggeleng lalu berusaha menghindari Jaejoong. Ia mulai memberontakkan tangannya yang berada dalam genggaman Jaejoong.

“Pria itu membisikkan sesuatu pada Rin Na dan saat itu aku melihat raut wajah dia berubah menjadi memucat,” jelas Jang Ri menambahkan. Gadis itu masih intens memandangi Rin Na yang mulai panik.

Noona! Ceritakan padaku!” teriak Jaejoong keras tepat di hadapan wajah Rin Na. Seketika gadis itu mendongak lalu memandang Jaejoong sendu. Sedetik kemudian, ia mulai mengeluarkan tangisannya dengan keras.

“Huaaa… Jaejoong-ah…!! Noona benci dia…!! Dia telah menghancurkan harga diri noona….”

Jaejoong membelalak kaget bersamaan dengan Jang Ri. Rin Na yang menangis keras itu, hanya bisa memukuli pahanya sendiri dengan kesal sambil merengek.

***

Agent Production

Miwoo terbengong dengan pandangan mata yang kosong. Ia kini duduk di kursi tunggu, menunggu giliran pemotretannya. Gadis itu hanya bisa mendengar samar kesibukan studio yang terdengar semrawutan.

Ini pekerjaannya di hari keduanya di studio perusahaannya sendiri. Tadi pagi, Miwoo memang terbangun dengan kepala sedikit sakit. Tapi, ia masih mengingat bahwa ia tadi malam mabuk. Satu hal penting lagi yang ia ingat, ucapan Jongwoon yang kini masih terus terngiang di pikirannya.

Pandangan Miwoo kini fokus ke salah satu pria yang duduk di hadapannya. Tidak begitu jauh. Hanya dua meter lebih. Pria itu, Jongwoon, asyik menenggak minuman kopi dengan kaki melebar tapi pandangan juga ke arah Miwoo. Tatapan mereka beradu.

“Apa ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Jongwoon tanpa mempedulikan seorang penata rias yang tengah sibuk menggeluti rambut Miwoo.

Miwoo menggeleng pelan. Tapi, matanya tidak berhenti memandang Jongwoon. Setelah penata rias itu menyelesaikan pekerjaannya, ia berpamitan sebentar pada Miwoo lalu mengatakan juga bahwa lima menit lagi bersiap pemotretan.

“Sejak tadi kau terus memandangiku dengan tatapan aneh seperti itu. Apa ada sesuatu yang salah denganku?” tanya Jongwoon setelah penata rias itu pergi. Miwoo menggeleng lagi.

Jongwoon menghela napas. Ia merasa tidak perlu memedulikan apa yang terjadi terhadap Miwoo. Gadis itu, sepertinya memang tidak ingin mengatakan kegusarannya. Jongwoon malas mencari tahu atau memaksa tahu. Ia akhirnya hanya menopangkan kaki dan melanjutkan minum dengan santai.

“Aku hanya bisa mempercayaimu Jongwoon-shii…,” ujar Miwoo lirih membuat Jongwoon teralih menatap gadis itu bingung. “Aku tidak tahu apa misi tertentumu. Tapi, aku tidak peduli karena… Aku memiliki harapan agar bisa mendapatkan hak-ku di sini kembali tanpa terjadi pengorbanan dan permasalahan lagi. Aku hanya tidak ingin siapapun terluka….”

Jongwoon menyernyitkan alisnya bingung.

“Tidakkah hentikan saja melakukan pekerjaan ini? Aku akan kembali ke keluargaku itu, lalu tinggal bersama mereka dan mengelola perusahaan ini bersama…”

“Khh…” Jongwoon terkekeh langsung yang membuat Miwoo mendongak bingung. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Jongwoon terkekeh mendengar ucapannya.

“Kau ingin kembali tinggal pada keluargamu itu? Kau yakin mau hidup bersama mereka? Bukankah mereka dulu hendak membunuhmu? Atau…kau bahkan tidak tahu kalau keluarga itulah yang terlibat dalam kematian kedua orang tuamu?” tanya Jongwoon sarkatis. Sontak Miwoo membelalak kaget. Ia memandang Jongwoon kaku.

“Kau pikir aku tidak mencari tahu tentangmu sebelumnya? Aku tahu kisah keluargamu. Ayahmu, dan ibumu… mereka yang mati terbunuh oleh anggota keluargamu sendiri… Tidakkah kau ingin tahu kelanjutan cerita kedua orang tuamu itu?” Jongwoon tersenyum smirk.

“Ha Na! Shin Ha Na!”

Teriakan seseorang menginterupsi kemelut yang berlangsung dalam percakapan mereka.

“Ayo cepat kau lihat! Majalah yang terbit dengan menampilkan cover-mu itu menjadi sorotan berita!” Miwoo hanya terdiam bahkan saat seseorang yang memanggil itu menariknya berlalu, Miwoo masih diam saja menatap kosong ke Jongwoon.

Jongwoon membiarkan Miwoo berlalu menjauh darinya. Ia menghela napas sejenak lalu akhirnya bangun mngikuti langkah kemana Miwoo dibawa pergi.

***

Agent Production. Perusahaan yang mengelola banyak entertainer-entertainer profesional kini melahirkan kembali model baru mereka. Foto seorang model baru yang menampilkan sisi keanggunan dan kesucian hati seorang wanita menjadi sorotan hangat publik saat ini. Banyak diantara warga mencari majalah yang terbit kemarin ini. Pasalnya, cover depan majalah itu mengundang penasaran masyarakat tentang model baru tersebut…

Miwoo menganga bingung melihat kilasan berita singkat di layar televisi dalam studio. Beberapa kru nampak terkekeh dan senang melihat berita itu. Jongwoon menyernyitkan alisnya sambil melangkah mendekat ke belakang Miwoo. Ia melipat kedua tangannya serius memperhatikan ulasan berita tadi.

“Ha Na-shii… Cukkae… Kau nampaknya sangat beruntung… Kau memang hebat…,” seru beberapa orang dibelakang Miwoo. Mereka bergantian menyalami Miwoo.

Dae Goo, dengan senyum lebarnya menepuk pundak Miwoo bangga. Ia kemudian menatap senang Miwoo seraya berujar, “ini permulaan yang bagus nona. Berusahalah agar karirmu semakin baik! Tetap tampilkan ekspresi suci dan polosmu itu. Fighting!”

Miwoo menelan ludahnya syok. Ia tidak menyangka akan menjadi begitu berlebihan reaksi keberadaannya dalam dunia seperti itu. Miwoo menarik gaun yang dikenakannya hingga mengepal keras pada tangannya. Jongwoon tersenyum lalu mendekat ke arah Miwoo.

“Awal yang bagus, ne?” bisik Jongwoon. Miwoo menoleh ke arah Jongwoon. “Kau tunggu saja beberapa waktu lagi. Pastinya, akan ada pihak pimpinan, entah Presdir Kim atau puteranya, yang akan menemuimu. Saat itu, aku harap kau mengerti apa yang harus kau lakukan. Bersikaplah menjadi Shin Ha Na.”

Jongwoon berlalu meninggalkan Miwoo yang bergeming. Gadis itu perlahan menoleh ke samping. Ia menatap punggung Jongwoon yang berlalu. Entah kemana tapi yang jelas, gadis itu tiba-tiba merasa sesak.

Kemarin ia baru saja merasakan sosok hangat seorang Kim Jongwoon yang baru ia kenal itu. Tapi, hari ini, keadaan menjadi berubah. Kim Jongwoon, memang hanya seorang pengawal. Terbukti sikap dingin pria itu mulai nampak pada Shin Miwoo.

***

Jongwoon menelusuri jalan depan gedung utama Agent Production. Ia melangkah biasa namun matanya tetap memutar ke sekeliling waspada. Jongwoon berjalan sambil melipat kedua tangannya. Ia menuju tempat penyebrangan di lampu lalu lintas.

Setelah tanda hijau bagi pejalan kaki, Jongwoon mulai menyebrangi jalan itu sampai berhenti di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari gedung Agent Production. Sebuah kafe sederhana yang bertema cokelat. Ia memasuki kafe dengan langkah tanpa ragu.

Mata Jongwoon menelusur sekitar tempat itu. Ia akhirnya menemukan seseorang yang ia cari. Seseorang yang berada di sebuah tempat duduk dekat kaca luar kafe, yang sedang sendirian membelakanginya. Jongwoon memastikan sebentar dengan membaca pesan dalam ponselnya. Setelah dirasa yakin, ia menuju seseorang itu.

Langkah Jongwoon berhenti tepat di samping orang itu, seorang pria paruh baya yang tengah menyesapi kopi hangatnya sendiri. Ia terhenyak kaget mendapati Jongwoon telah berdiri di sampingnya. Dengan senyum khas yang nampak berwibawa sekaligus memesona, pria itu mempersilahkan Jongwoon duduk. Jongwoon membungkukkan badannya lalu duduk dengan santai.

“Anda Tuan Kim Jongwoon-shii?”

Ne. Saya Kim Jongwoon-shii. Ada apa Tuan meminta bertemu denganku?” tanya Jongwoon sopan dan formal. Sebelum menjawab, pria itu memanggilkan seorang pelayan untuk membawakan minuman untuk Jongwoon. Dengan senang hati, Jongwoon menerima minuman itu yang ternyata telah dipesan terlebih dahulu sebelum ia datang.

“Perkenalkan. Saya Kim Han Woon. Saya adalah sekretaris peribadi, sekaligus kaki tangan kepercayaan Tuan Kim Hyeong Sang,” ujar pria itu memperkenalkan dirinya di hadapan Jongwoon. Tangannya terulur untuk menunggu Jongwoon menyambutnya. Meskipun awalnya ragu, tapi kemudian Jongwoon menerima sambutan tangan pria itu, Kim Han Woon.

“Ada apa Tuan hendak menemui saya? Apa Tuan sudah mengetahui sesuatu tentang saya berkaitan Tuan Hyeong Sang?” tanya Jongwoon tegas. Raut wajah pria itu nampak datar dan tidak terlukiskan sedikitpun kegusaran atau kekhawatiran.

Ne. Saya mengetahui bahwa Anda adalah suruhan Tuan Hyeong Sang untuk menjaga pewaris perusahaannya. Namun, saat terjadi sebuah insiden kecelakaan, pewaris perusahaan itu, menghilang dan masih belum diketahui Tuan Hyeong Sang keberadaannya. Jadi, saya menghubungi Anda untuk meminta bantuan,” jelas Han Woon.

“Meminta bantuan?” tanya Jongwoon dengan ekpresi dibuat terkejut. Pria itu begitu lihai menampilkan banyak ekspresi bohongnya. Entahlah apa memang dia memang ahli dalam berakting. Tapi yang jelas, Jongwoon memang menahan ledakan tawa di dalam hatinya karena puas bahwa keberadaan dirinya yang telah bersama Shin Miwoo tidak diketahui sedikitpun.

Ne. Tuan Hyeong Sang telah menjelaskan pada Anda kan, siapa pewaris itu? Nona Shin Miwoo, seorang gadis yang berasal dari Incheon, yang merupakan cucu tunggal Shin Ah Hyun, pendiri utama perusahaan itu. Nona Shin Miwoo, adalah calon biarawati sebuah asrama dan sekolah khatolik di Incheon, St. Sincere,” jelas Han Woon.

Ne. Aku sudah tahu banyak tentangnya. Tapi, apakah ini tidak aneh? Kenapa kalian memintaku menemukannya? Ini kan bukan bagian dari pekerjaanku… Tidakkah kalian mencoba mencarinya? Di asramanya dulu mungkin? Siapa tahu dia memang ke sana?” tanya Jongwoon mengangkat kedua alisnya berekspresi bingung.

“Aku sudah mencari langsung ke St. Sincere. Tapi, Suster Kepala di sana mengatakan Shin Miwoo belum kembali. Yang aku khawatirkan nona sudah meninggal akibat kecelakaan itu. Tapi, jikalau pun memang meninggal, kami ingin ada bukti jelas tentang itu,” jawab Han Woon menjelaskan. Jongwoon menggidikkan bahu acuh.

“Tapi ini kan bukan tugasku…,” lirih Jongwoon malas. Ia kemudian menyusup minuman kopi dinginnya dengan santai.

“Kumohon Jongwoon-shii… Kami membutuhkan bantuan orang-orang seperti kalian dalam hal ini… Kami siap membayar berapa pun yang kalian minta asal kepastian kabar nona Shin Miwoo cepat kami dapatkan…,” jelas Han Woon memohon.

Jongwoon menarik salah satu sudut bibirnya. Ia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit dengan kedua tangan di atas meja. Kini ia terlihat angkuh dan tersenyum puas.

“Sebenarnya membantu seperti ini tidak masalah bagiku. Hanya mendeteksi keberadaan seorang gadis kecil yang mudah. Tapi, aku mau minta bayaran khusus darimu sebagai persyaratan,” ujar Jongwoon sambil tersenyum seduktif. Han Woon menatap bingung pada Jongwoon.

“Kau adalah orang kepercayaan Kim Hyeong Sang. Tidak menutup kemungkinan kau akan mudah mendapatkan informasi apapun. Aku hanya meminta satu hal. Kebenaran tentang dosa yang telah leluhur keluarga itu lakukan… tentang kisah Shin Ah Hyun… dan kaitannya dengan seseorang yang bernama Kim Jin Ahn,” ujar Jongwoon tersenyum. Sejenak Han Woon memandang Jongwoon penuh tanda tanya. Tapi kemudian, ia langsung menarik napas dan mengucapkan jawaban atas pengajuan Jongwoon.

“Maksud permintaan Anda, Jongwoon-shii? Saya… tidak begitu mengerti…,” ujar Han Woon dengan mengerutkan alis.

“Seperti tadi yang aku katakan. Aku hanya meminta kebenaran. Kebenaran itu berupa informasi penting dari kisah yang berkaitan antara Shin Ah Hyun dengan Kim Jin Ahn, Ayahku.”

“Memangnya… Apa yang terjadi antara Tuan Ah Hyun dengan Ayahmu…?”

“Ayahku Kim Jin Ahn, adalah bodyguard sekaligus pembunuh bayaran keluarga besar Kim sejak 25 tahun yang lalu… Dan aku, kini ingin mencari tahu penyebab pasti kematian Ayahku yang berkaitan dengan keluarga besar Kim dan keluarga besar Shin… Jadi, boleh kan aku mengetahui itu semua? Itu satu-satunya permintaanku.”

“Ba…baiklah. Mencari kebenaran dan informasi di dalam keluarga Kim memang tidak sulit bagiku. Akan tetapi, sekalipun aku tahu sesuatu, aku tidak akan dengan mudah memberitahu Anda karena bisa saja Anda memiliki maksud tertentu. Seperti misalnya…mencelakai keluarga Kim.”

“Khhh… Kau bisa menjamin adikku. Shin Jung Yi. Dia satu-satunya keluargaku di Incheon,” elak Jongwoon sambil terkekeh.

“Aku sangat menyayanginya…,” lirih Jongwoon kemudian dengan ekspresi sendunya. Tidak bisa dipungkiri, setiap kali ekspresi yang ditampilkan Jongwoon, Han Woon selalu merasa yakin dan percaya kata-kata pria itu.

“Bagaimana?” lanjut Jongwoon bertanya dengan tersenyum tipis.

“Baik, Tuan. Aku akan memberikan informasi yang kau minta itu jika Anda telah mengetahui keberadaan nona Shin Miwoo,” jawab Han Woon menyanggupi. Jongwoon tersenyum lebar. Refleks pria itu mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Han Woon.

“Jika Anda telah menemukan nona, aku harap Anda bisa menjaga dan mengawasi nona.”

“Serahkan padaku,” ucap Jongwoon yakin.

***

Miwoo baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Setelah mengganti pakaiannya, ia merapikan barang-barangnya ke dalam tas lalu bersiap pulang. Namun, kegiatannya terhenti setelah menelusuri sekelilingnya, tidak ada Jongwoon di sekitarnya.

Miwoo mulai cemas. Ia baru menyadari kepergian Jongwoon terlalu lama. Sama sekali gadis itu tidak tahu kemana Jongwoon pergi. Miwoo memutuskan melangkah keluar studio dengan perlahan masih sambil menelusur sekitar.

“Eoh, Shin Ha Na! Kau mau pulang…?”

Seorang kru studio datang melewati Miwoo yang sedang berjalan pelan. Miwoo langsung menjawab dengan mengiyakan pertanyaan itu. Ia menunduk untuk menyapa hormat kepergian kru itu. Miwoo memilih bergeming sejenak.

“Hei, kau mau pulang, eoh?” tanya seseorang lagi dengan menepuk pelan pundak Miwoo. Gadis itu terhenyak kaget lalu menoleh cepat. Dua orang kru datang mendekat ke arah Miwoo.

“Ah, i…iya,” jawab Miwoo kikuk.

“Mana kekasihmu itu? Tidak menjemput dan menemanimu hari ini?” tanya salah satunya.

De?” Miwoo melebarkan matanya saat menjawab dengan bingung tadi.

“Hei… Pria itu managernya…,” ralat satu kru lainnya yang terlihat lebih muda. “Bukan kekasih, eoh?” tambahnya bertanya. Miwoo terdiam bingung kemudian mengangguk ragu.

“Nah, kan! Aku benar,” ujar kru yang terlihat lebih muda itu dengan senang.

“Asik… Kalau begitu… Kami masih punya kesempatan denganmu kan, Ha Na-shii…,” goda satu kru yang terlihat lebih tua itu.

“Eii, tidak bisa… Ha Na-shii tidak akan mungkin memilih pria beristri seperti kau. Pantasnya ia memilih aku yang masih lajang… Benar kan, Ha Na-shii?”

Mereka tertawa bersamaan. Miwoo hanya menyernyitkan kedua alisnya menampilkan ekspresi prihatin. Sama sekali ia tidak berniat meladeni dua orang ini. Akan tetapi, ia nampaknya kesulitan untuk pergi menghindar. Saat merasa ada jeda baginya untuk bicara, Miwoo segera berpamitan.

“Ah, Maaf. Bang Yu ahjusshi, Han Kang-shii, aku harus pergi sekarang… Permisi…,” ujar Miwoo membungkukkan badan hormat. Ia kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan kebingungan dua orang itu.

***

Miwoo melangkah dengan cemberut. Ia sesekali menendang kesal serpihan batu kecil ketika berjalan menuju halte bus. Bibirnya mengulum maju. Tangannya memegangi tali tas slempangnya yang terlihat serasi dengan penampilannya. Gadis itu kini mengenakan pakaian casual, sebuah celana jeans dan blouse putih panjang menutupi pinggulnya. Terlihat cantik namun tetap trendy.

Entah mengapa, Miwoo merasa kesal karena ulah Jongwoon kali ini padanya. Tanpa berbicara atau mengatakan apapun, Jongwoon meninggalkannya begitu saja di studio dan belum kembali sampai gadis itu mau pulang. Bahkan, ia kini terpaksa harus menaiki bus umum sendirian.

Miwoo duduk menunggu bus datang di halte setelah melepas tas slempangnya di sampingnya duduk. Pandangan gadis itu lurus namun menyebar dan tidak fokus ke satu hal. Miwoo terlihat tidak menaruh curiga atau was-was dengan keadaan sekelilingnya. Padahal, dari jarak yang cukup jauh, sebuah mobil audie nampak bergerak mendekati gadis itu dengan tanpa sadar. Mobil itu bergerak membelok dari arah berlawanan, lalu mulai sedikit menepikan diri di seberang halte dimana Shin Miwoo berada.

Miwoo yang masih menoleh sekeliling dengan santai, memang tidak tahu bahaya yang mengancamnya. Dari kaca mobil itu yang perlahan diturunkan hingga setengah terbuka, muncul wajah berkacamata hitam yang mengangkat sedikit tangannya. Dari balik kaca itu, terlihat sebuah benda yang merupakan senjata pembunuh tanpa jejak dalam jarak jauh.

Sebuah pistol. Ujung pistol itu ia sampirkan ke atas kaca mobil. Miwoo, masih tidak sadar. Bahkan ketika pistol itu nampak mengikuti gerakan dirinya yang membantu seorang anak kecil yang terjatuh di hadapannya, ia masih tidak sadar. Sampai akhirnya, jemari telunjuk pemegang pistol itu menekan pelatuk pistolnya, Miwoo masih tidak sadar. Peluru melesat mudah dari cerobong ujung pistol usai jemari itu menekan pelatuknya.

Dor!

Seperti perkiraan sejak awal. Bahaya memang mengintai Shin Miwoo setelah ia diketahui merupakan seorang pewaris utama perusahaan besar itu. Entah oknum apa yang melakukannya, yang jelas, gadis itu kini… dalam bahaya.

***

Jongwoon melangkah angkuh sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia sesekali tersenyum seduktif dan merasa menang ketika mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Sebuah strategi pertamanya berhasil. Ia mendapatkan seseorang yang mungkin bisa dimanfaatkan. Seseorang yang sangat dekat dengan keluarga itu, dan mampu bergerak di dalamnya. Kim Han Woon.

Jongwoon berhenti di tempat penyebrangan. Ia melihat lampu pejalan kaki masih merah dan waktu yang bergulir nampaknya masih lama. Pria itu kemudian berinisiatif melakukan sesuatu. Kebiasaan kesukaannya.

Jongwoon mengeluarkan sebuah kotak penyimpan rokok dari sakunya. Dengan gerak cepat dan lihai, Jongwoon mengambil korek api praktis dari saku jasnya, lalu menyalakan putung rokok itu. ia menghisapnya dengan santai sambil menunggu menyebrang.

“Uhuk! Uhuk! Ya! Ahjusshii! Jangan merokok sembarangan di tempat umum dong!” seru seorang pelajar yang berdiri di samping Jongwoon. Ia menatap kesal ke arah Jongwoon sambil berusaha bernapas dalam kesesakkannya terhadap asap rokok.

Jongwoon sekilas terdiam menatap anak itu. Seorang gadis kecil yang terlihat manis dengan seragam sekolahnya. Di dalam benak Jongwoon, ia langsung mengingat sesuatu yang penting baginya. Ya, gadis kecil itu secara tidak langsung mengingatkannya pada Shin Jung Yi. Menatap sendu pada gadis itu, sambil tersenyum, membuat pikiran Jongwoon seketika menjadi melarut dalam ketenangan sejenak.

Dengan pasrah, Jongwoon menghentikan merokok. Ia membuang putung rokoknya yang belum sepertiga ia hisap, lalu menginjaknya. Bara api mati. Gadis kecil itu memperhatikan Jongwoon dengan bingung dan mata yang membesar. Tapi Jongwoon, malah tersenyum lembut sampai akhirnya lampu tanda menyebrang menyala. Mereka kemudian melangkah ke seberang jalan.

Jongwoon mengedarkan pandangannya meski tetap terlihat berjalan gagah. Ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum kecil saat melihat seorang gadis yang ia kenali di halte seberang jalan itu. Sedikit lagi, ia mencapai seberang jalan lalu bisa melangkah ke halte itu yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat penyebrangan.

Shin Miwoo. Gadis yang dilihat Jongwoon itu kali ini, menurut Jongwoon begitu indah. Entah apa yang terjadi dalam pikirannya, tapi mata pria itu fokus melihat ekspresi suci Miwoo. Ketenangan dan kehangatan yang sejak awal tadi ia rasakan di dadanya, memaksa jantungnya meletup-letup pelan saat memperhatikam Miwoo.

Jongwoon semakin melebarkan senyumnya ketika melihat Miwoo, nampak membantu seorang anak kecil yang terjatuh di hadapannya. Dengan cekatan dan lembut, Miwoo mengangkat anak kecil itu dan menenangkan tangisnya. Ketika sang ibu bocah itu menghampiri Miwoo lalu berterima kasih, Jongwoon telah sampai di seberang jalan.

Akan tetapi, saat tanpa sengaja Jongwoon mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia menangkap sebuah mobil audie hitam dimana kaca belakang mobilnya mengeluarkan ujung pistol yang siap melesatkan pelurunya. Jongwoon menghentikan langkahnya. Ia semakin membelalakkan mata ketika menyadari kemana arah pistol itu akan berakhir menyemburkan pelurunya.

Jongwoon berlari refleks dengan kecepatan sekuat mungkin. Ia tidak ingin berakhir apa yang ada di hadapannya. Gadis itu, Shin Miwoo. Entah mengapa Jongwoon sangat tidak rela jika terjadi sesuatu padanya. Jongwoon, tanpa sadar merasakan ketakutan dipuncak nyali di bagian ujung kehidupannya. Sesak, dan takut. Sambil berlari, Jongwoon berharap tidak terlambat.

“Shin Miwoooo!!!!”

Dor!

Srakk… Duak!

Jongwoon sedikit bernapas lega dapat mendorong Miwoo di saat yang tepat. Mereka sempat terseret jalan sepanjang satu meter lebih hingga berakhir menubruk tiang halte. Jongwoon meringis sebentar karena ia yang menjadi penopang tubuh Miwoo hingga memaksa bagian kiri tubuhnya menyeret jalanan aspal itu.

“Kyaaa…!”

Sontak teriakan dan kekacauan langsung terjadi dalam persekian detik. Teriakan pantas terjadi karena terdapat aliran darah yang mengalir bebas di permukaan lantai halte. Miwoo yang baru saja bangun terkejut, harus menutup mulutnya panik ketika melihat seorang pria paruh baya yang tadi berdiri di belakangnya. Pria itu, tewas seketika dengan darah yang keluar berasal dari perutnya. Sepertinya tembakan yang tadi seharusnya mengarah padanya, malah bersarang pada pria paruh baya itu.

“Kyaaa….!”

Keributan itu sontak mengundang banyak mata mengalihkan pandangan. Kendaraan-kendaraan bahkan mendadak berhenti hanya sekedar ingin tahu apa yang terjadi. Kemacetan langsung terjadi dalam hitungan detik.

Tidak mau berlama-lama terlibat urusan rumit, Jongwoon langsung menarik cepat Miwoo untuk berdiri. Mereka langsung berlari menjauhi kerumunan. Jongwoon melepaskan jasnya dan menutupi Miwoo dengan cepat ketika melihat ada orang yang memotret mereka. Entah apakah mereka dapat tertangkap kamera. Yang jelas, Jongwoon berharap gambar mereka tidak tertangkap jelas.

Jongwoon semakin berlari panik dan menarik Miwoo ikut berlari juga ketika melihat tiga atau bahkan empat orang berjas hitam dan berkacamata, mengejar mereka. Keributan dan teriakan tetap berlangsung. Bahkan semakin keras ketika Jongwoon menabrak asal banyak orang-orang berlalu lalang hanya demi menghindar dari kejaran itu.

“Ah!”

Tidak sengaja Jongwoon menoleh ke Miwoo. Gadis itu baru saja berteriak singkat karena jas yang menutupi kepalanya tadi tersikap dan terjatuh. Jongwoon menarik terus Miwoo, sehingga memaksa jas Jongwoon dibiarkan saja terjatuh. Para pengejar itu masih di belakang mereka.

Akan tetapi, ketika masih berlari dengan napas yang tersengal-sengal, Jongwoon terkejut saat di depannya nampak petugas keamanan setempat mendatanginya. Nampaknya, petugas itu memang merasa harus menangkap Jongwoon dan Miwoo karena menyebabkan keributan.

“Aish, sial!”

Jongwoon memelankan larinya sejenak. Tapi sedetik kemudian ia telah memutuskan hendak berlari ke arah mana. Jongwoon memilih berlari lagi dengan lebih kencang ke arah petugas keamanan.

“Yak!”

Miwoo berteriak refleks karena ia sangat terkejut. Baru saja ia mendapatkan dua detik waktu untuk mengambil napas, Miwoo dipaksa harus berlari lagi. Kali ini bahkan lebih cepat rasanya. Miwoo membelalak saat merasakan lari mereka semakin lama, semakin dekat dengan petugas keamanan di hadapannya. Lalu, ketika jarak kurang dari setengah meter, Jongwoon melepaskan pegangan tangannya ke Miwoo.

Trap!

Duak!

Miwoo semakin melebarkan matanya ketika melihat petugas keamanan itu tersungkur jatuh. Tidak sampai lebih dari satu detik, saat Jongwoon menubruk petugas itu, Jongwoon berhasil menjatuhkannya begitu saja. Jongwoon, tadi memang telah menyiapkan ancang-ancang untuk meruntuhkan petugas keamanan itu. Dengan gerakan cepat, Jongwoon menubruk petugas itu dan mendorong keras tubuhnya sementara tangannya yang satu lagi meraih cepat pistol di tangan petugas itu.

“Ayo!”

Miwoo terhenyak kaget lagi ketika Jongwoon langsung menarik tangannya kembali berlari. Kali ini, ia merasakan jeratan tangan Jongwoon lebih keras. Bahkan, sesekali Miwoo menundukkan kepalanya takut ketika Jongwoon sengaja melemparkan tembakan ke udara. Sontak teriakan pejalan kaki menjadi sorotan dan memulai keributan lagi.

“Jongwoon-shii…!” teriak Miwoo.

Jongwoon menoleh sedikit ke arah Miwoo yang berteriak memanggilnya. Memang benar, Miwoo memanggil Jongwoon bermaksud memberitahu pria itu, bahwa pengejar mereka saat ini sudah berada dalam jarak yang dekat. Miwoo memandang takut Jongwoon.

Jongwoon menarik napas sambil berlari kecil, seraya mengumpulkan kembali usahanya lagi. Ia langsung menarik Miwoo lebih kuat, dan mempercepat larinya lagi. Jongwoon melihat secercah ide mendadak ketika melihat sebuah gedung tidak jauh darinya. Gedung pusat perbelanjaan yang pastinya akan banyak sekali orang-orang di dalamnya yang dapat membantu Jongwoon mengalihkan perhatian pengejar mereka itu.

***

Agent Production

Jaejoong membuka pintu ruangannya dengan tidak santai. Cukup kasar, tapi ia tidak sampai menutup pintu itu sampai membuat bunyi bedebum. Ia hanya membukanya kasar.

Jaejoong berdiri di hadapan mejanya seraya berkacak pinggang. Terlihat sekali ekspresi wajahnya kini menahan marah. Jaejoong melepas jasnya kesal, kemudian, ia melemparnya asal. Terakhir, ia melonggarkan dasinya dengan marah.

“Ahhh!!” Helaan keras Jaejoong terlontar sebagai ekspresi kekesalannya.

Sajangnim…,” panggil sekretaris Jaejoong yang sejak awal memang telah berdiri di belakang pria itu.

“Aku tidak mau tahu. Katakan pada Presdir agar tetap menandatangani usulan proyek itu! Aish,” kesal Jaejoong.

“Baik, Sajangnim…,” sahut sekretaris itu.

“Cepat kau keluar!”

“Ah, baik Sajangnim….”

Brak!

Pintu tertutup menandakan sekretaris itu telah keluar dari ruangan Jaejoong. Pria itu menghela napas keras lalu mengerang frustasi. Sepertinya kekesalannya masih berlanjut. Jaejoong masih mengacak-acak rambutnya sambil bertolak pinggang.

“Aish! Apa-apaan sih yang dilakukan Ayah?!” gerutu Jaejoong berteriak sendiri. Ia kemudian berpindah gerakan berkacak pinggangnya sambil menggigit bibir bawah.

“Shin Miwoo… Shin Miwoo… Shin Miwoo….”

Brak!

Jaejoong mengerang menyebut nama Shin Miwoo hingga berakhir menggebrak meja.

“Ayah benar-benar sudah melewati batas. Hanya karena gadis itu Ayah bersikap acuh pada perusahaan? Aish! Mau sampai kapan ini berlangsung… Ck!” keluh Jaejoong lalu membalikkan badan frustasi. Ia terus mengacak-acak rambutnya sambil berjalan bolak-balik ke depan dan ke belakang. Nampaknya ia sedang berpikir.

Jaejoong sedang bingung. Baru saja ia mendapat penolakan ke sekian kalinya dari ayahnya. Usul proyek yang akan dilaksanakannya setelah sebulan sebelumnya ia banyak berdiskusi dengan para investor, harus ditolak lagi. Sebenarnya bukan ditolak, tapi hanya ditunda. Alasannya, ayah Jaejoong, Kim Hyeong Sang, mengatakan ingin fokus pada urusan hak waris. Ayahnya sangat menantikan kedatangan kabar Shin Miwoo. Oleh karena itu, manager utama perusahaan Agen Production itu hanya datang ke kantor, duduk di ruangannya, lalu terdiam menunggu kabar. Tidak banyak yang dilakukan Hyeong Sang selain menandatangani laporan.

“Ah… Sepertinya aku harus menemukan gadis itu. Perusahaan bisa kacau kalau ia tidak segera muncul di hadapan Ayah. Tapi… jika Shin Miwoo muncul kembali, hak waris jatuh ke tangannya, lalu… Ayah akan dipenjara kan? Aish!”

Brak!

Jaejoong kembali memukul meja. Ia benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan terhadap ayahnya. Sikap ayahnya sangat tidak ia mengerti. Sikap menyiksa diri dan menunggu seorang Shin Miwoo dengan mengorbankan mobilitas perusahaan, membuat Jaejoong terus menghela napas.

Apa yang harus ia lakukan? Jika saja dalam sebulan terus seperti ini, perusahaan akan terancam menurunkan angka labanya. Lama-kelamaan, bisa tidak mungkin terancam bangkut. Meskipun hal itu, masih akan lama dan tidak mungkin mengingat banyaknya bidang pengelolaan perusahaan, akan tetapi, tetap saja semua itu membuat Jaejoong khawatir.

Pria itu, sejak kecil, jiwanya sudah melekat pada Agent Production. Ia selalu bertekad ingin terus memajukan Agent Production dan mempertahankannya selamanya. Ia begitu tidak bisa lepas dari kehidupan bisnis yang baginya seperti tantangan tersendiri dalam dirinya.

Tapi satu hal yang membuatnya terpaksa kini menitikkan air mata lelahnya. Jaejoong hanya bisa mempercayai ayahnya. Sejak dulu. Bahkan cerita dan kisah yang diberitahukan oleh kedua kakaknya kemarin, tidak menyulutkan Jaejoong untuk tidak berpihak akan keputusan ayahnya. Hanya saja, ia masih bisa menngerti logika.

Jika dipikirkan, apabila ia mendukung keputusan ayahnya tetap berusaha menjatuhkan semua hak waris pada Shin Miwoo, lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Tentu saja ia tahu bahwa ia memegang tanggung jawab terhadap ibu dan kedua kakaknya untuk selanjutnya. Sedangkan ayahnya, akan dipenjara.

Jaejoong menangis bukan karena lelahnya saja. Tapi memikirkan bagaimana nasib ayahnya yang sangat ia hormati itu. Pikirannya terngiang percakapan singkatnya tadi pagi dengan pengacara Jang. Ia memang langsung memastikan sendiri perkataan dan cerita kedua kakaknya.

“Apa benar semua hak milik perusahaan dan harta keluarga Kim sebenarnya adalah punya Shin Miwoo karena ia keturunan tunggal Shin Ah Hyun? Apa yang terjadi jika Shin Miwoo mengambil semua itu?”

“Ne, Tuan muda. Itu semua benar. Jika nona Shin Miwoo mengambil alih kembali haknya, selanjutnya keluarga Kim tidak memiliki hak lagi atas semua harta itu.”

“Lalu, nasib keluarga kami bagaimana?”

“Itu semua tergantung nona Shin Miwoo. Ada baiknya, Anda Tuan muda, memikirkan lebih lanjut apa yang akan Anda lakukan ketika meninggalkan semua kekayaan ini.”

“Lalu, Ayahku. Benarkah Ayah harus dipenjara?”

“Itu semua adalah keputusan Ayah anda. Sebenarnya… itu adalah salah satu konsekuensi atas perbuatan keluarga Kim sebelumnya terhadap keluarga Shin. Ayah anda yang menanggung konsekuensi itu.”

Jaejoong duduk di pinggiran meja kerjanya. Tangannya menahan air mata yang keluar dari sudut kedua matanya. Ia benar-benar bingung. Satu hal yang mungkin perlahan bisa menyelesaikan semua ini. Pertama-tama adalah… ia harus menemukan Shin Miwoo!

“Dia masih hidup. Kami barusan menemui gadis itu.”

“Ne. Eonni benar. Aku juga yakin itu Shin Miwoo. Tapi…hiks… Jaejoong-ah… Dia berada di pria itu… Kim Jongwoon namanya. Dia pria yang pernah mencampakkanku saat itu…”

Jaejoong terdiam mengiangkan kembali ucapan-ucapan kedua kakak perempuannya kemarin malam. Alisnya menyernyit bingung. Ia sempat syok saat tahu kebiasaan kakaknya, Rin Na, yang suka ke club malam. Ia bahkan tidak habis pikir kakaknya begitu mudah menyerahkan diri dalam kelarutan indah dunia semalam saja bersama pria itu, lalu, pada akhirnya, Rin Na dicampakkan seorang pria bernama Kim Jongwoon.

“Kim Jongwoon… siapa kau?” lirih Jaejoong kesal.

Jaejoong menarik napas sejenak, lalu memutuskan untuk keluar ruangannya, mencari udara segar. Tapi, langkahnya yang hendak menarik kenop pintu, terhenti saat melihat sebuah majalah yang tergeletak di meja tamu dalam ruangannya. Jaejoong menyernyit sedetik. Lalu, dengan cepat ia menyambar majalah itu.

Jaejoong menganga dengan mata membelalak. Terkejut? Tentu saja. Sejak awal ia berkemelut sendiri dengan masalah berkaitan dengan seorang Shin Miwoo. Kini, Shin Miwoo ia temukan sendiri di hadapannya.

Cover majalah itu, majalah yang diterbitkan atas nama perusahaannya sendiri terus diperhatikan Jaejoong. Wajah Shin Miwoo-lah yang menghiasi cover majalah itu. Dan Jaejoong, baru mengetahuinya hari ini…

***

Jongwoon memasuki lobby utama sebuah pusat perbelanjaan. Ia berlari cepat sambil menarik Miwoo tanpa menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang melihat mereka. Sampai pengejar mereka masuk, teriakan orang-orang bermunculan. Teriakan semakin kencang ketika sebuah peluru ditembakkan oleh salah seorang pengejar itu yang akhirnya meleset hanya mengenai langkah di belakang Jongwoon.

Jongwoon mendelik kesal ketika menoleh sekilas ke belakang. Beruntung peluru mereka hanya mengenai lantai dan tidak mengenai siapapun. Ketika menemukan box pakaian diskonan yang dijajakan di lantai, Jongwoon memutuskan berlari ke sana.

Dor! Dor! Dor!

Lesatan peluru yang disambut teriakan keras orang-orang yang ada dalam pusat perbelanjaan itu, dilepaskan sengaja oleh Jongwoon. Ternyata, Jongwoon memang sengaja menembaki spanduk, balon, dan benda-benda ringan lainnya yang ada di langit-langit pusat perbelanjaan. Seketika mereka beruntuhan jatuh sehingga dapat menghalangi pandangan orang-orang yang berlalu lalang.

Nyaris sampai. Jongwoon menjulurkan tangannya menggapai pakaian dengan asal. Dengan gerakan sangat gesit, Jongwoon mengambil pakaian wanita dan pria, satu hoodie, serta kacamata sambil berlari. Teriakan terus mengema. Jongwoon memilih membawa Miwoo memasuki daerah perbelanjaan pakaian.

“Shin Miwoo!” teriak Jongwoon sambil melemparkan sebuah gaun ke arah Miwoo. Sebenarnya ia bermaksud mengisyaratkan agar gadis itu memegang dulu pakaian itu untuk dipakainya nanti. Ya, Jongwoon berpikir ada kemungkinan para pengejar mereka hanya bisa mengenali mereka dari siluet tubuh dan pakaian yang dikenakan dalam kerumunan banyak orang.

“Ah!” keluh Miwoo.

“Ck!”

Sayangnya Jongwoon berdecak kecewa karena gaun yang dilempar tadi, tidak berhasil di tangkap Miwoo dan berakhir hanya jatuh di lantai.

Tidak punya banyak waktu. Jongwoon memilih terus saja berlari menarik Miwoo. Ia akhirnya melewati box berisi aksesories rambut wanita. Dengan asal, ia mengambil jepitan apapun dengan tangan kirinya yang tadinya menarik Miwoo. Singkat. Tangannya kembali meraih pergelangan tangan Miwoo lalu menariknya berlari lagi.

Di ujung daerah perbelanjaan itu, Jongwoon berbelok memasuki sebuah kamar ganti pakaian.

Tep!

“Ahh… ah… hosshhh….”

Helaan napas tersengal terdengar dari keduanya tepat setelah memasuki ruangan tidak lebih dari 1×1 meter luasnya. Jongwoon dan Miwoo berdiri berhadapan sambil menarik napas tidak beraturan. Miwoo sampai membungkukkan badannya menahan berat pada lututnya, sedangkan Jongwoon menahan tubuhnya bersandar. Semua pakaian yang asal diambil Jongwoon dalam keadaan genting tadi, tergeletak begitu saja di bawah mereka.

“Akh… hosshh…”

Disela helaan napas Jongwoon yang tersengal, ia masih sempat bergerak cepat menarik Miwoo mendekat dan mengambil rambutnya.

“Ah… Apa yang…”

“Diam!”

Baru saja Miwoo hendak memprotes, Jongwoon menghentak Miwoo agar diam membiarkannya mengatur rambutnya. Jongwoon mengacak-acak asal rambut panjang Miwoo, lalu menarik seluruhnya asal ke atas sehingga menampakkan leher jenjang gadis itu. Namun, Jongwoon tetap menyisakan beberapa helai rambutnya terjuntai tidak terikat.

“Kya…mpphhh…,” teriak Miwoo tertahan karena mulutnya dibungkam tangan Jongwoon.

Jongwoon mendelik bengis ke arah Miwoo. Gadis itu baru saja hendak berteriak tadi. Miwoo terkejut karena Jongwoon di hadapannya tiba-tiba saja membuka kemejanya begitu saja hingga menampakkan tubuh atasnya yang naked. Miwoo terdiam menahan teriakan sambil terpaksa melihat Jongwoon mengganti bajunya.  Tapi ia sejenak memandang Jongwoon sendu saat melihat kemeja putih pria itu yang bernoda darah di beberapa titik di sisi kirinya. Miwoo melihat luka terbaret di pinggang pria itu.

“Diam,” ucap Jongwoon lagi dengan tegas seperti perintah pada Miwoo. Gadis itu langsung bergidik kaget. Terlebih lagi saat tangan Jongwoon dengan cekatan menarik kasar blouse Miwoo sampai terlepas.

Miwoo menahan napas tercekat. Jongwoon telah melepas blousenya, lalu melemparnya begitu saja ke pojokan ruangan kecil itu bersama pakaian Jongwoon tadi. Gadis itu refleks memeluk tubuhnya sendiri yang kini hanya mengenakan tanktop saja. Sedangkan Jongwoon, kelihatannya masih sibuk menarik-narik baju yang baru dikenakannya itu agar melonggar pada celananya, dan ia membuka bagian tiga kancing atas kemeja baru itu.

Jongwoon mendorong Miwoo ke posisi pojok di sebelahnya. Ia menjulurkan tangan sebagai palang seperti menghalangi Miwoo beranjak. Namun, pria itu sedikit menarik kain gorden penutup kamar ganti pakaian tersebut untuk melihat keadaan di luar.

Miwoo memandang Jongwoon khawatir. Tapi tiba-tiba ia terhenyak kaget lagi saat Jongwoon menutup cepat kain gorden lalu beranjak ke hadapan Miwoo. Jongwoon memosisikan kedua tangannya di samping kepala Miwoo. Ia lalu memiringkan sedikit badannya yang mencondong ke arah Miwoo. Wajah sebelah kanan Jongwoon, sengaja ia tempelkan pada pipi kiri Miwoo.

Miwoo langsung merasakan napasnya tercekat. Waktu seakan berhenti mendadak. Sesak, namun pandangan matanya yang membelalak memaksanya agar tetap bergeming diam. Miwoo seperti kaku saat menatap wajah Jongwoon dalam jarak dekat. Ujung hidung Jongwoon bahkan menyentuh hidung Miwoo. Pria itu seperti sengaja menggerakkan wajahnya tanpa menggesek wajah Miwoo dengan intens seperti menggoda.

Miwoo kesulitan bernapas. Berkali-kali ia mengerutuki Jongwoon dalam hati atas apa yang dilakukannya yang mendadak ini. Apa pria ini sengaja membuatnya mati? Bahkan menghirup sedikit napas saja sulit bagi Miwoo. Ia mulai bergerak gelisah.

“Tetap tenang…,” bisik Jongwoon lirih terdengar serak. Semakin membuat Miwoo tercekik sesak. Helaan napas dari hidung yang tersengal-sengal, seperti beradu saat terhembus mengenai satu sama lain.

Sraakk!

Gorden terbuka. Jongwoon refleks merapatkan dirinya pada Miwoo. Gadis itu terkejut saat merasakan tubuh Jongwoon tanpa jeda menempel padanya. Jongwoon masih memiringkan kepalanya dan merapatkan tangannya seperti menutupi wajah Miwoo. Sebelah tangannya yang tidak menutupi Miwoo, ia gunakan untuk mengangkat sebelah kaki Miwoo ke pinggangnya. Lalu tangannya menahan kaki Miwoo di situ. Wajah Jongwoon juga bergerak leluasa di atas permukaan wajah Miwoo seakan-akan posisi itu adalah posisi sedang bercinta.

“Ups!” seru sebuah suara refleks saat melihat apa yang terjadi di dalam kamar ganti pakaian itu.

Jongwoon memutar wajahnya. Ia memberikan lirikan mata tajam yang sedikit terlihat ke arah si pembuka gorden kamar ganti pakaian itu. Salah satu pria berjas hitam yang tadi mengejar mereka.

“Ah… maaf. Maaf mengganggu kegiatan kalian…,” ucap pria itu kikuk. Jongwoon tetap santai berakting. Dengan mudahnya pria itu menggerakkan terus wajahnya sampai bibirnya sengaja menyentuh kulit dagu bawah Miwoo. Tatapan tajam yang terus diberikan Jongwoon dengan usaha dirinya menutupi Miwoo, berhasil membuat pria pengejar itu menuduk malu minta maaf. Ia lalu menutup cepat gordennya kembali.

Sraakk!

Jongwoon dan Miwoo masih terdiam dalam posisi itu beberapa detik sampai akhirnya Jongwoon menghela napas pelan. Ia lalu melonggarkan sedikit tubuhnya menjauhi Miwoo. Tapi, ia tetap menghadap Miwoo saat ini.

Ya, hanya sedikit melonggar. Bukan berarti langsung berakhir, karena nyatanya hanya sedikit helaan napas yang berhasil masuk ke tenggorokan Miwoo yang sejak tadi tercekat. Gadis itu menelan ludah paksa menatap Jongwoon di hadapannya yang memandangnya serius tanpa ekspresi.

Miwoo kembali nyaris melompatkan jantungnya dari tempatnya saat jari tangan Jongwoon dengan mudah menekan bibir gadis itu. Bukan hanya menekan, tapi terasa mengusap paksa. Jongwoon memang mengusap lipstik yang melumuri bibir mungil gadis itu. Dengan santai, Jongwoon mengalihkan warna merah lipstik itu ke bibirnya. Terus menerus berulang ia melakukan itu sampai sekiranya, bibirnya juga ikut merasakan lipstik Miwoo dan menjadi memerah. Bukan hanya itu, Jongwoon juga mengusapkan warna lipstik di jari tangannya itu dengan asal ke berbagai sisi leher Miwoo.

“Tetap tenang dan diam saja saat keluar nanti. Serahkan semuanya padaku,” instruksi Jongwoon singkat.

Jongwoon mengambil hoodie yang tadi ia ambil asal saat berlari, lalu ia gunakan untuk menutupi tubuh Miwoo. Tudungnya, digunakan untuk menutupi wajah Miwoo. Ia membantu Miwoo merapikan rambutnya. Jongwoon sendiri, merapikan pakaiannya dan mengancinginya dengan baik. Kemudian,  sebuah kacamata yang tadi ia ambil, ia kenakan. Pakaian yang semula mereka pakai, Jongwoon singkirkan ke ujung dan dengan usaha sedikit, ia menutupinya dengan kain gorden yang menjuntai ke bawah itu. Lalu, tanpa ragu, Jongwoon menarik Miwoo keluar dari ruang ganti itu.

Sraakk!

Miwoo menghentikan langkahnya dengan tubuh bergidik sesaat saat melihat dua orang pria berjas hitam yang ternyata sedang berdiri di depan kamar ganti itu. Tapi berbeda dengan Jongwoon, ia nampak menatap biasa.

Kedua pria berjas itu langsung menoleh ke arah Jongwoon dan Miwoo. Mereka memandang penuh selidik tapi tetap hati-hati. Jongwoon menggerakkan pegangan tangannya pada tangan Miwoo seakan mengisyaratkan agar gadis itu tetap tenang dan terus berusaha menunduk tanpa menatap dua pria itu.

“Ada apa ini?” tanya Jongwoon datar.

“Ah, maaf Tuan. Tadi… kami tidak tahu kalau kalian, ehm, sedang… melakukan sesuatu,” ujar salah satu pria itu sambil menunduk kikuk.

“Lalu?”

“Ya, kami hanya ingin minta maaf…,” lanjutnya lagi.

Gwencana… Aku bisa meneruskannya di rumah. Maaf, harap maklum karena kami memang pengantin baru,” ujar Jongwoon kali ini terdengar santai diiringi kekehan tipis di akhir. Sontak hal itu membuat dua pria di hadapannya ikut terkekeh dan memandang menggoda.

“Ah… arasso… Hehe,” ujar salah satunya sambil memandang menggoda ke arah Jongwoon. Jongwoon tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya. Ia kemudian menarik Miwoo untuk bersama berlalu tanpa berbicara lagi.

“Ah, tunggu!”

Seketika langkah Jongwoon dan Miwoo berhenti. Miwoo bergidik kaget. Salah satu pria berjas itu mendekat sambil berlari kecil. Jongwoon menoleh namun ia tetap membiarkan Miwoo membelakangi mereka.

“Tunggu sebentar. Ada yang akan kami tanyakan pada kalian,” ucap pria itu. Jongwoon menyernyitkan alis sebentar lalu kembali memasang ekspresi datar.

“Apakah kalian melihat seorang pria dengan kemeja putih dan celana panjang hitam, serta seorang gadis yang mengenakan blouse putih berambut panjang, melewati sekitar sini tadi?”

Jongwoon tersenyum. “Aniya. Kami tidak melihat apapun. Aku dan istriku sejak tadi sibuk berkutat di dalam kamar ganti itu,” jawab Jongwoon santai.

“Oh, begitu. Baiklah.”

Pria berjas itu kemudian berpamit pergi. Perlahan tapi pasti, Jongwoon dan Miwoo terus melangkah menjauh tanpa kecurigaan apapun. Mereka bahkan melewati lobby pusat perbelanjaan yang terlihat porak poranda akibat ulah mereka barusan. Terdengar bunyi sirine polisi. Namun, Jongwoon dan Miwoo, tetap tenang keluar hingga berlalu pergi dari sana.

Dengan taksi yang dihentikan Jongwoon, mereka akhirnya dapat bernapas lega setelah masuk dan duduk di dalam kursi penumpang itu. Kekehan kecil mulai muncul dari Jongwoon yang akhirnya menular ke Miwoo yang tengah menatap Jongwoon dari samping. Mereka menertawakan apa yang terjadi barusan. Begitu menegangkan, tapi, cukup mengasyikkan bagi mereka.

Miwoo, saat ini pantas berbangga hati. Pria di sampingnya ini, tidak bisa ia pungkiri begitu memesona baginya. Terlalu sesak jika harus dideskripsikan. Bahkan ketika mengingat kejadian dalam kamarganti tadi, mendadak hentakan jantung Miwoo berpacu lebih cepat. Gadis itu, kini hanya memandangi luar jalanan dalam diam.

Jongwoon menyernyit bingung. Ia kemudian mengikuti arah pandang Miwoo yang perlahan terlihat sendu matanya.

Wae?’ tanya Jongwoon penasaran.

Ahjusshi tadi…,” lirih Miwoo yang langsung dimengerti oleh Jongwoon apa maksudnya, siapa ahjusshi itu.

“Sekarang kau sadar kau dalam bahaya, ne? Terkadang pengorbanan itu memang harus terjadi…,” jawab Jongwoon enteng.

Sejenak diam. Jongwoon semakin penasaran atas apa yang dipikirkan Miwoo karena gadis itu memang hanya memandang kosong ke luar. Entah mengapa, Jongwoon sendiri merasa aneh tiba-tiba saja ia jadi sangat ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Miwoo.

“Ah, Jongwoon-shii!” teriak Miwoo mendadak menghadap ke Jongwoon. Sontak Jongwoon terhenyak kaget. “Bagaimana kita membayar taksinya? Uangku, ada di tas yang tertinggal di halte…,” keluh Miwoo melanjutkan.

Jongwoon berdecak.

***

Jongwoon membungkukkan badan membiarkan taksi berlalu menjauh. Beruntung masih ada sisa uang Jongwoon yang ia letakkan di kamarnya. Ketika mereka sampai, Jongwoon bergegas membuka pintu rumah dan mengambil uang untuk membayar taksi.

“Ah… Kau harus bertanggung jawab Shin Miwoo,” hentak Jongwoon sambil menunjukkan telunjuknya tepat di depan wajah Miwoo.

Gadis itu langsung terhenyak kaget. Ia mulai bergetar takut melihat tatapan tajam Jongwoon. Tapi sedetik kemudian, Jongwoon langsung tersenyum lembut sambil berujar, “hari ini aku ingin sekali makan sup Siseollo. Apa kau bisa memasak itu untukku?”

Miwoo terkekeh. Ia melirik Jongwoon dengan pandangan mendelik.

“Tentu saja. Aku ahli memasak. Sejak kemarin kan memang kita makan dari hasil masakanku, eoh?” ujar Miwoo tertawa kecil.

Jongwoon balas tertawa kecil. Ia lalu menjawil Miwoo masuk ke dalam rumah sewa mereka. Sebelum menutup pintunya, Jongwoon melirik suasana sekitar dengan waspada sambil bergumam, “siapapun mereka, semoga saja mereka tidak tahu tempat tinggal ini….”

***

Selagi Miwoo di dapur, Jongwoon berada di ruang tengah duduk lesehan. Ia telah menyiapkan sebuah baskom berisi air hangat dan satu buah handuk kecil yang tipis. Jongwoon meringis sejenak ketika membuka perlahan bajunya. Pria itu, langsung mengambil handuk kecil yang sudah hangat dari rendaman air itu, melumuri seluruh sisi kiri tubuhnya. Ya, luka baret kecil sampai berdarah, serta luka memar, terlihat jelas di sana. Cukup parah karena hampir seluruh sisi kiri Jongwoon terluka.

Saat Jongwoon hendak membersihkan sisi tubuhnya yang sedikit berada di belakang, ia cukup kesulitan karena tangannya tidak sampai. Jongwoon meringis karena memaksakan diri membelokkan badan padahal memang sangat nyeri. Tapi pria itu tidak gentar.  Ia mencoba lagi menjangkau sisi yang sulit itu.

Tep.

Jongwoon terkejut saat tangannya tertahan oleh tangan Miwoo. Gadis itu telah duduk di sampping Jongwoon lalu dengan santai mengambil handuk yang dipegang Jongwoon.

“Biar aku saja yang membersihkannya,” ujar Miwoo bukan seperti penawaran melainkan sebuah keharusan.

“Kau sedang memasak…”

“Aku sudah selesai.”

Jongwoon menghela napas pelan saat ia melirik meja makan yang telah siap oleh makanan. Berarti, ia sejak tadi terlalu lama membersihkan lukanya sendiri. Sebanyak apa lukanya berarti? Nampaknya cukup banyak karena sampai bagian kakinya pun terasa sakit hingga membuat ia meringis.

“Asssh!” refleks Jongwoon mengeluh saat merasakan perih bagian lukanya yang berdarah itu. Miwoo memandang khawatir.

Gwencana?”

Gwencana… Ini tidak seberapa dibandingkan luka yang sering aku dapatkan…,” ujar Jongwoon miris mengingat seberapa sering ia mendapat luka. Tapi tatapan mata Jongwoon menyiratkan bahwa luka yang selama ini sering ia dapatkan dalam pekerjaannya itu, tidak sesakit yang didapat oleh keluarganya dulu. Luka yang membuatnya mengutuk benci selamanya karena ia melihat sendiri orang tuanya tewas di hadapannya.

Gomawo, Jongwoon-shii…,” lirih Miwoo menghentikan geraknya mengobati luka Jongwoon. Pria itu langsung menoleh bingung ke arah Miwoo.

Gomawo,” lanjut Miwoo dengan tersenyum. “Gomawo kau sudah menyelamatkan nyawaku lagi hari ini.”

Secara refleks dan entah apakah hanya respon sesaat atau hal yang disengaja, Jongwoon tersenyum pada Miwoo. Pria itu membalas senyuman tulus Miwoo. Tapi nampaknya, hati kecil Jongwoon bergerak riuh seakan memaksa Jongwoon memberikan senyuman tanpa tipuannya.

“Aku…percaya padamu Jongwoon-shii. Aku pastikan akan mempercayaimu. Aku tahu kau pria yang baik. Secara tidak sengaja, aku selalu melihat sinar suci yang terang dari dirimu,” ujar Miwoo masih dengan mempertahankan senyumnya.

Dada Jongwoon terasa tersayat kecil. Pria itu menggigit bibir bawahnya menahan getaran menyesakkan di dadanya. Saat senyuman Miwoo berakhir, gadis itu dengan riangnya membantu Jongwoon mengenakan perban. Lalu, ia membantu Jongwoon mengenakan kembali bajunya. Bahkan, Miwoo mengajak Jongwoon dengan riang untuk makan bersama secepatnya.

“Terlalu suci… dia terlalu suci,” lirih Jongwoon dengan sangat pelan saat memandang punggung Miwoo yang berada di depannya yang sedang merapikan meja makan.

TBC

Woaa… aku jatuh cinta banget sama Jongwoon di sini… Bagaimana ini…???? >///<

Aku suka banget Jongwoonie…!!!

Saranghaeyo… *cipok Jongwoon habis-habisan*

 

 

Salam kenal readersnim. Aku Riiku… ^^